KESABARAN MENCARI GUSTI MENGANTARKAN ORANGUTAN KEMBALI KE RUMAHNYA

Seorang pekerja perkebunan ditemukan mengalami luka serius pada kaki dan tangan setelah berhadapan dengan orangutan yang tiba-tiba muncul dari kawasan konservasi perusahaan. Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa ketika ruang hidup manusia dan satwa liar semakin berdekatan, potensi konflik pun tak dapat dihindari. BKSDA SKW II Tenggarong bersama manajemen perkebunan dan tim APE Crusader COP pun menyusuri kawasan hutan yang terfragmen itu dengan langkah terbaik yang mengutamakan keselamatan masyarakat sekaligus memastikan orangutan memperolah penanganan yang tepat sesuai prinsip konservasi.

Tim gabungan ini berjalan menembus semak yang rapat, melintasi jalur berlumpur, hingga memasuki bagian hutan yang jarang tersentuh aktivitas manusia. Setiap sudut hutan diperiksa dengan seksama. Sarang-sarang orangutan ditemukan di atas pepohonan, begitu pula sisa pakan yang menandakan keberadaan mereka. Namun sosok yang dicari seakan menghilang begitu saja. Hutan yang luas membuat pencarian menjadi tidak mudah. Hari demi hari berlalu, jalur licin, udara lembab, dan medan yang berat perlahan menguras tenaga. Langkah kaki semakin berat, pakaian basah oleh keringat, sementara harapan sempat menurun karena belum ada tanda pasti keberatan orangutan tersebut. Meski begitu, tak satu pun anggota tim menyerah.

Di antara rapatnya pepohonan, sosok orangutan itu akhirnya terlihat. Suasana yang semula dipenuhi kelelahan berubah menjadi penuh kewaspadaan. Tidak ada teriakan atau tindakan tergesa-gesa. Seluruh tim bekerja dengan tenang, saling berkoordinasi, dan memastikan setiap langkah dilakukan secara aman. Gusti, begitu orangutan itu disebut akhirnya diselamatkan. Pemeriksaan kesehatan fisik menyatakan cukup baik untuk translokasi ke kawasan Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kecamatan Busang yang memiliki tutupan hutan alami dan menjadi habitat orangutan rehabilitasi maupun liar.

Perjalanan Gusti menjadi bukti bahwa penyelamatan satwa liar bukanlah pekerjaan yang selesai dalam hitungan jam. Di balik satu individu orangutan yang kembali ke hutan, ada kerja keras banyak orang, perjalanan panjang, koordinasi lintas lembaga serta semangat yang tidak pernah [padam meski berkali-kali dihadapkan pada kegagalan.

Kini, Gusti telah memulai lembaran baru di rumahnya yang baru. Semoga setiap ayunan tangannya di antara pepohonan menjadi pengingat bahwa setiap satwa liar berhak memiliki kesempatan kedua untuk hidup bebas. Karena pada akhirnya, keberhasilan konservasi bukan hanya tentang menyelamat orangutan, tetapi juga menjaga keseimbangan antara manusia dan alam agar keduanya dapat terus hidup berdampingan. (APE Crusader)

WARISAN YANG IKUT PULANG KE HUTAN

Tidak semua bekal yang dibawa orangutan saat kembali ke alam dapat dilihat dengan mata. Orang mungkin hanya melihat pintu kandang yang dibuka, langkah pertama menuju tajuk hutan, lalu tubuh yang perlahan menghilang di balik rimbunnya pepohonan. Yang tidak terlihat adalah seluruh perjalanan yang telah membentuk mereka hingga hari itu tiba.

Setelah bertahun-tahun menjalani rehabilitasi, orangutan Ruby, Bagus, dan Eboni akhirnya kembali ke habitat alaminya di Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kalimantan Timur. Kepulangan mereka menjadi tujuan dari proses panjang yang melibatkan penyelamatan, pemulihan kesehatan, pembelajaran perilaku alami, hingga serangkaian penilaian untuk memastikan mereka benar-benar siap hidup mandiri. Kini, hutan kembali menjadi tempat mereka menjalani kehidupan sebagaimana orangutan liar seharusnya.

Banyak orang mengenal rehabilitasi sebagai tempat orangutan belajar bertahan hidup. Mereka belajar memilih pakan alami, mengenali pohon yang aman untuk berpindah, membangun sarang setiap senja, serta membaca dinamika hutan. Semua itu memang menjadi bekal utama sebelum pelepasliaran. Namun, ada pelajaran lain yang sering luput dari perhatian.

Di alam liar, anak orangutan menghabiskan hampir seluruh masa kecilnya bersama induknya. Selama bertahun-tahun mereka belajar bukan melalui perintah, melainkan dengan mengamati. Cara memilih buah yang matang, menentukan jalur di kanopi, membangun sarang, hingga menghadapi ancaman, semuanya diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Ketika anak orangutan kehilangan induknya akibat konflik dengan manusia atau perdagangan satwa liar, bukan hanya sosok pelindung yang hilang. Bersamanya ikut hilang kesempatan mempelajari banyak hal yang tidak dapat diajarkan secara instan. Karena itu, keberhasilan rehabilitasi bukan hanya soal mengembalikan kemampuan bertahan hidup, lebih dari itu, rehabilitasi berusaha mengembalikan perilaku alami yang sempat terputus agar orangutan mampu menjalankan seluruh siklus kehidupannya ketika kembali ke hutan.

