MAMUJU PASTI BANGKIT KEMBALI

Tak peduli dihadang panas ataupun hujan, ia kayuh sepedanya dengan semangat tanpa ragu sedikitpun. Karena bila ia ragu sedikit saja, maka kucingnya terancam kelaparan hari ini.

Sakiip namanya, bocah laki-laki berusia sekitar 9 tahun yang tak pernah absen datang ke posko di Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Peternakan Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Semua demi memberi makan kucingnya di rumah. Dan Sakiip hanyalah satu dari sekitar 200 lebih warga yang hampir setiap hari datang mengambil makanan untuk hewan peliharaan mereka di posko.

Sejak gempa menggetarkan dan bahkan menghancurkan banyak rumah dan bangunan di Mamuju-Majene, situasi menjadi berantakan. Banyak fasilitas umum yang rusak dan sulit beroperasi. Bahkan beberapa warga merasa trauma dan belum mau tidur di dalam rumah mereka hingga sudah 10 hari lewat gempa.

Semua hanya dapat berharap tidak ada lagi gempa susulan sehingga situasi segera dapat berjalan normal. Namun masa-masa seperti ini pun nyatanya telah menjadi petunjuk bahwa kepedulian manusia terhadap satu sama lain dan bahkan kepada binatang sangatlah tinggi. Hal ini memberikan kita ketenangan dan keyakinan bahwa Mamuju pasti akan bangkit kembali. (LIA)

SAAT DOKTER HEWAN BEKERJA SUKARELA DI MAMUJU, INDONESIA HEBAT

Gempa Mamuju-Majene, Sulawesi Barat merupakan satu diantara bencana alam yang menghampiri tanah air Indonesia. Masih di tengah wabah Corona yang terus meningkat, tim APE Warrior COP kembali mengirim tim tanggap bencananya. Beruntung sekali relawan satwa yang bergabung di Orangufriends langsung merapatkan barisan. Kenapa COP sampai harus turun ke Sulawesi?

Toko makanan anjing dan kucing pun tutup dan belum dapat beroperasi normal. Warga kesulitan mencari makan untuk kucing-kucing peliharaan mereka dan bahkan beberapa kucing sampai stres dan sakit. Setiap hari ada saja kucing yang dibawa ke posko dengan keluhan muntaber dan sakit mata maupun kulit.

Beruntung di Mamuju masih ada dokter-dokter hewan yang begitu peduli dengan kondisi hewan-hewan yang terdampak bencana dan bahkan menolak untuk mengungsi bersama keluarga mereka. Semua untuk membantu menyalurkan pakan dan memeriksa kesehatan para hewan. Dan semua gratis, tanpa bayaran sedikit pun.

Karena sibuknya membagi makanan di posko dan melakukan penanganan medis di siang hari, para dokter hanya bisa melakukan operasi-operasi di malam hari, bahkan hingga tengah malam. Dan paginya kembali bersiap membersihkan dan membuka kembali posko.

“Kami yakin, masa pemulihan bencana gempa di Mamuju dapat lebih cepat. Dedikasi para dokter hewan untuk hewan peliharaan di Mamuju memang luar biasa. Indonesia Hebat!” ujar Liany D. Suwito, tim APE Warrior di Mamuju. (LIA)

ORANGUTAN BANGUN SARANG BERSAMA DI SEKOLAH HUTAN BORA

Pada suatu hari, orangutan berjenis kelamin betina berkesempatan berkegiatan di sekolah hutan. Ada Mary, Popi, Bonti dan Jojo. Kali ini, Jojo terlihat membuat sebuah sarang bersama dengan teman-teman sebayanya itu, tentu saja tanpa Bonti. Jojo terlihat sibuk mematah-matahkan ranting-ranting kecil yang berada di sekitarnya.

Setelah itu, Jojo dan teman-temannya terlihat sangat berusaha keras agar bisa membentuk sebuah sarang yang luas karena jika sarang yang ia buat kecil, maka tidak akan cukup untuk teman-temannya yang lain. Oleh karena itu, Jojo dan teman-temannya akan terus memperbaiki sarangnya dan terus menumpuki ranting-ranting agar sarang yang mereka buat bisa terlihat luas dan bisa ditempati untuk bermain.

