MONYET ADALAH SATWA LIAR

Terimakasih Orangufriends, kamu menyelamatkan dua monyet ini dan memberikan kesempatan kedua untuknya hidup lebih baik lagi. Seminggu yang lalu di belakang sebuah restoran tengah sawah di Yogyakarta, kedua monyet ini dikurung dalam kandang kecil beratapkan seng dan terpal bekas banner. Laporan mahasiswi ini ditindak-lanjuti WRC (Wildlife Rescue Center) Jogja dan tim APE Warrior COP.

Selasa pagi, bersama lima Orangufriends (relawan orangutan), tim telah tiba di lokasi. “Namanya juga satwa liar, pasti galak lah. Ya gitu masih aja dipelihara. Kecil sih lucu, tambah besar…”, ujar Satria Wardhana, kapten APE Warrior tanpa meneruskan kalimatnya. Dokter hewan WRC terpaksa melakukan pembiusan untuk mempercepat proses evakuasi. Tepat pukul 13.00 WIB, kedua monyet ekor panjang ini sudah masuk kandang angkut dan siap dibawa ke WRC Jogja.

Kedua monyet itu telah dipelihara selama 3 tahun. Menurut si pemilik, ia mendapatkan satwa ini saat masih bayi dan dibeli dari pedagang satwa yang ada di Yogyakarta. Setelah sekian lama dipelihara, monyetnya semakin besar dan galak. Pemilik sudah kewalahan dan akhirnya kebingungan dan melemparkan persoalan ini ke siapa saja termasuk pecinta satwa. “Hal ini merupakan alasan klasik para pecinta primata sebagai kedok membuang satwa peliharaannya”, kata Satria lagi.

Menjadikan monyet ekor panjang sebagai hewan peliharaan adalah salah satu hal yang salah. Walau dengan lengkapnya perawatan, tersedianya makanan yang cukup bahkan tempat yang nyaman, tidak bisa dijadikan dasar untuk memelihara satwa primata. Primata termasuk satwa liar, sudah sewajarnya mereka hidup bebas dan harapannya kita bisa ikut andil untuk melestarikan nya di alam liar. (SAT)

ULAH ORANGUTAN BERANI DI SEKOLAH HUTAN

Orangutan bernama Berani adalah orangutan remaja yang berumur 7-8 tahun berada di Pusat Rehabilitasi BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance). Di sekolah hutan, Berani cukup berbeda dengan yang lainnya. Ketika pagi hari berada di sekolah hutan, Berani biasanya belum ingin beraktivitas di atas pohon untuk mencari makan dan bermain gelantungan di tali akar. Berani lebih senang menarik orangutan yang lain untuk bermain gulat-gulatan, gigit-gigitan di tanah hingga ia puas.

Menjelang siang, saatnya balik ke kandang. “Yuk pulang… pulang”, ajak perawat satwa. Kalau orangutan lain langsung menuju ke perawat satwa dan langsung naik ke pundak untuk digendong. “Hemmm di sinilah Berani pelan-pelan naik ke atas pohon, mulai menjauh dari perawat satwa dan memanjat pohon yang tinggi sekitar 15-20 meter dengan asiknya. Berani juga bergelantungan di tali akar sambil melihat ke bawah”, cerita Linau, kordinator perawat satwa BORA.

Perawat satwa terus memanggil turun sambil memancingnya dengan buahmaupun susu tetapi Berani tidak menghiraukan itu. Hingga waktu terus berlalu, bahkan perawat satwa harus saling bergantian menuju kamp untuk makan siang dan kembali lagi ke lokasi sekolah hutan dimana Berani masih asik bergelantungan.

