ALISA AND CONSERVATION LAW

Right on the International Orangutan Day, August 19, 2018, Orangufriends in Padang got invitation from Komunitas Tanda Baca Forum Pegiat Literasi Padang Panjang (Reading community of Literacy Activist Forum in Padang Panjang) to be the speaker or “guest instructur” in writing class. The participants were diverse, from elementary school students to high school students. Many of them have written short story, even some of them have won writing competition.

I was very enthusiastic that day. How did I not? A trip by motorcycle to Padang Panjang itself was an adventure, let alone educating people about the importance of maintaining the balance of nature through conservation efforts amidst the threat of orangutan extinction, the “umbrella species”. Of course with hope that the lesson taught will enriched and improved the writing creativity of participants.

And the result was…. very astonishing. They wrote in various topics from thrilling experiences in meeting wild animals unexpectedly to how happy they were learning about wildlife and conservation in Indonesia. And there was something interesting about Alisa’s writing. Alisa was one of the youngest participant that day. Most participants were writing about their experiences, but not with Alisa. The girl who was a 4th grade student wrote about law enforcement. She stated how important the enforcement of Article 21 of Law No. 5 of 1990 regarding Conservation is, which punishment can be up to 5 years imprisonment and 100 million IDR fine! (SAR)

ALISA DAN UNDANG-UNDANG KONSERVASI
Tepat di hari peringatan Orangutan Sedunia (International Orangutan Day) tanggal 19 Agustus 2018 lalu, Orangufriends Padang mendapat undangan dari Komunitas Tanda Baca Forum Pengiat Literasi Padang Panjang untuk menjadi pemateri atau “Instruktur Tamu” di kelas Menulis. Peserta yang hadir beragam, mulai dari siswa Sekolah Dasar hingga siswa Sekolah Menengah Atas. Banyak diantara mereka yang telah menghasilkan tulisan berupa cerpen bahkan ada yang sering menjuarai perlombaan menulis.

Hari itu, saya sungguh bersemangat. Bagaimana tidak, perjalanan dengan sepeda motor ke Padang Panjang sudah menjadi petualangan tersendiri, apalagi edukasi betapa pentingnya manusia menjaga keseimbangan alam melalui upaya-upaya konservasi di tengah terancamnya kepunahan orangutan sang “Payung Konservasi”. Tentu saja dengan harapan, materi yang disampaikan bisa menambah pengayaan peserta komunitas dalam mengembangkan imajinasi tulisan mereka.

Hasilnya… sungguh mencengangkan. Mereka menulis dengan berbagai tema mulai dari pengalamannya yang menegangkan saat tanpa sengaja harus berhadapan langsung dengan satwa liar, hingga tentang betapa senangnya mereka mendapatkan materi tentang satwa liar dan perlindungannya di Indonesia. Nah, yang menarik itu adalah tulisan yang dibuat Alisa. Salah satu peserta terkecil yang ikut kelas menulis hari itu. Jika yang lain lebih banyak mengangkat tema pengalaman mereka, tidak demikian halnya dengan Alisa. Anak perempuan yang masih duduk di bangku kelas 4 SD itu malah mengangkat tema tentang penegakkan hukum. Dengan tegas dan lugas dia menyatakan betapa pentingnya penerapan pasal 21 dari Undang-Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi yang ancaman hukumannya bisa mencapai 5 tahun penjara dan denda 100 juta rupiah! (Novi_COPShool7)

4 FUN FACTS WHY ORANGUTAN SHOULD BE SAVED (2)

2. Orangutans have DNA similarity with human
Orangutans have 97% similarity of Deoxyribonucleic acid (DNA) with human DNA. Therefore, orangutans are very intelligence in behavior in the wild to utilize objects around them to find food or shelter from the ferocity of nature condition. Even orangutans can use a stick as a tool to pick up food and use leaves to protect them from the sun. Orangutans can easily learn to immitate surrounding behaviour, one of which is the orangutans who have been kept as pet can easily immitate the behaviour of human around them.

This fact make orangutans are very vulnerable to the changes of nature and its surrounding, such as habitat shift and conversion which make orangutans come to the village more often only to find food and try to survive. Then, this matter makes the level of orangutan and human conflict increases every year. Loss of source of food makes orangutans that have high intelligence to come to the community farms to get their food easily. 

