KESEMPATAN KEDUA UNTUK SANG BELANG MUDA

Pada 21 Mei yang lalu di Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat, ditemukan dalam kondisi terjerat, satu anak Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) betina berusia kurang dari satu tahun. Lilitan kawat menyebabkan luka terbuka pada bagian leher, pangkal tungkai kaki depan, dan punggungnya. Beruntung, masyarakat segera menginformasikan ke pihak yang berwenang sehingga tim dapat bergerak cepat melakukan penyelamatan sebelum kondisinya memburuk.

Patroli Anak Nagari (PAGARI) Koto Rajo, PAGARI Beringin, PAGARI Salareia, BKSDA Sumbar, Polsek Rao bersama APE Protector COP bahu membahu mengevakuasi dan menangani harimau muda ini tidak lebih dari 24 jam sejak terjerat. Saat ini, perawatan intensif pada luka-luka terbukanya, pemberian pakan bergizi terutama daging merah menjadi prioritas, selain pemberian vitamin guna membantu percepatan pemulihannya.

Setelah 14 hari perawatan, kondisinya menunjukkan perkembangan positif. Nafsu makannya mulai kembali, aktivitasnya semakin normal, dan luka-luka yang sebelumnya terbuka kini perlahan mengering. Setiap hari, tim terus memantau kesehatannya untuk memastikan proses pemulihan berjalan dengan baik.

Ini bukan hanya tentang penyelamatan seekor harimau, namun menjadi pengingat akan ancaman serius yang masih menghantui satwa liar di berbagai wilayah Sumatra terutama jerat satwa. Dalam beberapa tahun terakhir, berita mengenai satwa liar yang terjerat terus bermunculan. Jerat yang umumnya dipasang untuk menangkap babi hutan atau satwa yang dianggap mengganggu perkebunan sering kali tidak memilih mangsa. Harimau Sumatra, beruang madu, rusa, tapir, hingga satwa endemik dilindungi lainnya juga ikut menjadi korban secara tidak sengaja. Ketika satwa memasuki area yang dipasangi jerat, kawat akan mengencang dan menyebabkan luka serius, infeksi, cacat permanen, bahkan kematian.

Banyak kasus berakhir tragis karena satwa ditemukan terlambat atau tidak ditemukan sama sekali. Tidak sedikit individu satwa dilindungi yang mati secara perlahan akibat luka yang semakin parah, kelaparan, atau kehilangan kemampuan untuk berburu dan bertahan hidup di alam. Bagi spesies yang populasinya sudah semakin sedikit, hilangnya satu individu saja merupakan kerugian besar bagi upaya konservasi.

Saat ini, sang belang muda telah pulih sepenuhnya. Sebelum kembali ke alam liar, ia akan menjalani medical check-up (MCU) secara menyeluruh untuk memastikan seluruh fungsi tubuh, kondisi luka, dan kesehatannya berada dalam kondisi optimal. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ia telah sehat dan siap bertahan hidup secara mandiri, harimau tersebut akan dilepasliarkan kembali. (APE Protector)

PATROLI BERSAMA KPHP KELINJAU DI BUSANG

Pada 22 Mei 2026, kegiatan patroli kawasan kembali dilaksanakan di wilayah Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Busang. Kegiatan ini dilakukan bersama Pak Ibnu selaku Polisi Kehutanan dari Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Kelinjau dan tim patroli APE Guardian COP sebagai bagian dari upaya perlindungan serta pengamanan kawasan hutan yang menjadi habitat penting bagi berbagai satwa liar, khususnya orangutan.

Patroli bersama ini tidak hanya berfokus pada pengawasan kawasan, tetapi juga sekaligus melakukan pengecekan kondisi penanaman bibit pohon pakan orangutan yang sebelumnya telah ditanam di beberapa titik sepanjang jalur patroli. Jalur yang dipilih dimulai dari muara Sungai Hagar dan bergerak ke arah utara. Sementara jalur pulang mengikuti aliran Sungai Hagar yang memiliki banyak pohon pakan alami orangutan di sepanjang pinggiran sungai. Kondisi tersebut menjadikan area ini memiliki potensi tinggi untuk menemukan tanda-tanda keberadaan orangutan maupun sarangnya. Selain itu, beberapa titik penanaman bibit juga berada tidak jauh dari tepian sungai. Perjalanan patroli kali ini memperlihatkan bagaimana kondisi hutan terus berubah secara alami. Banyaknya pohon tumbang akibat badai menyebabkan jalur patroli yang biasa dilalui oleh tim menjadi tertutup. Tim harus beberapa kali membuka jalur baru untuk dapat melanjutkan perjalanan.

DI sepanjang jalur menuju utara, tim menemukan berbagai tanda keberadaan satwa liar. Bekas cakaran beruang madu terlihat pada batang pohon, menandakan satwa tersebut masih aktif menggunakan kawasan ini. Selain itu, tim juga menjumpai keberadaan burung Sempidan Biru Kalimantan serta beberapa sarang orangutan kelas 3 yang tersebar di area patroli. Saat perjalanan pulang menyusuri Sungai Hagar, tim kembali menemukan sarang orangutan kelas 3 di tepian sungai. Di samping temuan satwa tersebut, tim patroli juga menemukan sejumlah ancaman terhadap habitat. Tim mendapati jerat satwa berbahan nilon serta beberapa bekas tebangan pohon lama yang kondisinya sudah tertutup lumut dan mulai lapuk.

