THEM , AFTER COP SCHOOL

Elizabeth, Syaifulloh and Satria are alumni of COP School Batch #1. Along with Alivia, which is an alumni of COP School Batch #5, they are currently attending a training on Enrichment Facility to Improve Animal Welfare held by BOS Foundation. Now they run the Animal Rescue Center in South Sumatra and East Kalimantan .

Meanwhile, veterinarian Ade Fitria, an alumni of COP School Batch #2 is attending a training on Animals Eye Treatment on IAR ORANGUTAN Rescue Center in Ketapang. Her colleague, Paulinus, an alumni of Batch #1 is currently in Japan to meet up with the supporters and to present about forest protection from fire and palm oil .

For those who want to seriously engage to the world of nature conservation , COP School is the right choice . Please contact hery@cop.or.id for more informations and registration.

MEREKA, SETELAH COP SCHOOL

Elizabeth, Syaifulloh dan Satria adalah siswa COP School Batch 1, bersama Alivia yang merupakan siswa COP School Batch #5 saat ini sedang mengikuti pelatihan Pengkayaan Fasilitas untuk Meningkatkan Kesejahteraan Satwa di Yayasan BOS. Mereka adalah para alumni COP School yang sekarang mengelola Pusat Penyelamatan Satwa di Sumatra Selatan dan Kalimantan Timur.

Sementara itu, dokter hewan Ade Fitria siswa COP School Batch #2 sedang berada di Pusat Penyelamatan ORANGUTAN IAR di Ketapang untuk menjalani pelatihan Pengobatan Mata Satwa. Rekannya yang lain, PAULINUS siswa COP School Batch #1 sedang berada di Jepang untuk bertemu dengan para pendukung dan mempresentasikan perlindungan hutan dari kelapa sawit dan kebakaran. 


Bagi kalian yang ingin serius terjun dalam dunia konservasi alam, COP School adalah pilihan yang tepat. 
E-mail ke : hery@cop.or.id untuk mendaftar.

ONE WORLD FESTIVAL JAPAN

2015 was the year that Kalimantan burned. The airports of five Kalimantan provinces were almost completely out of action. The COP Borneo Rehabilitation Centre was on standby. Centre for Orangutan Protection even stepped in to help extinguish fires at Wein River, East Kalimantan, and alongside Hutan Group with the Friends of the National Parks Foundation, in Tanjung Puting National Park, Central Kalimantan.

In the annual event One World Festival in Osaka, Japan, COP and Hutan Group had the opportunity to speak about the fires that had engulfed the whole of Kalimantan, on the 6th and 7th of February 2016. In addition, Hutan Group also made efforts during the event to raise funds and campaign for the protection of natural forests from Palm oil and fires.

Tahun 2015 adalah tahun dimana Kalimantan terbakar. Bandara lima provinsi Kalimantan hampir lumpuh total. Pusat Rehabilitasi COP Borneo siaga. Centre for Orangutan Protection pun turut membantu memadamkan kebakaran di sungai Wein, Kalimantan Timur dan bersama Hutan Group dengan FNPF di Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah.

Pada kegiatan tahunan, One World Festival di Osaka, Jepang, COP dan Hutan Group berkesempatan menceritakan kebakaran yang melanda Kalimantan keseluruhan pada tanggal 6 dan 7 Februari 2016. Selain itu HUTAN Group berusaha menggalang dana sekaligus mengkampanyekan perlindungan hutan dari kelapa sawit dan kebakaran di acara tahunan itu.

A BEAR CUB SAVED FROM ILLEGAL WILDLIFE TRADE

COP applaud Bali Wildlife Authority for rapidly response our report. A bear cub have saved from illegal wildlife trade. During 2015, COP saved 4 orangutan babies and another 78 wildlife, including bears and clouded leopard from black market. Wildlife trade is one of the main threat for Indonesian wildlife. According to Interpol, this illicit business is biggest one after drug trade and then weapons.

