DARI ABU MERAPI KE GARIS DEPAN BENCANA

Bencana selalu datang dengan urutan yang sama, sirene – evakuasi – angka korban – lalu senyap. Tapi di balik daftar penyita manusia, ada barisan nyawa lain yang nyaris tak pernah masuk laporan satwa. Letusan, banjir, gempa, kebakaran, hingga angin ekstrem terus berulang, memperlihatkan pola lama yang tak kunjung dibenahi. Ketika manusia menyelamatkan diri, hewan ditinggalkan. Sapi, kambing, ayam, anjing, kucing, mereka menjadi korban bisu dari sistem tanggap darurat yang belum menganggap nyawa non-manusia sebagai prioritas.

Kesadaran itu mencapai titik balik pada letusan besar Gunung Merapi 2010. Ribuan ternak mati bukan hanya karena awan panas dan abu, tetapi juga karena kelaparan dan ketiadaan penanganan setelah pemiliknya mengungsi. Negara sibuk menghitung kerugian infrastruktur, sementara kandang-kandang kosong dipenuhi bangkai dan hewan yang sekarat. Di celah itulah, Centre for Orangutan Protection (COP) yang dikenal lewat konservasi orangutan memutuskan turun tangan ke desa-desa terdampak, mengevakuasi ternak, mendistribusikan pakan hijau, serta merawat anjing dan kucing yang ditinggal menjaga rumah dan kandang.

Dari pengalaman lapangan itulah APE Warrior lahir, sebuah tim tanggap darurat satwa yang hadir ketika perhatian publik dan kebijakan sering berhenti pada manusia. APE Warrior bukan sekadar relawan, melainkan sistem respons berbasis data satwa, logistik pakan, penanganan medis, hingga sterilisasi bangkai untuk mencegah wabah. Dan satu hal yang kerap disalahpahami, kami tidak berjalan sendiri. Setiap langkah dilakukan secara resmi, berkoordinasi dan berada di bawah arahan Dinas Peternakan setempat agar kerja penyelamatan berjalan aman, terukur, dan bertanggung jawab.

Lima belas tahun setelah Merapi 2010, APE Warrior masih berdiri di garis depan. Bukan karena bencana berhenti datang, melainkan karena ia terus berulang. Ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan pengingat yang tak nyaman, selama sistem tanggap darurat masih memandang satwa sebagai urusan sampingan. APE Warrior akan tetap turun bersama negara, di lapangan. Dan selama bumi terus memberi peringatan, pertanyaannya tetap sama, “Apakah kita masih mau berpura-pura lupa bahwa keselamatan seharusnya tidak hanya milik manusia?”. (DIT)

ORANGUTAN, DURIAN, DAN TUGAS APE GUARDIAN

Di kedalaman Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat yang masih berselimut kabut pagi, tim APE Guardian sudah siap dengan teropong-teropongnya dan buku catatan. Hari ini bukan hari biasa. Ini adalah puncak musim buah, dan aroma yang memenuhi udara tak lain adalah aroma durian. Sang raja buah sedang dicari oleh penghuni hutan, termasuk orangutan.

Di bawah langit hutan yang lembab, terekam satu individual orangutan betina tengah menggendong anaknya. Mata cokelatnya yang sayu tertuju pada sebuah durian yang tergeletak di tanah, buahnya sudah mulai merekah tanda matang. Bagi orangutan, durian adalah sumber energi yang luar biasa. Rasanya manis dan kaya nutrisi. Dengan jemari dan gigi yang kuat, ia membuka buah berduri tajam itu tanpa kesulitan, lalu dengan lap menikmati daging buah berwarna kuning mentega bersama buah hatinya.

Dari layar kamera, tim mengamati perilaku orangutan tersebut dengan sasana. Tugas kami sangat krusial bagi kelestarian primata ini. Setiap gerak-geriknya dicatat, mulai dari jenis pakan yang dimakan, titik koordinat, hingga lokasi tempat orangutan menikmati durian itu.

“Lihat itu, Lut”, bisik Igo sambil menunjuk ke pohon bayur di sebelah pohon durian. Di sana terlihat sebuah sarang orangutan yang diindikasikan sebagai sarang kelas 3, ditandai dengan daun-daunnya yang sudah layu. “Dia tidak akan pindah sebelum buah durian ini habis”, ujar Igo. Kami tersenyum samba mencatat koordinat dan mendokumentasikan sarang tersebut. “Itulah indahnya tugas kita. Dengan menjaga pohon durian ini, kita sebenarnya sedang menaga rumah dan masa depan orangutan”.

