APE PROTECTOR KUNJUNGI SMPN 1 PANTI

Berbeda dengan hari sebelumnya, hari ini tim APE Protector berkunjung ke SMP Negeri 1 Panti, Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat. Sekolah ini menjadi target edukasi menutup bulan September ini karena lokasinya yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan yang merupakan habitat dari Harimau Sumatra. Ada 31 murid dari berbagai kelas yang berbeda yang menghadiri kegiatan ini.

Pengenalan Harimau Sumatra meliputi karakteristik, pola makan sampai status konservasi tidak luput dari pemaparan tim yang telah memasuki usia kerja di Sumbar untuk 4 tahun terakhir ini. Ketua PAGARI (Patroli Anak Nagari) Panti Selatan yang merupakan guru di sekolah tersebut pun berbagi pengalaman menjadi bagian penting konservasi kucing besar di ranah minang ini.

“Kawasan Rimbo Panti dan hutan Sumatra pada umumnya menyimpan kekayaan sesungguhnya. Menyadari keanekeragaman hayati ini sebagai warisan yang tak mungkin diperbaharui menuntut kita untuk tiada kenal lelah menghembuskan nafas konservasi. Hilangnya satu spesies tentu saja mengganggu sebuah ekosistem. Mari hidup saling menghormati dengan bertanggung jawab!”. (DIV)

GUNUNG MERAPI BERGOLAK, APE WARRIOR SIAGA

Asap tipis dan guguran material vulkanik masih keluar dari puncak Gunung Merapi. Dalam sebulan terakhir, gunung paling aktif di Indonesia ini lagi-lagi menunjukkan amarahnya. Data resmi BPPTKG mencatat ada 88 kali guguran lava pijar yang meluncur sejauh dua kilometer ke arah Kali Bebeng dan Kali Krasak. Status jelas di Level III (Siaga).

Semua orang tahu apa artinya manusia harus siap-siap evakuasi. Tapi yang sering luput kepayang adalah nasib hewan di lereng Merapi. Sapi, kambing, ayam, sampai anjing dan kucing ikut terdampak. Padahal, buat petani, ternak bukan sekadar hewan, tapi tabungan hidup. Masalahnya, begitu bencana datang, mereka sering jadi korban pertama yang ditinggalkan.

Kondisi ini bukan hal baru. Waktu letusan besar Merapi tahun 2010, ribuan ternak musnah, juga kelaparan karena ladang tertutup abu dan pemiliknya terpaksa mengungsi. Hampir gak ada yang peduli kecuali Centre for Orangutan Protection (COP). Organisasi yang biasanya fokus pada konservasi orangutan ini justru turun ke desa-desa, bantu evakuasi ternak, bantu dropping pakan hijau segar yang sulit ditemukan, sampai feeding dan rawat satwa domestik (anjing dan kucing) yang ditinggal pemiliknya untuk menjaga rumah maupun kandang mereka. Dari pengalaman itulah lahir APE Warrior, tim tanggap darurat yang dibentuk untuk satu tujuan “menyelamatkan satwa di tengah bencana”.

Sejah saat itu, APE Warrior selalu hadir di berbagai bencana besar mulai dari erupsi Kelud (1013), SInabung (2014), Gunung Agung (2017), erupsi Merapai (2020 dan 2021), Semeru (2021 dan 2022), hingga erupsi Lewotobi (2024). Kini, 15 tahun setelah letusan Merapi 2010, APE Warrior kembali berjaga di jalur Merapi. Relawan siaga dengan data satwa di desa-desa rawan bencana, siap turun kalau ada satwa terancam. Karena pada akhirnya, bencana selalu cerita tentang kehilangan. Tapi dengan APE Warrior, satu hal bisa dipastikan, satwa gak lagi jadi korban yang terlupakan. Yuk, gabung bareng APE Warrior dan jadi bagian dari garda depan penyelamatan satwa di tengah bencana”! (DIT)

ORANGUTAN DI MATA MAHASISWA KEDOKTERAN HEWAN UNPAD

Balik ke satu tahun yang lalu, saya Azzahra Aziz, mahasiswa dari Program Studi Kedokteran Hewan, Universitas Padjadjaran pernah menjalani magang di Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA). Saat itu, saya bersama tiga teman lainnya mengikuti kepitan medis, namun tiap hari kami turut mengikuti kegiatan sekolah hutan bersama keeper dan babysitter. Kegiatan itu selalu saya ingat sampai setahun kemudian, dimana saya sudah ditahap membuat tugas akhir untuk kelulusan saya. Suatu hari, saya ditanya apa yang menjadi perhatian saya untuk dapat dijadikan penelitian sebagai tugas akhir oleh dosen saya. Tanpa berpikir panjang, saya menjawab bahwa perilaku anak orangutan sangat menarik, di antara banyaknya materi terkait kesehatan hewan yang saya dapatkan di bangku kuliah, namun perilaku merupakan sesuatu yang jarang dipelajari. Hal yang melatarbelakangi penelitian ini adalah karena orangutan memiliki korteks prefontal otak yang berkembang, sehingga mereka memiliki daya ingat yang baik. Hal ini yang membuat saya bertanya-tanya, “apakah mereka ingat saat hidup bersama dengan ibunya di hutan? Ingatkah akan hal-hal yang diajarkan ibunya untuk bertahan hidup jika sudah besar? Lalu, apakah mereka merasakan rasa sedih ketika mengingat pengalaman dimana mereka berpisah dengan ibu dan kehidupannya di hutan?”. Awalnya saya cukup ragu untuk mengangkat topik ini, mengingat topik tersebut bersinggungan pula dengan bidang biologi. Tapi atas dukungan orang tua, dosen, dan teman-teman saya, saya menjadi yakin untuk melanjutkannya.

