SISWA SD ISLAM AL-AZHAR 55 YOGYAKARTA BELAJAR MITIGASI BENCANA BERSAMA

Sebanyak 87 peserta didik kelas 1 SD Islam Al-Azhar 55 Yogyakarta bersama 10 guru pendamping mengikuti kegiatan edukasi kebencanaan di Kantor BPBD Pakem, Kabupaten Sleman. Kegiatan ini dibagi menjadi dua kloter untuk memastikan proses pembelajaran berjalan efektif dan interaktif.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara BPBD Sleman, dan Centre for Orangutan Protection (COP) bersama dengan empat mahasiswa relawan dari Pendidikan Geografi FISIP UNY. Kolaborasi lintas institusi ini bertujuan memberikan pemahaman sejak dini tentang pentingnya kesiap-siagaan bencana, termasuk perlindungan satwa dalam situasi darurat.

Materi diawali dengan pengenalan BPBD dan berbagai tugasnya dalam penanganan bencana. Anak-anak diajak memahami bahwa bencana dapat terjadi kapan saja dan memiliki berbagai jenis, seperti gempa bumi, erupsi gunung api, hingga banjir. Penyampaian dilakukan dengan bahasa yang sederhana dan interaktif agar mudah dipahami oleh peserta didik usia sekolah dasar.

Salah satu sesi yang paling menarik perhatian adalah simulasi gempa. Anak-anak mempraktikkan langsung langkah-langkah sederhana yang harus dilakukan saat terjadi gempa, mulai dari berlindung hingga evakuasi dengan tertib. Selain itu, peserta juga diajak mengenal transportasi operasional BPBD serta berbagai peralatan dan perlengkapan yang digunakan dalam respons kebencanaan.

Tim COP turut menghadirkan Galeri Animal Disaster Relief yang memperkenalkan pentingnya perlindungan dan penyelamatan satwa dalam situasi bencana. Melalui sesi ini, anak-anak belajar bahwa mitigasi bencana tidak hanya menyelamatkan manusia, tetapi juga makhluk hidup lainnya. Kegiatan ditutup dengan kuis singkat untuk menguji pemahaman peserta sekaligus menambah semangat belajar.

Sebagai tindak lanjut, tim juga berkomunikasi dengan guru pendamping untuk membuka peluang edukasi lanjutan di sekolah. Harapannya, pemahaman tentang kesiapsiagaan bencana dan perlindungan satwa dapat terus diperkuat sejak usia dini.

Edukasi hari ini menjadi langkah kecil namun penting dalam membangun generasi yang lebih pedelu, tanggap, dan siap menghadapi risiko bencana di masa depan (VID).

HARAPI, SI MATA KECIL

Pertama kali mengenal Harapi pada tanggal 4 Juli 2025, saat hari pertama ku bekerja di Pusat Rehabilitasi Orangutan dan menggendongnya, “ternyata orangutan sebau ini”. Saat itu, Harapi masih takut untuk memulai sekolah hutannya, ia tidak ingin bersosialisasi dengan orangutan lainnya, hanya diam sembari memeluk diriku hingga baby sitter Janet membantuku untuk membujuk Harapi agar mau bersosialisasi dengan orangutan lainnya tetapi tidak berhasil. Akhirnya Harapi hanya diam di belakang badanku, bersembunyi sembari mengamati orangutan lainnya hingga jam sekolah hutan berakhir.

Hobi Harapi alah makan dan makan, bahkan ketika kehadirannya di sekolah hutan hanya sekedar absen dan disi dengan aktivitas makan. Suatu hari, Harapi tidak mengikuti sekolah hutan karena ia teramati sedang tidak enak badan bahkan si hobi makan ini teramati hanya memakan sedikit saja jatahnya.

Dokter Tyta: Nop, Harapi kasih makan kesukaannya aja dulu, supaya dia mau makan, gak usah sekolah dulu ya.

Nopi: Oke dok.

