SETAHUN BERLALU, ORANGUTAN PALUY TERTANGKAP KAMERA JEBAK

Masih ingat dengan Paluy? Orangutan jantan dewasa yang diselamatkan oleh Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur pada 22 Juli 2024. Ia ditemukan dalam kondisi lemah dengan tubuh sangat kurus di area perkebunan warga. Di sana Paluy terjebak konflik dengan manusia. Tubuhnya yang kurus sebuah tanda yang jelas bahwa ia telah lama kekurangan nutrisi.

Setelah dievakuasi, Paluy kemudian masuk ke klinik orangutan di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) yang dikelolah Centre for Orangutan Protection (COP) di Berau untuk menjalani perawatan intensif untuk memulihkan kondisi fisiknya dari malnutrisi, serta membangun kembali energi dan semangat hidupnya. Pemulihan tidak datang secara instan, tetapi melalui proses yang perlahan dan konsisten. Hingga akhirnya, pada 11 Januari 2025, Paluy dilepasliarkan di Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, kabupaten Kutai Timur, kembali ke tempat di mana ia bisa hidup liar, bebas, dan dalam habitat yang terjaga.

Setahun telah berlalu, pada 24 Februari 2026, orangutan Paluy kembali terpantau melalui rekaman kamera jebak tim monitoring APE Guardian COP. Kamera jebak tersebut sengaja dipasang untuk memantau keberadaan orangutan dan satwa lainnya di hutan tersebut. Paluy tampak berjalan di atas tanah dan berdiri di depan kamera jebak sambil memperhatikan sekitar.

“Melalui pengamatan visual, kondisi Paluy mengalami perkembangan yang signifikan dilihat dari bodyscore yang bertambah baik dan rambut bertambah lebat”, kata drh. Theresia, dokter hewan COP. Hal ini menandakan keberadaan hutan lindung masih terjaga dan memiliki daya dukung yang cukup untuk menopang kebutuhan satwa yang ada. Sekali lagi, Paluy menuai harpa baru di rumah keduanya, tempat yang aman bagi orangutan untuk melanjutkan kehidupan. (YUS)

JEJAK YANG TIDAK DITEMUKAN, KEKHAWATIRAN YANG TETAP TINGGAL

Sebuah laporan masyarakat tentang kemunculan Harimau Sumatra di area perkebunan warga. Tidak ada foto. Tidak ada bukti visual. Hanya cerita tentang rasa takut, tentang kemungkinan, tentang sesuatu yang mungkin lewat, atau mungkin tidak pernah benar-benar ada.

Tim APE Protector bersama BKSDA Sumatera Barat datang bukan untuk memastikan ketakutan itu benar, tetapi untuk memverifikasi sebuah kata yang sering terdengar teknis, tapi di langan berarti berjalan, mengamati, dan membaca tanda-tanda yang sering kali samar.

Perkebunan itu tyda sunni. Ada jejak aktivitas manusia, tanaman, jalur setapak, dan ruang-ruang yang perlahan berubah dari hutan menjadi sesuatu yang lain. Di tempat seperti ini, batas antara ruang manusia dan ruang satwa liar tidak pernah benar-benar jelas. Dan di sanalah tim mulai mencari. Jejak kaki. Cakaran. Sisa kotoran. Tanda-tanda kecil yang jika ada, bisa mengubah cerita dari sekedar dugaan menjadi kenyataan.

Namun tidak ada yang ditemukan. Tidak ada tanda keberadaan Harimau Sumatra di lokasi pertama. Tidak ada bukti bahwa satwa itu benar-benar melintas atau mungkin ia sudah lama pergi sebelum manusia menyadarinya. Dalam banyak kasus konflik satwa liar, ketidakhadiran justru menjadi bagian dari cerita. Harimau Sumatra dikenal sebagai satwa yang soliter dan sangat adaptif terhadap lingkungannya. Ia bisa muncul tanpa terlihat dan menghilang tanpa jejak yang mudah dibaca manusia.

Dan justru di situlah persoalan menjadi lebih kompleks. Karena yang dihadapi bukan hanya keberadaan satwa, tetapi juga persepsi manusia terhadap kemungkinan keberadaan itu. Tim kemudian bergerak ke lokasi lain perkebunan milik Wali Nagari Air Manggih. Berbeda dengan lokasi sebelumnya, area ini bukan sekadar titik laporan, tetapi ruang yang sudah memiliki “riwayat”. Tempat dimana harimau disebut lebih sering muncul. Bukan sekali, bukan kebetulan.

