BELAJAR SIAGA BENCANA UNTUK SATWA DI SD NEGERI 2 DODOGAN

Dua puluh tahun lalu, gempa bumi besar mengguncang Yogyakarta dan meninggalkan jejak mendalam bagi masyarakat. Salah satu wilayah yang merasakan dampaknya adalah Kabupaten Bantul, termasuk lingkungan pendidikan di sekitarnya. Kini, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa kesiapansiagaan menghadapi bencana perlu terus ditanamkan kepada generasi muda.

Sebanyak 81 siswa SD Negeri 2 Dodogan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta diajak mengenali berbagai perlengkapan sederhana yang dapat membantu ketika terjadi keadaan darurat, seperti senter dan peluit. Mereka juga belajar bahwa kesiapsiagaan tidak selalu membutuhkan peralatan yang rumit. Hal paling penting adalah mengetahui risiko, memahami langkah yang harus dilakukan, serta mampu menyelamatkan diri terlebih dahulu.

Sebab, seseorang yang mampu menyelamatkan dirinya akan memiliki kesempatan lebih besar untuk membantu orang lain, termasuk satwa yang sering kali luput dari perhatian ketika bencana terjadi. Pembelajaran kemudian berlanjut pada satwa yang sering dianggap menakutkan, yaitu ular.

Bagi sebagian siswa, perjumpaan dengan ular mungkin bukan sesuatu yang asing. APE Warrior mengajak mereka melihat ular dari sudut pandang yang berbeda. Rasa takut merupakan hal yang wajar, tetapi bukan alasan untuk menyakiti atau membunuh satwa tersebut.

Ketika bertemu ular, siswa diajarkan untuk tetap tenang, menjaga jarak, tidak mencoba atau menangkap atau mengusir sendiri, serta segera meminta bantuan orang dewasa atau pihak yang memiliki kemampuan menangani satwa.

Di balik rasa takut tersebut, ular memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Keberadaannya membantu mengendalikan populasi satwa lain dan menjadi bagian dari rantai kehidupan di alam. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya belajar tentang kesiapsiagaan bencana, tetapi juga tentang empati dan tanggung jawab terhadap kehidupan di sekitar mereka. Karena kesiap-siagaan bukan hanya tentang menyelamatkan diri saat bencana datang, tetapi juga tentang memastikan bahwa manusia dan satwa dapat menghadapi situasi darurat dengan lebih aman. (VID)

BERSEPEDA SAMBIL BERKAMPANYE, MENGAJAK MASYARAKAT MENGENAL HARIMAU SUMATRA

Semangat memperingati Global Tiger Day 2026 masih terasa di RIHAS. Kali ini, pesan tentang pentingnya menjaga harimau Sumatra dibawa lebih dekat kepada masyarakat melalui kegiatan bersepeda sekaligus kampanye di kawasan permukiman sekitar Rimbo Panti. Ada 29 peserta turut ambil bagian dengan mengendarai sepeda, mereka menyusuri jalan dan mengelilingi sebagian kawasan sambil membawa poster serta berbagi materi kampanye. Mereka juga membagikan stiker kepada masyarakat dan menyampaikan pesan untuk menjaga keberadaan harimau Sumatra.

Bagi sebagian orang, harimau mungkin hanya dikenal sebagai satwa liar yang hidup jauh di dalam hutan. Padahal, keberadaannya memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Karena itu, mengenal harimau dan memahami berbagai ancaman yang dihadapinya menjadi langkah awal untuk menumbuhkan kepedulian terhadap satwa liar. Tim APE Protector juga mengajak masyarakat luas bahwa menjaga harimau tidak hanya menjadi tanggung jawab mereka yang bekerja di kawasan konservasi. Masyarakat juga memiliki peran penting, salah satunya dengan memahami keberadaan satwa liar serta ikut menjaga habitatnya.

Setelah berkeliling dan menyapa masyarakat, kegiatan dilanjutkan di RIHAS dengan berbagai permainan dan pembagian hadiah. Suasana semakin meriah ketika para peserta mengikuti rangkaian kegiatan yang telah direncanakan. Keseruan tidak berhenti ketika matahari mulai terbenam. Pada malam hari, RIHAS justru semakin hangat dengan diskusi santai. Para peserta berbagi cerita dan pengalaman sambil menikmati jagung bakar serta olahan lainnya.

