ORANGUTAN MAMPIR DI SEKOLAH SANGA-SANGA MELAWAN

Sudah lama tim APE Crusader yang merupakan tim yang berada di garis terdepan untuk perlindungan orangutan dan habitatnya tidak berkunjung ke anak-anak sekolah. Hari Minggu yang cerah, 19 Januari 2020, APE Crusader mampir ke Sekolah Sanga-Sanga Melawan. Sekolah yang terletak di RT 24, kelurahan Sanga-Sanga Dalam, kecamatan Sanga-Sanga, kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur menjadi sekolah pertama yang dikunjungi tim orangutan di tahun 2020.

Minggu ini menjadi cerita yang ringan dengan beberapa informasi orangutan dan habitatnya. Jarak tempuh yang cukup jauh dan melelahkan menjadi hilang dengan semangat yang baru. Rasa ingin tahu anak-anak memacu adrenalin kami. “Berbeda sekali saat aku di usia mereka.”, ujar Sari Fitriani, anggota tim APE Crusader. “Aku dulu, ya sibuk dengan diriku sendiri. Sementara mereka, lingkungan adalah tanggung jawab dan masa depan mereka. Peduli tidaknya mereka, menjadi ujung tombak hutan.”.

Kamu juga bisa mendapatkan energi besar untuk peduli dengan sekitar. Jadi tim edukasi orangutan yuk, email ke info@orangutanprotection.com ya. (SAR)

BONTI SI USIL

Saat para perawat satwa menikmati liburan natal dan tahun baru, tibalah waktu bagi para relawan untuk menggantikan peran mereka beberapa saat. Sebelum para perawat libur, para relawan sempat beberapa kali melaksanakan sekolah hutan dan melihat beberapa perilaku orangutan yang bermacam-macam selama di kelas sekolah hutan. Salah satunya adalah Bonti. Bonti adalah orangutan perempuan yang cukup aktif dan sangat usil dibandingkan orangutan perempuan lainnya. Saat di hutan, Bonti adalah orangutan yang paling sulit untuk turun. Dan saat di kandang, dia sering sekali mengambil makanan teman-temannya yang satu kandang dengannya. 

Suatu hari, di camp COP Borneo hanya ada empat relawan. Hari itu mereka tidak melaksanakan sekolah hutan dan menggantinya dengan membuat enrichment agar orangutan-orangutan tidak bosan menghabiskan waktunya di kandang. Salah satu relawan pernah membuat enrichment di salah satu tempat konservasi. Ia pun mengajarkan ketiga relawan lainnya untuk membuat enrichment. Daun kering, tali dan potongan buah pun disiapkan. 

Setelah enrichment-enrichment itu jadi, kami pun memberikannya kepada orangutan satu per satu. Semua orangutan sibuk mengambil buah di dalam enrichment. Tapi tidak untuk Bonti. Baginya, membuka-buka enrichment saja tidak cukup menyibukkan dirinya. Bonti pun melihat karung yang dibawa relawan untuk membawa enrichment tadi. Tak lama kemudian… HAP!

Karung sudah diambilnya dan digunakan di kepalanya seperti topeng. Lalu ia mendekat ke teman-temannya seperti ingin menakut-nakutinya. Sungguh, perilaku mereka sanggat menggemaskan saat bermain seperti itu. (Amanda_COPSchool10)

SELAMATKAN TRENGGILING DARI PEDAGANG SATWA

APE Warrior menggebrak perdagangan satwa liar di Jawa Timur. Awal tahun 2020, bersama Tipidter Polda Jawa Timur, satu trenggiling berhasil diselamatkan dari pedagang. Terimakasih Polda Jatim atas gerak cepatnya dalam melindungi satwa liar Indonesia.

