THE BEST NEWS FROM JOJO

Jojo is an orangutan rescued by the Center for Orangutan Protection in April 2018. During the last five months, Jojo has also undergone a rehabilitation center curriculum. Orangutan Jojo was unable to follow the routine of forest school like other orangutan babies because the results of the medical checkup found that Jojo suffered from hepatitis B.

COP Medical Team conducted another test through PCR. The result showed that hepatitis suffered by Jojo is an orangutan strain and Jojo was declared able to join other baby orangutans. “Really, this is very encouraging news,” said Wety Rupiana.

September 28 this will be a history for Jojo and us. Jojo underwent forest school for the first time. Jojo orangutan looks very stiff when he met another baby orangutan. Jojo looks like he is still adapting to our forest school environment. Let’s help COP Borneo take care of Jojo through https://kitabisa.com/orangindo4orangutan and look forward to the next Jojo story. (IND)

BERITA TERBAIK DARI JOJO
Jojo, adalah orangutan yang diselamatkan oleh Centre for Orangutan Protection pada bulan April 2018. Selama lima bulan terakhir ini, Jojo pun menjalani kurikulum pusat rehabilitasi. Orangutan Jojo tidak dapat mengikuti rutinitas sekolah hutan seperti bayi orangutan lainnya karena dari hasil MCU, Jojo menderita penyakit hepatitis B.

Tim Medis COP kembali melakukan pengujian melalui PCR dan hasilnya, hepatitis yang diderita oleh orangutan Jojoadalah strain orangutan dan Jojo dinyatakan bisa bergabung dengan bayi orangutan lainnya. “Sungguh, ini adalah berita yang sangat menggembirakan.”, ujar Wety Rupiana.

28 September ini akan menjadi sejarah bagi kami untuk Jojo. Jojo menjalani sekolah hutan untuk pertama kalinya. Orangutan Jojo terlihat sangat kaku waktu bertemu dengan bayi orangutan lainnya. Jojo terlihat masih beradaptasi dengan lingkungan sekolah hutannya ini. Yuk bantu COP Borneo merawat Jojo melalui https://kitabisa.com/orangindo4orangutan dan nantikan cerita Jojo selanjutnya. (WET)

HELP ANIMAL VICTIMS IN PALU

The city of Palu and several surrounding cities are totally paralysed by the earthquake and tsunami. The number of human victims has reached more than 800 people. Humanitarian assistance continues to come. Even so, is there anyone help pets and livestock victims?

As usual, Animals Indonesia with the support from COP are sending the Animals Warrior team to help displaced animals in disaster-affected areas such at Mount Merapi – Yogya, Mount Kelud Malang – Kediri, Mount Sinabung – North Sumatra, Mount Agung – Bali, and others. This team will rescue, take care, and reunite animals with their owners, including taking care of animals that have already dead.

The help from all of animal lovers is pretty much needed so the team can work well and help animals as many as possible. You can help through https://kitabisa.com/bantusatwapalu or directly to Centre for Orangutan Protection account no. 0137088800 (BNI NI DJA) by adding 9 at the final nominal, we can immediately confirm it is a donation to Palu animals. (SAR)

BANTU SATWA PALU
Kota Palu dan beberapa kota sekitarnya lumpuh total karena dihentak gempa bumi dan tsunami. Jumlah korban manusia sudah mencapai 800an lebih. Bantuan kemanusian terus mengalir. Namun demikian, adakah yang membantu korban satwa kesayangan dan ternak? 

Animals Indonesia dengan dukungan dari COP seperti biasa menerjunkan tim Animals Warrior untuk menolong satwa yang telantar di kawasan – kawasan terdampak bencana seperti di gunung Merapi-Yogya, gunung Kelud Malang – Kediri, gunung Sinabung – Sumatra Utara, gunung Agung – Bali dan lain – lain. Tim ini akan menyelamatkan, merawat dan mempertemukan kembali satwa ke pemiliknya. Termasuk mengurus satwa yang sudah telanjur tewas. 

Mohon bantuan anda semua para pecinta binatang agar tim ini dapat bekerja dengan baik dan menolong sebanyak mungkin satwa. Melalui https://kitabisa.com/bantusatwapalu atau langsung ke nomer rekening Centre for Orangutan Protection 0137088800 (BNI NI DJA) dengan menambahkan nominal akhir 9 agar kami segera dapat mengkonfirmasi itu merupakan sumbangan untuk satwa Palu.