Setelah menjawab perintah dokter Tyta, aku menceritakannya dengan mba Rara. Mba Rara memberitahuku apa saja makanan kesukaan Harapi.

Nopi: Dok, ini Harapi udah mau makan lagi dan juga selit-sedikit mau beraktivitas seperti biasa dok.

Dokter Tyta: Syukurlah kalau dia mau makan, makasih ya Nop.

Terdengar suara celutukan dengan nada candaan.

Mba Indah: Aahhh pura-pura aja Harapi itu gak mau makan, biar gak sekolah hutan.

Nopi: Iya, kayaknya dia bohong biar bolos sekolah.

Di hari itu, Harapi tidak sekolah hutan dan menghabiskannya dengan makan-tidur untuk mengistirahatkan badannya hingga jam makan siang datang.

Harapi mempunyai teman yang aku sebut dengan sahabat kandang yaitu Arto. Harapi yang tingkahnya selalu lemot atau lamban menjadikan makanannya selalu diambil oleh Arto. Sementara respon Harapi hanya cuek dan tidak berusaha melawan atau menghindar dari Arto. Arto yang kebiasaannya makan dengan cepat dan terburu-buru selalu mempunyai cara untuk merebut makanan Harapi. Dari kebiasaan Arto, kami para baby sitter selalu mengajarkan Harapi agar pelit dan harus bisa mempertahankan haknya. “Ayo Harapi, pertahankan yang sudah jadi milikmu dan yang baik untukmu, jangan berdiam diri karena hakmu diambil atau dirampas orang lain!”. (NOP)

BONDING YANG SEMAKIN KUAT ANTARA TAMI DAN KEEPERNYA DI BULAN FEBRUARI

Proses bonding adalah salah satu tahapan penting dalam rehabilitasi. Bukan sekadar membangun kedekatan, tetapi juga membentuk rasa aman, kepercayaan, dan komunikasi dua arah antara individual dan keeper. Pada bulan Februari ini perkembangan Tami menunjukkan sinyal yang menggembirakan.

Bulan ini, Tami terlihat cukup kooperatif. Saat namanya dipanggil, ia datang menghampiri sambil membawa sayur buncis yang telah disiapkan keeper lain di tempat pakannya. Respons ini menjadi indikator positif bahwa Tami mulai mengenali panggilan dan mengaitkannya dengan interaksi yang aman. Ia makan dengan tenang, tanpa menunjukkan tanda-tanda stres atau penolakan.

Namun, sikapnya berubah ketika mulai menikmati buah. Saat memakan mangga, Tami terlihat lebih protektif terhadap makanannya. Ia cenderung cuek dan tidak merespons ketika disenggol. Perilaku ini bukan hal yang negatif, melainkan bagian dari insting alaminya dalam mempertahankan sumber pakan. Sikap tersebut menunjukkan karakter dan preferensi individual yang semakin jelas terbaca oleh keeper.

Menariknya, setelah mangga yang dimakannya habis, Tami justru berubah lebih terbuka. Ia mulai mendekat dan mengajak bermain. Ketika kembali dipanggil, Tami menghampiri dengan gerakan yang lebih santai. Bahkan, ia menggulingkan tubuhnya ke arah keeper sebuah gestur yang menunjukkan rasa nyaman dan ajakan interaksi.

Meski sempat muncul rasa waspada, terutama karena pengalaman sebelumnya di mana Tami masih menunjukkan kecenderungan defensif, hari itu terasa berbeda. Tami tampak lebih terkendali. Tidak ada gestur agresif atau ancaman gigitan seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Perubahan ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam proses adaptasi dan kepercayaan.

Kepercayaan tidak terbentuk dalam semalam. Konsistensi kehadiran keeper, interaksi yang stabil, dan pendekatan yang tepat secara perlahan membangun hubungan yang lebih positif. Tami kini terlihat semakin mengenali sosok yang rutin masuk untuk mengajaknya bermain dan berinteraksi. Ada response timbal-balik yang mulai terbentuk.

