DARI BAU CAT HINGGA TAWA ANAK-ANAK, WAJAH BARU PUSAT INFORMASI ANECC

Perjalanan menuju Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC) di Simalungun pada Jumat, 5 Desember 2025, bukanlah sekadar kunjungan biasa bagi saya bersama tim APE Sentinel. Kami datang dengan misi spesifik yaitu menyulap sebuah bangunan tua menjadi pusat informasi gajah yang layak. Malam pertama langsung menyambut kami dengan tantangan nyata seperti aroma cat yang menyengat beradu dengan udara dingin dinding lembap, menemani kerja lembur kami hingga larut. Waktu yang terbatas memaksa kami bekerja dalam ritme cepat, mengubah target awal tiga hari menjadi empat hari penuh peluh demi memastikan setiap sudut bangunan mendapatkan sentuhan perbaikan yang pantas.

Hari-hari berikutnya diisi dengan kerja fisik yang menuntut ketelatenan. Ketika ditemukan plafon yang lapuk, keputusan diambil cepat tanpa banyak diskusi yaitu bongkar dan ganti. Pembagianan tugas ada yang memanjat mengganti atap, ada yang mengecat teralis, hingga membersihkan dinding luar secara manual. Meski lelah, melihat bangunan yang semula kusam perlahan memancarkan wajah baru memberikan kepuasan tersendiri. Lantai yang baru divernis tepat saat azan magrib berkumandang di hari keempat menjadi penanda selesainya tahap pertama, namun kami tahu napas bangunan ini belum sepenuhnya utuh.

Napas kehidupan itu ditiupkan pada kunjungan lanjutan tanggal 13 dan 27 Desember 2025. Kali ini, dengan bantuan personil tambahan, fokus kami beralih dari konstruksi ke estetika dan fungsi. Ruang yang telah direnovasi mulai diisi dengan poster edukasi dipasang, gorden digantung, dan dokumentasi profil gajah-gajah ANECC mulai menghiasi dinding. Sentuhan akhir ini menjadikan ruangan gagah bercerita yang hidup, siap menyambut siapa saja yang ingin belajar tentang konservasi gajah sumatra.

Puncak dari segala lelah itu akhirnya terbayar lunas pada tanggal 17 Januari 2026. Saat peresmian Pusat Informasi ANECC, bangunan tersebut langsung menyambut tamu pertamanya yaitu rombongan anak-anak TK dari Sekolah Alam Asahan. Melihat antusiasme dan rasa ingin tahu yang terpancar dari wajah mereka saat mengisi ruangan, kami sadar bahwa misi ini telah berhasil. Renovasi ini bukan sekadar tentang memperbaiki tembok atau mengecat jendela, melainkan tentang menyediakan ruang agar pesan pelestarian gajah dapat terus bergema ke generasi selanjutnya. (Ndaru_Orangufriends)

HARI-HARI ORANGUTAN REPATRIASI BERADA DI SRA

Genap sudah 21 hari Raiking, Noon, Jay, dan Bow berada di SRA (Sumatran Rescue Alliance) di balik kandang karantina sejak tiba di tanah air pada 24 Desember 2025 lalu. Selama di SRA setiap satwa yang masuk karantina diamati, selain perilakunya ini penting juga untuk kesehatan satwanya ketika dikarantinakan. Oke pertama-tama kita mulai dari si Raiking.

Raiking, si kecil ber-cheekpad adalah orangutan yang paling aktif dan menjadi yang pertama terbangun, bukan karena “morning person” tapi ia terlihat dari awal sebagai pejantan alfa dikarenakan cheekpad-nya yang sudah tumbuh. Raiking selalu mengamati sekeliling sambil terkadang bermain dengan Noon (teman sekandangnya). Para perawat satwa mencatat bahwa Ranking menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi, namun tetap tenang. Ia sudah mampu merangkai dedaunan dan ranting untuk menjadi sarang sederhana, sebuah perilaku alami yang menandakan insting liarnya masih terjaga dengan baik.

