TUTUP PASAR BURUNG! BEBASKAN SATWA LIAR DARI PERBURUAN

Hampir seluruh sektor terkena imbas pandemi Covid-19, tak terkecuali pasar-pasar burung tradisional di beberapa kota di Jawa. Pasar Burung Muntilan contohnya, pasar burung yang terletak di jalan Magelang-Yogyakarta Jawa Tengah ini yang biasanya ramai oleh pedagang dan pembeli satwa saat ini sepi. Dari kurang lebih 50 kios, hanya sekitar 9 kios yang buka di dalam area pasar. Dimana 4 diantaranya menjual pakan dan perlengkapan burung dan 5 kios lainnya menjual aneka burung dan unggas.

Dalam situasi normal biasanya pasar burung ini ramai menjual berbagai jenis satwa seperti burung-burung kicau sampai musang bahkan sampai satwa dilindungi seperti jenis trenggiling pun pernah ditemukan dijual di pasar ini. Salah satu pedagang di pasar ini contohnya dalam satu kali perputaran transaksi, jumlah burung yang bisa dijual kurang lebih 300 ekor, jumlah tersebut merupakan akumulasi dari beberapa jenis burung. Yang paling banyak di setiap pengiriman adalah burung prenjak gunung (Prinia Suoerciliaris). Dalam seminggu pedagang ini bisa melakukan dua kali transaksi berarti dalam sebulan kurang lebih 2400 ekor burung yang dia jual yang mana semua satwa itu diburu dari alam. Itu baru dari satu pedagang.

Adanya himbauan pemerintah untuk social distancing dan beredarnya info kalau virus Covid-19 ini berasal dari satwa membuat orang-orang enggan datang ke pasar burung sehingga banyak pedagang yang tidak membuka tokonya. “Hal ini baik untuk satwa di alam. Suasana sepi permintaan akan satwa di pasar burung. Semoga, penangkapan atau perburuan di alam juga berkurang sehingga keseimbangan alam tetap terjaga”, ungkap Daniek Hendarto, direktur Centre for Orangutan Protection.

“Semoga masyarakat semakin sadar bahwa memelihara satwa liar itu tidak benar karena dapat menganggu keseimbangan alam dan juga dapat saling menularkan menganggu keseimbangan alam dan juga dapat saling menularkan penyakit dari satwa ke manusia, juga sebaliknya dari manusia ke satwa.”, tambah Daniek. (HER)

 

VONIS JUAL/BELI BINTURONG 4 JUTA HANYA 4 BULAN PENJARA

Kamis, 23 April 2020, Pengadilan Negeri Tulungagung menjatuhkan putusan pidana penjara selama empat bulan dan pidana denda sejumlah Rp 1.000.000,00 pada Feri Subagi. Terdakwa terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana dengan sengaja menyimpan, memiliki dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup.

Masih ingatkah penangkapan terdakwa empat bulan yang lalu? Saat itu 1 (satu) ekor Binturong (Arctictis Binturong), 1 (satu) ekor Rangkong Badak (Buceros rhinoceros) ditemukan dalam keadaan hidup di rumah Feri di dusun Sumurwarak, desa Purworejo, kabupaten Tulungagung. Sementara 1 (satu) ekor Julang emas (Rhyticeros undulates) mati. Tim Subdit IV Tipidter Ditreskrimsus Polda Jatim menelusuri bagaimana satwa yang dilindungi Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya tersebut bisa berada di rumahnya.

Feri membeli Binturong melalui facebook di akhir Desember 2018 yang lalu, saat itu harganya Rp 4.000.000,00. Sementara Rangkong menurut pengakuannya dibeli dengan harga Rp 750.000,00 dan Julang emas seharga Rp 350.000,00. Selanjutnya Feri memperjualbelikan satwa tersebut melalui posting di akun media sosialnya yaitu facebook dan dilanjutkan di whatsapp.

“Putusan PN Tulungagung masih jauh dari harapan kami. Centre for Orangutan Protection berharap vonis seharusnya bisa membuat efek jera bagi pelaku dan bagi para pedagang satwa dilindungi yang sedang beroperasi dapat segera menghentikan kegiatannya. Ini tidak sebanding dengan dampak ekologis. Kepunahan suatu jenis satwa yang menyebabkan terganggunya rantai ekosistem dan akan berdampak negatif bagi kehidupan manusia.”, ujar Daniek Hendarto, direktur operasional Centre for Orangutan Protection dengan kecewa.

