BETWEEN SKY AND CANOPY

High above the canopy, an Oriental pied hornbill (Anthracoceros albirostris) pauses on a bare branch, its pale casque and curved bill set against the open sky. A wide-ranging bird of forests, mangroves, and river edges, it feeds largely on fruit, playing an important role as a seed disperser. By carrying seeds across distances, it helps shape and regenerate the very forest it depends on.

Not far away, a Bornean orangutan (Pongo pygmaeus) moves carefully through the trees. Endemic to Borneo, this great ape spends nearly its entire life in the canopy. Feeding on fruits, leaves, and bark. Building a new nest almost every evening. Intelligent and remarkably patient, orangutans reproduce slowly, with females raising a single infant for years

DI ANTARA LANGIT DAN KANOPI

Di atas kanopi hutan, seekor Kangkareng perut-putih (Anthracoceros albirostris) bertengger di dahan yang menjulang, paruh besarnya membentuk siluet di bawah langit terbuka. Ia adalah pengelana hutan yang mengunjungi tepian sungai, hutan sekunder, hingga hutan mangrove, memakan buah dan menyebarkan biji ke berbagai penjuru. Tanpa disadari, setiap perjalanannya ikut menjaga siklus regenerasi hutan.

Tak jauh darinya, satu individu orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) bergerak perlahan di antara daun-daun. Hampir seluruh hidupnya dihabiskan di atas pohon untuk mencari buah, beristirahat, dan merangkai sarang baru setiap senja. Dengan siklus reproduksi yang lambat dan pengasuhan anak yang panjang, keberlangsungan hidup orangutan sangat bergantung pada hutan yang utuh dan terus terhubung.

Mereka tidak berada di dahan yang sama, tidak pula menempuh jalur yang sama. Namun mereka berbagi lanskap yang sama.

Keduanya merupakan satwa yang dilindungi hukum di Indonesia. Keduanya tidak boleh diburu, diperdagangkan, atau disakiti. Kehadiran mereka dalam satu bingkai adalah momen yang langka, pertemuan singkat antara dua penjaga kanopi dalam ruang yang terus berubah.

Menyaksikan rangking dan orangutan dalam satu pandangan terasa seperti sebuah kehormatan yang sunyi, pengingat bahwa kehidupan liar masih bertahan di antara langit dan hutan. Bukan hanya untuk dikagumi, tetapi untuk dijaga dan dilestarikan. (DIM)

MELEPASLIARKAN BUKAN SEKEDAR MENGEMBALIKAN

Pada 26 Februari 2026, Tim gabungan dari BKSDA Sumatra Barat, KPHP Pasaman Raya, dan Centre for Orangutan Protection menggagalkan upaya perdagangan ilegal satu individual Tapir Asia. Ia ditemukan di atas kendaraan dalam perjalanan panjang menuju Sumatera Utara menuju sebuah tujuan yang tidak pernah ia pilih.

Tubuhnya bercerita lebih dulu sebelum siapa pun bertanya. Luka di pergelangan kaki menunjukkan bekas jerat. Tali yang terlalu lama mengikat meninggalkan jejak yang dalam. Di bagian kepala dan tubuh, luka lain terlihat jelas. Ia tidak dalam kondisi baik. Ia tidak siap untuk apa pun kecuali bertahan. Dan bertahan saja tidak cukup.

Selama kurang lebih 14 hari, tapir itu dirawat. Bukan sekedar diberi makan dan obat, tetapi dipulihkan perlahan. Di kantor BKSDA Sumatera Barat Seksi Konservasi Wilayah I Bukittinggi, tim medis bekerja tanpa banyak sorotan. Dokter hewan dan perawat satwa memastikan luka-luka itu mengering, infeksi tidak menyebar dan tubuhnya kembali cukup kuat untuk berdiri.

Merawat dalam konteks ini, bukan tindakan heroik. Ia adalah kerja rutin. Berulang. Kadang membosankan. Tapi justru di situlah letak pentingnya. Karena tanpa perawatan, penyelamatan berhenti di tengah jalan. Namun ada satu hal yang membuat proses ini tidak sederhana, karena statusnya sebagai barang bukti.

Tapir itu bukan hanya korban. Ia juga bagian dari perkara hukum. Artinya, setia[ langkah terhadap dirinya harus melalui koordinasi dengan kepolisian, kejaksaan, dengan sistem yang tidak selalu bergerak cepat. Bersama Kepolisian Resor Pasaman dan Kejaksaan Negeri Pasaman, keputusan akhirnya diambil. Tapir itu tidak harus menunggu persidangan. Ia bisa dilepasliarkan lebih cepat. Sebuah keputusan yang terdengar sederhana, tetapi menentukan. Karena waktu, bagi satwa liar bukan sekedar angka.

