Ada satu suara yang bergema dari banyak tempat. Dari Sidikalang, Medan, Padangsidimpuan, Padang, Jambi, Bandung, Yogyakarta, Samarinda, hingga Berau, orang-orang berkumpul dan bergerak bersama untuk menyampaikan satu pesan, “Act for Orangutans. Their Forest, Our Future”. World Orangutan Day 2026 bukan sekedar tentang memperingati keberadaan orangutan. Hari ini adalah kesempatan bersama untuk kembali melihat lebih dekat siapa mereka dan mengapa keberadaan orang utan begitu penting bagi hutan.
Orangutan bukan hanya satwa yang kita kenal karena wajahnya yang menggemaskan dan tingkahnya yang menarik. Mereka juga memiliki peran penting sebagai penyebar benih, membantu menjaga regenerasi hutan melalui biji-biji tumbuhan yang mereka makan dan sebarkan. Kehidupan orangutan tidak pernah bisa dipisahkan dari hutan. Di sanalah mereka mencari makanan, membangun sarang, merawat anak, dan berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya. Setiap pohon yang berdiri adalah bagian dari rumah. Setiap kawasan hutan yang tetap terjaga adalah kesempatan bagi mereka untuk terus hidup. Ketika hutan kehilangan ruangnya, orangutan ikut kehilangan rumah. Ketika hutan terfragmentasi dan terus tertekan, kehidupan mereka menjadi semakin rentan.
Di setiap tempat, pesan tentang orangutan disampaikan dengan cara berbeda. Ada yang mengajak anak-anak mengenal orangutan sejak dini. Ada yang berbagi cerita tentang hutan dan satwa liar. Ada pula yang mengajak masyarakat memahami bahwa menjaga orangutan bukan hanya pekerjaan para penjaga hutan, peneliti, atau organisasi konservasi. Kita semua punya peran. Sebab mencintai orangutan bukan hanya tentang menyukai foto mereka atau merasa gemas ketika melihat tingkahnya. Mencintai orangutan berarti mencintai hutan yang menjadi rumahnya. Berarti peduli pada pohon-pohon yang tumbuh di dalamnya, air yang mengalir dari kawasan hutan, serta kehidupan berbagai satwa dan manusia yang bergantung padanya.
Hari ini kita merayakan hari orangutan. Tetapi perjuangan untuk mereka tidak berhenti ketika World Orangutan Day berakhir. Suara yang kita bangun hari ini harus terus hidup menjadi kepedulian, dan kepedulian harus tumbuh menjadi tindakan. Dari sembilan kota, satu pesan terus menyala, bersama COP melindungi orangutan dan yang lainnya. (NAB)
Dari arah lain di dalam hutan, Mabel sedang duduk santai di atas pohon sambil menikmati buah buni. Ia terlihat begitu asyik menjelajah dan mencari makanan sendiri. Sementara itu, aku berjalan lebih dulu menuju pohon tarap bersama Mba Fiqoh (animal keeper) yang membawa Cinta. Awalnya Mabel masih sibuk dengan buah buninya. Namun, ketika ia melihat aku berjalan semakin jauh meninggalkannya, tangannya berhenti bergerak. Mabel memperhatikan aku dari atas pohon. Dan aku terus berjalan.
Tiba-tiba terdengar suara kecil dari arah belakang. Mabel mulai merengek. Ia melihat aku lagi, lalu melihat sekelilingnya. Sepertinya ia tidak suka melihatku berjalan terlalu jauh darinya. Akhirnya, Mabel turun dari pohon. Ia meninggalkan buah buni yang tadi sedang dimakannya dan mulai berjalan cepat mengejarku. Begitu Mabel mendekat, Mba Fiqoh langsung memperhatikannya. Mba Fiqoh tertawa kecil lalu bertanya, “Kenapa Mabel? Tumben nangis?”.
Aku ikut tertawa melihat tingkah Mabel. “Ternyata dia bisa manja!”, jawabku.
Mba Fiqoh langsung tertawa. “Iya, biasanya paling nggak mau bermanja-manja.”
Aku melihat Mabel yang kini sudah memeluk kakiku. “Tadi ditinggal sedikit aja langsung turun dari pohon dan nyusul.”
Mba Fiqoh tertawa lagi.
“Berarti sebenarnya Mabel nggak mau jauh-jauh dari kamu.” kata mba fiqoh
Kami berdua pun tertawa bersama. Mabel seolah tidak peduli dengan percakapan kami. Ia hanya memastikan aku tetap berada di dekatnya. Lucu juga melihat Mabel hari itu. Biasanya ia adalah orangutan yang paling aktif menjelajah, berpindah dari satu pohon ke pohon lain, dan sibuk mencari makanan favoritnya seperti jengkol dan buah tarap. Tapi hari itu, Mabel menunjukkan sisi yang jarang terlihat. Ternyata, di balik sifatnya yang mandiri, Mabel juga bisa manja terutama ketika melihat orang yang ia percaya berjalan meninggalkannya. (LUK)
Upaya mempersiapkan habitat bagi pelepasliaran Harimau Sumatra terus dilakukan termasuk melakukan survei keberadaan satwa liar lain yang menjadi bagian penting dari ekosistem. Beberapa temuan seperti cakaran beruang madu, cakaran kucing-kucingan, jejak kijang, jejak tapir, feses kucing-kucingan, kaisan babi hutan, serta bekas sarang babi hutan menunjukkan bahwa kawasan tersebut masih memiliki daya dukung habitat yang baik.
Kabar baik lainnya datang dari kondisi keamanan habitat. Selama survei, tim tidak menemukan jerat aktif maupun jerat yang sudah tidak aktif. Tim menemukan bekas pondok pemburu di dua lokasi berbeda, namun pondok sudah cukup lama tidak digunakan. Tim juga berhasil mencapai lokasi yang direncanakan sebagai helipad. Setelah dilakukan pembersihan atau clearing, lokasi tersebut dinilai cukup baik karena memiliki kontur tanah yang relatif rata sehingga mendukung kebutuhan akses dalam kegiatan pelepasliaran.
Untuk memantau aktivitas satwa secara menyeluruh, tim memasang tiga unit kamera jebak (camera trap) selama tiga hari. Kamera berhasil merekam keberadaan beruang madu dan tapir Asia yang melintas di kawasan tersebut. Selain keberadaan berbagai satwa, kondisi vegetasi hutan juga masih tergolong baik. Tutupan dan kondisi hutan yang mendukung menjadi modal penting bagi keberlangsungan berbagai jenis satwa liar. Lalu, apakah hutan ini benar-benar siap menjadi rumahnya si raja hutan ini? (RON)
