Pada pertengahan bulan Maret 2026, tim APE Crusader melakukan kegiatan School Visit di SDN 01 Kongbeng, Desa Miau Baru, Kaltim. Pagi itu kami berangkat menggunakan ambulan satwa liar menuju sekolah yang berada di kawasan Kongbeng. Bahkan sebelum mobil benar-benar sampai di halaman sekolah, kehadiran kami sudah menarik perhatian. Ambulan dengan logo kepala orangutan besar di sisinya menjadi pemandangan yang tidak biasa bagi warga sekitar. Dari kejauhan, anak-anak sudah berlarian menghampiri mobil dan menuntun kami sampai ke halaman sekolah dengan wajah penuh rasa penasaran.
“MBG wiihhh… MBG??”, seru salah anak dengan antusias, diikuti teman-temannya.
Ternyata mereka mengira mobil kami adalah kendaraan yang membawa Makan Bergizi Gratis (MBG). Rupanya selama ini sekolah mereka belum pernah mendapatkan jatah MBG, sehingga kedatangan mobil kami langsung disambut penuh harapan. Namun ketika tim turun dari mobil, anak-anak mulai menyadari bahwa yang datang bukan pembawa makanan, melainkan tim yang bekerja dengan satwa liar. Antusiasme pun berubah, dari menunggu makanan menjadi menunggu orangutan yang mereka kira ada di dalam ambulan.
Ketika pintu mobil dibuka, ternyata tidak ada orangutan, hanya poster, foto, dan perlengkapan edukasi. Meski begitu, rasa penasaran mereka tidak berkurang. Kegiatan pun dilanjutkan di dalam kelas. Tim memulai dengan “tepuk orangutan” untuk mencairkan suasana, lalu menyampaikan materi tentang orangutan, hutan, dan pentingnya menjaga alam.
Saat ditanya apakah ada yang pernah melihat orangutan, beberapa anak mengangkat tangan. Salah satu dari mereka bahkan berkata, “Aku pernah lihat… dipelihara!”. Jawaban itu menjadi kesempatan bagi tim untuk menjelaskan bahwa orangutan adalah satwa liar yang dilindungi dan seharusnya hidup bebas di hutan.
Menjelang akhir kegiatan, anak-anak sangat gembira saat menerima poster dan stiker orangutan, bahkan sampai berebutan. Antusiasme mereka juga membuat tim sedikit tertahan untuk pulang. Ketika kami kembali ke ambulan, beberapa anak masih mengerumuni mobil dan bahkan memanjat tangga di belakang ambulan untuk melihat lebih dekat.
Sebelum berangkat, tim sempat membunyikan sirine ambulan yang langsung disambut sorakan dan tawa anak-anak. Saat mobil mulai meninggalkan sekolah, mereka melambaikan tangan sambil berlari mengejar hingga ke ujung jalan.
Kami memang tidak membawa MBG seperti yang mereka harapkan di awal. Namun pagi itu meninggalkan sesuatu yang tak kalah penting yaitu tawa, pengetahuan bari, dan harapan bahwa dari sekolah kecil di Desa Miau Baru ini akan tumbuh generasi yang peduli pada orangutan dan hutan tempat mereka hidup. (DIM)
