COP BORNEO DI KHDTK LABANAN UNTUK LIMA TAHUN KEDEPAN

Centre for Orangutan Protection (COP) pada hari ini, bertempat di Kantor Sekretariat Badan Litbang dan Inovasi di Bogor melakukan tanda tangan untuk Perjanjian Kerjasama dengan Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Inovasi KLHK tentang penyediaan areal KHDTK Labanan di Berau untuk lokasi Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan. Perjanjian kedua belah pihak ini dihadiri dan ditandatangani oleh DR. Ir. Sylvana Ratina, M.Si selaku Sekretaris Badan Penelitian Pengembangan dan Inovasi sekaligus pelaksana tugas Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa.

Dalam kesempatannya ibu Sylvana mengharapkan kerjasama ini dilaksanakan dengan baik dan sesuai dengan isi kerjasama. “Ini adalah wujud nyata dari Badan Litbang dan Inovasi mendukung upaya konservasi orangutan dan kerjasama ini merupakan lanjutan dari perjanjian kerjasama lima tahun sebelumnya, semoga lima tahun kedepannya upaya rehabilitasi yang dilakukan oleh mitra kami COP bisa lebih baik lagi.”.

Ketua COP, Daniek Hendarto sangat senang dengan ditandatangani kerjasama lanjutan lima tahun kedepan (2020-2025) setelah kerjasama lima tahun sebelumnya telah terlaksana dan berjalan.

Tanda tangan Perjanjian Kerjasama ini juga disaksikan oleh Kepala Bagian Program dan Kerjasama DR. Kristianto, Kasubag Kerjasama Yudi Fatwa Hudaya dan perwakilan B2P2EHD bapak Eded Suryadi. (DAN)

 

MASUK MASA NEW NORMAL, ORANGUTAN DI KALIMANTAN TENGAH TETAP TERANCAM

Pandemi COVID-19 telah mengubah banyak hal pada kehidupan manusia. Hal ini mengharuskan manusia untuk beradaptasi dengan kebiasaan dan tatanan hidup yang baru yaitu New Normal. New Normal menuntut manusia untuk beradaptasi dengan kebiasaan baru agar dapat tetap berlanjut, mulai dari kebiasaan menjaga jarak, mencuci tangan, memakai masker hingga pembatasan transportasi. Namun bagaimana dengan perubahan kehidupan orangutan di habitatnya di masa New Normal?

Pada 11 Juli 2020, BKSDA Kalimantan Tengah bersama OFI melakukan penyelamatan dan translokasi satu individu orangutan liar di suatu perkebunan kelapa sawit di kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Pada video yang diunggah di media sosial BKSDA Kalteng, terlihat tim Wildlife Rescue Unit (WRU) BKSDA dan Orangutan Rescue Unit OFI melakukan penyelamatan satu individu orangutan jantan berumur kurang lebih 8 tahun dengan mengenakan pakaian APD lengkap.

Sebelumnya, BKSDA Kalimantan Tengah pernah menangani kasus penyiksaan orangutan di suatu perkebunan kelapa sawit di kabupaten Seruyan pada tanggal 30 November 2019. BKSDA Kalteng bersama OF-UK melakukan penyelamatan orangutan dengan kondisi penuh luka dan empat peluru senapan angin yang bersarang ditubuhnya. Selain itu, pada awal tahun 2020, BKSDA Kalteng juga melakukan penyelamatan dan translokasi dua individu orangutan jantan di dua lokasi berbeda di kabupaten Kotawaringin Barat.

Ancaman terhadap orangutan terus terjadi, meskipun terjadi pandemi ataupun adanya tatanan baru. “Pandemi menjadikan kita mengevaluasi kondisi saat ini. Sementara, tatanan baru seharusnya mendorong kelestarian lingkungan yang lebih baik dengan melindungi habitat orangutan dari segala ancaman.”, kata Sari Fitriani, manajer Perlindungan Habitat Orangutan COP. (SAR)

LIMA BELAS HARI INI, SEPTI TIDAK KEMBUNG

Ada satu gadis manis yang selalu membuat penggemarnya khawatir. Dia yang selalu terlihat kalem dengan gaya tatanan rambutnya yang khas, poni yang disisir ke belakang. Yup… dia adalah Septi. Septi yang telah dua kali menjadi kakak maupun ibu asuh dari bayi-bayi orangutan di Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo.

Septi selalu mempunyai masalah perut kembung. Perutnya sering terlihat membesar dan keras. Sewaktu ada bayi Alouise, Septi tidak terlalu sering kembung. Mungkin karena bayi Alouise selalu memeluknya sehingga Septi merasa lebih hangat dan ada yang menekan-nekan perutnya secara alami. 

Untuk mengurangi kembungnya, tim medis juga sudah menghindari makanan yang mungkin bisa memicu perut kembung. Bahkan langsung menghapus jenis buah yang langsung membuat Septi keesokan harinya kembung. Tapi ternyata Septi masih juga kembung. 

Bahkan, salah seorang pengemarnya telah mengirimkan pengobatan khusus dan tentu saja doa dan harapan untuk kesembuhannya. Semua yang mengenal orangutan Septi berharap kesembuhannya. Dan selama lima belas hari ini, Septi tidak kembung. Sungguh menggembirakan, melihatnya bergerak aktif, walau memang Septi bergerak dengan lamban, baik itu menuju makanannya, menyusun daun maupun ranting atau naik ke atas hammocknya. 

“Ayo Septi… kamu bisa. Banyak penggemarmu yang mengharapkan kabar baik darimu. Kemungkinan untuk dilepasliarkan?”. Setiap orangutan adalah pribadi yang unik. Perkembangan satu orangutan dengan yang lainnya berbeda. Mimpi melihatnya di atas pohon adalah mimpi terbaik. Jalan itu masih panjang, tapi tak pernah ada yang mustahil. Terimakasih untuk kamu yang sangat peduli pada Septi.

Page 3 of 33612345...102030...Last »