Pelepasliaran sering kali dipahami sebagai akhir. Padahal, ia adalah kelanjutan. Apa yang terjadi setelahnya tidak selalu bisa dipantau, tidak selalu bisa dikendalikan. Tapi setidaknya, ia diberi kesempatan. Di luar sana, perdagangan satwa liar masih berlangsung. Jaringan yang sama masih bergerak. Permintaan yang sama masih ada. Tapir ini mungkin selamat, tapi banyak yang lain tidak.

Di titik ini, pelepasliaran menjadi lebih dari sekadar tindakan konservasi. Ia menjadi pengingat bahwa setiap penyelamatan selalu datang terlambat bagi sebagian yang lain. Dan hanya merawat dalam segala keterbatasan adalah cara paling nyata untuk melawan. Bukan dengan cara yang besar. Bukan dengan cara yang cepat. Tetapi dengan memastikan bahwa satu nyara tidak hilang sia-sia. (APE Protector)

MAXIMUS KINI BERADA DI AMBANG BABAK BARU

Maximus telah tumbuh dari sosok kecil yang dulu lebih sering mengikuti langkah temannya, yang terkesan menjadi bayangan dari orangutan Agam kini telah berdiri tanpa Agam di sisinya. Tidak ada lagi jarak yang ia jaga karena lagu, tidak ada lagi gerak yang tertahan karena menunggu. Yang ada hanyalah hutan yang terbentang luas dan dirinya sendiri dan kepercayaan dirinya untuk sekolah hutan.

Begitu kakinya menyentuh tanah lembab, Maximus mengangkat wajahnya ke arah kanopi. Seolah membaca peta yang tergambar dalam cahaya, ia memilih satu pohon tinggi di sisi utara enclosure. Dulu ia memanjat dengan ritme hati-hati, sering memastikan posisi Agam sebelum berani bergerak lebih jauh. Namun hari ini, ada ketegasan baru di setiap ayunan lengannya. Ia memanjat bukan untuk mengejar, melainkan untuk menemukan.

Di bawahnya, baby sitter orangutan yang baru saja masuk, Filzah Nadira, berjalan perlahan menyusuri lantai hutan. Langkahnya ringan, tatapannya awas. Ia menjaga jarak yang cukup, cukup dekat untuk memastikan keselamatan, cukup jauh untuk memberi ruang bagi Maximus belajar dari pengalamannya sendiri. Kehadirannya bukan untuk menggantikan naluri liar, melainkan menjadi jembatan sunyi menuju kemandirian.

Di ketinggian, Maximus berhenti sejenak. Angin menyentuh rambut di punggungnya. Aroma buah tercium samar. Ia bergerak menyusuri cabang, menemukan buah-buahan yang menggantung di antara daun. Tangannya cekatan memetik, giginya menggigit daging buah dengan mantab. Kulitnya jatuh berderak ke lantai hutan. Tidak ada yang mengarahkan, tidak ada yang menunjukkan. Ia menemukan sendiri.

Filzah mendongak, menyaksikan bagaimana Maximus kini tidak lagi “ragu” dan takut jika jauh dari Agam. Dulu, ia kerap berhenti lama sebelum melangkah, seperti menimbang keberanian di dalam dirinya. Kini, ia bergerak dengan perhitungan yang lebih matang. Ia tanpa ragu menguji kekuatan ranting, menyesuaikan keseimbangan tubuhnya, lalu menggantung dengan luwes sebelum berpindah pohon.

Sesekali Maximus mencoba mengupas kulit pohon tipis dan menggigit bagian dalamnya. Eksplorasi kecil yang dulu ia lakukan karena meniru, kini menjadi bagian dari nalurinya sendiri. Area sekolah perlahan menjadi gurunya memberi pelajaran tanpa suara, tanpa instruksi, hanya melalui pengalaman.

Sesekali Filzah tetap mengawasi dengan tenang. Ia memahami bahwa momen seperti ini adalah capaian penting dalam rehabilitasi. Ketika orangutan tidak lagi terdistraksi oleh rangsangan sesaat, tetapi mampu kembali pada tujuan alaminya mencari makan, menjelajah, bertahan, dan belajar.

Menjelang siang, ketika matahari semakin tinggi, Maximus berhenti di ketinggian sedang. Ia mulai mencoba melipat beberapa ranting, menyusunnya perlahan. Belum sempurna, belum kokoh seperti sarang orangutan dewasa, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa insting membangun tempat istirahat mulai tumbuh.

Filzah tetap berjalan di bawah, menjaga dalam diam. Maximus di antara dahan-dahan tinggi menuliskan satu bab penting dalam hidupnya, bahwa kemandirian bukan berarti sendiri, melainkan mampu memilik jalan dengan yakin, bahkan ketika yang menemani hanyalah bayangan pohon dan seorang baby sitter yang percaya padanya dari kejauhan. (NAB)