SUDAH LIMA HARI BAYI DARI KUTAI TIMUR DI COP BORNEO

Bayi orangutan jantan yang baru diselamatkan dari Kutai Timur, Kalimantan Timur saat ini berada di kandang karantina klinik COP Borneo. Penyelamatan bayi orangutan di tengah pandemi COVID-19 tak lepas dari protokol kesehatan selama pandemi, terutama karena orangutan diselamatkan dari kepemilikan ilegal. 

Jevri adalah perawat satwa yang diberi kepercayaan dokter hewan COP Borneo untuk merawat bayi ini. Hanya Jevri yang diperbolehkan ke kandang yang dikelilingi terpal untuk meminimalisir gangguan. Jevri pun berinisiatif untuk mencari daun-daun dan ranting yang kemudian diberikan pada orangutan tersebut. “Ternyata, bayi orangutan ini cukup lihai menata daun di hammocknya. Sepertinya dia tahu cara membuat sarang.”, ujar Jevri setelah mengamatinya selama lima hari ini. 

Pemberian pakan pada bayi orangutan yang baru datang ini pun sama, yaitu sebanyak dua kali, pagi dan sore hari masing-masing sepersepuluh berat badannya. Saat buah-buahan diberikan di tempat pakannya, bayi ini segera mengambil buah pisang. “Pisang menjadi buah pertama yang selalu diambil dan dimakannya.”, kata Jevri lagi. Uniknya, bayi orangutan ini baru akan makan setelah menata daun-daun di hammocknya. “Dia juga sangat suka memakan kambium dari ranting-ranting yang diberikan.”, tambah Jevri. 

Terimakasih Jevri… titip si kecil ya… semoga dia bisa melalui masa karantina ini dengan baik. (WET)

REST IN PEACE REINHARD BEHREND, THE RAINFOREST RESCUE FOUNDER

Berita duka cita datang dari LSM Jerman yaitu Rainforest Rescue. Pendiri organisasi Rettet den Regenwald e.V (Penyelamatan Hutan Hujan) meninggal dunia pada 5 Juni 2020 https://www.rainforest-rescue.org/news/9742/rest-in-peace-rainforest-rescue-founder-reinhard-behrend tepat di peringatan Hari Lingkungan Sedunia setelah melalui perjuangan panjang melawan kanker. 

Centre for Orangutan Protection mengucapkan turut berduka dan kehilangan pada sosok Reinhard dengan organisasinya yang telah mendukung COP di tahun-tahun pertamanya berdiri. “Semangat Reinhard Behrend akan terus hidup untuk hutan hujan Kalimantan. Semoga keluarga yang ditinggalkan tetap tabah dan semangat. Terimakasih Reinhard.”, kata Daniek Hendarto, direktur operasional COP.

Tim APE Crusader adalah tim yang berada di garis depan untuk penyelamatan satwa liar khususnya orangutan dan habitat merupakan tim yang didukung oleh Rettet den Regenwald e.V.  Kendaraan double cabin pertama tim APE Crusader berwarna hitam dari organisasi ini telah hilir mudik melalui garis khatulistiwa Kalimantan untuk menyelamatkan orangutan dan mendokumentasikan deforestrasi yang terjadi di Kalimantan Tengah dan Barat. Sekalipun mobil itu sudah berganti dengan kru yang berganti juga, tapi semangat untuk terus menyelamatkan orangutan dan habitatnya tidak pernah berubah. Begitulah semangat.

SECERCAH HARAPAN BAGI TRENGGILING

COP sangat mengapresiasi keputusan pemerintah Cina yang akhirnya mengeluarkan sisik trenggiling dari daftar bahan obat-obatan tradisional. Hal Ini merupakan tindak lanjut dari keputusan diangkatnya status perlindungan trenggiling menjadi yang tertinggi di tingkat nasional. Serta membuahkan secercah harapan bagi trenggiling yang selama ini selalu menjadi korban.

Sebelumnya kita mengetahui bahwa trenggiling adalah salah satu spesies satwa liar yang paling sering diperjualbelikan dan diselundupkan. Meski statusnya sudah sejak lama dilindungi dan kritis terancam punah, trenggiling tetap masih menjadi satwa yang digemari untuk dijadikan obat-obatan. Selain karena dipercaya memiliki banyak manfaat juga karena mereka adalah satwa yang relatif mudah untuk ditangkap.