Ada pola atau setidaknya, dugaan adanya pola. Di Sumatra Barat sendiri, laporan konflik antara manusia dan Harimau Sumatra bukan hal baru. Dalam beberapa bulan terakhir, kasus-kasus seperti kemunculan di perkebunan, pemangsaan ternak, hingga jejak lintasan di dekat permukiman terus dilaporkan. Namun, pola itu tidak selalu berarti ancaman yang ama di setiap lokasi.

Kadang, ia hanya lintasan. Kadang, ia bagian dari pergerakan alami mencari makan, mencari wilayah atau sekadar melewati ruang yang dulunya adalah habitatnya. Perubahan lanskap, terutama akibat alih fungsi hutan menjadi perkebunan telah mempersempit ruang hidup satwa liar dan memaksa mereka beradaptasi dengan ruang yang semakin terbatas. Dan di titik itulah manusia dan harimau mulai “bertemu”.

Bukan karena keduanya ingin, tetapi karena ruang di antara mereka semakin tipis. Di lokasi kedua ini, tim tidak hanya mencari mereka mulai memasang kamera jebak. Sebuah alat yang dalam konteks seperti ini menjadi perpanjangan dari pengamatan manusia. Ia tidak mengandalkan dugaan atau cerita. Ia menunggu. Diam. Mereka apa yang benar-benar lewat, bukan apa yang dikhawatirkan akan lewat. Keputusan memasang kamera jebak bukan sekadar langkah teknis. Ia adalah cara untuk memindahkan narasi dari asumsi ke data. Karena dalam konflik satwa liar, kesalahan membaca situasi bisa berujung panjang baik bagi manusia maupun bagi satwa itu sendiri.

Harimau Sumatra yang kini berstatus kritis dengan populasi yang diperkirakan hanya ratusan individu di alam liar, hidup dalam tekanan yang tidak sederhana. Di satu sisi, ia harus bertahan hidup. Di sisi lain, ruang hidupnya terus menyempit. Dan di tengah itu, setiap laporan kemunculan bisa menjadi titik awal dari dua kemungkinan yaitu perlindungan atau konflik yang lebih besar.

Hari itu, tidak ada harimau yang terlihat. Tidak ada bukti yang mengonfirmasi kehadirannya di lokasi pertama. Hanya tanah yang tetap sama, pohon yang tetap berdiri, dan perkebunan yang berjalan seperti biasa. Namun, pekerjaan tidak berhenti di sana. Karena dalam konservasi, ketidakhadiran bukan berarti selesai.

Justru sebaliknya ia menjadi alasan untuk terus memantau, terus memahami, dan terus menjaga jarak yang semakin tipis antara manusia dan satwa liar. Kamera jebak yang dipasang akan bekerja dalam diam. Dan mungkin, beberapa hari atau minggu kemudian, ia akan menangkap sesuatu sepasang mata di malam hari, bayangan yang bergerak cepat atau bahkan tidak ada sama sekali.

Keduanya sama pentingnya, karena dalam ruang yang terus berubah ini, memahami apa yang tidak terjadi sering kali sama pentingnya dengan memahami apa yang benar-benar terjadi. Di antara itu semua, satu hal tetap jelas yaitu konflik tidak selalu dimulai dari pertemuan. Kadang dimulai dari ruang yang perlahan hilang. (APE Protector)

TAMI, EMBER AIR, DAN UPAYA MEMANCING YANG TIDAK PERNAH SEDERHANA

Ada satu ember berisi air. Di dalamnya, potongan buah dan sayur mengapung tidak sepenuhnya tenggelam, sehingga cukup sulit dijangkau. Hari itu, Tami dihadapkan pada sesuatu yang tampak sederhana, mengambil makanan.

Pada percobaan pertama, Tami memilih cara paling cepat. Ia mencoba menumpahkan ember. Logis. Jika airnya hilang, buah akan lebih mudah diambil. Sebuah solusi langsung, tanpa perlu banyak usaha tambahan. Tapi usaha itu tidak berhasil. Ember itu terlalu ringan untuk menjadi tantangan yang berarti, hingga akhirnya keeper menambahkan air. Beratnya berubah. Situasinya juga.

Di titik ini, pendekatan Tami ikut berubah. Ia berhenti mencoba menaklukkan ember dan mulai “bernegosiasi” dengan situasi. Tami berjalan mondar-mandir, memperhatikan sekelilingnya, lalu mulai memilih kayu. Tidak semua kayu dipilih. Ada proses seleksi yang tampak jelas seperti panjangnya, bentuknya, mungkin juga teksturnya. Seolah-olah Tami sedang mencari sesuatu yang “cukup tepat”, bukan sekedar “ada”. Satu kayu diambil. Lalu dimodifikasi. Ujungnya dibuat sedikit lebih runcing.

