DEA SEPANJANG 2025 HANYA UNTUK AMBON

2025 menjadi tahun yang didedikasikan sepenuhnya untuk merawat Ambon. Di tahun ini, ketika semua orangutan dan staf sudah berpindah ke BORA di Kampung Tasuk, Ambon bersama para trainer dan perawat satwa masih menetap. Suka dan duka berhasil terlewati dalam satu tahun tersebut. Kondisi yang lebih sunyi dibandingkan sebelumnya menjadi momentum untuk menemukan jalan agar tidak termakan kejenuhan.

Namun rintangan justru menghampiri, jaringan internet khusus bermasalah selama satu bulan penuh. Di saat inilah muncul ide mendokumentasikan proses pembuatan enrichment untuk Ambon. “Lumayan mengobati rasa bosan saat tidak ada jaringan, juga menjadi kebahagiaan tersendiri karena bisa memperlihatkan apa yang bisa kami kerjakan”, ujar Dea, animal keeper yang telah dua tahun di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance), Kalimantan Timur.

Ambon yang intensif menjalankan program training dengan tujuan membantu penurunan berat badan mulai menunjukkan hasil baiknya. Dari pengukuran biometrika, diketahui lingkar perut Ambon menyusut dari 168 cm menjadi 125 cm. Sayangnya kabar bahagia harus beriringan dengan kabar sedih lainnya. Tahun 2025 ditutup dengan adanya luka pada bagian skrotum Ambon, sehingga perlu dilakukan tindakan medis untuk menjahit luka tersebut. Dengan bantuan tim medis, Ambon berhasil melewati operasi dengan lancar.

Jika ditanya apa harapan di tahun 2026 untuk Ambon, semoga segera datang waktunya untuk menempati enclosure, serta harapan agar Ambon mampu beradaptasi saat sudah menempati enclosure. Untuk Ambon dan semua orangutan yang masih berada di BORA, semoga selalu dalam kondisi yang sehat. Tidak hanya orangutan, tapi juga semua staf yang bertugas, selalu dalam keadaan sehat dan bahagia. (DEA)

CATATAN AKHIR TAHUN 2025 APE GUARDIAN COP: ORANGUTAN, HUTAN, DAN HARAPAN MASA DEPAN

Di hulu sungai Busang, hutan masih berdiri sebagai rumah bagi orangutan dan beragam satwa liar lainnya. Di balik rimbun pepohonan dan kesunyian yang hanya dipecah oleh suara burung, tahun 2025 menjadi tahun penuh cerita tentang penyelamatan, penjagaan, dan harapan.

Sepanjang tahun ini, Hutan Lindung (HL) Gunung Batu Mesangat sebagai habitat orangutan Busang, kembali menerima tujuh individu orangutan hasil rehabilitasi. Setelah melalui perjalanan panjang. Mereka akhirnya kembali ke habitat alaminya. Salah satu di antaranya lebih dulu menjalani masa habituasi di Pulau Pra-Pelepasliaran Hagar, sebuah tahap penting untuk belajar kembali hidup liar sebelum benar-benar menjelajahi rumahnya.

Busang juga menjadi tempat aman bagi 20 orangutan hasil translokasi. Mereka dievakuasi dari lokasi konflik dan kawasan yang tidak lagi aman. Setiap proses translokasi bukan hanya soal memindahkan satwa, tetapi juga tentang memberi kesempatan kedua bagi orangutan untuk hidup dengan aman dan nyaman, serta bagi manusia untuk belajar hidup berdampingan dengan alam.

Namun, melepasliarkan orangutan saja tidak cukup. Hutan harus mampu menyediakan pakan dan perlindungan. Karena itu, tim lapangan menanam kembali pohon-pohon buah hutan sebagai sumber pakan alami. Patroli pengamanan kawasan dilakukan secara rutin menyusuri sungai dan jalur darat, sekaligus menjalankan mitigasi konflik untuk mengantisipasi interaksi negatif antara masyarakat dis editor kawasan dan orangutan.

