COP DAN GAKKUM KLHK UNGKAP PERDAGANGAN 2,5 KG SISIK TRENGGILING

Sabtu, 27 Juni 2020, Centre for Orangutan Protection dengan Tim Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum (Gakkum) KLHK dan Polda DIY berhasil meringkus satu pedagang bagian satwa dilindungi berupa sisik trenggiling. Tersangka HP tertangkap tangan ketika sedang melakukan transaksi jual beli sisik trenggiling di daerah Genjahan kecamatan Ponjong Gunung Kidul, Yogyakarta. Dari operasi tangkap tangan tersebut berhasil diamankan barang bukti 2,5 kg sisik trenggiling, 1 buah timbangan kue, 1 buah kantong plastik dan 1 buat handphone. 

Keberhasilan penangkapan ini, berawal dari informasi masyarakat. Kemudian Tim Operasi Balai Penegakan Hukum (Gakkum) LHK Wilayah Jawa Bali dan Nusa Tenggara berhasil menangkap 1 orang pelaku dengan barang bukti 2,5 kg trenggiling, 1 (satu) buah timbangan kue berwarna merah, 1 (satu) buah kantong plastik berwarna kuning dan 1 (satu) buah handphone merk Xiaomi 4A di desa Gejahan-Gunungkidul, pukul 20.00WIB pada 27 Juni 2020.”, ujar Probo Mulyarto N, tim Gakkum Jabal-Nuteng.

Tersangka HP ini adalah pedagang dan sekaligus pemburu yang sudah lama bermain barang terlarang ini. Dia mengaku mendapatkan trenggiling (manis javanica) dari hasil berburu di daerah sekitar Gunung Kidul. Perdagangan dan perburuan ini jelas murni karena bisnis. “Di tengah pandemi COVID-19 satwa liar masih terus menjadi korban perdagangan ilegal. Ini karena tingginya nilai jual yang menjadi daya tarik para pelaku kejahatan ini.”, ungkap Hery Susanto, tim Aksi dari Centre for Orangutan Protection (COP).

Trenggiling sendiri masuk dalam list satwa dilindungi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 dan Peraturan Menteri KLHK Nomor 106 Tahun 2018. Untuk itu, tersangka akan mendapatkan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara dan denda Rp 100.000.000,00. “Kami berharap tersangka mendapatkan hukuman seberat-beratnya agar menimbulkan efek jera.”, tambah Hery.

Informasi dan wawancara:

Hery Susanto (COP)

Email: info@orangutanprotection.com

HP: 081284834363

 

Probo Mulyarto N

Email: probonawa@gmail.com

HP: 081326231273

MASKER DAN GLOVES UNTUK WRC JOGJA

“Ini bukan untuk rujakan ya…”, canda Liany ke orangufriends. Senang sekali ada yang bantuin mengangkat 97 kg pakan orangutan. “Bagaimana tidak tergoda, timunnya segar-segar, pepaya juga masih keras walau mulai menguning. Nenasnya juga harum. Tapi itu untuk orangutan loh.”.

Kamis siang, usai berbelanja sawi, tomat, jagung, jambu merah dan buah lainnya, tim APE Warrior bersama Orangufriends mengantarnya ke Wildlife Rescue Center Jogja. “Jangan lupa masker dan gloves nya. Waktunya untuk diantar.”, kata Liany D. Suwito, kordinator bantuan satwa terdampak pandemi COVID-19 ini.

Ada tujuh orangutan yang sangat tergantung dengan manusia di WRC Jogja. WRC Jogja adalah salah satu Lembaga Konservasi yang terdampak pandemi corona karena program relawan berbayarnya tidak bisa berjalan sesuai dengan rencana. Centre for Orangutan Protection dengan dukungan IFAW membantu ketujuh orangutan tersebut. Untuk kamu yang ingin membantu juga bisa melalui kitabisa.com atau ke rekening BNI.

KELEMBAPAN HUTAN MENUNTUT PERAWATAN ALAT

Hujan masih sering turun di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo yang berada di Berau, Kalimantan Timur. Pusat rehabilitasi yang berada di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Labanan ini seperti Hutan Hujan Kalimantan lainnya yang memiliki kelembapan yang cukup tinggi. Kelembapan ini membuat tim APE Defender yang berada di COP Borneo bekerja ekstra keras dalam merawat peralatan dan perlengkapan kerja. Tak terkecuali penyimpanan masker medis. 

Sejak pandemi COVID-19, masker medis menjadi barang yang sangat langka. Jika ada, dalam jumlah sangat terbatas dan harga yang hampir tidak masuk akal. Sepuluh kali lipat harga normal bahkan lebih. Centre for Orangutan Protection sampai membuka donasi terbuka untuk memenuhi kebutuhan masker medis yang memang selalu digunakan di COP Borneo. 

Selain masker medis, sarung tangan medis pun ikutan menghilang dari pasaran. COP bersyukur sekali dengan bantuan dari masyarakat luas, baik itu perorangan maupun lembaga. Kiriman datang dan memenuhi kebutuhan untuk sebulan bahkan dua bulan kedepan. 

Kelembapan tinggi di tempat penyimpanan membutuhkan perawatan ekstra. sesekali gudang penyimpanan harus dibuka, diperiksa satu per satu dan dirapikan kembali. Masker, sarung tangan, pelindung wajah bahkan baju dekontaminasi tak luput dari pemeriksaan tim logistik. “Kami sangat menghargai usaha mereka yang telah mengirimkan peralatan untuk melindungi kami maupun orangutan dari berbagai penyakit. Kiriman dari Surabaya, Jakarta, Yogya, Sumatera, Bali, Jepang maupun Australia sangat membantu kami. Kami tidak sendiri.”, ujar Wety Rupiana dari tim APE Defender COP.

Page 7 of 336« First...56789...203040...Last »