Selain patroli kawasan, tim juga melakukan pengecekan terhadap bibit pohon pakan orangutan jenis bayur (Pterospermum borneense) yang telah ditanam selama periode Januari hingga April 2026. Hasil mengecekkan menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Sekitar 70 persen bibit yang ditanam masih bertahan hidup dan menunjukkan pertumbuhan yang ditandai dengan munculnya kuncup serta daun-daun muda. Sementara itu, sekitar 30 persen bibit lainnya tidak berhasil bertahan hidup. Sebagaian besar kerusakan disebabkan oleh pohon tumbang alami yang menimpa area penanaman. Beberapa bibit lain mengalami pengeringan setelah daun-daunnya gugur. (Guardian Team)

DI ANTARA LUKA DAN KEPEDULIAN

Beberapa waktu lalu saya mendapatkan kesempatan untuk ikut terlibat dalam kegiatan penanganan satwa desa di Miau Baru bersama Centre for Orangutan Protection (COP) sebagai relawan. Kegiatan ini berfokus pada pengobatan dan penanganan hewan peliharaan milik masyarakat, seperti kucing, anjing, dan beberapa satwa lainnya. Bagi saya, pengalaman ini menjadi sesuatu yang sangat berharga karena membuka pandangan bahwa kepedulian terhadap satwa bisa dimulai dari hal-hal yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Dari kejauhan saya melihat masyarakat datang dengan harapan hewan peliharaan mereka bisa sehat dan tetap hidup sebagaimana mestinya. Melihat hal tersebut, saya semakin menyadari bahwa hubungan antara manusia dan satwa bukan hanya tentang kebutuhan, tetapi juga tentang rasa peduli dan tanggung jawab.

Sebagai relawan, saya belajar bahwa penanganan satwa tidak hanya soal tindakan medis, tetapi juga tentang kesabaran, komunikasi, dan kepedulian terhadap kondisi masyarakat sekitar. Ada banyak hal yang terlihat sederhana, tetapi sebenarnya memiliki arti besar, muai dari membantu proses penanganan, menenangkan hewan, hingga melihat antusiasme masyarakat yang ingin belajar merawat satwa dengan lebih baik.

Melalui kegiatan ini, saya belajar kepedulian terhadap satwa tidak selalu dimulai dari hal besar. Kadang, perhatian kecil terhadap hewan-hewan di sekitar kita juga menjadi bagian penting dalam membangun hubungan yang lebih baik antara manusia dan alam.

Terima kasih kepada seluruh tim COP dan masyarakat Desa Miau Baru atas pengalaman dan pembelajaran yang sangat berarti ini. Semoga kepedulian kecil yang tumbuh hari ini bisa menjadi langkah besar untuk masa depan yang lebih baik bagi manusia dan satwa. (Adi_Orangufriends Wahau)

MENEMUKAN KEMBALI CARA MELIHAT

Di sela-sela pekerjaan yang menuntut perhatian penuh pada layar laptop, ada kebiasaan yang perlahan terasa mulai memudar, yaitu mengamati hal-hal kecil di sekitar. Hari-hari saya sedang banyak dihabiskan di depan layar, menyunting foto dan video, menulis, serta menyelesaikan berbagai pekerjaan lain. Bahkan ketika memegang kamera saat mendokumentasikan sekolah hutan, fokus saya hampir selalu tertuju pada orangutan, satwa besar yang menjadi inti pekerjaan saya selama bertahun-tahun.

Namun siang itu, seekor burung mengganggu rutinitas itu.

Dari dalam kantor yang dikelilingi dinding kaca tembus pandang, saya melihatnya terbang bolak-balik melintasi halaman. Awalnya hanya sekilas. Lalu beberapa menit kemudian, ia kembali melintas lalu hinggap di tanah. Ada sesuatu dalam gerakannya yang terus menarik perhatian. Seolah-olah ia sedang sibuk dengan urusan yang tidak saya pahami.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya meninggalkan laptop, mengambil kamera, lalu berjalan keluar. Udara siang terasa berbeda ketika tidak dinikmati dari balik jendela. Saya duduk di atas kerikil halaman kantor, membiarkan mata beradaptasi dengan dunia yang selama ini ada di depan saya, tetapi jarang benar-benar saya perhatikan.

Tidak butuh waktu lama sebelum saya menyadari bahwa halaman kantor ternyata jauh lebih hidup daripada yang biasa saya lihat.

Seekor kadal muncul dari sela daun gugur. Sekitar satu meter di dekatnya, seekor bunglon berwarna hijau terang merayap perlahan di atas kerikil dan serasah. Burung-burung yang sebelumnya hanya menjadi titik-titik kecil dalam pandangan kini terlihat lebih jelas. Merbah mata merah datang dan pergi. Kipasan belang melompat-lompat di permukaan tanah sambil melebarkan ekornya. Burung cipoh kacat pun ikut bergabung, masing-masing dengan perilaku dan caranya sendiri mencari makan.

