DELAYED ONE DAY, THIS ORANGUTAN FINALLY GOT RESCUED

His body is skinny, just look at him, he has no muscles and fats mass. This male orangutan is being kept in a wooden box with size of 100 cm x 100 cm x50 in cm. Previously, the orangutan was put in a larger cage, but he destroyed it and then he moved to a box without a door.

The 6-hours journey was taken by APE Defender team to Meratak village, Bengalon, East Kutai, East Kalimantan. Without stopping, the team was hoping they could immediately took the orangutan. But what could they say, the team from Samarinda suffered a tire break. Therefore, we had to stayed the night.

The day after, APE Defender team from Berau and BKSDA team from Samarinda were be able to meet and evacuate the orangutan that had been kept by the locals since 2014. The locals story that the orangutan was dangerous didn’t make the team anaestize him in hurry. The team slowly approached the orangutan, fed him, and stole his trust. Slowly, until finally he wanted to be carried by one of COP’s founder, Hardi Baktiantoro. “Very thin, hopefully he can get better and get his second chance to go back in nature.”, said Hardi.

Taking care orangutan as pet is illegal. If you know about orangutan being kept as pet, contact nearest KSDA or Centre for Orangutan Protection. Email or chat as on our social media. If you want to donate, you can go through kitabisa.com/orangutan4Indonesia (SAR)

TERTUNDA SEHARI, ORANGUTAN INI AKHIRNYA DAPAT DIEVAKUASI
Tubuhnya sangat kurus, lihat saja otot dan lemak antara kulit dan tulangnya, tidak ada. Orangutan jantan ini dipelihara di dalam kotak kayu berukuran 100cm x 100cm x 50 cm. Sebelumnya, orangutan ini berada di kandang yang lebih besar, namun dia merusaknya hingga akhirnya dimasukkan ke dalam kotak tanpa pintu.

Perjalanan 6 jam pun ditempuh tim APE Defender ke desa Meratak, Bengalon, Kutai Timur, Kalimantan Timur. Tanpa henti, tim berharap bisa segera membawa orangutan tersebut. Tapi apa daya, tim dari Samarinda mengalami pecah ban. Kami pun terpaksa bermalam.

Keesokan harinya tim APE Defender yang dari Berau dan BKSDA dari Samarinda bisa bertemu dan mengevakuasi orangutan yang sejak 2014 yang lalu dipelihara warga. Cerita warga bahwa orangutan ini membahayakan tak membuat tim buru-buru membiusnya. Tim perlahan mendekati orangutan, memberikan buah dan mencuri kepercayaannya. Perlahan, hingga akhirnya mau digendong oleh salah seorang pendiri COP, Hardi Baktiantoro. “Kurus sekali, semoga dia bisa lebih baik dan mendapatkan kesempatan keduanya untuk kembali ke alam.”, kata Hardi.

Pemeliharaan orangutan adalah perbuatan yang melawan hukum. Jika kamu mengetahui pemeliharaan orangutan, hubungi KSDA terdekat atau Centre for Orangutan Protection, email kami atau chat kami di media sosial COP. Jika kamu ingin donasi bisa melalui https://kitabisa.com/orangindo4orangutan

IT’S TIME FOR PLAYING WITH CHILDREN IN THE REFUGEE CAMP

“Copies of the image to be coloured, done. I have put in the markers for colouring, too. Well, today I escaped from the routine of animals caring in the clinic and shelter”, said Novi Fani Rovika, volunteer of Animals Warrior for the Palu earthquake and tsunami disaster.

Novi had spent her full week feeding dogs and cats who were left and abandoned by their owners in the earthquake and liquefaction area of Patobo and Balaroa Villages. She took care of several confiscated animals in the BKSDA Central Sulawesi and Tahura Kapopo, Sigi District, Central Sulawesi. She also shared her time caring for dogs in Palu Dog Lover shelter and for cats at Mrs. Ana’s shelter, with around 80 cats. Now, it’s time to interact with children in the refugee camp, who still have time to think about cats and dogs in Patobo and Balaroa.

