PATROLI BERSAMA KPHP KELINJAU DI BUSANG

Pada 22 Mei 2026, kegiatan patroli kawasan kembali dilaksanakan di wilayah Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Busang. Kegiatan ini dilakukan bersama Pak Ibnu selaku Polisi Kehutanan dari Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Kelinjau dan tim patroli APE Guardian COP sebagai bagian dari upaya perlindungan serta pengamanan kawasan hutan yang menjadi habitat penting bagi berbagai satwa liar, khususnya orangutan.

Patroli bersama ini tidak hanya berfokus pada pengawasan kawasan, tetapi juga sekaligus melakukan pengecekan kondisi penanaman bibit pohon pakan orangutan yang sebelumnya telah ditanam di beberapa titik sepanjang jalur patroli. Jalur yang dipilih dimulai dari muara Sungai Hagar dan bergerak ke arah utara. Sementara jalur pulang mengikuti aliran Sungai Hagar yang memiliki banyak pohon pakan alami orangutan di sepanjang pinggiran sungai. Kondisi tersebut menjadikan area ini memiliki potensi tinggi untuk menemukan tanda-tanda keberadaan orangutan maupun sarangnya. Selain itu, beberapa titik penanaman bibit juga berada tidak jauh dari tepian sungai. Perjalanan patroli kali ini memperlihatkan bagaimana kondisi hutan terus berubah secara alami. Banyaknya pohon tumbang akibat badai menyebabkan jalur patroli yang biasa dilalui oleh tim menjadi tertutup. Tim harus beberapa kali membuka jalur baru untuk dapat melanjutkan perjalanan.

DI sepanjang jalur menuju utara, tim menemukan berbagai tanda keberadaan satwa liar. Bekas cakaran beruang madu terlihat pada batang pohon, menandakan satwa tersebut masih aktif menggunakan kawasan ini. Selain itu, tim juga menjumpai keberadaan burung Sempidan Biru Kalimantan serta beberapa sarang orangutan kelas 3 yang tersebar di area patroli. Saat perjalanan pulang menyusuri Sungai Hagar, tim kembali menemukan sarang orangutan kelas 3 di tepian sungai. Di samping temuan satwa tersebut, tim patroli juga menemukan sejumlah ancaman terhadap habitat. Tim mendapati jerat satwa berbahan nilon serta beberapa bekas tebangan pohon lama yang kondisinya sudah tertutup lumut dan mulai lapuk.

Selain patroli kawasan, tim juga melakukan pengecekan terhadap bibit pohon pakan orangutan jenis bayur (Pterospermum borneense) yang telah ditanam selama periode Januari hingga April 2026. Hasil mengecekkan menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Sekitar 70 persen bibit yang ditanam masih bertahan hidup dan menunjukkan pertumbuhan yang ditandai dengan munculnya kuncup serta daun-daun muda. Sementara itu, sekitar 30 persen bibit lainnya tidak berhasil bertahan hidup. Sebagaian besar kerusakan disebabkan oleh pohon tumbang alami yang menimpa area penanaman. Beberapa bibit lain mengalami pengeringan setelah daun-daunnya gugur. (Guardian Team)

DI ANTARA LUKA DAN KEPEDULIAN

Beberapa waktu lalu saya mendapatkan kesempatan untuk ikut terlibat dalam kegiatan penanganan satwa desa di Miau Baru bersama Centre for Orangutan Protection (COP) sebagai relawan. Kegiatan ini berfokus pada pengobatan dan penanganan hewan peliharaan milik masyarakat, seperti kucing, anjing, dan beberapa satwa lainnya. Bagi saya, pengalaman ini menjadi sesuatu yang sangat berharga karena membuka pandangan bahwa kepedulian terhadap satwa bisa dimulai dari hal-hal yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Dari kejauhan saya melihat masyarakat datang dengan harapan hewan peliharaan mereka bisa sehat dan tetap hidup sebagaimana mestinya. Melihat hal tersebut, saya semakin menyadari bahwa hubungan antara manusia dan satwa bukan hanya tentang kebutuhan, tetapi juga tentang rasa peduli dan tanggung jawab.

Sebagai relawan, saya belajar bahwa penanganan satwa tidak hanya soal tindakan medis, tetapi juga tentang kesabaran, komunikasi, dan kepedulian terhadap kondisi masyarakat sekitar. Ada banyak hal yang terlihat sederhana, tetapi sebenarnya memiliki arti besar, muai dari membantu proses penanganan, menenangkan hewan, hingga melihat antusiasme masyarakat yang ingin belajar merawat satwa dengan lebih baik.

Melalui kegiatan ini, saya belajar kepedulian terhadap satwa tidak selalu dimulai dari hal besar. Kadang, perhatian kecil terhadap hewan-hewan di sekitar kita juga menjadi bagian penting dalam membangun hubungan yang lebih baik antara manusia dan alam.

