MENYUSURI JEJAK INDUK ORANGUTAN DI HUTAN KINABATANGAN

Matahari sudah keluar dari peristirahatannya dan capanya telah masuk hingga menyentuh lantai hutan. Pagi itu cuaca cerah berawan. Tim kami menapaki hutan Kinabatangan untuk mencari orangutan liar. Hutannya sangat lembap. Sepatu boots kami beberapa kali melangkah di genangan air dan anak sungai. Hutan Kinabatangan terletak di wilayah Desa Sukau, Sabah, Malaysia. Tipe hutannya “freshwater swamp forest” karena berada di tepi Sungai Kinabatangan yang sangat lebar. Jika datang musim hujan atau cuaca ekstrem, air sungai akan meluap dan membuat hutan ini terendam air, menjadikannya rawa-rawa.

Sekitar pukul 9 pagi kami akhirnya menemukan orangutan. Ia duduk tidak bergerak di atas pohon dan sepertinya waspada dengan kehadiran manusia. Saya hanya bisa melihat sebagian punggungnya saja. Setelah beberapa menit, ia akhirnya berayun untuk makan. Saat itulah saya melihat tubuhnya secara utuh. Betina dewasa, rambutnya coklat gelap dan agak kusut, wajahnya tirus, berukuran sebesar Jenong (salah satu orangutan yang pernah kami rawat di BORA). Ada tangan kecil yang terlihat di bagian pinggang orangutan itu. Ternyata ia memiliki bayi. Tim Orangutan Research (OURs) dari LSM HUTAN memberi tahu kami bahwa induk orangutan ini bernama Mallotus dan bayinya bernama Muticus. Nama ini diambil dari spesies pohon Mallotus muticus. Mallotus dulu lahir di pohon tersebut dari induk yang bernama Jenny. Sedangkan Muticus lahir di tahun 2021 dan saat ini berusia 5 tahun. LSM HUTAN telah meneliti orangutan liar di Kinabatangan sejak tahun 1998. Saat ini sudah 3 generasi orangutan yang mereka monitoring. Orangutan Jenny diikuti dari tahun 1998 sampai dengan kematiannya di tahun 2020. Jenny memiliki 4 anak, salah satunya Mallotus yang lahir di tahun 2005. Muticus merupakan anak kedua dari Mallotus dan cucu dari Jenny. 

Kami mengikuti dan mencatat perilaku Mallotus dan bayinya selama satu hari. Pasca musim hujan, di dalam hutan sedang memasuki musim buah sehingga perilaku Mallotus didominasi oleh makan. Pergerakan selama satu hari tidak banyak. Jelajah orangutan betina memang relatif lebih pendek dan sempit dibanding orangutan jantan. Ini pertama kalinya saya melakukan monitoring orangutan liar yang memiliki bayi. Saya melihat bagaimana Mallotus membiarkan Muticus bereksplorasi sendiri, tapi tetap menjemput Muticus ketika ia bermain terlalu jauh. Ukuran tubuh orangutan di Kinabatangan lebih kecil dibandingkan orangutan liar yang kami jumpai di Kalimantan Timur. Sarang-sarang orangutan yang kami temui di sini juga berukuran relatif kecil. Hal ini kemungkinan karena kelimpahan pakan di hutan rawa Kinabatangan tidak sebanyak pakan di hutan dataran rendah di Kalimantan Timur. Ada satu momen berkesan ketika hujan deras turun di sore hari. Mallotus memetik dedaunan dan dijadikan payung di atas kepalanya. Perilaku ini menunjukkan orangutan memiliki kemampuan berpikir (kognitif) dan problem solving yang baik.

