THE ‘WAY BACK HOME’ BOAT IS BADLY BROKEN

The APE Defender Team has tried to survive with a leaky boat for the past 4 months. Various efforts have been made. We were patching it with adhesive glue and cloth, but the leakage appears again at the other parts.

The boat is almost two years old now.  With high usage around the orangutan island, we strongly need a new boat soon. “At midnight, we also have to check the island. It is exhausting to frequently check the water that enters the boat. If we did not remove the water from the boat, the boat will sink with the engine” said Daniel, who is in charge of all vehicles at the COP Borneo orangutan rehabilitation center.

The ‘Way Back Home’ boat is the operational vehicle for the COP Borneo orangutan island. The boat is purchased from the benefits of Sound For Orangutan music charity or often called SFO. It is the greatest gift from the hard work of Orangufriends, COP support group. This music charity will also be held on Monday, October 29, 2018 in Yogyakarta. (IND)

PERAHU ‘WAY BACK HOME’ RUSAK PARAH

Tim APE Defender mencoba bertahan dengan perahu yang bocor selama 4 bulan terakhir ini. Berbagai upaya sudah dilakukan, mulai dari menambalnya dengan lem perekat dan kain, namun muncul lagi kebocoran di bagian yang lain.

Usia perahu yang hampir dua tahun ini dengan penggunaan yang tinggi di sekitar pulau orangutan menuntut untuk segera ada perahu baru lagi. “Saat tengah malam, kami pun harus mengecek keberadaan pulau, karena kalau tidak dicek dengan menguras air yang masuk ke dalam perahu, perahu akan tenggelam bersama mesin perahu..”, ujar Daniel, penanggung jawab kendaraan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo.

Perahu ‘Way Back Home’ adalah kendaraan operasional pulau orangutan COP Borneo. Perahu yang dibeli dari keuntungan acara musik amal Sound For Orangutan atau sering disebut juga SFO merupakan kerja keras orangufriends, kelompok pendukung COP. Acara musik ini pun akan digelar Senin, 29 Oktober 2018 di Yogyakarta.

MOTHER IN BALAROA WITH HER ELEVEN CATS

Maybe this is the most touching disaster mission for our animal warrior team. The people in Palu are very welcome for the presence of volunteers who are the members of our Animals Warrior team. We saw huge efforts from the pet owner to rescue their pets, like this couple from Balaroa.

Earthquakes are a common thing, but that day it was getting more and more powerful. Finally, an earthquake with 7.4 magnitudes struck all of this regions. This mother called her cats. Lifted it up and took it outside the house. Then she and her husband left the house. This couple is living together with eleven cats. Their efforts to save their cats make the animal volunteers touched. Suwarno, a volunteer who has repeatedly been in various disasters such as Mount Kelud and Mount Agung, also promised to return to feed their cats.

The mother was the first person that return home after one day in the evacuation camp. She did that to feed her cats. “It was amazing. The mom still had time to think about feeding these cats”, said vet Siti Aminah while checking the health of those cats. 4 small cats were given wet food while the big ones were fed with wet and dry food.

Until this day, it is still very difficult to find cat food in Palu. For this reason, cat aid is needed. The handling post for animals affected by the earthquake and tsunami in Palu was at the Central Sulawesi BKSDA office, Jl. Prof. M. Yamin No. 19 Palu or contact the Animals Warrior team at 081328837434. (IND)

IBU DI BALAROA DENGAN SEBELAS KUCINGNYA

Mungkin ini adalah daerah bencana yang paling mengharukan bagi para penyelamat satwa yang selama ini menjadi relawan di tempat bencana. Masyarakat Palu yang sangat ‘welcome’ akan kehadiran para relawan satwa yang tergabung dalam tim Animals Warrior hingga usaha para pemilik hewan pelihara terhadap hewan peliharaannya. Seperti usaha sepasang suami istri dari Balaroa ini.