Hari sudah sore, hujan pun mulai turun. Berbagai cara sudah diupayakan untuk mengajak Berani turun. Seluruh perawat satwa hingga paramedis sudah basah karena hujan namun tetap semangat. “Alamat bermalam di sekolah hutan nih kalau Berani tak juga turun”, gumam perawat satwa Stefen. Sekolah hutan sudah semakin gelap dan dengan santainya Berani turun. Perawat satwa hanya bisa geleng-geleng kepala, antara gemes dan lega. “Wahhh… parah banget nih Berani. Senengnya ngerjain perawat satwanya”. (NAU)

APE WARRIOR LEPAS-LIARKAN KEMBALI DUA ULAR KE HABITATNYA

Seorang warga menemukan ular dengan panjang 2,8 meter di bawah mobil di daerah jalan Monjali, Sleman, DI. Yogyakarta pada Jumat, 29 Oktober yang lalu. Tim APE Warrior bersama Orangufriends akhirnya membawa ular tersebut ke WRC Jogja untuk diperiksa kesehatannya. Setelah pemeriksaan, ular tersebut diberi vitamin A, D, E dan B dan ditranslokasi di area yang jauh dari pemukiman warga.

Bersama ular ini, tim juga membawa satu ular sanca batik yang sebelumnya juga sempat dititipkan di WRC Jogja untuk mendapat perawatan pada bulan Juli lalu. Ular yang dinamai Jaja ini, sebelumnya merupakan hasil serahan warga di sekitar dusun Gondanglegi, Ngaglik, Sleman. Jaja ditemukan dengan keadaan mulut yang terbuka hingga akhirnya harus menjalani perawatan intensif dan siap untuk dilepasliarkan kembali ke alam.

“Satwa liar muncul di dekat manusia biasanya mengalami sesuatu hal yang tidak biasa. Kalau saat ini musim penghujan, satwa liar seperti ular sering masuk ke pemukiman atau perumahan. Usahakan untuk tidak membunuh! Karena kematian satwa liar yang tidak lazim biasanya akan membuat ketimpangan atau membuat keseimbangan alam terganggu. Segera hubungi tim penyelamat satwa terdekat. Karena penangganan satwa liar tertentu yang mungkin butuh penanganan khusus. Untuk daerah Yogyakarta, tim APE Warrior siap membantu”, ujar Satria Wardhana, kapten APE Warrior COP. (LIA)

UPAYA PENERTIBAN BERUJUNG PADA KEMATIAN CANON

Media sosial diramaikan dengan video penangkapan hewan anjing bernama “Canon” oleh Satpol PP di Aceh. Dalam video itu, sejumlah petugas Satpol PP terlihat berusaha menangkap anjing berwarna hitam dengan menggunakan kayu. Aksi tersebut menuai banyak protes dari jagad dunia maya. Tidak sedikit yang marah dan balik mengecam oknum Satpol PP tersebut. Canon juga dimasukkan ke dalam kotak kayu, dilakban dan diberi sedikit lubang kemudian ditutup terpal. Diduga tata cara evakuasi anjing ini malah menyebabkan hewan cerdas ini meninggal dunia.

Terlepas dari kasus tersebut, sebelumnya Camat Pulau Banyak, Mukhlis menyatakan bahwa pihaknya telah memberikan surat pemberitahuan terhadap pihak Kimo Resort. Ia menjelaskan kegiatan penertiban ini dilakukan karena mendapat laporan bahwa Canon diduga telah membuat beberapa wisatawan resah karena kehadirannya. Bahkan disebutkan bahwa Canon pernah menggigit wisatawan di sana.

Sejak tahun 2010, tim APE Warrior COP telah melakukan penanganan satwa pada situasi bencana. Walaupun kematian satwa akibat bencana menjadi hal wajar dan bagian seleksi alam. Namun, menjadi catatan penting ketika proses penanganan baik itu seperti evakuasi/penyelamatan maupun perawatan langsung tetap mengutamakan animal welfare (kesejahteraan satwa). Memang dalam situasi yang bisa mengancam keselamatan diri sendiri, kita dituntut untuk menangani satwa dengan cepat dan tidak boleh ada kesalahan sedikitpun. Tapi untuk kasus kematian Canon ini seharusnya bisa diantisipasi lebih awal, karena situasinya berbeda jauh dari kondisi darurat. Penanganannya pun bisa lebih dipersiapkan dengan matang.

