GEMPI AND HER FRIENDS ARE NO LONGER COLD IN RAIN

Her small body screamed and hobbled toward the Animals Warrior team. Among the ruins of the house, the team found a kitten who was dehydrated and malnourished. The Animals Warrior team, who had worked two weeks on the field, went around looking for her mother. Unfortunately, after trying to find, the mother never appeared. Gempi, this kitten was evacuated from the liquefaction location in Balaroa Village, Palu, Central Sulawesi.

The team took Gempi to the Palu Earthquake and Tsunami Disaster Relief Camp at the BKSDA (Natural Resources Agency) Central Sulawesi and then moved it to the Palu cat shelter, run by Mrs. Ana. In this shelter, there are about 70 abandoned cats treated by Mrs. Ana. The condition of the shelter is not much different from the condition of the house or office in Palu, it is cracked and collapsed. Mrs. Ana was forced to put up a temporary tarpaulin in front of her house to avoid heat and rain but it did not last long, because when the wind blew hard, the tarpaulin was scattered.

Animals Warrior immediately divided the team into 2 groups, one group evacuated several animals from the BKSDA Central Sulawesi to Manado and the others rebuilt Mrs. Ana’s cat shelter. “Luckily, there is material shop already open. The team also bought wood and other necessities. In two days, the shelter roof was installed. Cages were arranged to make maintenance easier”, said Daniek Hendarto. Strong winds often blow in Palu and the last two days of rain are quite heavy. Meanwhile, to include cats into the house, Mrs. Ana was still traumatized by the earthquake so she did not dare to stay in the house for too long.

Thank you for the donation via https://kitabisa.com/bantusatwapalu. Without all the help, it might be difficult to immediately realize a better place for cats in Ms. Ana’s shelter.

GEMPI DAN TEMAN-TEMAN TIDAK KEHUJANAN LAGI
Tubuh kecilnya berteriak dan tertatih-tatih mendekati tim Animals Warrior. Di antara reruntuhan rumah, tim menemukan anak kucing yang mengalami dehidrasi dan malnutrisi. Tim Animals Warrior yang saat itu sudah bekerja dua minggu di lapangan langsung berkeliling mencari induknya. Sayang, setelah berusaha mencari, sang induk tak kunjung muncul. Gempi, anak kucing ini pun dievakuasi dari lokasi likuifaksi kelurahan Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah.

Tim membawa Gempi ke Posko Satwa Terdampak Bencana Gempa dan Tsunami Palu yang berada di BKSDA Sulteng dan kemudian memindahkannya ke shelter kucing Palu ibu Ana. Di shelter ini sendiri ada sekitar 70 kucing terlantar yang dirawat ibu Ana. Kondisi shelter tak jauh berbeda dengan kondisi rumah maupun perkantoran yang ada di Palu, retak bahkan rubuh. Ibu Ana pun terpaksa memasang terpal sementara di depan rumahnya untuk sekedar menghindari panas dan hujan namun tak bertahan lama, karena saat angin berhembus kencang, terpal pun kocar-kacir.

Animals Warrior segera membagi tim yang ada, sebagian mengevakuasi satwa sitaan BKSDA Sulteng ke Menado dan yang lainnya membangun kembali shelter kucing ibu Ana. “Beruntung, sudah ada toko bangunan yang buka. Tim pun berbelanja kayu dan keperluan lainnya. Dalam dua hari, atap shelter darurat pun terpasang. Kandang-kandang pun disusun untuk lebih memudahkan perawatan.”, ujar Daniek Hendarto dengan lega. Bagaimana tidak lega, angin kencang sering berhembus di Palu dan dua hari terakhir hujan lumayan lebat. Sementara untuk memasukkan kucing-kucing ke dalam rumah, ibu Ana sendiri masih trauma karena gempa sehingga tidak berani terlalu lama berada di dalam rumah.

Terimakasih atas donasi melalui https://kitabisa.com/bantusatwapalu Tanpa bantuan semuanya mungkin akan sulit untuk langsung mewujudkan tempat yang lebih baik untuk kucing0-kucing di shelter ibu Ana.

