Dari arah lain di dalam hutan, Mabel sedang duduk santai di atas pohon sambil menikmati buah buni. Ia terlihat begitu asyik menjelajah dan mencari makanan sendiri. Sementara itu, aku berjalan lebih dulu menuju pohon tarap bersama Mba Fiqoh (animal keeper) yang membawa Cinta. Awalnya Mabel masih sibuk dengan buah buninya. Namun, ketika ia melihat aku berjalan semakin jauh meninggalkannya, tangannya berhenti bergerak. Mabel memperhatikan aku dari atas pohon. Dan aku terus berjalan.
Tiba-tiba terdengar suara kecil dari arah belakang. Mabel mulai merengek. Ia melihat aku lagi, lalu melihat sekelilingnya. Sepertinya ia tidak suka melihatku berjalan terlalu jauh darinya. Akhirnya, Mabel turun dari pohon. Ia meninggalkan buah buni yang tadi sedang dimakannya dan mulai berjalan cepat mengejarku. Begitu Mabel mendekat, Mba Fiqoh langsung memperhatikannya. Mba Fiqoh tertawa kecil lalu bertanya, “Kenapa Mabel? Tumben nangis?”.
Aku ikut tertawa melihat tingkah Mabel. “Ternyata dia bisa manja!”, jawabku.
Mba Fiqoh langsung tertawa. “Iya, biasanya paling nggak mau bermanja-manja.”
Aku melihat Mabel yang kini sudah memeluk kakiku. “Tadi ditinggal sedikit aja langsung turun dari pohon dan nyusul.”
Mba Fiqoh tertawa lagi.
“Berarti sebenarnya Mabel nggak mau jauh-jauh dari kamu.” kata mba fiqoh
Kami berdua pun tertawa bersama. Mabel seolah tidak peduli dengan percakapan kami. Ia hanya memastikan aku tetap berada di dekatnya. Lucu juga melihat Mabel hari itu. Biasanya ia adalah orangutan yang paling aktif menjelajah, berpindah dari satu pohon ke pohon lain, dan sibuk mencari makanan favoritnya seperti jengkol dan buah tarap. Tapi hari itu, Mabel menunjukkan sisi yang jarang terlihat. Ternyata, di balik sifatnya yang mandiri, Mabel juga bisa manja terutama ketika melihat orang yang ia percaya berjalan meninggalkannya. (LUK)
Dua puluh tahun lalu, gempa bumi besar mengguncang Yogyakarta dan meninggalkan jejak mendalam bagi masyarakat. Salah satu wilayah yang merasakan dampaknya adalah Kabupaten Bantul, termasuk lingkungan pendidikan di sekitarnya. Kini, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa kesiapansiagaan menghadapi bencana perlu terus ditanamkan kepada generasi muda.
Sebanyak 81 siswa SD Negeri 2 Dodogan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta diajak mengenali berbagai perlengkapan sederhana yang dapat membantu ketika terjadi keadaan darurat, seperti senter dan peluit. Mereka juga belajar bahwa kesiapsiagaan tidak selalu membutuhkan peralatan yang rumit. Hal paling penting adalah mengetahui risiko, memahami langkah yang harus dilakukan, serta mampu menyelamatkan diri terlebih dahulu.
Sebab, seseorang yang mampu menyelamatkan dirinya akan memiliki kesempatan lebih besar untuk membantu orang lain, termasuk satwa yang sering kali luput dari perhatian ketika bencana terjadi. Pembelajaran kemudian berlanjut pada satwa yang sering dianggap menakutkan, yaitu ular.
Bagi sebagian siswa, perjumpaan dengan ular mungkin bukan sesuatu yang asing. APE Warrior mengajak mereka melihat ular dari sudut pandang yang berbeda. Rasa takut merupakan hal yang wajar, tetapi bukan alasan untuk menyakiti atau membunuh satwa tersebut.
Ketika bertemu ular, siswa diajarkan untuk tetap tenang, menjaga jarak, tidak mencoba atau menangkap atau mengusir sendiri, serta segera meminta bantuan orang dewasa atau pihak yang memiliki kemampuan menangani satwa.