Mereka semua tampak memiliki tujuan yang sama. Di permukaan halaman, masih berserakan laron-laron yang tersisa dari semalam. Malam sebelumnya, lampu kantor sempat dikerubungi laron dalam jumlah besar. Ketika pagi datang, sebagian laron masih tampak bergerak di antara sayap-sayap yang menempel di tanah basah. Apa yang bagi manusia hanyalah sisa-sisa gangguan malam hari, bagi satwa liar justru menjadi pesta.

Setiap beberapa menit, ketika suasana terasa aman dari manusia, seekor burung turun bergantian menyambar mangsanya. Kadal-kadal memanfaatkan kesempatan yang sama. Seluruh halaman berubah menjadi panggung kecil dari sebuah peristiwa ekologis yang berlangsung tanpa penonton.

Dan yang paling menarik, semua itu sebenarnya terjadi tepat di halaman kantor. Bukan satwa-satwa itu yang baru datang. Sayalah yang akhir-akhir ini terlalu abai untuk melihatnya.

Duduk di sana membuat saya menyadari betapa mudahnya perhatian saya terserap oleh rutinitas dan berbagai prioritas yang harus segera diselesaikan. Dalam fotografi satwa liar pun demikian. Banyak dari kita sering memimpikan mamalia besar, predator langka, atau spesies ikonik yang menjadi kebanggaan sebuah kawasan. Sementara itu, kehidupan yang lebih kecil berlangsung diam-diam dan sering kita lewatkan.

Ada dunia yang penuh interaksi dan perjuangan hidup di sepetak tanah yang mungkin hanya kita lewati setiap hari tanpa menoleh. Burung, kadal, bunglon, dan laron menjadi bagian dari cerita yang sama, sebuah siklus kehidupan yang terus berlangsung bahkan ketika tidak ada manusia yang memperhatikannya. 

Alam tidak selalu menghadirkan keajaiban dalam bentuk yang spektakuler. Sering kali, ia hadir dalam detail-detail kecil yang hanya bisa ditemukan ketika kita melambat. Mungkin itu sebabnya fotografi selalu terasa lebih dari sekadar aktivitas mengambil gambar. Kamera hanyalah alasan untuk berhenti sejenak. Alasan untuk memperhatikan. Alasan untuk duduk lebih lama dan melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi di sekitar kita.

Siang itu saya memang pulang dengan foto beberapa jenis burung, kadal, dan bunglon. Tetapi yang paling berkesan bukanlah gambar-gambar yang tersimpan di kartu memori. Yang saya bawa pulang adalah pengingat bahwa alam tidak pernah berhenti bercerita. Kita saja yang sering terlalu sibuk untuk mendengarkannya.

Kadang, yang dibutuhkan hanyalah meluangkan waktu sejenak untuk meninggalkan layar, melangkah keluar, lalu duduk di atas tanah. Di saat itulah kita menyadari bahwa kehidupan liar tidak selalu berada jauh di pedalaman hutan. Ia bisa saja berlangsung tepat di halaman kantor, menunggu untuk diperhatikan. (RAF)

KILAS BALIK PERJALANAN ARTO LEWAT CHARLIE

Terlibat dalam perawatan Charlie membawa kembali ingatan pada 2,5 tahun yang lalu, saat Arto pertama kali datang ke pusat rehabilitasi Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA). Karakternya sama, umurnya sebaya, wajah usilnya serupa, hingga reaksinya menghadapi stimulus juga sama. Benar, kali ini kami diuntungkan oleh pengalaman karena bisa memprediksi kemungkinan perilaku dan perkembangan seperti cenayang. Itu artinya banyak perawatan yang lebih baik yang bisa kami pelajari dari pengalaman bersama Arto sebelumnya.

Hampir 3 bulan menjalani rehabilitasi di BORA, Charlie menunjukkan tumbuh kembang yang progresif. Sejak awal datang, Charlie memang sudah penuh rasa penasaran, namun ia tampak khawatir ketika sendirian. Tim memberikan perawatan intensif 24 jam untuk memastikan Charlie meraih potensi maksimalnya pada usia pertumbuhan ideal. Kata Luluk, babysitter Charlie, bobot badannya tidak pernah turun.

Charlie ditangani oleh banyak staf BORA yang setiap hari berkabar soal tingkah laku barunya. Saat ini, ia mulai suka berayun di pohon yang rendah, asyik sendiri, dan abai terhadap perawat satwa yang ada. Ketika berjalan, Charlie perlu pegangan. Satu kali di siang hari ia menggenggam ranting kering yang panjang untuk menghampiri perawatnya, di kesempatan lain ia masuk ke tengah pohon sereh dan mencengkeram daun kasarnya.

Perjalanan harian Charlie mengingatkan kembali pada masa karantina Arto dan proses bonding-nya bersama Harapi. Menyandingkan Arto dan Charlie dalam satu tulisan ini bukan untuk membandingkan siapa yang lebih, tapi untuk menyadari bahwa ada harapan terang juga pada Charlie yang baru memulai proses rehabilitasinya di BORA. Seperti Arto yang sudah menjelajahi hutan yang lebih luas, semoga Charlie juga segera dapat berayun dengan bebas di titik hutan favoritnya di sekolah hutan. (RAR)

EMPAT BULAN DI SRA, KEEMPATNYA MENJADI LIAR KEMBALI?