Selama menjalani rehabilitasi, perubahan itu perlahan terlihat pada ketiga orangutan yang dilepasliarkan bulan Juni ini. Ruby tumbuh menjadi individu yang gemar menjelajah dan sering menjadi orangutan pertama yang mencoba rute-rute baru di sekolah hutan. Tanpa banyak interaksi, kehadirannya justru diikuti individu lain yang lebih muda. Keberanian Ruby menjadi semacam dorongan bagi mereka untuk memanjat lebih tinggi, bergerak lebih jauh, dan mengenal hutan dengan lebih percaya diri.

Bagus memperlihatkan sisi yang berbeda. Di balik sifatnya yang tenang, ia beberapa kali menjadi tempat berlindung bagi bayi orangutan yang masih belum percaya diri menjelajah. Ia menerima kehadiran mereka, membiarkan mereka tetap berada di dekatnya, seolah memahami bahwa rasa aman merupakan bagian penting dalam proses belajar.

Sementara itu, Eboni yang dikenal mandiri dan berani ternyata juga menunjukkan kepedulian kepada individu yang lebih muda. Di sela-sela eksplorasinya, ia kerap mengajak bayi orangutan mengikuti pergerakannya, mengenalkan area baru, sekaligus memberi contoh bagaimana menghadapi lingkungan yang terus berubah.

Tidak ada sesi pelatihan khusus untuk mengajarkan perilaku tersebut. Semuanya tumbuh dari pengalaman. Dari interaksi dengan orangutan lain, dari dinamika yang terbentuk setiap hari di sekolah hutan, serta dari kesempatan menjalani kehidupan sosial yang menyerupai kondisi di alam. Perlahan, muncul kemampuan yang suatu hari akan sangat menentukan keberhasilan mereka sebagai induk.

Kini Ruby, Bagus, dan Eboni telah menjalani kehidupan baru di hutan. Tidak ada lagi animal keeper yang mengawasi setiap langkah mereka. Keputusan-keputusan penting kini sepenuhnya berada di tangan mereka sendiri. Mungkin butuh waktu bertahun-tahun hingga tim monitoring menemukan salah satu dari mereka kembali, kali ini bukan sebagai individu yang direhabilitasi, melainkan sebagai induk yang sedang menggendong bayinya.

Jika hari itu tiba, keberhasilan pelepasliaran tidak hanya diukur dari kemampuan mereka bertahan hidup. Keberhasilan sesungguhnya adalah ketika pengetahuan yang pernah mereka pelajari selama rehabilitasi berubah menjadi warisan bagi generasi berikutnya. Dari induk kepada anak, lalu terus berlanjut di tengah rimbanya hutan Kalimantan.

Itulah harapan terbesar dari setiap pelepasliaran: bukan sekadar mengembalikan orangutan ke habitatnya, tetapi mengembalikan masa depan populasi liar yang akan terus tumbuh melalui generasi-generasi baru (RAR)

REKAM JEJAK COP SELAMATKAN SATWA PASCA BANJIR TAPANULI SELATAN

Sore, 24 Juni 2026 di Medan, bersama Orangufriends meresmikan Abelii Space sekaligus membuka pameran foto “Menolong Satwa Banjir Sumatra” dan meluncurkan buku Rescue Animals in Need South Tapanuli. Pameran ini merangkum kisah kepedulian dari sudut pandang yang berbeda pasca bencana banjir besar yang melanda Sumatra pada akhir tahun 2025. Berlokasi di Desa Garoua, Tapanuli Selatan, wilayah yang sempat luluh lantak dan terisolasi, COP (Centre for Orangutan Protection) hadir membawa misi yang hingga kini masih jarang dilakukan di Indonesia, yaitu menyelamatkan satwa di tengah bencana.

Melalui rangkaian foto yang di[pamerkan, pengunjung diajak mengikuti jejak langkah tim COP saat mencari satwa yang terdampak banjir, membebaskan hewan yang terjebak di balik reruntuhan, mengobati satwa yang terluka, memberikan pakan, hingga menguburkan satwa yang tidak dapat diselamatkan. Banyak pengunjung mengaku tersentuh setelah mendengar secara langsung pengalaman dan tantangan yang dihadapi selama proses penyelamatan berlangsung.

Lebih dari sekadar menyelamatkan satwa, misi ini juga menjadi jembatan penting dalam memulihkan harapan para penyintas bencana. Bagi para peternak yang rumah dan kebunnya hanyut diterjang banjir, hewan ternak yang tersisa merupakan aset sekaligus harapan terakhir untuk kembali bangkit. Karena itu, tim berupaya membuka akses agar pasokan pakan termah dapat masuk dan membantu menjaga keberlangsungan ekonomi masyarakat.

Di sisi lain, bagi warga yang harus mengungsi dapat bertemu kembali dengan hewan peliharaan mereka menjadi penghiburan yang tak ternilai. Kehadiran kembali teman setia di tengah situasi sulit mampu menghadirkan senyum, memberikan rasa tenang, sekaligus mengurangi kecemasan setelah bencana.

Selain membantu pemulihan ekonomi dan psikologis masyarakat, tim juga berperan dalam mencegah potensi penyebaran penyakit dengan segera menguburkan bangkai satwa agar tidak mencemari lingkungan. Melalui pameran foto dan buku ini, COP ingin menyampaikan pesan bahwa ketika bencana terjadi, satwa juga menjadi korban. Menyelamatkan satwa berarti turut menjaga kesehatan lingkungan, membantu pemulihan masyarakat, dan menjadi bagian penting dari upaya tanggap bencana secara menyeluruh.

Pameran foto berlangsung mulai 24 Juni hingga 12 Juli 2026 di Abelii Space, kota Medan dan dibuka setiap hari pukul 09.00-17.00 WIB. Pameran terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya. Pengunjung diharapkan menjaga ketertiban selama berada di ruang pameran serta tidak makan dan minum di dalam area pameran. (AGU)