MENJEMPUT ORANGUTAN DI SUMENEP (1)

Jadwal telah disusun. Seminggu sebelumnya informasi mengejutkan datang dari keberadaan orangutan ilegal di pulau Madura, Jawa Timur. Orangutan remaja ini berada di dalam sebuah gua buatan. Nyaris tak tersentuh cahaya matahari, berlantai tanah tanpa ornamen dan tanpa tempat bergelantungan untuknya. Bahkan setetes airpun tak terlihat. Rambutnya penuh dengan tanah kering.

Jodet… begitulah perawat satwa memanggilnya. Jodet terlihat jinak. Kata perawatnya, Jodet dipelihara sejak kecil sekali, usianya mungkin baru satu tahun. Minumnya di botol susu. Persis kayak bayi itu. 

Tim APE Warrior bersama BKSDA Kaltim SKW 1 Berau  pada tanggal 1 Maret dini hari menjemput orangutan tersebut. Tak disangka, banjir sebelum Sampang membuat perjalanan tim terhambat. Yogyakarta-Sumenep ditempuh dalam waktu 15 jam. “Perjalanan yang melelahkan”, ujar Zain, relawan COP yang ikut membantu evakuasi. 

Di tengah gelapnya malam dan matinya listrik di Waterpark Sumerkat (WSP) Sumenep, tim mempersiapkan evakuasi. Tim medis yang dipimpin dokter hewan Tom dari WRC Jogja dibantu Tetri mahasiswa kedokteran hewan UNAIR yang sedang koas mempersiapkan bius untuk orangutan. Proses bius berjalan dengan cepat, pemeriksaan kesehatan dasar pun dilakukan. Orangutan jantan remaja ini terlalu kurus untuk usianya. 

COP BEKERJA DEMI NAGARI RAMAH HARIMAU

Sosialisasi terbatas di tengah kasus Omicron yang sedang tinggi dilaksanakan tim APE Guardian di Nagari Sontang Cubadak, Kecamatan Padang Gelugur, Pasaman. COP dengan progam barunya untuk perlindungan harimau sumatra mendukung penuh Balai KSDA Sumatra Barat untuk mewujudkan dan mensukseskan Nagari Ramah Harimau. Kelak, Nagari Sontang akan menjadi cikal bakal Nagari percontohan yang mampu menciptakan suasana kehidupan yang harmonis antara masyarakat di suatu nagari dengan satwa liar yang berada di lingkungan nagari. 

Dihadiri perwakilan Camat Padang Gelugur, perangkat Nagari Sontang Cubadak, tokoh adat, kepala kampung, Kerapatan Adat Nagari (KAN), Badan Musyawarah Nagari (BAMUS) dan masyarakat diharapkan menambah tingkat kepedulian masyarakat dalam menjaga hutan dan satwa liar yang berada di lingkungan mereka. BKSDA Sumbar menyampaikan skema terjadinya konflik satwa dan manusia dihadapan 30 peserta sosialisasi tersebut. Kedepannya, akan membentuk tim PAGARI (Patroli Anak Nagari) sehingga tercipta patriot yang mampu menjaga alam dan lingkungannya. 

“Manusia dan satwa liar memiliki peranan penting dalam menjaga alam dan kondisi sosial suatu tempat. Hubungan mutualisme harus saling dibangun demi mencapai keharmonisan dalam berkehidupan”, tutup M. Iqbal Rivai, kapten APE Guardian. Kehadiran COP di Pasaman dibantu para relawan COP di Sumatra Barat yang memang sudah aktif sejak lima tahun belakangan ini. Terimakasih International Tiger Project atas dukungannya, #HarimauAdalahMinang

TEMUAN ORANGUTAN DI TITIK RENCANA JEMBATAN ORANGUTAN

Mitigasi konflik orangutan dengan manusia di sekitar Jalan Poros Kelay menghantarkan tim APE Crusader memetakan area konektivitas. Hutan-hutan yang terfragmentasi diharapkan bisa dihubungkan dengan jembatan terutama yang terputus karena jalan raya. Viralnya orangutan menyeberang jalan ataupun penampakan orangutan di pinggir jalan membuat prihatin para pemerhati satwa. Tidak dapat dipungkirin bahwa pembangunan akan berdampak namun bagaimana membuatnya berkelanjutan tanpa mengesampingkan ekosistem. 

