KEPO-IN ROBERT SELAMA BULAN JULI 2026

Bulan Juli menjadi bulan yang penuh cerita bagi Robert di area enclosure. Robert saat ini menghabiskan hari-harinya di ruang luas, di kelilingi pepohonan yang memberinya kesempatan untuk memanjat, beristirahat, dan menikmati suasana yang lebih alami.

Setiap pagi, Robert memiliki cara tersendiri untuk memulai harinya. Terkadang ia sudah berada di dekat pagar seolah menanti waktu pemberian pakan, namun di hari lain ia memilih tetap berada di tengah pepohonan, menikmati suasana pagi dari atas cabang-cabang pohon. Ketika keeper memanggilnya, Robert akan menghampiri untuk menikmati pakan, kemudian kembali melanjutkan aktivitasnya di dalam enclosure.

Sebagian besar waktunya dihabiskan di atas pohon. Robert terlihat berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya, memilih tempat yang nyaman untuk beristirahat, atau sekedar duduk sambil mengamati lingkungan di sekitarnya. Sesekali ia memperhatikan aktivitas orangutan lain maupun keeper yang sedang melakukan pemantauan, tetapi tak lama kemudian ia kembali larut dengan aktivitasnya sendiri di antara rimbunnya pepohonan.

Area enclosure juga menyediakan berbagai jenis tumbuhan yang dapat dimanfaatkan Robert. Selain menikmati pakan yang diberikan keeper, ia mulai mencoba berbagai sumber pakan alami yang tersedia di dalamnya, termasuk beberapa jenis buah hutan. Momen-momen seperti ini menjadi pemandangan yang menyenangkan bagi tim yang setiap hari mendampinginya.

Saat cuaca cerah dan matahari terasa cukup terik, keeper sesekali memberikan buah kelapa sebagai tambahan. RObert selalu menyambutnya dengan antusias. Ia merobek sabut kelapa menggunakan giginya, menikmati daging buahnya, lalu meminum air kelapa hingga habis. Pada kesempatan lain, batang tebu juga diberikan sebagai variasi sekaligus sumber cairan yang dinikmati Robert.

Selain itu, bulan ini, tim juga menambahkan sebuah alat enrichment berupa tabung yang dapat diisi air dengan berbagai cara, baik menggunakan tangan maupun memanfaatkan benda-benda yang ada disekitarnya.

Menjelang sore, Robert kerap terlihat berada di bagian tengah ataupun pinggir enclosure sebum akhirnya memilih tempat beristirahat untuk malam hari. Di bawah rindangnya pepohonan atau di area yang menurutnya nyaman, Robert mengakhiri aktivitas hariannya hingga keesokan pagi kembali memulai rutinitasnya.

Setiap hari di enclosure menghadirkan cerita yang berbeda. Ada hari ketika Robert lebih banyak menikmati ketenangan dari atas pohon, ada pula hari ketika ia lebih aktif menjelajahi setiap sudut kawasan. Semua itu menjadi bagian dari kesehariannya, memperlihatkan bagaimana Robert memanfaatkan ruang jelajahnya dengan caranya sendiri sambil terus menikmati kehidupan di lingkungan yang lebih alami. (NAB)

DUA PEKAN MENGIKUTI JEJAK EBONI, BAGUS, DAN RUBY

Ada perasaan yang sulit saya gambarkan ketika menyaksikan pintu kandang angkut dibuka setelah perjalanan panjang menuju hutan Busang. Hampir 12 jam perjalanan dari Berau akhirnya terbayarkan ketika Bagus, Ruby, dan Eboni satu per satu keluar dari kandang, lalu tanpa ragu memanjat pohon pertama yang mereka temui. Momen itu selalu menjadi pengingat mengapa proses rehabilitasi begitu berarti. Setelah melalui perjalanan yang panjang, kini mereka kembali berada di tempat yang seharusnya di tengah hutan Kalimantan.

Namun, pelepasliaran bukanlah akhir dari cerita. Justru saat itulah tugas kami dimulai. Selama dua minggu berikutnya, saya bergabung bersama tim Post Release Monitoring (PRM) untuk mengikuti kehidupan baru Bagus, Ruby, dan Eboni. Setiap hari kami berangkat sebelum matahari terbit dan baru kembali ketika cahaya mulai menghilang di balik kanopi hutan. Jalur yang kami tempuh tidak selalu mudah. Menyusuri sungai menggunakan ketinting, berjalan di jalur setapak yang licin, hingga menembus rapatnya vegetasi sudah menjadi bagian dari rutinitas.