LOOKING FORWARD TO THE EFFICACY OF PALM OIL PLANTATION MORATORIUM IN THE NEW PRESIDENTIAL INSTRUCTION

September 19, 2018, the President of the Republic of Indonesia has signed Presidential Instruction (INPRES) Number 8/2018 about The Postponement and Evaluation of Licensing and Productivity Improvement of Palm Oil Plantations. The government emphasized this temporary suspension for three years period.

The moratorium on palm oil plantation aims to organize, foster and regulate permits in forest areas, rejuvenate palm oil to be more productive, also develop the quality and quantity in the downstream. For this reason, it is necessary for the government to improve their surveillance in collecting and verifying data of the Location Permit and Plantation Business Permit or Plantation Business Registration Certificate. The government also has to emphasize the transparency process so that public participation in this INPRES is fair for the people, the environment and the restoration of its ecosystem.

The Center for Orangutan Protection welcomed positively the Presidential Instruction on the Palm Oil Plantation Moratorium. “Moratorium on palm oil plantation licenses for the next three years must be a time to evaluate the activities of palm oil plantations in Indonesia, ranging from licensing, handling social and wildlife conflicts that are already underway. But it must also be noted that this INPRES is only intended for forest areas, then the status outside the forest area is still questioned,” said Ramadhani, COP’s Orangutan and Habitat Protection manager.

Three years is a very short time for a moratorium. Let’s support the government to not just evaluate, but also encourage the law enforcement for the use of forest areas for palm oil plantations. (IND)

MENANTIKAN TAJAMNYA INPRES MORATORIUM PERKEBUNAN SAWIT
19 September 2018, Presiden RI telah menandatangani Inpres Nomor 8/2018 tentang Penundaan dan Evaluasi Perizinan serta Peningkatan Produktivitas Perkebunan Sawit. Pemerintah menengaskan penghentian sementara ini selama masa tiga tahun.

Moratorium Perkebunan Sawit bertujuan untuk menata, membina serta menertibkan perizinan di kawasan hutan, peremajaan kelapa sawit untuk lebih produktif dan mengembangkan hilirisasi. Untuk itu diperlukan perbaikan pemerintah pada pengumpulan dan verifikasi atas data dan peta Izin Lokasi dan Izin Usaha Perkebunan atau Surat Tanda Daftar Usaha Perkebunan untuk lebih menekankan proses keterbukaan sehingga partisipasi publik pada Inpres ini dipandang hal yang berkeadilan bagi rakyat dan lingkungan hidup serta pemulihan ekosistemnya.

Centre for Orangutan Protection menyambut positif Inpres Moratorium Perkebunan Sawit ini. “Moratorium izin perkebunan kelapa sawit untuk tiga tahun ke depan harus menjadi saat untuk mengevaluasi kegiatan perkebunan kelapa sawit di Indonesia, mulai dari perizinan, penanganan konflik sosial dan satwa liar hingga perkebunan yang sudah berjalan. Namun juga harus diperhatikan bahwa Inpres ini diperuntukkan untuk kawasan hutan, lalu bagaimana yang statusnya di luar kawasan hutan yang mana persoalannya sama.”, ujar Ramadhani, manajer Perlindungan Orangutan dan Habitat COP.

Waktu tiga tahun adalah waktu yang sangat singkat untuk sebuah moratorium. Mari kita dukung pemerintah untuk tak sekedar evaluasi, tapi juga penegakan hukum atas penggunaan kawasan hutan untuk perkebunan kelapa sawit.

GIVING DAY FOR APES 2018

Time passes so quickly. We will celebrate the Giving Day for Apes again on September 25, 2018. Centre for Orangutan Protection really needs your help! Let’s celebrate the day by supporting the release of four orangutans that each of them has unique background story. Those who lived in zoo, toilet and lost his mother by the reason of palm oil plantation.

How do we easily remember the success of our life? Simply by donating to Giving Day for Apes. For those of you who celebrate birthdays or want to give presents for your loved ones, you can do it by donating to COP on Giving Day 2018. Of course, the orangtans of COP Borneo will be gladly accept it.

Let’s get to know the four orangutan release candidate this year. Do you remember Novi? Novi was first found, malnourished in a space underneath a house with a chain tied around her neck. The chain, which for five years tortured her day and night still leaves a scar. Her only friend at that time was the poacher’s dog. After rehabilitation process, Novi will be release back to his habitat.

