HUKUMAN PENGEPUL SISIK TRENGGILING BOYOLALI

Pengadilan Negeri Boyolali menetapkan terdakwa “AR” telah terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “Memperniagakan satwa liar yang dilindungi dalam keadaan hidup dan bagian lain dari satwa liar”. Atas terjadinya operasi tangkap tangan perdagangan yang terjadi pada Kamis, 12 Oktober 2023 yang lalu oleh tim Polhut BPPHLHK Jabalnusra dengan Polres Boyolali.

Dengan barang bukti yang dihadirkan dalam sidang berupa 5 (lima) ekor Trenggiling (Manis javanica) dalam kondisi hidup dan dilepasliarkan di kawasan Hutan Suaka Margasatwa Gunung Tunggangan, Kabupaten Sragen, serta 8,5 (delapan koma lima) kilogram sisik trenggiling yang diserahkan untuk negara.

Terdakwa dijatuhi hukuman dengan pidana penjara selama 2 tahun dan denda sejumlah Rp 5.000.000,00 (lima juta rupiah) dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama 2 (dua) bulan. Dakwaan ini mengacu dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Dalam satu tahun terakhir, tercatat sedikitnya 9 kasus perdagangan ilegal satwa dilindungi yang ditangani oleh tim APE Warrior COP. Putusan pengadilan kasus trenggiling Boyolali ini merupakan satu dari keseluruhan kasus yang masuk tahap P-21. Setelah ditetapkannya putusan ini harapannya dapat memberikan dampak positif kepada masyarakat untuk ikut melestarikan tidak dengan membeli satwa liar dilindungi baik dalam kondisi hidup atau bagian-bagiannya. Hal ini bisa menjadi edukasi kepada masyarakat tentang satwa liar yang dilindungi.

Apresiasi yang tinggi juga patut diberikan kepada para penegak hukum yang kini menggolongkan kejahatan terhadap satwa liar termasuk extraordinary crime. Dengan demikian, para pelaku dapat berpikir ulang untuk mengulangi kejahatannya dan yang sedang beraktivitas memperdagangkan satwa liar dilindungi maupun bagiannya dapat menghentikan usahanya. (DIT)

ORANGUTAN ANNIE NAIK PERAHU APE GUARDIAN

Ranger APE Guardian berlari mendekati pos monitoring dengan membawa berita mengejutkan. Dua bulan tanpa tanda-tanda orangutan yang baru dilepasliarkan membuat ulah, menjadi anugerah yang luar biasa. Tapi nafas Billy yang terengah-engah sembari berpikir untuk melaporkan bahwa ada orangutan yang memasuki pondok penanaman bibit di muara sungai menjadi sambaran petir di siang bolong. Persiapan mitigasi konflik yang tersipan rapi, serta merta ikut berlari bersama para ranger APE Guardian COP.

Annie tengah duduk di depan pondok. Antara geli dan khawatir melihat kondisi Annie, orangutan yang menjalani rehabilitasi selama 6 tahun ini segera mendekati tim. Annie mengikuti ranger tanpa menghiraukan pekerja penanaman yang ketakutan. Annie terus diarahkan turun ke pesisir sungai dan menyuruhnya naik ke atas perahu. Tentu saja tak semudah itu. Annie terdiam saat sampai tepi tangga. Hari mulai sore, Annie pun berhasil naik ke atas perahu.

Tim membawanya ke arah hulu, mendekati pohon Syzygium Sp. Annie pun bergegas meraih ranting pohon itu. Ranger masih terus berjaga, waspada jika Annie berusaha menyeberangi sungai yang sedang surut ini. Pukul 18.07 WITA Annie teramati naik ke atas pohon Bayur dan membuat sarang sederhana dari tumpukan beberapa dedaunan. Dia pun tidur, tim pun kembali ke pos monitoring. Sore yang menggelikan.