Perkembangan seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi dalam proses rehabilitasi, setiap perubahan perilaku memiliki arti besar. Dari datang saat dipanggil, menjaga makanan dengan insting alami, hingga akhirnya menggulingkan tubuh sebagai bentuk kepercayaan semua adalah langkah kecil menuju kestabilan emosi dan sosial yang lebih baik.

Bulan Februari 2026 menjadi catatan penting dalam berjalan Tami. Sebuah hari yang menunjukkan bahwa proses bonding berjalan ke arah yang positif, dan kepercayaan yang dulu terasa jauh kini mulai terbangun dengan lebih nyata (FAN).

“TEPUK SIAGA” PECAH DI SDN WATUPECAH

Jumat pagi itu, halaman Sekolah Dasar Negeri (SDN) Watupecah terasa hidup dengan energi positif dan rasa ingin tahu peserta didik. Melalui kolaborasi Tim Disaster Centre for Orangutan Protection (COP) dan BPBD Sleman, school visit perdana ini memantik kesadaran bahwa kesiapsiagaan bencana bukan hanya soal menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga ingat pada satwa peliharaan dan termah hidup berdampingan dengan manusia. Anak-anak diajak memahami bahwa dalam situasi darurat satwa bukan untuk ditinggalkan begitu saja, mainkan bagian dari tanggung jawab kita untuk keselamatan bersama.

Kesadaran itu semakin terasa saat “Tepuk Siaga” menggema, “Awas-awas, nanti bencana, siap-siap, kita selamat!” Yang ditutup dengan lompatan gembira penuh keyakinan. Dukungan BPBD Sleman yang nyata terhadap keselamatan manusia dan satwa membuat kegiatan ini lebih dari sekadar presensi pemerintah ikut ambil bagian dalam mitigasi bencana yang lebih luas.

Dari ruang sederhana, pojok baca hingga diskusi tentang apa saja yang menjadi tanda tanya besar satwa di pikirannya, anak-anak semakin terwadahi dan semakin percaya diri. Dari halaman sekolah yang sederhana, tersampaikan pesan penting, edukasi kebencanaan yang menyeluruh, yang juga peduli pada satwa adalah bekal penting bagi generasi muda agar mereka siap menghadapi bencana dengan kepedulian, pengetahuan, dan kesiapan. (VID)

29 BAGIAN TUBUH SATWA DILINDUNGI DISITA, PELAKU PERDAGANGAN ILEGAL DIVONIS 8 BULAN PENJARA

Malang, Jawa Timur – Seorang pedagang satwa liar dilindungi diringkus di wilayah Pakisjajar, Kabupaten Malang, Jawa Timur pada Agustus 2025 lalu oleh Polda Jawa Timur bersama Balai Gakkum Kehutanan Wilayah Jablnusra. Atas kasus perdagangan ilegal ini, pelaku telah divonis bersalah dan dijatuhi hukuman 8 bulan penjara. Dalam perkara ini, aparat penegak hukum mengamankan total 29 bagian tubuh satwa liar dilindungi yang diperdagangkan secara ilegal.

Barang bukti yang disita meliputi 1 (satu) lembar kulit, 2 (dua buah tengkorak, 4 (empat) buah kuku, dan 1 (satu) buah gigi beruang madu (Helarctos malayanus); 1 (satu) lembar kulit buaya muara (Crocodylus porosus); 1 (satu) buah tengkorak macan dahan (Neofelis diari); 7 (tujuh) buah tengkorak dan 10 (sepuluh) taring babirusa (Babyrousa sp.), serta 2 (dua) buah gigi harimau sumatra (Panthera tigris Sumatra). Seluruh barang bukti telah melalui uji laboratorium forensik dan dinyatakan asli berasal dari satwa liar dilindungi, yang berarti setiap bagian tubuh tersebut berasal dari individual satwa yang dibunuh dari habitat alaminya.