Johny orangutan, who was evacuated by Centre for Orangutan Protection team (COP) in 2007, showed the level of adult orangutan intelligence that he was decided to stay on the roadside oddly because many people were attracted and stopped by to see him closer and fed him. So this orangutan chose to stay on the roadside for a long period of time. (SAR)

4 FAKTA UNIK MENGAPA ORANGUTAN HARUS DISELAMATKAN (2)
Fakta lainnya yang membuat kita harus menyelamatkan orangutan adalah:

2. Orangutan memiliki kemiripan DNA dengan manusia
Orangutan memiliki 97 persen kemiripan Deoxyribonucleic acid (DNA) dengan DNA manusia. Oleh karena itu orangutan termasuk satwa yang sangat cerdas dalam prilakunya di alam liar dengan cara memanfaatkan benda di sekitar untuk mencari makan ataupun berlindung dari ganasnya kondisi alam bahkan orangutan dapat menggunakan tongkat sebagai alat bantu untuk mengambil makanan, dan menggunakan daun sebagai pelindung sinar matahari. Orangutan dapat belajar dengan mudah untuk meniru prilaku sekitar, salah satunya adalah orangutan yang sudah dipelihara sejak lama akan mudah mengikuti atau meniru prilaku manusia sekitarnya.

Faktanya ini kemudian menjadikan orangutan sangat rentan terhadap perubahan alam dan sekitarnya seperti perubahan habitat yang menjadikan orangutan yang lebih sering mendatangi pemungkiman untuk sekedar mencari makan dan bertahan hidup. Hal ini kemudian menjadikan tingkat konflik orangutan dan manusia semakin meningkat setiap tahunnya. Kehilangan sumber makan menjadikan orangutan yang memiliki kecerdasan tinggi untuk datang ke kebun-kebun masyarakat yang kemudian dianggap dapat dengan mudah untuk mendapatkan makanan.

Salah satu orangutan Johny yang dievakuasi oleh tim Centre for Orangutan Protection (COP) pada tahun 2017, menunjukan tingkat kecerdasan orangutan dewasa yang memutuskan tinggal di tepi jalan raya dengan dugaan bahwa banyaknya masyarakat yang tertarik dan berhenti untuk melihat kemudian memberi makan. Sehingga orangutan ini memutuskan untuk tinggal dalam waktu yang lama di sepanjang jalan tersebut. (NUS)

THE INTERNATIONAL ORANGUTAN DAY

In Mid-January 2018, headless orangutan corpe was found floating in Barito river, right under the Kalahien bridge, Kalahien village, Gunung Mas regency, Central Kalimantan. The autopsy results showed that there were at least 17 airgun pellets found in the body and the head was beheaded intentionally. The two suspects have been sentenced with 6 months imprisonment and fined Rp 500.000,00.

On February 6, we were shocked by the incident of orangutan killed by airgun with at least 130 pellets found on it. What was worse is the crime scene was in the area of National Park in East Kalimantan. The killer was a palm oil farmer who penetrated to the National Park area.

Today, August 19, is celebrated as International Orangutan Day, people around the world are celebrating in various way as a moment to campaign the importance of orangutan for nature preservation. ” As Indonesian people, we are supposed to be proud to have orangutans, which is the only great apes that live in Asia. While other great apes, such as gorilla, bonobo, and simpanse are only found in Africa.”.

Notes:
– Orangufriends is a supporter group of Centre for Orangutan Protection
– Simultaneous actions of orangufriends to celebrate the International Orangutan Day were held in 8 cities, i.e. Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Malang, Palembang, Padang, Medan, and Berau.(SAR)

HARI ORANGUTAN SEDUNIA
Pertengahan Januari 2018 ditemukan bangkai orangutan tanpa kepala mengapung di Sungai Barito, persis di bawah jembatan Kalahien, desa Kalahien, kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Hasil otopsi menemukan setidaknya ada 17 peluru senapan angin dan kepala orangutan sengaja dipenggal. Dua tersangka telah divonis dengan hukuman masing-masing 6 bulan penjara dan denda Rp 500.000,00.

Pada tanggal 6 Pebruari kita dikejutkan lagi dengan kejadian pembunuhan orangutan dengan senapan angin, hasil otopsi setidaknya menemukan 130 peluru senapan angin. Yang lebih parahnya, TKP berada di dalam salah satu Taman Nasional di Kalimantan Timur. Pembunuhnya adalah petani kelapa sawit yang merambah kawasan Taman Nasional.

