Kebakaran hutan di Kalimantan semakin menggila. Panas, sesak, hingga membuat penglihatan sangat buram. Inilah dampak yang dirasakan langsung sebagai manusia yang tinggal di kota. Pertanyaannya, kita yang di kota saja tersiksa, bagaimana makhluk hidup lain yang ada di hutan sana?
Bagi Ndaru, perjalanan memahami konservasi bermula dari rasa penasaran. Sedari kecil hingga dewasa ia hidup di Kota Solok, Sumatera Barat, dan tak pernah terpikirkan betapa pentingnya hutan dan satwa. Hingga suatu ketika ia menemukan informasi tentang pelatihan konservasi ABELII CAMP yang diadakan COP di Medan. Dari sana, ia mulai memahami luasnya arti konservasi dan pentingnya menjaga hutan beserta seluruh isinya.
Kesadaran itu kemudian membawanya menjadi volunteer di COP selama kurang lebih empat bulan. Perjalanan tersebut berlanjut ketika ia mengikuti COP School Batch 16 di Yogyakarta pada Juli 2026. Baginya, pelatihan bukan sekadar sekolah, tetapi titik yang semakin menguatkan tekad untuk turun langsung ke lapangan.
Hal yang sama dirasakan Ulul. Setelah menunggu enam tahun untuk mendapatkan kesempatan mengikuti COP School, ia menganggap Batch 16 sebagai titik balik perjalanan konservasinya. Dari materi ruang, School Visit di beberapa sekolah dasar, hingga kesempatan mengikuti ADR Training Batch 4 di Labuan Bajo, setiap pengalaman menjadi bagian dari proses belajar yang tidak pernah selesai.
Selepas rangkaian pelatihan tersebut, panggilan untuk kembali menjadi volunteer datang. Kali ini, Kalimantan Timur menjadi tujuan. Ndaru dan Ulul diutus bersama tim COP menuju Pusat Rehabilitasi Orangutan Bora Labanan, Berau, untuk membantu menghadapi kebakaran hutan. Mereka melakukan patroli kawasan, mencari titik api dan asap, hingga beberapa kali terlibat langsung dalam pemadaman api di dalam maupun luar kawasan.
“Berhari-hari saya di Kalimantan, tiada sehari pun saya menghirup udara segar. Yang ada hanyalah kepulan asap dan kobaran api yang sangat panas,” ujar Ndaru.
Di tengah kondisi tersebut, ia kembali teringat pelatihan konservasi pertamanya tentang pentingnya hutan, satwa, dan seluruh kehidupan di dalamnya. “Apalah artinya manusia apabila tidak berdampak bagi lingkungannya.”
Bagi Ulul, pengalaman itu kembali menegaskan bahwa menjadi Orangufriends berarti membawa perubahan nyata bagi konservasi satwa di mana pun berada. “Ini bukanlah garis akhir, namun menjadi gerbang pembuka awal.”
Karena bagi mereka, COP School bukan sekadar sekolah. Ia adalah sekolah yang tak pernah usai tempat belajar, bergerak, dan terus menemukan cara untuk berkontribusi (Ulul_Ndaru_COP School 16).
Peringatan Hari Orangutan Sedunia di SDN 030432 Rahib, Pakpak Bharat, Sumatra Utara menjadi berbeda karena ke tiga puluh tujuh siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 mengikuti kegiatan lomba mewarnai bertema orangutan. Melalui kertas gambar dan krayon di tangan, anak-anak mulai menuangkan imajinasi mereka. Beragam warna memenuhi gambar orangutan dan hutan. Ada yang memilih warna-warna cerah, ada pula yang denga teliti memadukan berbagai warna agar hasil karyanya terlihat semakin menarik. Suasana kelas pun dipenuhi semangat, konservasi, tawa, dan obrolan kecil antar teman. Namun kegiatan ini bukan sekadar tentang menentukan siapa yang menghasilkan yang paling indah.