Di sela-sela aktivitas tersebut, HL Gunung Batu Mesangat Busang menunjukkan tanda-tanda kehidupannya. Kamera jebak yang dipasang di dalam dan sekitar kawasan merekam momen langka, satu induk orangutan (Pongo pygmaeus) bersama anaknya turun ke lantai hutan. Sebuah pemandangan sederhana namun bermakna, seakan mengabari kami bahwa hutan di sini masih cukup aman untuk dijelajahi orangutan.

Malam hari diisi dengan kegiatan herping, yaitu mencari dan mengamati reptil serta amfibi di alam liar yang dilakukan dengan menyusuri lantai hutan yang kebab. Dari kegiatan ini, tim menemukan katak tanduk hidung panjang (Megophtys nasuta), salah satu satwa kecil yang menjadi indikator sehatnya ekosistem hutan. Sementara itu, langit dan tajuk pohon menjadi panggung bagi burung-burung hutan. Melalui kegiatan birdwatching, kami berhasil mendokumentasikan beberapa jenis burung dilindungi, seperti kangkareng hitam (Anthracoceros malayanus), kangkareng perut putih (Antracoceros albirostris) dan enggang klihingan (Anorrhinus galeritus).

Cerita Busang tidak hanya hidup di dalam hutan, tetapi juga dibawa ke ruang-ruang kelas sekolah. Sepanjang 2025, tim melakukan school visit ke beberapa sekolah di Busang, berbagi cerita tentang orangutan, satwa liar, dan pentingnya menjaga hutan. Dari sinilah harapan tumbuh untuk mencetak generasi yang peduli dan berani menjaga alamnya.

Cerita yang sama juga disampaikan di bangku perguruan tinggi melalui campus visit ke Universitas Mulawarman. Di sana, mahasiswa diajak terlibat dalam upaya konservasi satwa liar dan habitatnya, khususnya orangutan.

Meski demikian, tantangan masi nyata. Di luar kawasan pelepasliaran, ditemukan aktivitas tambang emas ilegal dan praktik pembalakan liar. Ancaman ini menjadi pengingat bahwa hutan Busang masih rapuh dan membutuhkan perlindungan bersama.

Dari pelepasliaran orangutan hingga suara anak-anak di ruang kelas, dari kamera jebak hingga diskusi di kampus, tahun 2025 menunjukkan bahwa konservasi bukan hanya tentang hutan dan satwa, tetapi juga tentang manusia dan masa depan yang diperjuangkannya. (PEY)

MENANAM HARAPAN DI HUTAN: CERITA PENANAMAN POHON BAYUR UNTUK ORANGUTAN

Hutan selalu punya cara menyambut siapa pun yang datang dengan niat baik. Begitu pula saat kami tiba di Kawasan Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat untuk menjalankan misi sederhana namun bermakna, yaitu menanam pohon bayur sebagai sumber pakan alami orangutan. Udara sejuk, suara burung berkicau, dan gemerisik dedaunan menyertai langkah pertama kami, seolah menjadi pembuka sebuah perjalanan kecil yang penuh harapan.

Perjalanan menuju lokasi tanam memang tidak selalu mulus. Ada kalanya sungai surut sehingga perahu harus ditarik, di lain waktu kami harus menembus hutan yang rapat. Capek? Iya. Namun justru di situlah letak serunya. Setibanya di lokasi, kami langsung berbagi peran, mulai dari menggali tanah, menata bibit bayur, hingga memastikan jarak tanam yang tepat. Setiap kali satu bibit berdiri tegak, ada rasa puas yang sulit dijelaskan, seperti menitipkan harapan baru bagi hutan.

Bayur bukan pohon sembarangan. Buahnya menjadi salah satu sumber pakan penting bagi satwa liar, termasuk orangutan. Batangnya kuat, dan keberadaannya membantu menjaga keseimbangan ekosistem serta kesehatan hutan secara keseluruhan.