Gempa sudah biasa dirasakan. Hari ini semakin banyak dan semakin kuat. Hingga akhirnya gempa berkekuatan 7,4 SR mengangetkan seluruh penghuni perumnas ini. Ibu satu ini memanggil satu-satu kucing-kucingnya. Mengangkatnya dan membawanya ke luar rumah. Lalu ia dan suaminya pun keluar rumah. Sepasang suami istri ini memang hidup berdua bersama sebelas kucingnya. Usaha menyelamatkan kucing-kucingnya membuat haru para relawan satwa. Suwarno, relawan yang sudah berulang kali berada di berbagai bencana seperti gunung Kelud dan gunung Agung ini pun berjanji untuk kembali lagi mengirim pakan untuk kucing-kucing tersebut.

Si ibu adalah orang pertama yang kembali ke rumahnya yang selamat setelah seharian mengungsi. Itu dilakukannya untuk memberi makan kucing-kucingnya. “Luar biasa sekali… ibu masih sempat memikirkan mengeluarkan kucing-kucing ini.”, ujar drh. Siti Aminah sembari mengecek kesehatan kucing-kucingnya. 4 kucing kecil pun diberi pakan basah sementara yang besar diberi pakan basah dan kering.

Hingga hari ini, masih sulit sekali mencari pakan kucing di Palu, untuk itu bantuan pakan kucing sangat dibutuhkan. Posko penanganan satwa terdampak gempa dan tsunami Palu berada di kantor BKSDA Sulawesi Tengah, jl. Prof. M. Yamin No. 19 Palu atau bisa hubungi tim Animals Warrior di 081328837434.

SCHOOL VISIT AT VIDATRA JUNIOR HIGH SCHOOL

About 110 students from 7th and 8th grader at YPVDP Bontang Junior High School (Vidya Dahana Patra Education Foundation or better known as Vidatra Junior High) on Jalan Raya Badak PT. Badak LNG, gathered when our Trans Borneo Trail team visited their school on October 11, 2018.

It seems like the additional point promised by the school to their students makes the school visit very excited. Orangutans that are endemic to Borneo Island make students more focused and curious about why they are endangered. The Eyes of Earth team, who has been exploring East Kalimantan, describes the condition of the habitat of orangutans that are increasingly diminishing.

“Raising awareness at an early age is very important to understand various species of animals protected by the state. The problem faced by these animals must also be known so that the next generation can play an active role in maintaining its sustainability,” said Mr. Agung, The School Principal.

The Environmental Education Program, which is run at every school starting from elementary school, junior high school, and high school through the Adiwiyata Program, is expected to encourage students’ awareness about environment and conservation. (IND)

SCHOOL VISIT DI SMP VIDATRA
Sekitar 110 siswa kelas VII dan VIII SMP YPVDP Bontang (Yayasan Pendidikan Vidya Dahana Patra atau lebih dikenal dengan SMP Vidatra yang berada di Jalan Raya Badak, Komplek PT. Badak LNG berkumpul saat tim Trail Trans Borneo mengunjungi sekolah ini.

Sepertinya nilai tambahan yang dijanjikan pihak sekolah ke siswanya menjadikan school visit kali sangat bersemangat. Orangutan yang menjadi satwa endemik di Kalimantan membuat siswa lebih fokus dan penasaran kenapa berstatus terancam punah. Dengan epik nya tim Eyes of Earth yang sudah menelusuri Kalimantan Timur memaparkan kondisi habitat orangutan yang semakin berkurang.

“Pemahaman usia dini tentang penyadartahuan memang sangat penting untuk memahami satwa-satwa yang dilindungi oleh negara. Persoalan yang dihadapi satwa tersebut juga harus diketahui agar generasi berikutnya dapat berperan aktif menjaga kelestariannya.”, ujar bapak Agung, Wakil Kepala Sekolah.

Program Pendidikan Lingkungan Hidup yang dijalankan setiap sekolah mulai jenjang SD, SMP sampai SMA melalui program Adiwiyata diharapkan dan memupuk kepedulian siswa pada dunia konservasi lingkungan. (PETz)

BONTI IS NOT OWI’S FOLLOWER ANYMORE

Every month, the development of orangutans is evaluated. Small changes are often given by the COP Borneo team in East Kalimantan can find the right formula to deal with the rehabilitated orangutans. Like Bonti orangutan, the first semester of 2018 still showed his dependence on Owi orangutan. Therefore, in the second semester, Bonti and Owi were not in one cage anymore.