It starts with singing together, playing, telling stories and colouring images. Suddenly, 90 minutes passed. Their smile brings happiness to me. All the 20 elementary students from 4-5 grade finally can hold paper and colour markers again after the disaster. “Let’s color our life, kids!” said Novi with enthusiasm. (IND)

SAATNYA BERMAIN DENGAN ANAK-ANAK DI PENGUNGSIAN PALU
“Fotokopi gambar yang akan diwarnai, sudah. Spidol untuk mewarnai juga sudah kumasukkan tas. Baiklah hari ini melarikan diri dari rutinitas merawat satwa di klinik dan shelter.”, gumam Novi Fani Rovika, relawan Animals Warrior untuk bencana gempa dan tsunami Palu.

Setelah seminggu penuh mengisi hari-hari dengan memberi makan anjing, kucing di daerah bencana gempa dan likuifaksi kelurahan Patobo dan Balaroa yang ditinggal mengungsi penghuninya. Novi juga mengurus beberapa satwa sitaan di BKSDA Sulteng dan Tahura Kapopo, kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Novi juga berbagi waktu merawat anjing di shelter Palu Dog Lover maupun kucing-kucing di shelter ibu Ana yang jumlahnya mencapai 80-an kucing. Saatnya berinteraksi dengan anak-anak di pengungsian, yang masih juga sempat memikirkan nasib kucing maupun anjing yang mereka tinggal di Patobo maupun Balaroa.

Dimulai dengan bernyanyi bersama, bermain, bercerita dan ditutup dengan mewarnai tak terasa 90 menit pun berlalu. Senyum mereka adalah senyum bahagiaku. Keduapuluh anak kelas 4-5 SD ini pun kembali bisa memegang kertas dan spidol warna kembali. “Ayo warnai kehidupan, anak-anak!”, ujar Novi dengan semangat.

THERE ARE 2 BULLETS IN THE BODY OF ORANGUTAN BABY

Monday, 15 October 2018 BKSDA Pos Sampit and the APE Crusader team evacuated a female orangutan baby in Santiung Village, Mentaya Hulu, Kotawaringin Timur District, Central Kalimantan. The condition of the baby was quite wild and nearly fool the team. The baby has wound and it became an important note for further examination when translocated to BKSDA SKW II Pangkalan Bun.

“Hopefully it’s not bullet wounds”, Paulinus Kristanto prayed along the way after evacuating the baby orangutan named Sutan.

This wound is a concern during a medical examination at the OFI clinic in Central Kalimantan. Baby Sutan was x-rayed and the result found two air rifle bullets lodged in his tiny body. One bullet on the left side of the head was removed.

Baby Sutan is found in a palm oil plantation in Kotawaringin Timur, Central Kalimantan. Orangutan babies aged 1-2 years are very dependent on their mothers, but Sutan was found alone with 2 bullets in his body. Is it true that the conversion of forests to palm oil plantations has ignored the high conservation value area? (IND)

ADA 2 PELURU DI TUBUH BAYI SUTAN
Senin, 15 Oktober 2018 KSDA Pos Sampit dan tim APE Crusader mengevakuasi bayi orangutan betina di desa Santiung, kecamatan Mentaya Hulu, kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Kondisi bayi yang cukup liar sempat mengecohkan tim. Berkat ketelitian tim, kondisi fisik dengan luka menjadi catatan untuk pemeriksaan lanjutan saat diserahkan ke KSDA SKW II Pangkalan Bun.

Semoga bukan luka karena peluru, begitu doa Paulinus Kristanto sepanjang jalan usai mengevakuasi bayi orangutan bernama Sutan ini.

Catatan ini menjadi perhatian saat pemeriksaan medis di klinik OFI, Kalteng. Bayi Sutan pun di rontgen dan terlihat peluru senapan angin bersarang di tubuh mungilnya. Satu peluru di kepala bagian samping kiri berhasil di keluarkan.

Bayi Sutan ditemukan di perkebunan kelapa sawit di Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Bayi orangutan berusia 1-2 tahun sangat tergantung dengan induknya. Sementara Sutan ditemukan sendiri dengan 2 peluru yang bersarang di tubuhnya. Benarkah alih fungsi hutan untuk perkebunan kelapa sawit telah mengabaikan nilai konservasi tinggi kawasan tersebut?

ANIMALS WARRIOR SAVE 5 KITTENS IN PETOBO

A very tiring day. This is not the first time the team has been around feeding dogs and cats in Petobo, Central Sulawesi. Petobo has experienced liquefaction with severe damage and destroyed almost one village in Palu. “There are 21 dogs and 52 cats recorded today while we doing a street feeding,” said Faisal, animal volunteers who joined Orangufriends.