Kegiatan ini bukan sekadar menanam pohon, tetapi juga menanam harapan. Harapan bahwa beberapa tahun ke depan, bayur-bayur ini akan tumbuh tinggi dan kokoh, menjadi tempat orangutan bergelantungan sekaligus menyediakan sumber makanan yang melimpah. Harapan agar hutan tetap hidup dan lestari, sehingga generasi mendatang masih dapat menyaksikan orangutan bebas berkeliaran di rumah alaminya.

Karena pada akhirnya, menanam pohon adalah cara paling sederhana, namun paling berarti untuk memberi kembali kepada alam. DI Gunung Batu Mesangat, setiap bayur yang ditanam membawa pesan yang jelas, hutan ini penting, orangutan ini berharga, dan masa depan mereka ditentukan oleh langkah kecil yang kita ambil hari ini. (Hasanah_Orangufriends)

SEMPIDAN BIRU, SANG PENJAGA KEANEKARAGAMAN HAYATI

Di bawah terik mentari yang sedang garang-garangnya, tim patroli APE Guardian berangkat dari pos monitoring menuju titik pelepasliaran Memo di sisi Sungai Hagar untuk melakukan patroli sekaligus pengambilan kamera jebak yang telah dipasang sebulan sebelumnya. Tak sampai 30 menit melaju, mesin perahu kami matikan. Salah satu ranger kemudian membatu mendayung sebentar hingga perahu berhasil menembus anak sungai yang cenderung sempit dan banyak terhalang dahan pohon tumbang di sepanjang tepian sungai.

Lokasi kamera jebak pertama yang kami datangi memiliki medan yang lebih ekstrem dibandingkan lokasi lainnya. Kami melewati area perbukitan dan sempat menyeberangi anak sungai dengan kedalaman kurang lebih sepinggang orang dewasa. Kamera jebak tersebut terpasang di sekitar pohon durian merah yang dalam bahasa Dayak Kenyah Lepoq Bem disebut buas dian bala. Harapannya, aroma durian merah dapat menarik berbagai satwa untuk mendekat dan terekam oleh kamera jebak.

Proses patroli berjalan lancar. Sesampainya kembali di pos, kami segera mengecek dengan harapan menemukan beragam jenis satwa. Beberapa satwa yang terekam di antaranya kancil, tikus bulan, berang-berang, serta satu individual orangutan betina yang sedang menggendong anaknya. Namun rekaman yang paling menarik perhatian saya adalah sepasang burung Sempidan Biru Kalimantan, jantan dan betina.

Burung Sempidan Biru jantan memiliki ukuran tubuh sekitar 65-70 cm, sedangkan betina sekitar 56-57 cm. Keduanya memiliki kulit muka berwarna biru. Jantan ditandai dengan jambul hitam dan bulu ekor berwarna putih kekuningan, sementara betina memiliki warna tubuh cokelat kusam tanpa jambul mencolok. Warna ini berfungsi sebagai kamuflase alami, terutama saat betina mengerami telur dan bersembunyi dari predator.

Burung yang masuk dalam kategori rentan ini menghadapi berbagai ancaman terhadap kelangsungan hidupnya, mulai dari deforestasi, perburuan liar, hingga perdagangan satwa ilegal akibat keindahan bulunya. Selain memakan biji-bijian, sempidan biru juga mengonsumsi buah-buahan hutan, serangga, cacing, dan hewan kecil lainnya. Aktivitas mencari makan tersebut membuat burung ini sering mengorek tanah, membantu proses penggemburan tanah, sekaligus berperan sebagai penyebar benih.