“Upaya penertiban apalagi ada dugaan kekerasan, semoga tidak akan terjadi lagi pada hewan peliharaan maupun satwa liar lainnya, kerena mereka juga termasuk makhluk hidup. Turut berduka untuk Canon”, ucap Satria Wardhana, kapten APE Warrior prihatin. (SAT)

CHARLOTTE SENANG MAKAN TUMBUHAN PAKU

Orangutan Charlotte adalah orangutan yang dievakuasi dengan leher yang selalu terikat rantai besi pada bulan Juli 2021 yang lalu. Charlotte menjalani terapi pakan selama menjalani masa karantina di BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance). Karena selama pemeliharaan ilegal, Charlotte sering dikasih camilan manis seperti wafer, permen dan jajanan anak-anak umumnya.

Setiap pagi dan sore hari, biasanya para perawat satwa memberikan dedaunan yang ada di sekitar kandang. Hampir semua orangutan, saat mendapatkan daun-daunan tersebut langsung memasukkannya ke dalam mulutnya. Sepertinya sedang mencoba, lalu meletakkan dan segera mengambil jenis daun yang lain. Sedikit berbeda dengan orangutan Charlotte. Dia selalu mengambil daun paku-pakuan. “Sepertinya Charlotte menyukai tumbuhan jenis paku-pakuan. Dia selalu memakannya sampai habis. Kita aja suka, tunas mudanya memang enak sekali kalau di sayur”, kelakar Raffi Ryan Akbar, asisten manajer BORA.

Bulan depan, rencananya Charlotte akan menjalani pemeriksaan medis. Semoga hasilnya baik, agar Charlotte bisa melanjutkan rehabilitasi selanjutnya. Selama masa karantina, Charlotte menjalani pengamatan tingkah laku dan diet. Sejauh ini, dia melaluinya dengan baik. Untuk kamu yang mau membantu biaya pemeriksaan kesehatannya, bisa melalui kitabisa.com Terimakasih. (RAF)

ORANGUFRIENDS BERLATIH TANGANI BURUNG PARUH BENGKOK

APE Warrior bersama Wildlife Rescue Center (WRC) Jogja berupaya untuk memberikan obat cacing yang biasa disebut deworming pada sejumlah burung Kakatua dan Nuri yang berada di WRC, Sebelum pemberian obat, para relawan diberikan informasi terlebih dahulu tentang pola perilaku burung dan langkah-langkah dalam menyuntikkan obat cacing ke dalam mulut burung. Suntikan atau deworming wajib masuk ke dalam mulut dan harus benar-benar dipastikan sebelum berpindah ke kandang lainnya, bahkan jika masih ragu bisa dilakukan lebih dari satu kali.

Relawan dari COP atau sering disebut Orangufriends juga turut belajar handling beberapa burung dan feeding berupa jagung, melon juga buah-buahan lain untuk semua jenis burung yang ada di WRC dan dipandu oleh perawat satwa dan dokter berpengalaman yaitu dokter Tom.

Relawan yang terdiri dari Lia, Owi, Reva, Tata dan Satria ini mendapatkan banyak pengalaman dan pelajaran yang belum tentu didapatkan di tempat lain, ditambah perawat satwa dan dokter yang tidak henti-hentinya memberikan kesempatan untuk handling dan feeding secara mandiri pada beberapa waktu agar setiap relawan memiliki pengalaman yang berharga dan berarti, khususnya berhadapan dengan dengan satwa liar. Yuk, jadi relawan satwa, bergabung dengan Orangufriends! (Owi_COPSchool11)

SELAMAT DATANG APE SENTINEL

Usai Sumatran Mission, sebuah perjalanan darat dari ujung selatan pulau Sumatra hingga ujung timur Indonesia, Centre for Orangutan Protection memperkenalkan sebuah tim termudanya dengan sebutan APE SENTINEL. APE yang merupakan singkatan dari Animal, People and Environment ditambah Sentinel yang berarti penjaga. “Harapan kelahiran tim termuda ini akan menjadi penjaga satwa, masyarakat dan lingkungannya. Sebuah harapan tinggi dengan jangkauan yang luas menjadi tantangan tersendiri untuk COP yang sejak tahun 2020 lebih terbuka dengan misinya yaitu Protect the Orangutan and Beyond. Kami menyadari, tidak bisa bekerja hanya untuk orangutan saja, tetapi kami pun bekerja untuk yang lainnya”, jelas Daniek Hendarto, direktur Centre for Orangutan Protection.