At the house in the corner seems like there are not only 3 dogs. One mother dog has wet nipples, that indicates she is still breastfeeding. The team braves themselves to enter the collapsed house. In the bathroom, between buckets of water, they saw baby dogs hiding. Their eyes are still covered, still only 1 week old. The homeowner, evacuated and has not returned yet. The team immediately coordinated with neighbours and conveyed the existing conditions and the possibility of evacuating the dogs.

Together with Mrs. Ana, the owner of a cat shelter in Palu, the Animals Warrior team headed to a house which was reported to have sick kittens. The search for cats is not easy. All the cats were roamed, so the team had to chase and catch them. There are 5 cats with wounds in their eyes. Now the five are in the shelter of Mrs. Ana.

If you want to help animal victims of the earthquake and tsunami disaster in Palu, Central Sulawesi, you can go to kitabisa.com/bantusatwapalu

ANIMALS WARRIOR SELAMATKAN 5 ANAK KUCING DI PETOBO
Hari yang sangat melelahkan. Ini bukanlah untuk pertama kalinya tim berkeliling memberi makan anjing dan kucing di daerah Petobo, Sulawesi Tengah. Daerah yang mengalami likuifaksi dengan kerusakan parah dan menghilangkan hampir satu kelurahan di Palu. “Ada 21 anjing dan 52 kucing tercatat pada hari ini saat keliling pemberian pakan.”, ujar Faisal, relawan satwa yang tergabung di Orangufriends.

Rumah pojok ini ternyata tak hanya ada 3 anjing di situ. Terlihat satu induk anjing dengan puting susu yang masih menyusui. Tim pun memberanikan diri memasuki rumah yang rubuh tersebut. Di kamar mandi, di antara ember air, terlihat bayi-bayi anjing bersembunyi. Matanya masih terseliputi, masih baru 1 minggu usianya. Pemilik rumah, mengungsi dan belum kembali. Tim segera berkordinasi dengan tetangga yang kebetulan ada, dan menyampaikan kondisi yang ada serta kemungkinan mengevakuasi anjing-anjing tersebut.

Bersama ibu Ana, pemilik shelter kucing di Palu, tim Animals Warrior menuju rumah yang dikabarkan ada anak-anak kucing yang sakit. Pencarian kucing tak semudah yang dipikirkan tim, datang ke rumah dan menemukan kucing tersebut. Ternyata kucing-kucing berkeliaran, sehingga tim pun harus berkejar-kejaran menangkap kucing-kucing tersebut. Ada 5 kucing yang mengalami luka pada matanya. Kini kelimanya berada di shelter ibu Ana.

Jika kamu ingin membantu satwa korban bencana gempa dan tsunami Palu, Sulawesi Tengah, bisa melalui https://kitabisa.com/bantusatwapalu

ORANGUTAN SHOULD NOT BE LIVING IN THAT WOODBOX

APE Defender team (18/10/18) check on the baby orangutan found by locals of Tepian Baru village, East Kutai, East Kalimantan at his rice field that was just cleared in 2014. Temporary examination shows that the orangutan is a 4-5 year old male orangutan.

“Condition of the orangutan is so skinny. Mistreatment can be the main factor that causing the bad condition of this orangutan.”, drh. Felicitas Flora said. The habits to feed him human food i.e rice with side-dishes will be a special notes on its rehabilitation process. “The little finger of his right foot is missing.” added the vet of APE Defender team.

Fortunately, the keeper was aware that this orangutan can not be that box of 1m x 1m x 0.5 continually, as the orangutan is getting bigger. Hopefully, the orangutan will already be in rehabilitation center.

“It’s not easy to rehabilitate an orangutan. At an early stage, an orangutan will undergo a series of medical examinations. An orangutan will also undergo a quarantine period for two months until all the medical examinations are done. If the orangutan passes that period, he will be joining the forest school class. His development will always be monitored, and the result of it will determine whether he will continue to pre-release class, or even release class, or not. This all cost a great amount of money and quite a long time. Do not pet orangutan! Immediately report if you see any orangutan living around humans.” Wety Rupiana, coordinator of COP Borneo orangutan rehabilitation centre explained. (SAR)

ORANGUTAN TIDAK SEHARUSNYA DI KANDANG KAYU ITU
Tim APE Defender (18/10/18) memeriksa bayi orangutan yang ditemukan warga Tepian Baru, Kutai Timur, Kalimantan Timur di ladang padinya yang baru dibuka pada 2014 silam. Pemeriksaan sementara meliputi jenis kelamin orangutan yaitu jantan dengan usia 4-5 tahun.