Bonti who always follows wherever Owi goes and whatever Owi does, now not anymore. As he arrived at the forest school, Bonti would immediately climbed the tree without waiting for Owi. Bonti was even more confident to play alone up in the tree. Bonti, an orangutan who has succeeded made his nest by watching Happi orangutan, increasingly shows his abilities.The nests he made is getting better and better. Even Happi became curious and often approached Bonti. And if this happens, Bonti would give in and leave because Happi occupied the nest Bonti made.

Yup… Bonti is no longer Owi’s loyal follower. Then what will Owi does without Bonti? Will Bonti be the best orangutans at the end of 2018? What are your wishes at the end of 2018? (SAR)

BONTI BUKAN FOLLOWER OWI LAGI
Setiap bulan, perkembangan orangutan dievaluasi. Perubahan-perubahan kecil pun sering diberikan agar tim yang menjalankan pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo yang berada di Kalimantan Timur ini bisa menemukan formula yang tepat untuk menghadapi setiap orangutan yang ada. Seperti orangutan Bonti yang semester pertama tahun 2018 ini masih menunjukkan ketergantungannya pada orangutan Owi. Sehingga pada semester keduanya, Bonti dan Owi tidak berada dalam satu kandang lagi.

Bonti yang selalu mengikuti kemana pun Owi pergi dan mengikuti apapun yang dilakukan Owi, kini tak lagi. Ketika sampai di sekolah hutan, Bonti akan langsung memanjat pohon tanpa menunggu Owi lagi. Bonti pun semakin percaya diri untuk bermain sendiri di atas pohon. Bonti, orangutan yang berhasil membuat sarang dengan memperhatikan orangutan Happi semakin menunjukkan kemampuannya. Sarang buatannya semakin lama semakin baik. Bahkan Happi menjadi penasaran dan sering mendekati Bonti. Kalau sudah begini, Bonti pun mengalah pergi karena Happi pun menempati sarang buatannya Bonti ini.

Ya… Bonti sudah tidak menjadi follower setianya Owi lagi. Lalu apa yang dilakukan Owi tanpa Bonti ya? Akankah Bonti menjadi orangutan terbaik di akhir tahun 2018 ini? Apakah harapanmu di akhir 2018 ini?

I LOST MY THREE-YEAR-OLD CHILD

Down to the beach which is the pride of Palu no longer gives happiness. The yellow bridge that has always been an icon and destination for visitors to Palu also leaves a grief line.

“How are you, Ma’am?” the animal volunteers greet a woman before starting their activities dealing with pets affected by the tsunami at Talise beach, Palu.
“I am fine” she answered.
“How about your family, Ma’am? Are they okay?”
“I lost my 3-year-old child”
“Do you bring cat food?” she asked again, while we were silent hearing the answer.
“Yes, Ma’am. There is it”
“There is nothing that these cats can eat anymore.”

Without waiting for her to speak again, the volunteers hugged her and she started crying. In her deep grief, she still gives love to cats who are tried hard looking for food. No more neighbors she knew. All were washed away by the tsunami. She went to the evacuation camp. Today, she is trying her luck waiting at her neighbor’s empty house, hoping a miracle to come and bring the news of her 3-year-old son.

Being an animal volunteer in disaster sites is not an easy thing. You need to be a good listener with high empathy if you want to go to the disaster site. Thanks to the Palu people. Even in difficult conditions, they are still caring for dogs and cats, sharing their love for animals without exception. (IND)

AKU KEHILANGAN ANAKKU YANG 3 TAHUN
Menyusuri pantai yang menjadi kebanggaan masyarakat Palu tak lagi memberikan kebahagiaan. Ikon jembatan kuning yang selalu menjadi tempat tujuan pengunjung kota Palu bahkan tempat berkumpulnya para penghobi mancing juga meninggalkan gurat kesedihan.