Empat bulan bulan waktu yang panjang, jika yang dibicarakan adalah kehidupan di hutan. Tapi bağı individu sepeti Jay, Noon, Bow, dan Raiking, empat bulan bisa berarti pergeseran besar dari ketergantungan menuju sesuatu yang lebih mendekati kemandirian.

Di Sumatran Rescue Alliance (SRA), fase ini sering disebut sebagai awal dari “sekolah hutan”. Sebuah istilah yang terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya merujuk pada proses yang tidak pernah benar-benar linear. Tidak ada kurikulum tetap. Tidak ada target harian yang harus dicapai. Yang ada hanyalah ruang, kesempatan, dan interaksi dengan lingkungan bersama dan dengan diri mereka sendiri. Bow misalnya, mulai menunjukkan perubahan yang cukup mencolok.

Jika sebelumnya ia lebih banyak mengamati, kini ia terlihat lebih berani mengambil keputusan. Dalam salah satu sesi enrichment, sarang semut diberikan sebagai tantangan. Hanya satu. Sengaja. Bukan tanpa alasan, situasi ini menciptakan kompetisi atau mungkin lebih tepatnya keberanian untuk mengambil risiko.

Bow tidak lagi ragu. Ia mendekat, mengupas bagian luar sarang dan mengabaikan semut-semut yang berusaha mempertahankan tempatnya. Ada momen dimana tubuhnya dipenuhi semut, gigitan kecil yang tidak nyaman, mungkin juga menyakitkan. Tapi ia tidak mundur. Ada sesuatu yang mendorongnya untuk tetap bertahan entah rasa lapar, rasa ingin tahu, atau dorongan yang lebih dalam untuk menaklukkan tantangan.

Dan ketika akhirnya sarang itu terbuka, isinya dimakan tanpa banyak jeda. Telur-telur semut yang sebelumnya tersembunyi, kini menjadi hasil dari proses yang tidak instan. Bukan hanya makanan yang didapat, tetapi juga pengalaman tentang bagaimana menghadapi gangguan, menahan diri, dan tetap fokus pada tujuan.

Sementara itu, Jay bergerak dalam ritme yang berbeda. Ia tidak terlalu tertarik pada kompetisi. Hari-harinya lebih banyak diisi dengan eksplorasi yang tenang berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain, ,mencari buah yang mungkin belum matang sepenuhnya, tetapi cukup untuk dicoba. Ada satu momen ketika ia memilih cabang kecil untuk berayun. Cabang itu tidak cukup kuat. Patah.

Jay jatuh dari ketinggian sekitar tiga meter. Tidak ada kepanikan yang berlebihan setelahnya. Ia bangkit, kembali ke cabang yang patah dan justru memanfaatkan situasi itu dengan memakan buah-buah muda yang kini lebih mudah dijangkau. Seolah-olah kegagalan kecil itu bukan sesuatu yang harus dihindari tetapi bagian dari proses yang dimanfaatkan.

Noon berada di antara dua dinamika itu. Ia tidak se-agresif Bow, tetapi juga tidak sepenuhnya pasif seperti Jay. Noon lebih sering terlihat mengamati sebelum bertindak. Ia mengikuti pergerakan yang lain, tetapi tidak selalu terlibat langsung. Ada jeda dalam setiap keputusannya yaitu sebuah pola yang mungkin mencerminkan kehati-hatian, atau cara lain dalam memahami lingkungan.

Namun dari waktu, ke waktu Noon mulai menunjukkan inisiatifnya sendiri. Ia mencoba jalur baru di kanji, memilih pohon yang berbeda, dan sesekali terlibat dalam aktivitas yang sebelumnya ia hindari. Perubahan itu tidak drastis, tetapi cukup konsisten untuk menunjukkan bahwa proses belajar sedang berlangsung.

Raiking, di sisi lain memulai dengan cara yang paling terlihat, kebingungan. Pada hari-hari awal di sekolah hutan, ia tampak lebih banyak mengikuti daripada memimpin. Setiap gerakan terasa ragu. Setiap suara di sekelilingnya memicu respons waspada. Dunia di luar kandang bukan hanya luas, tetapi juga penuh kemungkinan yang belum ia pahami.

Namun ketergantungan itu tidak bertahan lama. Dalam waktu yang relatif singkat, Raiking mulai mengambil jarak. Ia tidak lagi terus-menerus mengikuti individu lain. Ia mulai memilih arah sendiri, mencoba memanjat lebih tinggi dan menghabiskan waktu lebih lama di satu titik seolah sedang memetakan kemungkinan.
Ada momen ketika ia berhenti di ketinggian tertentu, diam, mengamati. Bukan sekedar melihat, tetapi seperti mempertimbangkan. Jalur mana yang aman. Cabang mana yang cukup kuat, atau mungkin kemana ia bisa pergi jika harus bergerak cepat.

