UNTUNG TURNS TO GO BACK HOME

He is Untung, a lucky orangutan with imperfect fingers who can compete in the COP Borneo pre-release island. In 2011, when Centre for Orangutan Protection took him to the school forest for the first time, he looked scared, his body trembled while hugging the branch of tree. His confidence was lacking. COP staffs patiently accompanied him, talked to him with deep voice, and gently fondled him. On the next forest school, Untung had to grab fruits between branches for his meal. His hunger guided him to reach the banana. From that day onward, we believe that Untung will be back to its habitat one day.

Almost 8 years has passed. Going back and forth inside and outside the cage to teach him that he’d better avoid humans whenever they approaches him with a long pipe. He would then made voices to scare people. And whenever our eyes met, he would looked at us with dislike. Untung is getting wilder.

The pre-release island is surrounded by river and is dominated by the orangutan release candidates. the animal keeper will only stop by to put some foods in the morning and evening, to complement the natural food that is available on the island. Untung’s grumpy attitude was always on to drive away the on-duty animal keepers without exception.

Thankfully, Untung succeeded this stage. Release preparations have also begun.”, explained Jhony, the coordinator of COP Borneo animal keepers in Berau, East Kalimantan. Untung will be one of the second orangutan who had entered a zoo and went to COP Borneo rehabilitation centre to be released. COP Bornea has succeeded with Oki orangutans, the one from Mulawarman University Botanical Garden, Samarinda. Now it is Untung turn! (SAR)

GILIRAN UNTUNG UNTUK KEMBALI KE RUMAH
Dia adalah Untung, orangutan yang beruntung walau dengan jari yang tidak sempurna mampu bersaing di kelas pulau pra rilis orangutan COP Borneo. Untung di tahun 2011 saat Centre for Orangutan Protection mengajaknya pertama kali ke sekolah hutan, Untung terlihat ketakutan, tubuhnya bergetar memeluk dahan. Terlihat rasa percaya dirinya yang sangat porak poranda. Dengan telaten, staf COP menemaninya, berbicara dengan suara rendah dan membelai punggungnya dengan lembut. Saat sekolah hutan berikutnya, Untung harus meraih buah-buahan sebagai makanannya di antara dahan. Rasa laparnya menuntunnya meraih pisang. Saat itulah, kami yakin, kelak Untung akan kembali ke habitatnya.

Hampir delapan tahun berlalu. Bolak balik ke luar kandang mengajarkannya, saat seseorang dengan pipa panjang mendekatinya, sebaiknya dia menghindar. Dia pun akan segera mengeluarkan suara untuk mengusir. Dan saat kita bertatapan, dia pun melihat kita dengan kebencian. Untung semakin meliar.

Pulau pra rilis orangutan adalah sebuah pulau yang dibatasi oleh sungai. Pulau mutlak dikuasai oleh orangutan-orangutan kandidat pelepasliaran. Hanya pada saat pagi dan sore hari, para animal keeper akan berlabuh sesaat di dermaganya untuk meletakkan makan pagi dan sore sebagai tambahan dari makanan yang sudah tersedia secara alami di pulau. Sikap galak Untung pun tanpa terkecuali, dengan galak dia berekspresi, mengusir para animal keeper yang bertugas.

“Syukurlah, Untung berhasil pada tahapan ini. Persiapan untuk pelepasliarannya pun sudah dimulai.”, jelas Jhony, koordinator animal keeper di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur. Untung akan menjadi orangutan kedua yang pernah di kebun binatang dan masuk pusat rehabilitasi COP Borneo untuk dilepasliarkan. COP Borneo telah berhasil dengan orangutan Oki, orangutan dari Kebun Raya Unviversitas Mulawarman, Samarinda. Kini giliran Untung!

DOZENS OF ORANGUTANS LOST THEIR HABITAT IN CENTRAL KALIMANTAN

The APE Crusader team found another threatened orangutan habitat in Lamandau, Central Kalimantan. Our finding is strengthened by the discovery of orangutan nests in the middle of an area that has clearing permission for oil palm plantations. From the survey of orangutan organizations in 2015, it was estimated that there were 0.23 individuals/km2 along 8,500 meters in the plantation area.

Among the pile of logs and a road that cut through the forested area, the team also found 4 nests that were only 200-500 meters away from the road. “This area is an orangutan habitat! The brutal process of clearing forests into oil palm plantations must be stopped,” said Paulinus Kristanto, Habitat Campaigner of COP.