Kasus terakhir ialah kasus penemuan mayat orangutan di kanal perkebunan kelapa sawit PT. WSLL II, Seruyan, Kalimantan Tengah pada tanggal 1 Juli 2018. Kondisi ketika ditemukan sudah sangat buruk. Namun hasil otopsi menemukan setidaknya ada 7 peluru senapan angin dan luka-luka pada bagian telapak tangan atau kaki. Tahun 2018 adalah tahun yang buruk bagi konservasi orangutan di Indonesia. Dunia menganggap Indonesia gagal dalam hal konservasi orangutan dan dianggap tidak beradab. Melalui aksi ini kami dari Orangufriends menyampaikan masih ada anak-anak muda Indonesia yang peduli terhadap orangutan.

Tepat hari ini tanggal 19 Agustus diperingati sebagai Hari Orangutan Internasional, masyarakat dunia memperingatinya dengan berbagai macam cara sebagai momen untuk mengkampanyekan pentingnya orangutan bagi kelestarian alam. “Sebagai orang Indonesia kita sepatutnya berbangga dengan memiliki orangutan, yang mana orangutan adalah satu-satunya kera besar yang hidup di Asia. Sedangkan kera besar lainnya seperti gorila, bonobo dan simpanse hanya ada di Afrika.”

Catatan :
– Orangufriends adalah kelompok pendukung dari Centre for Orangutan Protection (COP).
– Aksi serempak Orangufriends memperingati International Orangutan Day di 8 (delapan) kota, antara lain Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Malang, Palembang, Padang, Medan, dan Berau.

4 FUN FACTS WHY ORANGUTANS SHOULD BE SAVED (1)

Orangutans are very famous animals, moreover orangutan babies whose behaviour are very similar to human that make them special to many people around the world. Behind these uniqueness, orangutans keep a lot of stories about about rainforest conservation efforts in Indonesia. Here are four facts, why orangutans should be saved:
1. Orangutans are Asian Great Ape
Four great apes in the world are found three in the African continent that are Gorilla, Simpanse, and Bonobo, and on  in Asian continent, Sumatera and Kalimantan island to be exact which are inhabitated by Orangutans.
There are three type of orangutans in the world, that are Pongo tapanuliensis in Sumatera island, and Pongo abelii and Pongo pygmaeus in Kalimantan island which are divided into three sub-types according to morphology and genetics variation that are: Pongo pygmaeus pygmaeus (in the northwest of Kalimantan and Sabah), Pongo pygmaeus wurmbii (in the southwest of Kalimantan), and Pongo pygmaeus morio (in the east of Kalimantan and Sabah) (Groves 2001; Warren dkk. 2001).

The existance of orangutans has been the symbol of the richness of Indonesia’s biodiversity, esppecially in Kalimantan and  Sumatera. Indonesia should be proud to have those great apes as animals and as international
attraction to continue preserving the existing tropical rainforest. (SAR)

4 FAKTA UNIK MENGAPA ORANGUTAN HARUS DISELAMATKAN (1)
Orangutan merupakan satwa yang sangat terkenal, apalagi bayi orangutan yang tingkahnya sangat mirip dengan manusia menjadikannya daya tarik tersendiri bagi banyak orang di dunia. Di balik keunikannya tersebut, orangutan menyimpan begitu banyak kisah tentang upaya konservasi hutan hujan tropis di Indonesia. Berikut adalah 4 fakta, mengapa orangutan harus diselamatkan:

1. Orangutan adalah Kera Besar Asia
Empat kera besar yang ada di dunia tersebut terdapat tiga di benua Afrika yang dihuni Gorilla, Simpanse dan Bonobo serta di benua Asia lebih tepatnya pulau Sumatera dan Kalimantan yang terdapat di Indonesia yaitu Orangutan.

Terdapat 3 jenis orangutan di dunia yaitu di Pulau Sumatera terdapat Pongo tapanuliensis, Pongo abelii serta Pongo pygmaeus berada di pulau Kalimantan yang kemudian dibagi dalam tiga sub-jenis berdasarkan variasi morfologi dan genetik yaitu: Pongo pygmaeus pygmaeus (dibagian barat laut Kalimantan dan Sabah), Pongo pygmaeus wurmbii (di bagian barat daya Kalimantan), dan Pongo pygmaeus morio (dibagian timur Kalimantan dan Sabah) (Groves 2001; Warren dkk. 2001).