Next month, the orangutan from the zoo will go toward the freedom. Untung, the lucky one, even with imperfect fingers, can still climb trees and move like other normal orang-utans. Of course, his disablity doesn’t prevent him to be one of the release candidates this year. After going through a series of medical examination, Untung was declared clean from infectious diseases.

Unyil, the orangutan that is very famous because finally he can live normally, not in the bathroom (toilet) like before. The rescue action was very dramatic because his birthday celebration as Valentino Unyil Ngau had just taken place. The keeper of Until finally gave him to be rehabilitated. His hair was just straightened, and made the rescue team wonder, what was wrong with Unyil’s hair.

One more heartbreaking story come from Leci. Leci was found in a fruit garden near palm oil plantation in Kebon Agung village, Sangatta, East Kalimantan. Alone without his mother. Leci was very wild, even he bit one of the rescue team member. He looked nervous in the cage, until the team close it so that he felt more calm. Given leaves and twigs was immediately greeted by arranging it into nests.

So would you help the four orangutans? https://givingdayforapes.mightycause.com/organization/Center-For-Orangutan-Protection They supposed to be in their habitat, living without any human intervention and develop their role as reliable natural reforestation agent. (SAR)

Waktu berlalu dengan cepatnya. Kita akan merayakan Giving Day for Apes lagi pada 25 September 2018 ini. Centre for Orangutan Protection sangat membutuhkan bantuan anda. Mari rayakan hari ini dengan mendukung pelepasliaran empat orangutan COP Borneo dengan latar belakang yang unik. Mereka yang hidup dari kebun binatang, toilet rumah dan yang kehilangan ibunya karena perkebunan kelapa sawit.

Bagaimana kita dengan mudah mengingat keberhasilan hidup kita? Cukup dengan donasi di Giving Day for Apes. Untuk kamu yang merayakan ulang tahun atau ingin memberikan hadiah untuk yang kamu sayangi, bisa dengan donasi COP di Giving Day 2018. Tentu saja orangutan COP Borneo akan dengan senang hati menerimanya.

Yuk mengenal keempat orangutan kandidat pelepasliaran tahun ini. Masih ingat dengan Novi, orangutan yang dipelihara di bawah kolong rumah penduduk berteman seekor anjing dengan leher dirantai? Setelah melalui rehabilitasi, Novi akan dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Bulan depan, orangutan dari kebun binatang akan menuju kebebasannya.

Untung si beruntung walau dengan jari tangan yang tidak sempurna, tetap bisa memanjat pohon dan beraktivitas seperti orangutan normal lainnya. Tentu saja disabilitasnya tak menghalanginya untuk tetap menjadi kandidat pelepasliaran tahun ini. Setelah melalui rangkaian pemeriksaan kesehatan, Untung pun dinyatakan bersih dari penyakit menular.

Unyil, si orangutan yang terkenal sekali karena akhirnya dapat hidup normal tidak di dalam kamar mandi (toilet) lagi. Aksi penyelamatannya yang sangat dramatis karena baru saja perayaan ulang tahunnya sebagai Valentino Unyil Ngau berlangsung. Si pemelihara Unyil akhirnya menyerahkannya untuk direhabilitasi. Rambutnya saat itu baru saja direbonding, sempat membuat tim penyelamat heran, ada apa dengan rambut Unyil.

Satu lagi kisah memilukan dari Leci. Leci ditemukan di ladang buah dekan perkebunan sawit di desa Kebon Agung, Sangatta, Kalimantan Timur, sendiri tanpa induknya. Leci masih sangat liar, bahkan salah satu tim penyelamat digigitnya. Selama di kandang, dia terlihat gelisah, hingga akhirnya tim menutup kandangnya agar dia lebih tenang. Pemberian daun-daunan dan ranting langsung disambutnya dengan menyusunnya menjadi sarang.

Jadi, maukah kamu mendukung keempat orangutan ini? Mereka sudah sepantasnya berada di habitatnya, hidup tanpa campur tangan manusia, dan berkembang di alamnya untuk menjalankan perannya sebagai agen reboisasi alami yang handal.

KINABATANGAN ORANGUTAN DIES WITH 3 BULLETS

Adult female orangutan found dead in Kinabatangan river, Malaysia, last Tuesday. There were wounds found on the stomach, shoulder and legs of orangutan that were estimated to be 30 years old. The orangutan’s death was caused by internal bleeding. Three bullets were found on her body.