Pada 24 Februari 2022 sekitar pukul 13.00 WITA, tim berjumpa dengan orangutan remaja yang tengah makan daun muda di salah satu pohon pinggir jalan. Keberadaan orangutan memperkuat area tersebut merupakan habitat bagi orangutan. Beberapa bekas sarang orangutan baik itu sarang lama maupun sarang baru di sisi kiri dan kanan jalan mempertegas habitat orangutan yang semakin tersudut. 

Dalam kurun waktu 21-25 Februari 2022, cuaca di wilayah Kecamatan Kelay cukup cerah. “Tim memetakan ada 7 titik/area dengan potensi pembangunan konektivitas/jembatan penyeberangan bagi orangutan. Ketujuh area ini memiliki tutupan pohon yang cukup baik serta didasari juga oleh temuan bekas aktivitas orangutan”, kata Arief Hadiwijaya, kapten APE Crusader COP.

Centre for Orangutan Protection berencana akan membangun jembatan orangutan pada tahun 2022 ini. “Namun kami perlu memastikan titik yang dimaksud agar dapat berfungsi dengan semestinya. Seperti yang kita ketahui bersama, jembatan penyeberangan manusia saja sering diabaikan. Tapi kami optimis, keberadaan jembatan orangutan nantinya dapat meminimalisir  kecelakaan yang terjadi dan semakin membuat leluasa satwa liar bergerak karena tersambungnya hutan yang merupakan habitat mereka”, tambah Arief lagi. (RIF)

PERUBAHAN SISTEM KERJA APE CRUSADER

Tim APE Crusader adalah tim pertama Centre for Orangutan Protection yang bekerja di garis depan untuk melindungi orangutan dan habitatnya. Keberadaan tim ini telah menyelamatkan ratusan orangutan dan menuntut keadilan untuk orangutan-orangutan tersebut. Sebut saja kasus orangutan yang mati dengan 130 peluru senapan angin yang mengantarkan empat orang pelaku pada vonis tujuh bulan dan denda Rp 50.000.000,00 subsider dua bulan kurungan. 

Awal Februari ini, tim APE Crusader mulai menempati area yang memiliki potensi konflik orangutan. Kecamatan Kelay adalah salah satunya yang selama tiga bulan terakhir ini memiliki konflik orangutan tertinggi, mulai dari orangutan masuk ke pemukiman hingga melintas di jalan raya.

Mitigasi konflik orangutan kali ini adalah upaya memetakan area-area yang memiliki potensi sebagai lokasi yang menghubungkan antar habitat yang terputus oleh jalan raya. Hal ini mengingat sekitar Jalan Poros Kelay menjadi habitat penting bagi orangutan tersisa dan terdesak untuk melintas jalan yang cukup ramai dilalui kendaraan besar.

“Terimakasih atas bantuan masyarakat sekitar yang bersedia melaporkan kehadiran orangutan di sekitar mereka tanpa melukai orangutan tersebut”, ungkap Arief Hadiwijaya, kapten APE Crusader.  Kesadaran masyarakat untuk merelakan buah rambutan bahkan duriannya ketika orangutan berkeliaran di sekitar ladang mereka cukup membuat haru tim. “Mungkin buah di hutan sedang tidak berbuah, makanya mereka masuk ladang. Bagi-bagi sedikit lah”, ujar Bu Rina, salah satu penduduk Kampung Sidobangen. (RIF)

ORANGUFRIENDS SCHOOL VISIT DI SDN 14 TANAH TINGGI PADANG

Rindunya Orangufriends beraktivitas seperti sebelum pandemi akhirnya berakhir. Orangufriends Padang mengunjungi SDN 14 Jati Tanah Tinggi kota Padang pada 15 Januari 2022. “Setelah dua tahun tak pernah School Visit, kesempatan untuk berbagi dengan adik-adik kecil ini jadi pengobat rindu. Bahkan sempat grogi karena sudah lama tak berbicara di depan umum, walaupun di depan anak-anak”, ujar Novi Rovika, Orangufriends Padang.