Keberadaan orangutan telah menjadi simbol kekayaan flora dan fauna yang ada di Indonesia, terutama Kalimantan dan Sumatera. Sepatutnya Indonesia bangga telah memiliki kera besar tersebut sebagai satwa dan daya tarik Internasional untuk terus menjaga kelestarian hutan hujan tropis yang ada. (NUS)

WHEN ORANGUTAN STOP BY SMPLB PURBA SUTA

Friday, August 10, 2018 was the day that i have been waiting for since a week ago. Yeah.. today was the day I’d do the school visit to SMPLB Purba Suta Purbalingga. With the help of my schoolmate (Dena and Aziz), the explanation about orangutan and its habitat to 28 students of 7th – 9th grade and 7 accompanying teachers made this school visit different from the others. They were very passionate and proactive.

Not even one hour passed, we closed the meeting by coloring orangutan. That rich colors will never be forgotten because I had the opportunity to teach one of special schools with special needs students. I was beyond happy when they paid attention to us and listened to us. I was confused at first how to communicate with them. There’s one quotes from Helen Keller that represented my feeling when doing this activity, “Alone we do so little, but together we can do so much.”.

Orangufriends or supporter group of COP that consist of COP School alumnus  annually celebrated International Orangutan Day on August 19 with various kind of activities and giving education to schools and communities is one of them. One orangufriends invites friends and relatives and then spread out to one school or community to another. And the chain keeps coming on. (SAR)

SAAT ORANGUTAN MAMPIR DI SMPLB PURBA SUTA
Jumat, 10 Agustus 2018 adalah hari yang saya tunggu sedari satu minggu yang lalu. Ya… hari itu adalah hari dimana saya akan melakukan kegiatan school visit di SMPLB Purba Suta Purbalingga. Dengan bantuan teman sekolah saya (Dena dan Aziz), penjelasan tentang orangutan dan habitatnya pada 28 siswa kelas VII-IX serta 7 orang guru pendamping menjadikan school visit kali ini berbeda dengan yang lainnya. Mereka begitu bersemangat dan sangat aktif.

Tak terasa satu jam pun berlalu, menutup perjumpaan dengan mewarnai orangutan. Kaya warna yang tidak akan pernah saya lupakan karena berkesempatan mengajar di salah satu sekolah luar biasa dengan para siswa berkebutuhan khusus. Bahagia sekali saat mereka memperhatikan kita dan mendengarkan kita. Sempat bingung apakah bisa berkomunikasi dengan mereka. Ada satu quotes dari Helen Keller yang dapat mewakili perasaan saya ketika berkegiatan kali ini, “Alone we do so little, but together we can do so much.”

Orangufriends atau kelompok pendukung COP yang juga terdiri dari alumni COP School memperingati Hari Orangutan Sedunia yang jatuh pada tanggal 19 Agustus setiap tahunnya dengan berbagai cara dan kesempatan, salah satunya edukasi ke sekolah maupun komunitas-komunitas. Satu orangufriends, mengajak teman dan saudara lalu menyebarkannya dari satu sekolah maupun komunitas. Terus berantai dan berlanjut. (Yuanita_COPSchool8).

PAINTING ORANGUTAN CAGES AT COP BORNEO

Since 2015, the cages for orangutan in orangutan rehabilitation center have not been repainted. Just several times fixing the rusted iron by replacing and welding it. At first, the keepers were planning to just paint the cage pole. But turned out, the entire cage were repaint.

Danel, amir, Steven, with the help of two volunteers started the cage maintenance. “Regular cage maintenance is important. While painting, we could pay attention to which part needs improvement. Repainting can also inhibits the rusting of iron. ” said Amir

“Coincidentally, quarantine cages are empty, because the orangutan release candidates are on the orangutan sanctuary island. So, the orangutan who live in the cage that are being repainted will be moved within a few weeks until the paint dries and the smell of it is gone.” added Steven.

We understand that the funds that come to orangutan rehabilitation center are from many people’s donation. That’s why we use the money so carefully. We did the repainting activity by ourselves without the help of workman to save the money, and of course without disrupting orangutan’s schedule to go to the forest school as well. (SAR)

PENGECATAN KANDANG ORANGUTAN DI COP BORNEO
Sejak tahun 2015, kandang untuk orangutan di pusat rehabilitasi orangutan belum pernah dicat ulang. Beberapa kali hanya membetulkan besi-besi yang keropos dengan menggantinya dan mengelas. Awalnya, para karyawan berencana untuk mengecat tiang kandang saja. Tapi nyatanya, seluruh kandang dicat ulang.

