LAGI, JERAT MEMBUAT BERUANG MADU MENJADI KORBAN

Perkebunan memang bukan menjadi tempat paling aman bagi satwa liar, terutama ancaman justru sering datang dari benda sederhana yang dipasang manusia di dalam kebun yaitu jerat kawat. Alat yang awalnya banyak digunakan untuk menangkap satwa buruan atau hama, terus memakan korban tanpa pandang bulu. Harimau, rusa, hingga beruang madu sama-sama berisiko terjebak dan mengalami luka serius bahkan kematian.

Peristiwa ini kembali terjadi. Lokasi kejadian berada di Sungai Pandahan, Nagari Sundata Selatan, KecamatanLubuk Sikaping, Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat. Pada Jumat, 10 Juli 2026, APE Protector bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat menindaklanjuti laporan masyarakat mengenai beruang madu yang diduga terjerat.

Setibanya di lokasi, tim tidak lagi menemukan beruang tersebut. Yang tersisa hanyalah bekas tiang tempat jerat dipasang. Menurut keterangan warga sekitar, beruang tersebut masih berada di lokasi pukul 09.00 WIB. Namun beberapa jam kemudian satwa berhasil melepaskan diri. Sayangnya, jerat kawat masih melilit salah satu kakinya.

Banyak orang mengira, satwa yang berhasil lolos berarti telah selamat. Kenyataannya tidak demikian. Jerat yang masih menempel dapat terus melukai tubuh satwa setiap kali bergerak. Luka akan semakin dalam, aliran darah terganggu, infeksi muncul, hingga berpotensi menyebabkan kematian apabila tidak segera mendapatkan pertolongan.

Menyadari risiko tersebut, tim langsung melakukan penyisiran dis kitar lokasi untuk mencari keberadaan beruang. Upaya penghalauan menggunakan petasan juga dilakukan guna mengarahkan satwa menjauh dari pemukiman sekaligus mengurangi potensi konflik dengan masyarakat. Warga sekitar diimbau untuk tetap berhati-hati saat beraktivitas di kebun dan segera melaporkan apabila kembali melihat keberadaan beruang.

Kasus ini menjadi kasus yang sering terjadi hingga tahun 2026, perlu diperhatikan mengingat bahwa jerat bukan hanya mengancam satwa target, tetapi seluruh satwa liar yang melintas di habitatnya. Beruang madu merupakan satwa yang gemar menjelajah hutan untuk mencari buah, serangga, madu, dan berbagai sumber pakan lainnya. Jalur jelajah tersebut sering kali tanpa sengaja melewati pemasangan jerat.

Selain menyebabkan penderitaan bagi satwa, keberadaan jerat juga menghambat upaya konservasi. Beruang madu memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan, mulai dari membantu penyebaran biji hingga mengendalikan populasi serangga. Hilangnya satu individu akibat jerat berarti hilangnya salah satu penjaga keseimbangan alam.

Kasus di Pasaman hanyalah satu dari sekian banyak kejadian serupa yang masih terjadi dei berbagai wilayah Indonesia. Oleh karena itu, dukungan masyarakat menjadi bagian penting dalam perlindungan satwa liar. Melaporkan keberadaan jerat, tidak memasang perangkap di habitat satwa, serta segera menghubungi petugas ketika menemukan satwa yang terluka merupakan langkah sederhana yang dapat menyelamatkan nyawa.

Selama jerat masih dipasang di hutan, ancaman terhadap satwa liar akan terus ada. Beruang madu hanyalah salah satu korban. Besok, bisa jadi satwa lain yang mengalaminya. Melindungi hutan berarti juga memastikan tidak ada lagi perangkap yang menunggu mangsa berikutnya. (RON)

MENYUSURI JEJAK INDUK ORANGUTAN DI HUTAN KINABATANGAN

Matahari sudah keluar dari peristirahatannya dan capanya telah masuk hingga menyentuh lantai hutan. Pagi itu cuaca cerah berawan. Tim kami menapaki hutan Kinabatangan untuk mencari orangutan liar. Hutannya sangat lembap. Sepatu boots kami beberapa kali melangkah di genangan air dan anak sungai. Hutan Kinabatangan terletak di wilayah Desa Sukau, Sabah, Malaysia. Tipe hutannya “freshwater swamp forest” karena berada di tepi Sungai Kinabatangan yang sangat lebar. Jika datang musim hujan atau cuaca ekstrem, air sungai akan meluap dan membuat hutan ini terendam air, menjadikannya rawa-rawa.