Di sinilah aktivitas ini berhenti menjadi sekadar mencari makan. Ini berubah menjadi proses tentang bagaimana sebuah masalah dihadapi, dicoba, gagal, lalu dicoba lagi. Percobaan pertama gagal. Kedua juga. Beberapa kali kayu yang digunakan tidak cukup efektif. Buah tetap sulit dijangkau. Tapi Tami tidak berhenti. Wajahnya terlihat serius, fokusnya tidak pecah. Ia terus mengulang dengan cara yang sedikit berbeda, setiap kali.

Sekitar 10 menit kemudian, satu potongan jeruk berhasil didapat. Keberhasilan kecil itu tampaknya cukup untuk mengubah ritme. Tami melanjutkan. Bukan lagi sekadar mencoba, tetapi seperti memahami pola dari apa yang sedang ia lakukan. Dalam 20 menit pengamatan, tiga potong buah berhasil ia dapatkan.

Yang menarik, aktivitas itu tidak berhenti ketika waktu pengamatan selesai. Tami masih melanjutkan. Ada sesuatu yang sering luput ketika kita melihat enrichment sebagai “aktivitas tambahan” bagi satwa. Kita cenderung melihat hasil berapa banyak yang didapat, seberapa cepat diselesaikan. Padahal, yang terjadi di dalam proses itu jauh lebih penting.

Apa yang dilakukan Tami hari itu bukan hanya tentang mendapatkan buah. Ia menunjukkan bagaimana ia berpikir, mencoba, menyesuaikan diri, dan bertahan dalam kegagalan kecil yang berulang untuk menghadapi proses dan detail yang sering terabaikan. Ia memberi ruang bagi proses. Dan dalam proses itu, kita melihat sesuatu yang lebih utuh. Bahwa Tami bukan sekadar mengerjakan tugas enrichment, tetapi sedang menggunakan kemampuannya memilih memodifikasi alat, mencoba, gagal, lalu mencoba lagi.

Hari itu, ember berisi air bukan hanya wadah. Ia menjadi medium untuk memperlihatkan satu hal yang sering kita anggap remeh. Bahwa kecerdasan, ketekunan, dan adaptasi tidak selalu muncul dalam bentuk yang spektakuler. Kadang, ia hadir dalam bentuk sederhana dari individu orangutan yang terus mencoba, meski berkali-kali gagal, hanya untuk mendapatkan satu potong buah. (FAN)

BAKTI UNTUK SAHABAT SETIA: CATATAN SATWA DESA DI TEBANGAN LEMBAK

Kamis, 30 April 2026, menjadi hari yang sibuk namun penuh makna bagi tim APE Crusader. Dengan penuh semangat, tim bersama dokter hewan Tytha dan seorang relawan bernama Tujab bergerak menuju Desa Tebangan Lembak. Perjalanan kali ini membawa mereka keluar dari rimbunnya hutan, mendekat ke kehidupan masyarakat, melalui sebuah inisiatif yang sederhana namun berdampak besar yaitu Program Pengobatan Satwa Desa.

Di sana, misi mereka jelas, yaitu memastikan para “sahabat setia”, hewan-hewan domestik milik warga, mendapatkan hak atas kesehatan dan kesejahteraan yang layak. Satu per satu warga datang membawa hewan peliharaan mereka, menciptakan suasana yang hangat dan penuh interaksi.

Sebanyak 28 hewan berhasil diperiksa hari itu, terdiri dari 13 ekor kucing, 14 ekor anjing penjaga kebun dan rumah, serta 1 ekor beruk peliharaan warga. Setiap hewan mendapatkan perhatian yang sama, detak jantung diperiksa dengan cermat, kondisi bulu diamati dan setiap keluhan dari pemilik didengarkan dengan seksama.

Secara umum, kondisi kesehatan satwa cukup baik. Namun kehidupan di wilayah pedesaan yang lembap tetap menghadirkan tantangan tersendiri. Masalah kulit menjadi temuan yang paling dominan, mulai dari infeksi jamur, serangan kutu, hingga luka luar akibat aktivitas di lingkungan terbuka.