Danel, Amir, Steven dengan bantuan dua relawan memulai perawatan kandang ini. “Perawatan berkala sangat penting. Sambil mengecat, kami bisa memperhatikan bagian-bagian yang memerlukan perbaikan. Pengecatan ulang juga bisa menghambat pengeroposan besi-besi kandang.”, ujar Amir.

“Kebetulan, kandang karantina kosong, karena orangutan yang akan dilepasliarkan dipindahkan ke pulau orangutan. Jadinya, orangutan penghuni kandang yang sedang dicat ulang akan pindah dalam beberapa minggu sampai bau cat hilang dan cat mengering.”, tambah Steven menjelaskan.

Kami memahami dana yang sampai di pusat rehabilitasi adalah donasi dari banyak orang. Itu sebabnya kami menggunakan dana tersebut dengan hati-hati sekali. Pengecatan seperti ini kami lakukan sendiri tanpa memanggil tukang untuk menghemat pengeluaran, tentu saja dengan tidak menganggu jadwal orangutan ke kelas sekolah hutan. (WET)

INDONESIA, WHEN?

Circus. An entertaining performance. Amusing. Making laugh. Inviting admiration. Have you ever asked how those animals can do such amazing attractions? How can an elephant stands on a beam with one leg? How can a lion pass through the circle of fire without getting hurt? How can an orangutan rides a bike? Not many do knows how a handler trains those animals to do such kind of circus attractions. Nobody know how a lion can pass through the circle of fire. We don’t know the process behind it.

Basically, a lion can never pass through a circle of fire in the forest. So does orangutan that can never ride a bike in the jungle. So, how do they do it? It’s because they are trained by the handler. These animals are trained to do what the handler wants them to do. Ride a bike, pass through a fire circle, sit on a beam with one leg, till perform a magic show. How does the handler train them?

Those animals are made hungry and scared. Believe it or not,, they made the animals hungry and scared so that they will do what the circus handler commands. The circus animals will not be fed before they carry out the orders from handler. If in a starving condition the animal still doesn’t want to do the order, they will make them afraid. Feared by being beaten by blunt object, kicked, pierced by sharp object, and so on. So in the end, the animal does the handler commands with hunger and fear. Very cruel.

Therefore, when we watch the circus attraction, we are watching the animals starve and fear. The animals do the attraction with pressure. With hunger and fear. And we who watch have supported all those cruel actions. Support the torture given by the handlers to these animals.

Several countries have issued regulation to ban circus attractions. Because they felt it is a cruel attraction to animals. When is Indonesia? Do we have the heart to watch the cruelty committed to animals? Do we have the heart to laugh when they feel the hunger and the fear? (SAR)

INDONESIA KAPAN?
Sirkus. Tontonan yang menyenangkan. Menghibur. Membuat ketawa. Mengundang decak kagum. Pernahkah kita bertanya bagaimana hewan-hewan tersebut dapat melakukan atraksi sehebat itu?. Bagaimana seekor gajah dapat berdiri di atas sebuah balok dengan satu kaki?. Bagaimana seekor singa dapat melompat di lingkaran api dapat terluka sedikit pun? Bagaimana Orangutan dapat mengendarai sepeda dengan lincah?. Tak banyak yang tau apa yang terjadi di belakangnya. Tak ada yang tau bagaimana seekor pawang melatih hewan-hewan tersebut untuk melakukan aktraksi sirkus. Tak ada yang tau bagaimana seekor singa dapat melewati lingkaran api. Kita tak ada yang tau bagaimana proses di balik semua itu.

Pada dasarnya, seekor singa tidak akan pernah melewati lingkaran api di hutan. Begitu juga orangutan, dia tidak akan pernah mengendarai sepeda di hutan. Jadi, bagaimana mereka dapat melakukannya? Dilatih oleh pawang. Para hewan tersebut dilatih agar dapat melakukan apa yang diinginkan oleh para pawang tersebut. Mengendarai sepeda, melewati lingkaran api, duduk di atas balok dengan satu kaki, hingga melakukan atraksi sulap. Bagaimana cara pawang tersebut melatih hewan-hewan sirkus?

Para hewan tersebut dibuat lapar dan takut. Percaya atau tidak, hewan-hewan sirkus tersebut dibuat lapar dan takut agar dapat melaksanakan apa yang diperintahkan oleh para pawang sirkus. Para hewan sirkus tidak akan diberi makan sebelum mereka melakukan perintah dari pawang. Jika dalam kondisi lapar hewan tersebut masih tidak mau melakukan perintah dari pawang, maka hewan tersebut akan dibuat takut. Dibuat takut dengan cara dipukuli dengan benda tumpul, ditendang, ditusuk dengan benda tajam, dan lain sebagainya. Dan pada akhirnya para hewan tersebut melakukan perintah pawang dengan rasa lapar dan takut. Sangat kejam.