Di sekitar lokasi, kami menemukan lima buah durian yang sudah habis dimakan, jaraknya tidak jauh dari pohon induk. Orangutan adalah petani hutan. Ia berpindah dari satu dahan ke dahan lain, lalu menjatuhkan biji durian yang telah bersih dari daging buah ke lantai hutan. “Itu poin penting”, ujar kami memotret sisa kulit buah di bawah pohon. Tanpa orangutan, regenerasi pohon di area seluas ini akan berjalan sangat lambat. Dialah yang membawa dan menyebarkan benih durian untuk tumbuh dan kelak kembali menjadi sumber pakan.

Matahari mulai turun, menyisakan warna jingga di sela-sela dedaunan pohon menggerus yang menjulang tinggi. Tanda-tanda kehadiran satwa diurnal perlahan menghilang, dan kami pun berkemas. Tugas hari ini terasa berat, namun menemukan jejak kehadiran orangutan serta hasil foto dari kamera jebak memberi kepuasan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

“Besok kita kembali lagi. Kita pasang kamera di sini dan di pohon durian lainnya”, ujar salah satu dari kami. “Kami pastikan petani hutan ini bisa menyebarkan benihnya lebih jauh”. (LUT)

COP HADIR PADA DISKUSI PUBLIK MONYET EKOR PANJANG DI PAKEM

Aula Kelurahan Purwobinangun, Pakem, Sleman menjadi lokasi digelarnya Dialog Bersama Masyarakat pada Selasa 11 November 2025. Kegiatan ini diadakan sebagai respons meningkatnya laporan gangguan monyet ekor panjang di sekitar Taman Nasional Gunung Merapi, Yogyakarta dan desa penyangganya. Konflik yang hampir terjadi setiap bulan ini dinilai semakin merugikan masyarakat, terutama dari sisi perekonomian.

Empat narasumber dari berbagai lembaga hadir memberikan pandangan lintas perspektif. Lenny Hapsari Dewi dari Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik Kemenhut, Prof. Sena Adi Subrata dari Fakultas Kehutanan UGM, Dr. Heri Wijayanto dari Fakultas Kedokteran Hewan UGM, serta Satria Wardhana dari Centre for Orangutan Protection memaparkan kondisi habitat, perilaku satwa, aspek kesehatan hewan, dan kebutuhan intervensi berbasis kolaborasi. Diskusi berlangsung aktif, terutama saat warga menyampaikan bahwa upaya yang mereka lakukan kerap tidak cukup tanpa dukungan kebijakan yang kuat. Desakan agar pemerintah menindaklanjuti rekomendasi forum pun mengemuka.

Sekitar lima puluh peserta dari berbagai instansi, seperti DLHK DIY, Dinas Kehutanan Kabupaten Sleman dan Magelang, BPBD Sleman, UPTD BPPTPH, Dinas Pariwisata Sleman, serta perangkat desa dan masyarakat sekitar turut hadir. Forum ini menghasilkan kesepahaman bahwa menyelesaikan konflik manusia dan satwa lereng Merapi memerlukan kolaborasi lintas sektor. Semua pihak sepakat bahwa langkah bersama perlu segera diwujudkan agar konflik tidak lagi menjadi kejadian bulanan, melainkan dapat dikelola menuju kondisi yang lebih seimbang antara masyarakat dan alam. (DIT)

DI TENGAH ABU LERENG SEMERU, COP BERGERAK UNTUK SATWA!

Selama dua minggu berada di lereng Gunung Semeru, tim APE Warrior hidup dalam ritme yang ditentukan oleh abu, suara relawan, dan panggilan warga yang menemukan satwa terluka. Setiap langkah membawa jejak debu vulkanik tetapi juga menghadirkan harapan kecil bahwa masih ada nyawa yang bisa diselamatkan. Di Sumbersari, Gumuk Mas, Kamar A, dan Kandang Komunal Huntap, tim bergerak dengan satu keyakinan yang sama, yaitu tidak meninggalkan siapa pun, termasuk satwa yang tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri.