Vonis 8 bulan penjara tersebut dinilai belum mencerminkan penegakan dan tujuan dari Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Dalam pasal 40A di regulasi terbaru tersebut, ancaman pidana terhadap pelaku perburuan, perdagangan, penyimpanan, dan kepemilikan satwa dilindungi telah diperberat secara signifikan, dengan ancaman pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun, serta denda paling sedikit Rp 200.000.000 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 5.000.000.000 (lima miliar rupiah). Sanksi yang diperberat ini bertujuan untuk memperkuat efek jera dan perlindungan terhadap keanekaragaman hayati Indonesia.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, pelaku mendapatkan keringanan hukuman dengan pertimbangan salah satunya kondisi istrinya sedang hamil tua. Namun demikian, pertimbangan tersebut dinilai tidak sebanding dengan dampak ekologis yang ditimbulkan. Perdagangan bagian tubuh satwa liar merupakan kejahatan serius yang tidak hanya menghilangkan individu satwa dilindungi dari alam, tetapi juga merusak keseimbangan ekosistem, terutama akibat berkurangnya predator kunci seperti harimau sumatra dan macan dahan. Minimnya predator menyebabkan ketidakseimbangan rantai makanan, meningkatnya populasi satwa mangsa secara tidak terkendali, serta terganggunya proses alami ekosistem hutan. Selain itu, rendahnya tingkat reproduksi dan lambatnya siklus perkembangbiakan satwa predator menjadikan dampak kejahatan ini bersifat jangka panjang dan sulit dipulihkan. Harimau sumatra, macan dahan, beruang madu, dan babirusa merupakan satwa langka yang masuk ke dalam daftar merah menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN Red List). Perburuan dan perdagangan ilegal dapat mempercepat kepunahan spesies-spesies ini.

Menanggapi putusan tersebut, Hery Susanto, Koordinator Penegakkan Hukum LSM Centre for Orangutan Protection (COP), menegaskan bahwa putusan pengadilan dalam perkara kejahatan satwa liar harus selaras dengan kerugian ekologis yang ditimbulkan. “Perdagangan bagian tubuh satwa liar dilindungi merupakan tindak pidana serius yang berdampak langsung pada keberlangsungan ekosistem alam. Setiap individu satwa yang hilang dari alam, khususnya predator kunci, akan memperlemah fungsi ekologis hutan dan mempercepat penurunan keanekaragaman hayati. Oleh karena itu, penerapan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 harus dilakukan secara konsisten dan tegas, termasuk dengan menjatuhkan sanksi pidana yang maksimal guna memberikan efek jera yang nyata”, tegasnya.

COP menegaskan akan terus berada di garis depan dalam memerangi perburuan dan perdagangan gelap satwa dilindungi. Bersama aparat penegak hukum, komitmen untuk mengawal proses penegakan hukum secara konsisten dan mendorong penerapan sanksi maksimal akan terus diperkuat, sebagai bagian dari upaya nyata melindungi satwa liar Indonesia dari ancaman kepunahan serta menjaga keberlanjutan ekosistem alam. (DIT)

MERAWAT SETIAP LANGKAH ORANGUTAN AMAN

Aman sudah bersama kami sejak Juni 2020. Ia tiba di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) dalam kondisi yang membuat dada terasa sesak hanya dengan melihatnya. Cara jalannya aneh dan pelas, seolah setiap langkah harus dipikirkan lebih dulu. Beberapa jemari tangannya sudah teramputasi, meninggalkan bentuk yang tidak utuh pada tangannya. Tidak ada yang tahu pasti apa yang ia lalui sebelum tiba di sini. Luka-luka di tubuhnya menjadi satu-satunya petunjuk tentang masa lalunya.

Saat dilakukan pemeriksaan menyeluruh menggunakan rontgen, kami menemukan masalah yang selama ini ia simpan dalam diam. Pinggulnya tidak normal. Kepala tulang pahanya tidak terbentuk sebagaimana mestinya, sehingga pertautan antara panggul dan paha hampir pasti menimbulkan nyeri setiap kali ia bergerak. Dengan jari tangan yang tidak utuh dan kaki yang juga bermasalah, pergerakan Aman menjadi lambat dan tertatih. Ia sering berhenti sejenak, mungkin karena lelah, mungkin karena rasa sakit yang datang tiba-tiba.

