DESINFEKSI PAKAIAN PERAWAT SATWA SEBELUM KE KANDANG

Pandemi Covid 19 spontan membuat seantero dunia panik. Begitu juga kami yang bekerja di garda depan Pusat Rehabilitasi Orangutan. Kami bisa saja menginfeksi belasan orangutan yang sedang menjalani masa rehabilitasi untuk menunggu giliran lepasliar.

Oleh karenanya sejak tertanggal 28 Maret lalu, Pusat Rehabilitasi COP Borneo status pencegahan Covid-19 melejit dinaikkan menjadi awas. Itu berarti kami benar-benar mengurangi intensitas mobilitas kemana pun. Semua staf melakukan karantina diri di area camp COP Borneo. Ketika mayoritas di luar sana menerapkan Work From Home, kami tidak bisa menerapkan itu. Kami masih harus mengurus belasan orangutan yang berada di kandang. Meskipun begitu, kami sepakat untuk mengurangi intensitas keluar camp. Perawat satwa juga tidak bisa mengambil jatah liburnya.

Berbagai tindakan pencegahan penularan Covid-19 makin digalakkan. Mulai penyediaan fasilitas kebersihan di camp, juga yang tak kalah penting adalah melakukan penyemprotan cairan desinfektan. Di area camp dan tentunya para perawat satwa juga mendapat jatah disenfeksi sebelum memasuki area kandang.

Semua perawat satwa tampil lebih nyentrik dari biasanya, kini mereka harus mengenakan baju khusus (wearpack) yang sebenarnya sudah ada dan harus mereka pakai setiap ke kandang namun karena kurang nyaman dan membatasi gerak serta panas, mereka memilih untuk mengenakan kaos COP dan celana pendek. Sekarang, mau tidak mau harus dikenakan. Sementara masker dan gloves memang sudah jadi kewajiban, bedanya sekarang harganya begitu melambung dan menghilang dari pasaran. Centre for Orangutan Protection sampai memanggil para relawannya untuk donasi langsung masker maupun sarung tangan medis. 

Setiap pagi maupun sore, para perawat satwa berjejer, ngantri untuk diperiksa suhu tubuhnya dan disenfeksi. “Covid-19 merupakan virus baru yang belum diketahui secara detil seperti apa. Sehingga segala tindakan preventif penularan Covid-19 kepada manusia dan orangutan yang berada di kandang, harus kami lakukan.”, ujar drh. Flora Felisitas. (WID)

MENUNGGU KABAR BAIK BAGI BERUANG

Pada awal April 2020 lalu, sebuah berita menggembirakan muncul di tengah-tengah duka Covid-19. Shenzen menjadi kota pertama di Cina yang melarang konsumsi daging anjing dan kucing. Memang sejak dahulu Cina cukup terkenal dengan kebiasaan mengkonsumsi daging anjing dan kucing yang juga telah dilarang di beberapa negara lain. Bahkan Cina memiliki sebuah kegiatan tahunan yaitu Festival Yulin yang biasanya dirayakan dengan memakan daging anjing pada bulan Juni. 

Meski belum ada kabar pelarangan perayaan Festival Yulin secara umum di Cina, Shenzen setidaknya sudah mengambil langkah pertama untuk mengurangi konsumsi daging anjing dan kucing yang pada dasarnya bukanlah hewan ternak ini. Langkah ini juga merupakan awal perbaikan kebiasaan-kebiasaan memakan daging satwa liar yang dapat menyebabkan penyebaran Covid-19 di Shenzen.

Selain konsumsi daging anjing, kucing, dan satwa-satwa liar lain, Cina dan beberapa negara di Asia lain pun pernah atau masih melakukan praktek yang sangat mengkhawatirkan yaitu seperti menjual dan mengekstrak cairan empedu dari beruang untuk digunakan sebagai obat. Hampir sama dengan satwa-satwa liar lain yang diperjualbelikan di Cina sebagai obat, bedanya hanyalah bahwa cairan empedu diekstrak dari beruang-beruang yang masih hidup dan dilakukan dengan cara-cara yang bisa dikatakan sangat mengganggu dan tidak manusiawi.

