PAKAN TERNAK UNTUK BENCANA GALODO DI PALEMBAYAN, SUMBAR

Palembayan menyambut kami tanpa banyak pilihan jalan. Banjir bandang dan galodo meninggalkan batu-batu besar dan batang pohon yang berhenti begitu saja di tengah akses warga, memisahkan satu kampung dengan kampung lainnya. Kami masuk ke ruang yang terputus, mengikuti langkah tim Animal Rescue COP yang lebih dahulu bergerak. Bersama bergerak dari apa yang bisa dijangkau, dari cerita yang lebih dulu kami dengar di lapangan.

Di antara rumah yang masih berdiri, kehidupan tetap berjalan meski dengan ritme yang berbeda. Sapi dan kambing terlihat bertahan, sementara kucing dan anjing banyak yang tertatih, kakinya terinfeksi lumpur dan basah. Penanganan dilakukan, dibantu dokter hewan yang ikut turun langsung. Di sela-sela itu, suasana tidak terlalu berat, mencuri istirahat sejenak. Candaan kecil muncul dari warga, dari relawan, juga dari kawan-kawan patroli dari Sontang Cibadak yang biasanya menjaga hutan Pasaman, dan kali ini ikut membantu di kampung. Obrolan singkat, tawa yang muncul kala-kala, lalu kembali bekerja lagi. Begitulah hari-hari kami berjalan di Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatra Barat tepat di titik bencana.

Saat kebutuhan paling mendesak mulai terlihat, kami membuka posko pembagian pakan untuk ternak dan makanan pendamping bersama Puskewan Palembayan. Bantuan tersalurkan sembari cerita yang terus mengalir, tentang apa yang hilang dan apa yang masih bisa disyukuri. Beruntungnya, Palembayan sedang berada di musim panen. Lansat, jambu, dan durian yang cukup melimpah masih bisa ditemukan, ikut menompang kebutuhan pangan warga pasca bencana. Dari tempat ini, ami melanjutkan langkah ke lokasi lain dengan satu catatan sederhana, dalam situasi darurat, hadir tepat waktu dan bekerja bersama sering kali jauh lebih berarti daripada rencana yang terdengar sempurna. (VID)

SATU TAHUN FELIX DI BORA

Tak terasa, sudah satu tahun lamanya Felix kami rawat di Pusat Rehabilitasi BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). Dalam kurun waktu tersebut, begitu banyak perubahan dan perkembangan positif yang terlihat pada diri Felix.

Sebelum bercerita tentang Felix yang sekarang, aku ingin mengajak kilas balik sejenak ke masa awal kedatangan di BORA. Felix adalah bayi orangutan hasil konfiskasi. Sebelumnya, ia dipelihara sebagai hewan peliharaan oleh warga setempat. Kami sangat bersyukur Felix akhirnya berhasil di-rescue.

Saat pertama kali tiba, kondisi Felix sangat memprihatinkan. Tubuhnya kecil, lemah, dan dipenuhi luka. Ia hampir tidak memiliki energi untuk bergerak, sehingga hanya bisa duduk di pangkuan babysitter. Felix bahkan sempat mengalami demam yang membuatnya harus mengonsumsi obat hingga larut malam. Masa-masa itu menjadi periode yang berat, bagi Felix maupun bagi kami yang merawatnya.

Namun, perlahan tapi pasti, Felix berhasil melewati masa-masa sulit tersebut. Kini Felix telah tumbuh menjadi orangutan yang aktif, dan gemar bermain serta mengeksplorasi pepohonan tinggi. Selama satu tahun berada di pusat rehabilitasi, Felix bertemu banyak teman sesama orangutan yang membantunya belajar dan bertumbuh untuk benar-benar “menjadi” orangutan.