Empat bulan ini belum menjadikan meraka “liar” sepenuhnya. Itu bukan tujuan yang bisa dicapai dalam hitungan waktu yang pasti. Tetapi ada sesuatu yang mulai terbentuk kepercayaan diri, kemampuan beradaptasi, dan yang paling penting kemauan untuk mencoba.

Sekolah hutan tidak mengajarkan mereka dengan cara yang kita pahami sebagai “mengajar”. Tidak ada instruksi verbal. Tidak ada koreksi langsung. Yang ada hanyalah pengalaman jatuh dari cabang, digigit semut, gagal mengambil makanan, lalu mencoba lagi. Dan mungkin, di situlah inti dari proses ini. Bahwa menjadi liar kembali bukan tentang kembali ke titik awal, tetapi tentang membangun ulang kemampuan yang sempat hilang sedikit demi sedikit melalui pengalaman yang nyata. Jay, Noon, Bow, dan Raiking masih berada di tengah proses itu. Dan sejauh ini, mereka tidak berhenti. (Animal Keeper SRA)

LOM PLAI: PANEN, DOA, DAN INGATAN YANG TETAP HIDUP

Di Kutai Timur, ketika musim panen tiba, Desa Nehas Liah Bing, atau “Selabing” seperti masyarakat sekitar menyebutnya, berubah menjadi panggung budaya yang dipenuhi musik tradisional, tarian, dan perayaan yang berlangsung hingga malam. Pada April lalu, saya berkesempatan mengikuti Lom Plai, pesta syukur panen padi masyarakat Dayak Wehea yang masih dijalankan turun-temurun sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur dan alam.
Malam 21 April, sekitar pukul delapan, saya berjalan kaki dari mess APE Crusader menuju lapangan utama desa. Dari kejauhan, suara musik tradisional sudah terdengar dari kejauhan. Semakin dekat ke lapangan, suasana berubah semakin ramai. Deretan pedagang memenuhi sisi jalan, mulai dari penjual makanan, mainan anak-anak, kerajinan tangan, hingga produk UMKM lokal bercampur menjadi pasar malam. 

