Kemunculan empat beruang madu di area perkebunan masyarakat di Jorong Limpato, Nagari Kajai, Sumbar dilaporkan warga Pasaman Barat. Tim segera melakukan penyisiran di sekitar perkebunan masyarakat yang menjadi lokasi terakhir kemunculan dua indukan dan dua anakan beruang Sumatera. Namun tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan maupun aktivitas satwa.
Pemantauan dilanjutkan pada malam harinya, APE Protector COP bersama BKSDA Sumbar melakukan upaya penghalauan di lokasi yang sebelumnya menjadi tempat beraktivitas beruang madu. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya mengurangi potensi pertemuan kembali antara satwa dan masyarakat. Tim pun akhirnya melanjutkan penyisiran keesokan harinya.
Kemunculan satwa liar di sekitar perkebunan atau pemukiman bukan hanya persoalan keberadaan satwa yang dianggap mengancam. Kondisi tersebut juga menunjukkan adanya pertemuan antara ruang aktivitas manusia dan ruang hidup satwa liar. Situasi ini perlu mendapat perhatian, terlebih ketika perubahan kondisi lingkungan dapat memengaruhi pola pergerakan dan sumber pakan satwa. Dalam kondisi tertentu, satwa dapat bergerak lebih dekat ke area yang digunakan manusia untuk mencari makanan atau tempat berlindung.
Centre for Orangutan Protection memandang konflik satwa liar dari Dua Sisi, yaitu ada masyarakat yang perlu mendapatkan rasa aman, tetapi ada pula satwa liar yang harus dilindungi agar tidak menjadi korban ketika berada terlalu dekat dengan manusia. Karena itu, respons terhadap laporan konflik tidak cukup hanya dengan mengusir satwa. Diperlukan verifikasi, pemantauan, pengumpulan informasi dari masyarakat, hingga tindakan yang terukur untuk memahami situasi di lapangan. Ketika manusia dan satwa liar bertemu di ruang yang sama, tujuan akhirnya bukan memenangkan salah satu pihak, yang dicari adalah cara agar masyarakat tetap aman dan satwa tetap memiliki kesempatan untuk kembali ke habitatnya. (APE_Protector)
Sudah tıga bulan sejak orangutan Jane menjadi penghuni paling baru di baby house BORA. Saat pertama kali dititipkan di akhir bulan Juni tahun ini, usianya hanya sekitar 1,5 tahun. Walau baru tida bulan menjadi babysiter nya, saya sudah menetapkan Jane sebagai salah satu orangutan terpintar di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). Saya takjub begitu melihat orangutan sekecil itu menjelajah dengan lincah di tajuk-tajuk pohon tinggi dan mencari pakan-pakan alami seperti kambium dan buah hutan, kadang ia memotek ranting untuk dijadikannya sarang sederhana, begitu bersemangat memecahkan pengayaan buatan dan alami yang diberikan meski kondisi jarinya yang tidak sempurna.
Namun, sepandai dan semandiri apa pun Jane, ada kalanya ia bersikap menja layaknya bayi orangutan pada umumnya. Seperti hari ini, Jane tampak gembira bermain di lantai playroom baby house, menutup seluruh badannya dengan karung goni lalu berjalan mengitari playroom, sesekali ia akan berguling dan menyeret karung goninya mendekati saya. Saat saya mengulurkan tangan, Jane akan sok tidak peduli dan kembali berguling menjauh.
Kadang saat sekoilah hutan, Jane akan sulit untuk diajak pulang. Ia masih senang eksplorasi dari pohon ke pohon. Jadi, saya akan membiarkan Jane melanjutkan sekolahnya sambil mengajak Charlie, penghuni baby house lainnya, untuk pulang terlebih dahulu. Namun, Jane sangat tidak suka sendirian. Saat melihat saya dan Charlie pulang, Jane akan merengek dan turun menghampiri saya dengan sendirinya, lalu meminta digendong seperti anak kecil.
Ada satu kebiasaan Jane yang akhir-akhir ini saya pikirkan. Ia selalu merengek dan menangis saat melihat saya pergi ke dalam hutan. Padahal saya hanya mencari daun sebagai pengayaan untuk alas tidurnya. Saya tidak tahu mengapa ia menangis begitu nyaring, tetapi ada satu hipotesis yang terlintas di otak saya.
Mungkinkah ia takut terpisah dengan saya seperti saat ia terpisah dengan ibunya?
Saya tidak tahu jawaban pastinya. Mungkin, menangis hanya cara Jane meminta saya untuk tetap berada di dekatnya. Namun, setiap kali mendengarnya, saya kembali diingatkan bahwa di balik kepiawaiannya menjelajah tajuk pohon, mencari pakan, dan memecahkan pengayaan, Jane tetaplah bayi orangutan yang masih membutuhkan rasa aman dan kasih sayang. Ia mungkin sedang belajar untuk mandiri, tetapi bukan berarti ia harus berhenti menjadi bayi. (FIQ)
Senin, 14 September 2026 suasana Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit terasa berbeda. Sekitar 100 siswa dari SDN 101833 Sibolangit, SMPN 2 Sibolangit, dan MTs YPI Al Hilal Bandar Baru berkumpul untuk mengikuti rangkaian edukasi konservasi dalam rangka memperingati Hari Kukang Sedunia. Kegiatan ini merupakan kolaborasi bersama Resort CA/TWA Sibolangit BBKSDA Sumatera Utara, Yayasan Patron Satwa Indonesia (YPSI), dan Centre for Orangutan Protection (COP).
Dalam sesi edukasi, COP mengajak para siswa mengenal lebih dekat tentang orangutan, mulai dari kehidupan dan habitatnya hingga berbagai ancaman yang membuat keberadaan satwa ini menghadapi tantangan. Pesan penting juga disampaikan bahwa satwa liar bukanlah hewan peliharaan. Keinginan untuk memelihara satwa liar justru dapat menjadi awal dari masalah yang lebih besar bagi satwa dan alam.
Tidak hanya mendengarkan, para siswa juga diajak terlibat secara aktif melalui diskusi interaktif dan permainan edukatif. COP berusaha membuat konservasi lebih udah untuk dipahami dan dekat dengan kehidupan sehari-hari anak-anak dengan cara yang lebih ringan dan menyenangkan.
Kegiatan ini juga diikuti dengan aksi bersih lingkungan, mengajak peserta elihat bahwa menjaga satwa liar tidak dapat dipisahkan dari menjaga habitatnya. Lingkungan yang sehat merupakan bagian penting dari keberlangsungan kehidupan berbagai spesies. Dari kukang hingga orangutan, pesan yang dibawa hari ini sederhana yaitu satwa liar hidup di alam, bukan di rumah manusia. COP akan terus mendorong tumbuhnya kepedulian sejak usia dini karena melindungi satwa liar bukan hanya tentang menyelamatkan satu spesies, tetapi juga menjaga hutan dan kehidupan yang bergantung di dalamnya. (APE_Sentinel)