Kunjungan belajar (study trip) di Kinabatangan ini mengajarkan saya akan konsistensi dan kolaborasi. Sebuah stasiun riset dapat bertahan dalam waktu panjang karena bekerja sama dengan warga lokal yang sangat loyal. Mayoritas staf LSM HUTAN merupakan penduduk asli Desa Sukau. Beberapa staf senior sudah bekerja di HUTAN selama 15-20 tahun. Hutan Kinabatangan tidak hanya menjadi stasiun riset, tapi juga membawa keuntungan bagi warganya lewat ekowisata yang sudah terkenal hingga mancanegara. Dari kunjungan ini saya jadi tertantang untuk merancang manajemen pengelolaan hutan dan program riset orangutan di lokasi kerja COP antara lain di Busang, PT Hope, dan Siranggas. (IND)

KETIKA JAINUL MENGAJARKAN ARTI MENJADI ORANGUTAN

Menjadi seorang animal keeper di pusat rehabilitasi orangutan bukanlah pekerjaan yang selalu dipenuhi momen manis bersama satwa yang menggemaskan. Di balik tingkah lucu dan ekspresi yang sering membuat orang tersenyum, ada proses panjang yang harus dilalui individual orangutan untuk kembali menjadi dirinya sendiri, yaitu satwa liar yang mandiri dan mampu bertahan hidup di hutan.

Sekolah hutan adalah salah satu proses itu, saya saksikan setiap hari. Di tempat inilah para orangutan belajar berbagai keterampilan yang akan mereka butuhkan di alam. Mereka belajar memanjat, mencari pakan, mengenali lingkungannya, hingga berinteraksi dengan sesama orangutan.

Interaksi tersebut tidak selalu berjalan tenang. Seringkali mereka bermain dengan cara yang bagi manusia terlihat kasar. Menjambak, menggigit, mencengkam, dan salting kejar adalah pemandangan yang lumrah terjadi. Namun di balik perilaku itu, terdapat proses belajar yang sangat penting. Mereka sedang mengasah kemampuan sosial, mengenali batasan, dan membangun karakter yang kelak membantu mereka bertahan hidup di alam liar.

Di antara banyak orangutan yang saya dampingi, ada satu individual yang cukup berkesan yaitu Jainul. Jainul adalah orangutan jantan remaja dengan energi yang seolah tidak pernah habis. Ia memiliki rasa percaya diri yang tinggi dans ering menunjukkan perilaku dominan terhadap lingkungan sekitarnya. Tidak jarang saya menjadi sasaran keisengannya. Serangan kecil, gigitan, tarikan tangan, hingga upaya mencengkeram merupakan hal yang cukup sering saya alami saat mendampinginya.

Tentu saja, sebagai manusia, ada kalanya saya merasa resah. Tidak nyaman ketika harus selalu waspada terhadap tingkah Jainul yang sulit ditebak. Ada hari-hari ketika saya pulang dengan lengan penuh bekas cakaran atau kaki penuh bekas gigitan dan tubuh yang lelah karena harus menghindari ulahnya.

Namun seiring waktu, saya mulai melihat perilaku Jainul dari sudut pandang yang berbeda.

Apa yang ditunjukkannya bukanlah kebencian ataupun kenakalan semata. Sebagai orangutan jantan yang sedang berankaj dewasa, Jainul sedang menunjukkan sifat-sifat alami yang memang seharusnya dimiliki orangutan liar. Ia belajar menjadi individu yang kuat, berani, dan mampu mempertahankan dirinya. Sikap agresif yang kadang membuat saya kewalahan justru menjadi tanda bahwa insting liarnya masih ada. Dan bukankah itu tujuan utama rehabilitasi?

Kami tidak sedang membesarkan hewan peliharaan yang jinak terhadap manusia. Kami sedang mempersiapkan satwa liar agar suatu hari nanti mereka tidak lagi bergantung pada manusia. Karena itulah, setiap kali Jainul mencoba menguji kesabaran saya, ada perasaan yang bertolak belakang dalam diri saya. Di satu sisi, saya merasa was-was dan lelah menghadapi agresivitasnya. Namun di sisi lain, saya merasa senang. Senang karena melihat orangutan yang masih memiliki karakter alaminya. Senang karena ia menunjukkan perkembangan yang dibutuhkan untuk hidup bebas di hutan.

Jainul mengingatkan saya bahwa keberhasilan rehabilitasi tidak selalu terlihat dalam bentuk orangutan yang patuh atau mudah diatur. Namun keberhasilan justru terlihat dari individu yang berani, mandiri, dan cukup “merepotkan” bagi keeper-nya.