Esok pagi, tim berjaga dan memutuskan untuk membawa Annie lebih ke dalam hutan. Kali ini dengan tiga perahu. Annie berhasil naik ke atas perahu tanpa mesin. Satu perahu yang sudah terikat menarik perahu yang dinaiki Annie. Sementara perahu ketiga mengawal kedua perahu menuju hulu Sungai Menyuq. Lagi-lagi tak semudah itu. Annie panik dengan berjalan ke depan dan belakang perahu, lama kelamaan Annie pun duduk dengan tenang sampai ke tujuan pemindahan. Semoga Annie menemukan sumber pakan yang melimpah di titik ini. Merdeka ya Annie, 17 Agustus kali ini tidak akan pernah kami lupakan! (PEY)

ALUMNI COP SCHOOL BATCH 14 KUNJUNGI SMA IP ADZKIA MEDAN

Kenalan dengan berbagai profesi di dunia konservasi orangutan bersama Centre for Orangutan Protection, tim APE Sentinel bersama Orangufriends Medan mengunjungi SMA Islam Plus Adzkia Medan pada 16 Agustus 2024. Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 79, ada 250 siswa kelas 10 dengan 8 orang guru pendamping mulai berdiskusi kecil tentang konservasi orangutan khususnya pusat rehabilitasi orangutan SRA di Besitang, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara. Ada profesi apa sajakah yang terlibat langsung?

SRA atau Sumatran Rescue Alliance adalah tempat rehabilitasi orangutan yang berasal dari kepemilikan ilegal, perdagangan satwa, interaksi negatif bahkan repatriasi untuk berlatih mengembalikan insting liarnya agar dapat bertahan hidup dan kembali ke habitatnya. Ini tentu saja membutuhkan peran dokter hewan, paramedis, biologist, animal keeper, forester, dan geografer. Selain itu dunia konservasi orangutan sendiri tidak terlepas dari manajemen yang baik meliputi keuangan, adminstrasi, pengelolaan sumber daya manusia, hingga komunikasi.

Kegiatan School Visit kali ini terasa begitu besar ditambah siswa dengan usia remaja yang punya energi luar biasa. Aulia dan Syarif yang merupakan alumni COP School Batch 14 pun semakin tertantang dengan aktifnya siswa Adzkia ini. Saatnya bermain… “Pemburu dan Penebang”. Suasana heboh menjadi semakin menarik, waktu 60 menit menjadi terlalu singkat. Sampai berjumpa lagi… (BUK)

ADA ORANGUTAN DI ACICIS NGO FAIR 2024

“Lucu banget foto bayi orangutannya! dan “Kok mereka bisa sampai di sini (pusat rehabilitasi) ya?”, adalah komentar dan pertanyaan yang selalu muncul dari pengunjung ACICIS Fair 2024 ini. Pertanyaan tentang “asal-usul” bayi-bayi orangutan yang kini berada di bawah perawatan keeper di pusat rehabilitasi selalu menarik perhatian, baik dari mahasiswa internasional maupun pengunjung lainnya. Seperti halnya manusia, jarang kita melihat bayi tanpa ibunya. Tentu saja, bayi-bayi orangutan ini terpisah dari induknya, entah karena perburuan liar atau tekanan lingkungannya sehingga mereka akhirnya jatuh ke tangan masyarakat sekitar sebagai hewan peliharaan.

Jawaban akan pertanyaan dan komentar di atas tentu disambut dengan ekspresi serius, tapi juga penuh rasa ingin tahu. Sambil mendengarkan penjelasan kami, mereka tertarik dengan berbagai kegiatan COP (Center for Orangutan Protection) yang dipamerkan dalam buku-buku dan foto-foto. Terutama mahasiswa internasional yang belum familiar dengan orangutan atau satwa liar di negara tropis seperti Indonesia. NGO Fair ini memberikan COP kesempatan untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang konservasi orangutan dan lingkungan mereka kepada audiens yang lebih luas. Pameran satu hari di UC Hotel UGM, tim COP dan Orangufriends (relawan orangutan) menceritakan berbagai tantangan dan momen emosional yang mereka hadapi selama bekerja di lapangan. Dari Jawa hingga Kalimantan dan Sumatra, setiap sudut pengalaman COP dipaparkan dengan penuh semangat kepada mahasiswa internasional dari Australia. Booth COP yang dihiasi dengan stiker, boneka, dan foto-foto menggemaskan menjadi pusat perhatian dan diskusi yang penuh gairah.