Kini Aman beranjak menjadi orangutan jantan berusia sekitar 12 tahun. Rehabilitasi Aman tidak hanya berfokus pada penguasaan keterampilan bertahan hidup di alam, seperti memanjat, mengenali pakan, dan membuat sarang. Lebih dari itu, rehabilitasi juga bertujuan memastikan kondisi yang Aman alami tidak semakin parah, serta terus mengupayakan kesembuhannya. Setiap langkah perawatan dibuat dengan mempertimbangkan kualitas hidup Aman, baik saat ini maupun di masa depan.

Untuk mengurangi nyeri, selain terapi obat, kami menyesuaikan banyak aspek perawatannya. Pakan yang diberikan merupakan pakan pilihan yang mendukung regenerasi jaringan, tinggi kolagen, serta mengandung vitamin dan mineral tertentu. Kami juga berusaha memberikan rimpang herbal yang dapat membantu pemulihan tubuhnya.

Selama sekolah hutan, pergerakan Aman diamati secara khusus. Setiap hari kami mengumpulkan rekaman video saat Aman memanjat, berjalan, berayun, menggulingkan diri, hingga cara ia duduk dan berapa lama ia mampu mempertahankan posisi tersebut. Video-video ini kemudian dikonsultasikan dengan ahli biolokomosi agar setiap perubahan kecil pada pola geraknya dapat dipahami dan ditangani dengan tepat.

Kadang istirahat Aman pun dibuat lebih khusus. Tali-temali ditambahkan lebih banyak untuk memudahkannya bergerak dan memberi ruang agar ia tetap aktif tanpa harus memaksakan tubuhnya. Aman tumbuh dengan keterbatasan yang tidak ia pilih. Setiap langkah kecil yang ia ambil menunjukkan keteguhan yang luar biasa. Di BORA, kami berusaha memastikan langkah-langkah itu terasa lebih ringan, lebih aman, dan penuh harapan. (THA)

DI ANTARA BIBIT YANG TUMBUH DAN YANG HILANG: HARAPAN DAN PELAJARAN

Pada 21-25 Januari 2026, tim APE Crusader bersama Kelompok Tani Makmur Jaya Kampung Sidobangen kembali turun ke lapangan. Kali ini, mereka melanjutkan upaya penanaman di area penyangga Hutan Lindung Sungai Lesan (HLSL), tepatnya di sekitar sempadan Sungai Lesan. Kegiatan ini merupakan penanaman tahap keempat dengan total 500 bibit tanaman.

Bibit yang ditanam terdiri dari 200 bibit mangga, 150 rambutan, 50 jambu bol, dan 100 ara. Jenis-jenis ini dipilih karena diharapkan dapat memberi manfaat jangka panjang, baik bagi satwa liar maupun masyarakat sekitar kawasan hutan.

Selain penanaman, tim dan kelompok tani juga melakukan perawatan terhadap bibit yang telah ditanam pada tahap-tahap sebelumnya. Pengecekan dilakukan dengan membersihkan area sekitar tanaman, memastikan bibit tidak tertutup semak atau gulma yang dapat menghambat pertumbuhannya.

Namun dari hasil perawatan dan evaluasi lapangan, diketahui sekitar 50 persen tanaman telah hilang atau mati. Beberapa faktor menjadi penyebabnya. Sebagian tanaman berada di area hutan dengan kanopi yang sangat lebat, sehingga tertutup daun, ranting, atau bahkan tertimpa pohon yang roboh. Di beberapa titik, lokasi tanam berada di tebing yang membuat bibit lebih rentan tertimpa dedaunan dan pepohonan.