PIDANA PENJARA 4 BULAN UNTUK PEDAGANG 4 KUKANG

Empat Kukang (Nycticebus spp) dan satu Alap-Alap Sapi (Falco moluccensis) akhirnya diselamatkan dari perdagangan online dari rumah terdakwa Uki atau M. Sahalal Marzuki di kabupaten Tulungagung pada tanggal 8 Januari 2020. Di tahun 2019 Uki juga pernah melakukan jual-beli dua ekor Alap Alap Tikus sebesar Rp 200.000,00 hingga Rp 350.000,00 sementara satu Alap Alap Sapi seharga Rp 200.000,00 juga. 

Uki mengunggah foto dan video satwa yang akan dijualnya ke grup whatsapp seperti Group Hewan Apendiks, Seller Apendiks Punya Birahi, Rumah Adopsi Hewan, Jual Beli Hewan T. Agung. Blitar dan Animal Fun Kediri (AFK). 

Pengadilan Negeri Tulungagung menjatuhkan pidana kepada Terdakwa dengan pidana penjara selama empat bulan dan denda sejumlah Rp 1.000.000,00 dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama satu bulan.

“Syukurlah keempat kukang dan satu alap-alap bisa diselamatkan. Sayang satu kangkareng perut putih tidak dapat diselamatkan. Semoga satwa liar yang berhasil selamat dapat kembali ke habitatnya. Vonis masih jauh dari hukuman maksimal, sementara kerugian ekologis akan terus terakumulasi. Terimakasih tim Polda Jatim atas kerja kerasnya.”, ujar Daniek Hendarto, direktur operasional COP.

DUA LUTUNG JAWA MATI DALAM PERDAGANGAN SATWA, TERDAKWA DINOVIS 4 BULAN

Harga satu ekor Elang Brontok Rp 1.500.000,00. Belum lagi harga satu Julang Emas beserta anakannya dan dua Lutung Jawa. Lalu satu ekor Trenggiling yang dihargai Rp 600.000,00. Akhirnya Ahmad Saifudin harus menjadi terdakwa dan terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “dengan sengaja menyimpan, memiliki dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup.”. Pengadilan Negeri Tulungagung menjatuhkan pidana kepada terdakwa dengan pidana penjara selama empat bulan dan denda sejumlah Rp 1.000.000,00. “Kecewa sekali dengan putusan ini. Elang merupakan top predator dalam rantai makanan, memiliki peran yang sangat besar dalam ekosistem. Vonis yang diberikan juga tidak sebanding dengan kematian kedua lutung jawa akibat perdagangan online melalui facebook ini. Centre for Orangutan Protection berharap, hukum dapat ditegakkan agar tidak ada lagi Ahmad Saifudin lainnya.” ungkap Daniek Hendarto, direktur operasional COP dengan prihatin. “Lagi-lagi facebook menjadi media kejahatan satwa. Lagi-lagi whatsapp menjadi sarana komunikasi sebuah kejahatan. Perkembangan dunia komunikasi modern kembali disalahgunakan. Dunia kejahatan satwa liar seperti menemukan kenyamanan. Kami memanggil seluruh orangufriends untuk terus menerus menjadi mata, telinga, mulut bahkan kulit untuk satwa liar.”.

DENDA 1 JUTA UNTUK TERDAKWA 2 KANGKARENG PUTIH

Setelah melalui enam persidangan, terdakwa 2 (dua) Kangkareng Perut Putih (Anthracoceros Albirostris) yaitu Dadang Andri Krisbyantoro alias Satrio akhirnya terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “dengan sengaja menyimpan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup”, oleh PN Tulungangung. 

Kedua Kangkareng tersebut adalah satwa dagangan online. Ini adalah pengembangan kasus yang dikerjakan anggota Unit III Subdit IV Tipider Ditreskrimsus Polda Jatim. 8 Januari 2020 adalah hari yang luar biasa, empat pedagang satwa liar tertangkap tangan memperjualbelikan satwa liar dilindungi. “Kerja keras dan teliti dari Polda Jatim, patut diancungi jempol!”, ujar Daniek Hendarto, direktur operasional COP. 