Peran ekologis inilah yang menjadikan burung sempidan biru Kalimantan sebagai salah satu penjaga pentingnya regenerasi hutan. Dengan bantuannya, hutan dapat terus memperbarui vegetasinya dan menjaga keanekaragaman hayati tetap lestari. (Hana_COP School Batch 15)

DARI THAILAND KE RUMAH, KISAH REPATRIASI JAY, BOW, NOON, DAN RAIKING

Pada 24 Desember 2025, empat bayi orangutan akhirnya kembali menginjakkan kaki di tanah air setelah melalui proses repatriasi lintas negara. Jay, Bow, Noon, dan Raiking mendarat dengan selamat di Bandara Kualanamu dan kini menjalani masa karantina di pusat rehabilitasi Sumatran Rescue Alliance (SRA), Langkat.

Keempatnya merupakan korban perdagangan satwa liar ilegal. Jay, Bow, dan Noon lebih dahulu tiba di pusat penyelamatan satwa Praptuchang pada Januari 2025. Nama mereka terinspirasi dari trio penyanyi perempuan Thailand yang sempat viral pada masa pandemi COVID-19, yaitu Jane, Bow, dan Noon. Nama “Jane” kemudian diadaptasi menjadi Jay untuk menyesuaikan identitas Jay sebagai individu jantan. Raiking, jantan lainnya, tiba menyusul pada Mei 2025. Namanya berarti “raja di hutan”, sebuah ironi pahit bagi bayi orangutan yang kehilangan hutannya sejak dini.

Saat pertama kali kami melihat mereka, keempatnya berada dalam kondisi waspada. Mereka selalu bergerombol dan saling berpelukan, seolah mencari rasa aman satu sama lain. Di alam, usia mereka seharusnya masih dihabiskan dalam dekapan ibu, menyusu, bergelantungan di antara dahan, serta belajar mengenali dedaunan, buah, dan kulit kayu yang aman dimakan. Semua pelajaran itu terhenti terlalu cepat.

Raiking segera mendapat julukan “ketua geng”. Ia nyaris tak pernah mendekati manusia, bahkan ketika ketiga temannya mengambil potongan buah dari tangan kami. Ia akan merebut buah milik teman-temannya lalu makan dengan tatapan selalu awas. Ia juga kerap mengusir kami dengan gerakan agresif, menggoyang hammock, atau mengeluarkan suara kiss squeak dan grunt, seolah menjalankan peran pelindung meski dirinya sendiri masih bayi.

Perjalanan pulang mereka dimulai pada 23 Desember 2025 dari Bangkok menuju Jakarta. Setelah bermalam satu malam di Jakarta, mereka melanjutkan penerbangan ke Medan pada 24 Desember dan tiba di pusat rehabilitasi di Besitang, Langkat, Sumut pada sore hari menjelang malam Natal. Pengumuman awak Garuda masih terngiang-ngiang, saat itu para penumpang pesawat Garuda bersorak gembira ketika pramugari mengumumkan bahwa 4 orangutan ikut serta dalam penerbangan GA867 Bangkok-Jakarta. Kami tidak dapat menahan airmata haru. Akhirnya perjalanan panjang dari ibunya yg tewas, labirin gelap perdagangan satwa liar ilegal. (TYT)

CATATAN AKHIR TAHUN APE WARRIOR 2025

Tahun 2025 menjadi perjalanan panjang yang penuh tantangan sekaligus penguatan komitmen bagi APE Warrior dalam memperjuangkan keselamatan dan keberlanjutan satwa. Sepanjang satu tahun terakhir APE Warrior hadir di berbagai situasi krisis, konflik antara manusia dan satwa, hingga ruang edukasi publik, memastikan bahwa satwa tidak lagi menjadi pihak yang terabaikan dalam setiap bencana dan perubahan lingkungan.

Pada September 2025, APE Warrior melakukan asesmen dampak banjir di Bali sebagai upaya menyelamatkan satwa yang membutuhkan pertolongan serta menghadirkan kehidupan yang lebih baik, termasuk memberikan kesempatan kedua untuk kembali hidup bebas di alam liar. Selanjutnya pada November, tim terjun langsung menangani satwa terdampak erupsi Gunung Semeru. Ada sekitar 300 satwa terdampak, sterilisasi bangkai ternak untuk mencegah risiko kesehatan, distribusi pakan darurat baik untuk ternak maupun satwa kesayangan, pembangunan kandang komunal, serta layanan medis kolaborasi dinas terkait, Orangufriends, dan relawan lokal untuk mempercepat penanganan.