Rasa ingin tahu pengunjung membawa mereka lebih dekat pada realitas di lapangan, menggambarkan dedikasi tim-tim dalam memastikan setiap orangutan mendapatkan kesempatan kedua untuk hidup lebih baik. Pameran tahunan ini bertujuan untuk membuka peluang bagi pelajar Australia agar bisa ikut serta dalam kegiatan magang yang sesuai dengan minat dan keahlian mereka. Melihat antusiasme yang begitu besar, kira-kira berapa banya ya yang akan tertarik bergabung dan merasakan pengalaman tak terlupakan di COP? (DIM)

PERAHU APE GUARDIAN TERBARU

Perahu APE Guardian lahir lagi. Proses pembuatannya memakan waktu sebulan, mulai dari 2 Juli 2024 kemarin. Pengrajin perahu legendaris dari desa Long Lees yaitu Pak Said dan dibantu Pak Jhoni (amai Lukas) tak sembarangan mengerjakan perahu. Kayu-kayu dinding perahu dan alasnya telah dikeringkan setahun yang lalu.

Perahu dengan panjang 8 meter, dengan bukaan dinding perahu 1,2 meter dan tinggi dinding perahu 45 centimeter di desain agar kandang angkut dapat duduk di perahu dengan lebih baik. Perahu yang dirancang untuk menembus riam sungai ditandai dengan dinding perahu yang tinggi dan haluan perahu yang agak melengkung untuk mengurangi masuknya air dari gelombang riam diberi warna khas oranye dan hijau dengan tulisan The Orangutan Project pada haluan perahu.

Tepat 2 Agustus perahu APE Guardian ini turun ke sungai dari galangan perahu pak Said. Dengan menggunakan mesin ‘si Saleng’ (BS Vanguard 18 hp) perahu ini berkeliling di dekat desa. Tugas pertamanya pun menanti, mengantarkan tim APE Guardian ke pos monitoring dengan lama perjalanan 3 jam. Semoga perahu baru bisa menjalankan tugas sebaik-baiknya mengantarkan orangutan kembali ke habitatnya. (PEY)

APE CRUSADER SELALU SIAP UNTUK ORANGUTAN DI KALTIM

Sore hari sembari menikmati udara hangat dan lembayung senja, tim APE Crusader berencana melakukan perjalanan ke Berau untuk melakukan pembersihan plang amaran sepanjang jalan. Di tengah perjalanan, ada panggilan mendesak untuk menyelamatkan orangutan di kecamatan Rantau Pulung. Kendaraan pun harus putar balik dan anggota tim terpaksa berpisah untuk melanjutkan perjalanan ke Berau dengan kendaraan umum.

Pukul 02.00 WITA, APE Crusader tiba di Wahau langsung bergegas mengangkut kandang, mempersiapkan diri jika harus memanjat pohon, membawa peralatan rescue sambil berkoordinasi dengan BKSDA SKW 2 Kaltim. Tepat saat matahari mulai terbit, tim tiba di lokasi yang sudah dikerumuni warga yang penasaran dan bertanya-tanya mengapa bisa ada orangutan di situ. Beberapa warga juga menutup hidung karena tidak tahan dengan bau orangutan liar.

Orangutan terpantau sudah bangun dari sarangnya. ‘Kiss squeak’ atau warning call yang terdengar adalah usahanya tidak ingin didekati. Penyelamatan orangutan liar tentu saja sulit sekali. Maksud kita orangutan terpojok, si orangutan malah kembali ke sarang yang dibangunya karena sarang adalah tempat nyaman dan aman yang telah dibangunnya. Itulah yang terjadi ketika bius berhasil ditembakkan. Alhasil, orangutan tertidur di sarangnya. Untunglah tim ada yang sudah siap memanjat dan menghampirinya, mendorongnya dari sarangnya. Sementara yang lain sudah siap dengan jaring terbentang menyambut orangutan yang harus tergusur dari rumahnya.