FUN RAFTING FOR ORANGUTAN

No idea where to go for vacation? Let’s join orangufriends’ activity! They always have creative ideas to help Orangutans! Yes, this is one of many ways to raise fund for COP Borneo! COP Borneo is an Orangutan Rehabilitation Center in Labanan, East Borneo. There are 16 Orangutan which are being rehabilitated and need financial support. You can help them just by taking part in Fun Rafting for Orangutan on February 21, 2016 at Elo River. “This is an easy and fun way to help Orangutans,” said Zakia, Orangufriends coordinator. Please feel free to contact her: 089617027148 (WA), 081221810049 (SMS)

Bingung mau liburan kemana? Nyobain acara kreatifnya orangufriends Yogyakarta yang merupakan siswa COP School. Ide mereka itu ngak pernah ada habisnya. Apa saja yang bisa mereka bantu, mereka akan segera bergerak. Ya, ini adalah salah satu acara untuk mencari dana untuk COP Borneo. COP Borneo adalah nama pusat rehabilitasi orangutan di Labanan, Kalimantan Timur. Pusat yang saat ini dihuni 16 orangutan, masih memerlukan dukungan dana dari semua pihak.
Jadi liburan kali ini diisi dengan berarung jeram ya. 21 Februari di sungai Elo, Magelang, Jawa Tengah. “Cara mudah dan menyenangkan membantu Orangutan.”, ujar Zakia, koordinator Orangufriends.
Silahkan hubungi Zakia di 089617027148 (WA) atau di 081221810049 (SMS/Telp)

ME, COP SCHOOL AND KALIMANTAN

Saya hidup di Kalimantan dan saya mengenal begitu baik budaya hidup di Kalimantan. Saya di besarkan di tengah-tengah hutan di Kaki bukit Merangat, yang terletak di Desa Laung, Kecamatan Seberuang. Saya sangat memahami sistem alam di sekitar mulai dari air jatuh di puncak bukit Merangat hingga sampai di Muara Sungai Batang Seberuang. Saya memahami setiap pohon yang tumbuh hingga ia berbuah dan burung berkumpul di atasnya serta babi membuat kubangan di bawahnya.

Suatu hari saya naik di atas puncak Bukit Merangat, di atas sana saya bisa melihat hutan yang begitu luas di depan ladang kami. Hutan yang tidak ada hujungnya seperti di dalam buku IPS yang mengajarkan tentang Kalimantan adalah Lautan Hutan.

Tahun 2004 saya meninggalkan desa Laung, dan sepanjang perjalanan hanya terlihat hutan dan sungai yang membelahnya hingga tiba di kota Sintang.

Tahun 2010 aku kembali ke sana, tepat setelah 6 tahun aku tidak pernah melewati jalan tersebut. Sungguh apa yang aku lihat adalah perkebunan kelapa sawit serta tankI CPO melintas membelah hutan. Tidak aku pahami apa yang terjadi sampai suatu hari saya keluar dari Kalimantan untuk melihat semua itu dari sudut pandang yang berbeda. Ternyata semua TIDAK BAIK-BAIK SAJA.

Tahun 2011 saya memiliki kesempatan untuk mengikuti COP School Bacth #1 di Jogjakarta, sebuah pelajaran yang saya terima tentang tanah dimana saya di lahirkan. Saat itu saya satu-satunya peserta COP School yang berasal dari Kalimantan. Di sanalah mata saya terbuka bahwa hutan yang hidup bersama saya di pedalaman Kalimantan secara perlahan telah menghilang dan akan terus seperti itu jika tidak dihentikan. Saya sangat memahami apa yang akan terjadi dengan orang di pedalaman seperti saya ketika hutan hilang. Bahan bangunan rumah kami berkurang, sungai-sungai kami tercemar, kampung kami masuk di dalam ijin usaha perkebunan dan di sana tidak ada cara untuk bertahan hidup dengan sistem lama yang diajarkan oleh leluhur kami.

Wahyuni, salah satu pendiri Centre for Orangutan Protection pernah berkata kepada saya, “Kita tidak harus menang, yang kita harus lakukan adalah membuktikan.”. COP School mengajarkan saya untuk melihat sisi lain dari Konservasi Orangutan bukan hanya tentang membantu menyelamatkan populasI orangutan, tetapi juga hutan sebagai sumber dari banyak kehidupan.

Saya adalah Paulinus Kristianto, putra pedalaman Kalimantan Barat.
Bergabunglah bersama COP School Bacth #6, dan buktikan kita melawan untuk hutan di tanah KALIMANTAN, INDONESIA. (NUS)

ORANGUTAN KUNTHI BACK HOME

Kunthi have a tremendous spirit to recover. After being intensively nursed, this estimated 29 years old male orangutan is considered ready to be released back. Physical defects in the eyes and teeth did not become a hindrance for the translocation because Kunthi are already familiar with the condition. Nature provides everything for Kunthi to heal himself.

