EDUKASI MITIGASI BENCANA DI SMA INSAN MULIA BOARDING SCHOOL

Pada Jumat, 17 April 2026, Tim Disaster melaksanakan kegiatan edukasi mitigasi bencana di SMA Insan Mulia Boarding School, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini berlangsung mulai pukul 13.30 hingga 15.00 WIB dan diikuti oleh 90 peserta didik dari kelas X dan XI. Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana, khususnya di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.

Sekolah ini memiliki posisi yang cukup strategis sekaligus rentan, karena berjarak sekitar 20-25 kilometer dari Kawasan Rawan Bencana (KRB) I berdasarkan peta potensi bahaya Gunung Merapi. Kedekatan geografis ini menjadikan edukasi kebencanaan bukan hanya penting, tetapi juga sangat relevan bagi seluruh warga sekolah. Dalam konteks ini, pemahaman yang baik mengenai langkah-langkah mitigasi dapat menjadi bekal penting untuk mengurangi risiko dan dampak yang mungkin terjadi di masa mendatang.

Dalam sesi edukasi, Tim Disaster tidak hanya memperkenalkan profil dan kegiatan tim, tetapi juga menyampaikan materi mengenai mitigasi bencana yang berfokus pada perlindungan satwa. Topik ini menjadi penting karena dalam banyak kejadian bencana, satwa sering kali menjadi pihak yang paling terdampak namun kurang mendapatkan perhatian. Melalui pendekatan ini, peserta diajak untuk memahami bahwa upaya penyelamatan saat bencana tidak hanya sebatas pada manusia, tetapi juga mencakup makhluk hidup lain yang berbagi ruang hidup yang sama.

Materi yang disampaikan mencakup pengenalan dasar tentang animal disaster relief, langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk melindungi satwa saat terjadi bencana, serta pentingnya kesiapsiagaanku sejak dini. Para siswa terlihat antusias mengikuti sesi demi sesi, terutama saat diskusi interaktif yang membuana ruang bagi mereka untuk bertanya dan berbagi pandangan. Hal ini menunjukkan bahwa generasi muda memiliki kepedulian yang tinggi terhadap isu kemanusiaan dan lingkungan, termasuk perlindungan satwa.

Kegiatan ini juga menjadi sarana untuk menanamkan nilai empati dan tanggung jawab kepada peserta didik. Dengan memahami bahwa satwa juga merupakan bagian dari ekosistem yang perlu dilindungi, diharapkan para siswa dapat menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing. Mereka tidak hanya diharapkan mampu melindungi diri sendiri saat terjadi bencana, tetapi juga memiliki kesadaran untuk membantu makhluk hidup lain yang terdampak.

Melalui kegiatan ni, Tim Disaster berharap dapat terus memperluas jangkauan edukasi kebencanaan, terutama di wilayah-wilayah yang berada di sekitar kawasan rawan bencana. Kolaborasi dengan institusi pendidikan menjadi langkah strategis dalam sebangun budaya sadar bencana sejak dini. Dengan pengetahuan dan kesiapan yang memadai, risiko dapat diminimalkan dan dampak bencana dapat ditekan.

Edukasi seperti ini menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan adalah tanggung jawab bersama. Di tengah ancaman bencana alam yang tidak dapat diprediksi, langkah kecil dalam meningkatkan pemahaman dan kesadaran dapat membawa dampak besar bagi keselamatan manusia dan satwa di masa depan. (VID)

MERAWAT HARAPAN SUMBER PAKAN ORANGUTAN DI SRA

Merawat di Sumatran Rescue Alliance (SRA) bukan sekedar pekerjaan teknis. Ia adalah pilihan untuk tetap tinggal, untuk terus mencoba, bahkan ketika hasilnya tak selalu sesuai harapan. Pada 1 dan 16 Januari 2026, tim APE Sentinel COP bersama SRA menanam berbagai bibit pohon. Mulai dari sukun, rambutan, alpukat, cempedak, hingga Nangka ditanam di sekitar area SRA yang memiliki area terbuka yang tidak ada pepohonan, area longsoran terbuka di depan kandang Robert merupakan tanah yang tidak cukup ramah.