“Sehat bu?”, begitu sapa para relawan satwa sebelum memulai aktivitasnya menangani hewan peliharaan yang terdampak tsunami di pantai Talise, Palu.
“Sehat aku.”.
“Selamat semua, Bu?”.
“Anakku yang 3 tahun ngak ada.”, katanya lagi.
“Ada makanan kucing kalian bawa?’, tanya nya lagi, sementara kami terdiam mendengar jawabannya.
“Ada Bu.”.
“Kasian kucing-kucing ini tak ada yang bisa dimakannya lagi.”.

Tanpa menungu dia bicara lagi para relawan memeluknya, dan pecahlah tangisnya. Dalam dukanya yang dalam, dia masih memberi kasih pada kucing-kucing yang kebingungan mencari makanan. Tak ada lagi tetangga yang dikenalnya. Semua habis tersapu tsunami. Dia pun mengungsi, dan tadi mencoba peruntungan menunggu di rumah tetangganya yang kosong, mungkin ada keajaiban tentang kabar anaknya yang 3 tahun itu.

Menjadi relawan satwa pada bencana alam bukanlah hal yang mudah. Menjadi pendengar yang baik dengan empati yang tinggi adalah satu syarat jika kamu ingin terjun ke lokasi bencana. Terimakasih masyarakat Palu, dalam kondisi yang sulit pun, kepedulian pada anjing dan kucing tak luntur.

ANNIE THE PICKY ONE

Wow, this is Annie. Orangutan who has only been 5 months in the forest school class. Annie is a picky orangutan, including in choosing the person who is going to be his keeper when the forest school class takes place. If jhonny is going to carry him to the school, Annie immediately approaches and hugs Jhonny. But if it’s not Jhonny, Annie would rather stay in the cage, pretend not to see and be cool with himself.

“This also what convinced the animal keepers who are local people that orangutans are unique individuals.”, said Wety Rupiana, COP Borneo manager, an orangutan rehabilitation centre founded by Indonesian young generation.

The character of each orangutan is a separate record in the centre. This will facilitate the handling of orangutans while in forest school classes. Annie was also recorded as the best orangutan in climbing trees and exploring the forest after Bonti orangutan in the last three months. “A very good development!”, said Reza Kurniawan, COP primate anthropologist, while reading the quarterly reports of orangutans. (SAR)

ANNIE SI PEMILIH
Wow, ini dia Annie. Orangutan yang baru lima bulan di kelas sekolah hutan. Annie adalah orangutan yang pemilih, termasuk memilih orang yang menjadi keepernya saat kelas sekolah hutan berlangsung. Jika Jhonny yang akan menggendongnya ke hutan, Annie langsung mendekat dan mameluk Jhonny. Namun jika bukan Jhonny, Annie seperti memilih tetap berada di kandang saja. Pura-pura tidak melihat dan asik dengan dirinya sendiri.

“Ini pula yang menyakinkan para animal keeper yang merupakan orang lokal bahwa setiap orangutan adalah individu yang unik.”, ujar Wety Rupiana, manajer COP Borneo, pusat rehabilitasi orangutan yang didirikan putra-putri Indonesia ini.

Karakter setiap orangutan menjadi catatan tersendiri di pusat rehabilitasi. Ini akan mempermudah penanganan orangutan saat berada di kelas sekolah hutan. Annie juga tercatat sebagai orangutan terbaik dalam memanjat pohon dan menjelajah hutan setelah orangutan Bonti dalam tiga bulan terakhir ini. “Suatu perkembangan yang sangat baik!”, ujar Reza Kurniawan, antropolog primata COP saat membaca laporan tiga bulanan orangutan.

BACK TO PETOBO BECAUSE OF HER SMALL CAT

A mother with her third-grade elementary school child is putting in pieces of wood. There is a small cat who follows her into her yard. “Can we feed the cat, Ma’am?” said Ami while squatting and stroking the little cat. “Oh… you guys from cat lovers, right? Yes, you can. I haven’t feed him since I left him. I brought food from the evacuation camp but he didn’t want it.”

