SISWA SD ISLAM AL-AZHAR 55 YOGYAKARTA BELAJAR MITIGASI BENCANA BERSAMA

Sebanyak 87 peserta didik kelas 1 SD Islam Al-Azhar 55 Yogyakarta bersama 10 guru pendamping mengikuti kegiatan edukasi kebencanaan di Kantor BPBD Pakem, Kabupaten Sleman. Kegiatan ini dibagi menjadi dua kloter untuk memastikan proses pembelajaran berjalan efektif dan interaktif.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara BPBD Sleman, dan Centre for Orangutan Protection (COP) bersama dengan empat mahasiswa relawan dari Pendidikan Geografi FISIP UNY. Kolaborasi lintas institusi ini bertujuan memberikan pemahaman sejak dini tentang pentingnya kesiap-siagaan bencana, termasuk perlindungan satwa dalam situasi darurat.

Materi diawali dengan pengenalan BPBD dan berbagai tugasnya dalam penanganan bencana. Anak-anak diajak memahami bahwa bencana dapat terjadi kapan saja dan memiliki berbagai jenis, seperti gempa bumi, erupsi gunung api, hingga banjir. Penyampaian dilakukan dengan bahasa yang sederhana dan interaktif agar mudah dipahami oleh peserta didik usia sekolah dasar.

Salah satu sesi yang paling menarik perhatian adalah simulasi gempa. Anak-anak mempraktikkan langsung langkah-langkah sederhana yang harus dilakukan saat terjadi gempa, mulai dari berlindung hingga evakuasi dengan tertib. Selain itu, peserta juga diajak mengenal transportasi operasional BPBD serta berbagai peralatan dan perlengkapan yang digunakan dalam respons kebencanaan.

Tim COP turut menghadirkan Galeri Animal Disaster Relief yang memperkenalkan pentingnya perlindungan dan penyelamatan satwa dalam situasi bencana. Melalui sesi ini, anak-anak belajar bahwa mitigasi bencana tidak hanya menyelamatkan manusia, tetapi juga makhluk hidup lainnya. Kegiatan ditutup dengan kuis singkat untuk menguji pemahaman peserta sekaligus menambah semangat belajar.

Sebagai tindak lanjut, tim juga berkomunikasi dengan guru pendamping untuk membuka peluang edukasi lanjutan di sekolah. Harapannya, pemahaman tentang kesiapsiagaan bencana dan perlindungan satwa dapat terus diperkuat sejak usia dini.

Edukasi hari ini menjadi langkah kecil namun penting dalam membangun generasi yang lebih pedelu, tanggap, dan siap menghadapi risiko bencana di masa depan (VID).

HARAPI, SI MATA KECIL

Pertama kali mengenal Harapi pada tanggal 4 Juli 2025, saat hari pertama ku bekerja di Pusat Rehabilitasi Orangutan dan menggendongnya, “ternyata orangutan sebau ini”. Saat itu, Harapi masih takut untuk memulai sekolah hutannya, ia tidak ingin bersosialisasi dengan orangutan lainnya, hanya diam sembari memeluk diriku hingga baby sitter Janet membantuku untuk membujuk Harapi agar mau bersosialisasi dengan orangutan lainnya tetapi tidak berhasil. Akhirnya Harapi hanya diam di belakang badanku, bersembunyi sembari mengamati orangutan lainnya hingga jam sekolah hutan berakhir.

Hobi Harapi alah makan dan makan, bahkan ketika kehadirannya di sekolah hutan hanya sekedar absen dan disi dengan aktivitas makan. Suatu hari, Harapi tidak mengikuti sekolah hutan karena ia teramati sedang tidak enak badan bahkan si hobi makan ini teramati hanya memakan sedikit saja jatahnya.

Dokter Tyta: Nop, Harapi kasih makan kesukaannya aja dulu, supaya dia mau makan, gak usah sekolah dulu ya.

Nopi: Oke dok.

Setelah menjawab perintah dokter Tyta, aku menceritakannya dengan mba Rara. Mba Rara memberitahuku apa saja makanan kesukaan Harapi.

Nopi: Dok, ini Harapi udah mau makan lagi dan juga selit-sedikit mau beraktivitas seperti biasa dok.

Dokter Tyta: Syukurlah kalau dia mau makan, makasih ya Nop.