Laporan dari Wildife Justice Commission (Februari 2020) juga menemukan bahwa selama 2016-2019, diestimasikan 206,4 ton sisik trenggiling disita dari 52 kasus penangkapan. Lebih dari 14.000 ekor trenggiling disita di perbatasan Asia. Kemudian sebanyak 27 negara dan daerah terlibat dalam penyeludupan dimana enam diantaranya terhubung dalam 94% dari total hasil penyitaan. 

Di Indonesia sendiri, trenggiling dapat ditemukan di Sumatera, Jawa dan Kalimantan. Mereka sering diburu pada pergantian musim hujan ke musim kemarau. Meski sudah diatur dalam UU No. 5 tahun 1990 sebagai satwa dilindungi, perdagangan dan penyeludupan masih terus terjadi. Baik berupa bagian tubuh seperti sisik ataupun dalam keadaan utuh mati ataupun hidup.

“Maka ketika Cina memutuskan untuk mengeluarkan trenggiling dari daftar resmi bahan obat-obatan, Indonesia pun seharusnya juga bisa mengambil langkah yang lebih serius.”, ujar Liany Suwito, juru bicara Centre for Orangutan Protection. “Pandemi COVID-19 telah memberi kesempatan luas untuk satwa liar hidup di alam dan berperan secara alamiah. COP mendukung penuh pemerintah untuk melakukan penegakkan hukum bagi pelanggar Undang-Undang tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.”, tegasnya kembali. (LIA)

BAHU-MEMBAHU UNTUK 7 ORANGUTAN WRC

Ada 135 kg buah yang diantar ke Wildlife Rescue Center Yogya siang ini. O iya, itu belum termasuk hasil panen jambu air dari tempat usaha salah satu relawan Orangutan di Yogyakarta (Gib-Gib Calzone) kemarin. “Lumayan ketarik nih otot-otot tangan dan paha. Sudah lama sekali tidak memanjat pohon.”, ujar Nanda sambil tertawa.

Center for Orangutan Protection bersama IFAW membantu WRC Yogya di tengah pandemi COVID-19. Dana Operasional WRC Yogya biasanya diperoleh dari program relawan berbayar. Namun selama pandemi, program ini terhenti. Sementara tujuh orangutan yang ada tetap harus makan.

Tak hanya bantuan pakan orangutan, obat-obatan dan vitamin pun secara berkala diberikan. Tim APE Warrior juga membawa masker 2 kotak, sarung tangan medis 2 kotak dan desinfektan 1 liter. Untuk kamu yang prihatin pada kondisi ini, bisa langsung menghubungi camp APE Warrior yang berada di Gondanglegi, Sleman, Yogya. Atau bisa hubungi info@orangutanprotection.com

SEPTI MASIH SERING KEMBUNG

“Septi… Ti… Sep… Septi…”, dipanggil tidak merespon, diberi buah tidak dimakan begitulah Septi jika perutnya sedang kembung. Dirayu untuk turun dari hammock dengan segelas susu hangat, tetap saja abai. 

Biasanya kalau sudah begini, seharian ia akan berdiam diri di dalam hammocknya. drh. Flora akan langsung memeriksanya dan memberinya obat. Beruntungnya, Septi mau menelan obat.

Sedari dulu, setelah mengetahui Septi sering mengalami gangguan pencernaan seperti sering kembung, para perawat satwa tentu akan memberinya buah-buahan tertentu mulai dari rimbang atau cepokak bahkan menghindari buah-buahan yang bisa membuatnya kembung. Namun, tetap saja kembungnya berulang lagi dan lagi.

Tiap perut Septi kembung, semua perawat satwa bersahutan, Septi kemarin terakhir makan apa ya?”. Mereka merasa tidak memberinya pakan seperti pisang, jagung dan singkong yang bisa memicu perut kembung. Tapi Septi… kebung lagi. Dugaan mereka, Septi mencuri buah dari kandang sebelahnya. Maklum tangan Septi cukup panjang. (WID)

BAYI ORANGUTAN DARI KUTAI TIMUR BERHASIL DISELAMATKAN

Syukurlah, proses penyelamatan orangutan jantan berusia 1-2 tahun di jalan poros Kongbeng-Wahau, Kalimantan Timur berjalan dengan lancar. Orangutan yang telah dipelihara selama lima bulan ini hidup bersama ayam di sebuah kandang kayu. Terimakasih Tim BKSDA SKW I Berau yang dengan sigap merespon laporan kepemilikan ilegal satwa liar di tengah pandemi COVID-19.

