ROAD TO HKAN 2026: SAAT KONSERVASI HADIR DI TENGAH KERAMAIAN KOTA

Suasana akhir pekan di Atrium City Centrum Mall, Samarinda pada Sabtu, 25 Juli terasa sedikit berbeda. Di antara lalu lalang pengunjung yang datang untuk berbelanja dan berkumpul bersama keluarga, terpampang deretan foto orangutan, bentang hutan tropis, hingga berbagai informasi tentang satwa liar Indonesia. Bukan sekadar pameran, hari itu menjadi ruang bertemunya masyarakat dengan dunia konservasi.

Dalam rangka menyambut Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bersama Centre for Orangutan Protection (COP) menggelar kegiatan Road to HKAN 2026 mengusung tema “Konservasi Alam, Merawat Indonesia”. Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Kepala Balai BKSDA Kalimantan Timur yang mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk turut mengambil peran dalam menjaga kelestarian alam Indonesia. Dalam sambutannya, Kepala BKSDA Kaltim menegaskan bahwa keberhasilan konservasi tidak hanya bergantung pada pemerintah atau lembaga konservasi, tetapi juga membutuhkan dukungan masyarakat. Kesadaran untuk menjaga alam dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan setiap hari dan tumbuh melalui edukasi yang terus disampaikan ke publik.

Selama kegiatan berlangsung, pengunjung diajak mengenal lebih dekat berbagai upaya pelestarian satwa liar dan habitatnya melalui pameran fotografi konservasi yang diselenggarakan oleh COP. Setiap foto menyimpan cerita tentang kehidupan orangutan di alam liar, proses penyelamatan satwa, hingga pentingnya menjaga hutan sebagai rumah bagi ribuan spesies. Pengunjung dari berbagai usia berdiskusi dengan para pegiat konservasi, mengenal berbagai program perlindungan satwa liar, sekaligus mengetahui bagaimana mereka dapat ikut berkontribusi dalam menjaga alam.

Tidak hanya menghadirkan edukasi, Road to HKAN 2026 juga menjadi panggung untuk merayakan kekayaan budaya Kalimantan. Penampilan musik sape dan tari tradisional Dayak berhasil memukau para pengunjung, disusul pertunjukan energik dari UKM Band Universitas Mulawarman yang semakin menghidupkan suasana. Acara kemudian ditutup dengan penampilan spesial dari Rio Satrio yang mengajak seluruh pengunjung menikmati malam penuh semangat.

Kesuksesan kegiatan ini tidak lepas dari dukungan para relawan orangutan yang tergabung dalam Orangufriends Samarinda yang turut membantu jalannya acara sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan. Kolaborasi antara pemerintah, organisasi konservasi, komunitas, relawan, dan masyarakat menjadi bukti bahwa menjaga alam adalah tanggung jawab bersama. Semakin banyak masyarakat yang menyadari bahwa konservasi bukan hanya tentang melindungi satwa liar, tetapi juga tentang menjaga masa depan lingkungan tempat kita semua hidup. Sebab, setiap langkah kecil yang kita lakukan hari ini dapat menjadi bagian perubahan besar bagi kelestarian alam Indonesia. (ENG)

KEPO-IN ROBERT SELAMA BULAN JULI 2026

Bulan Juli menjadi bulan yang penuh cerita bagi Robert di area enclosure. Robert saat ini menghabiskan hari-harinya di ruang luas, di kelilingi pepohonan yang memberinya kesempatan untuk memanjat, beristirahat, dan menikmati suasana yang lebih alami.

Setiap pagi, Robert memiliki cara tersendiri untuk memulai harinya. Terkadang ia sudah berada di dekat pagar seolah menanti waktu pemberian pakan, namun di hari lain ia memilih tetap berada di tengah pepohonan, menikmati suasana pagi dari atas cabang-cabang pohon. Ketika keeper memanggilnya, Robert akan menghampiri untuk menikmati pakan, kemudian kembali melanjutkan aktivitasnya di dalam enclosure.