Banyak kemudian muncul peternakan beruang demi membuat ekstrak empedu yang memang terkenal khasiatnya dan dicari banyak orang. Khasiatnya dipercaya mampu menyembuhkan demam, sebagai detoks, anti peradangan, pembengkakan dan mengurangi rasa sakit. Berbagai spesies beruang digunakan, seperti beruang coklat dari Tibet, beruang hitam Asia, beruang madu, dan beruang cokelat Himalaya. Beruang-beruang yang jumlahnya di alam saat ini terus menurun.

Meski dulu cairan ini diambil dengan cara memburu beruang dan diambil dari beruang yang sudah mati, saat ini cairan didapatkan dari beruang-beruang yang hidup di kandang-kandang besi kecil yang bahkan bisa lebih kecil dari tubuh mereka. Cairan diekstrak dari perut beruang hidup dengan cara yang menyakitkan dan akibatnya banyak beruang yang akhirnya mati karena sakit dan infeksi serta terkena kanker hati. Dan tak terhitung berapa banyak yang mengalami trauma dan stress akibat bertahun-tahun tinggal di kandang kecil seperti itu hanya untuk diambil cairan empedunya.

Praktik ini sudah dilarang di beberapa negara, namun sayangnya masih belum dilarang di Cina. Bahkan sempat muncul promosi penggunaannya sebagai obat untuk melawan Covid-19. Hal ini tentunya sangat disayangkan karena praktiknya yang sangat tidak manusiawi dan hanya membuat beruang-beruang ini sebagai obyek penghasil obat. Ditambah lagi biasanya beruang-beruang dari peternakan ini akan sulit untuk dilepasliarkan karena kemampuan mereka untuk bertahan hidup di alam sudah sangat berkurang dan mengalami banyak sakit penyakit. 

Beberapa lembaga konservasi yang bergerak dalam penyelamatan beruang pun berusaha melakukan langkah-langkah untuk menutup peternakan beruang ini. Berbagai cara seperti kampanye dengan menawarkan pengobatan dengan cara herbal dilakukan. Sayangnya tidak mudah memang  untuk mengubah tradisi, kebiasaan, dan keyakinan yang sudah menahun. Namun adanya berita pelarangan konsumsi daging anjing dan kucing di Shenzen membawa sedikit harapan bagi para beruang untuk menyudahi penderitaan mereka. Semoga segera kita bisa mendengar kabar baik bagi para beruang. (LIA)

Sumber :

https://www.freedomofresearch.org/bear-bile-bad-for-bears-bad-for-humans-by-angela-leary/

Feng, Y., Tong, Y., Wang, N. (2009). Bear bile: dilemma of traditional medicinal use and

animal protection. Journal of Ethnobiology and Ethnomedicine 2009, 5:2: Biomed Central.

Foley, K. E., Stengel, C. J., Shepherd, C. R., 2011. Pills, Powders, Vials and Flakes: The Bear 

Bile Trade in Asia, A Traffic Southeast Asia Report. Traffic Southeast Asia: Malaysia.

TIDAK BERANI MENEMBAK BIUS HERCULES

Hari itu, saya dan dua rekan perawat satwa bersama drh. Flora melakukan pemindahan orangutan Hercules dan Nigel yang ada di pulau pra-pelepasliaran. Terbilang cukup mendesak dan tergesa-gesa karena pandemi Covid-19 saat ini tengah menjadi permasalahan di berbagai tempat. Dengan terpaksa, kami melakukan pemindahan agar pengawasan semua orangutan berada dalam satu tempat yakni di Pusat Rehabilitasi COP Borneo.

Peralatan yang kami butuhkan sudah siap sedia seperti kandang transpot, senapan bius angin, jaring, timbangan dan tentunya obat biusnya. Ini pertama kalinya saya mengikuti proses pemindahan orangutan dari pulau pra-pelepasliaran. Ketika drh. Flora meminta saya untuk menembak bius Hercules, saya ragu-ragu karena saya takut salah sasaran. Membius orangutan bukan perkara mudah. Jangan samapai mengenai dada, mata atau bagian vital lainnya. Saya mengundurkan diri dan peran penembak bius diambil alih rekan keeper lain.