Konflik antara manusia dan satwa liar masih menjadi isu berulang, khususnya di kawasan urban, Sepanjang tahun 2025, APE Warrior menerima dan menangani 8 laporan konflik satwa liar dari masyarakat. Dari penanganan terebut, dilakukan evakuasi dan pelepasliaran terhadap 5 ekor monyet panjang. Edukasi kepada masyarakat, upaya mitigasi konflik, serta advokasi perlindungan satwa terus dilakukan agar keselamatan manusia dan satwa dapat berjalan beriringan.

Selain respons darurat, APE Warrior secara konsisten melawan perburuan, perdagangan, dan kepemilikan ilegal satwa melalui kerja investigasi, penegakan hukum, serta upaya konservasi dan pemulihan lingkungan. Sepanjang 2025, APE Warrior mengumpulkan 17 data investigasi dan melaksanakan 4 kasus penegakan hukum yang berhasil mendorong proses hukum hingga para pelaku kejahatan satwa liar dijatuhi hukuman penjara.

Upaya perlindungan ini juga diwujudkan melalui translokasi satwa dilindungi sebanyak 3 kali. Pada Januari 2025 dilakukan translokasi 1 ekor owa sumatra. Pada Juli 2025, APE Warrior melakukan translokasi 1 individu orangutan Kalimantan yang telah dipelihara selama 25 tahun. Selanjutnya, pada November 2025 dilakukan penegakan hukum atas laporan kepemilikan ilegal 2 ekor owa jawa di salah satu bangunan di Malang, Jawa Timur. Sebagai bagian dari upaya pencegahan perdagangan satwa liar, APE Warrior juga melaksanakan survei pasar burung di 16 lokasi serta melakukan kunjungan pemantauan ke 15 kebun binatang.

Berbagai kegiatan edukasi dan kampanye penyadartahuan publik dilaksanakan dengan rincian, siaran radio sebanyak 10 kali, kelas bulanan Dating APES sebanyak 9 kali, latihan perahu sebanyak 2 kali, serta kali kunjungan ke sekolah. Selain itu, APE Warrior turut berpartisipasi dalam berbagai acara publik dengan total audien lebih dari 300 orang. Pada tahun ini pula, APE Warrior menyelenggarakan event tahunan COP School Batch 15 serta Animal Disaster Relief Training Batch 3 sebagai upaya memperkuat kapasitas individu dan komunikasi dalam isu perlindungan satwa dan kebencanaan.

Untuk menjaga keberlanjutan gerakan, APE Warrior membuka stand merchandise di berbagai acara komunitas dan konser amal sepanjang tahun. Kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai penggalangan dana, tetapi juga menjadi sarana memperluas jejaring, memperkenalkan isu perlindungan satwa kepada audiends yang lebih luas, serta mengajak publik terlibat langsung dalam upaya perlindungan satwa.

Menutup tahun 2025, APE Warrior menyadari bahwa perjuangan ini masih panjang. Setiap operasi lapangan, penegakan hukum, edukasi, dan kampanye menjadi pengingat bahwa satwa membutuhkan suara yang konsisten dan tindakan nyata. Dengan dukungan relawan, mitra, dan masyarakat, APE Warrior melangkah ke tahun berikutnya dengan komitmen untuk menghadirkan respons yang lebih cepat, advokasi yang lebih kuat, serta masa depan yang lebih aman bagi satwa dan alam. (DIT)

INFORMASI UNTUK KONSERVASI

Debu dan lubang di jalan poros Wahau-Berau, Kalimantan Timur menjadi saksi bisu perjalanan tim APE Crusader dalam menjalankan tugasnya. Pekerjaan ini bukan hanya tentang patroli atau operasi penyelamatan yang mengharuskan kami keluar-masuk hutan, tetapi juga tentang mengumpulkan informasi krusial dari masyarakat setempat. Banyak dari mereka membuka ladang di dekat hutan, rumah bagi orangutan.