Tim bergerak cepat memberikan penanganan yang diperlukan. Luka-luka dibersihkan secara medis untuk mencegah infeksi lanjutan, pengobatan anti jamur dan anti parasit diberikan sesuai kondisi masing-masing hewan, serta vitamin ditambahkan untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuh mereka. Setiap tindakan dilakukan dengan pendekatan yang teliti dan penuh kehati-hatian.

Namun, kegiatan ini tidak berhenti pada pengobatan semata. Di sela-sela pemeriksaan, tim APE Crusader juga membangun percakapan dengan pemilik hewan. Edukasi tentang tanggung jawab dalam memelihara satwa menjadi bagian penting dari interaksi tersebut, bahwa hewan peliharaan bukan sekedar penjaga rumah atau pengusir tikus, melainkan makhluk hidup yang kesejahteraannya turut memengaruhi kesehatan lingkungan sekitar.

Seiring berakhirnya kegiatan di Tebangan Lembak, tersisa harapan yang tumbuh perlahan namun pasti yaitu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesejahteraan satwa. Karena pada akhirnya, hewan yang sehat adalah cerminan dari masyarakat yang peduli. (HUS)

AIR YANG TIDAK LAGI BISA DITEBAK DAN CARA KITA MEMAHAMINYA KEMBALI

April, katanya musim kemarau. Kalimat itu biasanya datang tanpa banyak dipertanyakan. Seperti sesuatu yang sudah disepakati bersama bahwa pada bulan ini, hujan seharusnya mulai menjauh, langit menjadi lebih terang dan tanah perlahan mengering. Namun hari itu berbeda. Hujan turun saat matahari masih terasa dekat. Tidak deras, tidak juga sebentar. Ia hadir di waktu yang seharusnya milik panas. Seolah-olah musim tidak lagi mengikuti urutannya sendiri.

Jumat, 24 April lalu, di Camp APE Warrior telah digelar diskusi bulanan Dating APES. Narasumber ke-14, Resa Fondania dari Earth Hour Jogja membawa satu topik yang terdengar akrab, tetapi seringkali dipahami secara dangkal. Air yang kita minum, air yang mengalir di sungai, air yang turun dari langit. Air yang kita kira selalu ada.

Diskusi sore dihadiri mahasiswa dan perwakilan instansi dengan pertanyaan yang kurang lebih sama. Mengapa kondisi air hari ini terasa semakin tidak menentu? Alih-alih memberi jawaban yang cepat, Resa justru mengajak peserta untuk melihat ulang cara kita memahami air itu sendiri. Bahwa air bukan sekadar sumber daya. Ia adalah sistem. Ia bergerak, tersimpan, muncul, dan menghilang dalam siklus yang tidak berdiri sendiri. Apa yang terjadi di permukaan hujan yang datang tidak pada waktunya, genangan yang tiba-tiba muncul atau sumber air yang perlahan mengering sering kali merupakan gejala dari sesuatu yang lebih dalam.

Sebagai seseorang yang menaruh perhatian pada hidrogeologi, Resa melihat air bukan hanya dari apa yang tampak, tetapi juga dari apa yang tersembunyi di bawah tanah. Lapisan tanah, batuan, pori-pori yang menyimpan air, hingga bagaimana air itu bergerak tanpa kita sadari. Dan di titik itulah diskusi mulai bergeser.

Dari “mengapa hujan turun tidak pada waktunya” menjadi “apa yang telah berubah dari cara kita memperlakukan tanah dan air”. Perubahan tutupan lahan, eksploitasi sumber air tanpa jeda, hingga cara kita membangun ruang hidup yang semakin menutup tanah dari kemampuan alaminya menyerap air semuanya perlahan mengganggu keseimbangan yang selama ini bekerja tanpa kita sadari.

Air tidak hilang, ia hanya tidak lagi berada di tempat yang kita harapkan. Kadang terlalu banyak dalam waktu yang singkat. Kadang terlalu sedikit dalam waktu yang panjang. Di antara dua kondisi itu, manusia sering kali berdiri tanpa kesiapan. Diskusi sore itu tidak berhenti pada data atau teori. Ia bergerak ke pengalaman. Resa tidak hanya berbicara sebagai narasumber, tetapi sebagai seseorang yang terlibat langsung dalam isu lingkungan. Ada satu benang merah yang terasa jelas bahwa memahami air tidak bisa dilakukan dari jarak jauh. Ia harus dilihat, dirasakan, dan diamati secara langsung.