Sekitar pukul 9 pagi kami akhirnya menemukan orangutan. Ia duduk tidak bergerak di atas pohon dan sepertinya waspada dengan kehadiran manusia. Saya hanya bisa melihat sebagian punggungnya saja. Setelah beberapa menit, ia akhirnya berayun untuk makan. Saat itulah saya melihat tubuhnya secara utuh. Betina dewasa, rambutnya coklat gelap dan agak kusut, wajahnya tirus, berukuran sebesar Jenong (salah satu orangutan yang pernah kami rawat di BORA). Ada tangan kecil yang terlihat di bagian pinggang orangutan itu. Ternyata ia memiliki bayi. Tim Orangutan Research (OURs) dari LSM HUTAN memberi tahu kami bahwa induk orangutan ini bernama Mallotus dan bayinya bernama Muticus. Nama ini diambil dari spesies pohon Mallotus muticus. Mallotus dulu lahir di pohon tersebut dari induk yang bernama Jenny. Sedangkan Muticus lahir di tahun 2021 dan saat ini berusia 5 tahun. LSM HUTAN telah meneliti orangutan liar di Kinabatangan sejak tahun 1998. Saat ini sudah 3 generasi orangutan yang mereka monitoring. Orangutan Jenny diikuti dari tahun 1998 sampai dengan kematiannya di tahun 2020. Jenny memiliki 4 anak, salah satunya Mallotus yang lahir di tahun 2005. Muticus merupakan anak kedua dari Mallotus dan cucu dari Jenny. 

Kami mengikuti dan mencatat perilaku Mallotus dan bayinya selama satu hari. Pasca musim hujan, di dalam hutan sedang memasuki musim buah sehingga perilaku Mallotus didominasi oleh makan. Pergerakan selama satu hari tidak banyak. Jelajah orangutan betina memang relatif lebih pendek dan sempit dibanding orangutan jantan. Ini pertama kalinya saya melakukan monitoring orangutan liar yang memiliki bayi. Saya melihat bagaimana Mallotus membiarkan Muticus bereksplorasi sendiri, tapi tetap menjemput Muticus ketika ia bermain terlalu jauh. Ukuran tubuh orangutan di Kinabatangan lebih kecil dibandingkan orangutan liar yang kami jumpai di Kalimantan Timur. Sarang-sarang orangutan yang kami temui di sini juga berukuran relatif kecil. Hal ini kemungkinan karena kelimpahan pakan di hutan rawa Kinabatangan tidak sebanyak pakan di hutan dataran rendah di Kalimantan Timur. Ada satu momen berkesan ketika hujan deras turun di sore hari. Mallotus memetik dedaunan dan dijadikan payung di atas kepalanya. Perilaku ini menunjukkan orangutan memiliki kemampuan berpikir (kognitif) dan problem solving yang baik.

Kunjungan belajar (study trip) di Kinabatangan ini mengajarkan saya akan konsistensi dan kolaborasi. Sebuah stasiun riset dapat bertahan dalam waktu panjang karena bekerja sama dengan warga lokal yang sangat loyal. Mayoritas staf LSM HUTAN merupakan penduduk asli Desa Sukau. Beberapa staf senior sudah bekerja di HUTAN selama 15-20 tahun. Hutan Kinabatangan tidak hanya menjadi stasiun riset, tapi juga membawa keuntungan bagi warganya lewat ekowisata yang sudah terkenal hingga mancanegara. Dari kunjungan ini saya jadi tertantang untuk merancang manajemen pengelolaan hutan dan program riset orangutan di lokasi kerja COP antara lain di Busang, PT Hope, dan Siranggas. (IND)

KETIKA JAINUL MENGAJARKAN ARTI MENJADI ORANGUTAN

Menjadi seorang animal keeper di pusat rehabilitasi orangutan bukanlah pekerjaan yang selalu dipenuhi momen manis bersama satwa yang menggemaskan. Di balik tingkah lucu dan ekspresi yang sering membuat orang tersenyum, ada proses panjang yang harus dilalui individual orangutan untuk kembali menjadi dirinya sendiri, yaitu satwa liar yang mandiri dan mampu bertahan hidup di hutan.

Sekolah hutan adalah salah satu proses itu, saya saksikan setiap hari. Di tempat inilah para orangutan belajar berbagai keterampilan yang akan mereka butuhkan di alam. Mereka belajar memanjat, mencari pakan, mengenali lingkungannya, hingga berinteraksi dengan sesama orangutan.

Interaksi tersebut tidak selalu berjalan tenang. Seringkali mereka bermain dengan cara yang bagi manusia terlihat kasar. Menjambak, menggigit, mencengkam, dan salting kejar adalah pemandangan yang lumrah terjadi. Namun di balik perilaku itu, terdapat proses belajar yang sangat penting. Mereka sedang mengasah kemampuan sosial, mengenali batasan, dan membangun karakter yang kelak membantu mereka bertahan hidup di alam liar.

Di antara banyak orangutan yang saya dampingi, ada satu individual yang cukup berkesan yaitu Jainul. Jainul adalah orangutan jantan remaja dengan energi yang seolah tidak pernah habis. Ia memiliki rasa percaya diri yang tinggi dans ering menunjukkan perilaku dominan terhadap lingkungan sekitarnya. Tidak jarang saya menjadi sasaran keisengannya. Serangan kecil, gigitan, tarikan tangan, hingga upaya mencengkeram merupakan hal yang cukup sering saya alami saat mendampinginya.

Tentu saja, sebagai manusia, ada kalanya saya merasa resah. Tidak nyaman ketika harus selalu waspada terhadap tingkah Jainul yang sulit ditebak. Ada hari-hari ketika saya pulang dengan lengan penuh bekas cakaran atau kaki penuh bekas gigitan dan tubuh yang lelah karena harus menghindari ulahnya.

Namun seiring waktu, saya mulai melihat perilaku Jainul dari sudut pandang yang berbeda.

