AIR YANG TIDAK LAGI BISA DITEBAK DAN CARA KITA MEMAHAMINYA KEMBALI

April, katanya musim kemarau. Kalimat itu biasanya datang tanpa banyak dipertanyakan. Seperti sesuatu yang sudah disepakati bersama bahwa pada bulan ini, hujan seharusnya mulai menjauh, langit menjadi lebih terang dan tanah perlahan mengering. Namun hari itu berbeda. Hujan turun saat matahari masih terasa dekat. Tidak deras, tidak juga sebentar. Ia hadir di waktu yang seharusnya milik panas. Seolah-olah musim tidak lagi mengikuti urutannya sendiri.

Jumat, 24 April lalu, di Camp APE Warrior telah digelar diskusi bulanan Dating APES. Narasumber ke-14, Resa Fondania dari Earth Hour Jogja membawa satu topik yang terdengar akrab, tetapi seringkali dipahami secara dangkal. Air yang kita minum, air yang mengalir di sungai, air yang turun dari langit. Air yang kita kira selalu ada.

Diskusi sore dihadiri mahasiswa dan perwakilan instansi dengan pertanyaan yang kurang lebih sama. Mengapa kondisi air hari ini terasa semakin tidak menentu? Alih-alih memberi jawaban yang cepat, Resa justru mengajak peserta untuk melihat ulang cara kita memahami air itu sendiri. Bahwa air bukan sekadar sumber daya. Ia adalah sistem. Ia bergerak, tersimpan, muncul, dan menghilang dalam siklus yang tidak berdiri sendiri. Apa yang terjadi di permukaan hujan yang datang tidak pada waktunya, genangan yang tiba-tiba muncul atau sumber air yang perlahan mengering sering kali merupakan gejala dari sesuatu yang lebih dalam.

Sebagai seseorang yang menaruh perhatian pada hidrogeologi, Resa melihat air bukan hanya dari apa yang tampak, tetapi juga dari apa yang tersembunyi di bawah tanah. Lapisan tanah, batuan, pori-pori yang menyimpan air, hingga bagaimana air itu bergerak tanpa kita sadari. Dan di titik itulah diskusi mulai bergeser.

Dari “mengapa hujan turun tidak pada waktunya” menjadi “apa yang telah berubah dari cara kita memperlakukan tanah dan air”. Perubahan tutupan lahan, eksploitasi sumber air tanpa jeda, hingga cara kita membangun ruang hidup yang semakin menutup tanah dari kemampuan alaminya menyerap air semuanya perlahan mengganggu keseimbangan yang selama ini bekerja tanpa kita sadari.

Air tidak hilang, ia hanya tidak lagi berada di tempat yang kita harapkan. Kadang terlalu banyak dalam waktu yang singkat. Kadang terlalu sedikit dalam waktu yang panjang. Di antara dua kondisi itu, manusia sering kali berdiri tanpa kesiapan. Diskusi sore itu tidak berhenti pada data atau teori. Ia bergerak ke pengalaman. Resa tidak hanya berbicara sebagai narasumber, tetapi sebagai seseorang yang terlibat langsung dalam isu lingkungan. Ada satu benang merah yang terasa jelas bahwa memahami air tidak bisa dilakukan dari jarak jauh. Ia harus dilihat, dirasakan, dan diamati secara langsung.

Bagaimana masyarakat berinteraksi dengan sumber air. Bagaimana perubahan kecil di lingkungan bisa berdampak pada ketersediaan air dalam jangka panjang dan bagaimana sering kali kita baru menyadari pentingnya air ketika ia mulai sulit ditemukan. Di camp APE Warrior pembelajaran itu terasa lebih kontekstual.

Di ruang seperti ini, air bukan hanya topik diskusi. Ia bagian dari kehidupan sehari-hari. Dari aktivitas di lapangan, dari interaksi dengan alam, hingga dari perubahan cuaca yang langsung dirasakan. Hujan yang turun di luar jadwal itu, tiba-tiba menjadi lebih dari sekadar anomali cuaca. Ia menjadi pengingat, bahwa ada sesuatu yang sedang berubah dan perubahan itu tidak selalu terlihat secara langsung.

Menjelang sore, ketika hujan dan terik masih datang bersamaan, diskusi ditutup dengan satu kalimat yang sederhana, “Memayu Hayuning Tirta” bermakna merawat keindahan air. Bukan dalam arti estetika, tetapi dalam makna yang lebih dalam menjaga keseimbangannya, memahami pergerakannya dan menghargai perannya dalam kehidupan. Mungkin masalahnya bukan pada air yang berubah, tetapi pada kita yang belum cukup memahami bagaimana ia bekerja. Di tengah musim yang tidak lagi bisa ditebak, belajar kembali memahami air mungkin bukan lagi pilihan. Tapi kebutuhan. (DIT)

BERSAMA CHARLIE MENUJU TAHUN KE-20 COP

Centre for Orangutan Protection (COP) sedang mensyukuri perjalanannya setelah 19 tahun berjuang di dunia konservasi orangutan. Bersama dengan itu, datang harapan kelestarian satwa endemik Borneo satu ini ke Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA) dalam raga bayi orangutan tanpa induk. Bayi orangutan berusia kurang dari satu tahun ini datang dengan kondisi suhu tubuh yang naik turun dan nasibnya yang kurang beruntung terpisah dari induk. Syukurnya, ia dapat tiba di klinik BORA untuk meraih kesempatan hidup yang jauh lebih baik dengan dukungan tim medis dan perawat satwa. Charlie, begitu kami memanggil namanya hingga sekarang.