Di balik rasa takut tersebut, ular memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Keberadaannya membantu mengendalikan populasi satwa lain dan menjadi bagian dari rantai kehidupan di alam. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya belajar tentang kesiapsiagaan bencana, tetapi juga tentang empati dan tanggung jawab terhadap kehidupan di sekitar mereka. Karena kesiap-siagaan bukan hanya tentang menyelamatkan diri saat bencana datang, tetapi juga tentang memastikan bahwa manusia dan satwa dapat menghadapi situasi darurat dengan lebih aman. (VID)
Semangat memperingati Global Tiger Day 2026 masih terasa di RIHAS. Kali ini, pesan tentang pentingnya menjaga harimau Sumatra dibawa lebih dekat kepada masyarakat melalui kegiatan bersepeda sekaligus kampanye di kawasan permukiman sekitar Rimbo Panti. Ada 29 peserta turut ambil bagian dengan mengendarai sepeda, mereka menyusuri jalan dan mengelilingi sebagian kawasan sambil membawa poster serta berbagi materi kampanye. Mereka juga membagikan stiker kepada masyarakat dan menyampaikan pesan untuk menjaga keberadaan harimau Sumatra.
Bagi sebagian orang, harimau mungkin hanya dikenal sebagai satwa liar yang hidup jauh di dalam hutan. Padahal, keberadaannya memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Karena itu, mengenal harimau dan memahami berbagai ancaman yang dihadapinya menjadi langkah awal untuk menumbuhkan kepedulian terhadap satwa liar. Tim APE Protector juga mengajak masyarakat luas bahwa menjaga harimau tidak hanya menjadi tanggung jawab mereka yang bekerja di kawasan konservasi. Masyarakat juga memiliki peran penting, salah satunya dengan memahami keberadaan satwa liar serta ikut menjaga habitatnya.
Setelah berkeliling dan menyapa masyarakat, kegiatan dilanjutkan di RIHAS dengan berbagai permainan dan pembagian hadiah. Suasana semakin meriah ketika para peserta mengikuti rangkaian kegiatan yang telah direncanakan. Keseruan tidak berhenti ketika matahari mulai terbenam. Pada malam hari, RIHAS justru semakin hangat dengan diskusi santai. Para peserta berbagi cerita dan pengalaman sambil menikmati jagung bakar serta olahan lainnya.
Dari perjalanan di atas sepeda hingga obrolan santai di malam hari, satu pesan terus dibawa, Harimau Sumatra adalah bagian penting dari alam yang harus kita jaga bersama. Global Tiger Day bukan sekedar momentum untuk memperingati harimau. Lebih dari itu, peringatan ini menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap satwa liar perlu terus dibicarakan, dibagikan, dan diwujudkan melalui aksi nyata. (HIL)
Setiap tanggal 29 Juli dirayakan sebagai Hari Harimau Sedunia atau Global Tiger Day (GTD). Centre for Orangutan Protection (COP) bersama dengan relawannya yang tergabung dalam Orangufriends merayakan GTD 2026 dengan aksi serentak di lima belas kota di Indonesia pada Minggu, 2 Agustus 2026. Aksi serentak ini bertujuan untuk memberikan edukasi dan penyadartahuan kepada masyarakat umum bahwa harimau sebagai satwa langka endemik Indonesia. Dahulu Indonesia masih memiliki harimau jawa dan harimau bali. Namun, saat ini yang tersisa hanya ada jenis harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae).
“Melalui kampanye di beberapa kota, kami ingin menyebarkan informasi dan menggalang dukungan publik secara luas mengenai harimau sumatera, satwa endemik kebanggaan Indonesia yang kini terancam punah. Spesies ini juga memiliki nilai penting dalam
budaya dan kearifan lokal di Pulau Sumatera” ucap Hilman Fauzi, Kapten Tim APE Protector COP. Kampanye serentak ini dilakukan pada Hari Minggu, 2 Agustus 2026 oleh Orangufriends
di Kota Medan, Padang, Pasaman, Yogyakarta, Bandung, Kuningan, Samarinda, Malang, Lumajang, Manokwari, Cirebon, Padangsidempuan, Sidikalang, Manado dan Wahau.