Apa yang ditunjukkannya bukanlah kebencian ataupun kenakalan semata. Sebagai orangutan jantan yang sedang berankaj dewasa, Jainul sedang menunjukkan sifat-sifat alami yang memang seharusnya dimiliki orangutan liar. Ia belajar menjadi individu yang kuat, berani, dan mampu mempertahankan dirinya. Sikap agresif yang kadang membuat saya kewalahan justru menjadi tanda bahwa insting liarnya masih ada. Dan bukankah itu tujuan utama rehabilitasi?

Kami tidak sedang membesarkan hewan peliharaan yang jinak terhadap manusia. Kami sedang mempersiapkan satwa liar agar suatu hari nanti mereka tidak lagi bergantung pada manusia. Karena itulah, setiap kali Jainul mencoba menguji kesabaran saya, ada perasaan yang bertolak belakang dalam diri saya. Di satu sisi, saya merasa was-was dan lelah menghadapi agresivitasnya. Namun di sisi lain, saya merasa senang. Senang karena melihat orangutan yang masih memiliki karakter alaminya. Senang karena ia menunjukkan perkembangan yang dibutuhkan untuk hidup bebas di hutan.

Jainul mengingatkan saya bahwa keberhasilan rehabilitasi tidak selalu terlihat dalam bentuk orangutan yang patuh atau mudah diatur. Namun keberhasilan justru terlihat dari individu yang berani, mandiri, dan cukup “merepotkan” bagi keeper-nya.

Mungkin suatu hari nanti Jainul akan hidup di hutan yang sesungguhnya, jauh dari pagar kandang dan pengawasan manusia. Ketika hari itu tiba, bekas gigitan, cakaran, dan semua keresahan yang pernah saya rasakan akan menjadi bagian kecil dari sebuah cerita yang lebih besar yaitu cerita tentang individu yang berhasil kembali menjadi orangutan sepenuhnya. Dan bagi saya, seorang animal keeper, tidak ada hadiah yang lebih berharga daripada itu. (BOW)

PESAN NOVI UNTUK ORANGUTAN FELIX

Selama tiga bulan ini, aku melihat banyak sekali perubahan dari Felix. Waktu awal aku masuk menjadi tim babysitter, Felix terlihat takut untuk mendekat kepadaku. Aku tahu aku adalah orang baru yang ia lihat, karena itu ia terlihat takut untuk mendekat kepadaku. Seiring berjalannya waktu, Felix mulai percaya kepadaku. Selain itu, ketika takut, biasanya Felix akan pipis. Meskipun hanya melihat keeper laki-laki saja, ia juga akan takut hingga pipis. Ketika di sekolah hutan pun, Felix masih sulit untuk sekadar lepas dari gendongan babysitter. Bahkan ketika sudah berhasil lepas, Felix akan menangis tantrum, ia akan berjalan mengikuti babysitter. Jika sudah bisa meraih babysitter, ia akan memeluk kaki babysitter, setelah itu barulah ia akan diam.

Selama sekolah hutan berjalan, Felix hanya bisa duduk dan memeluk kaki babysitter saja. Terkadang kita akan membiarkan Felix menangis ketika ia tidak ingin dilepaskan dari gendongan. Bukan karena tidak sayang, tujuan rehabilitasi adalah memperbaiki mereka menjadi orangutan liar, bukan orangutan jinak yang nurut kepada manusia.

Dari situ, Felix mau tidak mau membiasakan dirinya menjauh dari babysitter. Awal-awal Felix ketika baru mau memanjat pohon, ia sering sekali mengamati babysitter dari atas. Ketika turun pun, Felix akan menangis karena ia tidak tahu caranya turun dari pohon. Felix bisa turun karena diarahkan oleh babysitter.

Ketika tiga bulan terakhir ini, Felix yang cengeng, yang suka menempel macam perangko susah lepas, Felix yang penakut itu, di pandanganku hilang. Aku melihatnya yang sekarang, Felix keren, si hebat yang mulai menjelajah jauh mengikuti sahabatnya yaitu Pansy. Dari Pansy juga, Felix banyak belajar dan tidak takut lagi ketika babysitter jauh dari pandangannya. Tak hanya sampai di situ, Felix pun berani menjelajah sendiri tanpa sosok Pansy.

Felix yang aktivitas dominannya mengikuti kemana perginya Pansy juga memperhatikan Pansy yang sudah pandai membuat sarang. Dan dalam tiga bulan terakhir ini pun, Felix sudah bisa membuat sarang walaupun belum sempurna seperti orangutan lainnya, tapi itu suatu kemajuan yang sangat kita nantikan dari Felix. Ia juga terlihat beberapa kali memperbaiki atau membenahi sarang lama bekas orangutan lain. Felix juga sering terlihat membuat sarang bersama Pansy.

Sampai saat ini, Felix masih terlihat takut kepada keeper laki-laki, walau keeper tertentu saja dan tidak pipis ketika takut. Keberanian menjelajah sendirinya juga diikuti keberaniannya melawan seperti mencoba memukul keeper atau membuka mulutnya seperti gestur ingin menggigit. Perkembangan Felix yang sangat bagus karena sewajarnya lah, orangutan menghindari manusia.