Trenggiling dengan nama latin Manis javanica adalah satwa liar dengan makanan utama serangga terutama semut dan rayap. Lidahnya yang panjang bahkan mencapai sepertiga panjang tubuhnya yang memungkinkannya bisa mencapai posisi semut maupun rayap di dalam rumahnya. Sisik besar memenuhi tubuhnya yang panjang membentuk seperti perisai berlapis dapat melindungi dirinya. Trenggiling akan segera menggulungkan badannya seperti bola saat gangguan datang atau mengancamnya.

Keberadaan trenggiling menjadi sangat terancam seiring habitatnya yang semakin menyempit. Lapisan keratin di sisik yang memenuhi tubuhnya menjadi satwa buruan para mafia sindikat narkotika jenis sabu. Berdasarkan UU Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, trenggiling merupakan satwa dilindungi dan tidak boleh diperjualbelikan. 

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999, trenggiling masuk daftar hewan yang dilindungi. Pada pertemuan konvensi internasional di Johannesburg, Afrika Selatan tentang perdagangan satwa dan tumbuhan liar yang terancam punah (Cites) telah menyetujui pelarangan perdagangan delapan spesies trenggiling. “Trenggiling zero quota yaitu tidak boleh diperjualbelikan.”. (HER)

AMBON CHOICES CASAVA THIS MORNING

SINGKONG PILIHAN AMBON PAGI INI

Langit pagi ini kelabu dengan mendung yang berat. Musim hujan tak berhenti sejak Desember yang lalu. Seperti biasa, saatnya memberi makan di pagi hari dan dimulai dengan menimbang pakan. Timbangan buah maupun sayur untuk setiap orangutan menjadi berbeda sesuai dengan berat badan orangutan tersebut. 

40 ons untuk Ambon pagi ini. Nenas, pepaya, pisang, terong bulat, tomat, kangkung, kacang panjang dan singkong. Usai ditimbang, para perawat satwa mencucinya. Membawa makanan Ambon yang 4 kg sebenarnya tak begitu berat. Tapi jalanan menuju kandang menjadi becek karena hujan yang turun setiap hari lumayan bikin keringatan. Dan tiga keranjang lainnya untuk orangutan yang berada satu blok dengannya.

Pagi ini, Ambon makan yang mana ya? Apakah sama dengan yang kemarin? Seluruh isi keranjang sudah dituang ke tempat pakan di kandang Ambon. Ambon perlahan turun dari atas menuju tempat pakan. Diam, sambil menatapku dan melihat tepat pakan. Ambon mengambil singkong. What… singkong? Menggigit kulit singkong dan memakan dalamnya, owh suaranya begitu renyah. Ambon terlihat menikmati singkongnya. Kemudian masih dengan memilih singkong sebagai potongan makanan keduanya. 

Kalau kamu, singkong akan diolah jadi apa untuk sarapanmu?

AMIR MENYUKAI ORANGUTAN OWI

Sejak pertama kali Amir, perawat satwa di Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo bertugas di sekolah hutan, Amir bertanggung jawab mengawasi Owi. Owi si tukang gigit terutama pada orang yang baru dikenalnya, menjadi begitu manisnya saat digendong Amir. 

“Owi itu paling suka digendong di ketiak kananku.”, kata Amir dengan senangnya. Owi menjadi orangutan yang sangat patuh jika bersama Amir. Owi juga akan patuh saat disuruh naik ke atas pohon dan menghabiskan waktunya di atas pohon. 

Owi juga akan segera turun saat Amir memanggilnya. Lalu kenapa Owi menggigit semua relawan yang bertugas saat akhir tahun kemarin? “Owh kak Amir… andai kamu ada saat penimbangan mingguan orangutan kemarin, tentu kami tidak sibuk menghindari gigitannya.”, ujar Kiki, relawan dari Semarang yang masih kuliah di Fakutas Hukum, UNDIP.