BABY SUTAN VICTIM OF LAND CONVERSION?

This orangutan baby looks stressed. Being in a wooden box with a light hole that is a bit like adding to his fear. It got worse when the keeper bathes him on the river bank behind his house. The wound on his head seemed to dry out.

The APE Crusader team tried to approach this orangutan baby. But quickly he tried to stay away. “If it’s only been found for two months, surely he is still quite wild.”, Murmured Paulinus Kristanto. In a moment later, Paulinus carried a pile of leaves. And sure enough, this baby orangutan is swiftly piling up leaves like making nests.

The discovery of baby orangutans on plantations is nothing new. How can an orangutan baby be on a plantation without its mother, while a baby orangutan has a very close relationship with its mother until the age of 5 to 8 years.

The opening of palm oil plantations in the Mentaya Hulu sub-district, East Kotawaringin district, Central Kalimantan is not in dozens or hundreds of hectares. But tens of thousands of hectares that also occupy forests outside conservation forests. What about animals that live in it? Certainly they have to find another place or die unable to survive when the forest conversion occurs. Is there still a forest in Kotim? (EBO)

BAYI SUTAN KORBAN ALIH FUNGSI HUTAN?
Bayi orangutan ini terlihat stres. Berada di kotak kayu dengan lubang cahaya yang sedikit seperti menambah ketakutannya. Semakin bertambah saat pemeliharanya memandikannya di tepi sungai belakang rumahnya. Luka di kepalanya tampak mengering.

Tim APE Crusader berusaha mendekati bayi orangutan ini. Namun dengan cepat dia pun berusaha menjauh. “Jika baru dua bulan ditemukan, pasti dia masih cukup liar.”, gumam Paulinus Kristanto. Tak lama kemudian, Paulinus membawa setumpuk daun-daun. Dan benar saja, dengan sigap bayi orangutan ini menumpuk-numpuk dedaunan yang ada seperti membuat sarang.

Penemuan bayi orangutan di perkebunan bukanlah hal yang baru. Bagaimana mungkin bayi orangutan berada di perkebunan tanpa induknya. Sementara bayi orangutan dengan induknya mememiliki hubungan yang sangat dekat hingga usia anak 5-8 tahun.

Pembukaan perkebunan kelapa sawit di kecamatan Mentaya Hulu, kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah bukan hitungan belasan bahkan ratusan ha lagi. Tapi puluhan ribu ha yang juga menghabiskan hutan di luar hutan konservasi. Bagaimana satwa yang hidup di dalamnya? Sudah pasti harus mencari tempat lagi atau mati tak mampu bertahan saat alih fungsi terjadi. Masih adakah hutan di Kotim?

APE CRUSADER GOES TO CENTRAL KALIMANTAN TO SAVE BABY ORANGUTAN

From east to West Kalimantan, APE Crusader finally arrived in East Kotawaringin regency, Central Kalimantan. With KSDA Region II Post Sampit section, the baby orangutan finally handed over to the country after 2 months of being cared illegally.

This female baby orangutan didn’t look healthy. There was groans several times, as if she was dealing with pain. The team saw a wound on her head that had just dry out. According to Pak Ali who found the orangutan, he found her on his farm when he was about to fishing, then he took her to be kept as pet.

How the baby orangutan was found always when the baby was alone in a farm of the locals. The local who found the baby felt pity and took it home to be cared. In fact, they didn’t even know how to take care of baby orangutan. Just like this baby orangutan called Sutan. He was put in a wooden box of 50 cm x 30 cm x 30 cm. The box condition was dirty like it had never been cleaned, there was also rotten banana leftover inside the box. The box was located behind the hut not far from the bathroom on the riverside.

If you see or heard a baby orangutan found in a farm or being kept as pet by someone, please contact Call Center Ditjen KSDAE 082299351705 or contact through COP’s email on info@orangutanprotection.com or instagram @orangutan_COP.(SAR)

APE CRUSADER MENUJU KALTENG UNTUK SELAMATKAN BAYI ORANGUTAN
Dari timur Kalimantan menuju barat, APE Crusader akhirnya tiba di kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Bersama KSDA seksi wilayah II Pos Sampit, bayi orangutan akhirnya diserahkan kembali ke negara setelah dua bulan dipelihara secara ilegal.