Harapanku kepada Felix, tetap jadi Felix yang sekarang. Aku yakin Felix bisa jauh lebih baik lagi. Aku tahu kamu (Felix) banyak melewati traumamu, dan yaps… terima kasih Felix sudah bertahan dan mau belajar meniru orangutan lainnya. Kalau bukan dari kemauan kamu untuk berubah, siapa lagi yang dapat mengubah dirimu sendiri. Semangat terus Felix.

Dari aku, Novi, untukmu Felix. (NOV)

PERJALANAN PULANG ORANGUTAN KE RUMAH BARU

“Beep… beep… beep…”

Suara pemindai microchip memecah keheningan. Sebuah microchip yang baru saja ditanamkan di bawah kulit punggung kiri orangutan berhasil terdeteksi. Bunyi sederhana itu menjadi penanda bahwa seluruh rangkaian pemeriksaan kesehatan telah selesai. Orangutan kini siap melanjutkan perjalanan yang paling penting yaitu pulang.

Beberapa hari sebelumnya, semua belum semudah ini. Tim harus menyusuri hutan yang terfragmentasi, memantau pergerakan, mengejar dengan penuh kehati-hatian, dan menghalau orangutan dari area yang tidak lagi aman bagi kehidupan mereka. Kesabaran, tenaga, dan kerja sama menjadi kunci hingga akhirnya satu per satu orangutan berhasil diamankan. Bukan untuk dipisahkan dari alam, tetapi justru agar mereka bisa kembali memiliki kesempatan hidup di habitat yang lebih baik.

Namun proses penyelamatan hanyalah awal dari sebuah perjalanan panjang. Kandang transport mulai bergerak meninggalkan lokasi rescue. Roda kendaraan berputar melewati jalan-jalan berdebu di Bengalon, menembus teriknya matahari di Wahau, menghadapi medan menantang menuju Busang. Perjalanan darat kemudian berganti menjadi perjalanan menyusuri sungai. Perahu perlahan membelah arus yang mengalir tenang, membawa harapan menuju tujuan akhir yaitu Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat.

Rasa lelah selama perjalanan seakan menghilang ketika hutan mulai menyambut kedatangan kami. Pepohonan menjulang tinggi membentuk kanopi hijau yang rapat. Angin menggerakkan dahan dan dedaunan, menghadirkan suara alam yang menenangkan. Gemericik sungai berpadu dengan kicauan satwa liar, seolah menyampaikan bahwa rumah itu masih ada, masih menunggu penghuninya kembali.

Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat kini menjadi rumah baru bagi Gusti, individu orangutan yang berhasil diselamatkan melalui kerja sama APE Crusader, BKSDA SKW II Tenggarong, serta dukungan masyarakat setempat yang memilih untuk menjaga kehidupan liar dibanding membiarkannya terus terancam.

Momen yang paling dinanti akhirnya tiba.

“Greek… Greek…”

Suara pintu kandang perlahan terangkat. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada sorak-sorai. Yang terdengar hanyalah suara hutan. Gusti melangkah perlahan keluar kandang. Sesaat ia berhenti, mengamati sekeliling, menghirup aroma hutan yang telah lama menjadi bagian dari hidupnya. Tanpa ragu, kedua tangannya meraih batang pohon pertama, lalu tubuhnya bergerak lincah memanjat semakin tinggi. Dalam beberapa detik, Gusti telah menyatu dengan rimbanya kanopi, menghilang di antara dedaunan yang bergoyang tertiup angin. Momen itu menjadi pengingat bahwa kebebasan adalah tempat terbaik bagi satwa liar. Setiap penyelamatan bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan awal kehidupan baru kesempatan kedua bagi Gusti untuk kembali menjalani hidup sebagaimana orangutan seharusnya, bebas di rumahnya sendiri.

Semoga setiap langkah, setiap ayunan tangan di antara pepohonan, dan setiap hari yang orangutan jalanin di Hutan Lindung menjadi awal dari kehidupan yang lebih aman, lebih liar, dan lebih bebas sebagaimana seharusnya orangutan hidup. (TAL)