Hercules cuup bandel. Setelah ditembak bius hampir 20 menit dia tak kunjung pingsan. Kami lalu menggulungnya dengan jaring meski ada perlawanan dari Hercules.Tidak lupa kami melakukan penimbangan dan pengambilan sampel darah untuk diketahui kondisi kesehatannya. Usia Hercules berkisar 14-16 tahun dan beratnya mencapai 57 kg. Itu cukup berat bagi kami untuk memikul orangutan Hercules. “Cukup ngos-ngosan, bahu dan pinggangku sakit.”, keluh seorang keeper. (JACK)

COP SIAP BANTU ORANGUTAN YKAY

Berita mengejutkan dari Taman Satwa YKAY (Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta) yang telah melakukan rehabilitasi satwa sebanyak 146 satwa liar. Pandemi COVID-19 memaksa YKAY untuk membatalkan program volunteer dari manca negara yang menjadi sumber utama operasional Taman Satwa YKAY. Balai Konservasi Sumber Daya Alam Yogyakarta meminta COP untuk membantu ketujuh orangutan yang berada di taman satwa tersebut.

Centre for Orangutan Protection menyatakan kesiapannya untuk membantu orangutan yang berada di Taman Satwa YKAY atau yang sering disebut juga Wildlife Rescue Centre Jogja (WRC Jogja). “Pandemi COVID-19 ini tidak hanya memporak-porandakan perekonomian dunia usaha yang bergerak di bidang kuliner, konveksi, properti maupun otomotif yang berkaitan langsung dengan manusia. Tetapi juga dunia konservasi terutama Lembaga Konservasi non profit seperti Pusat Penyelamatan Satwa maupun Pusat Rehabilitasi. COP siap membantu ketujuh orangutan yang berada di Taman Satwa YKAY seperti pemeriksaan kesehatan, pakan, obat dan vitamin serta tenaga untuk ketujuh orangutan tersebut. 

COP memanggil seluruh pendukungnya (Orangufriends) untuk bahu-membahu menyelamatkan orangutan yang berada di Pusat Penyelamatan Satwa Liar Yogyakarta. Bagaimana caranya? Email kami di info@orangutanprotection.com atau langsung donasi lewat kitabisa.com 

Bersama kita bisa!

UNTUK PERTAMA KALINYA KOLA BERDEKATAN DENGAN ORANGUTAN

Usai menjalani masa karantina dan dinyatakan lulus oleh Badan Karantina Pertanian, orangutan hasil repatriasi bernama Kola kini mulai menginjak proses rehabilitasi. Melihat sejarahnya yang tidak pernah bersentuhan atau berinteraksi dengan orangutan lain, Kola diperkenalkan dengan orangutan Popi.

Popi merupakan siswi sekolah hutan yang masih berumur 4 tahun. Ketika pandangannya terpusat oleh kedatangan Popi di sekitar kandangnya, Kola terlihat bersikap agresif di dalam kandang. Setelah 30 menit, Kola yang awalnya agresif mulai mencari tahu dan mendekati Popi yang berada di luar kandangnya. Beberapa kali Kola juga mengeluarkan suara bak suara ‘kiss squeking’ ala orangutan ketika merasa terancam.

Terlihat dengan gamblang bahwa Kola tidak terbiasa dengan keberadaan orangutan lain. Perilaku kontras dibanding saat melihat manusia atau animal keeper yang baru ia lihat. Kola lebih tenang dan mengamati dari jauh.

Bagusnya, keberadaan Popi mengajarkan Kola memakan buah nanas. Karena pengamatan sebelumnya, Kola selalu melewatkan manis asamnya rasa buah nanas. Hanya sebatas satu gigitan dan dibuang. (FLO)

 

DEPRESI PADA SATWA LIAR YANG TERKEKANG (3)

Sebelumnya kita mengetahui bahwa sama seperti manusia, satwa atau binatang pun sangat memungkinkan untuk bisa merasa stres dan depresi. Hal ini tidak hanya dirasakan oleh satwa domestik, tetapi juga satwa liar yang tidak berada di habitat aslinya. Contohnya yaitu satwa-satwa liar yang ditangkap untuk diperjual-belikan ataupun satwa liar yang ada di kebun binatang, sirkus atau pertunjukkan satwa lainnya.