The little cat hid behind the mother. “Just put the food in the place to eat. That… there. ” Ami also started the conversation, asking how the mother was. Her family survived, but the furniture in her house was broken. They left the house and followed the other residents to the evacuation camp. The devastating earthquake at September 28 was very traumatic to them. At that time, she only had limited time to run away, so she only took her children and left the cat at the house.

When she arrived at the evacuation camp, she realized her beloved cat was left behind. Three days in evacuation made her even more uneasy. Finally, she came home and found her cat still on the porch of the house. She plans to bring her cat to the camp.

In the midst of the trauma of the refugees, not only this mother who returned to her home because worrying of her beloved cat. Your help through https://kitabisa.com/bantusatwapalu will keep being distributed until the situation gets better. (IND)

KEMBALI KE PETOBO KARENA KUCING KECILNYA
Seorang ibu dengan anaknya yang kelas 3 SD sedang memasukkan potongan kayu. Ada kucing kecil yang mengikutinya bolak-balik masuk ke pekarangannya. “Boleh kasih makan kucing ya Bu…”, sapa Ami sambil jongkong dan mengelus kucing kecil. “O… kalian dari pecinta kucing ya? Kasih saja, sejak ku tinggal belum makan dia. Tadi kubawakan makanan dari posko, ngak mau dia.”.

Kucing kecil itu pun bersembunyi di balik si ibu. “Taruh saja di tempat makannya. Itu… di situ.”. Ami pun memulai perbincangan, dengan menanyakan kabar si Ibu. Mereka sekeluarga selamat, namun perabotan di rumahnya pecah semuanya. Mereka meninggalkan rumah dan mengikuti warga lain untuk ke posko. Gempa maha dahsyat 28 September itu pun menjadi trauma tersendiri. Saat itu tak terpikir olehnya untuk membawa apapun, kecuali anak-anaknya dan keluarga kecilnya.

Sesampai di Posko Pengungsian, baru dia tersadar, kucing kesayangan anaknya tertinggal. Tiga hari di pengungsian membuatnya semakin tidak tenang. Akhirnya dia pulang dan menemukan kucingnya masih di teras rumah. Dia pun berencana membawa kucingnya ke tempat pengungsian.

Di tengah trauma para pengungsi, tak cuman ibu dengan tiga anak ini yang kembali ke rumahnya karena terpikir nasib kucing kesayangan anaknya. Bantuan kamu lewat https://kitabisa.com/bantusatwapalu akan terus kami distribusikan hingga keadaan semakin membaik.

PATIENCE IS BITTER, BUT ITS FRUIT IS SWEET

I always believe in my parents’ advice, that people who are patient are always loved by God and I believe God loves Popi very much.

Who would have thought that baby orangutan who used to cry and sleep in a forest school had become a new pride for us at the COP Borneo orangutan rehabilitation center? A baby orangutan who used to be choked when she drank milk and picky foods is now very smart to find food in the forest. A baby who used to not be able to climb trees is now agile to move trees through the hanging roots. A baby who had never been able to escape from her babysitter now look more independent.

In her 2 years, Popi showed her quality. All mother must be happy and proud to see the achievements of her child. My tears flowed on my own when I watched Popi climb a tall tree and eat the forest fruits that she found.

My presence at the forest school was no longer what Popi was waiting for. When she saw me coming she would only pay attention to me from above, so she would never want to come down from the tree. From her gaze, it seems like she whispered “Mother, I am big now. I dare to climb and swing on trees. Today I find flowers that taste very good.”

There was a sense of sadness in my heart and also an extraordinary sense of pride, and it felt like there was now a relief feeling. Patience in taking care of Popi now become sweet, no longer need to worry about Popi. She’s a great baby orangutan and every month her forest school report makes me proud. (IND)

KESABARAN ITU BERBUAH MANIS
Saya selalu percaya dengan nasehat orangtua saya, bahwa orang yang sabar selalu disayang Tuhan dan saya percaya Tuhan sangat menyayangi Popi.