Aktivitas manusia juga mempengaruhi keberlangsungan tanaman. Penebangan pohon menyebabkan perubahan vegetasi hutan yang cukup drastis. Selain itu, di beberapa lokasi, area tanam berubah karena adanya aktivitas penanaman oleh warga, baik untuk padi maupun kelapa sawit.

Berbagai temuan ini menjadi pelajaran penting bagi tim untuk penanaman berikutnya, agar strategi yang diterapkan bisa lebih efektif dan sesuai dengan kondisi lapangan. Meski demikian, tidak semua hasilnya suram. Sejumlah tanaman justru tumbuh dengan baik dan sudah mencapai ketinggian yang menjanjikan. Bibit-bibit inilah yang menjadi penanda keberhasilan dan alasan bagi tim untuk tetap optimis bahwa upaya kecil di tepian Sungai Lesan ini kelak akan memberi manfaat, khususnya bagi satwa, dan pada akhirnya juga bagi manusia. (HUS)

COP MENGUATKAN KESIAPSIAGAAN PENYELAMATAN SATWA DI SITUASI BENCANA

Dalam situasi darurat dan kebencanaan, satwa sering menjadi pihak paling rentan dan terabaikan. Penyelamatan mereka tidak bisa dilakukan secara sendiri-sendiri. Dibutuhkan koordinasi yang kuat, komunikasi yang jelas, serta kepercayaan antar tim agar setiap tindakan di lapangan berjalan aman dan efektif.
Berangkat dari kesadaran tersebut, Tim Disaster COP menggelar latihan gabungan bersama BPBD Sleman dan Basarnas DIY pada Rabu (28/1) di Embung Kaliaji, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman. Latihan ini mempraktikkan kesiapsiagaan penyelamatan di air, mulai dari persiapan fisik, penggunaan perahu rescue, hingga simulasi evakuasi, sebagai bekal menghadapi situasi banjir, termasuk saat harus menyelamatkan satwa yang terjebak atau terdampak.
Kegiatan ini juga menekankan pentingnya pengambilan keputusan di lapangan. Tidak semua kondisi mengharuskan penolong untuk langsung bertindak. Menjangkau dari jarak aman, menggunakan alat bantu, mendekat dengan perahu, atau bahkan menahan diri saat resiko terlalu tinggi adalah bagian dari strategi penyelamatan. Mengetahui kapan harus bergerak dan kapan tidak bertindak menjadi kunci untuk menjaga keselamatan penolong sekaligus satwa yang diselamatkan. 
Melalui kegiatan ini, COP berharap koordinasi dan kepercayaan dengan instansi kebencanaan dapat semakin erat, sehingga penanganan darurat di lapangan berjalan lebih cepat, aman, dan terukur. Ke depan, latihan gabungan seperti ini diharapkan dapat menjadi agenda rutin yang tidak hanya melibatkan instansi terkait, tetapi juga membuka ruang pembelajaran bagi relawan kebencanaan satwa dan Orangufriends, agar semakin banyak pihak yang siap bergerak melindungi satwa saat bencana terjadi. (VID)

AMAN SUDAH AMAN

Sudah seminggu Aman menjalani perawatan medis. Kali ini, bukan masalah tulang dan persendian seperti biasanya. Tubuhnya lemas, perutnya menggembung dan bersuara “dungg.. dungg”, menandakan adanya gangguan pada sistem pencernaannya.

Tim medis BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) dibantu para animal keeper, bergantian merawat Aman. Dari pagi hingga pagi berikutnya, Aman tidak lepas dari pengawasan tim medis dan animal keeper. Perlahan, kondisinya mulai membaik. Hingga pada hari ke-8, Aman kembali ke lokasi sekolah hutan, meskipun waktu dan interaksi sosialnya dengan orangutan lain masih dibatasi. Pembatan ini dilakukan untuk menghindari benturan yang tidak diinginkan, seperti saat bergulat dengan orangutan lain.