Sampah sudah menjadi masalah di sekitar kita. Orangufriends Padang kali ini mengajak anak-anak SDN 14 untuk mengenal pengelolaan sampah hingga bagaimana memanfaatkannya agar menjadi benda-benda dengan nilai ekonomis. Perubahan iklim saat ini terasa makin ekstrim dan tak banyak yang menyadarinya sekalipun menjadi bagian dari pelajaran anak-anak SD ini.

Centre for Orangutan Protection banyak terbantu dengan kehadiran Orangufriends yaitu kelompok relawan orangutan yang tersebar di berbagai tempat. Orangufriends biasanya beraktivitas sesuai dengan kemampuan dan keahlian mereka. Tak jarang mereka juga membuat acara penggalangan dana untuk pusat rehabilitasi orangutan yang dikelolah COP di Berau, Kalimantan Timur. “Semoga edukasi ke sekolah-sekolah tidak terputus lagi, tetap patuhi protokol kesehatan ya dan tetap beraktivitas untuk lingkungan kita”, pesan Novi lagi. (MEY)

BUKU SAKU HARIMAU DAN PAMERAN FOTO DI PADANG

Centre for Orangutan Protection mendukung acara peluncuran buku saku berjudul Hiduik Badakekan Jo Inyiak Balang. Sebuah buku konflik harimau dengan manusia dengan pesan mendalam bahwa permasalahan tersebut adalah tanggung jawab bersama, tidak hanya masyarakat yang tinggal di sekitar habitatnya.

Balai KSDA Sumatra Barat pada 13 Januari 2022 yang lalu merangkul semua elemen masyarakat yang peduli pada konservasi harimau dalam acara Talkshow, Pameran Foto dan Launching Buku Mitigasi Konflik Manusia di Hotel Grand Zurri Padang. Ini adalah salah satu gerakan awal kegiatan Nagari Ramah Harimau. Acara yang dihadiri Dirjen KSDAE dan Wakil Gubernur Sumbar ini semakin memperkuat bahwa konservasi harimau menjadi perhatian dan kerja bersama kita semua.

COP protect the orangutan and beyond. Begitulah akhirnya Centre for Orangutan Protection secara terbuka tidak hanya mengerjakan konservasi orangutan tetapi sekitar orangutan pun juga menjadi fokus kerja COP. Selama lima belas tahun COP bekerja di konservasi orangutan, ternyata sulit sekali untuk memalingkan wajah dari spesies lainnya. Mulai dari perdagangan, penyelamatan bahkan pelepasliaran, selain orangutan pun pada kenyataannya dibantu COP. “Bangga menjadi bagian kecil COP. Saya, Novi Rovika, relawan orangutan atau Orangufriends Padang senang sekali bisa berkegiatan bersama”, ujar Novi yang merupakan ibu dari tiga anak yang masih meluangkan waktu untuk konservasi Indonesia. (MEY)

DUNIA MAYA YANG SEMAKIN NYATA DARI APE WARRIOR 2021

Media Sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram dan Youtube memiliki peran besar dalam membangun pasar perdagangan satwa liar ilegal. Pemeliharaan satwa liar dilindungi yang sebelumnya hanya dilakukan oleh kalangan tertentu saja, kini sudah merambah ke masyarakat biasa terutama anak-anak muda.

Mereka berkomunikasi dan membangun kelompok maya, menjadikan pemeliharaan sebagai simbol status sosial dan kekuasaan. Di dalam kelompok inilah para pedagang masuk sebagai anggota dan menawarkan dagangannya. Kelompok-kelompok seperti ini semakin tumbuh subur dan kuat dengan membentuk organisasi nyata dan melakukan pertemuan-pertemuan. Sementara itu, para pedagangnya tetap bersembunyi dengan akun-akun. 