Bagaimana masyarakat berinteraksi dengan sumber air. Bagaimana perubahan kecil di lingkungan bisa berdampak pada ketersediaan air dalam jangka panjang dan bagaimana sering kali kita baru menyadari pentingnya air ketika ia mulai sulit ditemukan. Di camp APE Warrior pembelajaran itu terasa lebih kontekstual.

Di ruang seperti ini, air bukan hanya topik diskusi. Ia bagian dari kehidupan sehari-hari. Dari aktivitas di lapangan, dari interaksi dengan alam, hingga dari perubahan cuaca yang langsung dirasakan. Hujan yang turun di luar jadwal itu, tiba-tiba menjadi lebih dari sekadar anomali cuaca. Ia menjadi pengingat, bahwa ada sesuatu yang sedang berubah dan perubahan itu tidak selalu terlihat secara langsung.

Menjelang sore, ketika hujan dan terik masih datang bersamaan, diskusi ditutup dengan satu kalimat yang sederhana, “Memayu Hayuning Tirta” bermakna merawat keindahan air. Bukan dalam arti estetika, tetapi dalam makna yang lebih dalam menjaga keseimbangannya, memahami pergerakannya dan menghargai perannya dalam kehidupan. Mungkin masalahnya bukan pada air yang berubah, tetapi pada kita yang belum cukup memahami bagaimana ia bekerja. Di tengah musim yang tidak lagi bisa ditebak, belajar kembali memahami air mungkin bukan lagi pilihan. Tapi kebutuhan. (DIT)

BERSAMA CHARLIE MENUJU TAHUN KE-20 COP

Centre for Orangutan Protection (COP) sedang mensyukuri perjalanannya setelah 19 tahun berjuang di dunia konservasi orangutan. Bersama dengan itu, datang harapan kelestarian satwa endemik Borneo satu ini ke Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA) dalam raga bayi orangutan tanpa induk. Bayi orangutan berusia kurang dari satu tahun ini datang dengan kondisi suhu tubuh yang naik turun dan nasibnya yang kurang beruntung terpisah dari induk. Syukurnya, ia dapat tiba di klinik BORA untuk meraih kesempatan hidup yang jauh lebih baik dengan dukungan tim medis dan perawat satwa. Charlie, begitu kami memanggil namanya hingga sekarang.

Charlie mudah dikenali dengan fitur wajahnya yang ikonik. Matanya besar dan akan lebih besar saat antusias, gitu pula dengan kedua gigi susu depannya yang kuat membentuk kapak. Tidak mudah bagi Charlie untuk berada di tempat baru meski sebelumnya berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Ia tidak bergantung pada manusia, namun bayi orangutan, Charlie mulai gelisah saat perawatnya bergeser sedikit lebih jauh. Genggamannya kuat, tekadnya lebih kuat. Charlie punya banyak pertumbuhan yang pesat hanya dalam satu bulan masa rehabilitasinya yang masih dalam masa karantina.

Salah satu orang yang paling tahu mengenai perkembangan Charlie di BORA adalah perawat satwa Luluk. Luluk adalah staf lokal yang rumahnya berada paling dekat dengan kantor, ia sudah menjadi perawat satwa di BORA selama 8 bulan. Menurut Luluk, merawat bayi orangutan Charlie menjadi pengalaman yang berbeda karena ini pertama kalinya Luluk menemani sejak awal Charlie bayi datang ke BORA. Luluk sangat suka bercerita di sela jadwal tugasnya, tentang setiap kegiatan Charlie pada semua orang yang ia temui.

“Charlie sudah mau bobo sendiri malam ini sambil peluk boneka sapi!”, lapor perawat satwa Luluk di hari ke-2 Charlie di BORA. Charlie mendapatkan perawatan intensif dikarenakan usianya yang masih sangat kecil dan kondisi tubuhnya yang belum stabil karena demam. Perawatan dilakukan selama 24 jam penuh setiap harinya. Asupan pakannya yang hanya bersumber dari susu juga lebih sering diberikan dibanding jadwal pemberian susu bayi orangutan lainnya yang lebih besar. Bersamaan dengan itu, ikatan relasi Charlie dengan perawat satwa Luluk semakin kuat.

Hampir satu bulan di BORA, Charlie sudah mengeksplorasi banyak hal. Ia sudah mulai mencoba pakan seperti pisang, jambu air, pepaya, jambu biji, belimbing, dedaunan, bunga-bungan, dan makanan favoritnya yaitu bunga belimbing. Sepanjang malam, Charlie juga sudah tidur di keranjangnya sendiri, lepas dari perawat satwa yang bertugas. Beberapa hari terakhir, Charlie menunjukkan perkembangan fisik dan perilaku yang signifikan. Charlie sesekali masih demam yang selanjutnya ditemukan tim medis bahwa giginya akan tumbuh. Perilaku Charlie masih sama manjanya, namun saat ini setelah ia punya mainan atau sedang asyik makan, perawat satwa bisa meninggalkan ia sendirian sesaat. Perilaku ini menunjukkan lepas ketergantungan pada manusia yang berkurang dengan harapan tak berlebihan nantinya.