Di habitat aslinya, satwa-satwa liar menghabiskan waktunya sehari-hari untuk mencari makan, membuat sarang, bersosialisasi dengan satwa lainnya, menghindari predator dan mempertahankan wilayah. Namun alam situasi lain, baik di kebun binatang ataupun kadang dalam proses perdagangan satwa, satwa-satwa ini menjadi jauh lebih pasif. Makanan dan minuman diberikan oleh manusia, begitu juga area gerak dan lingkungan sangat dibatasi. Kemudian juga terlalu sedikit atau terlalu banyak individu di satu tempat atau kandang yang sama dapat mempengaruhi tingkat stres satwa.

Memang saat ini masih belum banyak peneliti yang mempelajari mengenai stres dan depresi pada hewan secara mendalam. Namun sudah ada penelitian-penelitian yang menggunakan primata sebagai subjeknya. Selain karena memiliki kekerabatan erat dengan manusia, primata juga memiliki ekspresi dan mimik wajah yang lebih mudah dikenali dibandingkan mamalia lainnya.

Sebuah penelitian di sebuah kebun binatang di Malaysia menemukan bahwa beberapa satwa mengalami ciri atau gejala stres dan depresi. Kera menunjukkan depresi dengan duduk di sudut kandang atau tidur dalam waktu yang lama. Kemudian orangutan, simpanse dan unta menunjukkan sensitivitas pada hujan dengan menjadi pasif atau terganggu dan mudah sakit saat terkena hujan. Harimau dan singa menunjukkan sikap gelisah dengan berjalan mondar-mandir di kandang dan menggeram. Orangutan yang stres mengalami kesulitan dalam merawat anak yang dilahirkannya sehingga beberapa kali kelahiran, anaknya selalu mati.

Hal ini biasanya disebabkan oleh banyak hal, seperti yang disebutkan di paragraf sebelumnya. Dan memang sulit untuk memenuhi kebutuhan satwa yang seharusnya tinggal bebas di alam. Terutama bila satwa-satwa liar ini dimiliki oleh individu-individu dan dipelihara begitu saja di rumah mereka. Tentu kondisi dan tingkat stres bisa menjadi lebih tinggi karena kurangnya fasilitas-fasilitas yang memadai.

Oleh karena itu, butuh kesadaran dari masyarakat untuk berhenti memelihara dan memperjualbelikan satwa liar. Apalagi dengan menjadikan satwa liar sebagai konsumsi, karena kita tahu selalu ada kemungkinan penyebaran penyakit baik dari satwa ke manusia ataupun sebaliknya. Selain itu juga setiap satwa masing-masing memiliki tugas dan peranan untuk menjaga keseimbangan di alam. Maka bila kita benar-benar pada satwa dan manusia, seharusnya kita berusaha untuk mempertahankan dan memperbaiki habitat mereka di alam. Karena sama seperti halnya manusia, hewan pun memiliki batasan baik secara fisik atau mental untuk hidup dalam kekangan. (LIA)

Sumber:

Haque, A. Depression in Caged Animals: A Study at the National Zoo, Kuala Lumpur, Malaysia. Department of Psychology: UAE University.

STRES PADA HEWAN TERNAK DAN HEWAN PELIHARAAN (2)

Amigdala yang merupakan sebuah bagian pada otak yang mengatur emosi termasuk rasa takut, stres dan kecemasan serta amarah ditemukan pada mamalia. Sedangkan pada hewan kelas lainnya juga bisa ditemukan namun dalam bentuk berbeda. Begitu juga ciri dan respon terhadap stres dan emosi ini bisa berbeda-beda bagi masing-masing spesies.