BAGAIMANA SATWA KETIKA BANJIR MENYAPA

Bencana datang. Manusia kelimpungan. Namun, bagaimana dengan hewan, bagaimana dengan satwa? Apa yang akan kita lakukan ketika banjir menerjang tanpa aba-aba, ketika langit mendung tak terkira, ketika semua air tumpah di hadapan kita? Pada Pameran Foto “Menolong Satwa Banjir Sumatera” yang ditaja Centre for Orangutan Protection inilah jejak-jejak itu dihadirkan bukan sekadar menjadi visual, bukan sekadar menjadi gambar, bukan sekadar dijepret kamera lalu mata kita menikmatinya. Bukan. Foto-foto di sini akan “menceritakan” lewat perasaan dan perjuangan yang dikonkretkan dengan tindakan “pencarian”.
Pada foto jejak kaki salah satu satwa, kita melihat bahwa “ada yang lewat” di situ, ada yang pernah tinggal, dan ada yang pernah menetap. Dalam foto ini, jejak kaki berfungsi sebagai “tanda” bahwa suatu daerah pernah dilewati sekaligus ditinggali oleh manusia dan satwa. Tak hanya itu, jejak kaki juga menjadi metafora kehilangan, ketakutan, atau perjalanan tanpa ujung bahwa ada yang pergi dari suatu daerah dan entah akan kembali atau tidak. Maka dari itu, suatu daerah menjadi sangat penting bagi satwa karena mereka tinggal berdampingan dengan kita, manusia.
Itu dibuktikan dengan foto satwa sendirian dengan gestur seperti sedang mencari sesuatu. Foto ini juga menarik karena teknik pengambilan sengaja untuk menimbulkan efek tertentu, dengan kain penutup di sebelah kiri dan satwa di sebelah kanan. Apa yang dicari satwa itu kira-kira? Apakah makanan? Ketika bencana datang, manusia kelimpungan mencari pangan, pun satwa begitu. Dari foto salah satu relawan memberi makan satwa, kita melihat itu, bahwa akses dan kesempatan untuk mendapatkan pangan yang layak juga “dimiliki” oleh para satwa. Di tengah kekacauan yang terjadi pohon tumbang, sampah di mana-mana, bangunan runtuh, seng saling menimpa satu sama lain tindakan dalam pameran foto ini, gestur yang ditimbulkan pameran foto ini, menyiratkan satu hal yang penting yaitu empati. Bahwa kita juga merasakan sesuatu yang sama, kita terkena dampak yang sama. Karena itulah kita saling memberikan bantuan.
Bantuan untuk saling menemukan, seperti yang ada pada foto kucing putih nangkring di jendela sebuah rumah panjang, dengan parabola. Foto ini menampilkan rumah sebagai “arsip” sekaligus ingatan kolektif. Bahwa rumah bukan sekadar tempat tinggal dan kucing bukan cuma peliharaan, namun lebih dari itu: rumah sebagai peninggalan, lahirnya kebudayaan dalam keluarga, dan sekolah pertama bagi anak-anak. Kucing putih yang nangkring dengan santai juga menjadi sesuatu yang menarik karena “putih” badannya di antara kehancuran yang terjadi di sekitarnya yang diwakili warna “cokelat” atau warna tanah.
Tanah tempat kita bernaung, berkomunikasi, dan berdoa. Berdoa agar semua benda-benda yang berserakan sekaligus bertumpuk lekas dibereskan. Di tengah kekacauan itu, foto satwa yang sedang berada di tumpukan benda-benda dan masuk ke dalam “bayangan” yang tercipta. Foto ini menyiratkan sesuatu yang kadang tak kita lihat, bahwa yang satwa ingin mengatakan, “kami di sini bersama kalian”. Agaknya teknik pengambilan foto ingin mengatakan hal tersebut. Terlebih, satwa menjadi “focal point” foto ini. Begitu juga yang diceritakan dari foto satwa yang telah mati (menjadi bangkai?) dengan sepatu boot dan sisa satwa tersebut, kita bisa melihat bahwa bencana menimbulkan korban yang bukan hanya manusia, namun juga satwa. Dalam foto ini kita melihat tanah dan daun-daun. Selain ingin memberitahu sesuatu, foto ini juga menampilkan gestur apa adanya: bahwa yang terjadi pada tanah (bencana) akan kembali ke tanah (terkubur).
Begitu juga foto satwa yang sedang tertidur pulas. Foto ini menimbulkan efek keterasingan, kekalahan, sekaligus kerinduan terhadap rumah, terhadap tuannya, terhadap apa-apa yang biasa dijalani satwa: bermain ke sana kemari bersama manusia, bercengkerama bersama kita.
Satwa apa pun itu: anjing, kambing, kucing, ayam… mereka semua adalah saudara kita. Mereka mendapatkan akses sekaligus kesempatan yang sama untuk “terus hidup” dan berdampingan dengan manusia, dengan kita: makhluk yang penuh dengan logika, pemikiran, dan empati. (Titan Sadewo_Orangufriend Medan)

KESABARAN MENCARI GUSTI MENGANTARKAN ORANGUTAN KEMBALI KE RUMAHNYA

Seorang pekerja perkebunan ditemukan mengalami luka serius pada kaki dan tangan setelah berhadapan dengan orangutan yang tiba-tiba muncul dari kawasan konservasi perusahaan. Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa ketika ruang hidup manusia dan satwa liar semakin berdekatan, potensi konflik pun tak dapat dihindari. BKSDA SKW II Tenggarong bersama manajemen perkebunan dan tim APE Crusader COP pun menyusuri kawasan hutan yang terfragmen itu dengan langkah terbaik yang mengutamakan keselamatan masyarakat sekaligus memastikan orangutan memperolah penanganan yang tepat sesuai prinsip konservasi.

Tim gabungan ini berjalan menembus semak yang rapat, melintasi jalur berlumpur, hingga memasuki bagian hutan yang jarang tersentuh aktivitas manusia. Setiap sudut hutan diperiksa dengan seksama. Sarang-sarang orangutan ditemukan di atas pepohonan, begitu pula sisa pakan yang menandakan keberadaan mereka. Namun sosok yang dicari seakan menghilang begitu saja. Hutan yang luas membuat pencarian menjadi tidak mudah. Hari demi hari berlalu, jalur licin, udara lembab, dan medan yang berat perlahan menguras tenaga. Langkah kaki semakin berat, pakaian basah oleh keringat, sementara harapan sempat menurun karena belum ada tanda pasti keberatan orangutan tersebut. Meski begitu, tak satu pun anggota tim menyerah.