Pengadilan Negeri Tulungagung pada 23 April 2020 menjatuhkan pidana penjara selama 4 (empat) bulan dan denda sejumlah Rp 1.000.000,00 dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar, diganti dengan pidana kurungan selama 1 (satu) bulan. “Ini adalah kemenangan kita semua, tim Polda Jatim yang cepat tanggap, semoga tidak ada lagi burung Kangkareng Perut Putih yang berakhir di pedagang bahkan rumah penduduk.”, kata Daniek lagi.

COLA, SI ORANGUTAN YANG BERJALAN TEGAK

Komitmen kedua negara antara Indonesia dan Thailand untuk memerangi perdagangan satwa liar ilegal diwujudkan dengan telah selesainya kasus hukum di negeri Thailand dan satwa yang diseludupkan kembali ke tanah air. Cola, orangutan repatriasi ini, telah tiba di Berau, Kalimantan Timur.

Perilaku menyimpang dengan berjalan tegak dengan kedua kakinya dan sering membanting-bantingkan tubuhnya ke lantai merupakan catatan tersendiri untuk pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Kelahirannya di Thailand dan terpaksa berpisah dengan induknya saat Cola berusia tiga bulan, mengisyaratkan betapa dekatnya dia dengan manusia dan kemungkinan besar tak mengenal prilaku alami orangutan. 

Perpindahan Cola dari kandang transportasi yang dihuninya selama lebih 2×24 jam terlihat sempat membuatnya nyaman. Cola enggan untuk keluar dari kandang transport tersebut. Lima belas menit pertama, dia semakin masuk ke dalam kandang transportnya, perlahan dia melangkahkan kakinya ke kandang karantina COP Borneo. Kembali berdiri tegak sembari melipat tangannya di dada. Cola berjalan dengan tegak, namun di langkah ke empat, desain kandang memaksanya untuk menggunakan keempat alat geraknya. Kedua tangannya memegang lantai besi. “Tentu saja sulit bagi orangutan untuk berjalan seperti manusia dengan desain kandang seperti ini. Kandang Cola saat di Khao Son Wildlife Breeding Center, Thailand berlantai semen, dan itu memang memudahkan dia untuk berdiri tegak.”, ujar drh. Flora Felisitas, dokter hewan COP Borneo yang ikut menjemput Cola di Thailand.

Proses pemulangan orangutan Cola bukanlah hal yang mudah. Komunikasi antara kedua negara dan komunikasi internal di dalam negara masing-masing juga menjadikan repatriasi orangutan berhasil. Terimakasih semua pihak yang telah terlibat, semoga Cola bertahan dan berhasil kembali ke habitatnya.

ORANGUTAN KEMBALI MENJADI KORBAN SENAPAN ANGIN

Jakarta – Terjadi kembali orangutan dengan peluru senapan angin di tubuhnya, kali ini terjadi di wilayah Aceh Selatan, tepatnya di desa Gampong Teugoh, kecamatan Trumon Aceh Selatan, provinsi Aceh. Satu individu orangutan dievakuasi oleh tim BKSDA Aceh Selatan dan OIC pada 20 Desember 2019 dengan kondisi yang cukup memprihatinkan. Tim SOCP melakukan pemeriksaan dan hasilnya ditemukan 24 peluru jenis senapan angin.

“Kejahatan senapan angin terjadi kembali dan lagi, orangutan menjadi korbannya. Ini sebuah hal yang pahit ekali dalam upaya konservasi orangutan di Indonesia, dimana ancaman akan senapan angin terus terjadi.”, Hery Susanto, kordinator Anti Wildlife Crime COP.

Centre for Orangutan Protection mencatat kasus orangutan dengan peluru senapan angin ada 52 kasus sejak tahun 2006 hingga 2019. Data ini dikumpulkan dari 5 lembaga konservasi orangutan di Indonesia. Adapun lembaga tersebut adalah OIC, BOSF, SOCP, YIARI dan COP. Terbanyak dari kasus senapan angin yang terjadi pada tanggal 3 Februari 2018 di Teluk Pandan, Kutai Timur, Kalimantan Timur dengan kasus 130 peluru.