The death of male orangutan with 7 airgun bullets in Serbian, Central Kalimantan last July are still fresh in our minds. Not just the death orangutan known as Baen in 2018 by airgun bullets. There were also another deaths such as headless orangutan body found in Kalahien river, Central Kalimantan, with 17 bullets and Kalahara 2 orangutan with 130 bullets in Central Kalimantan last February.

Eventually, tiny airgun bullets kill the orangutans that are animals protected by law and threatened to extinction. “Air gun uses regulation has been enacted to regulate but still freely used by some people. This is caused by the weak enforcement of the Chief of Police Regulation Number 8 of 2012 concerning Supervision and Control of Firearms for sport interests, not for losing lives.”

At the Asian Games 2018 sport event, Centre for Orangutan Protection fully supported Indonesian shooting athletes to not shooting animals as animals are not targets to shot. COP also emphasized that animal hunting is not a sport! (SAR)

ORANGUTAN KINABATANGAN MATI DENGAN 3 PELURU
Orangutan betina dewasa ditemukan mati di sungai Kinabatangan, Malaysia pada hari Selasa yang lalu. Terdapat luka pada bagian perut, bahu dan kaki orangutan yang diperkirakan berusia 30 tahun tersebut. Kematian orangutan tersebut disebabkan pendarahan bagian dalam. Pada tubuhnya ditemukan 3 peluru.

Kematian orangutan jantan dengan 7 peluru senapan angin di Seruyan, Kalimantan Tengah bulan Juli yang lalu masih segar dalam ingatan kita. Tidak hanya orangutan yang diketahui bernama Baen yang mati karena peluru senapan angin di tahun 2018 ini. Ada kematian orangutan tanpa kepala yang ditemukan di sungai Kalahien, di Kalteng dengan 17 peluru dan orangutan Kaluhara 2 di Kaltim dengan 130 peluru pada bulan Februari 2018 yang lalu.

Peluru-peluru senapan angin yang kecil akhirnya menghabisi nyawa orangutan yang merupakan satwa dilindungi Undang-Undang dan terancam kepunahan. “Peraturan penggunaan senapan angin pun sudah diatur. Tapi penggunaan senapan angin masih saja bebas. Ini karena lemahnya penegakkan Peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api untuk Kepentingan Olahraga, bukan menghilangkan nyawa.”.

Pada acara olahraga Asian Games 2018 yang lalu, Centre for Orangutan Protection mendukung penuh atlet cabang olahraga menembak Indonesia bahwa satwa bukanlah target yang harus ditembak. COP juga menegaskan bahwa berburu bukanlah olahraga! Teror Senapan Angin.

WETY AND POPI

“Now Popi will not let herself share food with others, even to me,” said Wety Rupiana, the captain of APE Defender team. She is fully responsible at the current COP Borneo’s orangutan rehabilitation center. Wety was also Popi’s personal keeper when Popi entered this rehabilitation center 2 years ago. Wety, along with our veterinarians, took turns carrying a bottle of milk for baby Popi. Popi came as a very weak baby and just removed her umbilical cord.

Like a human baby, baby Popi was also crying and shrieking. Popi felt fear when she left alone, even though Wety was in the bathroom for a moment. Wety fell so many times from the stairs and even from the bridge between the camp and clinic because suddenly Popi screamed in the clinic. Wety’s appearance is almost irreplaceable. Like a human baby who is very dependent on her mother, a baby orangutan also has similar dependency on her mother.

Months passed, Popi grew up to be an orangutan child with an unpredictable behavior. Her pampered attitude began to change with a defiant attitude. It is not easy to tell Popi to climb the tree when she enjoyed playing on the ground, like rolling around or watching the roots covered in moss. But it was also not easy to tell her to come down from the tree when she enjoyed swinging from one branch to another. “Even the lure of milk will be ignored,” added Wety.

Popi is a baby orangutan who is forced to lose her mother. Popi loses her natural life in the forest with her mother. Baby orangutans are very dependent and they should be with the mother until they are 6 years old. “We helped her at COP Borneo. We hope that her wild nature continues to emerge as she grows older,” said Wety. Let’s help Popi to get her way back home through this link orangutanprotection.com/adopt/#4 (IND)

WETY DAN POPI
“Kini Popi tak akan membiarkan dirinya berbagi makanan dengan yang lain, bahkan padaku.”, kata Wety Rupiana, kapten APE Defender, orang yang bertanggung jawab penuh di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo saat ini. Wety jugalah yang menjadi perawat pribadi Popi saat Popi masuk pusat rehabilitasi ini 2 tahun yang lalu. Wety bersama dokter hewan lainnya bergantian membawakan botol berisi susu untuk bayi Popi yang baru saja lepas tali pusar nya. Bayi yang sangat lemah.

