TAPIR MUDA DI ATAS PICK UP DALAM PESANAN

Bukan panda. Bukan pula hewan eksotis yang bisa dipelihara sesuka hati. Ia adalah Tapir Asia, satwa yang hidup diam-diam di hutan, berjalan pelan, dan lebih sering menghindar dari pada melawan. Tapi justru karena itu, ia menjadi korban.

Tubuhnya hitam putih, kontras, mudah dikenali. Banyak orang menyebutnya “Panda Asia”. Padahal ia tidak punya hubungan kekerabatan dengan panda yang ternyata sekeluarga dengan beruang. Ia lebih dekat dengan kuda dan badak. Moncongnya yang lentur seperti belali pendek digunakan untuk meraih daun, buah, dan tunas muda. Dalam ekosistem hutan, tapir bukan sekadar penghuni. Ia adalah penyebar biji yang membantu hutan tumbuh kembali, diam-diam, tanpa pernah meminta perhatian. Ironisnya keunikan ini menjadi hal yang dicari orang.

27 Februari 2026, Tim gabungan dari BKSDA Sumatera Barat, KPHL Pasaman Raya, bersama dengan Centre for Orangutan Protection menggagalkan transaksi ilegal satu individu tapir di Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat. Tapir muda jantan ditemukan dalam kondisi hidup, namun terluka, terikat, dan terjebak dalam rantai perdagangan yang tidak pernah ia pilih.

Tim memulai operasi dan bergerak menuju Jorong Sungai Baluik, Nagari Muara Tais, Kecamatan Mapat Tunggul pada dini hari. Sebuah mobil pick up dihentikan dan ditemukan tersangka bersama seekor tapir yang terikat lemah dengan luka-luka. Dari keterangan pelaku, tapir itu akan dikirim ke Medan dengan tujuan “mini zoo”. Upah yang dijanjikan enam juta rupiah ditambah bonus jika sampai tujuan.

Pada kaki depan kiri dan kaki belakang kanan tapir terlihat bekas jeratan menganga. Tali yang melilit terlalu lama telah merobek kulitnya. Di bagian kepala, luka lain terlihat jelas. Ia tidak melawan, ia hanya bertahan. Kini, tapir dalam perawatan dokter hewan di BKSDA SKW 1 Bukittinggi. Pasalnya ini tidak hanya satu kali terjadi, dua peristiwa berbeda, satu pola yang sama yaitu satwa liar terus menjadi korban.

Beberapa minggu sebelumnya, dunia konservasi diguncang oleh kematian seekor gajah tanpa kepala di Riau. Umurnya 40 tahun. Dibunuh, dipotong, dan ditinggalkan. Tidak jauh dari sana, di Sumatra Barat, seekor tapir muda dijual untuk hiburan. Pengembangan kasus tersebut, dua pelaku lain berhasil diamankan yaitu sebagai seorang perantara dan pemburu yang menangkap tapir tersebut dari alam. Rantai perdagangan itu panjang. Dari hutan ke pemburu, dari pemburu ke perantara. Dari perantara ke pembeli. Semua bergerak karena satu hal yaitu permintaan.

Hukum sebenarnya sudah ada. Undang-undang tentang konservasi sumber daya alam hayati mengatur sanksi pidana hingga 15 tahun penjara dan denda ratusan juta rupiah. Tapi pada awal 2026, perubahan regulasi justru menghapus batas minimal hukuman. Artinya, pelaku bisa saja mendapat hukuman lebih ringan.

Di titik ini, pertanyaannya bukan lagi apakah hukum cukup kuat.

Tetapi, seberapa serius kita ingin melindungi yang satwa liar?

Tapir tidak akan protes. Ia tidak akan berbicara di pengadilan, tidak akan menuntut keadilan. Ia hanya akan kembali ke hutan jika ia selamat dan melanjutkan perannya sebagai penyebar kehidupan. Atau mati, tanpa benar-benar diketahui.

Perdagangan satwa liar bukan hanya soal pelanggaran hukum. Ia adalah cermin dari cara manusia memandang alam sebagai sesuatu yang bisa dimiliki, diperjualbelikan, dan dikurung untuk hiburan. Dan selama cara pandang itu tidak berubah, akan selalu ada tapir lain yang menyusul (APE PROTECTOR)

HUJAN TAK MENGHENTIKAN LANGKAH UNTUK MEMBONGKAR KAMERA JEBAK DI SM BARUMUN

Langit di atas Suaka Margasatwa Barumun masih menyisakan mendung tebal. Hujan sempat turun, membasahi jalan setapak dan membuat tanah menjadi licin. Keberangkatan tim pun harus tertunda. Namun semangat tidak ikut reda.

Pada bulan lalu, Tim BBKSDA Sumatera Utara Resort Barumun III dan Centre for Orangutan Protection menuju desa Pasar Ipuh, kecamatan Ulu Barumun, kabupaten Padang Lawas, Sumatra Utara untuk membongkar tiga unit kamera jebak di dua titik berbeda dalam kawasan SM Barumun.

“Medannya pasti berat setelah hujan”, ujar salah satu anggota tim sambil mengencangkan tali tas punggung. “Yang penting data aman, kameranya kembali”, jawab yang lainnya. Perjalanan menuju titik pertama bukan tanpa tantangan. Jalur menjadi lebih licin, ranting-ranting basah dan beberapa bagian tanah berubah menjadi lumpur. Namun kamera-kamera yang dipasang sebelumnya telah menjalankan tugas pentingnya yaitu merekam pergerakan satwa liar dan mendokumentasikan aktivitas di dalam kawasan.