Pemeriksaan singkat dilakukan tim medis APE Defender. “Orangutan liar tanpa microchip, secara fisiologis teramati denyut jantung, suhu, dan respirasi dalam keadaan normal. Terdapat luka pada orangutan jantan ini, tepatnya pada bagian mata kanan rusak”, catat drh. Theresia Tineti dengan detil. Orangutan diberi nama Ilham sesuai nama pelapor dan filosfi yang agak lucu karena seperti mendapat panggilan atau ilham di tengah malam. (AGU)

PELATIHAN CPR UNTUK ORANGUTAN HENTI JANTUNG DAN NAFAS

Langkah pertama atau pertolongan pertama gawat darurat yang dapat diterapkan pada orangutan yang mengalami henti jantung dan nafas mendadak sama persis pada manusia adalah CPR (Cardio Pulmonary Resuscitation) atau Resusitasi Jantung Paru. Kedatangan Dr. Lily Pakinson, DVM, Dipl. ACZM, Cert Aq V, Dip. ACVECC yang merupakan dokter hewan dari Brookfield Zoo Chicago berbagi pengetahuan di bidang Emergency and Clinical Care dengan tim medis BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance).

Prosedur, resiko, dan cara melakukan Resusitasi Jantung Paru menjadi hal yang paling menarik buat Miftachul Hanifah, paramedis BORA. “Demonstrasi CPR yang kami lakukan dapat memberi gambaran secara nyata apabila terdapat orangutan yang henti jantung. Situasi dan tekanan saat demonstrasi CPR sangat terasa”, ujar Miftachul.

CPR membutuhkan banyak orang untuk melakukannya dan tingkat keberhasilannya 6-10% apabila dilakukan di luar ruang operasi dan dapat mencapai 40% apabila dilakukan di ruang operasi dengan alat yang terpasang antara lain pasien monitor, endotracheal tube, dan iv chateter. Melakukan CPR dapat menyelamatkan nyawa individu orangutan meskipun tingkat keberhasilannya kurang dari 50% dan resiko terjadinya patah tulang rusuk yang tinggi.

Ketepatan melakukan CPR sangat menentukan keberhasilan penyelamatan nyawa pada kasus henti jantung dan nafas. Wajib melakukan yang terbaik dan dibutuhkan latihan secara berkala untuk menjaga keterampilan ini. Disiplin saja tidak cukup, ketenangan dalam menganalisis dan memutuskan akan menjadikan hasil yang terbaik. Tetap semangat tim medis COP, terus belajar dan berkembang! (TAT)

JUDULNYA RANGER SI PENJAGA HUTAN, TAPI?

Tim APE Guardian yang bertanggung jawab menjalankan pelepasliaran orangutan sudah dua tahun ini berada di pos monitoring Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kecamatan Busang, Kutai Timur. Kerja sama mutlak menjadi landasan tim. Urusan administrasi hingga memastikan orangutan yang dilepasliarkan dapat bertahan hidup di rumah barunya menuntut tim lentur dan displin.

Ada enam ranger atau penjaga hutan yang handal merupakan masyarakat lokal. Bagi mereka, kegiatan post-release monitoring dengan lokasi sungai maupun hutan adalah kegiatan sehari-hari mereka. Para ranger cekatan ini dapat dengan mudah menerabas lebatnya hutan untuk mengikuti jejak orangutan yang berpindah dari satu kanopi ke kanopi lainnya.

Kegiatan inventarisasi pohon pakan orangutan juga tak lepas dari tugas mereka. Pencatatan semua aktivitas orangutan juga menghasilkan data pakan alami orangutan. Nama lokal pohon hingga usaha mengenalkan pakan alami untuk orangutan yang ada di pulau pra-rilis juga menjadi konsentrasi pekerjaan ranger.

Selain itu, ranger juga memiliki keahlian mengendalikan perahu ketinting di sungai. Pengetahuan jeram dan mesin perahu juga mengikuti keahlian ini. Ranger APE Guardian sungguh unik, ada saatnya mereka menganyam rotan, membuat peralatan dari kayu bahkan memiliki jiwa seni seperti melukis dan memahat. Sesekali mereka ikut school visit atau kunjungan ke sekolah, “ada saatnya berbagi pengalaman dan menginspirasi generasi penerus”. Selamat Hari Penjaga Hutan Sedunia (World Ranger Day) yang selalu diperinggati setiap tanggal 31 Juli. (DIM)

ORANGUTAN RUBY, SI PEMBUAT SARANG YANG HANDAL

Orangutan Ruby harus mendapatkan tindakan medis pada matanya pada bulan Mei 2024 yang lalu. Lokasi sekolah hutan di BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance) pun menjadi tempat baru baginya untuk mengasah insting alaminya, walau tidak sebaik sekolah hutan sebelumnya di KHDTK Labanan.