Jadi ketika kita menonton aktraksi sirkus, maka kita sedang menonton para hewan tersebut kelaparan dan ketakutan. Para hewan tersebut melakukan atraksi dengan penuh tekanan. Dengan rasa lapar dan takut. Dan kita yang menonton telah mendukung semua tindakan tersebut. Mendukung siksaan yang diberikan para pawang kepada hewan-hewan tersebut.

Beberapa negara telah mengeluarkan peraturan untuk pelarangan atraksi sirkus. Karena mereka merasa itu adalah atraksi kekejaman untuk hewan. Indonesia kapan?. Apakah kita tega menonton kekejaman yang dilakukan untuk hewan?. Apakah kita tega tertawa diatas rasa lapar dan takut hewan-hewan tersebut? (RYN)

SOUND FOR ORANGUTAN 2018 IN YOGYAKARTA

Sound for Orangutan charity music event is the sounds of wildlife, especially orangutans and their habitat. Since 2010 at MU Cafe, Sarinah, Central Jakarta, Shaggydog band is the first music group that sincerely campaign for orangutans through Centre for Orangutan Protection. Not only enthusiastically campaign through social media, they even didn’t hesitate to set aside the profit of the concert for orangutans.

Continued in 2012 at Rolling Stone Cafe, Jakarta then this activity became an annual crowdfunding event to support orangutans and their habitat protection, that this is shared responsibility not only in the hands a of government. Since that year, many musicians and artists had took their time to perform at the charity music event, Sound for Orangutan, like Marcel Siahaan, Ballads of the Cliche, L’alphalpha, Leonardo & His Impeccable Six, Raygava, Oppie Andaresta, Melanie Subono, Payung Teduh, White Shoes and The Couples Company, Efek Rumah Kaca, Monkey Boots, Sidepony, Fikar Cartman, Dear Nancy, The Billy Sentris, Jova, The Pain Killers, Navicula, Banda Neira, Earia, Miskin Porno, J-Flow, Monkey to Millionaire, Seringai, Down For Life, FSTVLST, Sri Plecit, Broken Rose, and many more.

Sound for orangutan will be held for the 8th time with the theme of “Extinction is Forever”. the extinction of one animal species is a loss, both ecologically and its role in nature. Orangutans are great apes that an only found in the Asian continent and most of them are in Indonesia, precisely in Sumatera and Kalimantan island. Through musics, the orangutan protection campaign is spread out. The profit from this event will be donated to COP Borneo orangutan rehabilitation center, east kalimantan. The only rehabilitation center founded by Indonesian people. (SAR)

SOUND FOR ORANGUTAN 2018 DI YOGYAKARTA
Acara Musik Amal Sound for Orangutan adalah suara satwa liar khususnya orangutan dan habitatnya. Sejak 2010 di MU Cafe, Sarinah, Jakarta Pusat, band Shaggydog adalah grup musik pertama yang berkampanye untuk orangutan lewat Centre for Orangutan Protection dengan tulus. Tak hanya rajin berkampanye lewat media sosial, mereka pun tak segan-segan menyisihkan keuntungan dari konsernya untuk orangutan.

Berlanjut di tahun 2012 di Rolling Stone Cafe, Jakarta hingga menjadi acara tahunan untuk menggalang dukungan publik terkait dukungan perlindungan orangutan dan habitatnya bahwa ini adalah tanggung jawab bersama bukan hanya di tangan pemerintah. Sejak tahun itu pula, para artis seperti Marcel Siahaan, Ballads of the Cliche, L’alphalpha, Leonardo & His Impeccable Six, Raygava, Oppie Andaresta, Melanie Subono, Payung Teduh, White Shoes and The Couples Company, Efek Rumah Kaca, Monkey Boots, Sidepony, Fikar Cartman, Dear Nancy, The Billy Sentris, Jova, The Pain Killers, Navicula, Banda Neira, Earia, Miskin Porno, J-Flow, Monkey to Millionaire, Seringai, Down For Life, FSTVLST, Sri Plecit, Broken Rose, dan masih banyak lagi band indie yang menyempatkan diri tampil di acara musik amal Sound For Orangutan ini.