Ketika saya tiba, acara Dem Jiaq (malam tari bersama) baru dimulai. Anak-anak Dayak dengan pakaian adat berwarna-warni memasuki lapangan satu per satu. Di kepala mereka terpasang hiasan bulu burung khas Dayak yang bergerak lembut mengikuti langkah kaki. Mereka menari membentuk satu baris panjang mengelilingi lapangan, sementara di tengah arena sekelompok orang dewasa memainkan alat musik tradisional dengan irama yang repetitif namun menenangkan.
Semakin malam, jumlah penari terus bertambah. Anak kecil, remaja, hingga orang dewasa bergerak bersama dalam pola yang sama, seolah seluruh desa larut dalam satu irama kolektif.
Di sisi lapangan berdiri sebuah patung Hudoq raksasa yang langsung mencuri perhatian. Tubuhnya tertutup helaian rumput hijau panjang, sementara kepalanya berupa ukiran kayu besar dengan ekspresi magis yang sulit dijelaskan. Dihiasi pantulan cahaya lampu malam, sosok itu tampak seperti penjaga tua yang diam-diam mengawasi seluruh perayaan.
Tarian terus berlangsung hingga menjelang tengah malam.
Keesokan paginya, 22 April, langit di atas Wahau begitu cerah. Sekitar pukul sembilan pagi, saya bersama Eng, Dimi, dan Ferdi dari APE Crusader, serta drh. Tytha yang saat itu sedang bertugas bersama tim rescue COP, kembali menuju lapangan desa.
Hari itu merupakan pembukaan rangkaian utama Lom Plai. Upacara dimulai dengan ritual penyembelihan ayam oleh para tetua adat sebagai persembahan bagi leluhur dan roh penjaga kampung. Di bawah terik matahari pagi, para tamu undangan dari pemerintahan Kutai Timur menyaksikan prosesi yang berlangsung khidmat.
Selepas pembukaan, kami berjalan menuju tepian Sungai Wehea. Di sana suasana berubah jauh lebih meriah. Sungai menjadi pusat berbagai pertunjukan tradisional, antara lain tarian di atas rakit, seksiang (perang-perangan di atas perahu menggunakan tombak dari rumput gajah), hingga lomba dayung putra maupun putri yang memancing sorak-sorai warga di sepanjang bantaran sungai.
Pada waktu yang sama, jalan-jalan kampung dimeriahkan budaya Pengsaq dan Peknai. Warga saling menyiram air, lalu mengoleskan arang ke wajah satu sama lain sambil tertawa. Anak-anak berlarian, sementara orang dewasa yang semula rapi perlahan berubah penuh noda hitam di wajah mereka. Ritual ini menjadi puncak kegembiraan Lom Plai, simbol sukacita setelah musim panen.
Selama Lom Plai berlangsung, keramahtamahan menjadi bagian dari perayaan. Rumah-rumah warga terbuka bagi siapa saja yang datang untuk ikut makan dan berbagi cerita. Hari itu kami mendapat undangan makan di rumah keluarga Pak Bambang, relasi COP yang sudah seperti orang tua sendiri bagi kami di Wahau.
Di atas meja tersaji berbagai hidangan khas hari raya, lengkap dengan makanan khas pesta panen. Kami mencicipi lemang, beras ketan yang dimasak di dalam bambu bersama santan lalu dibakar perlahan di atas api, serta beang bit, makanan tradisional Wehea menyerupai dodol yang dibuat dari tepung beras ketan hasil panen dan gula merah.
Sebelum kembali ke mess untuk beristirahat siang, kami sempat berkeliling melihat tenda gerai kerajinan dan produk khas Dayak di sekitar lapangan. Di tengah berbagai anyaman rotan, kain, dan manik-manik, kami masih menemukan satu gerai yang menjual kepala asli burung rangkong dan julang sebagai pajangan. Pemandangan itu terasa kontras dengan semangat pelestarian alam yang juga hidup di banyak bagian festival. Melihat bagian tubuh satwa liar masih diperjualbelikan secara terbuka menjadi pengingat bahwa hubungan antara tradisi, budaya, dan konservasi masih menyisakan ruang dialog yang panjang.
Sore harinya, sekitar pukul empat, kami kembali ke lapangan untuk menyaksikan ritual yang paling ditunggu, yaitu Hedoq.
Pinggir lapangan sudah penuh oleh masyarakat. Acara diawali dengan tarian mandau oleh para pria, kemudian diikuti tarian para perempuan yang menceritakan penghormatan kepada Dewi Padi, Long Diang Yung. Gerakan mereka lembut namun ritmis, mengikuti gong dan gendang yang semakin lama semakin intens.
Kemudian para penari Hedoq mulai memasuki lapangan.
Kostum mereka terlihat begitu mencolok dan nyaris tidak menyerupai manusia. Tubuh para penari ditutupi daun-daunan, seperti rumput panjang maupun daun pisang, dan anyaman alami yang membuat mereka tampak seperti makhluk hutan. Topeng kayu besar dengan bentuk wajah menyerupai roh atau makhluk mitologi menutupi kepala mereka sepenuhnya.
Ketika para penari Hedoq mulai bergerak, suasana di lapangan berubah drastis. Aura di sana terasa lebih magis, seolah pertunjukan ini bukan sekadar tarian, melainkan ritual pemanggilan sesuatu yang jauh lebih tua dari ingatan manusia.
Menurut kepercayaan masyarakat Wehea, Hedoq adalah tarian ritual yang selalu hadir dalam pesta panen. Mereka percaya Hedoq berasal dari bawah air, dari tanah, dan dari langit. Sosok-sosok ini dianggap sebagai makhluk gaib yang dapat membantu manusia selama dihormati dan diberi sesaji. Melalui ritual ini, masyarakat memohon perlindungan, kesuburan tanaman padi, dan kesejahteraan kampung.
Langit mulai mendung, lalu gerimis kecil turun perlahan. Namun tidak seorang pun meninggalkan lapangan.
Jumlah penari Hedoq terus bertambah. Dari anak-anak hingga orang dewasa, satu demi satu memasuki arena hingga seluruh lapangan terasa penuh oleh sosok-sosok bertopeng dari “dunia lain”. Rumput dan daun pada kostum mereka bergoyang mengikuti langkah kaki dan dentuman gong yang semakin cepat.
Menjelang matahari terbenam, tarian akhirnya selesai. Cahaya jingga sore perlahan hilang di balik awan, sementara masyarakat mulai mendekati para penari untuk berfoto bersama.
Hari mulai gelap ketika kami berjalan pulang kembali ke mess APE Crusader. Dalam kamera, ratusan foto telah tersimpan. Tetapi lebih dari itu, Lom Plai meninggalkan sesuatu yang sulit dipotret, perasaan bahwa di tengah dunia modern yang terus bergerak cepat, masih ada tempat-tempat yang menjaga hubungan manusia dengan alam, leluhur, dan tradisi dengan begitu hidup.

BUAH YANG DIGANTUNG, KESABARAN YANG DILATIH PERLAHAN

Pagi itu, cuaca cerah. Terlalu cerah, mungkin. Matahari jatuh langsung ke atap kandang, memantulkan panas yang membuat udara terasa lebih berat dari biasanya. Tidak banyak tempat bersembunyi dari terik, kecuali sudut-sudut kecil yang dibentuk bayangan jeruji dan struktur kandang.

Namun, panas tampaknya bukan persoalan utama hari itu. Di atas kandang, beberapa buah digantung. Tidak terlalu tinggi untuk dilihat, tetapi cukup tinggi untuk dijangkau. Jarak yang tampak sederhana bagi manusia, berubah menjadi tantangan kecil bagi enam orangutan muda (Bow, Noon, Jay, Raiking, Agam, dan Maximus) yang pagi itu mendapat enrichment buah gantung.

Begitu perawat satwa selesai memasang, reaksi mereka hampir serempak, aktif, waspada, dan segera mengarahkan perhatian pada satu hal yang sama. Masing-masing individu mulai mencoba caranya sendiri. Ada yang langsung menjulurkan tangan setinggi mungkin, tubuhnya memanjang, jari-jari terbuka lebar seperti berharap beberapa sentimeter tambahan bisa muncul begitu saja. Ada yang memanjat sisi kandang lebih dahulu untuk mencari sudut yang lebih menguntungkan. Ada pula yang mengamati sejenak, seolah sedang menghitung kemungkinan.