Media Sosial juga berperan menggalang kesadaran publik. Unggahan dibalas dengan kritik bahkan pelaporan yang tak lagi dianggap angin lalu oleh pihak terkait. Call center KLHK bekerja hampir 24 jam menerima laporan kepemilikan ilegal sampai ke perdagangan satwa liar dilindungi tersebut. Usaha penyadartahuan juga semakin gencar dan melibatkan public figure baik itu secara pribadi hingga komersil.

Begitulah pandemi COVID-19 mempertipis perbedaan dunia maya dan nyata. Kedewasaan bersosial media dan melihat persoalan menjadi keputusan setiap pribadi. Tergelincir saat berkata-kata dapat berakhir di balik jeruji dengan pasal pencemaran nama baik. “Centre for Orangutan Protection semakin berhati-hati mengingat beberapa kegiatannya pernah disusupi prinsip yang tidak sejalan. Seiring waktu, penyusup mundur. Inilah COP yang lahir mewakili suara satwa yang sulit dimengerti, bahwa satwa adalah makhluk hidup yang memiliki hak yang sama dengan manusia. Hidup.”, tegas Daniek Hendarto, direktur COP. (SAT)

PEDAGANG RAPTOR DIVONIS 6 BULAN

Sidang kasus perdagangan satwa liar di Lampung sampai pada putusan yang menyatakan terdakwa Muhammad Effendi telah terbukti secara sah dan menyakinkan melakukan tindak pidana dengan sengaja menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa dilindungi dalam keadaan hidup. 

Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Tanjung Karang, Lampung pada hari Kamis, 23 Desember 2021 menjatuhkan pidana penjara selama 6 (enam) bulan dan menetapkan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalani terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan. Vonis yang masih cukup jauh dari hukuman maksimal. Dimana berdasarkan Pasal 21 ayat (2) dari Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya ancaman hukuman bagi pedagang satwa liar dilindungi adalah 5 tahun penjara dan denda Rp 100.000.000,00.

Masih ingatkah, operasi bersama Tipidter Polda Lampung, COP dan JAAN pada Jumat 3 September pukul 22.04 WIB dimana telah diamankan empat (4) satwa liar dilindungi yaitu satu Elang Bondol (Haliastur indus) dan tiga Elang Brontok (Nisaetus Cirrhatus). Keempat elang langsung dipindahkan ke fasilitas karantina BKSDA yang berada di Kalianda, lampung Selatan setelah dilakukan berita acara penyerahan oleh Polda ke BKSDA Seksi III Lampung.

Berkaca pada vonis ini, terlihat jelas keuntungan pelaku lebih besar daripada resiko yang diterimanya. Tak sedikit pula para pelaku yang mengetahui bahwa tindakan mereka melanggar hukum. Meski telah dilakukan penegakkan hukum, para pelaku tetap menjalankan bisnis ilegal ini. Faktor keserakahan dan permintaan pasar yang besar juga membuat perburuan marak dilakukan, karena semakin langka nilai satwa semakin banyak juga uang yang didapatkan.

Upaya hukum untuk memberantas  perdagangan satwa liar harus dilakukan melalui preventif dan represif. Artinya, faktor pencegahan dengan melindungi satwa di kawasan prioritas harus benar-benar dilakukan. Sedangkan di sisi penegakan hukumnya harus tegas sebagaimana memberantas peredaran narkoba atau senjata api. Perdagangan satwa ini sangat sistematis, terorganisir dan skala bisa nasional bahkan internasional. Untuk peringkatannya juga terbesar setelah narkoba. Oleh karena itu, sudah seharusnya dilakukan upaya yang besar untuk mengangani kasus perdagangan satwa liar dilindungi. (SAT)

APE CRUSADER, TIM GARIS DEPAN HABITAT ORANGUTAN

Bulan lalu, saya masih seorang mahasiswa kehutanan. Berbeda dengan sekarang, menjadi bagian dari tim APE Crusader. Tak ada jeda setelah berjuang dengan skripsi, kini masih juga berjuang dengan kenyataan di lapangan. COP School Batch 10 adalah perkenalan pertama saya dengan Centre for Orangutan Protection, berkesempatan menjadi relawan di BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance) sekaligus PKL di pusat rehabilitasi orangutan yang berada di Berau, Kalimantan Timur. Saya, Hilman Fauzi.