Terdengar suara celutukan dengan nada candaan.

Mba Indah: Aahhh pura-pura aja Harapi itu gak mau makan, biar gak sekolah hutan.

Nopi: Iya, kayaknya dia bohong biar bolos sekolah.

Di hari itu, Harapi tidak sekolah hutan dan menghabiskannya dengan makan-tidur untuk mengistirahatkan badannya hingga jam makan siang datang.

Harapi mempunyai teman yang aku sebut dengan sahabat kandang yaitu Arto. Harapi yang tingkahnya selalu lemot atau lamban menjadikan makanannya selalu diambil oleh Arto. Sementara respon Harapi hanya cuek dan tidak berusaha melawan atau menghindar dari Arto. Arto yang kebiasaannya makan dengan cepat dan terburu-buru selalu mempunyai cara untuk merebut makanan Harapi. Dari kebiasaan Arto, kami para baby sitter selalu mengajarkan Harapi agar pelit dan harus bisa mempertahankan haknya. “Ayo Harapi, pertahankan yang sudah jadi milikmu dan yang baik untukmu, jangan berdiam diri karena hakmu diambil atau dirampas orang lain!”. (NOP)

BONDING YANG SEMAKIN KUAT ANTARA TAMI DAN KEEPERNYA DI BULAN FEBRUARI

Proses bonding adalah salah satu tahapan penting dalam rehabilitasi. Bukan sekadar membangun kedekatan, tetapi juga membentuk rasa aman, kepercayaan, dan komunikasi dua arah antara individual dan keeper. Pada bulan Februari ini perkembangan Tami menunjukkan sinyal yang menggembirakan.

Bulan ini, Tami terlihat cukup kooperatif. Saat namanya dipanggil, ia datang menghampiri sambil membawa sayur buncis yang telah disiapkan keeper lain di tempat pakannya. Respons ini menjadi indikator positif bahwa Tami mulai mengenali panggilan dan mengaitkannya dengan interaksi yang aman. Ia makan dengan tenang, tanpa menunjukkan tanda-tanda stres atau penolakan.

Namun, sikapnya berubah ketika mulai menikmati buah. Saat memakan mangga, Tami terlihat lebih protektif terhadap makanannya. Ia cenderung cuek dan tidak merespons ketika disenggol. Perilaku ini bukan hal yang negatif, melainkan bagian dari insting alaminya dalam mempertahankan sumber pakan. Sikap tersebut menunjukkan karakter dan preferensi individual yang semakin jelas terbaca oleh keeper.

Menariknya, setelah mangga yang dimakannya habis, Tami justru berubah lebih terbuka. Ia mulai mendekat dan mengajak bermain. Ketika kembali dipanggil, Tami menghampiri dengan gerakan yang lebih santai. Bahkan, ia menggulingkan tubuhnya ke arah keeper sebuah gestur yang menunjukkan rasa nyaman dan ajakan interaksi.

Meski sempat muncul rasa waspada, terutama karena pengalaman sebelumnya di mana Tami masih menunjukkan kecenderungan defensif, hari itu terasa berbeda. Tami tampak lebih terkendali. Tidak ada gestur agresif atau ancaman gigitan seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Perubahan ini menunjukkan peningkatan signifikan dalam proses adaptasi dan kepercayaan.

Kepercayaan tidak terbentuk dalam semalam. Konsistensi kehadiran keeper, interaksi yang stabil, dan pendekatan yang tepat secara perlahan membangun hubungan yang lebih positif. Tami kini terlihat semakin mengenali sosok yang rutin masuk untuk mengajaknya bermain dan berinteraksi. Ada response timbal-balik yang mulai terbentuk.

Perkembangan seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi dalam proses rehabilitasi, setiap perubahan perilaku memiliki arti besar. Dari datang saat dipanggil, menjaga makanan dengan insting alami, hingga akhirnya menggulingkan tubuh sebagai bentuk kepercayaan semua adalah langkah kecil menuju kestabilan emosi dan sosial yang lebih baik.

Bulan Februari 2026 menjadi catatan penting dalam berjalan Tami. Sebuah hari yang menunjukkan bahwa proses bonding berjalan ke arah yang positif, dan kepercayaan yang dulu terasa jauh kini mulai terbangun dengan lebih nyata (FAN).