Saat tulisan ini dibuat, Charlie masih menjalani masa karantina. Semua staf BORA masih bergiliran menemani Charlie bertumbuh sepanjang hari, sepanjang malam tanpa henti. Charlie bukan hanya satu bayi orangutan yang diselamatkan, namun ia hadir sebagai harapan baru untuk eksistensialis orangutan yang lebih panjang. “Aku senang Charlie udah banyak berkembang dan ga rewel lagi. Dia juga cepat sekali beradaptasi. Anak ini pintar”, jawab Luluk jika ditanya kondisi Charlie. (RRA)

TUMBUH MANDIRI DALAM EKSPLORASI DAN PERMAINAN

Arto terus menunjukkan karakter mandiri yang semakin kuat dalam kesehariannya di sekolah hutan. Ia kerap menghabiskan waktu bermain sendiri, baik di tanah maupun di akar-akar gantung yang rendah, dengan gaya eksplorasi yang aktif dan penuh rasa ingin tahu. Perilaku seperti berguling di tanah, berayun di tali, hingga menjatuhkan diri dari batang rendah menjadi bagian dari cara Arto melatih koordinasi tubuhnya.

Dalam hal eksplorasi pakan alami, Arto mulai menunjukkan perkembangan yang konsisten. Ia terlihat aktif mencari dan mencoba berbagai sumber makan seperti buah mentah, kambium, daun tua, hingga bunga. Ketertarikannya terhadap lingkungan juga tampak saat ia menjelajah semak-semak atau memperhatikan aktivitas orangutan lain, meskipun interaksi sosialnya masih tergolong terbatas dan cenderung independen.

Meski lebih sering bermain sendiri, Arto tetap menunjukkan sisi sosialnya dengan cara yang khas. Ia beberapa kali menghampiri anima keeper, baik untuk meminta makanan maupun mengajak bermain dengan cara menggigit ringan atau berinteraksi secara fisik. Di waktu lain, Arto juga terlihat mengikuti pergerakan orangutan lain dipohon, meskipun tidak selalu terlibat langsung dalam permainan bersama.

Secara keseluruhan, kondisi Arto stabil dengan pola feses yang normal. Perkembangannya saat ini menunjukkan keseimbangan antara eksplorasi lingkungan, pembelajaran pakan alami, serta pembentukan karakter mandiri dalam fase rehabilitasi bulan ini. (RAF)

SELANGKAH LAGI MENUJU KEBEBASAN UNTUK ORANGUTAN BAGUS

Saya masih ingat saat pertama kali bertemu orangutan bernama Bagus, tepat hari pertama saya bekerja sebagai animal keeper di Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA). Saya biasanya dipanggil Fiqoh. Seperti orang awam pada umumnya, saya belum terbiasa bersinggungan langsung dengan orangutan, sehingga saya masih sangat waspada jika ada orangutan yang mendekat ke arah saya. Saya memang alumni kehutanan, tetapi aktif di Kelompok Pemerhati herpetofauna membuat saya lebih familiar dengan katak dan ular alih-alih mamalia berambut seperti orangutan.

Ketika itu, saya duduk di tanah, melihat ke atas pepohonan untuk mengamati orangutan Felix yang sedang menjelajah area sekolah hutan dari ranting ke ranting. Atensi saya buyar saat merasa rambut-rambut menyentuh kulit wajah saya. Saya menoleh dan mendapati wajah besar orangutan yang sedang menatap saya dengan jarak hampir sejengkal dari wajah saya. Kaget, saya pun memekik kecil sambil menggeser tubuh.

“Mau kenalan itu, Bagus”, ujar Bang Linau, salah satu animal keeper mendekat sambil mencoba menjauhkan Bagus dari saya.

Saat jarak antara saya dan Bagus sudah lebih jauh, barulah saya dapat melihat perawakan Bagus yang sangat besar (baru-baru ini saya mengetahui panjang total tubuhnya 180 cm, tentunya jauh lebih panjang dari tinggi saya saat ini). Wajahnya bulat, terlihat sangar. Rambutnya yang menutupi tubuhnya cukup panjang dan membuatnya terlihat lebih besar.