Penelitian-penelitian yang dilakukan pada hewan-hewan ternak seperti domba dan sapi menemukan bahwa stres dan rasa takut dapat berpengaruh buruk pada kesehatan fisik dari hewan itu sendiri. Manuja, dkk (2015), dalam penelitiannya mengenai stres dan dampaknya pada sapi ternak menemukan bahwa stres berpengaruh pada pertumbuhan tubuh dan produk yang dihasilkan. Saat sapi-sapi dikirim untuk diekspor atau dipindahkan, jantung mereka menjadi cepat sehingga menurunkan jumlah energi yang mereka miliki. Energi untuk bertumbuh dan memproduksi susu pun berkurang.

Begitu juga hal yang dialami oleh hewan-hewan dalam perdagangan di pasar-pasar dan hewan-hewan yang dipakai sebagai subjek penelitian atau percobaan. Seringkali kita melihat hewan-hewan yang diperdagangkan di pasar dikurung dalam kandang-kandang sempit dan berdesak-desakan. Terutama pada hewan-hewan yang akan diambil dagingnya untuk dikonsumsi. Perlakuanburuk, kekurangan makan, minum, ruang untuk bergerak dan udara segar akan membuat mereka stres dan menderita sehingga mengurangi juga kemampuan mereka untuk bertahan hidup. Maka seringkali kita menemukan adanya hewan-hewan yang akhirnya mati saat perjalanan atau pengiriman dan bahkan saat diperdagangkan.

Beberapa hewan peliharaan juga merasakan stres dan rasa takut atau cemas dalam bentuk perilaku yang berbeda. Beberapa jenis burung yang mengalami stres akan memperlihatkan perilaku agresif yang berlebihan seperti mematuk dan perubahan vokalisasi, kemudian kehilangan nafsu makan, mencabut bulu-bulu atau memutilasi bagian tubuhnya sendiri. Stres pada kucing dan anjing bisa dicirikan dengan rontoknya bulu, agresi berlebihan, nafas tersengal-segal, otot yang kaku, tubuh gemetaran, kehilangan nafsu makan, bahkan hingga diare dan muntah.

Stres dan rasa takut atau cemas ini bisa disebabkan oleh adanya perubahan lingkungan, kelaparan, kondisi yang menyebabkan trauma dan ketakutan, perubahan cuaca ekstrim, kebosanan, hingga masalah kesehatan. Perubahan lingkungan ekstrim dan ketakutan tentunya juga sangat dirasakan oleh hewan atau satwa-satwa yang ditangkap dari alam liar atau habitatnya dan kemudian diperjualbelikan baik secara online atau offline. (LIA)

Sumber :

Lloyd, J. K. F., (2017). Minimising Stress for Patients in the Veterinary Hospital: Why It Is 

Important and What Can Be Done About It. Vet. Sci. 2017, 4, 22.

Manuja, B. K., Aich, P., Manuja A., (2015). Stress and Its Impact on Farm Animals. Frontier in 

Bioscience E4, 1759-1767, January 1, 2012.

 

APAKAH HEWAN BISA MERASA STRES? (1)

Pada tahun 1965 berdasar laporan Brambell mengenai kesejahteraan hewan-hewan yang berada dalam sistem peternakan, pemerintah Inggris menunjuk sebuah Komite untuk mendalami permasalahan kesejahteraan hewan-hewan dalam peternakan. Komite ini kemudian merumuskan konsep lima kebebasan yang harus dimiliki tiap hewan peternakan dan kemudian meluas peruntukkannya dan dipakai untuk mengukur kesejahteraan berbagai spesies satwa di berbagai kondisi.

Pada laporan Brambell, ia mengatakan bahwa setiap hewan harus memiliki kebebasan untuk berdiri, berbaring, berputar, merawat tubuh mereka dan merenggangkan kaki-kaki mereka. Ini diketahui sebagai Lima Kebebasan Brambell dan kemudian berubah menjadi Five Freedom atau Lima Kebebasan yang dideskripsikan sebagai berikut, yaitu terbebas dari rasa lapar dan haus, terbebas dari ketidaknyamanan, terbebas dari rasa sakit, luka atau penyakit, bebas untuk mengekspresikan perilaku normalnya, dan yang terakhir bebas dari rasa takut dan stres.