Owi menjadi orangutan favorit untuk Amir. Warna rambutnya yang terang dan halus membuat Amir jatuh cinta pada Owi. Owi itu cantik begitu katanya lagi. Untuk kamu yang ingin mengadopsi Owi langsung email ke info@orangutanprotection.com

 

SEPTI BERKELILING KANDANG MENANTI PAGI

Hujan deras pagi ini membuat siapapun enggan keluar dari selimutnya. Tapi detik jam tak pernah berhenti sesaat pun, para perawat satwa yang telah selesai libur Natal dan Tahun Baru dengan semangat memotong buah, menimbang dan mencuci nya untuk orangutan-orangutan yang telah menunggunya di kandang. 

Masih ditemani para relawan, membersihkan kandang, menyikat lantai kandang yang mulai berlumut dan saatnya memberi makanan. Septi terlihat di atas dan mulai berkeliling kandang. “Bagus Septi, mungkin kamu kangen sama perawat satwa yang libur ya. Semakin sering bergerak samakin bagus untuk perutmu yang kembung”, ujar Lia, relawan dari Tanggerang yang merupakan alumni COP School Batch 7.

Lalu, apa yang akan dimakan Septi pagi ini ya? Septi memilih pepaya dan kali ini, dia memakannya. “Kemarin dia mengunyah pepaya, tapi dilepehnya, itu si Berani yang kandangnya bersebelahan malah mencuri lepehannya.”, Lia yang merupakan lulusan Psikologi sangat memperhatikan orangutan-orangutan di COP Borneo. “Orangutan pun punya pribadi yang unik.”.

 

MICHELLE, KAMU BISA!

Tahun 2019 yang lalu mungkin tahun yang tidak tepat untuk orangutan Michelle. Michelle yang merupakan satu-satunya kandidat orangutan betina yang akan dilepasliarkan kembali ke habitatnya dan sudah berhasil melalui rangkaian medis untuk bisa dilepasliarkan terpaksa kembali ke kandang karantina setelah melalui tiga bulan hidup di pra-rilis pulau orangutan Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo.

Michelle adalah orangutan yang besar di kebun binatang. Perlakuan perawat satwa sebelumnya di kebun binatang terhadapnya mungkin terlalu dimanja. Kebiasaan itu membuatnya kesulitan menjalani hari-hari di pulau orangutan. Pulau orangutan merupakan tahapan akhir orangutan untuk dilepasliarkan kembali ke habitatnya, dimana orangutan dipaksa hidup secara mandiri tanpa campur tangan manusia. 

Perilaku Michelle yang sangat membahayakan dirinya dengan tidur di gresik (daratan terbuka) memaksanya kembali ke kandang karantina. Bulan November dan seterusnya dengan curah hujan yang cukup tinggi, bisa sewaktu-waktu menyapu gresik dimana Michelle sering tidur di malam hari. “Bahaya ini jika Michelle tetap di pulau. Selama tiga bulan itu pula, Michelle tidak pernah terlihat membuat sarang.”, ujar Inoy dengan kawatir.

Dua bulan lebih Michelle kembali ke kandang karantina. Michelle masih tetap memiliki harapan untuk kembali ke habitatnya. Mungkin Michelle akan kembali ke pulau pra-rilis usai Nigel dan Hercules dilepasliarkan dan tentu saja ada orangutan betina lainnya yang menjadi kandidat pelepasliaran juga, agar dia belajar dari orangutan lainnya untuk menjadi liar. 

HERCULES JATUH KE SUNGAI

Apakah kamu bisa membedakan saat orangutan bermain atau berkelahi? Kalau orangutan yang dimaksud adalah Hercules dan Nigel yang berada di pulau orangutan, dapat dipastikan itu adalah perkelahian dua orangutan jantan yang menuju dewasa. Walau tentunya bukan perkelahian untuk memperebutkan orangutan betina, namun dapat dipastikan untuk menentukan teritorial orangutan.