“Kondisi orangutan saat ini kurus. Penanganan yang salah bisa saja menjadi penyebab utama kondisi buruk orangutan ini.”, ujar drh. Felisitas Flora. Kebiasaan memberi makanan seperti makanan manusia yaitu nasi beserta lauknya akan menjadi catatan tersendiri proses rehabilitasi orangutan ini nantinya. “Jari kelingking kaki kanannya, tidak ada.”, tambah dokter hewan tim APE Defender ini.

Syukurlah pemelihara menyadari, bahwa orangutan tersebut tidak bisa terus menerus berada dalam kotak kayu berukuran 1m x 1m x 0,5m, seiring dengan bertambahnya usia orangutan. Tim segera berkoordinasi dengan BKSDA untuk mengevakuasi orangutan tersebut. Semoga minggu depan, orangutan tersebut sudah bisa masuk pusat rehabilitasi.

“Memang tidak mudah merehabilitasi orangutan. Untuk tahap awal, orangutan akan melalui serangkaian pemeriksaan medis. Orangutan juga akan menjalani masa karantina selama 2 bulan hingga hasil pemeriksaan kesehatanannya tuntas. Jika orangutan bisa melalui masa karantina tersebut, dia akan dimasukkan ke kelas sekolah hutan. Perkembangan akan terus dalam pantauan, dan hasilnya akan membawanya bisa lanjut ke kelas pra-rilis bahkan ke kelas rilis nantinya. Ini semuanya memakan biaya yang besar dan waktu yang tidak sebentar. Jangan pelihara orangutan! Segera laporkan jika kamu mengetahui keberadaan orangutan di tengah manusia.”, jelas Wety Rupiana, kordinator pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. (FLO)

GEMPI AND HER FRIENDS ARE NO LONGER COLD IN RAIN

Her small body screamed and hobbled toward the Animals Warrior team. Among the ruins of the house, the team found a kitten who was dehydrated and malnourished. The Animals Warrior team, who had worked two weeks on the field, went around looking for her mother. Unfortunately, after trying to find, the mother never appeared. Gempi, this kitten was evacuated from the liquefaction location in Balaroa Village, Palu, Central Sulawesi.

The team took Gempi to the Palu Earthquake and Tsunami Disaster Relief Camp at the BKSDA (Natural Resources Agency) Central Sulawesi and then moved it to the Palu cat shelter, run by Mrs. Ana. In this shelter, there are about 70 abandoned cats treated by Mrs. Ana. The condition of the shelter is not much different from the condition of the house or office in Palu, it is cracked and collapsed. Mrs. Ana was forced to put up a temporary tarpaulin in front of her house to avoid heat and rain but it did not last long, because when the wind blew hard, the tarpaulin was scattered.

Animals Warrior immediately divided the team into 2 groups, one group evacuated several animals from the BKSDA Central Sulawesi to Manado and the others rebuilt Mrs. Ana’s cat shelter. “Luckily, there is material shop already open. The team also bought wood and other necessities. In two days, the shelter roof was installed. Cages were arranged to make maintenance easier”, said Daniek Hendarto. Strong winds often blow in Palu and the last two days of rain are quite heavy. Meanwhile, to include cats into the house, Mrs. Ana was still traumatized by the earthquake so she did not dare to stay in the house for too long.

Thank you for the donation via https://kitabisa.com/bantusatwapalu. Without all the help, it might be difficult to immediately realize a better place for cats in Ms. Ana’s shelter.

GEMPI DAN TEMAN-TEMAN TIDAK KEHUJANAN LAGI
Tubuh kecilnya berteriak dan tertatih-tatih mendekati tim Animals Warrior. Di antara reruntuhan rumah, tim menemukan anak kucing yang mengalami dehidrasi dan malnutrisi. Tim Animals Warrior yang saat itu sudah bekerja dua minggu di lapangan langsung berkeliling mencari induknya. Sayang, setelah berusaha mencari, sang induk tak kunjung muncul. Gempi, anak kucing ini pun dievakuasi dari lokasi likuifaksi kelurahan Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah.