3 Juni pagi, tim APE Defender bersama BKSDA SKW I Berau berangkat ke desa Miau Baru, Kalimantan Timur. Bayi orangutan ini tidak terlihat agresif, usaha Inoy mendekatinya dengan buah-buahan berjalan sesuai rencana. Sekilas ada rasa prihatin saat menatap kedua matanya, ada kepedihan yang tak terkatakan. Pemeriksaan fisik secara cepat dilakukan dokter hewan Flora Felisitas. “Jari-jari orangutan ini tidak sempurna. Sepertinya ujung jarinya terpotong oleh benda tajam, berdasarkan luka yang sudah tertutup dengan baik.”, ujar drh. Flora dengan sedih.

Tim segera kembali ke Pusat Rehabilitasi COP Borneo yang berada di KHDTK Labanan. Para perawat satwa sudah menunggu dan segera menurunkan kandang angkut yang telah berisi orangutan malang ini. Malam menjadi muram, entah apa yang telah terjadi dengan orangutan ini. Jari tengah dan jari manis tangan kanannya dan jari telunjuk tengah manis dan kelingking tangan kirinya tak sempurna jumlah ruasnya. 

Orangutan ini akan menjalani masa karantina. Untuk kamu yang ingin membantu biaya perawatan dan pemeriksaan kesehatannya bisa melalui https://kitabisa.com/campaign/orangindo4orangutan

Terimakasih untuk para donatur yang telah mengirimkan masker dan sarung tangan medis yang mendadak hilang di pasaran dan berharga tinggi selama pandemi ini, sehingga kami tetap bisa berkegiatan dengan normal.

BERANI SI TANGAN PANJANG

Berani adalah orangutan yang cukup disegani oleh teman se-kandangnya. Tak ada yang berani merebut makanan dari tangan Berani. “Kini, Berani kami juluki si tangan panjang.”, kata Widi Nursanti sambil gemas. Bagaimana tidak, ia sering mencuri buah milik Septi di keranjang buah Septi. Kandang Berani yang berisi anak-anak orangutan jantan tepat bersebelahan dengan kandang orangutan Septi.

Manuver menggoyangkan lengan demi sampai di keranjang buah Septi sangat lincah. Bermodalkan tangannya yang panjang dan kekeran mata yang tepat. Ia semakin suka mengulanginya sebab Septi tak menghiraukannya, kadang juga karena Septi hanya diam saja karena perut kembungnya membuatnya tak nyaman.

Hanya sesekali saja Septi menangkis lengannya yang hendak mengambil nanas milik Septi. Maklum, Septi begitu menyukai buah nanas. Berani biasanya tidak akan menyerah sebelum mendapat setidaknya 1 buah dari keranjang Septi. Berani paling sering mendapatkan jeruk. (WID)

APE DEFENDER BERSIAP SELAMATKAN BAYI ORANGUTAN

Senja ini tim APE Defender mendapat telepon, “Ada orangutan kecil yang dipelihara warga dan kita harus menyelamatkannya.”, ujar kepala BKSDA  SKW I Berau, Kalimantan Timur. Tentu saja tidak mudah menyelamatkan orangutan di tengah pandemi COVID-19 ini. Banyak protokol kesehatan yang harus diperhatikan mulai dari kesehatan pribadi, tim dan orangutan.

Malam ini juga kordinasi berjalan cukup lancar, “Untung saja internet di camp COP Borneo sudah menyala dan berfungsi. Terimakasih The Orangutan Project, tanpa koneksi internet, mungkin informasi baru akan sampai keesokan harinya.”, ujar Widi, manajer Pusat Rehabilitasi COP Borneo.

Malam hari setelah mempersiapkan kandang di klinik berikut hammock untuk orangutan yang akan diselamatkan, dokter hewan Flora mengecek kembali tas rescue orangutan untuk memastikan tidak ada alat medis maupun obat-obatan yang tertinggal. Para perawat satwa pun mengangkat kandang angkut ke mobil APE Defender agar besok pagi bisa langsung berangkat. “Selamat malam… doa kan kami baik-baik saja dan semua berjalan dengan lancar besok.”, ujar drh. Flora Felisitas yang sudah tiga bulan ini berada di camp aja sebagai upaya mencegah penyebaran virus Corona. 

 

LOMBA CERPEN ORANGUTAN “BERTEMU” OLEH ORANGUFRIENDS

Setelah sukses tahun lalu membuat Lomba Cerpen Orangutan bersamaan dengan pameran seni Art for Orangutan #3 pada tanggal 14-17 Pebruari 2019 di Jogja National Museum dengan tema “A Good Life for Orangutan”. Tahun ini relawan COP yang tergabung dalam Orangufriends kembali mengadakan Lomba Cerpen Orangutan dengan tema berbeda yaitu “Bertemu”.