“Dari banyaknya catatan kasus ini pastinya menjadi fenomena yang cukup mengkhawatirkan dimana senapan angin tetap menjadi ancaman satwa liar, khususnya orangutan. Terkadang tim harus mengevakuasi orangutan dalam kondisi luka parah, cacat hingga mati akibat luka dari senapan angin ini.”, ujar Hery Susanto lagi.

Pengawasan yang ketat dan penegakkan hukum menjadi kunci penting agar kejahatan ini tidak terulang kembali. Kita berharap aparat penegak hukum tidak perlu menunggu data orangutan dengan peluru bertambah lagi untuk bertindak tegas. Karena dengan data yang saat ini menjadi bahan dorongan yang kuat agar aturan tentang penggunaan senapan angin perlu diawasi.

“Senapan angin sudah menjadi teror bagi satwa liar. Aturan serta pengawasan penggunaannya perlu diawasi dengan ketat jika tidak ingin muncul korban orangutan lainnya.”, Hery Susanto, Anti Wildlife Crime COP.

Informasi dan wawancara:

Hery Susanto, 

Anti Wildlifecrime Centre for Orangutan Protection

Mobile Phone : 081284834363

email : info@orangutanprotection.com

BANTU PADAMKAN API DI DESA MERASAK

Hujan tak kunjung turun. Labanan, Berau, Kalimantan Timur diperburuk dengan musim berladang yang membuat api menjalar semakin liar. Tak hanya ladang yang seharusnya dibuka untuk musim tanam selanjutnya, angin dan keringnya tanaman membuat api tak lagi terkontrol. “Kami di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo bersiap untuk yang terburuk. Mencegah lebih baik, tapi apa daya, turun langsung membantu melokalisir kebakaran menjadi pilihan saat ini. Semoga tak berlanjut ke COP Borneo.”, ujar Ramadhani, manajer COP untuk Kalimantan. 

11 September 2019, kelas sekolah hutan dihentikan. Tim dibagi menjadi dua untuk segera membantu masyarakat desa Merasak, Berau, Kalimantan Timur untuk memadamkan api yang sudah terlanjur menyebar kemana-mana. Dengan berbekal 3 jet shooter, mesin air dan selang tim APE Defender menuju ke lokasi. Bersyukur sekali kami tidak hanya sendiri, masyarakat dan BNPB Berau juga sedang menuju ke lokasi. “Sayang, api sudah menjalar dan kebakaran semakin luas.”, ujar Linau, animal keeper yang turun ke lokasi kebakaran. 

Terimakasih atas dukungan para suporter COP dimana pun berada. Kebakaran lahan adalah bencana yang hampir setiap tahun terjadi. Panasnya suhu di kebakaran lahan juga membuat gerak tim menjadi lambat. “Kami harus memperhatikan keselamatan tim juga. Safety first, begitu yang harus diutamakan. Kami juga mengatur istirahat. Tetap dukung kami dan doakan kami.”, ujar Wety Rupiana, baby sitter orangutan yang ikut turun di kebakaran lahan Merasak kali ini. 

THERE IS PUFF OF SMOKE ABOVE THE LABANAN FOREST

Periodically, the APE Crusader team who happened to be at the COP Borneo orangutan rehabilitation center flew a drone. Observing landscapes from above is now much easier than before. “There is a puff of smoke. interesting to visit. It’s not too far away, only about 2 km, “said Wety Rupiana.

The closer, the clearer was the Labanan Research Forest that had caught fire. “You see an open part.” What will be lost? Flora, fauna and even the COP Borneo orangutan rehabilitation center may also be lost.

Labanan Research Forest has 53 genera of low-level plants, 183 genus of high-level plants. 62 species of Dipterokarpa which are the icon of this forest will also only remain in name. Carbon reserves of 123,912 tons will only remain on paper.

Labanan Research Forest is threatened by coal mining. Will we just stay quiet? Are we ready to lose the richness of the flora of the Kalimantan rainforest? (EBO)

ADA KEPULAN ASAP DI ATAS HUTAN LABANAN

Secara berkala, tim APE Crusader yang kebetulan sedang berada di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo menerbangkan drone. Mengamati bentang alam dari atas saat ini jauh lebih mudah dibandingkan dulu. “Ada kepulan asap. yang menarik untuk didatangi. Tak begitu jauh sekitar 2 km saja.”, ujar Wety Rupiana.