Informasi mengenai interaksi negatif manusia-orangutan, pemeliharaan ilegal, serta berbagai kejadian terkait lainnya tidak luput dari perhatian kami. Tak jarang, bayi orangutan dipelihara sebagai hewan piaraan karena wajahnya yang lucu dan menggemaskan. Data dan cerita seperti ini sangat penting untuk pemetaan hotspot interaksi negatif, penyusunan program edukasi, hingga perencanaan operasi penyelamatan bersama BKSDA jika diperlukan.

Seperti biasa, saya memulai dengan mendatangi lokasi-lokasi yang disinyalir masih memiliki keberadaan individu orangutan. Bertamu ke rumah-rumah warga, duduk di teras, mengobrol ringan, hingga makan bersama orang-orang yang sebelumnya bahkan belum saya kenal. Awalnya suasana ramah. Namun begitu saya mulai melempar pertanyaan tentang konflik dengan orangutan, atmosfer langsung berubah. Tatapan mata menghindar, jawaban menjadi singkat dan kabur.

“Jarang lihat, Mas” atau “Sudah lama gak ada”.

Saya paham betul alasannya, takut. Takut dianggap terlibat, takut memicu konflik dengan tetangga, atau takut pada hukum yang tegas dalam perlindungan satwa liar.

Saat patroli, saya sering melihat di kebun sawit pohon-pohon muda yang rusak. Bukan buah sawitnya yang dimakan, melainkan umbut muda yang baru tumbuh – sumber makananbagi orangutan yang kelaparan karena habitatnya kian menyempit. Hutan yang dulu menyediakan beragam pakan kini berubah menjadi perkebunan monokultur dengan sangat sedikit pohon pakan alami.

Petani pun frustasi. Mata pencaharian mereka terancam. Beberapa kali saya menangkap cerita-cerita tersirat tentang orangutan yang “hilang”, mungkin diusir dengan parang atau bahkan sesuatu yang lebih buruk. Namun detil lokasi, waktu kejadian, maupun pelakunya hampir selalu disembunyikan atau benar-benar tidak diketahui. Budaya saling melindungi di desa-desa kecil membuat dinding informasi itu semakin tebal.

Ketika pertama kali turun ke lapangan, yang kami miliki hanyalah potongan-potongan cerita dan dugaan. Namun itulah realitas kerja lapangan. Bekerja dengan informasi setengah-setengah adalah hal yang biasa, sekaligus tantangan dan bagian paling menarik. Bagaimana kami menyusun kepingan-kepingan informasi itu menjadi sebuah puzzle, lalu merangkainya menjadi peta aksi yang valid untuk langkah konservasi orangutan.

Basah kuyup diguyur hujan, terjatuh dari motor saat melintasi jalan berlumpur, hingga tapir tersasar di tengah perkebunan kelapa sawit atau hutan rimba adalah risiko yang sudah biasa kami hadapi. Namun setiap kali teringat bahwa satu potong informasi dapat menyelamatkan satu nyawa orangutan, kami terus melangkah maju.

Di Kalimantan Timur, orangutan bukan sekadar satwa. Mereka adalah penjaga sekaligus petani hutan yang perannya sangat penting bagi keseimbangan bumi ini. (WIB)

PAKAN TERNAK UNTUK BENCANA GALODO DI PALEMBAYAN, SUMBAR

Palembayan menyambut kami tanpa banyak pilihan jalan. Banjir bandang dan galodo meninggalkan batu-batu besar dan batang pohon yang berhenti begitu saja di tengah akses warga, memisahkan satu kampung dengan kampung lainnya. Kami masuk ke ruang yang terputus, mengikuti langkah tim Animal Rescue COP yang lebih dahulu bergerak. Bersama bergerak dari apa yang bisa dijangkau, dari cerita yang lebih dulu kami dengar di lapangan.

