Arto menghabiskan sebagian besar September dengan menggabungkan permainan aktif dan eksplorasi mandiri. Ia sering bermain di permukaan tanah bersama Hrapi dan individual lain, berguling dan berinteraksi dengan mereka, sekaligus mengeksplorasi lingkungan sekitarnya secara mandiri. Ia terlihat memanjat pohon kecil, berayun di liana, menjatuhkan diri dari cabang, serta berpindah antara permukaan tanah dan vegetasi. Dalam aktivitas mencari makan, ia tercatat memakan kambium dan umbut.
Eksplorasi Arto tidak hanya dilakukan dengan berpindah tempat, tetapi juga melalui manipulasi lingkungan, Ia berulang kali menggali tanah dan terlihat memandikan tubuhnya dengan tanah kering bersama Harapi. Ia juga pernah menumpuk daun di permukaan tanah seperti membuat struktur sarang sebelumnya kembali mengeksplorasi dan memakan umbut. Aktivitas tersebut menunjukkan bagaimana Arto banyak menggunakan material alami di sekitarnya selama sekolah hutan.
Arto juga tetap sangat interaktif dengan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya. Ia sering mendekati keeper dan beberapa kali terlihat menggigit atau menyerang boots sebagai bagian dari interaksinya. Aktivitas bermain tetap terlihat hingga akhir bulan, termasuk bermain bersama Mabel, Aman, dan Jainul serta mengayunkan pohon kecil. Secara keseluruhan, September memperlihatkan Arto sebagai individual yang aktif mengeksplorasi melalui gerakan, permainan, manipulasi material alami di sekitarnya, dan interaksi sosial. (RAF)
Bekerja sebagai dokter hewan di Centre for Orangutan Protection adalah sebuah petualangan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Bayangkan saja, setiap hari saya harus akrab dengan kehidupan di dalam hutan yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Di sini, jangan harap bisa dengan mudah mengisi daya ponsel karena listrik tidak dan semuanya serba terbatas. Kalau ada situasi darurat, tantangannya sungguh luar biasa karena akses yang sulit di dalam hutan. Namun, dibalik keterbatasan itu, huta Siranggas selalu punya cara untuk memberikan kejutan yang membuat lelah saya menguap seketika. Dan kejutan terbesar akhir-akhir ini datang dari orangutan yang sangat ekspresif bernama Asih.
Bagi para keeper di sekolah hutan, Asih mungkin dikenal sebagai si pemilik energi tanpa batas yang hobi membuat orang ngos-ngosan mendaki dan menuruni jalur hutan yang menanjak. Namun bagi saya, Asih adalah orangutan cerdik dan menggemaskan.
Belakangan ini, hubungan bonding antara saya dan Asih terasa semakin kuat. Menariknya, Asih tampaknya tahu betul siapa yang harus ia cari jika tubuhnya sedang merasa tidak nyaman. Masih lekat di ingatan saya bagaimana beberapa waktu lalu, dalam tiga hari yang berbeda, Asih tiba-tiba datang menghampiri saya. Bukan untuk mengajak bermain seperti biasa ia lakukan dengan para keeper, melainkan untuk sebuah agenda yang jauh lebih formal, “laporan kesehatan”.
Ya, kamu tidak salah baca. Si cerdik Asih ini datang menghampiri saya, lalu dengan sengaja menunjukkan bagian tubuhnya yang terluka. Melalui tatapan matanya yang penuh arti dan mimik muka yang sangat ekspresif, ia seolah-olah berbicara, “Dok, lihat deh, aku punya luka baru nih di sini. Tolong obati dong!”.
Momen ketika ia menunjuk lukanya sendiri dengan jari-jarinya adalah salah satu pemandangan paling menakjubkan yang pernah saya saksikan. Bagaimana bisa orangutan memiliki kesadaran sedalam itu untuk meminta pertolongan? Mungkin karena di waktu-waktu sebelumnya, setiap kali Asih terluka, saya selalu mengobati dan merawatnya dengan penuh kesabaran sampai benar-benar sembuh. Memori itulah yang membekas di kepalanya, kalau terluka, datanglah ke dokter.