Teman sekandangnya si Noon sama seperti Raiking, bedanya Noon paling cerewet dan manja ketika jadwal makan dan pemberian susunya datang. Ia sering terlihat bermain dengan karung kain yang menjadi selimut tidurnya yang disediakan perawat sebagai enrichment. Noon dan Raiking dari awal sudah dapat beradaptasi terutama dari segi pakan yang saat ini mulai dirubah dari buah-buahan menjadi banyak sayur-mayur, hal ini menjadi baik ketika orangutan terbiasa memakan makanan yang tidak terasa manis dan matang, hal ini akan memudahkan mereka dikemudian hari ketika dilepasliarkan.

Jay, dikenal paling playful. Ia kerap bergelantungan, menjatuhkan buah dengan sengaja, lalu mengambilnya kembali sambil bermain. Para perawat satwa dan dokter hewan mencatat Jay memiliki response positif terhadap interaksi lingkungan dan perubahan pakan. Proses penyesuaian makanan sedang dilakukan secara bertahap, meskipun saat ini mereka masih diberikan susu untuk perkembangan tubuhnya tetapi tetap diberikan pakan berupa variasi buah, sayuran, dan dedaunan dan Jay dapat mengikuti seiring berjalannya waktu mencoba semua jenis pakan yang diberikan.

Sementara itu Bow, menunjukkan kepekaan yang tinggi meskipun terkadang tantrum tidak mau jauh dari Jay. Bow adalah orangutan karantina yang lebih sensitif dibandingkan yang lain, hal ini dimungkinkan diulurnya yang terbilang masih sangat muda seharusnya masih dalam lindungan dan gendongan sang induk, meskipun begitu Bow sering membuat sarang dan berlatih bergelantungan bersama Jay ketika perawat satwa dan dokter hewan tidak di dekat kandang. Hal ini memperlihatkan kemajuan signifikan. Bow kini mampu menyusun sarang kecil di malam hari dan memilih tempat tidur yang sama secara konsisten, sebuah tanda kenyamanan di lingkungan barunya.

Selama 21 hari ini, semuanya bekerja tanpa henti. Pemeriksaan kesehatan, pemberian vitamin, susu, dan kebutuhan pakannya diperhatikan secara seksama, pemantauan perilaku, serta penyesuaian pakan dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Keempat orangutan menunjukkan perilaku yang sangat baik di kandang tidak ada tanda stres, agresivitas, maupun gangguan makan yang berarti.

Bagi Ranking, Noon, Jay, dan Bow, SRA bukalah akhir perjalanan, melainkan tempat belajar kembali menjadi orangutan seutuhnya. Setiap sarang yang mereka buat, setiap buah yang mereka kupas sendiri, dan setiap pagi yang mereka jalani dengan tenang adalah langkah kecil menuju satu tujuan besar, kembali ke hutan Sumatra, rumah sejati yang menanti mereka. (NAB)

TRANSFORMASI RUANG EDUKASI UNTUK GAJAH SUMATRA

Tak kenal maka tak sayang, kenalin wajah baru ANECC untuk mengenal gajah, si tubuh besar dengan ingatan terbaik. Aek Nauli Elephant Conservation Center (ANECC) di Sumatra Utara dalam renovasi tim APE Sentinel COP atas arahan BBKSDA Sumut. Perbaikan menyeluruh untuk mengembalikan fungsi dan estetika ruang. Atap dan langit-langit (plafon) yang bocor diganti, pengecatan ulang seluruh dinding kayu agar kembali segar, serta penggantian detail-detail kecil pun tak luput dari perhatian tim. Sanitasi untuk menjamin kebersihan dan kenyamanan penggunanya kelak. Transformasi ini berhasil mengubah ruang yang tadinya suram menjadi fasilitas yang terang, bersih, dan sipa menyambut pengunjung.

Pembaruan fisik ini kemudian disempurnakan dengan pengayaan materi edukasi. Di dalam ruangan yang kini nyaman tersebut, COP menambahkan instalasi papan informasi (information boards) mengenai konservasi gajah dan foto profil gajah-gajah yang terdapat di ANECC. Papan-papan ini menjadi jendela informasi visual yang memikat, menjelaskan segala hal tentang Gajah Sumatra mulai dari kehidupan gajah, kerajaannya, dan konservasi gajah di Sumatera Utara. Perpaduan antara ruang yang nyaman dan informasi yang kaya menjadikan proses belajar di ANECC kini jauh lebih menyenangkan dan efektif.