Tim membawa Gempi ke Posko Satwa Terdampak Bencana Gempa dan Tsunami Palu yang berada di BKSDA Sulteng dan kemudian memindahkannya ke shelter kucing Palu ibu Ana. Di shelter ini sendiri ada sekitar 70 kucing terlantar yang dirawat ibu Ana. Kondisi shelter tak jauh berbeda dengan kondisi rumah maupun perkantoran yang ada di Palu, retak bahkan rubuh. Ibu Ana pun terpaksa memasang terpal sementara di depan rumahnya untuk sekedar menghindari panas dan hujan namun tak bertahan lama, karena saat angin berhembus kencang, terpal pun kocar-kacir.

Animals Warrior segera membagi tim yang ada, sebagian mengevakuasi satwa sitaan BKSDA Sulteng ke Menado dan yang lainnya membangun kembali shelter kucing ibu Ana. “Beruntung, sudah ada toko bangunan yang buka. Tim pun berbelanja kayu dan keperluan lainnya. Dalam dua hari, atap shelter darurat pun terpasang. Kandang-kandang pun disusun untuk lebih memudahkan perawatan.”, ujar Daniek Hendarto dengan lega. Bagaimana tidak lega, angin kencang sering berhembus di Palu dan dua hari terakhir hujan lumayan lebat. Sementara untuk memasukkan kucing-kucing ke dalam rumah, ibu Ana sendiri masih trauma karena gempa sehingga tidak berani terlalu lama berada di dalam rumah.

Terimakasih atas donasi melalui https://kitabisa.com/bantusatwapalu Tanpa bantuan semuanya mungkin akan sulit untuk langsung mewujudkan tempat yang lebih baik untuk kucing0-kucing di shelter ibu Ana.

BABY SUTAN VICTIM OF LAND CONVERSION?

This orangutan baby looks stressed. Being in a wooden box with a light hole that is a bit like adding to his fear. It got worse when the keeper bathes him on the river bank behind his house. The wound on his head seemed to dry out.

The APE Crusader team tried to approach this orangutan baby. But quickly he tried to stay away. “If it’s only been found for two months, surely he is still quite wild.”, Murmured Paulinus Kristanto. In a moment later, Paulinus carried a pile of leaves. And sure enough, this baby orangutan is swiftly piling up leaves like making nests.

The discovery of baby orangutans on plantations is nothing new. How can an orangutan baby be on a plantation without its mother, while a baby orangutan has a very close relationship with its mother until the age of 5 to 8 years.

The opening of palm oil plantations in the Mentaya Hulu sub-district, East Kotawaringin district, Central Kalimantan is not in dozens or hundreds of hectares. But tens of thousands of hectares that also occupy forests outside conservation forests. What about animals that live in it? Certainly they have to find another place or die unable to survive when the forest conversion occurs. Is there still a forest in Kotim? (EBO)

BAYI SUTAN KORBAN ALIH FUNGSI HUTAN?
Bayi orangutan ini terlihat stres. Berada di kotak kayu dengan lubang cahaya yang sedikit seperti menambah ketakutannya. Semakin bertambah saat pemeliharanya memandikannya di tepi sungai belakang rumahnya. Luka di kepalanya tampak mengering.

Tim APE Crusader berusaha mendekati bayi orangutan ini. Namun dengan cepat dia pun berusaha menjauh. “Jika baru dua bulan ditemukan, pasti dia masih cukup liar.”, gumam Paulinus Kristanto. Tak lama kemudian, Paulinus membawa setumpuk daun-daun. Dan benar saja, dengan sigap bayi orangutan ini menumpuk-numpuk dedaunan yang ada seperti membuat sarang.

Penemuan bayi orangutan di perkebunan bukanlah hal yang baru. Bagaimana mungkin bayi orangutan berada di perkebunan tanpa induknya. Sementara bayi orangutan dengan induknya mememiliki hubungan yang sangat dekat hingga usia anak 5-8 tahun.

Pembukaan perkebunan kelapa sawit di kecamatan Mentaya Hulu, kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah bukan hitungan belasan bahkan ratusan ha lagi. Tapi puluhan ribu ha yang juga menghabiskan hutan di luar hutan konservasi. Bagaimana satwa yang hidup di dalamnya? Sudah pasti harus mencari tempat lagi atau mati tak mampu bertahan saat alih fungsi terjadi. Masih adakah hutan di Kotim?