Nah di sinilah letak keseruannya. Saat saya berusaha fokus membersihkan lukanya, Asih malah punya kesibukan lain. Tangan-tangannya mulai beraksi menarik-narik hijab saya dengan gemas. Jadilah saya sibuk membagi fokus, satu sisi mengobati lukanya sampai selesai, di sisi lain sibuk Menahan hijab agar tidak melorot akibat tarikan tangan Asih. Kejadian seru seperti ini jelas tidak akan pernah saya temukan di klinik mana pun!
Meski prosesnya penuh drama tarik-menarik hijab dan kejar-kejaran kecil, Asih tidak pernah berniat buruk. Dia hanya mengekspresikan rasa penasaran dan sifat cerdiknya yang alami. Di foto yang saya bagikan kali ini, terlihat jelas bagaimana Asih dengan wajahnya yang menggemaskan sedang sibuk memeriksa sendiri area lukanya setelah ‘melapor’ kepada saya. Bahkan, saya sampai punya dua foto di lokasi luka yang berbeda karena kebiasaannya yang suka pamer luka ini.
Tingkah lucu Asih ini benar-benar bikin hari-hari saya di Suaka Margasatwa Siranggas jadi lebih berwarna. Tinggal di tengah hutan yang fasilitasnya minim memang menantang, tapi momen dihampiri Asih yang mau pamer luka begini bikin semua rasa lelah terbayar lunas. Kepercayaan dari dia itu berharga banget buat saya. Biar deh hijab acak-acakan atau harus ngos-ngosan di jalur nanjak, yang penting Asih bisa sehat dan kembali aktif di atas pohon.
Sampai jumpa di cerita petualangan saya dan Asih berikutnya di tengah rimbunnya hutan Siranggas! (NAN).
Hari itu seperti hari-hari biasanya di sekolah hutan BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). Semua orangutan beraktivitas dengan caranya masing-masing, ada yang foraging di kanopi pohon dan ada yang memilih bermain di lantai hutan. Sementara Felix, dia memilih berada di atas pohon eksplorasi dan mencari makan bersama Pansy.
“Ksrks… krksks… kskskr…”. Tiba-tiba terdengar suara dedaunan dari atas pohon. Seketika kami para keeper menengok ke atas pohon. Tidak disangka ternyata di atas phon, terlihat Felix yang sedang menyusun dedaunan yang dia telah petik di atara dua cabang pohon. Kami semua terkejut dan otomatis berucap, “Felix buat sarang!?”. Kami terkejut dan sedikit ada rasa tidak percaya dengan apa yang kami lihat. Felix yang biasanya mengekor pada babysitter atau memeluk kaki babysitter selama sekolah hutan, hari ini membuat sarang pertamanya.
Membuat sarang merupakan salah satu skill yang harus dikuasai oleh orangutan agar bisa bertahan hidup di alam liar. Dan insting Felix untuk mulai menyusun dedaunan menjadi sarang merupakan satu indikator perkembangan kemampuannya. Sebelumnya pun, Felix juga sudah terlihat mereparasi sarang-sarang lama dengan menumpukkan daun-daun baru di atas daun-daun yang sudah kering. Terkadang Felix juga terlihat melanjutkan sarang yang dibuat oleh orangutan lain dengan mematahkan ranting lalu menumpuk ranting tersebut ke pondasi sarang yang sudah ada.
Sarang yang dibuat Felix itu memang belum sempurna, bahkan pondasi sarang itupun masih sangat rapuh. Namun melihat bagaimana Felix bisa mencapai titik itu, tentu memberi rasa bangga dan haru. Kami menyadari bahwa Felix yang kami kenal adalah bayi orangutan yang manja, kini telah bertumbuh dengan cara dan ritmenya sendiri. (JAN)