Siapa sangka bayi orangutan yang dulu sering menangis dan tidur di sekolah hutan kini menjadi kebanggaan baru bagi kami di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Bayi orangutan yang dulu sering kesedak saat minum susu dan pilih-pilih makanan kini sangat pintar mencari makan di hutan. Bayi yang dulu tidak bisa memanjat pohon kini telah lincah berpindah pohon melalui akar-akar yang bergelantungan. Bayi yang dulu tidak pernah bisa lepas dari babysitter nya kini terlihat semakin mandiri.

Diusianya yang menginjak 2 tahun ini, Popi menunjukkan kualitas dirinya. Ibu mana yang tidak haru dan berbangga hati melihat prestasi yang diraih oleh anaknya. Air mata saya mengalir dengan sendirinya ketika menyaksikan Popi memanjat pohon tinggi dan asik makan buah hutan yang ditemukannya.

Kehadiran saya di lokasi sekolah hutan bukan lagi hal yang ditunggu oleh Popi. Ketika dia melihat saya datang dia hanya akan memperhatikan saya dari atas, dipanggil pun dia tidak akan pernah mau turun dari pohon. Dari tatapannya saya bisa artikan “Ibu, aku sudah besar sekarang. Aku sudah berani memanjat dan berpindah pohon. Hari ini aku menemukan bunga yang sangat enak rasanya.”

Ada rasa sedih dalam hati saya dan juga rasa bangga yang luar biasa, dan rasanya sekarang ada perasaan lega dalam diri saya. Kesabaran dalam merawat Popi kini berbuah manis, sudah tidak perlu lagi sekarang mengkhawatirkan Popi. Dia bayi orangutan yang hebat dan setiap bulan laporan sekolah hutannya membuat saya bangga. (WET)

WHO IS COP AND WHAT IS ORANGUFRIENDS?

* If you watch Animal Planet, National Geographic or Discovery Channel, even though the contents are Indonesian nature and wildlife but how come it is occupied by foreigner? This is weird, why the wildlife of Indonesia is handled by foreigner? Where are Indonesian people?
* Then there is a kind of opinion that evolves in the communities that foreigner cares, and Indonesian doesn’t. And the perception that it is normal is also evolving.
* Departing from such reality, some Indonesian youths are determined to prove that we can do what foreigner does. Proving that Indonesian youths are capable to manage Indonesian wildlife and wild nature themselves. Then, they founded COP.

* Why orang-utans? Because Panda is identical to China and Elephants are identical to Thailand. Well then, we just take the orangutan. After all, this is the only great ape in Asia. Only in Indonesia and a few in Malaysia. And this is a bit ironic that Malaysia, which has fewer orangutans, is more popular as nature conservation destination to see orang-utans. Indonesia that has orang-utans but Malaysia that grabs billion of dollars from orangutan tourism. So, let’s grab that reputation!

* Another reason why orangutans is communication strategy. This is the entry point to something bigger, namely: Animal – People – Environment. If we use Snake Protection, it will be difficult because people will be afraid from the start, won’t they? And in fact, working in orangutan conservation is a strategic and intelligent step to protect other types of wildlife. Which also has direct impacts on the local community and its environment.

* Well, what about Orangufriends? COP realises that this is a considerable work that is not possible to be done by few people. Nature conservation should be a mass movement, become a part of Indonesia social responsibility and lifestyle. Because of that, COP formed a support group to become a member of Orangufriends.

* It is easy. Don’t have to take a hard training like nature-lovers club does. No punishments, no push-ups, etc. Why make it difficult to care? So, to become Orangufriends member you just have to fill the forms and pay contribution, also agree to obey values of conservationist, such as not hunting/poaching wild animals, not making pet of wild animals or sell them. After becoming member, it is also easy to participate. For those who doesn’t have much time, you can just ‘like, comment, and share’ on social media. We call them Cyber Campaigner. In the current era of New Media, their stregth becomes a decisive factor in winning or losing the opinion war against the perpetrators of crime and cruelty to animals. Those who have much time can also help in education and awareness activities directly, such as exhibitions, school visit, music events or festivals. Those who are dare and crazy enough are welcome to spend time being members of Rescue, Rehab, and Release team or Law Enforcement team.

