SISI LAIN ORANGUTAN BERNAMA MABEL

Dari arah lain di dalam hutan, Mabel sedang duduk santai di atas pohon sambil menikmati buah buni. Ia terlihat begitu asyik menjelajah dan mencari makanan sendiri. Sementara itu, aku berjalan lebih dulu menuju pohon tarap bersama Mba Fiqoh (animal keeper) yang membawa Cinta. Awalnya Mabel masih sibuk dengan buah buninya. Namun, ketika ia melihat aku berjalan semakin jauh meninggalkannya, tangannya berhenti bergerak. Mabel memperhatikan aku dari atas pohon. Dan aku terus berjalan.
Tiba-tiba terdengar suara kecil dari arah belakang. Mabel mulai merengek. Ia melihat aku lagi, lalu melihat sekelilingnya. Sepertinya ia tidak suka melihatku berjalan terlalu jauh darinya. Akhirnya, Mabel turun dari pohon. Ia meninggalkan buah buni yang tadi sedang dimakannya dan mulai berjalan cepat mengejarku. Begitu Mabel mendekat, Mba Fiqoh langsung memperhatikannya. Mba Fiqoh tertawa kecil lalu bertanya, “Kenapa Mabel? Tumben nangis?”.
Aku ikut tertawa melihat tingkah Mabel. “Ternyata dia bisa manja!”, jawabku.
Mba Fiqoh langsung tertawa. “Iya, biasanya paling nggak mau bermanja-manja.”
Aku melihat Mabel yang kini sudah memeluk kakiku. “Tadi ditinggal sedikit aja langsung turun dari pohon dan nyusul.”
Mba Fiqoh tertawa lagi.
“Berarti sebenarnya Mabel nggak mau jauh-jauh dari kamu.” kata mba fiqoh
Kami berdua pun tertawa bersama. Mabel seolah tidak peduli dengan percakapan kami. Ia hanya memastikan aku tetap berada di dekatnya. Lucu juga melihat Mabel hari itu. Biasanya ia adalah orangutan yang paling aktif menjelajah, berpindah dari satu pohon ke pohon lain, dan sibuk mencari makanan favoritnya seperti jengkol dan buah tarap. Tapi hari itu, Mabel menunjukkan sisi yang jarang terlihat. Ternyata, di balik sifatnya yang mandiri, Mabel juga bisa manja terutama ketika melihat orang yang ia percaya berjalan meninggalkannya. (LUK)

MENELUSURI KESIAPAN HABITAT HARIMAU SUMATRA

Upaya mempersiapkan habitat bagi pelepasliaran Harimau Sumatra terus dilakukan termasuk melakukan survei keberadaan satwa liar lain yang menjadi bagian penting dari ekosistem. Beberapa temuan seperti cakaran beruang madu, cakaran kucing-kucingan, jejak kijang, jejak tapir, feses kucing-kucingan, kaisan babi hutan, serta bekas sarang babi hutan menunjukkan bahwa kawasan tersebut masih memiliki daya dukung habitat yang baik.

Kabar baik lainnya datang dari kondisi keamanan habitat. Selama survei, tim tidak menemukan jerat aktif maupun jerat yang sudah tidak aktif. Tim menemukan bekas pondok pemburu di dua lokasi berbeda, namun pondok sudah cukup lama tidak digunakan. Tim juga berhasil mencapai lokasi yang direncanakan sebagai helipad. Setelah dilakukan pembersihan atau clearing, lokasi tersebut dinilai cukup baik karena memiliki kontur tanah yang relatif rata sehingga mendukung kebutuhan akses dalam kegiatan pelepasliaran.

Untuk memantau aktivitas satwa secara menyeluruh, tim memasang tiga unit kamera jebak (camera trap) selama tiga hari. Kamera berhasil merekam keberadaan beruang madu dan tapir Asia yang melintas di kawasan tersebut. Selain keberadaan berbagai satwa, kondisi vegetasi hutan juga masih tergolong baik. Tutupan dan kondisi hutan yang mendukung menjadi modal penting bagi keberlangsungan berbagai jenis satwa liar. Lalu, apakah hutan ini benar-benar siap menjadi rumahnya si raja hutan ini? (RON)

BELAJAR SIAGA BENCANA UNTUK SATWA DI SD NEGERI 2 DODOGAN

Dua puluh tahun lalu, gempa bumi besar mengguncang Yogyakarta dan meninggalkan jejak mendalam bagi masyarakat. Salah satu wilayah yang merasakan dampaknya adalah Kabupaten Bantul, termasuk lingkungan pendidikan di sekitarnya. Kini, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa kesiapansiagaan menghadapi bencana perlu terus ditanamkan kepada generasi muda.

Sebanyak 81 siswa SD Negeri 2 Dodogan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta diajak mengenali berbagai perlengkapan sederhana yang dapat membantu ketika terjadi keadaan darurat, seperti senter dan peluit. Mereka juga belajar bahwa kesiapsiagaan tidak selalu membutuhkan peralatan yang rumit. Hal paling penting adalah mengetahui risiko, memahami langkah yang harus dilakukan, serta mampu menyelamatkan diri terlebih dahulu.

Sebab, seseorang yang mampu menyelamatkan dirinya akan memiliki kesempatan lebih besar untuk membantu orang lain, termasuk satwa yang sering kali luput dari perhatian ketika bencana terjadi. Pembelajaran kemudian berlanjut pada satwa yang sering dianggap menakutkan, yaitu ular.

Bagi sebagian siswa, perjumpaan dengan ular mungkin bukan sesuatu yang asing. APE Warrior mengajak mereka melihat ular dari sudut pandang yang berbeda. Rasa takut merupakan hal yang wajar, tetapi bukan alasan untuk menyakiti atau membunuh satwa tersebut.

Ketika bertemu ular, siswa diajarkan untuk tetap tenang, menjaga jarak, tidak mencoba atau menangkap atau mengusir sendiri, serta segera meminta bantuan orang dewasa atau pihak yang memiliki kemampuan menangani satwa.

Di balik rasa takut tersebut, ular memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Keberadaannya membantu mengendalikan populasi satwa lain dan menjadi bagian dari rantai kehidupan di alam. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya belajar tentang kesiapsiagaan bencana, tetapi juga tentang empati dan tanggung jawab terhadap kehidupan di sekitar mereka. Karena kesiap-siagaan bukan hanya tentang menyelamatkan diri saat bencana datang, tetapi juga tentang memastikan bahwa manusia dan satwa dapat menghadapi situasi darurat dengan lebih aman. (VID)