Seperti saat bayi manusia menjerit dengan tangisannya, Popi pun seperti itu. Rasa takut ketika ditinggal sendirian padahal Wety sesaat saja ke kamar mandi. Entah berapa kali Wety terjatuh dari tangga bahkan jembatan titian antara camp dan klinik karena tiba-tiba saja Popi menjerit saat dalam perawatan di klinik. Keberadaan Wety hampir tak tergantikan. Seperti bayi manusia yang sangat bergantung pada ibunya. Seperti itulah bayi orangutan dengan induknya.

Detik demi detik berlalu, Popi tumbuh menjadi anak orangutan dengan tingkahnya yang sulit ditebak. Sikap manja nya mulai berubah dengan sikap membangkang. Tak mudah menyuruhnya naik ke atas pohon, saat dia asik bermain di bawah, berguling-guling di tanah atau sedang memperhatikan akar yang diselimuti lumut. Tapi juga tak mudah menyuruhnya turun dari pohon, saat dia sudah asik bermain dari satu dahan ke dahan yang lain. “Bahkan iming-iming susu pun akan diabaikannya.”, tambah Wety.

Popi adalah salah satu bayi orangutan yang terpaksa kehilangan induknya. Popi kehilangan kehidupan alaminya di hutan bersama induknya. Suatu masa dimana bayi orangutan sangat tergantung pada induknya hingga dia berusia 6 tahun. “Kami di COP Borneo membantunya, kami berharap sifat alami liarnya terus muncul seiring usianya yang bertambah.”, ujar Wety. Yuk bantu Popi lewat http://www.orangutan.id/adopt/#4

THE ORANGUFRIENDS OF BERAU  STOP BY AT SMAN 2

How are the orangutan populations stated to be critically vulnerable to extinction? Through education to schools and communities, orangufriends share their knowledges as well as finding out what these high schools students think. Approximately, 100 students of XI IPA SMAN 2 Berau, East Kalimantan, came together after the second breaktime.

Ipeh, Yanti, dan Aldo were the three orangufriends who engaged the students to think creatively. The discussions, which started from about the presence of orangutans around them to orangutans that they saw on the road around Muara Wahau, were coming to a conclusion that is how close the kinship of humans and the one and only living great apes on this Asia continent are.

Orangutans and humans share 97% of their DNA. The orangutan at the roadside definitely learns how difficult it is to find foods in a damaged habitat. Easier to find at the roadside, begging and getting food thrown by humans. The students concerned not only about orangutan habitats that are being degraded by plantations and mining, but they were also asking about the fate of orangutans in the Safari park and Zoos.

“The enthusiasm of students and the Orangufriends of Berau today have made us racing against the time to save orangutans from extinction. Thank you, SMAN 2, see you some other time!”. (SAR)

ORANGUFRIENDS BERAU MAMPIR DI SMAN 2
Bagaimana populasi orangutan dinyatakan sangat terancam punah? Melalui edukasi ke sekolah dan masyarakat, Orangufriends berbagi pengetahuannya juga mencari tahu apa pendapat siswa menengah atas ini. Kurang lebih 100 siswa-siswi kelas XI IPA SMAN 2 Berau, Kalimantan Timur berkumpul usai istirahat kedua.

Ipeh, Yanti dan Aldo adalah tiga orangufriends yang mengajak para siswa berpikir kreatif. Diskusi santai mulai dari keberadaan orangutan di sekeliling mereka hingga orangutan yang mereka temui di pinggir jalan di daerah Muara Wahau sampai pada sebuah kesimpulan, betapa dekatnya kekerabatan antara manusia dan kera besar satu-satunya yang hidup di benua Asia ini.

Orangutan memiliki DNA 97% sama dengan manusia. Orangutan yang berada di pinggir jalan tentunya belajar betapa sulitnya mencari makanan di habitat yang telah rusak. Lebih mudah berada di pinggir jalan, mengemis dan mendapatkan lemparan makanan dari manusia. Tak hanya semakin tergusurnya habitat orangutan untuk lahan perkebunan maupun pertambangan yang menjadi konsentrasi para siswa, mereka pun menanyakan nasib orangutan yang berada di Taman Safari maupun Kebun Binatang.