Meskipun sarang yang dibuat oleh Jojo dan teman-temannya itu tidak terlalu bagus dan terlihat berantakan namun itu sama sekali tidak membuat Jojo dan teman-temannya patah semangat untuk membentuk sarang agar terlihat lebih bagus dan nyaman lagi. (SIM)

APE WARRIOR BANTU PEMBERSIHAN SHELTER BANJARSARI

Berdasarkan hasil peninjauan aktivitas Gunung Merapi selama bulan Januari 2021, BPPTKG Yogyakarta mengubah rekomendasi zona bahaya dari selatan-tenggara menjadi selatan-barat daya. Hal ini disebabkan guguran material erupsi Gunung Merapi yang berupa lava pijar serta awan panas terpantau mengarah ke hulu Sungai Krasak dan Boyong.

Dengan adanya perubahan rekomendasi tersebut, Dusun Kalitengah Lor di Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, D.I. Yogyakarta, kini tidak lagi termasuk zona bahaya erupsi. Warga beserta ternak dari Dusun Kalitengah Lor yang sudah berada di barak pengungsian selama kira-kira 3 bulan dapat dipulangkan.

Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman menginstruksikan pemulangan ternak dilakukan hari Minggu, 24 januari. Pemulangan dilakukan menggunakan kendaraan yang sudah disiapkan oleh dinas, sedangkan warga yang memiliki kendaraan sendiri memulangkan ternaknya secara mandiri. Tim APE Warrior turut memantau kegiatan pemulangan ternak ini.

Setelah Shelter Ternak Banjarsari dikosongkan, pada hari Senin, 25 januari, tim APE Warrior juga membantu pembersihan shelter. Pembersihan shelter diakhiri dengan penyemprotan disinfektan oleh para relawan ke seluruh area kandang mulai dari atap, tiang, sekat hingga tanah als kandang. Sterilisasi kandang pasca pengosongan penting dilakukan untuk memastikan kuman patogen penyebab infeksi seperti virus, bakteri dan jamur yang mungkin ada selama kandang terisi, mati dan tidak membawa penyakit bagi manusia maupun hewan di sekitar. (Inez_Orangufriends)

JANGAN KASIH MAKAN ORANGUTAN DI PINGGIR JALAN!

Sebagian besar dari kita pasti percha memberi makan satsa, bark itu hewan peliharaan di rumah ataupun satwa di tempat-tempat hiburan. Menyenangkan bukan? Tidan ada salahnya untuk membagi kasih sayang dengan sesama mahluk hidup dengen çemberi sedikit makanan. Namun, jika objek yang diberikan pakan adalah satwa liar di alam liarnya, kegiatan menyenangkan tersebut bisa menjadi awal mula kejadian yang menyedihkan.

Bukanlah hal yang mustahil untuk mendapati orangutan, owa atau satwa liar lainnya saat melewati daerah berhutan. Sebaliknya, hal ini justru banyak didapati dan dimanfaatkan oleh beberapa orang sebagai daya tarik tersendiri. Di tahun 2017, tim COP mendapati satu individu orangutan jantan dewasa di pinggir jalan poros antar-provinsi. Orangutan tersebut berdiam dengan santainya di pinggir jalan dan meminta makan pada mobil-mobil yang melewatinya. Terlihat bekas-bekas buah dan makanan berceceran di sekitarnya yang diperkirakan diberikan oleh para penumpang mobil-mobil antar provinsi. Hampir setiap hari orangutan tersebut dijumpai di sana, meminta makan dengan jinaknya meskipun terlihat ada luka bacokan di kepala. Tidak peduli berpa banyak debu yang ia hirup dan kekerasan yang ia dapati di pinggir jalan tersebut. Ia tetap kembali ke titik dimana orang-orang memberinya pakan. Di tahun 2021, tim COP kembali menemukan adanya orangutan di pinggir jalan, tim menemukan adanya bekas kulit durian di bawah pohon tempat mereka bermain.