APE CRUSADER GOES TO CENTRAL KALIMANTAN TO SAVE BABY ORANGUTAN

From east to West Kalimantan, APE Crusader finally arrived in East Kotawaringin regency, Central Kalimantan. With KSDA Region II Post Sampit section, the baby orangutan finally handed over to the country after 2 months of being cared illegally.

This female baby orangutan didn’t look healthy. There was groans several times, as if she was dealing with pain. The team saw a wound on her head that had just dry out. According to Pak Ali who found the orangutan, he found her on his farm when he was about to fishing, then he took her to be kept as pet.

How the baby orangutan was found always when the baby was alone in a farm of the locals. The local who found the baby felt pity and took it home to be cared. In fact, they didn’t even know how to take care of baby orangutan. Just like this baby orangutan called Sutan. He was put in a wooden box of 50 cm x 30 cm x 30 cm. The box condition was dirty like it had never been cleaned, there was also rotten banana leftover inside the box. The box was located behind the hut not far from the bathroom on the riverside.

If you see or heard a baby orangutan found in a farm or being kept as pet by someone, please contact Call Center Ditjen KSDAE 082299351705 or contact through COP’s email on info@orangutanprotection.com or instagram @orangutan_COP.(SAR)

APE CRUSADER MENUJU KALTENG UNTUK SELAMATKAN BAYI ORANGUTAN
Dari timur Kalimantan menuju barat, APE Crusader akhirnya tiba di kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Bersama KSDA seksi wilayah II Pos Sampit, bayi orangutan akhirnya diserahkan kembali ke negara setelah dua bulan dipelihara secara ilegal.

Bayi orangutan berjenis kelamin betina ini terlihat tidak sehat. Beberapa kali terdengar rintihannya, seperti menahan sakit. Tim melihat ada luka di kepalanya dan sudah mulai mengering. Menurut pak Ali yang menemukan bayi orangutan tersebut, dia menemukannya di kebun sewaktu memancing, lalu membawanya untuk dipelihara.

Bagaimana bayi orangutan ditemukan selalu saja saat bayi sendiri di kebun atau ladang warga. Warga yang menemukan merasa kasihan dan membawanya untuk dipelihara. Pada kenyataannya, bagaimana cara merawat bayi orangutan pun tidak tahu. Seperti bayi orangutan bernama Sutan ini. Dia dimasukkan ke dalam kotak kayu berukuran 50cm x 30 cm x 30 cm. Kondisi kandang kotor karena tidak pernah dibersihkan, terdapat sisa pisang mentah bahkan busuk di dalamnya. Kandang pun terletak di belakang pondok tak jauh dari kamar mandi di sisi sungai.

Jika kamu melihat atau mendengar ada bayi orangutan yang ditemukan di ladang atau dipelihara seseorang, hubungi Call Center Ditjen KSDAE 082299351705 atau informasikan melalui email COP info@orangutanprotection.com atau Instagram @orangutan_COP

THE MASSIVE AREA OF PALM OIL PLANTATION IN EAST KALIMANTAN

Trans Borneo Challenge #1 trip on October 13 was accompanied by an endless rain. Throughout their long trip, the team realized how huge the palm oil plantations in East Kalimantan is. The switch of team members cannot be avoided. Septian, who is a COP School Batch 6 alumni, must be replaced by Reza Kurniawan from COP School Batch 5.

An illegal orangutan ownership case is still found. Unyil, a baby orangutan from Meratak Village, East Kalimantan, looked thin. Unyil was sitting in an empty cage. “This is a dilemma. A local person, Mr. Jating, cannot let Unyil starving and fright alone in the middle of his field. When he found Unyil, he brought Unyil to have cared at his house” said Ibnu Anshari, an alumnus of COP School Batch 1 who was the Team Leader of the Trans Borneo Challenge #1 trail.