Salah satu relawan COP yang tergabung dalam Orangufriends bernama Netu Domayni mengatakan, Tahun lalu untuk pertama kalinya kami adakan dan antusias peserta sangat banyak dengan beragam sudut pandang penulisan tentang orangutan. Tahun ini kami adakan lagi dengan tema “Bertemu”. Kami mengharapkan penulis akan membuat cerpen dengan imajinasi orangutan bertemu dengan apapun, dengan siapun di ruang dan waktu yang sangat liar. Keliaran penulis dengan menuliskan orangutan bertemu dengan tokoh imajinatifnya pasti akan menarik. Pertemuan orangutan tersebut semoga bisa menjadi cara pandang baru bagaimana menyelamatkan bumi ini.

Lomba ini akan ditutup pada tanggal 20 Juli 2020 dan pemenangnya diumumkan di Instagram @orangutan_COP pada tanggal 1 Agustus 2020 jam 19.00 WIB. Adapun yang perlu diketahui antara lain:

– Terbuka untuk umum dan penulis boleh mengirimkan lebih dari satu karya

– Ukuran kertas A4, font Times New Roman MS 12, spasi 1,5 dengan Margin 4-4-3-3 cm

– Panjang tulisan minimal 1000 kata dan maksimal 3000 kata

Kirim ke email cerpen.orangutan@gmail.com dengan judul email: Nama Peserta_Judul karya_No HP dengan disertai: MS. Word tulisan karya cerpen, foto identitas diri seperti Kartu Pelajar/KTP/SIM atau Paspor dan foto slip donasi

– Donasi Rp 25.002,00 (dua puluh lima ribu dua rupiah) ke Rekening BNI 0137088800 a.n Centre for Orangutan Protection. (penggunaan angka 2 (dua) di belakang pada saat transfer untuk mempermudah kami mendata donasi yang masuk merupakan dari kegiatan Lomba Cerpen Orangutan)

– Hadiah pemenang pertama Rp 1.000.000,00 kedua Rp 750.000,00 dan ketiga Rp 500.000,00 serta ditambah dengan piagam dan suvenir dari COP

– Info lebih lengkap bisa kontak di email cerpen.orangutan@gmail.com atau lihat di Instagram @orangutan_COP

Netu juga menambahkan, “Sepuluh cerpen terbaik akan kami kompilasi dalam buku antologi Lomba Cerpen Orangutan. Semoga ini bisa menjadi sumbangan literasi sastra yang fokus pada orangutan yang kita ketahui masih sangat minim di Indonesia.”. (DAN)

HUJAN SERING TURUN DI COP BORNEO

Belakangan ini, sering turun hujan. Malam, sore bahkan pagi hari. Tak tentu. Hujan di sekitar camp pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, dan kandang orangutan kian nampak sejuk. Tunas-tunas mulai tumbuh. Sedihnya, jika pagi turun hujan, suara owa-owa tidak terdengar. Padahal itu yang menjadi alarm kami setiap pagi, mungkin juga alarm bagi orangutan.

Ketika malam hari, udara terasa dingin… sepintas kami di dalam camp teringat para orangutan di kandang. Kita semua pasti merasakan udara dingin setelah turun hujan. Kami masih bisa berselimut, sedangkan orangutan?

Sejak saat itu, setiap sore kami memberikan orangutan daun-daun untuk di pasang di dalam hammock agar terasa lebih hangat. Para bayi harus diberi contoh bagaimana daun-daunan tersebut bisa dimanfaatkan sebagai sarang. Tapi untuk orangutan dewasa, mereka pandai menata dan menjadikannya sarang walau ala kadarnya. Paling tidak bisa menjadi alas tidur.

“Senang sekali ketika mereka menerima daun dan ranting-ranting yang telah kita sediakan. Sesaat mereka sibuk menyusun… berhenti, kemudian mulai sibuk menumpuk-numpuk dan mencoba apakah cukup nyaman, lalu membongkarnya lagi, begitu seterusnya.”, Widi Nursanti, manajer Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo. Orangutan liar biasanya akan terus membuat sarang saat siang hari maupun menjelang sore. Itu untuk dia sesaat tidur siang dan saat tidur malam. Meski keesokan pagi harinya, perawat satwa yang bertugas membersihkan kandang sedikit lebih repot dengan bekas daun dan ranting yang terjatuh. (WID)