Tim APE Defender pun memulai sekolah hutan pertama Ruby dengan hati-hati, menganalisa perilaku dan responnya terhadap manusia. Di luar dugaan, Ruby sudah memanjat pohon hingga ketinggian 20 meter. Langkahnya yang besar dan gegabah menjadikan hari pertamanya sekolah hutan bersejarah, bagaimana tidak, ia jatuh dari ketinggian hampir 18 meter. “Kami sudah siap membawanya ke klinik untuk mengecek kondisinya, namun Ruby lanjut memanjat lagi seolah-olah tidak pernah ada yang terjadi. Sejak saat itu, Ruby selalu kami awasi lebih cermat karena sampai tulisan ini dibuat, gerakannya masih kasar dan gegabah”, ujar Nurazizah, animal keeper BORA.

Jika animal keeper ditanya, siapakah orangutan yang mengikuti sekolah hutan dengan penanganan tingkat kesulitan tinggi di BORA, maka semuanya seragam menjawab orangutan Ruby. Dua bulan di BORA, cukup buat animal keeper selalu ketar-ketir ketika bertugas membawanya sekolah hutan. Sarang-sarang yang dibuatnya terbilang besar dan kuat. Di atas pohon sejenis ficus, pada ketinggian 20 meter, Ruby membangun sarang pertamanya. Sarang itu juga ia pamerkan pada orangutan lain yang lebih muda darinya ketika mendapatkan jadwal yang sama di sekolah hutan. Eboni dan Mabel pun menjadi pengikutnya, mencoba-coba menumpuk dedaunan dan cabang-cabang pohon kecil. “Luar biasa proses sekolah hutan orangutan di BORA. Ruby pun akan menjadi siswa sekolah hutan yang paling terlambat kembali ke kandang saat sekolah hutan usai. Tak tanggung-tanggung, terlambat 40 menit”, tambah Nurazizah lagi.

Ruby masih butuh banyak pembiasaan agar bisa dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Sembari terus melatih otot-otonya, para animal keeper juga bersyukur karena Ruby, orangutan kecil lainnya ikut belajar hal baru. Harapan dan doa semoga proses itu berjalan dengan lancar. (RAR)

TRANSLOKASI TARA, SI ORANGUTAN LIAR

Tara sudah siap melihat peluang itu. Ketika suara senyap dan suara gesekan pintu yang menghalanginya bergerak, tanpa pikir panjang dia pun melangkah keluar dan menuju pohon apapun itu yang dapat diraihnya, memanjat dan memanjat terus, menjauh dari orang-orang. Tara, orangutan yang baru saja diselamatkan tim APE Crusader bersama BKSDA SKW II Kaltim akhirnya menemukan kebebasannya kembali.

Centre for Orangutan Protection (COP) memiliki beberapa tim di lapangan, seperti APE Crusader yang dengan sigap menuju lokasi orangutan yang memiliki interaksi negatif dengan masyarakat. Bahkan untuk menyelamatkan orangutan dengan cepat, dokter hewan tim APE Defender sengaja ditempelkan tim ini agar penanganan langsung pada orangutan dapat segera dilakukan. Selanjutnya tim lain yang bernama APE Guardian segera menyediakan kawasan pelepasliarannya agar orangutan yang tidak memiliki kasus kesehatan dapat segera kembali ke habitatnya. Tim ini juga yang akan memonitor orangutan tersebut dan meminimalisir munculnya konflik dengan manusia.

Ada ciri khusus saat orangutan liar kembali dilepasliarkan tak lama dari penangkapannya. Kandang angkut yang sempit sering kali membuatnya tidak nyaman, berulang kali mengeluarkan suara mengusir, bahkan menyerang saat tim medis mendekati untuk memberi minum maupun makanan dan memperhatikan kondisi kesehatannya. Dan perilaku khas saat pintu kandang angkut dibuka adalah, tanpa mengulur waktu, orangutan akan segera memanjat dan berpindah dari pohon yang satu ke pohon yang lain. Sering kali, tim APE Guardian yang bertugas mengikuti orangutan translokasi kehilangan kesempatan mengikutinya. Orangutan seperti ini akan terus menghindari dan menjaga jarak dengan manusia. (RAN)