*Orangufriends is also a great place for self-development for youth. Learn many things from each other from various regions and various countries. Opportunities to travel in various assignments. No more story of unemployed after graduating because of no life-skill and connections/networking.

* For those who are serious to learn deeper, COP also educates a new generation of wildlife protectors since 2011. Commonly called COP School. This is a training and indoctrination program designed specifically for young people who want to work in nature conservation world. Only 35 students a year, get a scholarship and certainly, there is an entry selection.

* If you are already a member of Orangufriends or have graduated from COP School, what activities will you do? Read again the explanation above hehehe. But for sure, this makes us different from other young people who can only take a selfie and write ‘My Trip My Adventure’ caption, It’s about real work as a member of style – funky – global team. (SAR)

SIAPA COP dan APA ITU ORANGUFRIENDS?
* Jika kalian menonton Animal Planet, National Geographic atau Discovery Channel, meskipun isi acaranya satwa liar dan alam Indonesia tapi kok isinya orang asing? Ini aneh, kenapa satwa liar dan alam liar di Indonesia tapi yang menanganinya kok orang – orang asing? Ke manakah anak – anak bangsa Indonesia?
* Lalu ada semacam opini yang berkembang di masyarakat bahwa orang bule itu peduli, kalau orang Indonesia tidak. Lalu berkembang pula persepsi bahwa itu memang sudah sewajarnya.
* Berangkat dari realitas semacam itu, beberapa anak bangsa Indonesia bertekad untuk membuktikan bahwa kita bisa. Membuktikan bahwa anak bangsa Indonesia mampu mengelola satwa liar dan alam liar sendiri. Lalu mereka mendirikan COP.

* Mengapa orangutan? Karena mau pakai Panda sudah telanjur identik dengan China. Mau Gajah sudah telanjur identik dengan Thailand. Ya sudah, kita pakai Orangutan aja. Lagipula ini satu – satunya kera besar di Asia. Hanya ada di Indonesia dan sedikit di Malaysia. Lagipula, ini sedikit ironis sebenarnya. Malaysia yang punya sedikit orangutan malah lebih ngetop sebagai tujuan wisata konservasi alam untuk melihat orangutan daripada Indonesia. Indonesia yang punya orangutan tapi Malaysia yang panen milyaran dolar dari wisata orangutan. Jadi, mari kita rebut reputasi itu.

* Alasan lain kenapa orangutan adalah strategi komunikasi saja. Ini hanya entry point untuk sesuatu yang lebih besar, yakni: Animal – People – Enviroment. Kalau kita pakai perlindungan ular, akan sangat sulit karena orang sudah merasa takut duluan. Ya kan? Dan pada kenyataannya, kerja konservasi orangutan ini ternyata langkah strategis dan cerdas untuk melindungi jenis satwa liar lainnya. Yangmana jika kita telusuri juga berdampak langsung pada masyarakat setempat dan lingkungannya.

* Nah, bagaimana dengan Orangufriends? COP sadar bahwa ini adalah kerja besar yang tidak mungkin dilakukan oleh segelintir orang. Sudah seharusnya konservasi alam menjadi gerakan massa. Menjadi bagian dari tanggung sosial masyarakat Indonesia dan gaya hidup. Karena itu COP membentuk kelompok pendukung untuk menjadi anggota Orangufriends.

* Caranya mudah. Tidak harus mengikuti pendidikan yang keras seperti kelompok pecinta alam. Tidak ada hukuman tidak ada push up dll. Mau peduli aja kok susah. Jadi, untuk jadi anggota Orangufriends cukup dengan isi Fomulir anggota dan bayar iuran, serta sepakat untuk mentaati nilai – nilai yang patut bagi konservasionis, misalnya tidak berburu satwa liar, tidak memelihara atau jual beli. Setelah jadi anggota juga mudah untuk berpartisipasi. Yang tidak punya waktu cukup like, comment dan share di medsos. Kami mengebutnya dengan Cyber Campaigner. Di era New Media saat ini, kekuatan mereka menjadi faktor penentu kalah menangnya perang opini melawan pelaku kejahatan dan kekejaman terhadap satwa. Yang punya banyak waktu juga bisa membantu secara langsung dalam kegiatan pendidikan dan penyadaran seperti pameran, kunjungan ke sekolah, event – event musik atau festival. Yang gila dan nekat bisa menghabiskan waktu dengan jadi anggota tim Rescue Rehab Release atau anggota tim penegakan hukum.