Hari-hari pertama dipenuhi temuan ternak yang sudah tidak diselamatkan. Sterilisasi bangkai menjadi tugas paling berat, bukan hanya jumlahnya tetapi karena setiap hewan pernah menjadi bagian dari kehidupan keluarga yang kini harus merelakan. Setiap bangkai menyimpan kisah kehilangan yang tidak terlihat dan tim belajar menghadapi duka itu dengan ketenangan dan rasa hormat.

Di sela kesedihan, harapan perlahan muncul dari distribusi pakan. Hijauan, konsentrat, dan pakan untuk satwa liar dibawa ke titik-titik yang masih dihuni ternak dan satwa yang bertahan. Ada kambing yang berlari kecil saat mencium aroma hijauan segar, ada kucing yang akhirnya mau makan setelah berhari-hari menggigil ketakutan. Momen kecil seperti ini menjadi pengingat bahwa kehidupan tetap berusaha bertahan meski dikelilingi abu dan ketidakpastian.

Ruang medis lapangan menjadi tempat lain dimana harapan dirawat dengan sungguh-sungguh. Beberapa kambing yang terluka dan sejumlah kucing yang lemah menerima perawatan intensif. Salah satunya adalah seekor kucing yang masih sangat kecil dan hampir tidak bersuara. Ketika matanya akhirnya terbuka dan iii mulai menyusu dengan tenang, seluruh tim merasakan kelegaan yang sulit digambarkan, seolah semangat mereka ikut hidup kembali.

Bagian terakhir dari perjalanan ini adalah proses evakuasi. Puluhan kambing dan beberapa kucing berhasil dibawa keluar dari zona berbahaya satu per satu dengan perjuangan yang tidak ringan. Ketika status tanggap darurat berakhir pada 2 Desember, tim berdiri di bawah langit Semeru dalam keadaan lelah dan berdebu tetapi penuh rasa bangga. Tim pulang dengan keyakinan bahwa di tengah bencana mereka telah membantu menjaga kehidupan yang mungkin tidak terdengar oleh banyak orang namun sangat berarti bagi mereka yang berhasil selamat. (DIT)

MENGENAL ORANGUTAN LEBIH DEKAT BERSAMA SDN 001 TASUK

Pada 9 Desember 2025 dalam rangkaian aksi Green Innovation Week (GROW) dari kelompok Rambu_etam.id dan tim APE Defender melaksanakan kegiatan edukasi orangutan di kantor Centre for Orangutan Protection yang berada di kampung Tasuk, Berau. Kegiatan ini ditujukan untuk siswa kelas 4 SDN 001 Tasuk sebagai upaya menanamkan kepedulian terhadap pelestarian orangutan sejak usia dini. Meski sederhana, edukasi seperti ini menjadi langkah penting dalam membangun generasi yang memahami dan mencintai satwa liar.

Acara dibuka dengan pemaparan materi mengenai orangutan dan peran penting konservasi, dipandu oleh drh. Rengga. Anak-anak mengikuti sesi ini dengan penuh antusias. Mereka aktif bertanya, berdiskusi, bahkan mampu membedakan antara kera dan monyet, pengetahuan dasar yang ternyata masih sering keliru di masyarakat umum.

Setelah penyampaian materi, siswa diajak mengikuti rangkaian aktivitas menarik seperti mewarnai, penanaman pohon, dan berbagai permainan outdoor. Kegiatan ini tidak hanya menyenangkan, tetapi juga membantu mereka memahami konsep konservasi melalui pengalaman langsung. Suasana ceria dan penuh energi tampak sepanjang acara.

Sebagai penutup, diadakan pameran kecil hasil mewarnai para siswa. Tiga karya terbaik dipilih sebagai bentuk apresiasi atas kreativitas dan semangat mereka. Menurut wali kelas yang mendampingi, dari 33 murid hanya dua yang berhalangan hadir, dan seluruh peserta pulang dengan wajah gembira serta pengalaman baru yang bermanfaat.

Tentunya kami berharap edukasi seperti ini dapat terus diperluas, menjangkau lebih banyak sekolah dan kelompok masyarakat. Menjaga kelestarian alam bukan hanya tanggung jawab pelaku konservasi, tetapi tugas bersama yang dimulai dari pengetahuan, kepedulian dan tindakan nyata. (TAT)

SEMERU 2025, HEWAN PUN MENJADI KORBAN YANG TERABAIKAN

Awan panas itu naik seperti gelombang hitam yang tidak punya belas kasihan. Dalam menit-menit yang terasa seperti kamera slow-motion, Pronojiwo berubah dari desa hidup menjadi landskap kelabu tanpa suara. Rumah rubuh, kandang ternak hilang bentuk, dan bau abu bercampur belerang menggantung seperti ancaman. Manusia berlari, beberapa sempat menyelamatkan kambing atau menggenggam kucing kesayangan, tapi tidak semua hewan punya kesempatan yang sama. Banyak yang tertinggal, terjebak, atau kalah cepat dari panas yang datang lebih dulu.