Kamera jebak bukan sekadar alat. Ia adalah “mata” yang bekerja tanpa lelah, siang dan malam. Dari perangkat inilah tim dapat memantau keberadaan satwa, membaca pola pergerakan, hingga mendeteksi potensi ancaman terhadap kawasan konservasi.

Setibanya di lokasi pertama, tim segera membagi peran. Ada yang mendokumentasikan, ada yang memastikan titik koordinat, ada yang memeriksa kondisi perangkat sebelum dilepas. Kamera pertama pun berhasil dibongkar dengan aman. “Masih utuh. Semoga datanya lengkap”, ucap salah satu anggota tim sambil memasukkan perangkat ke dalam tas. Lokasi kedua menuntut tenaga ekstra. Jalur menanjak dan basah memperlambat langkah. Namun menjelang siang, dua unit kamera di titik tersebut berhasil diamankan.

Kegiatan ini bukan akhir, melainkan bagian dari rangkaian monitoring. Besok, tim akan kembali menyusuri hutan untuk membongkar enam unit kamera tambahan di tiga lokasi berbeda. Langkah-langkah di bawah rimbun hutan Barumun hari itu, mungkin tampak sederhana melepas perangkat dari batang pohon, mencatat koordinat, menyimpan memori. Namun dibaliknya ada kerja kolaboratif antara mitra lapangan dan pihak pengelola kawasan, ada komitmen untuk memastikan setiap data yang terkumpul dapat mendukung upaya perlindungan satwa dan habitatnya.

Hujan boleh saja turun. Jalur boleh saja licin. Tetapi upaya menjaga kawasan tidak pernah menunggu cuaca menjadi sempurna. Dari SM Barumun, kerja-kerja sunyi seperti ini terus berjalan perlahan, konsisten, dan penuh dedikasi. APE Patriot bersama para mitra di lapangan membuktikan bahwa perlindungan hutan bukan hanya tentang patroli dan penindakan, tetapi juga tentang memastikan setiap informasi terekam, setiap jejak terbaca, dan setiap langkah kecil membawa dampak besar bagi kelestarian alam. (UZI)

MUD, SLOPES, AND A SNAPPED ROPE

Fieldwork isn’t always about clean data and neat reports. Sometimes, it’s mud in your face, engines screaming on steep slopes, and figuring things out when everything falls apart. Recently, me and my partner spent a week assessing areas around coal mining sites and palm oil plantations. One motorcycle. Extreme muddy terrain. Brutal slopes. Not a single day without being completely covered in dirt.

On the very last day, our motorcycle broke down. Broken gear. Remote location. No signal. No tools. Just us and the silence of nowhere. After struggling to get reception, we finally reached the backup team who had just arrived from another town. With no proper equipment to fix the bike, we had improvised. Tied a rope from the car and towed the motorcycle 20 km to the nearest village.

Simple in theory. Terrifying in practice.

The road was full of potholes and steep descents. The car had to keep the perfect speed while the bike fought to stay balanced. Then gravity took over on a downhill stretch, the motorcycle almost slammed into the car. My partner braked, the rope tangled under the wheel, and snapped.

That moment was a reminder that fieldwork is never “just fieldwork”. It test your wit, resilience, and teamwork in real time. We slowed down, coordinated through walkie-talkie, and carefully finished the 20 km journey. Rough? Absolutely. Worth it? Every single time. (DIM)

KETIKA LAPANGAN MENGUJI KAMI

Kerja lapangan tidak selalu soal data rapi dan laporan yang tersusun manis. Beberapa waktu lalu, saya dan satu rekan kerja melakukan assesmen di sekitar area tambang batubara dan perkebunan sawit. Dengan satu motor, jalur berlumpur tanpa akhir dan tanjakan ekstrem yang setiap hari menguji keseimbangan dan kesabaran. Tidak ada satu hari pun, kami tidak dipenuhi debu dan lumpur. Sampai di hari terakhir, rasa lelah sudah terasa dan motor kami akhirnya menyerah. Gigi rusak. Lokasi terpencil. Sinyal nyaris tidak ada. Tanpa alat. Hanya kami dan kenyataan bahwa ini tidak akan mudah.

Setelah susah payah mencari sinyal, kami berhasil menghubungi Tim backup yang baru tiba dari kota lain. Tanpa peralatan yang memadai, kami harus berimprovisasi dengan mengikatkan tali dari mobil untuk menarik motor sejauh 20 kilometer ke desa terdekat. Terdengar sederhana. Kenyataannya tidak. Jalan penuh lubang dan turunan curam. Di salah satu turunan, motor melaju terlalu cepat mendekati mobil. Pengendara motor pun panik, menarik rem, dan tali sempat terlilit sebelum akhirnya putus. Dalam hitungan detik, kami sadar betapa cepat situasi bisa berubah menjadi berbahaya.

Momen ini jadi pengingat bahwa kerja lapangan bukan sekedar kerja lapangan. Ia menguji kecerdikan, ketahanan, dan kerja sama tim secara nyata. Setelah itu kami melaju lebih pelan, berkomunikasi lewat HT, dan akhirnya menyelesaikan 20 km itu dengan aman. Berat dan penuh tantangan? Selalu. Tapi justru di perjalanan seperti itulah kita belajar seberapa kuat sebenarnya tim kita. (DIM)