Sound For Orangutan akan digelar untuk kedelapan kalinya dengan tema “Extiction is Forever” atau kepunahan adalah selamanya. Kepunahan satu spesies satwa merupakan sebuah kerugian baik secara ekologi dan peran akan satwa liar tersebut di alam. Orangutan merupakan kera besar yang hanya bisa ditemukan di benua Asia dan mayoritas di Indonesia tepatnya di pulau Sumatera dan Kalimantan. Lewat musik, kampanye perlindungan orangutan disebarkan. Keuntungan dari penyelenggaraan musik amal ini akan disumbangkan ke Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo, Kalimantan Timur. Satu-satunya pusat rehabilitasi yang didirikan putra putri Indonesia.

Kamu pun bisa bantu orangutan Indonesia lewat pembelian kaos SFO Hijau. Hubungi SMS/ Whatsapp : 081293248403 harga berkisar Rp 100.000,00 sampai Rp 120.000,00 Pre-Order ditutup pada 25 Agustus 2018. Buruan!!!(NIK)

ORANGUTAN DAY AT SDN 3 SYAMSYDIN NOOR

On Sunday, I paid a visit to SDN 3 Syamsudin NOOR, Banjar Baru, South Kalimantan, to commemorate world orangutan day that has been set on August 19th every year.  I got the chance to give a subject matter for 6th grade students which devided into 4 classes. Luckily, there was a friend who were willing to help me and two homeroom teachers. At 12.30 WITA sharp, 106 students enthusiastically run into the hall.

I was nervous, afraid that i could not delivered the material clearly. With the help of slides and video, I opened the session by describing what is Centre for Orangutan Protection. And then, the importance of preserving orangutan and the forest that is a habitat for various kind of wildlife, including Indonesian native plants that are already rare.

Beyond expectation, they listened very well. Question and answer session was something that made me stunned, because of their critical question. Even when the activity was over, many of them approached me to ask more about the topics. That I almost forgot about my nervousness.

Guessing game with pieces of  animal puzzles and some rewards in the form of snacks were the closing of today’s school visit. At 13.30 WITA all activities already ended. I am so grateful that everything was going smoothly and enthusiastically welcomed by the students, also got the positive support from the Principal. (Nurul_COPSchool8)

ORANGUTAN DAY DI SDN 3 SYAMSUDIN NOOR
Senin ini, saya melakukan kunjungan ke SDN 3 Syamsudin Noor, Banjarbaru, Kalimantan Selatan untuk memperingati hari Orangutan Sedunia yang jatuh pada tanggal 19 Agustus pada setiap tahunnya. Saya mendapat kesempatan memberikan materi untuk anak-anak kelas 6 yang terdiri dari 4 kelas. Beruntung ada seorang teman yang bersedia membantu saya dan 2 orang guru wali. Tepat pukul 12.30 WITA, ada 106 siswa yang berlarian memasuki aula dengan antusias.

Saya sempat gugup, takut tidak bisa menyampaikan materi dengan jelas. Dengan mengandalkan slide dan video, saya membuka pertemuan ini dengan menjelaskan apa itu Centre for Orangutan Protection. Selanjutnya pentingnya menjaga kelestarian orangutan dan hutan yang merupakan habitat berbagai macam satwa liar termasuk tanaman-tanaman khas Indonesia yang sudah mulai langka.

Di luar ekspetasi saya, ternyata mereka menyimak dengan sangat baik, saat sesi tanya jawab menjadi sesuatu yang membuat saya tercengang karena pertanyaan mereka yang kritis. Bahkan saat kegiatan selesai, banyak dari mereka yang menghampiri saya untuk bertanya. Sampai lupa saya dengan kegugupan saya tadi.

Permainan tebak gambar dengan menggunakan potongan gambar dari beberapa satwa dan beberapa reward berupa snack menjadi penutup kegiatan school visit hari ini. Tepat pukul 13.30 WITA seluruh kegiatan berakhir. Saya sangat bersyukur, semua bisa berjalan dengan lancar dan disambut dengan antusias oleh para siswa serta mendapat dukungan postif dari Kapala Sekolah. (Nurul_COPSchool8)

ENJOY THE LESAN RIVER PROTECTIVE FOREST FROM MONITORING TOWER

Tropical rainforests are known for its high canopies and various kind of wildlife that coexist. Lesan River Protective Forest is one of them which located in Berau district. This forest which is rich in biodiversity that is a haven for flora and fauna life. Not less than 200 species of plants, 52 species of mamals, and 118 species of birds can be found here. 

