AKU, SEPTI DAN JAHE (1)

Septi, salah satu orangutan yang cantik dan menawan di Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo. Namun, dari awal kedatanganku sebagai tim medis di sini, ada yang mengganjal pikiranku saat ku bertemu dengannya. Pesan pertama yang ku lihat dari pandangannya adalah kehampaan. Sebelumnya Alouise selalu menemaninya setiap saat dan sekarang dia sendirian. Setiap kali dia mendengar suara bayi-bayi orangutan, ia langsung meletakan kedua tangannya di atas kepala, seperti teringat Alouise.

Septi memilki satu bagian tubuh yang besarnya melebihi ukuran pada normalnya. Ya… perutnya yang besar seperti ukuran bola basket. Saat kupegang dan ku ketuk, ternyata perutnya keras bak bola yang diisi angin berlebihan. Lalu aku memastikan apa isi perutnya menggunakan stetoskop. Yang aku dengar hanyalah angin dalam perutnya. Walaupun tim medis sudah menghilangkan pakan yang menyebabkan kembung, ternyata perutnya tak kunjung mengempis. Dan saat kuamati beberapa hari ini nafsu makannya sangat buruk.

Setelah aku dan tim medis lainnya melakukan pengamatan selama tujuh minggu, terbesit suatu ide pengobatan yang belum teruji sebelumnya di orangutan. Jahe… ya, jahe! Aku teringat masa studiku di salah satu universitas di Surabaya, saat aku mengalami kembung, aku selalu meminum wedang jahe. Kuberanikan diri mengusulkan memberi wedang jahe sebagai pengobatan kepada tim medis yang lain. Tim medis yang lain pun menyetujui ide pengobatan menggunakan jahe.

Apakah berhasil? (GIL)

ENRICHMENT KERANJANG BAMBU UNTUK ORANGUTAN

Sebelum matahari semakin terik, kami segera beranjak untuk melaksanakan rutinitas yang sudah berjalan tiga bulan terakhir, yaitu mengirimkan pakan untuk orangutan yang berada di Wildlife Rescue Center (WRC) Jogja. Pasar Gamping, salah satu pusat pasar buah di Jogjakarta, di situlah kami membeli pepaya, pisang, semangka, ketimun, ketela, kangkung, kacang panjang dan keranjang yang terbuat dari bambu untuk membuat enrichment dan memasukkannya ke dalam mobil APE Warrior.

Riuh suara berbagai satwa seperti Owa Jawa, Siamang dan satwa liar lainnya menyabut kedatangan kami berpadu dengan semilir angin yang sejuk khas WRC Jogja yang berada di Kulon Progo, cukup dekat dengan perbukitan menoreh. Kami segera memindahkan buah dan sayuran ke tempat penyimpanan pakan. Tak lupa bantuan masker medis untuk para perawat satwa dan beberapa suplemen vitamin. Jaring raksasa bantuan IFAW juga turut kami serahkan untuk membantu berbagai kegiatan di YKAY (Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta) nama lain dari WRC Jogja.

Kamis ini waktunya kami berkreasi membuat enrichment untuk ketujuh orangutan. Keranjang bambu yang kami beli di pedagang pasar, kami isi dengan pisang dan pepaya. Setelah itu kacang panjang dililitkan mengelilingi keranjang. Yang terakhir, mengikat keranjang dengan akar pohon beringin dengan kuat agar buah yang di dalam keranjang tidak cukup mudah untuk keluar. “Susah loh, kita sampai saling tarik untuk mengikatnya. Untuk orangutan yang punya kekuatan 20 kali atlet yang terlatih tentu ini bukan masalah ya. Tapi kita senang…”, ujar Grace sambil menunjukkan keranjang bambunya.

Dipandu drh. Tom, kami membawa tujuh keranjang enrichment untuk ketujuh orangutan. “Makan yang lahap ya! Semoga kalian segera kembali ke habitat kalian.”, pesan Grace dan teman-teman magangnya saat berpisah. Benarkah orangutan cukup sibuk dengan enrichment yang kali ini dibuat? Setidaknya, mereka tidak semudah biasanya mengambil makanan di tempat pakannya biasa diletakkan. (GRACE_MahasiswaMagang)

GUNUNG SINABUNG HARI INI

Gunung Sinabung yang dikenal tidak aktif ini telah mengalami erupsi sejak tahun 2010. Pada Senin, 10 Agustus 2020 pukul 10.16 WIB kembali mengalami erupsi dengan ketinggian kolom abu 5000 meter dengan intensitas tebal condong ke arah timur dan tenggara. Tim APE Warrior dari Centre for Orangutan Protection bersama Orangutan Information Centre melakukan asesmen terhadap erupsi yang sempat membuat cuaca menjadi gelap ini. 

Saat ini, gunung Sinabung masih berada di level III atau Siaga dimana terjadi peningkatan aktivitas vulkanik secara signifikan. Status kewaspadaan ini ditetapkan sejak Mei 2019. Letusan kemungkinan besar terjadi dan area potensi bahaya letusan berada di daerah Kawasan Rawan bencana (KRB) II. Masyarakat dilarang melakukan kegiatan di dalam area KRB II ini. 

Erupsi Sinabung hari ini menyebabkan tiga kecamatan di kabupaten Karo terpapar hujan abu. Ketiga kecamatan itu adalah Naman Teran, Berastagi dan Merdeka. Masyarakat masih beraktivitas seperti biasanya. “Memasuki tahun kesepuluhnya gunung Sinabung bangkit dari tidurnya, masyarakat terlihat tidak panik dalam menghadapi letusannya. Anak-anak terlihat masih bermain. Beberapa warga yang masih kembali ke desa yang telah direlokasi terlihat bergegas meninggalkan desa yang seharusnya sudah tidak berpenghuni ini. Guyuran hujan abu sesaat menghentikan aktivitas masyarakat di ladang. Satwa dan ternak masih terlihat tenang.”, ujar Sari Fitriani, COP dari desa terakhir kaki gunung Sinabung.

Page 10 of 348« First...89101112...203040...Last »