Sejak 2022, tim COP bernama APE Protector bekerja di Kabupaten Pasaman bersama BKSDA Sumatera Barat dan masyarakat lokal. Tim ini melakukan kegiatan bersama seperti sapu jerat, patroli kawasan, mitigasi konflik, hingga penyelamatan harimau dan satwa liar lainnya. “Saat ini setidaknya ada tiga harimau sumatera yang harus segera dilepasliarkan. Mereka dievakuasi pada akhir tahun 2025 dan bulan Mei 2026. Para harimau ini harus dievakuasi karena terluka akibat jerat. Kita dukung penuh rencana Kementerian Kehutanan untuk melepasliarkan kembali harimau tersebut” tambah Hilman.
Aksi serempak ini sudah dilakukan tiga tahun terakhir, bersama relawan COP yang tergabung dalam Orangufriends yang ada di beberapa kota di Indonesia. Isu yang selalu dibawakan adalah tentang jerat yang setiap tahunnya menjadi masalah di harimau sumatera. Pemasangan jerat masih sering ditemui di hutan Indonesia. Kasus harimau terkena jerat kerap terjadi di berbagai daerah di Sumatera, dari Aceh hingga Lampung. Sebagian harimau mati akibat infeksi, pendarahan, ataupun kelaparan setelah terkena jerat. Saat ini populasi harimau sumatera tidak lebih dari 600 individu dan termasuk satwa berstatus Kritis (Critically
Endangered) menurut IUCN Red List. Tekanan habitat dan pemasangan jerat menjadi ancaman serius bagi harimau sumatera. Kampanye publik ini diharapkan dapat meningkatkan kepedulian masyarakat untuk ikut melestarikan harimau sumatera dan mendorong penegakan
hukum bagi pelaku pemasangan jerat.
Narahubung:
Hilman Fauzi, Kapten Tim APE Protector COP
Kontak: +62 817 7547 0113Catatan:
– APE Protector adalah tim yang dikelola oleh COP di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. Misi
utama APE Protector adalah mendampingi kelompok masyarakat untuk melakukan patroli mandiri,
mitigasi konflik dan edukasi atau penyadartahuan.
– COP menjalankan dan mengelola relawannya yang bernama Orangufriends untuk bisa mendukung
kampanye dan kegiatan aksi langsungnya. Kelompok Orangufriends aktif ada di beberapa kota di
Indonesia.
Suaka Margasatwa Malampah di Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat, merupakan salah satu kawasan konservasi yang menjadi rumah bagi beragam satwa liar dan keanekaragaman hayati Indonesia. Namun, di balik lebatnya hutan yang masih berdiri, ancaman pembalakan liar (ilegal logging) terus membayangi kelestarian kawasan ini.
Sebagai upaya menghentikan aktivitas tersebut, tim APE Protector bersama Balai KSDA Sumatera Barat yang terdiri dari Balai Padang, Seksi Konservasi Wilayah I Bukittinggi, Resort Konservasi Wilayah II Maninjau, dan Resort Konservasi Wilayah I Pasaman Raya melaksakan patroli penindakan di kawasan Suaka Margasatwa Malampah. Patroli dimulai dari wilayah Nagari Jambak, Kecamatan Lubuk Sikaping, dan direncanakan keluar melalui Jorong Tanjung Bungo, Nagari Malampah, setelah menyusuri kawasan hutan selama dua hari.
Pada hari pertama, tim menemukan sejumlah titik bekas aktivitas pembalakan liar. Pohon-pohon meranti merah dan meranti kuning yang telah ditebang menjadi bukti bahwa kawasan konservasi ini masih menjadi sasaran para pelaku. Meskipun tidak berhasil menemukan pelaku di lokasi, tim menemukan lima pondok yang diduga digunakan sebagai tempat singgah dengan empat di antaranya masih aktif dan berada di sekitar aliran sungai. Di lokasi tersebut, tim juga memberikan imbauan kepada para penambang agar menghentikan seluruh aktivitas mereka demi menjaga kelestarian kawasan hutan.
Patroli berlanjut pada keesokan harinya. Saat menelusuri kawasan yang lebih dalam, tim menemukan jejak aktivitas baru berupa tapak kerbau yang diduga digunakan untuk mengangkut kayu hasil tebangan. Dugaan tersebut terbukti ketika tim berhasil mengamankan dua pelaku beserta tiga ekor kerbau yang digunakan sebagai alat angkut kayu. Namun, satu pelaku lainnya berhasil melarikan diri.
