SENAPAN ANGIN BUKAN ALAT BERBURU SATWA

Pada tanggal 30 Juli 2020, Badan Intelijen dan Keamanan (Baiktelkam) POLRI mengirimkan surat pada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan perihal penertiban penggunaan senapan angin dan pemasangan pagar listrik ilegal. Surat ini disusun untuk menindaklanjuti surat sebelumnya dari Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengenai perihal yang sama.

Dalam surat ini, Baintelkam menekankan dan menegaskan kembali beberapa peraturan terkait penggunaan senapan angin, seperti senapan angin hanya dapat digunakan untuk latihan dan pertandingan olehraga menembak dan bukan untuk berburu/melukai/membunuh binatang. Hal ini merujuk kembali pada Peraturan Kepala Kepilisian RI No. 8 Tahun 2012 mengenai Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api untuk Olahraga, bahwa pistol angin dan senapan angin hanya digunakan untuk kepentingan olahraga menembak sasaran dan target.

Baintelkam juga menuliskan dalam surat ini bahwa bila ada pemilik senapan angin yang terbukti melakukan perburuan hewan yang dilindungi akan dikenakan sanksi hukum berdasarkan UU No. 5 Tahun 1990. Selain itu Baintelkam juga meminta bantuan Dirjen KSDAE KLHK untuk melakukan kordinasi dengan kepolisian untuk mengamankan dan mendata oknum-oknum yang masih melakukan perburuan terhadap satwa dilindungi.

Menanggapi terbitnya surat ini, Hery Susanto sebagai Action Team COP menyatakan bahwa, “Centre for Orangutan Protection sangat mendukung langkah yang diambil Kepolisian Republik Indonesia untuk segera mnertibkan kepemilikan dan penggunaan senapan angin agar tidak ada lagi satwa-satwa yang menjadi korban. Dan harus ada sanksi yang tegas untuk yang masih melanggar agar ada efek jera.”.

Adanya surat Baintelkam ini memberikan harapan baru bagi para aktivis konservasi lingkungan satwa liar. Bahwa pemerintah masih memahami pentingnya ada peraturan baru atau penegasan terkait hukum penggunaan senapan angin. Hal ini juga sebagai tindak lanjut dari banyaknya kasus-kasus penyalahgunaan senapan angin terhadap satwa liar dan bahkan satwa-satwa yang dilindungi di Indonesia.

Meski begitu, pemerintah masih memiliki banyak pekerjaan rumah untuk melakukan penyelidikan dan pendataan terhadap para pemburu yang masih menggunakan senapan angin, serta penjual atau pembuat senapan angin ilegal. Tingkat hukuman juga harus disesuaikan agar lebih relevan dan dapat membuat efek jera sehingga kasus-kasus ini tidak terulang kembali. Tak lupa juga sosialisasi, pengawasan atau kontrol harus konsisten dilakukan pada masyarakat atau bahkan di komunitas-komunitas berburu sebagai salah satu tindak pencegahan.

Semoga hal-hal ini bisa segera direalisasikan sehingga tidak ada lagi satwa-satwa liar yang mengalami kepunahan hanya akibat perilaku tidak bertanggung jawab manusia. Dan marilah kita sebagai bagian dari masyarakat juga menjadi kontrol sosial dan mendukung pekerjaan pemerintah dalam menegakkan hukum (LIA)

AMAN MASIH DI KANDANG KARANTINA COP BORNEO

Aman adalah orangutan baru di Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo yang berada di KHDTK Labanan, Berau, Kalimantan Timur. Ya baru, jika dibandingkan dengan orangutan lain di COP Borneo tapi lama jika dilihat dari masa karantina yang sudah 2 bulan ini dia jalani. Percayalah untuk orangutan berumur 2 tahun, karantina bagai ‘penjara’, di usianya yang masih belia Aman harusnya berada bersama sang ibu dimana dia bisa merasakan kasih sayang dan pelukan hangat sang ibu. Walau dia bukan orangutan pertama dan satu-satunya yang mengalamini ini “dibesarkan tanpa sosok ibu”.