The interesting thing about the Lesan River Protective Forest is the monitoring tower in the middle of the forest. This tower is approximately 40 meters tall and about 10 years old. Made from the Bangkirai woods and attached to Red Meranti tree as a support. This tower can be used to see the beauty of the canopies in Lesan River Protective Forest from above, to see how magnificent the giant trees that stand tall around the tower. Also, this tower can be used for monitoring activity.

Of course, it takes a lot of courage and braveness to climb the tower. If you lucky, you can also see orangutan nest from the top of the tower. To go to this monitoring tower, first you have to go to Lejak research camp, this camp can be reached approximately 1 hour from Lesan Dayak village using Katinting boat. This camp is right at the riverside of Lesan river. Compared to the large Kelay river, Lesan river is only 10-20 metres wide and there are large stones with diameter up to 5-10 metres. 

There are also small river rocks (gritstone) which fairly expanse that when the river recedes that wide expanse of gritstone will looks colorfull. Other than that, there will be some rapids with quite strong current found there and Katinting boat of visitors will be sunk due to the swift current and long rapids if it’s not an expert who steers the boat in the rainy season. 

After arriving at Lejak Research Camp, you have to continue your journey by walking in the middle of the jungle trees for approximately 1,5 hours to reach the monitoring tower. This walk will be decorated by quite steep incline and make you feel the fatigue in the first 30 minutes. But unfortunately, this tower has to be renovated because some of the woods has looked a little weathered. Hopefully, there will be renovations for this 40 meters tall tower. (SAR)

MENIKMATI HUTAN LINDUNG SUNGAI LESAN DARI MENARA PANTAU
Hutan hujan tropis terkenal dengan kanopi yang tinggi dan berbagai macam satwa liar yang hidup berdampingan. Salah satunya adalah Hutan Lindung Sungai Lesan yang berada di kabupaten Berau. Hutan yang kaya akan keanekaragaman hayatinya ini, merupakan surga bagi kehidupan flora dan fauna unik dan langka. Tidak kurang dari 200 jenis tumbuhan, 52 jenis mamalia, dan 118 jenis burung dapat ditemukan di sini.

Hal yang menarik dari Hutan Lindung Sungai Lesan ialah Menara Pantau yang berada di tengah-tengah hutan. Menara ini menjulang setinggi 40 meter. Menara ini sudah berumur kurang lebih 10 tahun lamanya. Dibuat dari Kayu Bangkirai dan menempel dengan Pohon Meranti Merah sebagai penyangganya. Menara ini bisa digunakan untuk melihat keindahan kanopi di Hutan Lindung Sungai Lesan dari atas, betapa megahnya pohon-pohon raksasa yang berdiri di antara menara bisa kita lihat. Selain itu, menara ini juga digunakan untuk pengamatan.


Tentu saja dibutuhkan nyali dan keberanian untuk menaiki menara ini. Jika beruntung, kalian juga bisa melihat sarang orangutan dari atas menara. Untuk menuju ke Menara Pantau ini, kita harus menuju ke camp penelitian Lejak terlebih dahulu, camp ini bisa dicapai kurang lebih 1 jam dari kampung Lesan Dayak menggunakan perahu bermesin ketinting. Camp ini berada tepat di pinggir Sungai Lesan. Dibanding Sungai Kelay yang besar, Sungai Lesan lebarnya hanya sekitar 10-20 meter dan terdapat batu-batu besar berdiameter mencapai 5-10 meteran. Di pinggiran sungai ini juga tampak bebatuan kecil (kersik) yang menjadi hamparan yang lumayan luas, bahkan saat sungai surut hamparan kersik yang luas di sungai akan terlihat dengan aneka warna. Selain bebatuan yang besar dan kecil, dalam perjalanan ini juga akan ditemukan beberapa beberapa titik jeram dengan arus yang cukup deras, bahkan jika bukan ahlinya dan saat musim hujan di jeram ini tidak sedikit katinting pengunjung akan karam karena derasnya arus dan jeram yang panjang.


Setelah sampai di Camp Penelitian Lejak, kita diharuskan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki diantara pohon-pohon rimba selama kurang lebih 1,5 jam untuk menuju ke lokasi menara pantau. Perjalanan ini akan dihiasi dengan tanjakan yang sedikit curam dan bisa membuat kelelahan di 30 menit pertama. Namun sayangnya menara ini sudah saatnya untuk direnovasi, karena beberapa kayu nya Sudah terlihat sedikit lapuk. Semoga segera ada renovasi pada menara setinggi 40 meter ini.