Kunthi was rescued by BOSF on March 8, 2000 from the village Menamang and was translocated to the Forest Meratus 5 days later. At the time Kunthi was about 13 years old. Deforestation caused by palm oil plantations has narrowed the motion and reduced the availability of fodder. This situation forced Kunthi to forage in the countryside. The society regard him as a pest, and then the tragedy happened: Kunthi was arrested, beaten and tied up.

Kunthi is the latest illustration of the impact of the lack of government’s commitment to secure the region into wildlife habitat. The road is still long for Kunthi and thousands of other orangutans displaced from their habitat. They all need your help.

#‎saveorangutan #‎waybackhome #‎orangutanrelease #‎APEDefender #‎APECrusader

Kunthi memiliki semangat yang luar biasa untuk pulih. Setelah dirawat secara intensif, orangutan jantan yang diperkirakan berusia 29 tahun ini dinilai telah siap untuk dilepasliarkan kembali. Cacat fisik pada mata dan gigi tidak menjadi halangan untuk dilakukannya translokasi karena merupakan luka lama dan Kunthi sudah terbiasa dengan kondisi fisik tersebut. Alam menyediakan segalanya bagi Kunthi untuk menyembuhkan diri.

Kunthi pernah diselamatkan Yayasan BOS pada tanggal 8 Maret 2000 dari desa Menamang dan ditranslokasikan ke Hutan Meratus 5 hari kemudian. Saat itu Kunthi diperkirakan berusia 13 tahun. Pembabatan hutan untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit telah mempersempit ruang geraknya dan mengurangi ketersediaan pakan. Situasi ini memaksa Kunthi untuk mencari makan di pedesaan. Masyarakat menganggapnya sebagai hama dan lalu terjadilah tragedi itu: Kunthi ditangkap, dipukuli dan diikat.

Kunthi adalah gambaran terkini mengenai dampak dari minimnya komitmen pemerintah untuk mengamankan kawasan yang menjadi habitat satwa liar. Jalan masih panjang bagi Kunthi dan ribuan orangutan lainnya yang tergusur dari habitatnya. Mereka semua membutuhkan bantuan Anda.

COP SCHOOL BATCH #6 DIBUKA

COP School adalah kegiatan tahunan yang dirancang untuk mencetak generasi muda dengan kepedulian terhadap lingkungan dan satwa liar. Siswa COP School akan belajar langsung dengan praktisi konservasi, mendapatkan berbagai materi konservasi orangutan dan lingkungan di Indonesia.

GOOD NEWS BIG MALE KUNTHI

We have good news today. The big male, #‎orangutanKunthi makes it well. He is very tough man. He eat alot an work hard to heal cure himself by licking the wounds.

We put his fruits in the top of cage to check whether he can raise it or not. He did it well. He can climb!

Sorry for the pictures as they are not good enough. A bit difficult to have good one as an normal wild orangutan, he still very shy to camera.

Now we are preparing the release back to wild for tomorrow. Big forest provide everything to cure him and he now excactly how to do.
Stay tune for lastest updates.

#‎forestwars #‎conflictpalmoil #‎apecrusader

Kami punya berita gembira hari ini. Si pria besar Kunthi telah menjalaninya dengan baik. Dia adalah pria yang tangguh. Makan banyak dan berusaha mengobati dirinya sendiri dengan menjilati lukanya.

Kami menaruh makannya di atas kandang untuk menilai apakah dia bisa mengambilnya. Dia BISA! Ini artinya dia bisa memanjat.

Maaf fotonya kurang bagus karena dia, selayaknya #‎orangutanliar masih malu dengan kamera.

Saat ini kami sedang mempersiapkan pelepasliarannya kembali, besok. hutan yang luas menyediakan apapun untuk penyembuhannya dan dia tahu persis bagaimana melakukannya. ikuti terus perkembangannya.

THAT BIG MALE ORANGUTAN WAS KUNTHI

On the 27th of January 2016 a large male orangutan was captured, who had caught the attention of the North Paser community. The orangutan, estimated at over 20 years of age, was captured by residents after entering their settlement. A visual inspection of the orangutan’s condition was made by Veterinarian Ade Fitria from the Centre for Orangutan Protection. The results revealed damage to his left eye – which was no longer functioning, several broken teeth, and mild wounds as well as swelling on his hands and feet, a result of being tied up for over 19 hours.