Mungkin, sekitar dua minggu setelah saya mulai terbiasa dengan orangutan, saya baru berani membawa Bagus untuk sekolah hutan. Lucunya, Bagus dengan badannya yang besar itu, menolak untuk dituntun menuju area sekolah hutan. Saya harus menggendong badannya di punggung setiap pergi dan pulang sekolah, cukup membuat punggung saya pegal dengan peluh membanjiri wajah dan tubuh saya. Ah, seperti inilah rasanya membawa carrier saat praktik lapangan ketika kuliah dulu, batin saya.

Selama sekolah hutan, saya mengamati perilaku Bagus yang menurut saya menarik dan lucu. Saya dan Bagus pernah pulang telat karena Bagus asik duduk di pohon rambutan, memakan buah-buahnya yang merah menggoda. Desember memang musim rambutan. Sementara saya hanya duduk di bawahnya sambil menunggu Bagus bosan dengan buah manis itu yang sudah ia makan bertangkai-taksi. Hampir satu jam kami di sana, barulah Bagus mau mengikuti saya untuk turun dan kembali pulang dengan iming-iming air madu yang saya bawa tentunya.

Bagus pernah membuat khawatir semua orang di BORA karena ia tidak menghabiskan pakannya di kandang selama beberapa hari. Namun selama sekolah hutan, kami mengamati Bagus tampak ceria seperti biasanya. Masih aktif bermain dengan orangutan yang lain, masih semangat untuk menjelajah dan memakan buah tarap dan rambutan yang masih memenuhi area sekolah hutan. Lalu akhirnya kami memutuskan bahwa sepertinya Bagus hanya bosan dengan pakan yang disediakan oleh kami.

Terakhir saya membawa Bagus dengan agak kewalahan. Bagus tidak mau kembali ke kandang, dia terlihat sangat nyaman di sekolah hutan, ia dapat menjelajah dan berpindah dari dahan ke dahan, mencari makan sesuka hati, dan bermain dengan pengayaan alam yang tersedia. Saya membiarkan Bagus bermain di atas tandon air yang rusak, berguling-guling hingga tandon air itu penyok karena dihimpit tubuhnya.

Hampir enam tahun yang lalu Bagus memulai rehabilitasinya di BORA. Saat itu umurnya baru sekitar 3 tahunan, diselamatkan sebagai satwa yang dipelihara secara ilegal oleh masyarakat. Bagus mulai menjalani sekolah hutan sehari-harinya untuk belajar sebelum menjelajah di hutan yang sebenarnya. Wajah garang dan tubuh besarnya saat ini menandakan pertumbuhannya yang cukup signifikan.

Bagus adalah salah satu kandidat rilis yang kini telah dipindahkan ke pulau pra-pelepasliaran untuk belajar bertahan hidup sebelum dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Saya memang baru bertemu dengan Bagus dua bulan. Namun, dua bulan bukan juga waktu yang singkat untuk saya dapat belajar mengenal perilakunya. Meskipun dua bulan saya di BORA juga tidak sebanding dengan enam tahun waktu yang Bagus habiskan di BORA.

Saya bangga dengan perjuanganmu, Bagus. Selamat menuju kebebasanmu sebentar lagi! Saya berharap kamu tetap lestari hingga anak cucumu yang semoga tidak akan menjalani kisah yang sama sepertimu. (FIQ)

MOTIVASI SEKOLAH HUTAN AGAM

Siang itu di area sekolah hutan, pola perilaku Agam kembali terlihat konsisten. Ia menunggu. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena belum sepenuhnya percaya diri untuk memulai tanpa rangsangan, sebelumnya Agam selalu bersama dengan Maximus ketika sekolah hutan.

Ketika buah tidak diletakkan di atas pohon, Agam memilih enggan memanjat, duduk di tanah berumput adalah pilihan saat ini dan mematahkan ranting kecil atau memperhatikan pergerakan tim di sekitarnya. Namun saat buah digantung di cabang setinggi lima hingga tujuh meter respons nya berubah. Ia langsung fokus. Tangan meraih batang pohon, kakinya mengunci, dan ia memanjat perlahan. Tidak tergesa, tetapi juga tidak ragu.

Perilaku ini biasa disebut sebagai perilaku bentuk ketergantungan motivasional. Dalam aktivitas ini juga ajang untuk membangun kepercayaanmu satwa kepada staf atau petugas medis, bahwa beberapa individual rehabilitasi memang membutuhkan stimulus eksternal, terutama ketika masih muda. Targetnya bukan membuatnya tergantung pada buah, tetapi membangun asosiasi bahwa ini aman dan staf atau petugas medis seperti ibu pengganti.