Di antara rapatnya pepohonan, sosok orangutan itu akhirnya terlihat. Suasana yang semula dipenuhi kelelahan berubah menjadi penuh kewaspadaan. Tidak ada teriakan atau tindakan tergesa-gesa. Seluruh tim bekerja dengan tenang, saling berkoordinasi, dan memastikan setiap langkah dilakukan secara aman. Gusti, begitu orangutan itu disebut akhirnya diselamatkan. Pemeriksaan kesehatan fisik menyatakan cukup baik untuk translokasi ke kawasan Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kecamatan Busang yang memiliki tutupan hutan alami dan menjadi habitat orangutan rehabilitasi maupun liar.

Perjalanan Gusti menjadi bukti bahwa penyelamatan satwa liar bukanlah pekerjaan yang selesai dalam hitungan jam. Di balik satu individu orangutan yang kembali ke hutan, ada kerja keras banyak orang, perjalanan panjang, koordinasi lintas lembaga serta semangat yang tidak pernah [padam meski berkali-kali dihadapkan pada kegagalan.

Kini, Gusti telah memulai lembaran baru di rumahnya yang baru. Semoga setiap ayunan tangannya di antara pepohonan menjadi pengingat bahwa setiap satwa liar berhak memiliki kesempatan kedua untuk hidup bebas. Karena pada akhirnya, keberhasilan konservasi bukan hanya tentang menyelamat orangutan, tetapi juga menjaga keseimbangan antara manusia dan alam agar keduanya dapat terus hidup berdampingan. (APE Crusader)

WARISAN YANG IKUT PULANG KE HUTAN

Tidak semua bekal yang dibawa orangutan saat kembali ke alam dapat dilihat dengan mata. Orang mungkin hanya melihat pintu kandang yang dibuka, langkah pertama menuju tajuk hutan, lalu tubuh yang perlahan menghilang di balik rimbunnya pepohonan. Yang tidak terlihat adalah seluruh perjalanan yang telah membentuk mereka hingga hari itu tiba.

Setelah bertahun-tahun menjalani rehabilitasi, orangutan Ruby, Bagus, dan Eboni akhirnya kembali ke habitat alaminya di Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kalimantan Timur. Kepulangan mereka menjadi tujuan dari proses panjang yang melibatkan penyelamatan, pemulihan kesehatan, pembelajaran perilaku alami, hingga serangkaian penilaian untuk memastikan mereka benar-benar siap hidup mandiri. Kini, hutan kembali menjadi tempat mereka menjalani kehidupan sebagaimana orangutan liar seharusnya.

Banyak orang mengenal rehabilitasi sebagai tempat orangutan belajar bertahan hidup. Mereka belajar memilih pakan alami, mengenali pohon yang aman untuk berpindah, membangun sarang setiap senja, serta membaca dinamika hutan. Semua itu memang menjadi bekal utama sebelum pelepasliaran. Namun, ada pelajaran lain yang sering luput dari perhatian.

Di alam liar, anak orangutan menghabiskan hampir seluruh masa kecilnya bersama induknya. Selama bertahun-tahun mereka belajar bukan melalui perintah, melainkan dengan mengamati. Cara memilih buah yang matang, menentukan jalur di kanopi, membangun sarang, hingga menghadapi ancaman, semuanya diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Ketika anak orangutan kehilangan induknya akibat konflik dengan manusia atau perdagangan satwa liar, bukan hanya sosok pelindung yang hilang. Bersamanya ikut hilang kesempatan mempelajari banyak hal yang tidak dapat diajarkan secara instan. Karena itu, keberhasilan rehabilitasi bukan hanya soal mengembalikan kemampuan bertahan hidup, lebih dari itu, rehabilitasi berusaha mengembalikan perilaku alami yang sempat terputus agar orangutan mampu menjalankan seluruh siklus kehidupannya ketika kembali ke hutan.

Selama menjalani rehabilitasi, perubahan itu perlahan terlihat pada ketiga orangutan yang dilepasliarkan bulan Juni ini. Ruby tumbuh menjadi individu yang gemar menjelajah dan sering menjadi orangutan pertama yang mencoba rute-rute baru di sekolah hutan. Tanpa banyak interaksi, kehadirannya justru diikuti individu lain yang lebih muda. Keberanian Ruby menjadi semacam dorongan bagi mereka untuk memanjat lebih tinggi, bergerak lebih jauh, dan mengenal hutan dengan lebih percaya diri.

Bagus memperlihatkan sisi yang berbeda. Di balik sifatnya yang tenang, ia beberapa kali menjadi tempat berlindung bagi bayi orangutan yang masih belum percaya diri menjelajah. Ia menerima kehadiran mereka, membiarkan mereka tetap berada di dekatnya, seolah memahami bahwa rasa aman merupakan bagian penting dalam proses belajar.

