SARANG PERTAMA FELIX

Hari itu seperti hari-hari biasanya di sekolah hutan BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). Semua orangutan beraktivitas dengan caranya masing-masing, ada yang foraging di kanopi pohon dan ada yang memilih bermain di lantai hutan. Sementara Felix, dia memilih berada di atas pohon eksplorasi dan mencari makan bersama Pansy.
“Ksrks… krksks… kskskr…”. Tiba-tiba terdengar suara dedaunan dari atas pohon. Seketika kami para keeper menengok ke atas pohon. Tidak disangka ternyata di atas phon, terlihat Felix yang sedang menyusun dedaunan yang dia telah petik di atara dua cabang pohon. Kami semua terkejut dan otomatis berucap, “Felix buat sarang!?”. Kami terkejut dan sedikit ada rasa tidak percaya dengan apa yang kami lihat. Felix yang biasanya mengekor pada babysitter atau memeluk kaki babysitter selama sekolah hutan, hari ini membuat sarang pertamanya.
Membuat sarang merupakan salah satu skill yang harus dikuasai oleh orangutan agar bisa bertahan hidup di alam liar. Dan insting Felix untuk mulai menyusun dedaunan menjadi sarang merupakan satu indikator perkembangan kemampuannya. Sebelumnya pun, Felix juga sudah terlihat mereparasi sarang-sarang lama dengan menumpukkan daun-daun baru di atas daun-daun yang sudah kering. Terkadang Felix juga terlihat melanjutkan sarang yang dibuat oleh orangutan lain dengan mematahkan ranting lalu menumpuk ranting tersebut ke pondasi sarang yang sudah ada.
Sarang yang dibuat Felix itu memang belum sempurna, bahkan pondasi sarang itupun masih sangat rapuh. Namun melihat bagaimana Felix bisa mencapai titik itu, tentu memberi rasa bangga dan haru. Kami menyadari bahwa Felix yang kami kenal adalah bayi orangutan yang manja, kini telah bertumbuh dengan cara dan ritmenya sendiri. (JAN)

GERAK CEPAT BKSDA SUMBAR BERSAMA APE PROTECTOR TANGANI KONFLIK BERUANG MADU

Kemunculan empat beruang madu di area perkebunan masyarakat di Jorong Limpato, Nagari Kajai, Sumbar dilaporkan warga Pasaman Barat. Tim segera melakukan penyisiran di sekitar perkebunan masyarakat yang menjadi lokasi terakhir kemunculan dua indukan dan dua anakan beruang Sumatera. Namun tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan maupun aktivitas satwa.
Pemantauan dilanjutkan pada malam harinya, APE Protector COP bersama BKSDA Sumbar melakukan upaya penghalauan di lokasi yang sebelumnya menjadi tempat beraktivitas beruang madu. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya mengurangi potensi pertemuan kembali antara satwa dan masyarakat. Tim pun akhirnya melanjutkan penyisiran keesokan harinya.
Kemunculan satwa liar di sekitar perkebunan atau pemukiman bukan hanya persoalan keberadaan satwa yang dianggap mengancam. Kondisi tersebut juga menunjukkan adanya pertemuan antara ruang aktivitas manusia dan ruang hidup satwa liar. Situasi ini perlu mendapat perhatian, terlebih ketika perubahan kondisi lingkungan dapat memengaruhi pola pergerakan dan sumber pakan satwa. Dalam kondisi tertentu, satwa dapat bergerak lebih dekat ke area yang digunakan manusia untuk mencari makanan atau tempat berlindung.
Centre for Orangutan Protection memandang konflik satwa liar dari Dua Sisi, yaitu ada masyarakat yang perlu mendapatkan rasa aman, tetapi ada pula satwa liar yang harus dilindungi agar tidak menjadi korban ketika berada terlalu dekat dengan manusia. Karena itu, respons terhadap laporan konflik tidak cukup hanya dengan mengusir satwa. Diperlukan verifikasi, pemantauan, pengumpulan informasi dari masyarakat, hingga tindakan yang terukur untuk memahami situasi di lapangan. Ketika manusia dan satwa liar bertemu di ruang yang sama, tujuan akhirnya bukan memenangkan salah satu pihak, yang dicari adalah cara agar masyarakat tetap aman dan satwa tetap memiliki kesempatan untuk kembali ke habitatnya. (APE_Protector)

JANE, SI BAYI ORANGUTAN YANG CERDAS

Sudah tıga bulan sejak orangutan Jane menjadi penghuni paling baru di baby house BORA. Saat pertama kali dititipkan di akhir bulan Juni tahun ini, usianya hanya sekitar 1,5 tahun. Walau baru tida bulan menjadi babysiter nya, saya sudah menetapkan Jane sebagai salah satu orangutan terpintar di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). Saya takjub begitu melihat orangutan sekecil itu menjelajah dengan lincah di tajuk-tajuk pohon tinggi dan mencari pakan-pakan alami seperti kambium dan buah hutan, kadang ia memotek ranting untuk dijadikannya sarang sederhana, begitu bersemangat memecahkan pengayaan buatan dan alami yang diberikan meski kondisi jarinya yang tidak sempurna.
Namun, sepandai dan semandiri apa pun Jane, ada kalanya ia bersikap menja layaknya bayi orangutan pada umumnya. Seperti hari ini, Jane tampak gembira bermain di lantai playroom baby house, menutup seluruh badannya dengan karung goni lalu berjalan mengitari playroom, sesekali ia akan berguling dan menyeret karung goninya mendekati saya. Saat saya mengulurkan tangan, Jane akan sok tidak peduli dan kembali berguling menjauh.
Kadang saat sekoilah hutan, Jane akan sulit untuk diajak pulang. Ia masih senang eksplorasi dari pohon ke pohon. Jadi, saya akan membiarkan Jane melanjutkan sekolahnya sambil mengajak Charlie, penghuni baby house lainnya, untuk pulang terlebih dahulu. Namun, Jane sangat tidak suka sendirian. Saat melihat saya dan Charlie pulang, Jane akan merengek dan turun menghampiri saya dengan sendirinya, lalu meminta digendong seperti anak kecil.
Ada satu kebiasaan Jane yang akhir-akhir ini saya pikirkan. Ia selalu merengek dan menangis saat melihat saya pergi ke dalam hutan. Padahal saya hanya mencari daun sebagai pengayaan untuk alas tidurnya. Saya tidak tahu mengapa ia menangis begitu nyaring, tetapi ada satu hipotesis yang terlintas di otak saya.
Mungkinkah ia takut terpisah dengan saya seperti saat ia terpisah dengan ibunya?
Saya tidak tahu jawaban pastinya. Mungkin, menangis hanya cara Jane meminta saya untuk tetap berada di dekatnya. Namun, setiap kali mendengarnya, saya kembali diingatkan bahwa di balik kepiawaiannya menjelajah tajuk pohon, mencari pakan, dan memecahkan pengayaan, Jane tetaplah bayi orangutan yang masih membutuhkan rasa aman dan kasih sayang. Ia mungkin sedang belajar untuk mandiri, tetapi bukan berarti ia harus berhenti menjadi bayi. (FIQ)