Dari perjalanan di atas sepeda hingga obrolan santai di malam hari, satu pesan terus dibawa, Harimau Sumatra adalah bagian penting dari alam yang harus kita jaga bersama. Global Tiger Day bukan sekedar momentum untuk memperingati harimau. Lebih dari itu, peringatan ini menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap satwa liar perlu terus dibicarakan, dibagikan, dan diwujudkan melalui aksi nyata. (HIL)

RATUSAN RELAWAN MEMPERINGATI HARI HARIMAU SEDUNIA 2026

Setiap tanggal 29 Juli dirayakan sebagai Hari Harimau Sedunia atau Global Tiger Day (GTD). Centre for Orangutan Protection (COP) bersama dengan relawannya yang tergabung dalam Orangufriends merayakan GTD 2026 dengan aksi serentak di lima belas kota di Indonesia pada Minggu, 2 Agustus 2026. Aksi serentak ini bertujuan untuk memberikan edukasi dan penyadartahuan kepada masyarakat umum bahwa harimau sebagai satwa langka endemik Indonesia. Dahulu Indonesia masih memiliki harimau jawa dan harimau bali. Namun, saat ini yang tersisa hanya ada jenis harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae).

“Melalui kampanye di beberapa kota, kami ingin menyebarkan informasi dan menggalang dukungan publik secara luas mengenai harimau sumatera, satwa endemik kebanggaan Indonesia yang kini terancam punah. Spesies ini juga memiliki nilai penting dalam
budaya dan kearifan lokal di Pulau Sumatera” ucap Hilman Fauzi, Kapten Tim APE Protector COP. Kampanye serentak ini dilakukan pada Hari Minggu, 2 Agustus 2026 oleh Orangufriends
di Kota Medan, Padang, Pasaman, Yogyakarta, Bandung, Kuningan, Samarinda, Malang, Lumajang, Manokwari, Cirebon, Padangsidempuan, Sidikalang, Manado dan Wahau.

Sejak 2022, tim COP bernama APE Protector bekerja di Kabupaten Pasaman bersama BKSDA Sumatera Barat dan masyarakat lokal. Tim ini melakukan kegiatan bersama seperti sapu jerat, patroli kawasan, mitigasi konflik, hingga penyelamatan harimau dan satwa liar lainnya. “Saat ini setidaknya ada tiga harimau sumatera yang harus segera dilepasliarkan. Mereka dievakuasi pada akhir tahun 2025 dan bulan Mei 2026. Para harimau ini harus dievakuasi karena terluka akibat jerat. Kita dukung penuh rencana Kementerian Kehutanan untuk melepasliarkan kembali harimau tersebut” tambah Hilman.

Aksi serempak ini sudah dilakukan tiga tahun terakhir, bersama relawan COP yang tergabung dalam Orangufriends yang ada di beberapa kota di Indonesia. Isu yang selalu dibawakan adalah tentang jerat yang setiap tahunnya menjadi masalah di harimau sumatera. Pemasangan jerat masih sering ditemui di hutan Indonesia. Kasus harimau terkena jerat kerap terjadi di berbagai daerah di Sumatera, dari Aceh hingga Lampung. Sebagian harimau mati akibat infeksi, pendarahan, ataupun kelaparan setelah terkena jerat. Saat ini populasi harimau sumatera tidak lebih dari 600 individu dan termasuk satwa berstatus Kritis (Critically Endangered) menurut IUCN Red List. Tekanan habitat dan pemasangan jerat menjadi ancaman serius bagi harimau sumatera. Kampanye publik ini diharapkan dapat meningkatkan kepedulian masyarakat untuk ikut melestarikan harimau sumatera dan mendorong penegakan
hukum bagi pelaku pemasangan jerat.

Narahubung:
Hilman Fauzi, Kapten Tim APE Protector COP
Kontak: +62 817 7547 0113 Catatan:

– APE Protector adalah tim yang dikelola oleh COP di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. Misi
utama APE Protector adalah mendampingi kelompok masyarakat untuk melakukan patroli mandiri,
mitigasi konflik dan edukasi atau penyadartahuan.
– COP menjalankan dan mengelola relawannya yang bernama Orangufriends untuk bisa mendukung
kampanye dan kegiatan aksi langsungnya. Kelompok Orangufriends aktif ada di beberapa kota di
Indonesia.