Centre for Orangutan Protection sejak berdiri di tahun 2007 fokus pada perlindungan orangutan dan habitatnya. Seiring waktu dan kejadian di lapangan, COP menjadi organisasi kampanye orangutan yang tidak meninggalkan kehadiran satwa liar lainnya. Sebut saja ketika perdagangan satwa terjadi, bersama organisasi satwa lainnya, COP menemukan hal yang menarik. “Saat itu yang diperdagangkan monyet ekor panjang. Ketika kita masuk ke gudang penyimpanannya, ternyata ada binturong, kus-kus, elang, kukang dan orangutan”, cerita Daniek lagi.

Begitu pula saat melakukan penyelamat di habitat orangutan yang tergusur pembukaan perkebunan kelapa sawit. Tak jarang satwa liar yang dipelihara secara ilegal tidak hanya orangutan, namun ada beruang madu, siamang, owa, kukang bahkan kucing hutan. “Kembali lagi ketika COP berdiri, orangutan adalah pintu masuk untuk menyelamatkan satwa liar lainnya. COP sadar betul, sejak berdiri tidak mungkin mengabaikan satwa liar lainnya bahkan hewan yang membutuhkan pertolongan pun akan tetap jadi perhatiannya. Karena setiap makhluk hidup punya kesempatan untuk berperan di habitatnya”. 

Selamat datang APE Sentinel, mari menciptakan kehidupan yang lebih baik untuk satwa liar di Sumatra. Terimakasih WCI Foundation Canada atas dukungannya untuk satwa liar di Sumatra.

IKUTAN PENUTUPAN SUMATRAN MISSION 2021 YUK!

Tim Sumatran Mission 2021 saat ini menuju Aceh dan akan selesai di Titik Nol Indonesia, Pulau Sabang, Aceh pada hari Minggu, 26 September 2021. Kami mengajak teman-teman untuk meramaikan selesainya Sumatran Mission 2021 dengan kampanye #TerorSenapanAngin

Partisipasi teman-teman bisa dilakukan dengan foto bersama poster #TerorSenapanAngin dan diunggah secara serentak pada Minggu, 26 September 2021 mulai pagi hingga malam. Silahkan mengajak teman, sahabat dan keluarga. Jangan lupa menandai instagram dan twitter @orangutan_cop

“Saya peduli, kalau kamu? Hentikan penggunaan senapan angin. Tidak perlu korban satwa liar lainnya jatuh untuk hentikan teror senapan angin di sekitar kita. Ingat, tidak hanya satwa liar korbannya, hewan peliharaan kesayanganmu juga terancam. Bahkan nyawamu”, ajak Nanda Rizki.

Foto-foto tersebut akan kami kompilasi dan arsip dalam buku dokumentasi perjalanan Sumatran Mission 2021. Mohon foto yang diunggah dikirim juga ke email info@orangutanprotection.com agar kualitas foto terjaga.

ENRICHMENT PAKAN ORANGUTAN DALAM KARUNG GONI

Enrichment pakan dalam karung goni menjadi tantangan yang cukup baru bagi sebagian besar orangutan di Bornean Orangutan Rescue Alliance (BORA). Enrichment ini dibuat dengan cara membungkus pakan dan dedaunan dalam karung goni yang ditutup dengan ikatan tali yang kuat. Setiap individu dan kelompok orangutan memiliki durasi waktu yang berbeda-beda dalam membuka enrichment ini.