Yang menarik dari enrichment semacam ini bukan buahnya. Bukan pula siapa yang paling cepat mendapatkannya. Melainkan bagaimana setiap individu merespons tantangan yang sama dengan strategi yang berbeda.

Bow menjadi salah satu yang paling mencuri perhatian pagi itu. Dari awal, ia tampak hampir sepenuhnya tenggelam dalam satu tujuan, mendapatkan buah yang tergantung di atasnya. Tidak ada distraksi berarti. Tidak ada keinginan mengganggu individu lain atau mencari jalan pintas dari hasil kerja orangutan lain. Hanya ada dirinya dan buah yang terus ia coba gapai.

Berulang kali Bow menjulurkan gangan, meregangkan tubuhnya semaksimal mungkin. Ujung jarinya hanya mampu menyentuh permukaan buah. Sedikit demi sedikit, tekanan dari sentuhan berulang membuat buah mulai rusak. Cairannya menetes perlahan. Dan di titik itu, Bow hanya mendapatkan sedikit rasa air buah yang menempel di jarinya. Sebuah hasil yang bagi sebagian individu lain mungkin cukup membuat frustasi.

Tapi Bow tidak menyerah. Ekspresinya terlihat serius. Fokusnya hampir tidak berubah. Sementara individu lain mulai berhasil mendapatkan bagian buah, Bow tetap bertahan pada targetnya sendiri. Sebelumnya, satu individu lain telah lebih dahulu berhasil mengambil sebagian buah. Kesempatan untuk merebut sebenarnya ada. Jaraknya dekat, risikonya kecil. Tapi Bow tidak memilih itu. Ia tetap melanjutkan usahanya sendiri.

Ada sesuatu yang menarik dalam pilihan tersebut. Bahwa bahkan dalam situasi yang membuka kemungkinan kompetisi, Bow tampak lebih memilih proses dibanding hasil instan. Sekitar 20 menit kemudian, usahanya membuahkan hasil.

Setengah buah berhasil ia dapatkan. Bukan kemenangan besar, tetapi cukup untuk menunjukkan satu hal, ketekunan kadang bekerja lebih lambat, tetapi tidak selalu kalah. Di sisi lain kandang, dinamika berbeda terjadi antara Jay dan Ranking.

Jika Bow mengandalkan kesabaran, Jay justru memperlihatkan sesuatu yang lain, oportunisme. Ia menyelesaikan enrichment dalam waktu kurang dari lima menit. Tapi bukan karena ia lebih kuat menjangkau buah yang tergantung rapi. Jay memperhatikan sesuatu yang lain. Saat keeper masih sibuk mengikat buah berikutnya sambil memegang keranjang, ada jeda kecil tidak disadari. Sebuah kelengahan singkat. Dan Jay memanfaatkannya. Dengan tenang, hampir tanpa tergesa, ia mengambil buah yang belum selesai diikat. Tidak ada drama. Tidak ada usaha berlebihan. Hanya keputusan cepat yang tepat waktu. Strategi yang efektif, meskipun sedikit “curang” jika dilihat dari sudut pandang permainan.

Begitu Jay berhasil mendapatkan buah, Ranking langsung merespons. Ia berusaha merebut sambil mengeluarkan terikan keras, campuran antara frustasi dan protes. Namun Jay tidak menyerah begitu saja. Ia melindungi buah itu dengan erat, membawa kabur hasil temuannya dan baru membagikannya ketika buah nyaris habis, menyisakan bagian mendekati biji.

Interaksi kecil itu menunjukkan dynamiska sosial yang terus berkembang tentang kepemilikan, negosiasi, dan batas toleransi antar individu. Sementara itu, Noon menghadirkan pola yang berbeda lagi. Respons awalnya baik, tetapi antusiasmenya tidak bertahan lama pada satu target. Noon tampak cepat bosan. Setelah beberapa waktu mencoba, ia lebih tertarik berpindah ke area individu lain.

Ketika Noon mendekati buah milik individu lain, yang justru seperti permainan tukat posisi. Saat Noon datang, individu tersebut berpindah ke tempat Noon sebelumnya. Perpindahan ini berlangsung berulang, hampir seperti tarian yang tidak direncanakan. Akhirnya, salah satu individu berhasil membuka kulit mangga yang tergantung menggunakan jari-jari mereka. Buah itu mulai mengeluarkan air.

Momen berikutnya terasa sederhana tapi menarik. Keduanya bergantian membuka mulut di bawah buah, menampung tetesan air mangga yang jatuh perlahan. Bukan cara tercepat untuk makan. Bukan pula yang paling efisien. Tapi cukup untuk menunjukkan kreativitas dalam memanfaatkan situasi. Selama 30 menit pengamatan, tidak ada satu pun enrichment yang benar-benar selesai seluruhnya. Dan justru di sanalah letak nilainya. Enrichment tidak selalu dirancang untuk segera diselesaikan. Kadang, tujuan utamanya adalah memperpanjang proses memberi ruang bagi usaha, frustasi kecil, strategi, hingga adaptasi. Hari itu yang digantung bukan hanya buah. Tetapi juga kesempatan bagi mereka untuk mencoba, gagal, mengulang, dan menemukan cara masing-masing.