Observasi kemarin juga menunjukkan Agam sebenarnya memiliki koordinasi tubuh yang sudah baik. Cengkeramannya kuat. Ia mampu berpindah cabang tanpa kehilangan keseimbangan. Artinya, hambatan yang muncul bukan fisik, melainkan keberanian dan inisiatif.

Tim rehabilitasi kini menyusun strategi bertahap, seperti jumlah pancingan buah akan dikurangi perlahan. Buah tidak lagi selalu ditempatkan di posisi mudah terlihat. Harapannya, Agam mulai mengeksplorasi pohon tanpa harus menunggu imbalan langsung.

Sekolah hutan bukan sekedar aktivitas memanjat. Ia adalah proses membentuk ulang naluri. Dan bagi Agam, kemarin adalah satu langkah kecil menuju kemandirian langkah yang masih perlu di dorong, tetapi sudah menunjukkan arah yang jelas. (NAB)

EDUKASI MITIGASI BENCANA DI SMA INSAN MULIA BOARDING SCHOOL

Pada Jumat, 17 April 2026, Tim Disaster melaksanakan kegiatan edukasi mitigasi bencana di SMA Insan Mulia Boarding School, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini berlangsung mulai pukul 13.30 hingga 15.00 WIB dan diikuti oleh 90 peserta didik dari kelas X dan XI. Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana, khususnya di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.

Sekolah ini memiliki posisi yang cukup strategis sekaligus rentan, karena berjarak sekitar 20-25 kilometer dari Kawasan Rawan Bencana (KRB) I berdasarkan peta potensi bahaya Gunung Merapi. Kedekatan geografis ini menjadikan edukasi kebencanaan bukan hanya penting, tetapi juga sangat relevan bagi seluruh warga sekolah. Dalam konteks ini, pemahaman yang baik mengenai langkah-langkah mitigasi dapat menjadi bekal penting untuk mengurangi risiko dan dampak yang mungkin terjadi di masa mendatang.

Dalam sesi edukasi, Tim Disaster tidak hanya memperkenalkan profil dan kegiatan tim, tetapi juga menyampaikan materi mengenai mitigasi bencana yang berfokus pada perlindungan satwa. Topik ini menjadi penting karena dalam banyak kejadian bencana, satwa sering kali menjadi pihak yang paling terdampak namun kurang mendapatkan perhatian. Melalui pendekatan ini, peserta diajak untuk memahami bahwa upaya penyelamatan saat bencana tidak hanya sebatas pada manusia, tetapi juga mencakup makhluk hidup lain yang berbagi ruang hidup yang sama.

Materi yang disampaikan mencakup pengenalan dasar tentang animal disaster relief, langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk melindungi satwa saat terjadi bencana, serta pentingnya kesiapsiagaanku sejak dini. Para siswa terlihat antusias mengikuti sesi demi sesi, terutama saat diskusi interaktif yang membuana ruang bagi mereka untuk bertanya dan berbagi pandangan. Hal ini menunjukkan bahwa generasi muda memiliki kepedulian yang tinggi terhadap isu kemanusiaan dan lingkungan, termasuk perlindungan satwa.

Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk menanamkan nilai empati dan tanggung jawab kepada peserta didik. Dengan memahami bahwa satwa juga merupakan bagian dari ekosistem yang perlu dilindungi, diharapkan para siswa dapat menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing. Mereka tidak hanya diharapkan mampu melindungi diri sendiri saat terjadi bencana, tetapi juga memiliki kesadaran untuk membantu makhluk hidup lain yang terdampak.

Melalui kegiatan ni, Tim Disaster berharap dapat terus memperluas jangkauan edukasi kebencanaan, terutama di wilayah-wilayah yang berada di sekitar kawasan rawan bencana. Kolaborasi dengan institusi pendidikan menjadi langkah strategis dalam sebangun budaya sadar bencana sejak dini. Dengan pengetahuan dan kesiapan yang memadai, risiko dapat diminimalkan dan dampak bencana dapat ditekan.

Edukasi seperti ini menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan adalah tanggung jawab bersama. Di tengah ancaman bencana alam yang tidak dapat diprediksi, langkah kecil dalam meningkatkan pemahaman dan kesadaran dapat membawa dampak besar bagi keselamatan manusia dan satwa di masa depan. (VID)