Sementara itu, Eboni yang dikenal mandiri dan berani ternyata juga menunjukkan kepedulian kepada individu yang lebih muda. Di sela-sela eksplorasinya, ia kerap mengajak bayi orangutan mengikuti pergerakannya, mengenalkan area baru, sekaligus memberi contoh bagaimana menghadapi lingkungan yang terus berubah.

Tidak ada sesi pelatihan khusus untuk mengajarkan perilaku tersebut. Semuanya tumbuh dari pengalaman. Dari interaksi dengan orangutan lain, dari dinamika yang terbentuk setiap hari di sekolah hutan, serta dari kesempatan menjalani kehidupan sosial yang menyerupai kondisi di alam. Perlahan, muncul kemampuan yang suatu hari akan sangat menentukan keberhasilan mereka sebagai induk.

Kini Ruby, Bagus, dan Eboni telah menjalani kehidupan baru di hutan. Tidak ada lagi animal keeper yang mengawasi setiap langkah mereka. Keputusan-keputusan penting kini sepenuhnya berada di tangan mereka sendiri. Mungkin butuh waktu bertahun-tahun hingga tim monitoring menemukan salah satu dari mereka kembali, kali ini bukan sebagai individu yang direhabilitasi, melainkan sebagai induk yang sedang menggendong bayinya.

Jika hari itu tiba, keberhasilan pelepasliaran tidak hanya diukur dari kemampuan mereka bertahan hidup. Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika pengetahuan yang pernah mereka pelajari selama rehabilitasi berubah menjadi warisan bagi generasi berikutnya. Dari induk kepada anak, lalu terus berlanjut di tengah rimbanya hutan Kalimantan.

Itulah harapan terbesar dari setiap pelepasliaran: bukan sekadar mengembalikan orangutan ke habitatnya, tetapi mengembalikan masa depan populasi liar yang akan terus tumbuh melalui generasi-generasi baru (RAR)

REKAM JEJAK COP SELAMATKAN SATWA PASCA BANJIR TAPANULI SELATAN

Sore, 24 Juni 2026 di Medan, bersama Orangufriends meresmikan Abelii Space sekaligus membuka pameran foto “Menolong Satwa Banjir Sumatra” dan meluncurkan buku Rescue Animals in Need South Tapanuli. Pameran ini merangkum kisah kepedulian dari sudut pandang yang berbeda pasca bencana banjir besar yang melanda Sumatra pada akhir tahun 2025. Berlokasi di Desa Garoua, Tapanuli Selatan, wilayah yang sempat luluh lantak dan terisolasi, COP (Centre for Orangutan Protection) hadir membawa misi yang hingga kini masih jarang dilakukan di Indonesia, yaitu menyelamatkan satwa di tengah bencana.

Melalui rangkaian foto yang di[pamerkan, pengunjung diajak mengikuti jejak langkah tim COP saat mencari satwa yang terdampak banjir, membebaskan hewan yang terjebak di balik reruntuhan, mengobati satwa yang terluka, memberikan pakan, hingga menguburkan satwa yang tidak dapat diselamatkan. Banyak pengunjung mengaku tersentuh setelah mendengar secara langsung pengalaman dan tantangan yang dihadapi selama proses penyelamatan berlangsung.

Lebih dari sekadar menyelamatkan satwa, misi ini juga menjadi jembatan penting dalam memulihkan harapan para penyintas bencana. Bagi para peternak yang rumah dan kebunnya hanyut diterjang banjir, hewan ternak yang tersisa merupakan aset sekaligus harapan terakhir untuk kembali bangkit. Karena itu, tim berupaya membuka akses agar pasokan pakan termah dapat masuk dan membantu menjaga keberlangsungan ekonomi masyarakat.

Di sisi lain, bagi warga yang harus mengungsi dapat bertemu kembali dengan hewan peliharaan mereka menjadi penghiburan yang tak ternilai. Kehadiran kembali teman setia di tengah situasi sulit mampu menghadirkan senyum, memberikan rasa tenang, sekaligus mengurangi kecemasan setelah bencana.

Selain membantu pemulihan ekonomi dan psikologis masyarakat, tim juga berperan dalam mencegah potensi penyebaran penyakit dengan segera menguburkan bangkai satwa agar tidak mencemari lingkungan. Melalui pameran foto dan buku ini, COP ingin menyampaikan pesan bahwa ketika bencana terjadi, satwa juga menjadi korban. Menyelamatkan satwa berarti turut menjaga kesehatan lingkungan, membantu pemulihan masyarakat, dan menjadi bagian penting dari upaya tanggap bencana secara menyeluruh.

Pameran foto berlangsung mulai 24 Juni hingga 12 Juli 2026 di Abelii Space, kota Medan dan dibuka setiap hari pukul 09.00-17.00 WIB. Pameran terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya. Pengunjung diharapkan menjaga ketertiban selama berada di ruang pameran serta tidak makan dan minum di dalam area pameran. (AGU)

MCU SI INYIAK, KETIKA PENYELAMATAN HANYA MENJADI AWAL PERJALANAN

Bagi sebagian orang, penyelamatan Harimau Sumatra mungkin berakhir ketika jerat berhasil dilepas dari tubuhnya. Namun bagi tim medis dan para penguat konservasi, justru di situlah perjalanan yang sesungguhnya dimulai.