Salah satu teman terdekat Felix adalah Pansy, kawan satu kandangnya. Felix yang awalnya terlihat takut-takut pada Pansy, kini hampir selalu beraktivitas bersama, baik di dalam kandang maupun di sekolah hutan. Felix bahkan akan menangis ketika keeper hanya mengajak Pansy ke sekolah hutan tanpa dirinya. Ada momen-momen lucu ketika Pansy yang lebih lihai berpindah dari satu pohon ke pohon lain, sementara Felix kesulitan mengikutinya dan hanya bisa dia melongo melihat Pansy semakin menjauh di antara pepohonan tinggi. Kini, keduanya hanya bisa diam melongo melihat Pansy semakin menjauh di antara pepohonan tinggi. Kini, keduanya seperti tidak terpisahkan.

Selain Pansy, Felix juga memiliki orangutan favorit lainnya, yaitu Harapi dan Ochre. Bersama dua sahabat ini, Felix lebih sering bermain berguling-guling di tanah. Hal ini berbeda saat ia bersama Pansy yang cenderung mengajaknya berkeliling area sekolah hutan dari atas pohon. Ada kalanya Felix sudah berhasil memanjat ke atas pohon, namun begitu melihat Harapi atau Ochre di bawah, ia akan langsung memilih turun dan bermain di lantai hutan, sesuatu yang sering kali membuat babysitter sedikit kesal.

Felix memang telah berkembang pesat selama satu tahun terakhir. Meski begitu, masih banyak keterampilan liar yang perlu ia pelajari ke depannya. Perjalanan Felix masih panjang dan kami akan terus mendampingi setiap langkahnya menuju kehidupan yang lebih mandiri sebagai orangutan liar. (JAN)

JEJAK SUNYI, MENELISIK SATWA LIAR DI MALAM HARI

Malam itu, kabut menggantung rendah di antara pepohonan ketika tim APE Guardian melangkah masuk ke kawasan Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat. Berbekal headlamp, kamera, dan sepatu yang setia menemani perjalanan, kami kembali menyusuri hutan yang sudah akrab namun selalu menyimpan kejutan. Malam bukan sekedar waktu beristirahat bagi hutan, melainkan saat kehidupan lain perlahan menampakkan diri.

Kegiatan kali ini berfokus pada pengamatan reptil, amfibi, dan burung. Pada malam hari, banyak sekali burung sedang beristirahat sehingga lebih mudah diamati dan didokumentasikan. Kami berjalan perlahan menyusuri jalur setapak dan aliran anak sungai yang jernih, menoleh ke kanan dan kiri, berharap menemukan satwa yang bersembunyi di balik rimbun dedaunan. Suara serangga berpadu dengan gemerisik air, menciptakan suasana sunyi yang hidup. Setiap gerakan kecil kami amati dengan seksama, seolah menjadi petunjuk keberadaan makhluk malam yang kami cari.

Tak lama berselang, seekor Paok delima terbang melintasi saat tersorot cahaya headlamp. Kami segera mematikan lampu dan menunggu dengan sabar. Benar saja, burung itu kembali hinggap di sebuah ranting, memberi kami kesempatan untuk mendokumentasikannya. Beberapa langkah kemudian, suara ranger memanggil dari depan, “kini unsuwi”, dalam bahasa Dayak Kenyah yang berarti “ke sini ada burung”. Kami segera menghampiri dan di hadapan kami tampak seekor Seriwang asia bertengger tenang di atas liana. Burung ini jarang terlihat di siang hari, lebih sering melintas cepat dan menghilang di balik semak.

Perjalanan berlanjut menyusuri aliran sungai kecil yang menjadi rumah bagi katak dan ular. Dengan langkah pelan, kami menyusuri air dingin yang membasahi pinggang. Di tepian sungai yang sunyi, dua ekor katak bersahut-sahutan, suaranya lembut seperti nyanyian alam yang mengiring turunnya hujan malam. Suasana hutan terasa semakin rapat, seolah menyimpan rahasia yang belum sepenuhnya terungkap.

Tiba-tiba, langkah kami terhenti. Di balik anyaman akar pohon tua, tampak seekor ular kobra bersembunyi dalam diam. Anggun dan waspada, sisiknya yang gelap berkilau lembut terkena cahaya senter. Dalam momen itu, waktu seakan melambat. Kami terdiam sejenak, menyadari bahwa di hadapan kami berdiri salah satu penjaga sunyi hutan malam, hadir tanpa suara namun penuh wibawa. (LUT)