“Semangat siswa dan orangufriends Berau hari ini membuat kami berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan orangutan dari kepunahan. Terimakasih adik-adik SMAN 2, sampai bertemu lagi di lain kesempatan!”. (NIK)

BEFRIENDED WITH HEADLAMP, WRITING ORANGUTANS’ REPORT

Last night, APE Defender team who runs the COP Borneo orangutan rehabilitation center, were still recapitulating daily orangutan activities. Bringing the headlights on, Steven rewrote his notes. ” This is daily orangutan report. If i don’t work on it tonight, it will keep on accumulated tomorrow.”

Steven, the monitoring and patrolling staff, is the guy who ensure the feed needs and security of orangutans in COP Borneo. The solar panel was in trouble tonight so the camp was in the dark. While writing, Steven muttered, ” Today unyil ate figs several times, Mas.” And i fell asleep listening to the story of the development of other orangutans.

There are four orangutans to be released next month. Unyil is one of them. Unyil was rescued from Muara Wahau, Unyil who never climbed a tree. Unyil who was always eating rice fed by human. Unyil whom hair was straightened. Yes.. that Unyil who was living years in the toilet will be released. This are all because of your trust to support us, Indonesian youth who dream for Indonesian orangutans future. (SAR)

BERTEMAN HEADLAMP, TULIS RAPOT ORANGUTAN
Malam ini, Tim APE Defender yang menjalankan pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo masih rekapitulasi aktivitas orangutan harian. Bertemankan cahaya lampu kepala, Steven menulis kembali catatannya, “Ini adalah rapot harian orangutan di pulau. Kalau ngak dikerjain malam ini, besok akan menumpuk terus.”.

Steven, staf monitoring dan patroli pulau orangutan adalah orang yang memastikan kebutuhan pakan dan keamanan orangutan di COP Borneo. Malam ini solar panel sedang bermasalah sehingga camp gelap-gulita. Sambil menulis, Steven bergumam, “Unyil hari ini makan buah ara beberapa kali mas.”. Dan aku pun tertidur sambil mendengarkan cerita perkembangan orangutan lainnya.

Ada empat orangutan yang akan dilepasliarkan bulan depan. Unyil salah satunya. Unyil yang diselamatkan dari Muara Wahau. Unyil yang tidak pernah memanjat pohon. Unyil yang selalu makan nasi dengan cara disuapi. Unyil yang rambutnya direbonding. Ya… Unyil yang hidup bertahun-tahun di dalam toilet itu akan dilepasliarkan kembali. Ini semua berkat kepercayaan kamu untuk mendukung kami, anak-anak Indonesia yang punya mimpi untuk orangutan Indonesia. (NIK)

COP REPORTED THE CRIME TO LAW ENFORCER

One day later, the APE Crusader team who had just arrived from the field were already in the office of the Ministry of Environment and Forestry (MoEF) in Jakarta. On September 6, the team came to the MoEF with a complete report presenting the findings in the field. Unfortunately, the director of the Directorate General of Law Enforcer who should be on the 4th floor was not in place.

“Then, we moved to the office of the Peat Restoration Agency. Indonesia’s peat is under a serious threat.”, said Paulinus Kristianto, disappointed, because he could not meet the person in charge. “We hope that our reports of the alleged crime of land clearing in orangutan habitat and also on peatland can be immediately responded. It’s like counting down time. The faster it is, the more you can save. “Center for Orangutan Protection fully supports the MoEF to conduct studies and inspections in Seruyan District, Central Kalimantan.”, said Ramadhani, manager of the orangutan and habitat protection.

The death of an adult male orangutan on the canal of palm oil plantation with a body caught in a timber log is unusual. From the autopsy, there were 7 air rifle bullets and the orangutan’s right-hand thumb was missing. When the body was found, the team also saw two excavators that were land clearing the area. Around the location were also found several orangutan nests. “Come on, Law Enforcer, we are ready to support.” (IND)

COP MELAPOR ADA KEJAHATAN PADA GAKKUM
Berselang satu hari, tim APE Crusader yang baru saja tiba dari lapangan sudah berada di kantor Kementian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Jakarta. Siang, 6 September, lengkap dengan laporan tertulisnya menyampaikan hasil temuan di lapangan. Sayang direktur Direktorat Jenderal Gakkum yang berada di lantai 4 tidak ada di tempat.