Ketika anak harimau yang ditemukan terjerat di Pasaman berhasil dievakuasi, satu pertanyaan besar masih harus dijawab, seberapa besar dampak jerat terhadap kondisi fisik dan mentalnya. Luka yang terlihat pada kaki hanyalah bagian yang tampak dari luar. Di baliknya bisa saja terdapat infeksi, kerusakan jaringan, dehidrasi, gangguan metabolisme, hingga stres berat akibat rasa sakit dan pengalaman traumatis selama terjerat. Karena itulah tim dokter hewan melakukan serangkaian pemeriksaan kesehatan menyeluruh atau Medical Check-Up (MCU) untuk mengetahui kondisi sebenarnya.

Mulai dari pemeriksaan fisik, pengambilan sampel darah, pengukuran berat badan, pemeriksaan suhu tubuh, denyut jantung, hingga evaluasi kondisi luka dilakukan secara hati-hati. Semua data tersebut menjadi dasar dalam menentukan langkah perawatan berikutnya. Yang sering tidak terlihat oleh publik adalah bahwa MCU bukanlah garis akhir. MCU hanyalah pintu masuk menuju proses pemulihan yang jauh lebih panjang dan lebih rumit.

Setelah pemeriksaan selesai, harimau tidak bisa langsung dilepasliarkan begitu saja. Tim medis harus terus melakukan pemantauan untuk memastikan luka benar-benar membaik, tidak terjadi infeksi lanjutan, serta memastikan kondisi tubuhnya kembali stabil. Proses ini dapat berlangsung selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, tergantung tingkat keparahan cedera yang dialami.

Di sinilah tantangan lain muncul.

Harimau adalah satwa liar yang secara alami menghindari manusia. Di alam, mereka hidup bebas dengan wilayah jelajah yang luas, memilih tempat beristirahat sendiri, berburu sendiri, dan seminimal mungkin berinteraksi dengan manusia. Ketika harus menjalani perawatan di kandang rehabilitasi, kondisi tersebut berubah secara drastis.

Meskipun kandang perawatan dirancang untuk memberikan keamanan dan mendukung prose penyembuhan, keberadaan di ruang terbatas tetap dapat menjadi sumber stres bagi satwa liar. Terlebih lagi ketika harus menjalani pemeriksaan rutin, pengobatan, atau melihat aktivitas manusia di sekitarnya setiap hari.

Bagi harimau, stres bukan sekadar kondisi psikologis. Stres yang berlebihan dapat memengaruhi nafsu makan, menurunkan daya tahan tubuh, memperlambat penyembuhan luka, bahkan meningkatkan risiko munculnya gangguan kesehatan lainnya. Dalam beberapa kasus, satwa yang mengalami stres berkepanjangan dapat menunjukkan perubahan perilaku yang berpotensi mengurangi kemampuan mereka untuk kembali hidup mandiri di alam liar.

Keberhasilan penyelamatan tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan evakuasi atau kualitas tindakan medis. Faktor pemeliharaan dan perawatan sehari-hari memiliki peran yang sama pentingnya. Tim perawat satwa harus memastikan kebutuhan nutrisi terpenuhi, lingkungan kandang tetap nyaman, gangguan dari manusia diminimalkan dan interaksi langsung dilakukan hanya ketika benar-benar diperlukan.

Dalam dunia rehabilitasi satwa liar, tujuan utma perawatan bukanlah membuat satwa terbiasa dengan manusia. Justru sebaliknya, tim berupaya agar satwa tetap mempertahankan sifat liarnya. Semakin sedikit ketergantungan dan interaksi dengan manusia, semakin besar peluang satwa tersebut untuk kembali menjalani kehidupannya secara alami ketika dilepasliarkan.

Setiap hari selama masa pemulihan menjadi proses evaluasi yang penting. Apakah luka menunjukkan perkembangan yang baik? Apakah pola makan normal? Apakah pola makan normal? Apakah perilaku satwa masih mencerminkan insting alaminya? Semua pertanyaan tersebut harus dijawab sebelum keputusan lebih lanjut dapat diambil.

Di balik kabar penyelamatan yang sering muncul di media, terdapat pekerjaan panjang yang jarang terlihat. Ada dokter hewan yang memantau hasil pemeriksaan, ada perawat satwa yang memastikan kebutuhan harian terpenuhi, dan ada tim konservasi yang terus mengamati perkembangan kondisi individual tersebut dari waktu ke waktu.

Bagi anak harimau dari Pasaman ini, prose penyembuhan masih terus berjalan. Setiap hari tanpa infeksi, setiap luka yang mulai mengering, dan setiap perilaku liar yang tetap terjaga adalah langkah kecil menuju tujuan yang lebih besar, kembali menjadi penguasa hutan, bukan penghuni kandang perawatan. Dan seperti banyak kisah konservai lainnya, kesembuhan bukanlah hasil dari satu tindakan besar, melainkan kumpulan dari perhatian, kesabaran, dan kerja keras yang dilakukan setiap hari oleh banyak orang yang percaya bahwa satu nyawa harimau sangat berarti bagi masa depan spesiesnya. (APE Protector)