Selepas renovasi di ruang edukasi ANECC, Hardo, salah satu penjaga gajah berharap bahwa para pengunjung mengetahui bahwa gajah merupakan hewan yang memiliki perasaan, penting baginya untuk para pengunjung mengetahui perasaan-perasaan gajah terutama apabila habitatnya berkurang dan dirusak. Apabila sehabis edukasi ini, pengunjung akan memahami bahwa menjaga habitat gajah sama juga menjaga perasaan para gajah.

Sebagai langkah selanjutnya, sinergi antara COP dan ANECC tidak berhenti setelah renovasi selesai. Kedua belah pihak dapat melanjutkan kerja sama dalam aspek pemeliharaan agar fasilitas yang telah diperbaiki tetap terjaga kondisinya. Wajah baru ANEE+CC ini benar-benar memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi pelestarian Gajah Sumatra dan satwa yang dilindungi lainnya. (AGU)

MENANAM HARAPAN BARU DI BEKAS LUKA BENCANA

Awal tahun ini di Sumatran Rescue Alliance (SRA) dimaknai bukan sekadar sebagai pergantian kalender, melainkan sebuah simbol “Lembar Baru” bagi SRA. Ingatan membenam dan masih segar pada peristiwa satu bulan lalu, saat bencana longsor dan banjir menerjang kawasan ini serta meninggalkan jejak kerusakan yang cukup mendalam pada lanskap pusat rehabilitasi. Namun, lumpur dan sisa bencana tidak menyurutkan semangat dan justru momen ini menjadi titik balik untuk segera bangkit dan memulihkan kembali benteng hijau pelindung kawasan melalui aksi penanaman pohon bersama.

Tim SRA melakukan penanaman dengan tujuan penguatan struktur tanah yang diwujudkan melalui penanaman 40 batang bambu sebagai langkah awal pemulihan lahan kritis pasca-bencana. Akar bambu yang serabut dan kuat diharapkan mampu mencengkeram tanah dengan erat. Selain fungsi ekologis sebagai penahan tanah, penanaman ini juga memperkaya bawaan dengan tanaman buah, meliputi 12 bibit cempedak, 11 bibit sukun, 11 bibit nangka, serta 35 bibit pete.

Keberadaan vegetasi yang rapat akan menciptakan mikroklimat yang sejuk dan teduh, kondisi yang sangat dibutuhkan untuk menjaga kesehatan fisik maupun psikis satwa rehabilitasi. Rimbunnya pepohonan kelak berfungsi sebagai buffer atau penyekat alami yang meredam kebisingan dan membatasi interaksi visual dengan dunia luar, memberikan ketenangan yang esensial agar satwa liar dapat memulihkan perilaku alaminya dengan optimal.

Lebih jauh lagi, pemilihan jenis pohon buah merupakan investasi jangka panjang bagi kemandirian pusat rehabilitasi. “Kami menanam pohon ini agar bisa berguna di masa depan dan buahnya bisa dipergunakan oleh satwa dan para pekerja di sekitar sini”, ucap Ndaru yang merupakan Orangufriens Padang di sela-sela menanam. Kelak saat pohon-pohon ini berbuah, SRA akan memiliki simpanan pakan mandiri yang menyediakan nutrisi alami dan segar bagi satwa. Dengan setiap bibit yang ditanam ke dalam tanah yang sedang memulihkan diri ini, menanamkan harapan dan resolusi tahun baru yang kuat untuk satwa-satwa kebengaan Sumatra. (AGU)

MENCARI NAFAS SATWA SM BARUMUN DENGAN PENDEKATAN SOSIAL MASYARAKAT

Perjalanan menyusuri lingkar Suaka Margasatwa (SM) Barumun pada pertengahan November 2025 awalnya membawa satu misi besar yaitu melacak jejak orangutan yang diyakini bersembunyi di balik rimbunnya hutan Padang Lawas. Bersama tim gabungan COP dan BBKSDA Sumut, kami menyisir desa demi desa, mulai dari Pagaran Bira hingga Kecamatan Sosopan, membawa pertanyaan yang sama kepada warga. Namun, jawaban yang kami terima seragam yaitu gelengan kepala. Bagi masyarakat lokal yang hidup berdampingan dengan hutan, orangutan tak ubahnya mitos yang tak pernah mewujud sepertinya hutan mereka riuh oleh lutung, owa, dan beruk, namun sunyi dari kehadiran orangutan.