Tim kemudian menuju lokasi lain yang berjarak sekitar dua kilometer. Di sana, kembali ditemukan pohon-pohon yang baru ditebang menggunakan chainsaw, tumpukan kayu siap angkut, serta enam ekor kerbau di sekitar pondok pelaku. Karena tidak menemukan pelaku di lokasi kedua, tim memusnahkan pondok yang digunakan sebagai basis aktivitas ilegal tersebut sebelum membawa pelaku menuju proses hukum.
Perjalanan keluar kawasan konservasi justru menjadi ujian berikutnya. Saat tiba di wilayah pemukiman, tim dihadang oleh sekelompok warga yang meminta agar pelaku dilepaskan. Ketegangan semakin meningkat saat rombongan yang akan melakukan penjemputan dikejar oleh sejumlah warga dengan menggunakan sepeda motor. Lemparan batu menghantam salah satu kendaraan operasional BKSDA hingga memecahkan kaca belakang, sementara satu anggota tim mengalami luka di bagian kepala akibat terkena lemparan.
Patroli ini menjadi pengingat bahwa menjaga kawasan konservasi bukan hanya tentang melindungi pepohonan, tetapi juga mempertaruhkan keselamatan para petugas yang berada di garis depan. DI balik setiap hutan yang masih lestari, ada dedikasi keberanian dan kerja sama banyak pihak yang terus berjuang agar kekayaan alam Indonesia tetap terjaga untuk generasi mendatang. (RON)
“Tunggu, Asih!”
“Asih… pelan-pelan.”
Kalimat itu mungkin menjadi salah satu kalimat yang paling sering terdengar setiap kali kegiatan sekolah hutan dimulai di Suaka Margasatwa Siranggas. Bukan karena Asih nakal, tetapi karena orangutan muda ini seolah memiliki energi yang tidak pernah habis. Baru beberapa menit dilepas, Asih sudah membuat keeper berlari kecil mengikuti setiap langkahnya.
Kadang ia memanjat pohon setinggi mungkin, lalu berhenti sebentar sambil melihat ke bawah seolah memastikan keeper masih mengikutinya. Saat keeper berhasil mendekat, Asih justru tersenyum usai-setidaknya begitulah yang dirasakan para keeper, lalu kembali berpindah ke pohon berikutnya.
“Dia nungguin kita, habi itu kabur lagi”, ujar salah satu keeper sambil tertawa.
Tingkah Asih sering kali membuat seluruh tim tersenyum. Ketika suasana hutan sedang tenang, tiba-tiba ia turun dari pohon, menghampiri keeper, lalu mengajak bermain. Ia menarik tangan keeper, memegang pakaian, bahkan sesekali menggigit pelan sebagai bentuk interaksi. Namun, baru saja keeper melayaninya beberapa saat, Asih kembali berlari menuju pepohonan. Seolah mengajak bermain petak umpet.
Di hari lain, Asih justru memilih menjelajah lebih jauh. Dengan lincah ia berpindah dari satu cabang ke cabang lain, sementara keeper harus mencari jalur terbaik agar tetap bisa mengawasinya dari bawah. Tidak jarang mereka kehilangan pandangan beberapa saat sebelum akhirnya terdengar suara daun bergoyang yang menandakan Asih masih bergerak di atas kanopi.
Yang membuat keeper semakin kewalahan adalah rasa penasaran Asih yang begitu besar. Hampir semua hal menarik perhatiannya. Sebatang ranting, daun muda yang baru tumbuh, jamur yang muncul setelah hujan, hingga genangan air berlumpur bisa menjadi objek yang membuatnya berhenti cukup lama. Pernah suatu hari, Asih sibuk bermain lumpur hingga akhirnya meminum air yang menggenang di sana. Di lain kesempatan, ia menemukan jamur di lantai hutan dan mencobanya.
Meski dikenal aktif, Asih juga memiliki kebiasaan unik. Ketika merasa bosan karena di atas pohon, ia akan turun begitu saja dan berjalan di tanah sambil sesekali menoleh ke arah keeper, seperti mengajak mereka ikut berpetualang. Akibatnya, keeper harus selalu siap mengikuti perubahan rencana yang dibuat Asih dalam hitungan detik.