Rasa takut dan stres disini membuktikan bahwa manusia meyakini bahwa hewan juga bisa merasakan stress dan emosi seperti rasa takut. Lalu apakah benar seperti itu? Selain kemampuan berpikir atau kognisi, kemampuan merasakan emosi seperti rasa takut dan marah yang diproses pada amigdala pada otak manusia ternyata juga ditemukan pada hewan terutama pada mamalia. Meski banyak penelitian masih mengarah pada emosi pada mamalia, saat ini mulai ada juga yang mendalami adanya perubahan emosi pada hewan-hewan kelas lainnya.

Namun tidak seperti manusia yang bisa mengkomunikasikan rasa takut dan stres yang dimilikinya, kita hanya bisa mengindikasikan seekor binatang atau hewan mengalami stres atau takut berdasar pengamatan atas perubahan perilaku dan kondisi tubuhnya. Dimana masing-masing spesies bisa memiliki respon berbeda atas stres atau tekanan yang dialaminya. (LIA)

Sumber :

Thaxton, Y.V., Christensen K., Clark, F.D. (2014). The Five Freedoms for Good Animal 

Welfare. University of Arkansas: Division of Agriculture Research & Extension.

Vargas, J. P., Lopez, J. C., Portavella, M. (2012). Amygdala and Emotional Learning in 

Vertebrates- A Comparative Perspective. University of Sevilla: Intech.

TRENGGILING: SI MANIS YANG TERANCAM

Serial Satwa Dilindungi

Pangolin atau trenggiling dalam Bahasa Indonesia, adalah mamalia yang paling sering diperjualbelikan dan diselundupkan dalam bisnis satwa liar ilegal. Diperkirakan setiap lima menit seekor trenggiling diambil dari habitatnya untuk dijual. Meski statusnya terus menurun dan telah dilarang untuk diperjualbelikan, hal ini tidak menyurutkan permintaan akan daging dan sisiknya yang sudah lama terkenal di dunia pengobatan tradisional.

Saat ini tersisa delapan spesies trenggiling di dunia, diantaranya yaitu empat spesies di Afrika dan empat spesies tersebar di Asia.  Berdasar data IUCN Redlist dua spesies dalam status rentan (VU), tiga dalam status terancam punah (ER), dan tiga kritis (CR). Dan salah satu ancaman terbesarnya adalah perdagangan ilegal. 

Banyak golongan masyarakat tertentu di Afrika dan Asia yang percaya sejak dahulu bahwa trenggiling berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai penyakit dan hampir seluruh bagian tubuhnya memiliki manfaat. Salah satu yang dianggap memiliki manfaat terbesar adalah sisiknya yang unik. Sisik ini dipercayai oleh masyarakat memiliki beberapa khasiat. 

Beberapa diantara khasiat itu adalah sebagai obat penyakit jantung, penyakit mental, sebagai antibiotik tradisional, penawar racun, penyakit pada perut, sakit kepala, menyembuhkan luka dan banyak penyakit lainnya hingga juga dipercaya menjadi semacam jimat untuk menolak penyakit-penyakit spiritual. Meski berlangsung bertahun-tahun sayangnya kepercayaan ini tidak pernah didukung oleh penelitian ilmiah untuk membuktikannya.

Diketahui bahwa sisik trenggiling terdiri dari kandungan keratin. Kandungan yang sama dengan kuku dan rambut kita manusia serta cula atau tanduk pada hewan lainnya. Sisik ini adalah baju pelindung bagi trenggiling yang memiliki makanan utama semut dan rayap. Sisik yang tebal melindungi mereka dari gigitan semut dan predator lainnya. Namun sayangnya sisik ini tidak dapat melindungi mereka dari manusia. 

Ketika menemui predator, mereka akan menggulung tubuhnya dan tidak bergerak sehingga predator akan kebingungan dan akhirnya meninggalkan mereka. Namun mekanisme pertahanan diri ini menjadi keuntungan bagi manusia yang dengan mudahnya dapat menangkap dan mengambil mereka begitu saja dari atas tanah tanpa perlawanan yang berarti. Maka dengan permintaan dan harga jual yang besar semakin banyak oknum-oknum yang memburu dan menjual mereka untuk mendapat keuntungan.