Sebagian besar waktunya dihabiskan di atas pohon. Robert terlihat berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya, memilih tempat yang nyaman untuk beristirahat, atau sekedar duduk sambil mengamati lingkungan di sekitarnya. Sesekali ia memperhatikan aktivitas orangutan lain maupun keeper yang sedang melakukan pemantauan, tetapi tak lama kemudian ia kembali larut dengan aktivitasnya sendiri di antara rimbunnya pepohonan.

Area enclosure juga menyediakan berbagai jenis tumbuhan yang dapat dimanfaatkan Robert. Selain menikmati pakan yang diberikan keeper, ia mulai mencoba berbagai sumber pakan alami yang tersedia di dalamnya, termasuk beberapa jenis buah hutan. Momen-momen seperti ini menjadi pemandangan yang menyenangkan bagi tim yang setiap hari mendampinginya.

Saat cuaca cerah dan matahari terasa cukup terik, keeper sesekali memberikan buah kelapa sebagai tambahan. RObert selalu menyambutnya dengan antusias. Ia merobek sabut kelapa menggunakan giginya, menikmati daging buahnya, lalu meminum air kelapa hingga habis. Pada kesempatan lain, batang tebu juga diberikan sebagai variasi sekaligus sumber cairan yang dinikmati Robert.

Selain itu, bulan ini, tim juga menambahkan sebuah alat enrichment berupa tabung yang dapat diisi air dengan berbagai cara, baik menggunakan tangan maupun memanfaatkan benda-benda yang ada disekitarnya.

Menjelang sore, Robert kerap terlihat berada di bagian tengah ataupun pinggir enclosure sebum akhirnya memilih tempat beristirahat untuk malam hari. Di bawah rindangnya pepohonan atau di area yang menurutnya nyaman, Robert mengakhiri aktivitas hariannya hingga keesokan pagi kembali memulai rutinitasnya.

Setiap hari di enclosure menghadirkan cerita yang berbeda. Ada hari ketika Robert lebih banyak menikmati ketenangan dari atas pohon, ada pula hari ketika ia lebih aktif menjelajahi setiap sudut kawasan. Semua itu menjadi bagian dari kesehariannya, memperlihatkan bagaimana Robert memanfaatkan ruang jelajahnya dengan caranya sendiri sambil terus menikmati kehidupan di lingkungan yang lebih alami. (NAB)

DUA PEKAN MENGIKUTI JEJAK EBONI, BAGUS, DAN RUBY

Ada perasaan yang sulit saya gambarkan ketika menyaksikan pintu kandang angkut dibuka setelah perjalanan panjang menuju hutan Busang. Hampir 12 jam perjalanan dari Berau akhirnya terbayarkan ketika Bagus, Ruby, dan Eboni satu per satu keluar dari kandang, lalu tanpa ragu memanjat pohon pertama yang mereka temui. Momen itu selalu menjadi pengingat mengapa proses rehabilitasi begitu berarti. Setelah melalui perjalanan yang panjang, kini mereka kembali berada di tempat yang seharusnya di tengah hutan Kalimantan.

Namun, pelepasliaran bukanlah akhir dari cerita. Justru saat itulah tugas kami dimulai. Selama dua minggu berikutnya, saya bergabung bersama tim Post Release Monitoring (PRM) untuk mengikuti kehidupan baru Bagus, Ruby, dan Eboni. Setiap hari kami berangkat sebelum matahari terbit dan baru kembali ketika cahaya mulai menghilang di balik kanopi hutan. Jalur yang kami tempuh tidak selalu mudah. Menyusuri sungai menggunakan ketinting, berjalan di jalur setapak yang licin, hingga menembus rapatnya vegetasi sudah menjadi bagian dari rutinitas.

Setiap orangutan memiliki kebiasaannya masing-masing. Eboni tampak begitu lincah berpindah dari satu pohon ke pohon lain. Ia menghabiskan banyak waktu di kanopi hutan, mencari buah-buahan matang dan sesekali membongkar sarang serangga untuk mencari tambahan pakan. Bagus terlihat lebih tenang. Ia kerap memilih duduk sambil menikmati daun-daun muda di sekitarnya sembari sesekali memperhatikan kondisi hutan. Sementara Ruby memiliki karakter yang lebih santai. Ia sering terlihat berbaring nyaman di atas percabangan pohon, menikmati waktu istirahat sambil mengunyah pakan yang ada di sekitarnya.