Di tengah kekacauan itu, Rabu malam hampir tengah malam, ponsel saya bergetar. Pesan singkat, “Gabung COP? Kita butuh orang buat asesmen”. Tidak ada waktu untuk mikir panjang. Saya jawab, “Siap” dan tanpa sadar melangkah ke dunia yang tidak pernah saya rencanakan, dunia relawan satwa. Esok paginya saya sudah berada di lapangan bersama dua orang lainnya. Mas Mamat yang memimpin asesmen, serta Imdad sebagai pencatat, dan saya mendokumentasikan apa yang tersisa dari kehidupan yang baru saja disapu bencana.

Hari-hari berikutnya berjalan cepat dan tanpa henti. Pertanyaan orang-orang di lapangan “Hewannya diapakan, Mas?”, seolah tamparan yang membuka mata saya. Selama ini fokus bencana selalu tentang manusia dan bangunan, padahal banyak hewan juga kehilangan rumah, keluarga, bahkan hidup. Hari ketiga, bantuan semangat dari Jogja datang, tanpa banyak bicara mereka bekerja seperti mesin yang sudah dilatih bertahun-tahun. Bersama mereka, kami menyisir desa demi desa, mengevakuasi kambing terjebak, memberi pakan kucing yang bersembunyi di rumah-retak, dan menangani luka bakar pada sapi yang masih mencoba berdiri.

Setiap langkah terasa berat, abu menempel di kulit seperti racun halus, suara letusan kecil dari puncak membuat napas tercekik, dan bau bangkai bercampur panas vulkanik jadi pengingat bahwa kami bukan hanya bekerja, namun kami bertahan. Tapi di tengah semua itu ada momen-momen kecil yang menghantam emosional, pemilik ternak yang menangis melihat sapi yang ia rawat bertahun-tahun harus dikubur, kucing kecil yang tetap mengeong meski seluruh badannya kotor abu, kambing yang masih mencoba mengikuti pemiliknya meski kakinya gemetar. Bencana membuat semuanya telanjang, rasa takut, rasa sayang, rasa kehilangan.

Ketika status tanggap darurat dicabut tanggal 2 Desember 2025, kami tahu pekerjaan di Semeru sementara berhenti. Tapi jejaknya tidak pernah benar-benar hilang. Dua pekan itu seperti membuka lapisan baru dalam hidup saya bahwa bencana tidak hanya meruntuhkan bangunan, tapi juga memaksa kita melihat bahwa semua makhluk, manusia atau bukan, sama-sama ingin bertahan hidup. Relawan mungkin datang dan pergi, tapi pengalaman itu menetap, bahwa empati tidak punya spesies. (Bayu Surahmat_Orangufriends Lumajang)

MEMBELAH ARUS, MENEMBUS BATAS: PERJUANGAN LOGISTIK MENCAPAI SRA

Perjalanan kemanusiaan menuju Sumatran Rescue Orangutan (SRA) ini berubah menjadi ujian ketahanan fisik dan mental sejak dimulai pada 27 November 2025. Selama dua hari berturut- turut niat kami mengantar logistik dipatahkan oleh alam dengan banjir setinggi dada di Besitang dan longsor di Tol Tanjung Pura yang memutus akses total. Upaya menembus malam hingga pukul dua dini hari pada hari Jumat pun berakhir nihil, memaksa kami mundur ke Binjai dengan perasaan cemas, mengingat stok pakan bagi satwa-satwa di dalam SRA telah habis dan mereka terancam kelaparan dalam isolasi.

Sabtu, 29 November, menjadi hari penentuan bagi kami. Di Tol Tanjung Pura Kilometer 53, genangan air masih setinggi dada orang dewasa dengan arus deras yang sebelumnya telah membuat banyak kendaraan mogok dan terseret. Di tengah tekanan urgensi logistik, kami mengambil risiko besar dengan mengekor rapat di belakang sebuah truk Pertamina. Kami membiarkan truk itu memecah ombak banjir menjadi perisai bagi mobil kami untuk merayap perlahan menembus blokade air hingga akhirnya roda kendaraan menyentuh aspal kering di sisi seberang.