“Baru saja tadi semangat memanjat, sekarang malah mengajak main”, celetuk keeper lainnya sambil tersenyum.
Namun di balik semua tingkah usianya, Asih perlahan mulai menikmati kehidupan di hutan. Ia semakin sering mencoba memakan daun muda, buah-buahan hutan, biji-bijian, hingga berbagai jenis pakan alami yang ditemukannya sendiri. Sesekali ia juga bertahan lebih lama di atas pohon, bergelantungan di antara cabang-cabang sebelum kembali turun dan melanjutkan petualangannya.
Tidak ada satu pun hari di sekolah hutan yang benar-benar sama ketika bersama Asih. Kadang keeper pulang dengan pakaian penuh lumpur karena harus mengikutinya ke mana-mana. Kadang mereka tertawa karena berhasil “dibohongi” Asih yang berpura-pura diam, lalu tiba-tiba melesat ke pohon lain. Di hari berikutnya, mereka kembali dibuat kagum melihat keberanian Asih mencoba hal-hal baru yang ditemuinya di hutan.
Bagi para keeper, mendampingi Asih memang membutuhkan tenaga ekstra. Namun, di balik langkah-langkah yang harus dipercepat, tawa yang sering pecah di tengah hutan, dan kejutan-kejutan kecil yang selalu ia ciptakan, tersimpan cerita tentang orangutan muda yang sedang menikmati setiap petualangannya dengan rasa ingin tahu yang begitu besar. Mungkin, itulah yang membuat setiap hari bersama Asih selalu menjadi hari yang menyenangkan. (NAB)
Menjaga hutan tidak hanya dilakukan melalui patroli atau penyelamatan satwa liar. Upaya konservasi juga dimulai dari ruang-ruang kelas, ketika anak-anak mulai mengenal alam dan memahami mengapa hutan harus tetap lestari. Semangat itulah yang dibawa Centre for Orangutan Protection (COP) bersama Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah I dalam kegiatan school visit yang dilaksanakan di SMP Negeri 1 Pergetteng Sengkut dan SD Negeri 030414 Kecupak, Kecamatan Pergetteng Genteng Sengkut, Kabupaten Pakpak Bharat. Kegiatan ini diikuti oleh 51 siswa perwakilan kelas I, II, dan III SMP serta 36 siswa kelas V dan VI SD.
Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh pihak sekolah yang dilanjutkan dengan sambutan dari BBKSDA Sumut. Selanjutnya, para siswa diajak mengenal lebih dekat pentingnya kawasan hutan konservasi sebagai rumah bagi berbagai satwa liar yang dilindungi. Melalui penyampaian materi yang interaktif, siswa diperkenalkan pada keanekaragaman hayati Sumatra serta peran setiap individu dalam menjaga kelestariannya.
Sesi berikutnya dipandu oleh tim COP, siswa diajak mengenal jenis-jenis orangutan di Indonesia, habitat alaminya, perilaku unik yang dimilik, hingga berbagai ancaman yang menyebabkan populasinya terus mengalami tekanan, seperti hilangnya habitat, konflik dengan manusia, dan perburuan ilegal. Suasana belajar semakin hidup ketika sesi tanya jawab dimulai. Banyak siswa dengan antusias mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan maupun membagikan pengetahuan yang mereka miliki. Rasa ingin tahu mereka juga semakin besar saat disuguhkan video mengenai Sekolah Hutan Orangutan, sebuah program rehabilitasi yang membantu orangutan belajar kembali berbagai keterampilan alami sebelum suatu hari dilepasliarkan ke habitatnya.
Unfug mengetahui sejauh mana materi dipahami, para siswa kemudian mengikuti kuis sederhana yang berisi pertanyaan seputar konservasi hutan dan orangutan. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana evaluasi, tetapi juga memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan. Sebagai bentuk dukungan terhadap pendidikan lingkungan di sekolah, COP dan BBKSDA Sumut turut menyerahkan poster berbagai satwa liar dilindungi di Sumatra Utara yang diharapkan dapat menjadi media pembelajaran bagi guru dan siswa.