Keesokan harinya, saya pun membawa orangutan yang bernama Mabel. Mabel memang menjadi orangutan pertama yang saya amati, dia senang bermain degan orangutan yang lebih besar seperti Jainul atau Ruby. Karena asik bermain di atas pohon, Mabel jadi sulit untuk dipanggil ketika sudah waktunya pulang. Selanjutnya, saya membawa Ochre yang dulunya, cukup sulit untuk bermain dengan siapa pun dan hanya mau duduk di dekat keeper. Sekarang, dia sudah bisa naik ke pohon yang tinggi dan seringkali didekati oleh orangutan yang lebih kecil untuk main. Kalau Cinta, dia senang untuk ekspor sendirian. Saat sudah sampai di lokasi sekolah hutan, Cinta tidak langsung mau untuk naik pohon dan hanya mau digendong. Selama pengamatan, saya belajar bahwa jika saya diam di satu tempat, perlahan dia berjalan menuju pohon dan memanjat sendiri. Menurut saya, Cinta sangat berkesan karena sering membuat sarang. Rasanya, tiap pohon di tempat sekolah ada satu sarang buatan Cinta. Bahkan, kalau Pansy membuat sarang, Cinta terlihat menambahkan ranting-ranting di sarang itu.

Selanjutnya saya mengamati orangutan di baby house. Ada Arto dan Harapi, dua nama orangutan yang tak terpisahkan. Seingat saya, waktu itu kandang mereka terlihat sangat luas karena tubuh mereka yang kecil. Sekarang, rasanya kandang itu menyusut dan terasa lebih hangat. Kedua orangutan tersebut memiliki sifat yang berbaring terbalik. Arto senang untuk menaiki pohon, mengikuti Pansy yang sama-sama senang eksplor. Seringkali Arto bermain dengan Aman, Jainul, atau Mabel yang lebih besar. Sebaliknya, Harapi menaiki pohon yang tidak terlalu tinggi. Dia senang mengajak main Felix yang masih sulit untuk jauh dari babysitter atau individual lain yang sedang tidak naik pohon. Dia pun senang mengamati orangutan yang lebih besar saat menyelesaikan enrichment. Menurut saya, anak orangutan dan anak manusia memiliki kesamaan yaitu setiap individunya memiliki pace belajar dan penerimaan yang berbeda-beda. Saya sendiri pun berusaha untuk tidak membanding-bandingkan diri saya dengan teman lain yang lebih bisa atau lebih mampu ketika belajar, karena semuanya ber-progres di jalur masing-masing jika didukung oleh orang-orang yang kita percayai. Mungkin saja hal yang sama berlaku pada anak-anak orangutan.

Jika ditanya siapa orangutan yang paling berkesan selama saya di BORA, rasanya agak sulit untuk menjawab pertanyaan tersebut. Semuanya memiliki perilaku yang berbeda-beda, semuanya punya hal untuk disukai. Bagaimana Aman selalu semangat untuk sekolah dengan kondisinya, bagaimana Jainul selalu mengincar boots untuk digigit, bagaimana Astuti dengan senangnya memainkan air di dalam tandon saat saya sudah dalam keadaan panik dan tidak tahu cara membuat dia berhenti. Bahkan dari orangutan besar seperti Bagus yang sangat pintar menggunakan ranting sebagai alat, hingga orangutan kecil seperti Pansy yang terkadang tidak dapat teramati dengan jelas karena sangat tingginya dia menaiki pohon dan tidur di sarang buatan sendiri. Semua itu membuat saya selalu semangat untuk ikut kegiatan sekolah hutan. Saat mereka sedang bermain, penanyaan bagaimana hidup tanpa ibu selalu terlintas. Saya tidak bisa membayangkan bila hal yang sama terjadi pada saya. Satu hal yang pasti adalah, ada rasa senang yang akan terasa jika mereka sudah besar dan dapat dilepasliarkan nanti, memakan buah di hutan yang lebih besar dan bertemu hewan lain. Rasa tulus para babysitter, keeper, biologis, dan tenaga medis di pusat rehabilitasi ini bahkan dapat saya rasakan sebagai pendatang di sini. (Azzahra_orangufriends).