Lalu apa yang dilakukan jika melihat orangutan di pinggir jalan? Yang pertama adalah jangan dikasih makan! Dengan memberi pakan, kamu telah membantu orangutan tersebut untuk menjadi gelandangan. Mereka akan kehilangan insting liarnya karena terbiasa dengan makanan yang diperoleh dengan mudah dan malas mencari pakan alaminya di hutan. Dan yang kedua, sadari bahwa munculnya orangutan di jalan atau pemukiman merupakan salah satu indikator adanya masalah di habitatnya dan awal dari kejahatan atau kekejaman terhadap orangutan itu sendiri. Oleh karena itu, daripada memberi pakan dan melihatnya menjadi pertunjukan, dokumentasikan dan laporkan setiap temuan kepada pihak-pihak yang berwajib seperti BKSDA atau lembaga penyelamatan satwa terdekat. COP siap membantu! (SAR)

GEMPA MAMUJU: HOME FEEDING

Agak susah menjelaskan bagaimana home feeding ini. Sederhananya, kami memberi makan kucing-kucing dan anjing yang tertinggal di rumah-rumah. Terutama yang berada di perumahan. Satu komplek perumahan, kami bisa menemukan antara sepuluh hingga 20 kucing. Mereka berkeliaran mencari makan di bak sampah.

Gempa yang mengguncang Majene dan Mamuju, Sulawesi Barat yang terjadi sebelum subuh 6,2 SR pada Jumat, 15 Januari membuat warga panik dan trauma berada di dalam rumah. Gempa tidak hanya sekali tapi juga disambung dengan gempa susulan yang terjadi hampir tiap hari hingga beberapa hari. Akhirnya masyarakat Mamuju yang didominasi oleh warga pendatang dari kota lain di Sulawesi memilih ‘mudik’. Segera pergi menjauhi kota Mamuju.

Karena tergesa-gesa meninggalkan rumah akhirnya lupa dengan hewan peliharaan. Ada yang masih di dalam kandang, ada yang terjebak dalam rumah karena pemiliknya lupa membuka satu celah untuk kucing bisa keluar rumah. Tapi ada juga yang sempat membuka sedikit jendela agar kucingnya bisa keluar dan masuk.

Akhirnya, nomor kontak Posko Kesehatan Hewan yang dibangun oleh PDHI Sulawesi Selatan dan Barat di Mamuju banyak mendapatkan laporan oleh pemiliknya diminta untuk diperiksakan rumahnya. Apakah hewan kesayangan mereka yang berkaki empatnya aman-aman saja.

Tim relawan yang salah satunya dari Centre for Orangutan Protection melakukan pencarian rumah-rumah tersebut. Sesampainya di depan rumah, biasanya langsung melakukan video call whatsapp ke pemiliknya. Menjelaskan bahwa tim sudah berada di depan rumah. Dengan video call tersebut memberikan rasa aman kepada tim bahwa tim relawan satwa datang untuk memeriksa dan menghindari kecurigaan masyarakat sekitar.

Dengan dipandu pemilik rumah yang berada di luar kota Mamuju, video call terus berjalan dan tim relawan terus memanggil kucingnya. Melalui celah jendela yang terbuka tim memperlihatkan kondisi dalam rumah. Kemudian tiba-tiba satu kucing muncul di balik kursi. Sang pemilik kucing yang jauh di luar kota histeris mengucapkan syukur bahwa kucingnya masih hidup dan sehat. Tim relawan satwa kemudian memberikan makanan kering yang bisa untuk dua hari dan menuangkan air minum di teras.

Inilah salah satu jawaban dari banyak pertanyaan kenapa diperlukan posko kesehatan hewan di pasca bencana. Karena setiap nyawa berharga. (DAN)

PERKEMBANGAN TIM MERAPI DI AKHIR JANUARI 2021

Hari Minggu tanggal 24 Januari akan dilakukan pemulangan ternak sapi masyarakat ke dusun Kalitengah Lor, Cangkringan, kabupaten Sleman, DI. Yogyakarta. Pemulangan dilakukan mengacu pada laporan BPPTKG yang menyatakan penurunan aktivitas Merapi dan berubahnya potensi bahaya luncuran lava pijar yang mengarah ke sektor Barat daya-Selatan, tepatnya melalui jalur hulu sungai Krasak.

