BAKTI UNTUK SAHABAT SETIA: CATATAN SATWA DESA DI TEBANGAN LEMBAK

Kamis, 30 April 2026, menjadi hari yang sibuk namun penuh makna bagi tim APE Crusader. Dengan penuh semangat, tim bersama dokter hewan Tytha dan seorang relawan bernama Tujab bergerak menuju Desa Tebangan Lembak. Perjalanan kali ini membawa mereka keluar dari rimbunnya hutan, mendekat ke kehidupan masyarakat, melalui sebuah inisiatif yang sederhana namun berdampak besar yaitu Program Pengobatan Satwa Desa.

Di sana, misi mereka jelas, yaitu memastikan para “sahabat setia”, hewan-hewan domestik milik warga, mendapatkan hak atas kesehatan dan kesejahteraan yang layak. Satu per satu warga datang membawa hewan peliharaan mereka, menciptakan suasana yang hangat dan penuh interaksi.

Sebanyak 28 hewan berhasil diperiksa hari itu, terdiri dari 13 ekor kucing, 14 ekor anjing penjaga kebun dan rumah, serta 1 ekor beruk peliharaan warga. Setiap hewan mendapatkan perhatian yang sama, detak jantung diperiksa dengan cermat, kondisi bulu diamati dan setiap keluhan dari pemilik didengarkan dengan seksama.

Secara umum, kondisi kesehatan satwa cukup baik. Namun kehidupan di wilayah pedesaan yang lembap tetap menghadirkan tantangan tersendiri. Masalah kulit menjadi temuan yang paling dominan, mulai dari infeksi jamur, serangan kutu, hingga luka luar akibat aktivitas di lingkungan terbuka.

Tim bergerak cepat memberikan penanganan yang diperlukan. Luka-luka dibersihkan secara medis untuk mencegah infeksi lanjutan, pengobatan anti jamur dan anti parasit diberikan sesuai kondisi masing-masing hewan, serta vitamin ditambahkan untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuh mereka. Setiap tindakan dilakukan dengan pendekatan yang teliti dan penuh kehati-hatian.

Namun, kegiatan ini tidak berhenti pada pengobatan semata. Di sela-sela pemeriksaan, tim APE Crusader juga membangun percakapan dengan pemilik hewan. Edukasi tentang tanggung jawab dalam memelihara satwa menjadi bagian penting dari interaksi tersebut, bahwa hewan peliharaan bukan sekedar penjaga rumah atau pengusir tikus, melainkan makhluk hidup yang kesejahteraannya turut memengaruhi kesehatan lingkungan sekitar.

Seiring berakhirnya kegiatan di Tebangan Lembak, tersisa harapan yang tumbuh perlahan namun pasti yaitu meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesejahteraan satwa. Karena pada akhirnya, hewan yang sehat adalah cerminan dari masyarakat yang peduli. (HUS)

TUMBUH MANDIRI DALAM EKSPLORASI DAN PERMAINAN

Arto terus menunjukkan karakter mandiri yang semakin kuat dalam kesehariannya di sekolah hutan. Ia kerap menghabiskan waktu bermain sendiri, baik di tanah maupun di akar-akar gantung yang rendah, dengan gaya eksplorasi yang aktif dan penuh rasa ingin tahu. Perilaku seperti berguling di tanah, berayun di tali, hingga menjatuhkan diri dari batang rendah menjadi bagian dari cara Arto melatih koordinasi tubuhnya.

Dalam hal eksplorasi pakan alami, Arto mulai menunjukkan perkembangan yang konsisten. Ia terlihat aktif mencari dan mencoba berbagai sumber makan seperti buah mentah, kambium, daun tua, hingga bunga. Ketertarikannya terhadap lingkungan juga tampak saat ia menjelajah semak-semak atau memperhatikan aktivitas orangutan lain, meskipun interaksi sosialnya masih tergolong terbatas dan cenderung independen.

Meski lebih sering bermain sendiri, Arto tetap menunjukkan sisi sosialnya dengan cara yang khas. Ia beberapa kali menghampiri anima keeper, baik untuk meminta makanan maupun mengajak bermain dengan cara menggigit ringan atau berinteraksi secara fisik. Di waktu lain, Arto juga terlihat mengikuti pergerakan orangutan lain dipohon, meskipun tidak selalu terlibat langsung dalam permainan bersama.

Secara keseluruhan, kondisi Arto stabil dengan pola feses yang normal. Perkembangannya saat ini menunjukkan keseimbangan antara eksplorasi lingkungan, pembelajaran pakan alami, serta pembentukan karakter mandiri dalam fase rehabilitasi bulan ini. (RAF)

MOTIVASI SEKOLAH HUTAN AGAM

Siang itu di area sekolah hutan, pola perilaku Agam kembali terlihat konsisten. Ia menunggu. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena belum sepenuhnya percaya diri untuk memulai tanpa rangsangan, sebelumnya Agam selalu bersama dengan Maximus ketika sekolah hutan.

Ketika buah tidak diletakkan di atas pohon, Agam memilih enggan memanjat, duduk di tanah berumput adalah pilihan saat ini dan mematahkan ranting kecil atau memperhatikan pergerakan tim di sekitarnya. Namun saat buah digantung di cabang setinggi lima hingga tujuh meter respons nya berubah. Ia langsung fokus. Tangan meraih batang pohon, kakinya mengunci, dan ia memanjat perlahan. Tidak tergesa, tetapi juga tidak ragu.

Perilaku ini biasa disebut sebagai perilaku bentuk ketergantungan motivasional. Dalam aktivitas ini juga ajang untuk membangun kepercayaanmu satwa kepada staf atau petugas medis, bahwa beberapa individual rehabilitasi memang membutuhkan stimulus eksternal, terutama ketika masih muda. Targetnya bukan membuatnya tergantung pada buah, tetapi membangun asosiasi bahwa ini aman dan staf atau petugas medis seperti ibu pengganti.

Observasi kemarin juga menunjukkan Agam sebenarnya memiliki koordinasi tubuh yang sudah baik. Cengkeramannya kuat. Ia mampu berpindah cabang tanpa kehilangan keseimbangan. Artinya, hambatan yang muncul bukan fisik, melainkan keberanian dan inisiatif.

Tim rehabilitasi kini menyusun strategi bertahap, seperti jumlah pancingan buah akan dikurangi perlahan. Buah tidak lagi selalu ditempatkan di posisi mudah terlihat. Harapannya, Agam mulai mengeksplorasi pohon tanpa harus menunggu imbalan langsung.

Sekolah hutan bukan sekedar aktivitas memanjat. Ia adalah proses membentuk ulang naluri. Dan bagi Agam, kemarin adalah satu langkah kecil menuju kemandirian langkah yang masih perlu di dorong, tetapi sudah menunjukkan arah yang jelas. (NAB)