Rasa lega tak terlukiskan menyelimuti tim saat akhirnya tiba di SRA dengan selamat. Misi krusial untuk mendistribusikan logistik darurat, termasuk bantuan tambahan dari OIC dan COP, akhirnya tuntas, memastikan kebutuhan bagi operasional SRA dan satwa kembali aman. Setelah tugas selesai, saya bersama Tim APE Sentinel kembali ke Medan membawa pulang kelelahan yang terbayar lunas. Perjalanan ini menjadi pengingat keras bahwa garda depan konservasi seringkali menuntut keberanian untuk bertaruh nyawa demi memastikan makhluk hidup yang kita jaga tidak terlupakan di tengah bencana.(Ndaru_Orangufriends)

SAAT KABEL DAN TIANG MENJADI HARAPAN BARU BAGI SATWA LIAR

Di tengah hamparan hutan Kalimantan yang terbelah oleh Jalan Nasional Poros Kelay, lahirlah sebuah misi besar yaitu untuk mengembalikan konektivitas habitat agar satwa liar terutama orangutan, dapat bergerak dengan aman. Selama hampir empat tahun, BKSDA Kalimantan Timur bersama COP (Centre for Orangutan Protection) bekerja merancang sebuah jembatan koridor satwa, sebuah upaya penting untuk menjawab tantangan konservasi di wilayah yang menjadi jalur pergerakan satwa.

Proses menuju pembangunan jembatan dimulai dengan pengambilan data koordinat dan dokumentasi udara pada awal tahun 2022. Tahap demi tahap dijalani, kajian teknis, koordinasi lintas instansi hingga administrasi yang memakan waktu panjang. Rekomendasi pembangunan akhirnya diterbitkan pada pertengahan tahun 2025, membuka jalan bagi pelaksanaan konstruksi yang kemudian dapat diwujudkan pada 29 November 2025.

Pengerjaan jembatan dipantau oleh perwakilan BKSDA Kaltim dan staf lapangan COP dengan dukungan aparat setempat untuk memastikan proses pemasangan berlangsung aman. Meski waktu pemasangan di lapangan relatif singkat, medan terjal, jurang yang curam, serta bukaan lahan warga menjadi tantangan teknis yang harus diselaraskan sejak persiapan awal hingga hari pengerjaan.

Catatan kegiatan di tahun-tahun sebelumnya menunjukkan bahwa jembatan ini sangat dibutuhkan. Jalan poros Kelay kerap menjadi lokasi kemunculan orangutan dan satwa liar lainnya, karena dua blok hutan besar, yaitu Hutan Lindung Sungai Lesan dan Hutan Lindung Wehea, yang terpisah oleh jalur kendaraan yang padat. Jembatan ini diharapkan menjadi solusi aman agar satwa dapat menyeberang tanpa risiko konflik dengan manusia.

Kini, jembatan koridor satwa telah berdiri kokoh menghubungkan kembali bentang hutan yang sebelumnya terpisah. Langkah selanjutnya adalah pemasangan kamera trap untuk memantau penggunaan jembatan serta pemasangan rambu himbauan sesuai arahan BKSDA Kaltim. Terima kasih semua pihak yang terlibat dalam perjalanan panjang ini, hingga jembatan penghubung kehidupan ini akhirnya menjadi kenyataan. (FER)

DONASI UNTUK ORANGUTAN SRA DI KITABISA YUK

Saat ini ada 6 Orangutan Sumatra dan 1 Orangutan Tapanuli yang sedang berada di Sumatran Rescue Alliance, suatu pusat rehabilitasi orangutan di desa Bukit Mas, kecamatan Besitang, kabupaten Langkat, Sumatra Utara. Badai Senyar menghantam pulau Sumatra bagian Utara yang melumpuhkan tiga provinsi yaitu Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Lokasi SRA yang berada di antara Aceh dan Sumut ini terkena banjir dan longsor yang merusak infrastruktur di SRA.

Ada enclosure orangutan Robert termasuk kandang tidur dan pagar listrik mengalami kerusakan. Selain pohon-pohon tumbang yang menimpa, lumpur juga membenamkan kandangnya. Untung saja tim SRA dengan sigap memindahkan Robert di waktu yang tepat. Robert terlihat kaget dan meringkuk di hammock setelah pemindahan dadakan tersebut.