Di bawah cuaca yang panas dan kandang yang dipenuhi aktivitas, enam orangutan muda itu mengingatkan satu hal sederhana bahwa belajar tidak selalu datang dari keberhasilan cepat. Kadang, ia hadir dalam bentuk tangan yang terus menjangkau yang nyaris tidak bisa diraih. (FAN)

PETANI HUTAN DARI LANGIT, PEMBAWA PESAN LELUHUR

Di ujung hutan yang masih bernapas pelan, di antara kabut pagi yang menggantung seperti doa yang belum selesai, seekor burung Enggang melintas di langit, sayapnya lebar, paruhnya kokoh dengan ciri khas terbangnya dengan bunyi kepakan sayapnya yang berhembus hingga terdengar kencang. Orang0orang Dayak menyebutnya lebih dari sekedar burung. Ia adalah titisan cerita, penghubung antara dunia manusia dan roh leluhur. Dalam ukiran kayu, dalam tarian, dalam nyanyian yang diwariskan dari mulut ke mulut. Enggang selalu hadir anggun, sakral, dan penuh makna. Konon, setiap kepakan sayapnya membawa pesan dari langit Ia tidak pernah terbang sembarangan. Ia memilih arah seperti manusia memilih jalan hidup dengan kehati-hatian dan hormat pada alam.

Di bawah lintasannya, hutan berdiri sebagai rumah bersama. Pohon-pohon tua menjulang seperti tiang penyangga dunia. Di sana, di antara cabang-cabang tinggi, individu orangutan bergelayut perlahan. Tangannya memeluk ranting, matanya menyimpan kesunyian yang panjang. Orangutan itu tahu, seperti halnya Enggang tahu bahwa hutan bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah ibu, ia adalah ingatan, ia adalah tubuh yang memberi tanpa meminta kembali.

Tetua Dayak pernah berbisik pada angin, “Jika Enggang hilang karena keserakahan, maka manusia telah memotong sayap kebijaksanaannya sendiri. Dan jika orangutan kehilangan hutan, maka manusia telah merobek akar kehidupannya”. Namun kini, dalam setiap cerita, terselip kegelisahan, akankah mereka hanya menjadi legenda?

Di kejauhan, seekor Enggang terbang rendah, seakan lelah memikul dunia. Di bawahnya, orangutan berpindah dengan hati-hati, mencari pohon yang tersisa. Dan hutan menahan napasnya, menunggu manusia mengingat kembali bahwa bulu bukan sekadar indah, tengkorak bukan sekadar pajangan, dan kehidupan bukan sesuatu yang bisa digantikan setelah hilang. (LUT)

AKU RANGER YANG IKUT RESCUE ORANGUTAN

Bulan lalu menjadi pengalaman pertama saya mengikuti kegiatan penyelamatan (rescue) orangutan. Ini juga merupakan perjalanan pertama kalinya saya ke Desa Sabintulung, Kecamatan Muara Kaman, Kutai Kartanegara. Sebuah kecamatan yang sangat terkenal dengan kasus pembantaian dan penyiksaan orangutannya di akhir tahun 2011 tepatnya di Desa Puan Cepak. Para pelaku kekejaman pada satwa liar yang berjumlah 4 orang tersebut dijatuhi hukuman 8 bulan penjara dan denda 30 juta rupiah.

Panggil saya Igo, yang merupakan bagian dari tim APE Guardian. Biasanya, saya terlibat dalam kegiatan monitoring pasca pelepasliaran serta patroli di kawasan pelepasliaran. Kali ini saya berkesempatan untuk ikut langsung dalam kegiatan penyelamatan. “Sungguh, gelisah sekali. Saya membayangkan bagaimana menghadapi berbagai kemungkinan, baik maupun buruk yang bisa terjadi selama proses penyelamatan.”.

Syukurnya, selama kegiatan rescue berjalan dengan lancar. Kerja bersama warga Sabintulung, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kaltim dan tim APE Crusader COP menjadikan aksi penyelamatan ini dapat terlaksana dengan baik. Hilangnya habitat orangutan membuka mata saya, hutan yang selama ini tim APE Guardian jaga, mungkin menjadi satu-satunya rumah yang tersisa yang bisa membuat orangutan nyaman. Rumah yang penuh dengan pakan orangutan, tempat tinggal yang memungkinkan orangutan satu bertemu dengan orangutan lain bahkan perjumpaan dengan satwa liar lain dengan suara khas hutan hujan Kalimantan.

Jaring pun terbentang, orangutan jantan yang kehilangan habitat telah berhasil ditembak bius, sesaat lagi dia akan jatuh. Kami harus memastikan dia tidak terluka dan siap untuk ditranslokasi. Iya, kami memindahkannya dari tempatnya sekarang ke Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat di Busang, dimana biasanya saya patroli. Jangan ditanya apa yang orangutan liar lakukan saat pintu kandang angkut dibuka. Dapat dipastikan dia melesat keluar dengan cepat, harum hutan tak akan bisa menahannya. (IGO)