MEWARNAI UNTUK MASA DEPAN BERSAMA ANAK-ANAK RAHIB

Peringatan Hari Orangutan Sedunia di SDN 030432 Rahib, Pakpak Bharat, Sumatra Utara menjadi berbeda karena ke tiga puluh tujuh siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 mengikuti kegiatan lomba mewarnai bertema orangutan. Melalui kertas gambar dan krayon di tangan, anak-anak mulai menuangkan imajinasi mereka. Beragam warna memenuhi gambar orangutan dan hutan. Ada yang memilih warna-warna cerah, ada pula yang denga teliti memadukan berbagai warna agar hasil karyanya terlihat semakin menarik. Suasana kelas pun dipenuhi semangat, konservasi, tawa, dan obrolan kecil antar teman. Namun kegiatan ini bukan sekadar tentang menentukan siapa yang menghasilkan yang paling indah.

Anak-anak diajak mengenal orangutan lebih dekat sejak usia dini. Mereka belajar bahwa orangutan bukan hanya satwa yang hidup di dalam hutan, tetapi juga bagian penting dari ekosistem. Keberadaan orangutan memiliki hubungan yang erat dengan keberlangsungan hutan, tempat berbagai makhluk hidup bergantung. Kegiatan semakin menyenangkan karena lomba mewarnai juga diselingi dengan berbagai permainan edukatif. Anak-anak bergerak, bermain, tertawa, sekaligus mengingat kembali pesan-pesan tentang orangutan dan pentingnya menjaga lingkungan. Pendekatan yang sederhana dan dekat dengan dunia anak-anak membuat pesan konservasi lebih dekat dengan sasarannya.

Antusiasme terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Anak-anak tidak hanya menjadi peserta lomba, tetapi juga bagian dari proses bersama tentang alam di sekitar mereka. Dari sebuah gambar yang diwarnai, muncul rasa ingin tahu. Dari permainan sederhana, tersampaikan pesan tentang pentingnya menjaga hutan. Dan dari pengalaman kecil seperti ini, diharapkan tumbuh kepedulian yang akan terus berkembang.

Hari ini, mungkin orangutan masih mereka kenal melalui gambar dan cerita sederhana. Namun, suatu hari nanti, pengetahuan tersebut dapat menjadi dasar untuk memahami mengapa satwa liar dan habitatnya harus dijaga. Konservasi tidak selalu harus dimulai dengan langkah besar. (PUT)

MENGENAL HARIMAU SUMATRA DAN BAHAYA JERAT BERSAMA ORANGUFRIENDS

Masih dalam rangkaian Bulan Orangufriends yang menjadi ruang bagi relawan COP untuk ikut terlibat secara nyata dalam aksi-aksi konservasi, salah satunya School Visit di SMPN 01 Bonjol, Kecamatan Bonjol, Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat. Kali ini bersama Dea dan Hera yang menjalani program volunteer selama tiga bulan setelah mengikuti COP School Batch 16.

Sebanyak 15 siswa kelas IX mengikuti kegiatan dengan antusias. Para siswa diajak mengenal lebih dekat Harimau Sumatra, mulai dari karakteristik, kehidupan di alam, kondisi populasinya, hingga berbagai ancaman yang dihadapi satwa endemik Sumatra tersebut. Melalui diskusi sederhana, para siswa diajak memahami bahwa menjaga harimau berarti turut menjaga hutan dan seluruh kehidupan yang ada di dalamnya. Mereka juga diajak mengenali peran manusia dalam mengurangi berbagai ancaman terhadap satwa liar.

Setelah materi selesai, suasana belajar berlanjut ke sesi tanya jawab dan diskusi interaktif di pojok baca yang dilengkapi galeri foto satwa. Kehadiran foto-foto satwa membuat siswa dapat melihat lebih dekat kehidupan satwa liar dan ancaman yang mereka hadapi di habitatnya.

Agar pesan konservasi semakin mudah dipahami, kegiatan kemudian dilanjutkan dengan fun games di luar ruangan. Para siswa mengikuti simulasi bertema, “Membebaskan Diri darui Jerat”. Melalui permainan tersebut, mereka diajak merasakan secara sederhana bagaimana sulitnya satwa ketika terperangkap jerat, sekaligus memahami mengapa jerat menjadi salah satu ancaman serius bagi satwa liar.

Kegiatan ini menunjukkan bahwa aksi konservasi dapat dimulai dari hal sederhana, dengan belajar, berbagi, dan berani terlibat. Bagi Dea dan Hera, pengalaman sebagai Orangufriends sekaligus alumni COP School Batch 16 menjadi kesempatan untuk meneruskan pengetahuan yang pernah mereka dapatkan kepada generasi muda. Selama tiga bulan ini keduanya dengan berani mengambil bagian dalam menyebarkan pesan bahwa menjaga satwa berarti menjaga masa depan hutan. (APE Protector)

ORANGUTAN DAYA 2026 DI 9 KOTA, DENGAN 1 SUARA UNTUK HUTAN YANG SAMA

Ada satu suara yang bergema dari banyak tempat. Dari Sidikalang, Medan, Padangsidimpuan, Padang, Jambi, Bandung, Yogyakarta, Samarinda, hingga Berau, orang-orang berkumpul dan bergerak bersama untuk menyampaikan satu pesan, “Act for Orangutans. Their Forest, Our Future”. World Orangutan Day 2026 bukan sekedar tentang memperingati keberadaan orangutan. Hari ini adalah kesempatan bersama untuk kembali melihat lebih dekat siapa mereka dan mengapa keberadaan orang utan begitu penting bagi hutan.
Orangutan bukan hanya satwa yang kita kenal karena wajahnya yang menggemaskan dan tingkahnya yang menarik. Mereka juga memiliki peran penting sebagai penyebar benih, membantu menjaga regenerasi hutan melalui biji-biji tumbuhan yang mereka makan dan sebarkan. Kehidupan orangutan tidak pernah bisa dipisahkan dari hutan. Di sanalah mereka mencari makanan, membangun sarang, merawat anak, dan berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya. Setiap pohon yang berdiri adalah bagian dari rumah. Setiap kawasan hutan yang tetap terjaga adalah kesempatan bagi mereka untuk terus hidup. Ketika hutan kehilangan ruangnya, orangutan ikut kehilangan rumah. Ketika hutan terfragmentasi dan terus tertekan, kehidupan mereka menjadi semakin rentan.
Di setiap tempat, pesan tentang orangutan disampaikan dengan cara berbeda. Ada yang mengajak anak-anak mengenal orangutan sejak dini. Ada yang berbagi cerita tentang hutan dan satwa liar. Ada pula yang mengajak masyarakat memahami bahwa menjaga orangutan bukan hanya pekerjaan para penjaga hutan, peneliti, atau organisasi konservasi. Kita semua punya peran. Sebab mencintai orangutan bukan hanya tentang menyukai foto mereka atau merasa gemas ketika melihat tingkahnya. Mencintai orangutan berarti mencintai hutan yang menjadi rumahnya. Berarti peduli pada pohon-pohon yang tumbuh di dalamnya, air yang mengalir dari kawasan hutan, serta kehidupan berbagai satwa dan manusia yang bergantung padanya.
Hari ini kita merayakan hari orangutan. Tetapi perjuangan untuk mereka tidak berhenti ketika World Orangutan Day berakhir. Suara yang kita bangun hari ini harus terus hidup menjadi kepedulian, dan kepedulian harus tumbuh menjadi tindakan. Dari sembilan kota, satu pesan terus menyala, bersama COP melindungi orangutan dan yang lainnya. (NAB)