Bayi orangutan berjenis kelamin betina ini terlihat tidak sehat. Beberapa kali terdengar rintihannya, seperti menahan sakit. Tim melihat ada luka di kepalanya dan sudah mulai mengering. Menurut pak Ali yang menemukan bayi orangutan tersebut, dia menemukannya di kebun sewaktu memancing, lalu membawanya untuk dipelihara.

Bagaimana bayi orangutan ditemukan selalu saja saat bayi sendiri di kebun atau ladang warga. Warga yang menemukan merasa kasihan dan membawanya untuk dipelihara. Pada kenyataannya, bagaimana cara merawat bayi orangutan pun tidak tahu. Seperti bayi orangutan bernama Sutan ini. Dia dimasukkan ke dalam kotak kayu berukuran 50cm x 30 cm x 30 cm. Kondisi kandang kotor karena tidak pernah dibersihkan, terdapat sisa pisang mentah bahkan busuk di dalamnya. Kandang pun terletak di belakang pondok tak jauh dari kamar mandi di sisi sungai.

Jika kamu melihat atau mendengar ada bayi orangutan yang ditemukan di ladang atau dipelihara seseorang, hubungi Call Center Ditjen KSDAE 082299351705 atau informasikan melalui email COP info@orangutanprotection.com atau Instagram @orangutan_COP

THE MASSIVE AREA OF PALM OIL PLANTATION IN EAST KALIMANTAN

Trans Borneo Challenge #1 trip on October 13 was accompanied by an endless rain. Throughout their long trip, the team realized how huge the palm oil plantations in East Kalimantan is. The switch of team members cannot be avoided. Septian, who is a COP School Batch 6 alumni, must be replaced by Reza Kurniawan from COP School Batch 5.

An illegal orangutan ownership case is still found. Unyil, a baby orangutan from Meratak Village, East Kalimantan, looked thin. Unyil was sitting in an empty cage. “This is a dilemma. A local person, Mr. Jating, cannot let Unyil starving and fright alone in the middle of his field. When he found Unyil, he brought Unyil to have cared at his house” said Ibnu Anshari, an alumnus of COP School Batch 1 who was the Team Leader of the Trans Borneo Challenge #1 trail.

Finally, after 9 days of traveling from East Java, the team arrived at the COP Borneo orangutan rehabilitation center, Berau, East Kalimantan. What a challenging and interesting journey. The team witnessed the condition of our mother earth. They listen and see the loss of orangutan habitat in East Kalimantan, that are destroyed by the enormous palm oil business. (IND)

LUASNYA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT KALIMANTAN TIMUR

Perjalanan Trans Borneo Challenge #1 pada 13 Oktober ditemani hujan tanpa henti. Sepanjang perjalanan tanpa putus perkebunan kelapa sawit membawa kami pada luasnya perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Timur ini. Pergantian personal pun tak bisa dihindari. Septian yang merupakan alumni COP School Batch 6 harus digantikan Reza Kurniawan dari COP School Batch 5.

Kepemilikan ilegal orangutan pun masih dijumpai. Orangutan Unyil dari kampung Meratak, Kalimantan Timur terlihat kurus. Unyil pun masih terduduk di kandang kosong. “Ini adalah dilema, masyarakat tak tega membiarkan Unyil sendirian di tengah ladangnya saat ditemukan pertama kali. Unyil pun dibawa untuk dipelihara. Kasihan kata pak Jating.”, ujar Ibnu Anshari, alumni COP School Batch 1 yang merupakan ketua Tim trail Trans Borneo Challenge #1.

Akhirnya, setelah 9 hari melakukan perjalanan dari Jawa Timur, tim berhasil tiba di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur. Sebuah perjalanan yang menantang dan menarik. Tim menjadi saksi kondisi ibu bumi. Mendengarkan dan melihat langsung semakin hilangnya habitat orangutan di Kalimantan Timur.