Anak-anak diajak mengenal orangutan lebih dekat sejak usia dini. Mereka belajar bahwa orangutan bukan hanya satwa yang hidup di dalam hutan, tetapi juga bagian penting dari ekosistem. Keberadaan orangutan memiliki hubungan yang erat dengan keberlangsungan hutan, tempat berbagai makhluk hidup bergantung. Kegiatan semakin menyenangkan karena lomba mewarnai juga diselingi dengan berbagai permainan edukatif. Anak-anak bergerak, bermain, tertawa, sekaligus mengingat kembali pesan-pesan tentang orangutan dan pentingnya menjaga lingkungan. Pendekatan yang sederhana dan dekat dengan dunia anak-anak membuat pesan konservasi lebih dekat dengan sasarannya.
Antusiasme terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Anak-anak tidak hanya menjadi peserta lomba, tetapi juga bagian dari proses bersama tentang alam di sekitar mereka. Dari sebuah gambar yang diwarnai, muncul rasa ingin tahu. Dari permainan sederhana, tersampaikan pesan tentang pentingnya menjaga hutan. Dan dari pengalaman kecil seperti ini, diharapkan tumbuh kepedulian yang akan terus berkembang.
Hari ini, mungkin orangutan masih mereka kenal melalui gambar dan cerita sederhana. Namun, suatu hari nanti, pengetahuan tersebut dapat menjadi dasar untuk memahami mengapa satwa liar dan habitatnya harus dijaga. Konservasi tidak selalu harus dimulai dengan langkah besar. (PUT)
Masih dalam rangkaian Bulan Orangufriends yang menjadi ruang bagi relawan COP untuk ikut terlibat secara nyata dalam aksi-aksi konservasi, salah satunya School Visit di SMPN 01 Bonjol, Kecamatan Bonjol, Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat. Kali ini bersama Dea dan Hera yang menjalani program volunteer selama tiga bulan setelah mengikuti COP School Batch 16.
Sebanyak 15 siswa kelas IX mengikuti kegiatan dengan antusias. Para siswa diajak mengenal lebih dekat Harimau Sumatra, mulai dari karakteristik, kehidupan di alam, kondisi populasinya, hingga berbagai ancaman yang dihadapi satwa endemik Sumatra tersebut. Melalui diskusi sederhana, para siswa diajak memahami bahwa menjaga harimau berarti turut menjaga hutan dan seluruh kehidupan yang ada di dalamnya. Mereka juga diajak mengenali peran manusia dalam mengurangi berbagai ancaman terhadap satwa liar.
Setelah materi selesai, suasana belajar berlanjut ke sesi tanya jawab dan diskusi interaktif di pojok baca yang dilengkapi galeri foto satwa. Kehadiran foto-foto satwa membuat siswa dapat melihat lebih dekat kehidupan satwa liar dan ancaman yang mereka hadapi di habitatnya.
Agar pesan konservasi semakin mudah dipahami, kegiatan kemudian dilanjutkan dengan fun games di luar ruangan. Para siswa mengikuti simulasi bertema, “Membebaskan Diri darui Jerat”. Melalui permainan tersebut, mereka diajak merasakan secara sederhana bagaimana sulitnya satwa ketika terperangkap jerat, sekaligus memahami mengapa jerat menjadi salah satu ancaman serius bagi satwa liar.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa aksi konservasi dapat dimulai dari hal sederhana, dengan belajar, berbagi, dan berani terlibat. Bagi Dea dan Hera, pengalaman sebagai Orangufriends sekaligus alumni COP School Batch 16 menjadi kesempatan untuk meneruskan pengetahuan yang pernah mereka dapatkan kepada generasi muda. Selama tiga bulan ini keduanya dengan berani mengambil bagian dalam menyebarkan pesan bahwa menjaga satwa berarti menjaga masa depan hutan. (APE Protector)