Pada awal kembali mengikuti sekolah hutan, Aman masih terlihat lemas. Lokomosi dilakukannya dengan perlahan. Sesekali, ia terdiam dan mengejan untuk defekasi serta urinasi. Meski demikian, semangat untuk pulih tetap terlihat. Pada hari berikutnya, Aman mulai memanjat pohon dan menemukan buah untuk dimakan.

Pagi selanjutnya, Aman kembali mengikuti sekolah hutan pada jam dan lokasi yang telah ditentukan. Tidak lebih dari lima menit, Aman sudah memanjat. Meskipun pergerakannya tidak selincah orangutan lain, Aman mampu memilih ranting yang paling mudah dijangkau tubuhnya. Hal ini terlihat dari caranya berhenti sejenak dan mengamati sebelum berpindah.

“Senang bawa Aman sekarang, dia di atas pohon terus. Kalau ada temannya, mana mau dia memanjat begini, pasti sibuk bergulat. Kalau bergulat sih tidak jadi masalah. Tapi kalau pelan-pelan berjalan ke kandang atau mengganggu animal keeper perempuan, itu yang bikin capek”, ujar Steven, animal keeper yang membawa Aman sekolah hutan pagi ini.

Pembatasan interaksi sosial dengan orangutan lain justru membuat aktivitas Aman di atas pohon meningkat. Ia juga aktif mencari dan mengonsumsi pakan. Seolah melupakan kondisi lemahnya beberapa hari sebelumnya, Aman menunjukkan kebugaran yang berbeda hari ini. Teramati beberapa kali ia berpindah pohon dan akhirnya berhenti di pohon Artocarpus sp. Untuk memakan buah ranum. Hingga namanya berkali-kali dipanggil, menamakan waktu sekolah hutan telah usai.

“Dua sampai tiga hari lagi obatnya habis. Kalau tidak terlihat keluhan lain, Aman bisa diikutkan sekolah hutan normal seperti biasanya”, ujar Wardiman, dokter hewan BORA, setelah mengetahui alasan keterlambatan Aman pulang.

Baru kali ini, keterlibatan pulang ke kandang membuat kami gembira. (ARA)

DATING APES PERDANA 2026: KONSERVASI YANG TUMBUH BERSAMA MASYARAKAT

Hujan turun pelan membasahi Camp APE Warrior, Yogyakarta. Tanah lembab, udara dingin, dan sore yang biasanya menjadi alasan untuk pulang lebih cepat justru menjadi pembuka Dating Apes pertama di tahun 2026. Di tengah cuaca yang tak bersahabat itu, Nurina Indriyani (Kak Nuri), Direktur Kanopi Indonesia, hadir membawa satu topik yang kerap dianggap sepele, namun sangat menentukan masa depan keanekaragaman hayati, yaitu peran masyarakat lokal dalam konservasi.
Dengan gaya bertutur yang tenang dan berangkat dari pengalaman lapangan, Kak Nuri mengajak peserta melihat konservasi dari jarak yang lebih dekat. Bukan dari balik laporan proyek atau peta kawasan lindung, melainkan dari kampung, ladang, dan relasi sehari-hari antara manusia dan alam. Di Yogyakarta dan wilayah sekitarnya, pelestarian tidak pernah berdiri sendiri; ia tumbuh dari pengetahuan lokal, praktik tradisional, serta keputusan-keputusan kecil masyarakat yang selama ini jarang masuk ruang diskusi formal.
Meski hujan belum reda, mahasiswa, relawan, dan perwakilan berbagai lembaga tetap berdatangan. Di antara gelas teh manis hangat serta cemilan rebusan kacang dan jagung sederhana, diskusi mengalir tanpa jarak. Tak ada panggung tinggi atau sekat akademik, yang ada adalah percakapan tentang bagaimana konservasi seharusnya berpihak, mendengar, dan tumbuh bersama masyarakat. Dating APES kali ini menjadi pengingat bahwa menjaga keanekaragaman hayati selalu bermula dari hal paling dekat: manusia yang hidup berdampingan dengannya. (DIT)