SRA DI LEVEL 3 , TUNGGU KAMI ORANGUTAN SUMATERA

Sumatra Rescue Alliance (SRA) lahir untuk orangutan dan primata di Sumatera. Pembangunan fisik klinik dan kandang sudah mulai terlihat. Dinding klinik sudah diketinggian tiga meter. Hujan yang terus menerus turun di sore hari memaksa tim memutar otak, mencari jalan bagaimana pembangunan dapat berjalan sesuai rencana.

Posisi pembangunan yang berada di seberang sungai Besitang, Sumatera Utara cukup menyulitkan bahan bagunan masuk ke lokasi. Sungai menjadi keruh dengan debit yang tidak bisa dilewati. “Berbahaya kalau kita memaksa “melangsir” saat sungai tinggi. Kita tunggu sampai turun. Material kita tumpuk di titik penyeberangan. Kalau tidak surut juga pada waktunya, terpaksa pakai perahu. Dan biaya bisa menjadi lebih besar. Sekali lagi berharap alam bermurah hati dan mendukung pembangunan SRA ini.”, ujar Nanda Rizki Dianto.

Populasi orangutan Sumatera di alam diperkirakan tidak lebih dari 14.000 individu. Keberadaan orangutan sebagai ‘umbrella spesies’ masih saja terancam punah. Bagaimana dengan spesies lainnya? Kepemilikan ilegal yang sering dijumpai atau dilaporkan tidak dapat ditindak lanjuti karena tidak adanya Pusat Penyelamatan Satwa yang memadai di Sumatera terutama bagian utara. “Kami yang bekerja lebih keras, atau tunggu kami Orangutan Sumatera, semoga alam bermurah hati.”.

ORANGUTAN AMAN DIUAP DENGAN NEBULIZER

Dua minggu terakhir ini, Aman terlihat sulit bernafas. Cairan yang menghambat di hidungnya menimbulkan bunyi saat malam hari. Iya, seperti orang ngorok. Terpaksa obat diberikan. Dan Aman sangat tidak menyukai obat. Ketika ada langkah kaki mendekati kandangnya, dia akan segera menuju sudut kandang menjauh dari pintu kandang.

Seperti anak kecil yang sulit sekali untuk minum obat. Bujuk rayu pun menjadi rayuan maut. Tapi Aman tetap saja mengunci mulutnya dengan rapat. Bulus obat sudah diracik sedemikan rupa, untuk menghilangkan bau obat, madu dan roti kering sudah digerus dengan halus, dicampur dan dipadatkan berbentuk bulat. Sekarang tinggal siapa yang paling tangguh dan paling cepat. Paling cepat memasukkan obat ke mulutnya saat ada celah di mulutnya. Atau Aman yang dengan lincah menghindar dari tim medis.

Hingga akhirnya, tim medis memutuskan untuk menguapkan hidungnya. Aman pun pasrah saat nebulizer dikenakan. Lambat laun dia mulai merasakan enaknya. Aman pun nurut. “Terapi dilakukan untuk menyembuhkan gejala hidung tersumbat yang dialami Aman. Semoga, Aman dapat bernafas dengan lega lagi setelah ini.”, ujar tim medis pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Doa-kan Aman ya…

ENRICHMENT ORANGUTAN: LEMANG BUAH KEMBALI HADIR

Sudah lama tidak memberikan orangutan varian enrichment yang satu ini. Tantangannya adalah para perawat satwa harus mencari bambu hingga ke pelosok anak sungai. Belum lagi rasa gatal akibat terkena lapisan luar bambu.

Kami juga harus berbagi bambu dengan masyarakat sekitar. Ambil secukupnya untuk enrichment hari ini saja. Biasanya masyarakat memanfaatkannya untuk membuat lemang ketika hendak membuat perhelatan atau pesta tertentu di kampung.

Sedikit mencontoh cara masyarakat sekitar membuat lemang. Kami juga membuatkan lemang untuk orangutan. Salah satu ujung bambu dilubangi dengan diameter kecil, lalu ditambahkan irisan buah kecil-kecil, dedaunan dan tak ketinggalan dilumuri madu. Pasti orangutan akan menyukainya.

Bagi orangutan dewasa membuka bambu yang tebal dengan bermodalkan gigi cukup muda. Seperti Nogel, Ambon, Antak, Hercules dan Septi bisa membukanya dengan cepat. Yang lain, terutama bayi-bayi harus berusaha lebih keras agar bisa menilik isi dalam lemang. (WID)

Page 6 of 348« First...45678...203040...Last »