Di antara rumah yang masih berdiri, kehidupan tetap berjalan meski dengan ritme yang berbeda. Sapi dan kambing terlihat bertahan, sementara kucing dan anjing banyak yang tertatih, kakinya terinfeksi lumpur dan basah. Penanganan dilakukan, dibantu dokter hewan yang ikut turun langsung. Di sela-sela itu, suasana tidak terlalu berat, mencuri istirahat sejenak. Candaan kecil muncul dari warga, dari relawan, juga dari kawan-kawan patroli dari Sontang Cibadak yang biasanya menjaga hutan Pasaman, dan kali ini ikut membantu di kampung. Obrolan singkat, tawa yang muncul kala-kala, lalu kembali bekerja lagi. Begitulah hari-hari kami berjalan di Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatra Barat tepat di titik bencana.

Saat kebutuhan paling mendesak mulai terlihat, kami membuka posko pembagian pakan untuk ternak dan makanan pendamping bersama Puskewan Palembayan. Bantuan tersalurkan sembari cerita yang terus mengalir, tentang apa yang hilang dan apa yang masih bisa disyukuri. Beruntungnya, Palembayan sedang berada di musim panen. Lansat, jambu, dan durian yang cukup melimpah masih bisa ditemukan, ikut menompang kebutuhan pangan warga pasca bencana. Dari tempat ini, ami melanjutkan langkah ke lokasi lain dengan satu catatan sederhana, dalam situasi darurat, hadir tepat waktu dan bekerja bersama sering kali jauh lebih berarti daripada rencana yang terdengar sempurna. (VID)

SATU TAHUN FELIX DI BORA

Tak terasa, sudah satu tahun lamanya Felix kami rawat di Pusat Rehabilitasi BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). Dalam kurun waktu tersebut, begitu banyak perubahan dan perkembangan positif yang terlihat pada diri Felix.

Sebelum bercerita tentang Felix yang sekarang, aku ingin mengajak kilas balik sejenak ke masa awal kedatangan di BORA. Felix adalah bayi orangutan hasil konfiskasi. Sebelumnya, ia dipelihara sebagai hewan peliharaan oleh warga setempat. Kami sangat bersyukur Felix akhirnya berhasil di-rescue.

Saat pertama kali tiba, kondisi Felix sangat memprihatinkan. Tubuhnya kecil, lemah, dan dipenuhi luka. Ia hampir tidak memiliki energi untuk bergerak, sehingga hanya bisa duduk di pangkuan babysitter. Felix bahkan sempat mengalami demam yang membuatnya harus mengonsumsi obat hingga larut malam. Masa-masa itu menjadi periode yang berat, bagi Felix maupun bagi kami yang merawatnya.

Namun, perlahan tapi pasti, Felix berhasil melewati masa-masa sulit tersebut. Kini Felix telah tumbuh menjadi orangutan yang aktif, dan gemar bermain serta mengeksplorasi pepohonan tinggi. Selama satu tahun berada di pusat rehabilitasi, Felix bertemu banyak teman sesama orangutan yang membantunya belajar dan bertumbuh untuk benar-benar “menjadi” orangutan.

Salah satu teman terdekat Felix adalah Pansy, kawan satu kandangnya. Felix yang awalnya terlihat takut-takut pada Pansy, kini hampir selalu beraktivitas bersama, baik di dalam kandang maupun di sekolah hutan. Felix bahkan akan menangis ketika keeper hanya mengajak Pansy ke sekolah hutan tanpa dirinya. Ada momen-momen lucu ketika Pansy yang lebih lihai berpindah dari satu pohon ke pohon lain, sementara Felix kesulitan mengikutinya dan hanya bisa dia melongo melihat Pansy semakin menjauh di antara pepohonan tinggi. Kini, keduanya hanya bisa diam melongo melihat Pansy semakin menjauh di antara pepohonan tinggi. Kini, keduanya seperti tidak terpisahkan.