Aman… orangutan pecinta susu, pemilih dan rewel. Ya… Aman hampir tidak pernah menghabiskan buah yang diberikan pagi dan sore, meskipun begitu Aman tidak pernah melewatkan segelas susu yang diberikan untuknya. Terlepas dari kecintaannya pada susu, Aman saat ini sedang pilek dan harus minum obat. Ya sudah terbayanglah apa yang terjadi jika saatnya Aman minum obat. Aman benar-benar rewel kalau saatnya minum obat, dia akan berusaha sekuat tenaga menutup mulutnya agar tidak ada obat yang masuk. Maklum saja untuk anak 2 tahun, obat itu seperti racun.

Aman saat ini berada di kandang karantina klinik, sendirian. Setiap kali kami akan pergi dari kandangnya dia selalu berusaha membuat keributan dengan mengeluarkan daun yang diberikan untuk membuat sarang dari celah pintu klinik atau dengan menggoyangkan kandangnya. Aku selalu bergumam dalam hati, habiskan obatmu, jangan rewel saat minum obat dan kamu akan secepatnya bergabung degan orangutan lainnya. (RAY)

AKU, SEPTI DAN JAHE (2)

Zingiber officinale atau jahe adalah tanaman rimpang yang biasanya digunakan untuk memasak sop karena menambah cita rasa pedas dan hangat. Jahe juga biasa dibuat minuman di saat musim hujan atau sekedar menghangatkan tubuh di malam yang dingin. Sekoteng, bandrek dan wedang jahe begitulah jenis minuman berbahan dasar jahe ini menjadi akrab untuk dinikmati.

Minggu, 16 Agustus 2020 pukul 07.26 WITA, aku mulai mengupas kulit jahe, mencucinya lalu menggerusnya. Setelah hasil gerusan selesai, aku mengambil sari jahe dengan memerasnya menggunakan saringan. Sari yang dihasilkan hanya seperempat gelas. lalu aku memasak air 3/4 gelas dan menambahkannya ke air sari jahe. Sebelum kuberikan, aku mencobanya dan ternyata rasanya hambar dan pedas. Aku berpikir jika kuberikan kepada Septi, pasti dia tidak ingin meminumnya, sama seperti aku. Kubawa “wedang jahe” itu ke klinik. Kutambahkan madu beberapa sendok, lalu aku mencicipi lagi dan rasanya enak sekali. Tidak tunggu lama aku  memindahkan ramuan wedang jahe itu ke gelas khusus untuk digunakan pada orangutan. Dengan rasa senang bercampur ragu, kubawa wedang jahe ke kandang Septi. Saat melihat Septi dan perutnya, aku langsung memberikan ramuan herbalku kepadanya. Pada awalnya aku ragu Septi akan meminumnya, tetapi ternyata ramuanku diminumnya perlahan-lahan hingga sisa sangat sedikit. Senang rasanya, Septi senang dengan ramuan wedang jahe yang kubuat.

Selasa, 18 Agustus 2020 hari ketiga pemberian wedang jahe kepada Septi, di pagi hari seperti biasa aku menuju kandang Septi. Saat aku melihatnya, ada sesuatu yang berbeda. “HAH?!”, bunyi itu yang keluar dari mulutku setelah terkejut melihat perut Septi mengempis dari hari sebelumnya. Hanya perasaan senang yang tergambar dalam perasaanku. Kupegang perut Septi dan ternyata perutnya sudah sama rasanya seperti orangutan lain. Setelah perutnya mengempis, nafsu makannya pun meningkat drastis.

Jadi… seperti itulah cerita aku, Septi dan jahe. Aku berharap kondisi Septi tidak terulang lagi dan semakin membaik setiap harinya. Cerita kami akan terus berlanjut sampai 25 hari kedepan. Doakan Septi terus ya! (GIL)

Page 7 of 348« First...56789...203040...Last »