Kodisi kabupaten Langkat yang terkena banjir membuat jalur darat terputus, bahkan selama tiga hari, akses jalan utama Medan ke Besitang terputus. Suatu kondisi yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Listrik yang padam semakin memperburuk keadaan. Logistik tim maupun pakan satwa hanya bisa untuk esok hari.

Centre for Orangutan Protection meminta bantuan untuk SRA lewat galang dana di KITABISA.COM perbaikan besar untuk Robert dan beberapa fasilitas SRA yang masih dalam pendataan akan segera disampaikan. Terima kasih orang baik.

AIR MATA TERNAK DAN CERITA PARA RELAWAN

Gunung Semeru batuk keras pada 19 November 2025, mengirimkan kolom abu hitam yang membuat langit seperti sedang menahan amarah. Saat banyak orang memilih mengunci pintu sambil berdoa, saya justru menerima pesan singkat dari seseorang yang suaranya seperti selalu muncul ketika bencana memanggil, Mbah Monyok. Hanya satu instruksi, “Turun ke Penanggal”. Tidak ada konteks, tidak ada waktu untuk ragu. Saya tidak tahu bahwa perintah malam itu akan membawa saya memasuki hari-hari dimana hidup dan mati hanya dibedakan oleh lapisan debu tipis.

Besok paginya, di bawah semburat abu yang masih turun, kami memulai tugas utama, mencari bangkai. Sapi, kambing, ayam, anjing, kucing semuanya tersebar di kamar A, Gumukmas, Sumbersari. Tugas kami bukan sekadar menemukan, tetapi memastikan mereka tidak menjadi sumber penyakit di tengah pengungsian. Di antara kandang yang runtuh dan bau hangus yang menusuk, saya belajar memandang tubuh-tubuh itu bukan sebagai bangkai, tapi sebagai korban yang sama sekali tidak pernah diberi peluang menyelamatkan diri. Yang paling membuat dada sesak adalah permintaan seorang anak kecil, Putri yang ingin kambing kesayangannya dikuburkan, bukan dibakar. Bagi dia, itu bukan aturan medis, itu penghormatan terakhir.

Ketika tim COP dari Jogja tiba, ritme kerja berubah drastis. Mereka datang membawa ketenangan, APD lengkap, dan langkah-langkah yang selalu terukur. Bersama mereka kami melakukan prosedur sterilisasi, mengumpulkan bangkai, membuat lubang kubur, atau membakarnya hingga tuntas agar tidak ada bakteri, virus, atau parasit yang lolos di balik abu Semeru. Di tengah kobaran api yang memakan habis tubuh-tubuh itu, saya melihat betapa pentingnya ilmu di balik tindakan yang secara emosional begitu berat. Mereka mengajarkan saya bahwa merawat satwa juga berarti memahami risiko penyakit yang bisa menghantam manusia dan ternak yang masih hidup.

Beberapa hari kemudian, tim dari Kalimantan datang, membawa filosofi COP yang lebih luas. Dari mereka saya mendengar soal ekologi, rantai penyakit, dan bagaimana satu bangkai yang tidak ditangani bisa berdampak pada kesehatan satu desa. Saat kami menyusuri ladang yang sepi, mencari sisa-sisa tubuh yang tersembunyi di balik tumpukan abu, saya menyadari bahwa pekerjaan ini bukan sekedar “membersihkan”. Ini bagian dari menjaga keseimbangan bahkan wujud pekerjaannya adalah memikul, mengubur, dan membakar mereka yang tak lagi bernapas.

Pada akhirnya, Semeru tidak hanya memuntahkan lava dan abu, tapi ia membuka mata saya terhadap sisi bencana yang jarang disorot kamera. Bahwa mencari bangkai satwa dan membakarnya bukanlah pekerjaan yang dingin, itu bentuk paling sunyi dari kemanusiaan. Semeru menjadi guru yang keras, mengajarkan bahwa memuliakan kehidupan kadang berarti menghadapi kematian secara langsung. Kalau nanti ada rezeki, saya ingin ikut COP School. Bukan lagi sebagai “Agen Dosa”, tapi sebagai seseorang yang paham bahwa menjaga satwa bukan hanya menyelamatkan yang hidup, tetapi juga bertanggung jawab pada yang sudah tiada. (Imdad Ervianto_Orangufriends Lumajang)