Selain Pansy, Felix juga memiliki orangutan favorit lainnya, yaitu Harapi dan Ochre. Bersama dua sahabat ini, Felix lebih sering bermain berguling-guling di tanah. Hal ini berbeda saat ia bersama Pansy yang cenderung mengajaknya berkeliling area sekolah hutan dari atas pohon. Ada kalanya Felix sudah berhasil memanjat ke atas pohon, namun begitu melihat Harapi atau Ochre di bawah, ia akan langsung memilih turun dan bermain di lantai hutan, sesuatu yang sering kali membuat babysitter sedikit kesal.

Felix memang telah berkembang pesat selama satu tahun terakhir. Meski begitu, masih banyak keterampilan liar yang perlu ia pelajari ke depannya. Perjalanan Felix masih panjang dan kami akan terus mendampingi setiap langkahnya menuju kehidupan yang lebih mandiri sebagai orangutan liar. (JAN)

JEJAK SUNYI, MENELISIK SATWA LIAR DI MALAM HARI

Malam itu, kabut menggantung rendah di antara pepohonan ketika tim APE Guardian melangkah masuk ke kawasan Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat. Berbekal headlamp, kamera, dan sepatu yang setia menemani perjalanan, kami kembali menyusuri hutan yang sudah akrab namun selalu menyimpan kejutan. Malam bukan sekedar waktu beristirahat bagi hutan, melainkan saat kehidupan lain perlahan menampakkan diri.

Kegiatan kali ini berfokus pada pengamatan reptil, amfibi, dan burung. Pada malam hari, banyak sekali burung sedang beristirahat sehingga lebih mudah diamati dan didokumentasikan. Kami berjalan perlahan menyusuri jalur setapak dan aliran anak sungai yang jernih, menoleh ke kanan dan kiri, berharap menemukan satwa yang bersembunyi di balik rimbun dedaunan. Suara serangga berpadu dengan gemerisik air, menciptakan suasana sunyi yang hidup. Setiap gerakan kecil kami amati dengan seksama, seolah menjadi petunjuk keberadaan makhluk malam yang kami cari.

Tak lama berselang, seekor Paok delima terbang melintasi saat tersorot cahaya headlamp. Kami segera mematikan lampu dan menunggu dengan sabar. Benar saja, burung itu kembali hinggap di sebuah ranting, memberi kami kesempatan untuk mendokumentasikannya. Beberapa langkah kemudian, suara ranger memanggil dari depan, “kini unsuwi”, dalam bahasa Dayak Kenyah yang berarti “ke sini ada burung”. Kami segera menghampiri dan di hadapan kami tampak seekor Seriwang asia bertengger tenang di atas liana. Burung ini jarang terlihat di siang hari, lebih sering melintas cepat dan menghilang di balik semak.

Perjalanan berlanjut menyusuri aliran sungai kecil yang menjadi rumah bagi katak dan ular. Dengan langkah pelan, kami menyusuri air dingin yang membasahi pinggang. Di tepian sungai yang sunyi, dua ekor katak bersahut-sahutan, suaranya lembut seperti nyanyian alam yang mengiring turunnya hujan malam. Suasana hutan terasa semakin rapat, seolah menyimpan rahasia yang belum sepenuhnya terungkap.

Tiba-tiba, langkah kami terhenti. Di balik anyaman akar pohon tua, tampak seekor ular kobra bersembunyi dalam diam. Anggun dan waspada, sisiknya yang gelap berkilau lembut terkena cahaya senter. Dalam momen itu, waktu seakan melambat. Kami terdiam sejenak, menyadari bahwa di hadapan kami berdiri salah satu penjaga sunyi hutan malam, hadir tanpa suara namun penuh wibawa. (LUT)