ZAENAB FROM FISHERMAN’S HOUSE ON TALISE BEACH

To ease the pain, madam Zaenab raised her arms to the chest. Her arms looked swollen. The time when she run away from tsunami at fisherman area, Talise beach, East Palu, Central Sulawesi. Her house was the last house that survived the tsunami.

Madam Zaenab went back to her house, checking on the cats that used to gather around her house. There was no time to look after them. When she run away, she fell down and her hand hurts as she came to health centre post.

Madam Zaenab, as any other mother, returned to her house while looking for the cats that used to gather around in her yard. Like madam Ana near yellow bridge at Talise beach, Palu city icon. Madam Ana, as she awakened from her sleep she asked whether she’s already dead or not. She faintly heard cat’s sound. And she realised that she’s alive. “I still heard cat’s sound that was getting clearer and louder. And I saw it approaching me. I am still alive.”, Madam Ana said.

Now, madam Ana is taking care of the cats living nearby. She said that this will be her activity. Earthquake and Tsunami that hit Talise beach has ruined houses, places to find food, and of course the life of Palu residents. Not sure how many people that are disunited. Now, they are struggling to reunite their ruined hopes. (SAR)

ZAENAB DARI RUMAH NELAYAN PANTAI TALISE
Untuk mengurangi rasa sakitnya, ibu Zaenab mengangkat tangannya sedadanya. Tangannya terlihat bengkak. Saat melarikan diri dari tsunami di daerah nelayan, pantai Talise, Palu Timur, Sulawesi Tengah. Rumahnya menjadi rumah terakhir yang selamat dari terjangan tsunami.

Ibu Zaenab kembali lagi untuk mengecek keberadaan kucing-kucing yang biasanya berkumpul di rumahnya. Tak ada waktu untuk mencari kucing-kucing itu. Saat melarikan diri, dia terjatuh dan tangannya pun terasa sakit setibanya di posko Puskesmas.

Ibu Zaenab seperti ibu-ibu lainnya di Palu, kembali ke rumahnya sembari mengecek kucing-kucing yang biasanya berkumpul di halaman rumahnya. Seperti ibu Ana di pantai Talise dekat jembatan kuning, ikon kota Palu. Ibu Ana, tersadar dari tidurnya di posko. Apakah saya sudah mati? Sayup-sayup terdengar suara kucing. Dan dia pun tersadar bahwa dia masih hidup. “Masih ku dengar suara kucing yang semakin jelas dan keras. Lalu kulihat dia mendekati ku. Masih hiduplah aku.”, kata ibu Ana lagi.

Kini ibu Ana mengurus kucing-kucing di sekitarnya, ini akan jadi kesibukanku tersendiri, begitu katanya. Gempa dan Tsunami yang menerjang pantai Talise telah memporak-porandakan rumah, tempat mencari makan dan hidup warga Palu. Entah berapa ribu orang yang tercerai-berai. Kini mereka sedang berjuang menyatukan kembali puing-puing harapannya.

THE ‘WAY BACK HOME’ BOAT IS BADLY BROKEN

The APE Defender Team has tried to survive with a leaky boat for the past 4 months. Various efforts have been made. We were patching it with adhesive glue and cloth, but the leakage appears again at the other parts.

The boat is almost two years old now.  With high usage around the orangutan island, we strongly need a new boat soon. “At midnight, we also have to check the island. It is exhausting to frequently check the water that enters the boat. If we did not remove the water from the boat, the boat will sink with the engine” said Daniel, who is in charge of all vehicles at the COP Borneo orangutan rehabilitation center.

The ‘Way Back Home’ boat is the operational vehicle for the COP Borneo orangutan island. The boat is purchased from the benefits of Sound For Orangutan music charity or often called SFO. It is the greatest gift from the hard work of Orangufriends, COP support group. This music charity will also be held on Monday, October 29, 2018 in Yogyakarta. (IND)

PERAHU ‘WAY BACK HOME’ RUSAK PARAH

Tim APE Defender mencoba bertahan dengan perahu yang bocor selama 4 bulan terakhir ini. Berbagai upaya sudah dilakukan, mulai dari menambalnya dengan lem perekat dan kain, namun muncul lagi kebocoran di bagian yang lain.