Ironisnya, di tengah nihilnya jejak orangutan, kehadiran penguasa lain justru terasa begitu nyata. Di Kecamatan Barumun dan Barumun Baru, warga tidak berbicara tentang orangutan, melainkan tentang harimau sumatra yang kerap turun menyapa ladang hingga meninggalkan jejak di pemukiman. Yang mengagumkan, respons warga terhadap potensi konflik ini mematahkan stigma umum. Alih-alih membalas ancaman dengan jerat atau senapan, mereka memeluk kearifan lokal dengan menganggap harimau sebagai “Opung” atau leluhur penjaga. Gangguan satwa dimaknai sebagai teguran moral yang diselesaikan melalui ritual ziarah, doa, dan tabuhan gong pusaka yang merupakan sebuah potret harmoni langka dimana manusia memilih menunduk hormat daripada menantang alam.

Harapan untuk menemukan target utama kami, baru muncul setitik di ujung perjalanan, tepatnya di Desa Hapung pada Jumat 21 November 2025. Kepala desa setempat, Musriyadi yang juga merupakan seorang pencari madu menyatakan pernah melihat kawanan orangutan. Namun harapan itu segera terbentur realitas geografis seperti lokasi perjumpaannya berada jauh di perbatasan Sumatra Barat, bukan di pusat kawasan SM Barumun. Temuan ini sejalan dengan pantauan udara drone kami yang menyingkap wajah asli kawasan, hutan yang kini terjepit dan terkepung oleh ekspansi perkebunan sawit yang masif. Lanskap yang terfragmentasi ini membuat ruang gerak satwa arboreal seperti orangutan nyaris mustahil tersisa.

Misi empat hari ini akhirnya bermuara pada sebuah simpulan yang realistis sekaligus reflektif. Prediksi awal kami tentang populasi orangutan di SM Barumun memang meleset, namun kawasan ini terbukti masih menjadi benteng pertahanan terakhir bagi satwa kunci lain seperti harimau dan beruang madu. Kami pulang bukan hanya membawa data ekologis tentang habitat yang kian tergerus, tetapi juga pelajaran berharga dari warga desa tentang etika hidup berdampingan dengan alam. Barumun mungkin sepi dari orangutan, tetapi ia tetaplah hutan bernyawa, dijaga oleh mitos “Opung” di tengah desakan zaman yang terus menggerus. (Ndaru_Orangufriends)

MEMBELAH ARUS, MENEMBUS BATAS: PERJUANGAN LOGISTIK MENCAPAI SRA

Perjalanan kemanusiaan menuju Sumatran Rescue Orangutan (SRA) ini berubah menjadi ujian ketahanan fisik dan mental sejak dimulai pada 27 November 2025. Selama dua hari berturut- turut niat kami mengantar logistik dipatahkan oleh alam dengan banjir setinggi dada di Besitang dan longsor di Tol Tanjung Pura yang memutus akses total. Upaya menembus malam hingga pukul dua dini hari pada hari Jumat pun berakhir nihil, memaksa kami mundur ke Binjai dengan perasaan cemas, mengingat stok pakan bagi satwa-satwa di dalam SRA telah habis dan mereka terancam kelaparan dalam isolasi.

Sabtu, 29 November, menjadi hari penentuan bagi kami. Di Tol Tanjung Pura Kilometer 53, genangan air masih setinggi dada orang dewasa dengan arus deras yang sebelumnya telah membuat banyak kendaraan mogok dan terseret. Di tengah tekanan urgensi logistik, kami mengambil risiko besar dengan mengekor rapat di belakang sebuah truk Pertamina. Kami membiarkan truk itu memecah ombak banjir menjadi perisai bagi mobil kami untuk merayap perlahan menembus blokade air hingga akhirnya roda kendaraan menyentuh aspal kering di sisi seberang.