Keluar-masuk hutan Kalimantan Timur, tersesat di jalan konsesi yang di dalam hutan bahkan berjumpa orangutan liar di habitatnya langsung menjadi pengalaman yang luar biasa di awal saya bekerja untuk orangutan. Perjumpaan dengan orangutan liar secara langsung di habitatnya yang vegetasinya masih bagus diselingi suara-suara satwa lainnya di antara pepohonan besar dan ternyata mereka adalah satwa endemik Kalimantan seperti Lutung Merah, Rangkong, Owa Kalimantan dan lainnya.

Terkadang, tidak selalu kabar baik yang datang. Laporan orangutan masuk kampung atau orangutan berada di pinggir jalan bahkan laporan orangutan menyeberangi jalan yang viral baru-baru ini membuat tim APE Crusader harus kembali ke lokasi walau waktunya libur.

Kemunculan orangutan sebenarnya bukanlah hal yang baru. Bahkan pada tahun 2011, ketika Centre for Orangutan Protection sedang berdiri di pinggir jalan dan berusaha menjelaskan kemunculan orangutan di pinggir jalan di depan kamera yang sedang merekam, orangutan dengan santainya menyeberangi jalan tersebut. Lalu, apa yang seharusnya kita lakukan ketika berjumpa dengan orangutan? (HIL)

HEWAN DOMESTIK DI KAMPUNG MERASA, APAKABAR?

Paramedis Bornean Orangutan Rescue Alliance (BORA) sore ini telah mempersiapkan diri untuk ke Kampung Merasa, Berau yang merupakan kampung terdekat dengan pusat rehabilitasi yang dikelolah COP. Dokter hewan Yudi dan paramedis Tata menyampaikan sosialisasi penanganan dan pengobatan hewan domestik yang sempat terlaksana di kampung sekitar dua tahun lalu dan terhenti sejak pandemi COVID-19 masuk ke Indonesia.

Tim medis menyampaikan bahwa pelayanan ini tanpa dipungut biaya alias gratis. Pelayanan meliputi pemeriksaan dan penanganan terhadap hewan domestik yang sakit. Selain hewan domestik seperti anjing dan kuncing, pelayanan akan dilakukan terhadap hewan ternak juga. Namun pelayanan tidak dapat dilakukan setiap hari karena keterbatasan jumlah tim medis. Rencananya akan dilaksanakan dua kali dalam satu bulan yaitu pada hari Sabtu dan Minggu. Jadwal ini juga menyesuaikan jadwal tim medis. Sementara untuk kasus gawat darurat, apabila memungkinkan bisa langsung menghubungi BORA dan akans egera ditangani. Kategori kasus gawat darurat seperti kecelakaan dan mengakibatkan hewan terluka parah dan hewan yang sedang melahirkan namun anak hewan tidak segera keluar.

Masing-masing RT di Kampung Merasa telah disebarkan formulir untuk pendataan awal jumlah dan jenis hewan yang ada di kampung. Selain itu, telah dibagikan juga logbook di ketua RT masing-masing. Logbook ini berguna sebagai buku pendaftaran, bagi warga kampung yang mempunyai hewan sakit bisa menulis di logbook ini. Tim medis pelaksana akan melayani berdasarkan data yang ada di logbook.

“Semoga hadirnya tim medis BORA di Kampung Merasa bisa membantu hewan peliharaan yang membutuhkan bantuan”, kata drh. Yudi Ardianto optimis. (TAT)