Usia perahu yang hampir dua tahun ini dengan penggunaan yang tinggi di sekitar pulau orangutan menuntut untuk segera ada perahu baru lagi. “Saat tengah malam, kami pun harus mengecek keberadaan pulau, karena kalau tidak dicek dengan menguras air yang masuk ke dalam perahu, perahu akan tenggelam bersama mesin perahu..”, ujar Daniel, penanggung jawab kendaraan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo.

Perahu ‘Way Back Home’ adalah kendaraan operasional pulau orangutan COP Borneo. Perahu yang dibeli dari keuntungan acara musik amal Sound For Orangutan atau sering disebut juga SFO merupakan kerja keras orangufriends, kelompok pendukung COP. Acara musik ini pun akan digelar Senin, 29 Oktober 2018 di Yogyakarta.

MOTHER IN BALAROA WITH HER ELEVEN CATS

Maybe this is the most touching disaster mission for our animal warrior team. The people in Palu are very welcome for the presence of volunteers who are the members of our Animals Warrior team. We saw huge efforts from the pet owner to rescue their pets, like this couple from Balaroa.

Earthquakes are a common thing, but that day it was getting more and more powerful. Finally, an earthquake with 7.4 magnitudes struck all of this regions. This mother called her cats. Lifted it up and took it outside the house. Then she and her husband left the house. This couple is living together with eleven cats. Their efforts to save their cats make the animal volunteers touched. Suwarno, a volunteer who has repeatedly been in various disasters such as Mount Kelud and Mount Agung, also promised to return to feed their cats.

The mother was the first person that return home after one day in the evacuation camp. She did that to feed her cats. “It was amazing. The mom still had time to think about feeding these cats”, said vet Siti Aminah while checking the health of those cats. 4 small cats were given wet food while the big ones were fed with wet and dry food.

Until this day, it is still very difficult to find cat food in Palu. For this reason, cat aid is needed. The handling post for animals affected by the earthquake and tsunami in Palu was at the Central Sulawesi BKSDA office, Jl. Prof. M. Yamin No. 19 Palu or contact the Animals Warrior team at 081328837434. (IND)

IBU DI BALAROA DENGAN SEBELAS KUCINGNYA

Mungkin ini adalah daerah bencana yang paling mengharukan bagi para penyelamat satwa yang selama ini menjadi relawan di tempat bencana. Masyarakat Palu yang sangat ‘welcome’ akan kehadiran para relawan satwa yang tergabung dalam tim Animals Warrior hingga usaha para pemilik hewan pelihara terhadap hewan peliharaannya. Seperti usaha sepasang suami istri dari Balaroa ini.

Gempa sudah biasa dirasakan. Hari ini semakin banyak dan semakin kuat. Hingga akhirnya gempa berkekuatan 7,4 SR mengangetkan seluruh penghuni perumnas ini. Ibu satu ini memanggil satu-satu kucing-kucingnya. Mengangkatnya dan membawanya ke luar rumah. Lalu ia dan suaminya pun keluar rumah. Sepasang suami istri ini memang hidup berdua bersama sebelas kucingnya. Usaha menyelamatkan kucing-kucingnya membuat haru para relawan satwa. Suwarno, relawan yang sudah berulang kali berada di berbagai bencana seperti gunung Kelud dan gunung Agung ini pun berjanji untuk kembali lagi mengirim pakan untuk kucing-kucing tersebut.

Si ibu adalah orang pertama yang kembali ke rumahnya yang selamat setelah seharian mengungsi. Itu dilakukannya untuk memberi makan kucing-kucingnya. “Luar biasa sekali… ibu masih sempat memikirkan mengeluarkan kucing-kucing ini.”, ujar drh. Siti Aminah sembari mengecek kesehatan kucing-kucingnya. 4 kucing kecil pun diberi pakan basah sementara yang besar diberi pakan basah dan kering.

Hingga hari ini, masih sulit sekali mencari pakan kucing di Palu, untuk itu bantuan pakan kucing sangat dibutuhkan. Posko penanganan satwa terdampak gempa dan tsunami Palu berada di kantor BKSDA Sulawesi Tengah, jl. Prof. M. Yamin No. 19 Palu atau bisa hubungi tim Animals Warrior di 081328837434.