Beberapa minggu berselang setelah ditanam.Bukan untuk merayakan, tapi untuk melihat kenyataan. Sebagian besar bibit masih hidup. Daun-daunnya tidak sempurna mengering di ujung, menguning di beberapa bagian. Tapi mereka bertahan. Dalam diam, mereka menegaskan satu hal, hidup adalah proses menyesuaikan diri. Di area kandang karantina yang baru, bibit aren dan cempedak bahkan menunjukkan hasil lebih baik. Semua hidup. Semua tumbuh. Di ruang yang lebih terjaga, kehidupan tampak lebih mungkin.

Namun alam selalu punya cara untuk mengingatkan batas manusia. Di area tebing, banyak bibit hilang. Sebagian rusak, sebagian tercabut. Umbut-umbut muda yang seharusnya tumbuh justru tergeletak di tanah. Jejak yang tertinggal menunjukkan siapa yang datang (babi hutan). Mereka tidak tahu soal rencana restorasi, tidak peduli pada harapan manusia. Mereka hanya menjalankan naluri dan di situlah letak benturannya. Apa yang bagi manusia adalah upaya memulihkan, bagi makhluk lain bisa jadi sebuah camilan atau gangguan. Lanskap ini tidak kosong. Ia sudah lama dihuni, jauh sebelum manusia datang membawa bibit dan rencana.

Pemantauan terus berjalan. Tim mendata ulang, memeriksa satu per satu, termasuk di enklosur dan kandang-kandang lain. Tidak ada yang instan. Semua dicatat, semua dipelajari. Di saat yang sama, perawatan tetap dilakukan. Pemupukan rutin menjadi bagian dari usaha menjaga yang masih tersisa. Sepuluh karung pupuk telah habis digunakan. Tapi merawat tidak pernah berhenti pada apa yang tersedia. Ia adalah tindakan berulang yang kadang terasa sia-sia, tapi tetap dilakukan.

Dari hasil diskusi bersama berikutnya mulai disusun. Penanaman akan memprioritaskan bambu. Bukan karena mudah, tapi karena mungkin bertahan. Di tanah yang mudah longsor, di area yang rawan gangguan, pilihan harus realistis. Merawat berarti menerima bahwa tidak semua akan berhasil. Bahwa sebagianakan hilang, sebagian akan mati, dan sebagian lagi jika beruntung makan akan tumbuh. Tapi justru di dalam ketidakpastian itulah merawi menemukan maknanya. (NAB)

PULIH, AKTIF, DAN SEMAKIN PERCAYA DIRI

Harapi menunjukkan perkembangan yang cukup dinamis, baik dari sisi kesehatan maupun perilaku. Setelah sempat mengalami demam di awal bulan, kondisinya kini telah pulih dan terlihat kembali aktif mengikuti kegiatan sekolah hutan. Nafsu makannya tetap baik, dan ia mulai kembali menunjukkan energi serta rasa ingin tahu terhadap lingkungan sekitarnya.

Selama kilatan sekolah hutan, Harapi lebih banyak beraktivitas di tanah. Ia gemar bermain sendiri maupun bersama orangutan lain seperti Arto, Jainul, dan Ochre. Aktivitasnya mencakup eksplorasi berbagai sumber pakan alami di tanah, seperti buah jatuh, bunga, hingga sarang rayap. Sesekali, Harapi juga memanjat pohon untuk mencari kambium, meskipun durasinya masih relatif singkat.

Interaksi sosial Harapi cukup menonjol, meskipun ia masih sangat bergantung pada keberadaan babysitter maupun animal keeper. Ia kerap menghampiri mereka untuk meminta makanan atau perhatian, bahkan beberapa kali mencoba mencuri pakan dari tas animal keeper. Dalam beberapa kesempatan, Harapi juga terlihat bermain dengan individu lain, menunjukkan peningkatan dalam kemampuan bersosialisasi.

Dengan kondisi feses yang konsisten normal, Harapi saat ini berada dalam fase penting meningkatkan kemandirian, terutama dalam mengurangi ketergantungan terhadap manusia. Proses ini terus dilatih secara bertahap sepanjang bulan ini agar ia semakin percaya diri dalam mengeksplorasi hutan dan membangun keterampilan alaminya. (RAF)