KETIKA KARHUTLA MEMBATASI RUANG BELAJAR, RUANG INFORMASI BORA MEMBUKA RUANG BARU

Minggu sore, 6 September 2026, Ruang Informasi BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) ramai oleh aktivitas anak-anak. Sebanyak 40 anak dari RT 4 Kampung Tasuk, Berau, dengan rentang usia 5–13 tahun, datang untuk mengikuti edukasi singkat dan bermain bersama.
Ruang Informasi BORA sendiri baru saja diresmikan pada 18 Agustus 2026 lalu. Kehadirannya menjadi salah satu upaya untuk menyediakan ruang edukasi dan informasi bagi masyarakat sekitar, khususnya anak-anak, tentang orangutan dan upaya pelestariannya. Tidak lama setelah diresmikan, ruang ini kemudian dimanfaatkan sebagai tempat belajar dan bermain bagi anak-anak Kampung Tasuk yang juga terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Anak-anak di Kampung Tasuk sudah belajar dari rumah (BDR) sejak dua minggu lalu. Kondisi tersebut menjadi salah satu momentum untuk memaksimalkan fungsi Ruang Informasi BORA sebagai ruang edukasi dan aktivitas bagi anak-anak. Kegiatan diisi dengan pemberian materi edukasi tentang orangutan, pengenalan Ruang Informasi BORA, serta bermain bersama.
Kegiatan ini disambut baik oleh anak-anak dan orang tua. Antusiasme yang terlihat bahkan melebihi perkiraan awal, yang sebelumnya diperkirakan hanya sekitar 15 anak bersama orang tua. Selain itu, terdapat pula ajakan dari sekolah-sekolah sekitar untuk dapat kembali berkolaborasi dalam kegiatan edukasi orangutan, mulai dari PAUD, TK, hingga SD.
Harapannya, kegiatan ini dapat menjadi pemantik bagi lebih banyak kegiatan lain di Ruang Informasi BORA. Terlebih, sebagai ruang yang baru diresmikan, masih banyak peluang untuk mengembangkan fungsi dan fasilitasnya sebagai ruang belajar dan bermain bagi anak-anak. Insight dari kegiatan ini juga dapat menjadi bahan untuk meningkatkan fasilitas Ruang Informasi BORA, seperti model, board game, maket, atau alat edukasi lainnya yang dapat ditampilkan untuk meningkatkan pengalaman pembelajaran. (RAR)