“Kami pun pindah ke kantor Badan Restorasi Gambut. Gambut Indonesia sedang terancam.”, ujar Paulinus Kristianto dengan kecewa, karena tidak dapat bertemu dengan orang yang bertanggung jawab. “Kami berharap laporan dugaan telah terjadi kejahatan pembukaan lahan di habitat orangutan yang juga berada di lahan gambut dapat segera ditanggapi. Ini seperti menghitung mundur waktu. Semakin cepat akan semakin banyak yang bisa diselamatkan. Centre for Orangutan Protection mendukung penuh Gakkum KLHK untuk melakukan kajian dan pemeriksaan di Seruyan, Kalimantan Tengah.”, tegas Ramadhani, manajer perlindungan Orangutan dan Habitatnya.

Kematian satu orangutan jantan dewasa di kanal konsesi perkebunan sawit dengan tubuh tersangkut pada batang kayu bukanlah hal yang biasa. Dari otopsi diketahui ada 7 peluru senapan angin dan jempol tangan kanan orangutan tersebut hilang. Pada saat ditemukan ada dua ekskavator yang sedang landclearing. Di sekitar lokasi juga ditemukan beberapa sarang orangutan. “Ayo Gakkum, kami siap membantu.”.

SCHOOL VISIT TO SMK NEGERI 2 BERAU

All of a sudden, the electricity went out when APE Guardian team (Centre for Orangutan Protection team who work on orangutan release) conducted a school visit activity. There was shouts of disappointment heard at this vocational school at the time. The team immediately modificated the school visit process. Story telling and question and answer session became a more interesting discussion session.

September 6, 2016, All of 10th grade and 11th grade students of SMKN 2 Berau, Easti Kalimantan were gathered in the school hall. At 09.00 WITA sharp, Ipeh, a volunteer who came from Jogja, started introducing the team. This was the second volunteering activity of Ipeh after helping the APE Guardian team in the orangutan release forest last year. ” Being a volunteer of COP is different and addictive. Just like today, facilities limitation such as black out will not stop us. When will we practice modifying the limitation if we don’t jump into action?.” that was what Ipeh said.

East Kalimantan province is a home to the Pongo pygmaeus morio, a sub-species of orangutan. The sub-species is the smallest sub-species in Kalimantan. Educating from school to school became an important activity to directly provide information about the increasingly threat of morio orangutan presence. ” We believe that the conservation of Borneo lies on their hands.” added Ipeh optimistically. (SAR)

SCHOOL VISIT DI SMK NEGERI 2 BERAU
Tiba-tiba saja listrik padam saat tim APE Guardian (tim Centre for Orangutan Protection yang bekerja untuk pelepasliaran orangutan) melakukan kegiatan kunjungan ke sekolah. Terdengar teriakkan kecewa para siswa Sekolah Menengah Kejuruan ini. Tentu saja tim langsung memodifikasi proses ’school visit’ kali ini. Cerita dan tanya jawab menjadi sebuah diskusi yang lebih menarik.

6 September 2018, seluruh kelas X dan XI SMKN 2 Berau, Kalimantan Timur sudah berkumpul di aula sekolah. Tepat pukul 09.00 WITA, relawan Ipeh yang baru saja datang dari Yogyakarta memulai perkenalan tim. Ini adalah kegiatan relawan Ipeh yang kedua kalinya setelah tahun lalu ikut membantu tim APE Guardian di hutan pelepasliaran orangutan. “Jadi relawan di COP itu unik dan bikin ketagihan. Seperti hari ini, keterbatasan fasilitas seperti matinya listrik tidak akan membuat kita berhenti. Kapan lagi kita bisa berlatih memodifikasi keterbatasan kalau tidak langsung terjun ke lapangan.”, begitu ujar Ipeh.

Kalimantan Timur adalah provinsi dengan keberadaan sub-spesis orangutan Pongo pygmaeus morio. Sub spesies ini merupakan sub spesies terkecil di Kalimantan. Edukasi dari sekolah ke sekolah menjadi begitu penting untuk secara langsung memberikan informasi tentang semakin terancamnya keberadaan orangutan morio. “Kami yakin, di tangan merekalah nantinya dunia konservasi Kalimantan.”, tambah Ipeh optimis. (RYN)