Tim APE Warrior memantau pemulangan ternak karena status gunung Merapi yang masih di level III atau Siaga. Tim berencana untuk membantu teknis pembersihan shelter Banjarsari pada 25-26 Januari. “Kami berharap ini adalah keputusan yang tepat dan terbaik untuk peternak dan ternaknya. Kami berusaha untuk lakukan yang terbaik yang kami bisa,” ujar Satria Wardhana, kapten APE Warrior COP.

Pemantauan aktivitas vulkani Gunung Merapi akan tetap dilakukan. Selama seminggu kedepan , tim Animal Rescue akan melakukan feeding street untuk hewan peliharaan seperti kucing dan anjing di sekitaran Gunung Merapi. Tim juga melakukan assessment singkat daerah yang kemungkinan akan terdampak dengan berpindahnya arah potensi bahaya luncuran lava pijar. (SAT)

LAGI, DUA ORANGUTAN DITEMUKAN DI SEKITAR PT. GPM

Beberapa hari yang lalu, Tim APE Crusader menemukan adanya satu induk orangutan beserta anaknya bermain di pepohonan yang berada di daerah Amporo yang merupakan jalan poros untuk transportasi antar provinsi. Hal ini bukanlah yang pertama kali terjadi, mengingat pada tahun 2017 silam, tim pernah melakukan translokasi satu individu orangutan dewasa yang turun ke jalan untuk meminta makan hingga masuk ke warung di area yang sama.

Kemunculan orangutan di habitat manusia bukanlah hal yang lazim terjadi. Hal tersebut menjadi lazim saat habitat alaminya terganggu. Dan benar saja, hanya dengan masuk sejauh alaminya terganggu. Dan benar saja, hanya dengan masuk sejauh 500 meter dari tempat ditemukannya dua individu orangutan, area yang awalnya berhutan berganti menjadi bukaan lahan yang luas yang ditanami pohon-pohon sawit kecil berumur kurang lebih satu tahun. Hal ini cukup menjelaskan mengapa banyak laporan terkait orangutan yang muncul di jalan di sekitar Amporo. Perkebunan kelapa sawit milik PT. GPM telah mengubah hutan hujan tropis yang sebelumnya berisi berbagai pohon-pohon untuk pakan dan tempat bersarang menjadi luasan gersang yang berisi barisan tanaman sawit.

Temuan orangutan di da;am dan sekitar konsesi PT. GPM bukan;ah hal yang baru. Sejak PT. GPM memulai aktivitasnya di tahun 2017, tim COP setidaknya telah mendapati satu individu orangutan beserta anaknya di landclearing, translokasi satu individu orangutan dewasa yang mengemis di pinggir jalan raya dalam area konsesi dan menemukan setidaknya dua orangutan betina beserta anaknya berkeliaran di area yang sama. Hingga 2021, laporan serta temuan yang sama masih didapati oleh tim COP. “Temuan demi temuan tiap tahunnya mengidikasikan bahwa areal konsesi PT. GPM memang merupakan areal yang bernilai konservasi tinggi yang penting bagi orangutan. Jika hal ini tidak dianggap serius, keberadaan orangutan dan habitatnya di Kalimantan Timur yang akan menjadi taruhannya,” ujar Sari Fitriani, manajer Perlindungan Habitat COP. (SAR)

LANGGAR ZONA MERAH DEMI TANGGUNG JAWAB

Zona merah, 5 km dari kawah Gunung Merapi diminta untuk mengungsi, tak hanya manusia, hewan peliharaan juga. Ternak sapi sudah diamankan tapi mengarit rumput tetap di kawasan zona merah karena rumputnya lebih baik. Begitulah tanggung jawab sebagai peternak dan kepala keluarga, masuk zona merah pun dilakukan. Modalnya cuman handy talkie alias HT. Dari HT inilah masyarakat lereng Gunung Merapi bisa mengetahui aktivitas Merapi, mulai dari kegempaan sampai letusan.