* Orangufriends juga wahana yang bagus untuk mengembangkan diri bagi anak – anak muda. Belajar banyak dari yang lain dari berbagai daerah dan berbagai negara. Berkesempatan bepergian dalam berbagai penugasan. Gak ada lagi ceritanya lulus kuliah menganggur karena tidak punya life skill dan jaringan kerja / koneksi.

* Bagi kalian yang serius ingin belajar lebih dalam, COP juga mendidik generasi baru para pelindung satwa liar sejak tahun 2011. Biasa disebut COP School. Ini adalah program pelatihan dan indoktrinasi yang dirancang khusus bagi anak muda yang ingin berkarier di dunia konservasi alam. Hanya 35 orang pertahun, dapat beasiswa dan pastinya ada seleksi masuknya.

* Kalau sudah jadi anggota Orangufriends atau lulus COP School, lalu kegiatannya apa? Baca lagi penjelasan di atas hehehe. Tapi, yang pasti, ini membuat kita beda dengan anak muda lainnnya yang cuma bisa selfie dan bikin caption My Trip My Adventure. Ini tentang kerja nyata sebagai anggota tim yang gaya – gaul – global. (BAK)

HELP ANIMALS IN BKSDA CENTRAL SULAWESI

Today the Animals Warrior team went to Palu, to the office of BKSDA Central Sulawesi. The area around their office is still paralyzed by the earthquake that occurred on September 28, 2018. At the BKSDA office, there is 1 crocodile, 1 eagle, 2 Moluccan cockatoos, 2 yellow-crested cockatoos, 5 black head parrots, 1 parrot, and 2 maleo birds. These animals are confiscated by the BKSDA Central Sulawesi.

Since the earthquake occurred, the animals were in cages without eating or drinking because all of the BKSDA staff were affected by the disaster. This morning, the team communicated briefly with the keeper and offered temporary maintenance there. The team also provided fresh fruit and corn to feed the animals, and luckily the fruit market return to open. Don’t forget drinking water for these animals. These are all the activities that will be carried out during disaster response.

Center for Orangutan Protection with Animals Indonesia made BKSDA Central Sulawesi office as a rescue post. For those of you who care about animals in Palu can show your support by sending animal food to Jl. Prof. M. Yamin No. 19 Palu 94121 or click https://kitabisa.com/bantusatwapalu

BANTU SATWA GEMPA DI BKSDA SULTENG
Hari ini tim Animals Warrior yang terjun ke Palu datang ke kantor BKSDA Sulawesi Tengah. Daerah sekitar kantornya masih lumpuh karena gempa yang terjadi 28 September 2018 ini. Di kantor BKSDA terdapat 1 buaya, 1 elang, 2 kakatua molucencis, 2 kakatua jambul kuning, 5 nuri kepala hitam, 1 bayan dan 2 burung maleo. Satwa-satwa tersebut merupakan sitaan BKSDA Sulteng.

Sejak gempa terjadi, meraka yang di kandang tanpa makan dan minuman karena semua staf BKSDA Sulteng terdampak bencana ini. Pagi tadi, tim berkomunikasi singkat dengan penjaga dan menawarkan pemeliharaan sementara di sana. Tim pun memberikan pakan buah segar dan jangung yang kebetulan sekali sudah ada penjual buah yang berjualan. Tak lupa air minum untuk satwa-satwa tersebut. Ini merupakan kegiatan yang akan dilakukan selama tanggap bencana.

Centre for Orangutan Protection bersama Animals Indonesia menjadikan tempat di BKSDA Sulteng sebagai posko dan tinggal tim. Bagi kamu yang peduli satwa di Palu bisa mengirimkan bantuan berupa pakan satwa ke Jl. Prof M. Yamin No 19 Palu 94121 atau klik https://kitabisa.com/bantusatwapalu