Rasa lega tak terlukiskan menyelimuti tim saat akhirnya tiba di SRA dengan selamat. Misi krusial untuk mendistribusikan logistik darurat, termasuk bantuan tambahan dari OIC dan COP, akhirnya tuntas, memastikan kebutuhan bagi operasional SRA dan satwa kembali aman. Setelah tugas selesai, saya bersama Tim APE Sentinel kembali ke Medan membawa pulang kelelahan yang terbayar lunas. Perjalanan ini menjadi pengingat keras bahwa garda depan konservasi seringkali menuntut keberanian untuk bertaruh nyawa demi memastikan makhluk hidup yang kita jaga tidak terlupakan di tengah bencana.(Ndaru_Orangufriends)

DONASI UNTUK ORANGUTAN SRA DI KITABISA YUK

Saat ini ada 6 Orangutan Sumatra dan 1 Orangutan Tapanuli yang sedang berada di Sumatran Rescue Alliance, suatu pusat rehabilitasi orangutan di desa Bukit Mas, kecamatan Besitang, kabupaten Langkat, Sumatra Utara. Badai Senyar menghantam pulau Sumatra bagian Utara yang melumpuhkan tiga provinsi yaitu Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Lokasi SRA yang berada di antara Aceh dan Sumut ini terkena banjir dan longsor yang merusak infrastruktur di SRA.

Ada enclosure orangutan Robert termasuk kandang tidur dan pagar listrik mengalami kerusakan. Selain pohon-pohon tumbang yang menimpa, lumpur juga membenamkan kandangnya. Untung saja tim SRA dengan sigap memindahkan Robert di waktu yang tepat. Robert terlihat kaget dan meringkuk di hammock setelah pemindahan dadakan tersebut.

Kodisi kabupaten Langkat yang terkena banjir membuat jalur darat terputus, bahkan selama tiga hari, akses jalan utama Medan ke Besitang terputus. Suatu kondisi yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Listrik yang padam semakin memperburuk keadaan. Logistik tim maupun pakan satwa hanya bisa untuk esok hari.

Centre for Orangutan Protection meminta bantuan untuk SRA lewat galang dana di KITABISA.COM perbaikan besar untuk Robert dan beberapa fasilitas SRA yang masih dalam pendataan akan segera disampaikan. Terima kasih orang baik.

HARIMAU, ORANGUTAN, DAN SENYUM ANAK SDN 09 SIMPANG UTARA, PASAMAN

Suara tawa anak-anak terdengar riuh di ruang kelas SDN 09 Simpang Utara, Kab. Pasaman, Sumatera Barat. Pada hari Jumat pagi tanggal 24 Oktober 2025, dua volunteer APE Protector, Putra dan Suci, datang membawa cerita dari hutan tentang Harimau Sumatera yang gagah dan Orangutan yang bijak. Sekolah ini dipilih bukan tanpa alasan, letaknya berdekatan dengan Suaka Margasatwa (SM) Malampah Alahan Panjang, kawasan penting yang menjadi rumah bagi satwa-satwa liar yang harus kita lindungi.

Sebanyak 29 siswa kelas 6 menyimak dengan penuh rasa ingin tahu. Melalui gambar, cerita, dan tanya jawab seru, mereka belajar mengenal karakteristik, kebiasaan makan, hingga ancaman yang dihadapi Harimau Sumatra dan Orangutan. Setiap senyum dan tatapan kagum anak-anak menjadi pengingat bahwa pendidikan lingkungan bisa dimulai dari hal sederhana, dari ruang kelas di ujung nagari yang bersinggungan langsung dengan hutan.