Orangutan-orangutan dewasa seperti Ambon, Pingpong, Michelle, Ucokwati, Mungil, Kola dan Memo rata-rata dapat membuka ikatan karung dalam hitungan menit. Hanya Antak, orangutan dewasa yang tampak tidak tertarik membuka isi karungnya. Walaupun tampak mudah bagi orangutan dewasa, enrichment ini cukup menantang bagi orangutan-orangutan muda.

Kelompok anak-anak orangutan betina, kelompok orangutan jantan, Aman dengan Bagus, Rembo dan Devi membutuhkan waktu yang cukup lama. Rata-rata kelompok orangutan muda membutuhkan waktu lebih dari 1 jam untuk dapat membuka enrichment ini. “Puas bikin mereka sibuk. Sesibuk saat kami mempersiapkan enrichment ini. Paling gak, ini enrichment untuk orangutan, bukan hanya untuk perawat satwa yang lagi gabut. Hahahaha…”, kelakar Jackson, perawat satwa BORA yang hampir tiga tahun mengurus orangutan dengan sepenuh hati.

Enrichment pakan biasanya diberikan seminggu dua kali. Selain variasi pakan, cara pemberian pakan orangutan juga menjadi cara untuk membuat orangutan sibuk sembari melatih indera penciuman dan motoriknya. “Selanjutnya buat apa lagi ya?”, tanya Farellos Linau, kordinator perawat satwa. Jika kamu punya ide, langsung email kami ya di info@orangutanprotection.com Kalau donasi bisa melalui kitabisa.com (RRA)

MENJAGA POPULASI LUTUNG MERAH DENGAN MORATORIUM

Salah satu hal mengagumkan dari Pulau Borneo adalah kekayaan alamnya. Ada banyak sekali tumbuhan dan hewan yang hanya bisa ditemui di pulau ini, atau istilahnya spesies endemik. Beberapa contoh satwa endemik di Kalimantan antara lain orangutan Kalimantan, bekantan, owa, kalawet dan lutung merah. Saat melakukan investigasi di Jalan Poros Kelay-Merapun, tim APE Crusader sangat beruntung bisa berjumpa dengan sekolompok lutung merah.

Lutung merah dapat ditemui di kelima provinsi di Kalimantan (Indonesia) serta Sabah dan Serawak (Malaysia). Nama ilmiah lutung merah ialah Presbytis rubicunda, sedangkan dalam bahasa lokal disebut kelasi. Satwa ini memiliki rambut berwarna merah marun dengan wajah gelap kebiruan dan memiliki ekor yang panjang. Lutung merah hidup berkelompok sebanyak 6-8 ekor dengan 1 jantan dewasa, beberapa betina dan anakan. Spesies ini hidup di hutan hujan tropis dan hutan rawa. Makanan utama lutung merah adalah daun. Selain itu, mereka juga mengkonsumsi biji, buah, jamur dan serangga.

Ancaman terbesar bagi lutung merah adalah kerusakan hutan dan perburuan. IUCN Red List memperkirakan populasi lutung merah telah turun sebesar 50% jika dilihat dari perubahan habitat selama 30 tahun terakhir serta ancaman pembukaan hutan, pengeringan rawa gambut dan kebakaran hutan dalam 15 tahun ke depan. Oleh sebab itu, IUCN memasukkan spesies ini ke dalam kategori Vulnerable (Rentan). Lutung merah trmasuk golongan Appendix II CITES serta satwa yang dilindungi di Indonesia menurut UU No. 5/1990 dan PermenLHK No. 106/2018.

Menjaga kelestarian suatu spesies tentu harus diimbangi dengan menjaga habitatnya. Moratorium kelapa sawit berperan dalam menjaga hutan alam dari industri sawit yang tidak berkelanjutan. Instruksi Presiden No 8/2018 tentang Moratorium Perkebunan Kelapa Sawit telah berakhir tanggal 19 September 2021. Moratorium kelapa sawit sangat perlu untuk diperpanjang demi melindungi habitat lutung merah dan satwa endemik lainnya yang terancam punah. (IND)