Melalui kegiatan School Visit ini, COP percaya bahwa konservasi tidak hanya berbicara tentang menyelamatkan satwa hari ini, tetapi juga membangun generasi yang peduli terhadap alam di masa depan. Setiap pengetahuan yang dibagikan, setiap pertanyaan yang dijawab, dan setiap rasa ingin tahu yang tumbuh di dalam diri para siswa merupakan langkah kecil menuju masa depan dimana hutan tetap lestari dan orangutan dapat terus hidup bebas di habitat alaminya. Karena pada akhirnya, melindungi orangutan tidak hanya menjadi tanggung jawab para pegiat konservasi, tetapi juga seluruh generasi penerus yang akan mewarisi hutan Indonesia. (PUT)
Suasana akhir pekan di Atrium City Centrum Mall, Samarinda pada Sabtu, 25 Juli terasa sedikit berbeda. Di antara lalu lalang pengunjung yang datang untuk berbelanja dan berkumpul bersama keluarga, terpampang deretan foto orangutan, bentang hutan tropis, hingga berbagai informasi tentang satwa liar Indonesia. Bukan sekadar pameran, hari itu menjadi ruang bertemunya masyarakat dengan dunia konservasi.
Dalam rangka menyambut Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bersama Centre for Orangutan Protection (COP) menggelar kegiatan Road to HKAN 2026 mengusung tema “Konservasi Alam, Merawat Indonesia”. Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Kepala Balai BKSDA Kalimantan Timur yang mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk turut mengambil peran dalam menjaga kelestarian alam Indonesia. Dalam sambutannya, Kepala BKSDA Kaltim menegaskan bahwa keberhasilan konservasi tidak hanya bergantung pada pemerintah atau lembaga konservasi, tetapi juga membutuhkan dukungan masyarakat. Kesadaran untuk menjaga alam dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan setiap hari dan tumbuh melalui edukasi yang terus disampaikan ke publik.
Selama kegiatan berlangsung, pengunjung diajak mengenal lebih dekat berbagai upaya pelestarian satwa liar dan habitatnya melalui pameran fotografi konservasi yang diselenggarakan oleh COP. Setiap foto menyimpan cerita tentang kehidupan orangutan di alam liar, proses penyelamatan satwa, hingga pentingnya menjaga hutan sebagai rumah bagi ribuan spesies. Pengunjung dari berbagai usia berdiskusi dengan para pegiat konservasi, mengenal berbagai program perlindungan satwa liar, sekaligus mengetahui bagaimana mereka dapat ikut berkontribusi dalam menjaga alam.
Tidak hanya menghadirkan edukasi, Road to HKAN 2026 juga menjadi panggung untuk merayakan kekayaan budaya Kalimantan. Penampilan musik sape dan tari tradisional Dayak berhasil memukau para pengunjung, disusul pertunjukan energik dari UKM Band Universitas Mulawarman yang semakin menghidupkan suasana. Acara kemudian ditutup dengan penampilan spesial dari Rio Satrio yang mengajak seluruh pengunjung menikmati malam penuh semangat.
Kesuksesan kegiatan ini tidak lepas dari dukungan para relawan orangutan yang tergabung dalam Orangufriends Samarinda yang turut membantu jalannya acara sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan. Kolaborasi antara pemerintah, organisasi konservasi, komunitas, relawan, dan masyarakat menjadi bukti bahwa menjaga alam adalah tanggung jawab bersama. Semakin banyak masyarakat yang menyadari bahwa konservasi bukan hanya tentang melindungi satwa liar, tetapi juga tentang menjaga masa depan lingkungan tempat kita semua hidup. Sebab, setiap langkah kecil yang kita lakukan hari ini dapat menjadi bagian perubahan besar bagi kelestarian alam Indonesia. (ENG)
Bulan Juli menjadi bulan yang penuh cerita bagi Robert di area enclosure. Robert saat ini menghabiskan hari-harinya di ruang luas, di kelilingi pepohonan yang memberinya kesempatan untuk memanjat, beristirahat, dan menikmati suasana yang lebih alami.