Kegiatan ini bukan sekadar sesi belajar, melainkan langkah kecil untuk menumbuhkan cinta besar pada alam. APE Protector berharap, dari tangan-tangan kecil di Simpang Alahan Mati ini, akan tumbuh generasi yang peduli dan berani menjaga keberlanjutan kehidupan di hutan-hutan Sumatera Barat. (DIV)

SARANG BERUANG MADU YANG MIRIP ORANGUTAN PUNYA

Dalam bekerja di hamparan hutan Sumatera Barat, tim APE Protector tidak hanya berfokus pada perlindungan habitat Harimau Sumatera. Beragamnya biodiversitas flora dan fauna di Pulau Sumatera membuat setiap patroli penuh warna. Dari perjumpaan dengan kuau raja yang anggun, rekaman kamera dari lalu-lalangnya anoa, tapir, hingga landak sumatera, semuanya menjadi bagian dari catatan penting tim di lapangan.

Namun di balik keindahan itu, tim juga dihadapkan pada tantangan lain. Belakangan ini, laporan tentang keberadaan beruang madu yang muncul di sekitar areal pemukiman warga semakin sering diterima. Untuk menindaklanjutinya, tim APE Protector bersama kelompok PAGARI setempat segera melakukan patroli. Mereka menyusuri hutan, menelusuri jejak, mengamati bekas cakaran di batang pohon, dan memasang kamera trap di lokasi yang dicurigai.

Salah satu momen berharga terjadi ketika tim menemukan sarang beruang madu di atas pepohonan tinggi, struktur besar dari ranting dan daun yang menjadi tempat beristirahat sang penghuni hutan. Sekilas, bentuknya memang mirip dengan sarang orangutan. Namun, berbeda loh! Jika sarang orangutan biasanya berbentuk bundar dan rapi di ujung cabang, sarang beruang madu cenderung tampak lebih acak dengan cabang-cabang patah karena sering digunakan untuk mencari madu atau buah di sekitar pohon itu.

Temuan ini bukan hanya bukti keberadaan beruang madu, tetapi juga tanda bahwa hutan masih menyediakan ruang hidup bagi satwa penting tersebut. Setiap patroli selalu menghadirkan kejutan baru. Bagi tim APE Protector, setiap jejak, setiap sarang, dan setiap tanda kehidupan liar adalah pengingat mengapa perjuangan mereka di hutan ini tak boleh berhenti. (DIM)

EDUKASI SERU DI RIHAS BERSAMA SD IT BAITUL QUR’AN PANTI

Suara riang anak-anak terdengar dari kejauhan, semakin dekat seiring becak motor yang membawa mereka berhenti di depan RIHAS (Ruang Informasi Harimau Sumatra). Pada Sabtu, 13 September 2025, pagi yang cerah itu menjadi istimewa. Anak-anak dari SD IT BAITUL QUR’AN PANTI datang dan siap belajar cara mengenal hutan dan satwa liarnya.
Belajar di RIHAS bukan sekedar duduk di kelas. Anak-anak menjelajah pinggiran hutan Rimbo Panti, merasakan langsung bagaimana para penjaga hutan bekerja. Mereka mengamati suara burung yang berkicau, memperhatikan serangga kecil yang hidup di tanah, hingga mencari jejak satwa. Dengan penggaris sederhana di tangan, mereka belajar mengukur tapak kaki harimau dan satwa lainnya, lalu mencatatnya dalam buku kecil. Wajah serius dan penuh rasa ingin tahu terlihat ketika mereka menyalin bentuk jejak satwa ke lembar kertas, seolah sedang menjadi peneliti kecil.
Tidak berhenti di situ, anak-anak juga dikenalkan dengan cara kerja kamera jebak yang merekam kehidupan satwa di hutan. Rasa kagum muncul ketika mereka menyadari betapa teknologi sederhana ini bisa membuka jendela rahasia dunia liar yang jarang terlihat mata manusia. Di dalam ruangan RIHAS, mereka kemudian belajar tentang sembilan subspesies harimau di dunia, sambil mendengarkan cerita mengenai Harimau Sumatra yang kini semakin terancam.
Hari itu, rasa ingin tahu, dan semangat anak-anak memenuhi RIHAS. Semoga semakin banyak sekolah berkunjung agar pesan baik ini bisa tersebar luas dan melahirkan generasi yang peduli, berani, dan bertanggung jawab menjaga alam, hutan, serta satwa liar kita. (UZI)