The following day the large male was given a full examination, which uncovered old wounds as well as new. What was surprising was the discovery of a microchip. Microchips in orangutans are an important mark, in the form of an alphanumerical code, given to an orangutan for individual records after a rescue is carried out. This is important for orangutans that have been rescued previously as the chip contains information about the orangutan’s history.

Yes, the orangutan with the blind left eye and missing teeth was Kunthi, a male orangutan rescued on the 8th of March, 2000 in the Manamang area. At that time he was estimated to be over 13 years old. Five days later, Kunthi was released again on the 13th of March 2000. (ADE)

ORANGUTAN JANTAN BESAR ITU ADALAH KUNTHI

Tertangkapnya orangutan jantan besar pada 27 Januari 2016 yang menarik perhatian masyarakat Paser Utara. Orangutan yang diperkirakan berusia 20 tahun lebih ini merupakan tangkapan warga yang masuk pemukiman. Proses inspeksi (penilaian kondisi tubuh dari luar) pun dilakukan dokter hewan Ade Fitria dari Centre for Orangutan Protection. Hasilnya terlihat rusaknya mata sebelah kiri yang tidak dapat berfungsi untuk melihat kembali, dan beberapa gigi yang patah dan luka ringan pada tangan dan kaki serta bengkaknya tangan dan kaki karena terikat dengan tali lebih dari 19 jam.

Keesokan harinya orangutan jantan dewasa itu diperiksa secara menyeluruh, dengan hasil ditemukannya luka lama dan luka baru. Hal yang mengejutkan adalah ditemukannya microchip. Microchip pada orangutan merupakan penanda (dalam bentuk kode angka dan huruf) yang diberikan untuk pendataan individu setelah dilakukan rescue. Microchip merupakan penanda penting bagi orangutan yang pernah direscue karena adanya catatan tentang orangutan tersebut sebelumnya.

Ya, orangutan dengan sebelah mata buta dan gigi taring rontok itu adalah orangutan Kunthi. Orangutan yang jantan yang diselamatkan pada 8 Maret 2000 di daerah Manamang. Saat itu perkiraan usianya lebih dari 13 tahun. Selang lima hari kemudian, orangutan Kuthi pun dilepasliarkan kembali (13 Maret 2000). (ADE)

ETCHING, SHARE and FUN

Monthly class for January 2016 is a little different than usual because there was a direct practice. The participants practiced the technique which is very rarely used, whereas this technique was highly influential in the development of propaganda or mold reduplication technique. This technique is known as “etching technique”. The monthly class was held in cooperation with a group which is called Club Etsa.

Etching is basically like making prints in a metal plate and it can be used for recuring printing. Metal plate is covered with permanent ink and then painted with scratch-resistant tools such as needles/ spikes.

Excitement occured when the plate was being soaked in  HCL. Everyone was free to pick color and print it repeatedly. Historically, this technique was used for spreading propaganda in order to influence a situation or policy. Hopefully, this technique could be used to say “save orangutans”. (DAN)

Kelas bulanan untuk bulan Januari 2016 ini sedikit berbeda dari biasanya karena ada praktek langsung. Praktek langsung bagaimana teknik cetak yang sudah sangat jarang digunakan padahal teknik ini sangat berpengaruh dalam perkembangan propaganda atau teknik penggandaan cetakan. Teknik ini dikenal dengan nama “etching” dan kelas bulanan Yogyakarta bekerjasama dengan sebuah kelompok kerja seni yg sering disebut Club Etsa Yogyakarta.

Etsa pada dasarnya seperti membuat cetakan dalam lempeng logam dan nantinya bisa digunakan berulang-ulang pencetakannya. Lempengan logam yang ditutupi dengan tinta permanen kemudian dilukis dengan alat gores seperti jarum/paku yang disebut dengan etching.

Keseruan terjadi ketika lempengan sudah diproses dalam rendaman kimia HCL dan siap sebagai bahan utama cetakan. Semua orang bebas menggunakan warna dan mencetaknya berulang-ulang. Dalam sejarahnya cetakan etsa yang penuh dengan propaganda dan disebar sebanyak mungkin digunakan untuk mempengaruhi suatu keadaan atau kebijakan. Semoga teknik ini bisa digunakan untuk mengatakan “selamatkan orangutan”.

Page 20 of 27« First...10...1819202122...Last »