Hercules terlihat bersama Nigel di dekat tempat pemberian makanan. Terlihat seperti bermain bersama. Tiba-tiba Hercules terjatuh ke sungai. Amanda, relawan orangutan yang bertugas di pos pantau pulau bersama Inoy, perawat satwa mulai menyusun rencana untuk menolong Hercules. Syukurlah arus tak sederas sebelumnya, dimana dermaga pulau sampai tertutup banjir. Hercules berhasil naik ke daratan. 

Hercules menjauh dari Nigel dan makan sendiri sambil terus menjaga jarak dengan Nigel. Pagi yang mengejutkan untuknya tentunya. Bukan hanya Hercules, kami pun kaget. Sorenya, Hercules makan sendiri sambil melihat-lihat ke belakang. “Seperti takut ada Nigel di belakangnya. Hercules terlihat waspada.”, ujar Amanda Rahma, orangufriends Yogyakarta yang menjadi relawan di Pusat Rehabilitasi Orangutan selama libur Natal dan Tahun Baru 2020 ini.

MENANGIS SAAT MELIHAT AMBON

Tak ada yang lebih menyedihkan saat menyaksikan Ambon, si orangutan jantan dengan cheekpad nya yang besar menatapmu dengan dalam. Tak ada cerita tentangnya yang terlewatkan semenjak dia berada di kebun binatang dan selama dia berada di Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo, Kalimantan Timur. 

Ambon, orangutan terberat di COP Borneo, tak melepaskan pandangannya. Mungkin dia mengingatku, atau mungkin juga sudah lupa. Tapi aku tak pernah lupa dengan harapanku, melihatnya berada di alam, bukan dibalik jeruji besi yang bernama kandang. Bobotnya yang kini 80 kg tak mengubah tatapan matanya padaku. Apakah keinginannya untuk tetap di kandang atau kesempatan untuk kembali ke pulau orangutan sebagai sanctuary nya?

Bagaimana menurutmu? Apakah dia memohon untuk berada di sanctuary island? Bantu kami mewujudkannya ya. Hubungi kami di info@orangutanprotection.com Apa harapanmu untuk Ambon di tahun depan? 

 

MARY, SI PENGUASA SEKOLAH HUTAN

Malam ini, hujan deras disertai petir menghampiri pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Orangutan-orangutan di kandang pasti meringkuk kedinginan dengan sedikit tampiasan air hujan. Jika di alam liar, berteduh hanya berharap pada kanopi hutan, itupun jika pilihan membuat sarang tidak di atas kanopi hutan. 

Mary, orangutan kecil ini baru berusia dua tahun. Sejak tim APE Defender mengevakuasinya dari kandang kayu di belakang rumah warga Long Beliu, Kalimantan Timur, tim memperhatikan tingkah lakunya. Mary masih cukup liar. Mary terlihat takut dengan manusia. Dia juga berusaha mempertahankan diri dengan menunjukkan deretan giginya. Menurut warga yang memeliharanya, Mary sudah tiga bulan dalam pemeliharaannya. “Tiga bulan yang sulit pastinya untuk Mary.”, gumam Linau, perawat satwa di COP Borneo.

Mary adalah orangutan yang paling sulit diajak turun dari pohon. Jika sudah tiba di sekolah hutan, dia langsung memanjat pohon dan tidak turun lagi. Bahkan saat matahari mulai terbenam. Tak jarang, Mary bermalam di sekolah hutan. Dan itu membuat para perawat satwa kesulitan.

Lalu, apakah tidak sebaiknya Mary dilepasliarkan saja? Pelepasliaran orangutan bukanlah hal yang mudah. Orangutan akan dilepasliarkan harus melalui rangkaian tes medis, selain itu juga harus diikuti dengan kemampuar perilaku alamiahnya, mulai dari memanjat, membuat sarang, mencari pakan alami dan lainnya. Usia orangutan juga menjadi perhatian tim, karena dengan usia dan tubuhnya yang kecil, kekawatiran pada kemampuanya bertahan hidup masih diragukan. Ya, Mary masih harus bersabar dan terus berkembang. Jika waktunya, Mary akan kembali ke habitatnya.