SCHOOL VISIT AT VIDATRA JUNIOR HIGH SCHOOL

About 110 students from 7th and 8th grader at YPVDP Bontang Junior High School (Vidya Dahana Patra Education Foundation or better known as Vidatra Junior High) on Jalan Raya Badak PT. Badak LNG, gathered when our Trans Borneo Trail team visited their school on October 11, 2018.

It seems like the additional point promised by the school to their students makes the school visit very excited. Orangutans that are endemic to Borneo Island make students more focused and curious about why they are endangered. The Eyes of Earth team, who has been exploring East Kalimantan, describes the condition of the habitat of orangutans that are increasingly diminishing.

“Raising awareness at an early age is very important to understand various species of animals protected by the state. The problem faced by these animals must also be known so that the next generation can play an active role in maintaining its sustainability,” said Mr. Agung, The School Principal.

The Environmental Education Program, which is run at every school starting from elementary school, junior high school, and high school through the Adiwiyata Program, is expected to encourage students’ awareness about environment and conservation. (IND)

SCHOOL VISIT DI SMP VIDATRA
Sekitar 110 siswa kelas VII dan VIII SMP YPVDP Bontang (Yayasan Pendidikan Vidya Dahana Patra atau lebih dikenal dengan SMP Vidatra yang berada di Jalan Raya Badak, Komplek PT. Badak LNG berkumpul saat tim Trail Trans Borneo mengunjungi sekolah ini.

Sepertinya nilai tambahan yang dijanjikan pihak sekolah ke siswanya menjadikan school visit kali sangat bersemangat. Orangutan yang menjadi satwa endemik di Kalimantan membuat siswa lebih fokus dan penasaran kenapa berstatus terancam punah. Dengan epik nya tim Eyes of Earth yang sudah menelusuri Kalimantan Timur memaparkan kondisi habitat orangutan yang semakin berkurang.

“Pemahaman usia dini tentang penyadartahuan memang sangat penting untuk memahami satwa-satwa yang dilindungi oleh negara. Persoalan yang dihadapi satwa tersebut juga harus diketahui agar generasi berikutnya dapat berperan aktif menjaga kelestariannya.”, ujar bapak Agung, Wakil Kepala Sekolah.

Program Pendidikan Lingkungan Hidup yang dijalankan setiap sekolah mulai jenjang SD, SMP sampai SMA melalui program Adiwiyata diharapkan dan memupuk kepedulian siswa pada dunia konservasi lingkungan. (PETz)

BONTI IS NOT OWI’S FOLLOWER ANYMORE

Every month, the development of orangutans is evaluated. Small changes are often given by the COP Borneo team in East Kalimantan can find the right formula to deal with the rehabilitated orangutans. Like Bonti orangutan, the first semester of 2018 still showed his dependence on Owi orangutan. Therefore, in the second semester, Bonti and Owi were not in one cage anymore.

Bonti who always follows wherever Owi goes and whatever Owi does, now not anymore. As he arrived at the forest school, Bonti would immediately climbed the tree without waiting for Owi. Bonti was even more confident to play alone up in the tree. Bonti, an orangutan who has succeeded made his nest by watching Happi orangutan, increasingly shows his abilities.The nests he made is getting better and better. Even Happi became curious and often approached Bonti. And if this happens, Bonti would give in and leave because Happi occupied the nest Bonti made.

Yup… Bonti is no longer Owi’s loyal follower. Then what will Owi does without Bonti? Will Bonti be the best orangutans at the end of 2018? What are your wishes at the end of 2018? (SAR)

BONTI BUKAN FOLLOWER OWI LAGI
Setiap bulan, perkembangan orangutan dievaluasi. Perubahan-perubahan kecil pun sering diberikan agar tim yang menjalankan pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo yang berada di Kalimantan Timur ini bisa menemukan formula yang tepat untuk menghadapi setiap orangutan yang ada. Seperti orangutan Bonti yang semester pertama tahun 2018 ini masih menunjukkan ketergantungannya pada orangutan Owi. Sehingga pada semester keduanya, Bonti dan Owi tidak berada dalam satu kandang lagi.