Mungkin suatu hari nanti Jainul akan hidup di hutan yang sesungguhnya, jauh dari pagar kandang dan pengawasan manusia. Ketika hari itu tiba, bekas gigitan, cakaran, dan semua keresahan yang pernah saya rasakan akan menjadi bagian kecil dari sebuah cerita yang lebih besar yaitu cerita tentang individu yang berhasil kembali menjadi orangutan sepenuhnya. Dan bagi saya, seorang animal keeper, tidak ada hadiah yang lebih berharga daripada itu. (BOW)

PESAN NOVI UNTUK ORANGUTAN FELIX

Selama tiga bulan ini, aku melihat banyak sekali perubahan dari Felix. Waktu awal aku masuk menjadi tim babysitter, Felix terlihat takut untuk mendekat kepadaku. Aku tahu aku adalah orang baru yang ia lihat, karena itu ia terlihat takut untuk mendekat kepadaku. Seiring berjalannya waktu, Felix mulai percaya kepadaku. Selain itu, ketika takut, biasanya Felix akan pipis. Meskipun hanya melihat keeper laki-laki saja, ia juga akan takut hingga pipis. Ketika di sekolah hutan pun, Felix masih sulit untuk sekadar lepas dari gendongan babysitter. Bahkan ketika sudah berhasil lepas, Felix akan menangis tantrum, ia akan berjalan mengikuti babysitter. Jika sudah bisa meraih babysitter, ia akan memeluk kaki babysitter, setelah itu barulah ia akan diam.

Selama sekolah hutan berjalan, Felix hanya bisa duduk dan memeluk kaki babysitter saja. Terkadang kita akan membiarkan Felix menangis ketika ia tidak ingin dilepaskan dari gendongan. Bukan karena tidak sayang, tujuan rehabilitasi adalah memperbaiki mereka menjadi orangutan liar, bukan orangutan jinak yang nurut kepada manusia.

Dari situ, Felix mau tidak mau membiasakan dirinya menjauh dari babysitter. Awal-awal Felix ketika baru mau memanjat pohon, ia sering sekali mengamati babysitter dari atas. Ketika turun pun, Felix akan menangis karena ia tidak tahu caranya turun dari pohon. Felix bisa turun karena diarahkan oleh babysitter.

Ketika tiga bulan terakhir ini, Felix yang cengeng, yang suka menempel macam perangko susah lepas, Felix yang penakut itu, di pandanganku hilang. Aku melihatnya yang sekarang, Felix keren, si hebat yang mulai menjelajah jauh mengikuti sahabatnya yaitu Pansy. Dari Pansy juga, Felix banyak belajar dan tidak takut lagi ketika babysitter jauh dari pandangannya. Tak hanya sampai di situ, Felix pun berani menjelajah sendiri tanpa sosok Pansy.

Felix yang aktivitas dominannya mengikuti kemana perginya Pansy juga memperhatikan Pansy yang sudah pandai membuat sarang. Dan dalam tiga bulan terakhir ini pun, Felix sudah bisa membuat sarang walaupun belum sempurna seperti orangutan lainnya, tapi itu suatu kemajuan yang sangat kita nantikan dari Felix. Ia juga terlihat beberapa kali memperbaiki atau membenahi sarang lama bekas orangutan lain. Felix juga sering terlihat membuat sarang bersama Pansy.

Sampai saat ini, Felix masih terlihat takut kepada keeper laki-laki, walau keeper tertentu saja dan tidak pipis ketika takut. Keberanian menjelajah sendirinya juga diikuti keberaniannya melawan seperti mencoba memukul keeper atau membuka mulutnya seperti gestur ingin menggigit. Perkembangan Felix yang sangat bagus karena sewajarnya lah, orangutan menghindari manusia.

Harapanku kepada Felix, tetap jadi Felix yang sekarang. Aku yakin Felix bisa jauh lebih baik lagi. Aku tahu kamu (Felix) banyak melewati traumamu, dan yaps… terima kasih Felix sudah bertahan dan mau belajar meniru orangutan lainnya. Kalau bukan dari kemauan kamu untuk berubah, siapa lagi yang dapat mengubah dirimu sendiri. Semangat terus Felix.

Dari aku, Novi, untukmu Felix. (NOV)