Terima kasih kepada seluruh tim COP dan masyarakat Desa Miau Baru atas pengalaman dan pembelajaran yang sangat berarti ini. Semoga kepedulian kecil yang tumbuh hari ini bisa menjadi langkah besar untuk masa depan yang lebih baik bagi manusia dan satwa. (Adi_Orangufriends Wahau)

MENEMUKAN KEMBALI CARA MELIHAT

Di sela-sela pekerjaan yang menuntut perhatian penuh pada layar laptop, ada kebiasaan yang perlahan terasa mulai memudar, yaitu mengamati hal-hal kecil di sekitar. Hari-hari saya sedang banyak dihabiskan di depan layar, menyunting foto dan video, menulis, serta menyelesaikan berbagai pekerjaan lain. Bahkan ketika memegang kamera saat mendokumentasikan sekolah hutan, fokus saya hampir selalu tertuju pada orangutan, satwa besar yang menjadi inti pekerjaan saya selama bertahun-tahun.

Namun siang itu, seekor burung mengganggu rutinitas itu.

Dari dalam kantor yang dikelilingi dinding kaca tembus pandang, saya melihatnya terbang bolak-balik melintasi halaman. Awalnya hanya sekilas. Lalu beberapa menit kemudian, ia kembali melintas lalu hinggap di tanah. Ada sesuatu dalam gerakannya yang terus menarik perhatian. Seolah-olah ia sedang sibuk dengan urusan yang tidak saya pahami.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya meninggalkan laptop, mengambil kamera, lalu berjalan keluar. Udara siang terasa berbeda ketika tidak dinikmati dari balik jendela. Saya duduk di atas kerikil halaman kantor, membiarkan mata beradaptasi dengan dunia yang selama ini ada di depan saya, tetapi jarang benar-benar saya perhatikan.

Tidak butuh waktu lama sebelum saya menyadari bahwa halaman kantor ternyata jauh lebih hidup daripada yang biasa saya lihat.

Seekor kadal muncul dari sela daun gugur. Sekitar satu meter di dekatnya, seekor bunglon berwarna hijau terang merayap perlahan di atas kerikil dan serasah. Burung-burung yang sebelumnya hanya menjadi titik-titik kecil dalam pandangan kini terlihat lebih jelas. Merbah mata merah datang dan pergi. Kipasan belang melompat-lompat di permukaan tanah sambil melebarkan ekornya. Burung cipoh kacat pun ikut bergabung, masing-masing dengan perilaku dan caranya sendiri mencari makan.

Mereka semua tampak memiliki tujuan yang sama. Di permukaan halaman, masih berserakan laron-laron yang tersisa dari semalam. Malam sebelumnya, lampu kantor sempat dikerubungi laron dalam jumlah besar. Ketika pagi datang, sebagian laron masih tampak bergerak di antara sayap-sayap yang menempel di tanah basah. Apa yang bagi manusia hanyalah sisa-sisa gangguan malam hari, bagi satwa liar justru menjadi pesta.

Setiap beberapa menit, ketika suasana terasa aman dari manusia, seekor burung turun bergantian menyambar mangsanya. Kadal-kadal memanfaatkan kesempatan yang sama. Seluruh halaman berubah menjadi panggung kecil dari sebuah peristiwa ekologis yang berlangsung tanpa penonton.

Dan yang paling menarik, semua itu sebenarnya terjadi tepat di halaman kantor. Bukan satwa-satwa itu yang baru datang. Sayalah yang akhir-akhir ini terlalu abai untuk melihatnya.

Duduk di sana membuat saya menyadari betapa mudahnya perhatian saya terserap oleh rutinitas dan berbagai prioritas yang harus segera diselesaikan. Dalam fotografi satwa liar pun demikian. Banyak dari kita sering memimpikan mamalia besar, predator langka, atau spesies ikonik yang menjadi kebanggaan sebuah kawasan. Sementara itu, kehidupan yang lebih kecil berlangsung diam-diam dan sering kita lewatkan.

Ada dunia yang penuh interaksi dan perjuangan hidup di sepetak tanah yang mungkin hanya kita lewati setiap hari tanpa menoleh. Burung, kadal, bunglon, dan laron menjadi bagian dari cerita yang sama, sebuah siklus kehidupan yang terus berlangsung bahkan ketika tidak ada manusia yang memperhatikannya. 

Alam tidak selalu menghadirkan keajaiban dalam bentuk yang spektakuler. Sering kali, ia hadir dalam detail-detail kecil yang hanya bisa ditemukan ketika kita melambat. Mungkin itu sebabnya fotografi selalu terasa lebih dari sekadar aktivitas mengambil gambar. Kamera hanyalah alasan untuk berhenti sejenak. Alasan untuk memperhatikan. Alasan untuk duduk lebih lama dan melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi di sekitar kita.

Siang itu saya memang pulang dengan foto beberapa jenis burung, kadal, dan bunglon. Tetapi yang paling berkesan bukanlah gambar-gambar yang tersimpan di kartu memori. Yang saya bawa pulang adalah pengingat bahwa alam tidak pernah berhenti bercerita. Kita saja yang sering terlalu sibuk untuk mendengarkannya.

Kadang, yang dibutuhkan hanyalah meluangkan waktu sejenak untuk meninggalkan layar, melangkah keluar, lalu duduk di atas tanah. Di saat itulah kita menyadari bahwa kehidupan liar tidak selalu berada jauh di pedalaman hutan. Ia bisa saja berlangsung tepat di halaman kantor, menunggu untuk diperhatikan. (RAF)