CHARLIE, SI KECIL YANG BANYAK BERUBAH

Ketika Charlie pertama kali datang, usianya baru sekitar 9 bulan. Saat itu, Charlie masih sangat kecil dan membutuhkan perhatian ekstra. Ia belum terbiasa dengan lingkungan barunya. Waktu tidur pun masih harus dijaga karena Charlie sering terbangun secara tiba-tiba, terlihat kaget, lalu menangis sambil mencari pelukan di sekitarnya.
Sebagai babysitter, salah satu tugasku adalah memastikan Charlie mendapatkan susu sesuai kebutuhannya. Setiap kali waktunya minum, aku menyiapkan susunya dan menemani Charlie sampai ia merasa tenang. Hari-hari pertama bersama Charlie cukup menguras kesabaran. Charlie lebih banyak tidur. Kalau bangun, ia bisa kembali mengantuk tidak lama kemudian. Charlie juga adalah orangutan yang cengeng. Kadang aku sampai berpikir, “Ini anak memang hobinya tidur dan nangis tiap hari ya?”.
Namun, waktu berjalan. Lima bulan berlalu. Charlie yang dulu masih sangat kecil ternyata mengalami banyak perubahan. Sekarang ia sudah jauh lebih berani. Bahkan, ia sudah berani memanjat pohon tinggi dari yang pernah aku bayangkan. Melihat Charlie berada di atas pohon membuatku kadang tidak percaya. “Charlie, sekarang kamu sudah berubah sejauh ini?”, batinku. Charlie hanya terus memanjat dengan tenang, seolah ketinggian bukan sesuatu yang perlu ditakuti.
Yang paling menarik, Charlie sekarang bukan tipe orangutan yang suka banyak merengek. Ia cenderung kalem dan pasrah. Kalau sedang bermain, ia bisa sibuk sendiri tanpa harus terus mencari perhatian. Tetapi ada satu hal yang sepertinya tidak banyak berubah. Charlie masih tidur siang dan kalo kelelahan forest school, Charlie kelihatan sangat mengantuk. Kalau sudah waktunya tidur, ia bisa benar-benar menikmati waktunya. Bangun tidur pun terkadang belum langsung bersemangat untuk beraktivitas.
Begitu juga dengan urusan makan. Charlie bisa makan lama sekali. Bukan karena ia tidak suka makan, tetapi giginya memang belum tumbuh lengkap. Jadi, proses makannya masih membutuhkan waktu dan kesabaran.
Di hari-harinya, Charlie juga punya seorang teman bernama Jane. Kalau melihat mereka berdua, rasanya seperti melihat dua karakter yang benar-benar berbeda. Jane adalah anak yang aktif banget. Ia suka bergerak ke sana kemari, penuh rasa ingin tahu, dan kalau soal makanan… Jane bisa dibilang rakus. Begitu melihat ada makanan, semangatnya langsung muncul.
Sementara Charlie? Charlie lebih santai. Ia kalem, tidak banyak merengek, dan lebih suka bermain sendiri. Kalau Jane sibuk menjelajah dan mencari makanan, Charlie bisa saja tetap duduk dengan tenang menikmati kegiatannya sendiri. Mereka benar-benar bertolak belakang.
Jane yang heboh dan penuh semangat.
Charlie yang kalem dan santai.
Namun, justru perbedaan itulah yang membuat keduanya menarik untuk diamati. Dari bayi kecil berusia sembilan bulan yang dulu sering terbangun kaget dan menangis, kini Charlie sudah tumbuh menjadi orangutan kecil yang jauh lebih berani. Ia memang masih suka tidur. Makannya juga masih lama. Dan sifatnya terkadang masih clingy. Tetapi sekarang ada satu hal yang jelas terlihat, Charlie sudah bukan bayi kecil yang dulu datang kepada kami. Ia sudah menjadi Charlie yang berani mengeksplorasi dunia dengan caranya sendiri. (LUK)

DARI COP SCHOOL 16, KEDUANYA MELANGKAH UNTUK KONSERVASI DI PASAMAN

Perjalanan menjadi bagian dari gerakan konservasi tidak selalu berhenti ketika sebuah kegiatan berakhir. Bagi Dea dan Hera, apa yang mereka dapatkan melalui COP School Batch 16 justru menjadi awal untuk melangkah lebih jauh. Di Bulan Orangufriends 2026, keduanya bersama tim APE Protector mengabdikan diri untuk melakukan edukasi di Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat.
Pada 24-29 Agustus, ada lima sekolah yang langsung dikunjungi kedua relawan COP ini. Ada 211 siswa yang mengikuti kegiatan edukasi konservasi. Kelima sekolahan itu adalah SD Negeri 01 Bonjol, SMPN 01 Bonjol, MTsN 04 Pasaman, SMK Negeri 01 Bonjol, dan SDN 19 Lurah Berangin. COP School yang menjadi ruang untuk belajar, mengenal persoalan konservasi, dan membangun keberanian untuk terlibat menjadikan Orangufriends (relawan satwa COP) menjadi pelaku yang membagikan pengetahuan tentang konservasi ke dunia yang lebih luas lagi.
Dea dan Hera mengajak ratusan siswa mengenal Harimau Sumatra (Panthera tigris Sumatra) di sekolah-sekolah maupun di RIHAS (Ruang Informasi Harimau Sumatera). Materi mencakup karakteristik, habitat, peran ekologis, serta ancaman seperti jerat, perburuan, dan perdagangan satwa liar ilegal. Pengemasannya pun tak lepas dari persiapan mereka, karena keberhasilan edukasi ini tak sekedar menyampaikan tetapi menarik dan membekas pada generasi alpha yang sangat unik ini. Tanya jawab, diskusi, pojok baca, galeri foto, booth buku, hingga permainan interaktif menjadi cara terbaik masuk pada peserta yang usianya tak jauh dari Dea maupun Hera. Simulasi “membebaskan diri dari jerat”, diharapkan dapat membantu peserta memahami bagaimana jerat dapat menjadi ancaman serius bagi satwa liar.
Jika Dea dan Hera langsung menyeburkan diri di tanah Minang, ada kabar apalagi dari alumni COP School Batch 16 yang lain ya? (NAB)