Bagus memiliki cerita yang sedikit berbeda bagi saya. Sebelum mengikutinya di hutan Busang, saya sudah mengenalnya sejak ia masih berada di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). Sebagai dokter hewan, saya cukup sering bertemu dengannya, baik saat pemeriksaan kesehatan maupun ketika mengamati perilakunya selama menjalani rehabilitasi. Bagus adalah orangutan yang tenang, bukan tipe yang selalu aktif menunjukkan rasa ingin tahunya, melainkan lebih sering mengamati keadaan di sekitarnya terlebih dahulu. Kebiasaan itu membuat saya cukup mengenal ekspresi dan tingkah lakunya. Karena itulah, ketika melihatnya duduk di atas pohon-pohon tinggi Busang, memilih daun muda sebagai makanannya, lalu berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya tanpa bergantung pada manusia, ada perasaan haru yang sulit dijelaskan. Rasanya seperti bertemu kembali dengan teman lama yang kini telah menemukan rumahnya.

Hari-hari pertama pemantauan berjalan lancar. Kami dapat mengamati aktivitas mereka dari kejauhan tanpa banyak mengganggu. Hingga akhirnya, memasuki hari kelima, ketiganya seolah menghilang. Selama beberapa hari berikutnya kami menyusuri berbagai jalur yang kemungkinan dilewati mereka. Kami mencari sarang baru, bekas pakan, patahan ranting, hingga suara pergerakan di antara pepohonan. Waktu terus berjalan, tetapi belum ada tanda-tanda keberadaan mereka.

Tentu ada rasa penasaran yang terus menemani. Ke mana mereka bergerak? Apakah mereka baik-baik saja? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu muncul setiap kali kamu kembali ke campt tanpa hasil. Memasuki minggu kedua, semangat kami tidak berkurang. Seperti biasa, pagi itu kami kembali melakukan patroli. Menjelang siang kami memutuskan untuk kembali ke ketinting dan beristirahat sejenak setelah beberapa jam menyusuri hutan. Namun, tepat ketika kami hampir tiba di tepian sungai, mata saya menangkap sesuatu bergerak di antara dedaunan.

“Ada orangutan!”, spontan saya berseru.

Soni, salah satu ranger APE Guardian, segera mendekat untuk memastikan. Tidak lama kemudian ia menjawab dengan nada penuh semangat, “Ada dua”.

Saat saya mendekat, saya langsung mengenali wajah-wajah yang kami cari selama berhari-hari.

“Walah… ini Eboni dan Bagus”, ucap saya spontan sambil tertawa kecil. Rasanya lucu sekaligus melegakan. Kami sudah menyusuri hutan cukup jauh untuk mencari mereka, sementara ternyata keduanya berada tidak jauh dari tepian sungai. Mereka tampak sehat, tenang, dan sama sekali tidak terganggu dengan kehadiran kami. Tidak lama kemudian, Eboni dan Bagus kembali memanjat lebih tinggi, lalu sibuk menikmati buah-buahan hutan yang sedang matang.

Momen sederhana itu menjadi salah satu kenangan yang paling saya ingat selama mengikuti PRM. Bukan hanya karena akhirnya kami kembali menemukan mereka, tetapi juga karena saya dapat melihat Bagus yang kini bebas menentukan arah jelajahnya, memilih makanannya sendiri, dan menghabiskan hari-harinya di tengah hutan.

Sebagai dokter hewan, melihat satwa yang pernah menjalani rehabilitasi kini mampu beradaptasi di habitat alaminya merupakan kepuasan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Tugas kami memang memastikan kondisi kesehatan mereka tetap terpantau, tetapi yang jauh lebih membahagiakan adalah melihat mereka menjalani kehidupan yang semakin mandiri di tengah hutan. (SIN)