Setiap pagi, Robert memiliki cara tersendiri untuk memulai harinya. Terkadang ia sudah berada di dekat pagar seolah menanti waktu pemberian pakan, namun di hari lain ia memilih tetap berada di tengah pepohonan, menikmati suasana pagi dari atas cabang-cabang pohon. Ketika keeper memanggilnya, Robert akan menghampiri untuk menikmati pakan, kemudian kembali melanjutkan aktivitasnya di dalam enclosure.
Sebagian besar waktunya dihabiskan di atas pohon. Robert terlihat berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya, memilih tempat yang nyaman untuk beristirahat, atau sekedar duduk sambil mengamati lingkungan di sekitarnya. Sesekali ia memperhatikan aktivitas orangutan lain maupun keeper yang sedang melakukan pemantauan, tetapi tak lama kemudian ia kembali larut dengan aktivitasnya sendiri di antara rimbunnya pepohonan.
Area enclosure juga menyediakan berbagai jenis tumbuhan yang dapat dimanfaatkan Robert. Selain menikmati pakan yang diberikan keeper, ia mulai mencoba berbagai sumber pakan alami yang tersedia di dalamnya, termasuk beberapa jenis buah hutan. Momen-momen seperti ini menjadi pemandangan yang menyenangkan bagi tim yang setiap hari mendampinginya.
Saat cuaca cerah dan matahari terasa cukup terik, keeper sesekali memberikan buah kelapa sebagai tambahan. RObert selalu menyambutnya dengan antusias. Ia merobek sabut kelapa menggunakan giginya, menikmati daging buahnya, lalu meminum air kelapa hingga habis. Pada kesempatan lain, batang tebu juga diberikan sebagai variasi sekaligus sumber cairan yang dinikmati Robert.
Selain itu, bulan ini, tim juga menambahkan sebuah alat enrichment berupa tabung yang dapat diisi air dengan berbagai cara, baik menggunakan tangan maupun memanfaatkan benda-benda yang ada disekitarnya.
Menjelang sore, Robert kerap terlihat berada di bagian tengah ataupun pinggir enclosure sebum akhirnya memilih tempat beristirahat untuk malam hari. Di bawah rindangnya pepohonan atau di area yang menurutnya nyaman, Robert mengakhiri aktivitas hariannya hingga keesokan pagi kembali memulai rutinitasnya.
Setiap hari di enclosure menghadirkan cerita yang berbeda. Ada hari ketika Robert lebih banyak menikmati ketenangan dari atas pohon, ada pula hari ketika ia lebih aktif menjelajahi setiap sudut kawasan. Semua itu menjadi bagian dari kesehariannya, memperlihatkan bagaimana Robert memanfaatkan ruang jelajahnya dengan caranya sendiri sambil terus menikmati kehidupan di lingkungan yang lebih alami. (NAB)
Ada perasaan yang sulit saya gambarkan ketika menyaksikan pintu kandang angkut dibuka setelah perjalanan panjang menuju hutan Busang. Hampir 12 jam perjalanan dari Berau akhirnya terbayarkan ketika Bagus, Ruby, dan Eboni satu per satu keluar dari kandang, lalu tanpa ragu memanjat pohon pertama yang mereka temui. Momen itu selalu menjadi pengingat mengapa proses rehabilitasi begitu berarti. Setelah melalui perjalanan yang panjang, kini mereka kembali berada di tempat yang seharusnya di tengah hutan Kalimantan.
Namun, pelepasliaran bukanlah akhir dari cerita. Justru saat itulah tugas kami dimulai. Selama dua minggu berikutnya, saya bergabung bersama tim Post Release Monitoring (PRM) untuk mengikuti kehidupan baru Bagus, Ruby, dan Eboni. Setiap hari kami berangkat sebelum matahari terbit dan baru kembali ketika cahaya mulai menghilang di balik kanopi hutan. Jalur yang kami tempuh tidak selalu mudah. Menyusuri sungai menggunakan ketinting, berjalan di jalur setapak yang licin, hingga menembus rapatnya vegetasi sudah menjadi bagian dari rutinitas.