Setiap orangutan memiliki kebiasaannya masing-masing. Eboni tampak begitu lincah berpindah dari satu pohon ke pohon lain. Ia menghabiskan banyak waktu di kanopi hutan, mencari buah-buahan matang dan sesekali membongkar sarang serangga untuk mencari tambahan pakan. Bagus terlihat lebih tenang. Ia kerap memilih duduk sambil menikmati daun-daun muda di sekitarnya sembari sesekali memperhatikan kondisi hutan. Sementara Ruby memiliki karakter yang lebih santai. Ia sering terlihat berbaring nyaman di atas percabangan pohon, menikmati waktu istirahat sambil mengunyah pakan yang ada di sekitarnya.

Bagus memiliki cerita yang sedikit berbeda bagi saya. Sebelum mengikutinya di hutan Busang, saya sudah mengenalnya sejak ia masih berada di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). Sebagai dokter hewan, saya cukup sering bertemu dengannya, baik saat pemeriksaan kesehatan maupun ketika mengamati perilakunya selama menjalani rehabilitasi. Bagus adalah orangutan yang tenang, bukan tipe yang selalu aktif menunjukkan rasa ingin tahunya, melainkan lebih sering mengamati keadaan di sekitarnya terlebih dahulu. Kebiasaan itu membuat saya cukup mengenal ekspresi dan tingkah lakunya. Karena itulah, ketika melihatnya duduk di atas pohon-pohon tinggi Busang, memilih daun muda sebagai makanannya, lalu berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya tanpa bergantung pada manusia, ada perasaan haru yang sulit dijelaskan. Rasanya seperti bertemu kembali dengan teman lama yang kini telah menemukan rumahnya.

Hari-hari pertama pemantauan berjalan lancar. Kami dapat mengamati aktivitas mereka dari kejauhan tanpa banyak mengganggu. Hingga akhirnya, memasuki hari kelima, ketiganya seolah menghilang. Selama beberapa hari berikutnya kami menyusuri berbagai jalur yang kemungkinan dilewati mereka. Kami mencari sarang baru, bekas pakan, patahan ranting, hingga suara pergerakan di antara pepohonan. Waktu terus berjalan, tetapi belum ada tanda-tanda keberadaan mereka.

Tentu ada rasa penasaran yang terus menemani. Ke mana mereka bergerak? Apakah mereka baik-baik saja? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu muncul setiap kali kamu kembali ke campt tanpa hasil. Memasuki minggu kedua, semangat kami tidak berkurang. Seperti biasa, pagi itu kami kembali melakukan patroli. Menjelang siang kami memutuskan untuk kembali ke ketinting dan beristirahat sejenak setelah beberapa jam menyusuri hutan. Namun, tepat ketika kami hampir tiba di tepian sungai, mata saya menangkap sesuatu bergerak di antara dedaunan.

“Ada orangutan!”, spontan saya berseru.

Soni, salah satu ranger APE Guardian, segera mendekat untuk memastikan. Tidak lama kemudian ia menjawab dengan nada penuh semangat, “Ada dua”.

Saat saya mendekat, saya langsung mengenali wajah-wajah yang kami cari selama berhari-hari.

“Walah… ini Eboni dan Bagus”, ucap saya spontan sambil tertawa kecil. Rasanya lucu sekaligus melegakan. Kami sudah menyusuri hutan cukup jauh untuk mencari mereka, sementara ternyata keduanya berada tidak jauh dari tepian sungai. Mereka tampak sehat, tenang, dan sama sekali tidak terganggu dengan kehadiran kami. Tidak lama kemudian, Eboni dan Bagus kembali memanjat lebih tinggi, lalu sibuk menikmati buah-buahan hutan yang sedang matang.

Momen sederhana itu menjadi salah satu kenangan yang paling saya ingat selama mengikuti PRM. Bukan hanya karena akhirnya kami kembali menemukan mereka, tetapi juga karena saya dapat melihat Bagus yang kini bebas menentukan arah jelajahnya, memilih makanannya sendiri, dan menghabiskan hari-harinya di tengah hutan.

