TINGKAH LUCU ASIH YANG SELALU MEMBUAT KEEPER KEWALAHAN DI SEKOLAH HUTAN

“Tunggu, Asih!”
“Asih… pelan-pelan.”

Kalimat itu mungkin menjadi salah satu kalimat yang paling sering terdengar setiap kali kegiatan sekolah hutan dimulai di Suaka Margasatwa Siranggas. Bukan karena Asih nakal, tetapi karena orangutan muda ini seolah memiliki energi yang tidak pernah habis. Baru beberapa menit dilepas, Asih sudah membuat keeper berlari kecil mengikuti setiap langkahnya.

Kadang ia memanjat pohon setinggi mungkin, lalu berhenti sebentar sambil melihat ke bawah seolah memastikan keeper masih mengikutinya. Saat keeper berhasil mendekat, Asih justru tersenyum usai-setidaknya begitulah yang dirasakan para keeper, lalu kembali berpindah ke pohon berikutnya.

“Dia nungguin kita, habi itu kabur lagi”, ujar salah satu keeper sambil tertawa.

Tingkah Asih sering kali membuat seluruh tim tersenyum. Ketika suasana hutan sedang tenang, tiba-tiba ia turun dari pohon, menghampiri keeper, lalu mengajak bermain. Ia menarik tangan keeper, memegang pakaian, bahkan sesekali menggigit pelan sebagai bentuk interaksi. Namun, baru saja keeper melayaninya beberapa saat, Asih kembali berlari menuju pepohonan. Seolah mengajak bermain petak umpet.

Di hari lain, Asih justru memilih menjelajah lebih jauh. Dengan lincah ia berpindah dari satu cabang ke cabang lain, sementara keeper harus mencari jalur terbaik agar tetap bisa mengawasinya dari bawah. Tidak jarang mereka kehilangan pandangan beberapa saat sebelum akhirnya terdengar suara daun bergoyang yang menandakan Asih masih bergerak di atas kanopi.

Yang membuat keeper semakin kewalahan adalah rasa penasaran Asih yang begitu besar. Hampir semua hal menarik perhatiannya. Sebatang ranting, daun muda yang baru tumbuh, jamur yang muncul setelah hujan, hingga genangan air berlumpur bisa menjadi objek yang membuatnya berhenti cukup lama. Pernah suatu hari, Asih sibuk bermain lumpur hingga akhirnya meminum air yang menggenang di sana. Di lain kesempatan, ia menemukan jamur di lantai hutan dan mencobanya.

Meski dikenal aktif, Asih juga memiliki kebiasaan unik. Ketika merasa bosan karena di atas pohon, ia akan turun begitu saja dan berjalan di tanah sambil sesekali menoleh ke arah keeper, seperti mengajak mereka ikut berpetualang. Akibatnya, keeper harus selalu siap mengikuti perubahan rencana yang dibuat Asih dalam hitungan detik.

“Baru saja tadi semangat memanjat, sekarang malah mengajak main”, celetuk keeper lainnya sambil tersenyum.

Namun di balik semua tingkah usianya, Asih perlahan mulai menikmati kehidupan di hutan. Ia semakin sering mencoba memakan daun muda, buah-buahan hutan, biji-bijian, hingga berbagai jenis pakan alami yang ditemukannya sendiri. Sesekali ia juga bertahan lebih lama di atas pohon, bergelantungan di antara cabang-cabang sebelum kembali turun dan melanjutkan petualangannya.

Tidak ada satu pun hari di sekolah hutan yang benar-benar sama ketika bersama Asih. Kadang keeper pulang dengan pakaian penuh lumpur karena harus mengikutinya ke mana-mana. Kadang mereka tertawa karena berhasil “dibohongi” Asih yang berpura-pura diam, lalu tiba-tiba melesat ke pohon lain. Di hari berikutnya, mereka kembali dibuat kagum melihat keberanian Asih mencoba hal-hal baru yang ditemuinya di hutan.

Bagi para keeper, mendampingi Asih memang membutuhkan tenaga ekstra. Namun, di balik langkah-langkah yang harus dipercepat, tawa yang sering pecah di tengah hutan, dan kejutan-kejutan kecil yang selalu ia ciptakan, tersimpan cerita tentang orangutan muda yang sedang menikmati setiap petualangannya dengan rasa ingin tahu yang begitu besar. Mungkin, itulah yang membuat setiap hari bersama Asih selalu menjadi hari yang menyenangkan. (NAB)

MENANAMKAN CINTA HUTAN SEJAK DINI: COP DAN BBKSDA SUMUT AJAK PELAJAR PAKPAK BHARAT MENGENAL ORANGUTAN

Menjaga hutan tidak hanya dilakukan melalui patroli atau penyelamatan satwa liar. Upaya konservasi juga dimulai dari ruang-ruang kelas, ketika anak-anak mulai mengenal alam dan memahami mengapa hutan harus tetap lestari. Semangat itulah yang dibawa Centre for Orangutan Protection (COP) bersama Balai Besar KSDA Sumatera Utara melalui Seksi Konservasi Wilayah I dalam kegiatan school visit yang dilaksanakan di SMP Negeri 1 Pergetteng Sengkut dan SD Negeri 030414 Kecupak, Kecamatan Pergetteng Genteng Sengkut, Kabupaten Pakpak Bharat. Kegiatan ini diikuti oleh 51 siswa perwakilan kelas I, II, dan III SMP serta 36 siswa kelas V dan VI SD.

Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh pihak sekolah yang dilanjutkan dengan sambutan dari BBKSDA Sumut. Selanjutnya, para siswa diajak mengenal lebih dekat pentingnya kawasan hutan konservasi sebagai rumah bagi berbagai satwa liar yang dilindungi. Melalui penyampaian materi yang interaktif, siswa diperkenalkan pada keanekaragaman hayati Sumatra serta peran setiap individu dalam menjaga kelestariannya.

Sesi berikutnya dipandu oleh tim COP, siswa diajak mengenal jenis-jenis orangutan di Indonesia, habitat alaminya, perilaku unik yang dimilik, hingga berbagai ancaman yang menyebabkan populasinya terus mengalami tekanan, seperti hilangnya habitat, konflik dengan manusia, dan perburuan ilegal. Suasana belajar semakin hidup ketika sesi tanya jawab dimulai. Banyak siswa dengan antusias mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan maupun membagikan pengetahuan yang mereka miliki. Rasa ingin tahu mereka juga semakin besar saat disuguhkan video mengenai Sekolah Hutan Orangutan, sebuah program rehabilitasi yang membantu orangutan belajar kembali berbagai keterampilan alami sebelum suatu hari dilepasliarkan ke habitatnya.

Unfug mengetahui sejauh mana materi dipahami, para siswa kemudian mengikuti kuis sederhana yang berisi pertanyaan seputar konservasi hutan dan orangutan. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana evaluasi, tetapi juga memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan. Sebagai bentuk dukungan terhadap pendidikan lingkungan di sekolah, COP dan BBKSDA Sumut turut menyerahkan poster berbagai satwa liar dilindungi di Sumatra Utara yang diharapkan dapat menjadi media pembelajaran bagi guru dan siswa.

Melalui kegiatan School Visit ini, COP percaya bahwa konservasi tidak hanya berbicara tentang menyelamatkan satwa hari ini, tetapi juga membangun generasi yang peduli terhadap alam di masa depan. Setiap pengetahuan yang dibagikan, setiap pertanyaan yang dijawab, dan setiap rasa ingin tahu yang tumbuh di dalam diri para siswa merupakan langkah kecil menuju masa depan dimana hutan tetap lestari dan orangutan dapat terus hidup bebas di habitat alaminya. Karena pada akhirnya, melindungi orangutan tidak hanya menjadi tanggung jawab para pegiat konservasi, tetapi juga seluruh generasi penerus yang akan mewarisi hutan Indonesia. (PUT)

ROAD TO HKAN 2026: SAAT KONSERVASI HADIR DI TENGAH KERAMAIAN KOTA

Suasana akhir pekan di Atrium City Centrum Mall, Samarinda pada Sabtu, 25 Juli terasa sedikit berbeda. Di antara lalu lalang pengunjung yang datang untuk berbelanja dan berkumpul bersama keluarga, terpampang deretan foto orangutan, bentang hutan tropis, hingga berbagai informasi tentang satwa liar Indonesia. Bukan sekadar pameran, hari itu menjadi ruang bertemunya masyarakat dengan dunia konservasi.

Dalam rangka menyambut Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bersama Centre for Orangutan Protection (COP) menggelar kegiatan Road to HKAN 2026 mengusung tema “Konservasi Alam, Merawat Indonesia”. Kegiatan ini secara resmi dibuka oleh Kepala Balai BKSDA Kalimantan Timur yang mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk turut mengambil peran dalam menjaga kelestarian alam Indonesia. Dalam sambutannya, Kepala BKSDA Kaltim menegaskan bahwa keberhasilan konservasi tidak hanya bergantung pada pemerintah atau lembaga konservasi, tetapi juga membutuhkan dukungan masyarakat. Kesadaran untuk menjaga alam dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan setiap hari dan tumbuh melalui edukasi yang terus disampaikan ke publik.

Selama kegiatan berlangsung, pengunjung diajak mengenal lebih dekat berbagai upaya pelestarian satwa liar dan habitatnya melalui pameran fotografi konservasi yang diselenggarakan oleh COP. Setiap foto menyimpan cerita tentang kehidupan orangutan di alam liar, proses penyelamatan satwa, hingga pentingnya menjaga hutan sebagai rumah bagi ribuan spesies. Pengunjung dari berbagai usia berdiskusi dengan para pegiat konservasi, mengenal berbagai program perlindungan satwa liar, sekaligus mengetahui bagaimana mereka dapat ikut berkontribusi dalam menjaga alam.

Tidak hanya menghadirkan edukasi, Road to HKAN 2026 juga menjadi panggung untuk merayakan kekayaan budaya Kalimantan. Penampilan musik sape dan tari tradisional Dayak berhasil memukau para pengunjung, disusul pertunjukan energik dari UKM Band Universitas Mulawarman yang semakin menghidupkan suasana. Acara kemudian ditutup dengan penampilan spesial dari Rio Satrio yang mengajak seluruh pengunjung menikmati malam penuh semangat.

Kesuksesan kegiatan ini tidak lepas dari dukungan para relawan orangutan yang tergabung dalam Orangufriends Samarinda yang turut membantu jalannya acara sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan. Kolaborasi antara pemerintah, organisasi konservasi, komunitas, relawan, dan masyarakat menjadi bukti bahwa menjaga alam adalah tanggung jawab bersama. Semakin banyak masyarakat yang menyadari bahwa konservasi bukan hanya tentang melindungi satwa liar, tetapi juga tentang menjaga masa depan lingkungan tempat kita semua hidup. Sebab, setiap langkah kecil yang kita lakukan hari ini dapat menjadi bagian perubahan besar bagi kelestarian alam Indonesia. (ENG)