Seminggu di awal tahun 2021, aktivitas Gunung Merapi semakin meningkat tajam. Bahkan dua hari terakhir terlihat lava pijar keluar dari bibir kawah. Hujan yang turun semakin membuat kawatir lahar dingin yang akan mengisi aliran lahar. Pagi ini baru saja awan panas (wedhus gembel) meluncur. HT pun menjerit-jerit dengan nada terputus-putus. Guguran yang cukup panjang. Tim APE Warrior mempercepat gerakannya. Keselamatan adalah yang utama.

Tim APE Warrior bersama Orangufriends (relawan satwa) sudah dua bulan ini membantu para peternak untuk mengangkut pakan hijau ke tempat pengungsian. Jarak 5-7 km dengan dua ikat pakan hijau cukup berbahaya jika dibawa dengan sepeda motor. Belum lagi harus naik-turun karena dua ikat tadi hanya cukup untuk dua sapi, sementara peternak tersebut memiliki 5 sapi.

Inilah tanggung jawab dan tugas sebagai laki-laki yang bisa dilihat dari motor yang terparkir di shelter Banjarsari, Yogyakarta. Ada HT sebagai standar, tali ban bekas untuk mengikat rumput. “Kami, tim APE Warrior yang telah turun sejak Gunung Merapi meletus di tahun 2010 berusaha menyelamatkan satwa yang membutuhkan. Sedikit meringankan beban peternak karena berada di pengungsian bukanlah hal yang mudah. Ternak adalah harapan, kehidupan yang tidak terpisahkan dari peternak. Setiap nyawa sangat berarti.”, ujar Satria Wardhana, kapten APE Warrior di sela-sela mengangkat pakan hijau ke atas mobil pikap. (DAN)

MERAIH IMPIAN UCOKWATI UNTUK KEMBALI KE RUMAHNYA

Berteman satu lutung jawa yang terikat di lantai dengan tali pendek di perutnya, itulah pertemuan COP pertama kali bersama orangutan yang bernama Ucokwati. Ramadhani, senior staf Centre for Orangutan Protection membawa kenangan orangutan Ucokwati dan Joko kembali. Juni 2011 bertempat di Taman Rekreasi Pabelan Kartasura atau lebih dikenal dengan Kolam Renang Rominsy, tim APE Warrior mendokumentasikan perawatan sangat tidak layak pada kedua orangutan tersebut. Tak hanya itu, kandang tanpa atap dan pemberian makanan yang berupa nasi dicampur dengan kecap manis pun menjadi sorotan tim ini. Empat bulan kemudian, akhirnya keduanya diselamatkan dan dititipkan ke Wildlife Rescue Centre (WRC) Jogja.

Dua tahun kemudian, lahirlah orangutan bernama Mungil. Ucokwati membesarkan Mungil dengan baik. Mungil yang kini berusia 7 tahunan semakin sulit untuk terus berada di WRC Jogja. Seperti anak orangutan di usia 7-8 tahun lainnya, disaat memulai kehidupan mandiri, Mungil menunjukkan kebiasaan baik nya, lebih banyak menghabiskan waktunya di atas, bergelantungan dan makan sambil memanjat.

“COP berusaha memberikan kesempatan kedua untuk orangutan kembali ke habitatnya. Syukurlah BKSDA Yogyakarta juga berpendapat sama dan menyetujui memindahkan orangutan Ucokwati dan Mungil ke Pusat Rehabilitasi Orangutan yang dikelolah COP di Berau, Kalimantan Timur. Minggu depan bersama tim YKAY (Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta) akan melakukan pemeriksaan medis secara menyeluruh. Semoga dapat berjalan dengan lancar dan hasilnya baik.”, jelas Daniek Hendarti, direktur COP.

Orangutan adalah satwa endemik kebanggan Indonesia. Keberadaannya di alam terancam alih fungsi hutan, perburuan dan perdagangan. Entah bagaimana Ucokwati maupun Joko sampai berada di tempat rekreasi. Setidaknya Ucokwati bersama anaknya masih memiliki harapan untuk kembali ke alam untuk menjalani perannya di tempat semestinya. Terimakasih International Fund Animal Welfare (IFAW) yang telah mendukung proses ini. Mimpi hanya akan jadi bunga tidur saja jika tidak ada usaha untuk mewujudkannya. (DAN)