Sebagai dokter hewan, melihat satwa yang pernah menjalani rehabilitasi kini mampu beradaptasi di habitat alaminya merupakan kepuasan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Tugas kami memang memastikan kondisi kesehatan mereka tetap terpantau, tetapi yang jauh lebih membahagiakan adalah melihat mereka menjalani kehidupan yang semakin mandiri di tengah hutan. (SIN)

BUKAN SEKEDAR KOTORAN, INILAH JEJAK KEHIDUPAN BERUANG MADU

Bagi sebagian orang, tumpukan feses di lantai hutan mungkin hanyalah kotoran yang menjijikkan. Namun, bagi seorang yang bekerja di dunia konservasi, itu adalah sebuah cerita. Sebuah petunjuk yang menunjukkan bahwa kehidupan masih berlangsung di balik rapatnya pepohonan. Foto ini berada di Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Kawasan hutan lindung ini merupakan salah satu benteng bagi berbagai satwa liar Kalimantan Timur. Selain menjadi habitat orangutan, hutan ini juga menjadi rumah bagi beruang madu, macan dahan, rusa, burung enggang, hingga ribuan jenis tumbuhan yang saling menopang kehidupan.

Yang terlihat pada foto ini adalah feses beruang madu (Helarctos malayanus) yang dipenuhi biji-biji durian liar. Pemandangan seperti ini sebenarnya cukup sering ditemukan saat musim durian tiba di dalam hutan. Beruang madu memakan daging buah yang manis, sementara bijinya ikut tertelan dan kemudian keluar kembali bersama feses.

Sekilas mungkin terlihat biasa. Namun, di balik tumpukan fese itu tersimpan peran penting yang sering kali tidak disadari. Beruang madu bukan hanya penikmat buah hutan. Satwa ini juga merupakan salah satu penyebar biji alami yang membantu hutan tetap hidup. Setelah memakan buah di satu tempat, beruang akan berjalan menyusuri hutan hingga beberapa kilometer. Ketika biji-biji itu dikeluarkan bersama feses, mereka jatuh di lokasi yang baru, lengkap dengan pupuk alami yang membantu proses perkecambahan. Dengan cara yang sangat sederhana, beruang madu ikut menanam pohon-pohon baru di dalam hutan.

Tanpa disadari beruang menjadi “penjaga hutan” yang bekerja setiap hari. Bagi kami, temuan seperti ini memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar mengetahui apa yang dimakan satwa. Feses menjadi bukti bahwa beruang madu masih aktif menggunakan kawasan tersebut sebagai wilayah jelajahnya. Dari bentuk, kondisi, hingga isi feses, kita dapat mengetahui jenis pakan yang sedang berlimpah, memperkirakan waktu keberadaan satwa, bahkan memahami kondisi ekosistem di sekitarnya.

Semua informasi itu diperoleh tanpa harus bertemu langsung dengan sang beruang.

Temuan sederhana seperti ini juga menunjukkan bahwa Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat masih menyediakan sumber pakan alami bagi satwa liar. Ketika pohon-pohon durian hutan mulai berbuah, bukan hanya beruang madu yang datang menikmatinya. Orangutan, musang, tupai, rusa hingga berbagai jenis burung juga memanfaatkan musim buah sebagai sumber energi.

Inilah yang membuat hutan bekerja sebagai sebuah ekosistem. Tidak ada makhluk yang hidup sendiri. Setiap pohon, buah, jamur, serangga, hingga mamalia besar memiliki perannya masing-masing dalam menjaga keseimbangan alam. Sayangnya, keseimbangan itu sangat mudah terganggu ketika hutan kehilangan tutupan pohonnya. Pembukaan lahan, kebakaran, maupun aktivitas ilegal tidak hanya menghilangkan pepohonan, tetapi juga memutus rantai kehidupan yang telah terbentuk selama ratusan bahkan ribuan tahun. Ketika sumber makanan berkurang, satwa akan terdorong keluar dari hutan dan lebih sering berhadapan dengan manusia.

Karena itulah menjaga hutan bukan hanya tentang melindungi satwa yang kita lihat, tetapi juga menjaga seluruh prose alami yang mungkin tidak pernah kita sadari. Di balik setiap biji durian yang keluar bersama feses beruang madu, tersimpan harapan lahirnya pohon-pohon baru. Di balik setiap langkah beruang yang menyusuri hutan, tersebar benih kehidupan yang kelak akan menjadi sumber makanan, tempat berlindung, dan rumah bagi generasi satwa berikutnya.

Di hutan, tidak ada yang benar-benar menjadi limbah. Setiap jejak memiliki makna, setiap makhluk memiliki peran, dan setiap kehidupan saling menjaga satu sama lain. (NAB)