Charlie mudah dikenali dengan fitur wajahnya yang ikonik. Matanya besar dan akan lebih besar saat antusias, gitu pula dengan kedua gigi susu depannya yang kuat membentuk kapak. Tidak mudah bagi Charlie untuk berada di tempat baru meski sebelumnya berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Ia tidak bergantung pada manusia, namun bayi orangutan, Charlie mulai gelisah saat perawatnya bergeser sedikit lebih jauh. Genggamannya kuat, tekadnya lebih kuat. Charlie punya banyak pertumbuhan yang pesat hanya dalam satu bulan masa rehabilitasinya yang masih dalam masa karantina.

Salah satu orang yang paling tahu mengenai perkembangan Charlie di BORA adalah perawat satwa Luluk. Luluk adalah staf lokal yang rumahnya berada paling dekat dengan kantor, ia sudah menjadi perawat satwa di BORA selama 8 bulan. Menurut Luluk, merawat bayi orangutan Charlie menjadi pengalaman yang berbeda karena ini pertama kalinya Luluk menemani sejak awal Charlie bayi datang ke BORA. Luluk sangat suka bercerita di sela jadwal tugasnya, tentang setiap kegiatan Charlie pada semua orang yang ia temui.

“Charlie sudah mau bobo sendiri malam ini sambil peluk boneka sapi!”, lapor perawat satwa Luluk di hari ke-2 Charlie di BORA. Charlie mendapatkan perawatan intensif dikarenakan usianya yang masih sangat kecil dan kondisi tubuhnya yang belum stabil karena demam. Perawatan dilakukan selama 24 jam penuh setiap harinya. Asupan pakannya yang hanya bersumber dari susu juga lebih sering diberikan dibanding jadwal pemberian susu bayi orangutan lainnya yang lebih besar. Bersamaan dengan itu, ikatan relasi Charlie dengan perawat satwa Luluk semakin kuat.

Hampir satu bulan di BORA, Charlie sudah mengeksplorasi banyak hal. Ia sudah mulai mencoba pakan seperti pisang, jambu air, pepaya, jambu biji, belimbing, dedaunan, bunga-bungan, dan makanan favoritnya yaitu bunga belimbing. Sepanjang malam, Charlie juga sudah tidur di keranjangnya sendiri, lepas dari perawat satwa yang bertugas. Beberapa hari terakhir, Charlie menunjukkan perkembangan fisik dan perilaku yang signifikan. Charlie sesekali masih demam yang selanjutnya ditemukan tim medis bahwa giginya akan tumbuh. Perilaku Charlie masih sama manjanya, namun saat ini setelah ia punya mainan atau sedang asyik makan, perawat satwa bisa meninggalkan ia sendirian sesaat. Perilaku ini menunjukkan lepas ketergantungan pada manusia yang berkurang dengan harapan tak berlebihan nantinya.

Saat tulisan ini dibuat, Charlie masih menjalani masa karantina. Semua staf BORA masih bergiliran menemani Charlie bertumbuh sepanjang hari, sepanjang malam tanpa henti. Charlie bukan hanya satu bayi orangutan yang diselamatkan, namun ia hadir sebagai harapan baru untuk eksistensialis orangutan yang lebih panjang. “Aku senang Charlie udah banyak berkembang dan ga rewel lagi. Dia juga cepat sekali beradaptasi. Anak ini pintar”, jawab Luluk jika ditanya kondisi Charlie. (RRA)

TUMBUH MANDIRI DALAM EKSPLORASI DAN PERMAINAN

Arto terus menunjukkan karakter mandiri yang semakin kuat dalam kesehariannya di sekolah hutan. Ia kerap menghabiskan waktu bermain sendiri, baik di tanah maupun di akar-akar gantung yang rendah, dengan gaya eksplorasi yang aktif dan penuh rasa ingin tahu. Perilaku seperti berguling di tanah, berayun di tali, hingga menjatuhkan diri dari batang rendah menjadi bagian dari cara Arto melatih koordinasi tubuhnya.

Dalam hal eksplorasi pakan alami, Arto mulai menunjukkan perkembangan yang konsisten. Ia terlihat aktif mencari dan mencoba berbagai sumber makan seperti buah mentah, kambium, daun tua, hingga bunga. Ketertarikannya terhadap lingkungan juga tampak saat ia menjelajah semak-semak atau memperhatikan aktivitas orangutan lain, meskipun interaksi sosialnya masih tergolong terbatas dan cenderung independen.

Meski lebih sering bermain sendiri, Arto tetap menunjukkan sisi sosialnya dengan cara yang khas. Ia beberapa kali menghampiri anima keeper, baik untuk meminta makanan maupun mengajak bermain dengan cara menggigit ringan atau berinteraksi secara fisik. Di waktu lain, Arto juga terlihat mengikuti pergerakan orangutan lain dipohon, meskipun tidak selalu terlibat langsung dalam permainan bersama.

Secara keseluruhan, kondisi Arto stabil dengan pola feses yang normal. Perkembangannya saat ini menunjukkan keseimbangan antara eksplorasi lingkungan, pembelajaran pakan alami, serta pembentukan karakter mandiri dalam fase rehabilitasi bulan ini. (RAF)