Semakin dekat, semakin jelas terlihat Hutan Penelitian Labanan yang terbakar. “Terlihat bagian yang terbuka.”. Apa yang akan hilang? Flora, fauna bahkan pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo mungkin juga akan hilang. 

Hutan Penelitian Labanan memiliki 53 genus tumbuhan tingkat rendah, 183 genus tumbuhan tingkat tinggi. 62 spesies Dipterokarpa (meranti) yang merupakan ciri khas hutan ini pun akan ikut tinggal nama saja. Cadangan karbon 123.912 ton tinggal hitungan diatas kertas saja. 

Hutan Penelitian Labanan terancam pertambangan batu bara. Apakah kita tinggal diam saja? Apakah kita siap kehilangan kekayaan flora hutan hujan Kalimantan ini? 

FIVE YEARS OF COP BORNEO ORANGUTAN RESCUE CENTER

Orangutan Rescue Center program is a joint work between the East Kalimantan Natural Resources Conservation Center and the Dipterokarpa Forest Ecosystem Research and Development Center. Infrastructure development was carried out in stages establish 1 block of quarantine cages, 1 block of socialization cages, 1 block of adult orangutan pens, 1 clinic, 1 employee mess, 1 kitchen, 2 bathrooms / toilets and 1 fruit warehouse. Throughout 2014 to 2019, Borneo COP has accommodated 24 individual orangutans from state confiscations, handed over by communities and victims of conflict.

Forest schools are part of the orangutan rehabilitation program under the age of 5 years. Currently there are 9 orangutans registered in the forest school program. Furthermore, while locations where orangutans are ready to be released needs further evaluation, the Center for Orangutan Protection is building orangutan monitoring posts and operating pre-release islands.

To date, there have been five individual orangutans released after going through the Borneo COP orangutan rehabilitation program. The existence of the Borneo COP also helps the East Kalimantan BKSDA in handling orangutan conflicts and supports the enforcement of wildlife crime in the East Kalimantan region.

Borneo COP also involves the community in providing orangutan feed, helps tourism conscious villages through village ecotourism programs and conducts free village animal treatment by the COP medical team. The strategic location of Borneo COP covering East Kalimantan and North Kalimantan has become an important part of orangutan conservation in a rehabilitation program. Hopefully the Orangutan Rescue Program in East Kalimantan can continue. (EBO)

LIMA TAHUN PUSAT PENYELAMATAN ORANGUTAN COP BORNEO

Program Pusat Penyelamatan Orangutan ini adalah kerja bersama antara Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur dan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa. Pembangunan infrastruktur dilakukan secara bertahap hingga menghasilkan 1 blok kandang karantina, 1 blok kandang sosialisasi, 1 blok kandang orangutan dewasa, 1 klinik, 1 mess karyawan, 1 dapur, 2 kamar mandi/wc dan 1 gudang buah. Sepanjang tahun 2014 hingga 2019, COP Borneo telah menampung 24 individu orangutan yang berasal dari sitaan negara, serahan masyarakat dan korban konflik.

Sekolah hutan adalah bagian dari program rehabilitasi orangutan yang berusia di bawah 5 tahun. Saat ini ada 9 orangutan yang terdaftar dalam program sekolah hutan. Selanjutnya kebutuhan pada lokasi dimana orangutan yang sudah siap untuk dilepasliarkan namun masih diperlukan evaluasi lebih dalam lagi, Centre for Orangutan Protection membangun pos monitoring orangutan dan mengoperasikan pulau pra-pelepasliaran.

Hingga saat ini, ada lima individu orangutan yang telah dilepasliarkan setelah melalui program rehabilitasi orangutan COP Borneo. Keberadaan COP Borneo juga membantu BKSDA Kaltim dalam penanganan konflik orangutan dan mendukung penegakkan hukum kejahatan satwa liar di wilayah Kalimantan Timur. 

COP Borneo juga melibatkan masyarakat dalam pengadaan pakan orangutan, membantu desa sadar wisata melalui progam ekowisata kampung (ecotrip) dan melakukan pengobatan satwa desa gratis oleh tim medis COP. Lokasi COP Borneo yang sangat strategis mencakup Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara telah menjadi bagian penting konservasi orangutan dalam program rehabilitasi. Semoga Program Penyelamatan Orangutan di Kalimantan Timur dapat terus berkelanjutan.

Page 2 of 2712345...1020...Last »