Setiap orangutan memiliki kebiasaannya masing-masing. Eboni tampak begitu lincah berpindah dari satu pohon ke pohon lain. Ia menghabiskan banyak waktu di kanopi hutan, mencari buah-buahan matang dan sesekali membongkar sarang serangga untuk mencari tambahan pakan. Bagus terlihat lebih tenang. Ia kerap memilih duduk sambil menikmati daun-daun muda di sekitarnya sembari sesekali memperhatikan kondisi hutan. Sementara Ruby memiliki karakter yang lebih santai. Ia sering terlihat berbaring nyaman di atas percabangan pohon, menikmati waktu istirahat sambil mengunyah pakan yang ada di sekitarnya.
Bagus memiliki cerita yang sedikit berbeda bagi saya. Sebelum mengikutinya di hutan Busang, saya sudah mengenalnya sejak ia masih berada di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). Sebagai dokter hewan, saya cukup sering bertemu dengannya, baik saat pemeriksaan kesehatan maupun ketika mengamati perilakunya selama menjalani rehabilitasi. Bagus adalah orangutan yang tenang, bukan tipe yang selalu aktif menunjukkan rasa ingin tahunya, melainkan lebih sering mengamati keadaan di sekitarnya terlebih dahulu. Kebiasaan itu membuat saya cukup mengenal ekspresi dan tingkah lakunya. Karena itulah, ketika melihatnya duduk di atas pohon-pohon tinggi Busang, memilih daun muda sebagai makanannya, lalu berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya tanpa bergantung pada manusia, ada perasaan haru yang sulit dijelaskan. Rasanya seperti bertemu kembali dengan teman lama yang kini telah menemukan rumahnya.
Hari-hari pertama pemantauan berjalan lancar. Kami dapat mengamati aktivitas mereka dari kejauhan tanpa banyak mengganggu. Hingga akhirnya, memasuki hari kelima, ketiganya seolah menghilang. Selama beberapa hari berikutnya kami menyusuri berbagai jalur yang kemungkinan dilewati mereka. Kami mencari sarang baru, bekas pakan, patahan ranting, hingga suara pergerakan di antara pepohonan. Waktu terus berjalan, tetapi belum ada tanda-tanda keberadaan mereka.
Tentu ada rasa penasaran yang terus menemani. Ke mana mereka bergerak? Apakah mereka baik-baik saja? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu muncul setiap kali kamu kembali ke campt tanpa hasil. Memasuki minggu kedua, semangat kami tidak berkurang. Seperti biasa, pagi itu kami kembali melakukan patroli. Menjelang siang kami memutuskan untuk kembali ke ketinting dan beristirahat sejenak setelah beberapa jam menyusuri hutan. Namun, tepat ketika kami hampir tiba di tepian sungai, mata saya menangkap sesuatu bergerak di antara dedaunan.
“Ada orangutan!”, spontan saya berseru.
Soni, salah satu ranger APE Guardian, segera mendekat untuk memastikan. Tidak lama kemudian ia menjawab dengan nada penuh semangat, “Ada dua”.
Saat saya mendekat, saya langsung mengenali wajah-wajah yang kami cari selama berhari-hari.
“Walah… ini Eboni dan Bagus”, ucap saya spontan sambil tertawa kecil. Rasanya lucu sekaligus melegakan. Kami sudah menyusuri hutan cukup jauh untuk mencari mereka, sementara ternyata keduanya berada tidak jauh dari tepian sungai. Mereka tampak sehat, tenang, dan sama sekali tidak terganggu dengan kehadiran kami. Tidak lama kemudian, Eboni dan Bagus kembali memanjat lebih tinggi, lalu sibuk menikmati buah-buahan hutan yang sedang matang.
Momen sederhana itu menjadi salah satu kenangan yang paling saya ingat selama mengikuti PRM. Bukan hanya karena akhirnya kami kembali menemukan mereka, tetapi juga karena saya dapat melihat Bagus yang kini bebas menentukan arah jelajahnya, memilih makanannya sendiri, dan menghabiskan hari-harinya di tengah hutan.
Sebagai dokter hewan, melihat satwa yang pernah menjalani rehabilitasi kini mampu beradaptasi di habitat alaminya merupakan kepuasan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Tugas kami memang memastikan kondisi kesehatan mereka tetap terpantau, tetapi yang jauh lebih membahagiakan adalah melihat mereka menjalani kehidupan yang semakin mandiri di tengah hutan. (SIN)