Finally, after 9 days of traveling from East Java, the team arrived at the COP Borneo orangutan rehabilitation center, Berau, East Kalimantan. What a challenging and interesting journey. The team witnessed the condition of our mother earth. They listen and see the loss of orangutan habitat in East Kalimantan, that are destroyed by the enormous palm oil business. (IND)

LUASNYA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT KALIMANTAN TIMUR

Perjalanan Trans Borneo Challenge #1 pada 13 Oktober ditemani hujan tanpa henti. Sepanjang perjalanan tanpa putus perkebunan kelapa sawit membawa kami pada luasnya perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Timur ini. Pergantian personal pun tak bisa dihindari. Septian yang merupakan alumni COP School Batch 6 harus digantikan Reza Kurniawan dari COP School Batch 5.

Kepemilikan ilegal orangutan pun masih dijumpai. Orangutan Unyil dari kampung Meratak, Kalimantan Timur terlihat kurus. Unyil pun masih terduduk di kandang kosong. “Ini adalah dilema, masyarakat tak tega membiarkan Unyil sendirian di tengah ladangnya saat ditemukan pertama kali. Unyil pun dibawa untuk dipelihara. Kasihan kata pak Jating.”, ujar Ibnu Anshari, alumni COP School Batch 1 yang merupakan ketua Tim trail Trans Borneo Challenge #1.

Akhirnya, setelah 9 hari melakukan perjalanan dari Jawa Timur, tim berhasil tiba di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur. Sebuah perjalanan yang menantang dan menarik. Tim menjadi saksi kondisi ibu bumi. Mendengarkan dan melihat langsung semakin hilangnya habitat orangutan di Kalimantan Timur.

ZAENAB FROM FISHERMAN’S HOUSE ON TALISE BEACH

To ease the pain, madam Zaenab raised her arms to the chest. Her arms looked swollen. The time when she run away from tsunami at fisherman area, Talise beach, East Palu, Central Sulawesi. Her house was the last house that survived the tsunami.

Madam Zaenab went back to her house, checking on the cats that used to gather around her house. There was no time to look after them. When she run away, she fell down and her hand hurts as she came to health centre post.

Madam Zaenab, as any other mother, returned to her house while looking for the cats that used to gather around in her yard. Like madam Ana near yellow bridge at Talise beach, Palu city icon. Madam Ana, as she awakened from her sleep she asked whether she’s already dead or not. She faintly heard cat’s sound. And she realised that she’s alive. “I still heard cat’s sound that was getting clearer and louder. And I saw it approaching me. I am still alive.”, Madam Ana said.

Now, madam Ana is taking care of the cats living nearby. She said that this will be her activity. Earthquake and Tsunami that hit Talise beach has ruined houses, places to find food, and of course the life of Palu residents. Not sure how many people that are disunited. Now, they are struggling to reunite their ruined hopes. (SAR)

ZAENAB DARI RUMAH NELAYAN PANTAI TALISE
Untuk mengurangi rasa sakitnya, ibu Zaenab mengangkat tangannya sedadanya. Tangannya terlihat bengkak. Saat melarikan diri dari tsunami di daerah nelayan, pantai Talise, Palu Timur, Sulawesi Tengah. Rumahnya menjadi rumah terakhir yang selamat dari terjangan tsunami.

Ibu Zaenab kembali lagi untuk mengecek keberadaan kucing-kucing yang biasanya berkumpul di rumahnya. Tak ada waktu untuk mencari kucing-kucing itu. Saat melarikan diri, dia terjatuh dan tangannya pun terasa sakit setibanya di posko Puskesmas.

Ibu Zaenab seperti ibu-ibu lainnya di Palu, kembali ke rumahnya sembari mengecek kucing-kucing yang biasanya berkumpul di halaman rumahnya. Seperti ibu Ana di pantai Talise dekat jembatan kuning, ikon kota Palu. Ibu Ana, tersadar dari tidurnya di posko. Apakah saya sudah mati? Sayup-sayup terdengar suara kucing. Dan dia pun tersadar bahwa dia masih hidup. “Masih ku dengar suara kucing yang semakin jelas dan keras. Lalu kulihat dia mendekati ku. Masih hiduplah aku.”, kata ibu Ana lagi.

Kini ibu Ana mengurus kucing-kucing di sekitarnya, ini akan jadi kesibukanku tersendiri, begitu katanya. Gempa dan Tsunami yang menerjang pantai Talise telah memporak-porandakan rumah, tempat mencari makan dan hidup warga Palu. Entah berapa ribu orang yang tercerai-berai. Kini mereka sedang berjuang menyatukan kembali puing-puing harapannya.