Bonti yang selalu mengikuti kemana pun Owi pergi dan mengikuti apapun yang dilakukan Owi, kini tak lagi. Ketika sampai di sekolah hutan, Bonti akan langsung memanjat pohon tanpa menunggu Owi lagi. Bonti pun semakin percaya diri untuk bermain sendiri di atas pohon. Bonti, orangutan yang berhasil membuat sarang dengan memperhatikan orangutan Happi semakin menunjukkan kemampuannya. Sarang buatannya semakin lama semakin baik. Bahkan Happi menjadi penasaran dan sering mendekati Bonti. Kalau sudah begini, Bonti pun mengalah pergi karena Happi pun menempati sarang buatannya Bonti ini.

Ya… Bonti sudah tidak menjadi follower setianya Owi lagi. Lalu apa yang dilakukan Owi tanpa Bonti ya? Akankah Bonti menjadi orangutan terbaik di akhir tahun 2018 ini? Apakah harapanmu di akhir 2018 ini?

I LOST MY THREE-YEAR-OLD CHILD

Down to the beach which is the pride of Palu no longer gives happiness. The yellow bridge that has always been an icon and destination for visitors to Palu also leaves a grief line.

“How are you, Ma’am?” the animal volunteers greet a woman before starting their activities dealing with pets affected by the tsunami at Talise beach, Palu.
“I am fine” she answered.
“How about your family, Ma’am? Are they okay?”
“I lost my 3-year-old child”
“Do you bring cat food?” she asked again, while we were silent hearing the answer.
“Yes, Ma’am. There is it”
“There is nothing that these cats can eat anymore.”

Without waiting for her to speak again, the volunteers hugged her and she started crying. In her deep grief, she still gives love to cats who are tried hard looking for food. No more neighbors she knew. All were washed away by the tsunami. She went to the evacuation camp. Today, she is trying her luck waiting at her neighbor’s empty house, hoping a miracle to come and bring the news of her 3-year-old son.

Being an animal volunteer in disaster sites is not an easy thing. You need to be a good listener with high empathy if you want to go to the disaster site. Thanks to the Palu people. Even in difficult conditions, they are still caring for dogs and cats, sharing their love for animals without exception. (IND)

AKU KEHILANGAN ANAKKU YANG 3 TAHUN
Menyusuri pantai yang menjadi kebanggaan masyarakat Palu tak lagi memberikan kebahagiaan. Ikon jembatan kuning yang selalu menjadi tempat tujuan pengunjung kota Palu bahkan tempat berkumpulnya para penghobi mancing juga meninggalkan gurat kesedihan.

“Sehat bu?”, begitu sapa para relawan satwa sebelum memulai aktivitasnya menangani hewan peliharaan yang terdampak tsunami di pantai Talise, Palu.
“Sehat aku.”.
“Selamat semua, Bu?”.
“Anakku yang 3 tahun ngak ada.”, katanya lagi.
“Ada makanan kucing kalian bawa?’, tanya nya lagi, sementara kami terdiam mendengar jawabannya.
“Ada Bu.”.
“Kasian kucing-kucing ini tak ada yang bisa dimakannya lagi.”.

Tanpa menungu dia bicara lagi para relawan memeluknya, dan pecahlah tangisnya. Dalam dukanya yang dalam, dia masih memberi kasih pada kucing-kucing yang kebingungan mencari makanan. Tak ada lagi tetangga yang dikenalnya. Semua habis tersapu tsunami. Dia pun mengungsi, dan tadi mencoba peruntungan menunggu di rumah tetangganya yang kosong, mungkin ada keajaiban tentang kabar anaknya yang 3 tahun itu.

Menjadi relawan satwa pada bencana alam bukanlah hal yang mudah. Menjadi pendengar yang baik dengan empati yang tinggi adalah satu syarat jika kamu ingin terjun ke lokasi bencana. Terimakasih masyarakat Palu, dalam kondisi yang sulit pun, kepedulian pada anjing dan kucing tak luntur.