Di Indonesia sendiri trenggiling bisa ditemukan di pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Namun karena maraknya diperjualbelikan, saat ini trenggiling sangat sulit untuk ditemui di alam atau habitatnya. Padahal trenggiling memiliki peranan yang sangat penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Selain menjadi kontrol bagi populasi serangga, kebiasaan mereka untuk membuat liang-liang di tanah juga membawa manfaat dalam pencampuran bahan-bahan organik di dalam tanah. Selain itu mereka juga menjadi mangsa bagi harimau, macan dan spesies lainnya. Bila jumlah mereka terus berkurang tentunya akan berpengaruh besar bagi spesies-spesies lain dan ekosistem di alam.

Trenggiling juga beberapa bulan belakangan ramai disebut sebagai salah satu hewan selain kelelawar yang menjadi pembawa virus corona, yaitu Covid-19. Beberapa pengamat dan peneliti memperkirakan adanya kemungkinan trenggiling yang tidak sengaja memakan kotoran-kotoran kelelawar dari tanah. Lalu ketika trenggiling ini ditangkap manusia maka virus yang berasal dari kotoran kelelawar ini dapat menyebar pada manusia. Meski hal ini belum terbukti secara pasti, tentu kemungkinan-kemungkinan seperti ini sangatlah bisa terjadi karena sudah ditemukan adanya beberapa jenis virus corona dari tubuh trenggiling yang diteliti.

Maka dari itu perlu adanya penanganan serius dari pemerintah untuk dengan tegas melarang penjualan satwa-satwa liar terutama satwa yang dilindungi. Selain untuk menjaga keberlangsungan spesies-spesies yang ada, juga untuk menghindarkan manusia dari penularan-penularan virus yang fatal dan mematikan. Biarkan satwa-satwa liar hidup dengan bebas di habitatnya dan menjadi penjaga keseimbangan ekosistem di alam, karena kita manusia pun hidup sangat bergantung pada alam. (LIA)

 

KEBUN BINATANG: ISOLASI SEUMUR HIDUP BAGI HEWAN

Sudah 2 minggu sejak masyarakat diminta untuk mengisolasi diri atau #dirumahaja. Ada yang bersyukur karena bisa lebih banyak menghabiskan waktu dengan keluarga di rumah. Ada pula yang mengeluh ingin berkumpul lagi bersama teman-teman. Walaupun kulkas/lemari pendingin penuh makanan, air melimpah, ada televisi dan ponsel… namun tetap saja kita dilanda rasa bosan. Hidup monoton hanya di ruangan yang sama setiap hari.

Hewan-hewan di kebun binatang juga mengalami hal yang sama. Walau rutin diberi makanan dan minuman, hidup di kandang tentu membuat bosan. Apalagi jika kebun binatang tidak memberi fasilitas untuk memenuhi insting naluriah hewan. Kandang harimau tidak diberi kayu untuk menajamkan kuku. Kandang harimau tidak diberi kayu untuk menajamkan kuku. Kandang gajah tidak diberi kolam untuk berkubang. Kandang orangutan tidak diberi pohon atau tali untuk berayun.

Dalam merawat hewan, kita harus menerapkan 5 prinsip kesejahteraan satwa. Hewan wajib terbebas dari rasa lapar dan haus, bebas dari rasa ketidaknyamanan, bebas dari sakit dan penyakit, bebas mengekspresikan perilaku alamiah, serta bebas dari rasa takut dan tertekan. Hewan yang tidak bisa melakukan perilaku alamiahnya lama-lama akan stres bahkan dapat menyakiti dirinya sendiri.

Saat isolasi ini, kita merasakan sendiri jenuhnya berada di rumah saja. Kita diajak merasakan perasaan hewan yang terisolasi seumur hidup di kebun binatang. Mari kita lebih menghormati kebebasan hidup para hewan dengan tidak memelihara satwa liar dan mendorong kebun binatang untuk memberikan fasilitas yang lebih baik. (IND)