The Act of Indonesia Republic No. 5 of 1990 concerning Conservation of Natural Resources and Ecosystems in article 21 paragraph 2e reads, “taking, damaging, destroying, trading, storing or possessing eggs and/or nests of protected animals” will be punished with a maximum jail sentence of 5 years and a maximum fine of IDR 100 million. (IND)

PULUHAN ORANGUTAN TERANCAM KEHILANGAN HABITAT DI KALTENG
Tim APE Crusader menemukan satu lagi habitat orangutan yang terancam di kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah. Habitat orangutan diperkuat dengan penemuan sarang yang berada di tengah ijin perencanaan pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit. Dari hasil survei organisasi orangutan tahun 2015 diperkirakan terdapat 0,23 individu/km2 sepanjang 8.500 meter di areal perkebunan tersebut.

Di antara tumpukan kayu tebangan dan jalan yang membelah kawasan berhutan, tim juga menemukan 4 sarang yang berjarak hanya 200-500 meter. “Kawasan ini merupakan habitat orangutan! Proses pembukaan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit harus dihentikan.”, ujar Paulinus Kristanto, juru kampanye Habitat COP.

Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dalam pasal 21 ayat (2) e berbunyi, “mengambil, merusak, memusnahkan, memperniagakan, menyimpan atau memiliki telur dan/atau sarang satwa yang dilindungi.”, dengan sanksi pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan dengan paling banyak Rp 100.000.0000,00. (NUS)

TIDY UP THE TREES AROUND THE ORANGUTAN CAGES

The lush trees at the orangutan rehabilitation centre of COP Borneo, Berau, East Kalimantan, make it hard for sunlight to break into orangutan cages. Though sunlight is very necessary in managing air humidity, especially in the enclosure of COP Borneo. Finally, the team scheduled to trim the branches that block the sunlight from reaching the cage.

Jevri and Amir, two animal keepers who are masters in climbing 15 meters high trees at the school forest, were tasked with trimming the branches. With agility, both of them reached the end of the tree and effortlessly cut the sticky branches. After taking care of the twigs of one tree, they headed to another tree. Instead of going down and climb another, they were crossing over through branches as the bridge. Very similar to orangutans, just not swinging. “So that’s why all the forest school students are so good at climbing and moving from one tree to another.”, said drh. Felisitas Flora. Indeed, one of the added values for animal keeper at COP Borneo is being good at climbing.

COP Borneo orangutan rehabilitation center is the one and only rehabilitation centre founded and run by Indonesian young generation. Even most of people who run the rehab centre of COP Borneo are the local people who live in Merasa village, Berau, the nearest village to the centre. You can support the orangutan protection through kitabisa.com/orangindo4orangutan (FLO)

MERAPIKAN POHON DI SEKITAR KANDANG ORANGUTAN
Rimbunnya pepohonan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur membuat cahaya matahari sulit menerobos kandang orangutan. Padahal sinar matahari sangat diperlukan agar udara tidak terlalu lembab terutama di kandang orangutan pusat rehabilitasi COP Borneo. Akhirnya, tim mengagendakan untuk memangkas ranting-ranting yang menghalangi sinar matahari sampai ke kandang.

Biasanya, Jevri dan Amir, dua animal keeper yang menjadi andalan dalam memanjat pohon yang tingginya sekitar 15 meter pada saat sekolah hutan berlangsung kali ini bertugas merapikan ranting-ranting. Dengan lincah, keduannya sampai ke ujung pohon dan tanpa kesulitan memotong ranting-ranting yang menjulur. Selesai mengurus ranting di satu pohon, mereka pun menuju ke pohon yang lain. Tidak turun ke tanah malainkan melalui dahan yang menjadi jembatannya. Sangat mirip dengan orangutan, hanya saja tidak berayun. “Wjar saja, siswa sekolah hutan yang diasuh selama ini sangat pandai memanjat dan berpindah-pindah dari satu pohon ke pohon yang lain.”, ujar drh. Felisitas Flora. Memang, salah satu nilai tambah untuk animal keeper di COP Borneo adalah pandai memanjat.

Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo adalah satu-satunya pusat rehabilitasi yang didirikan dan dijalankan oleh putra-putri Indonesia. Sebagian besar yang menjalankan pusat rehabilitasi bahkan orang lokal yang bertempat tinggal di desa terdekat yaitu desa Merasa, Berau. Kamu pun bisa mendukung perlindungan orangutan melalui kitabisa.com/orangindo4orangutan (FLO)

EVEN STONES ARE ENTERTAINMENTS FOR THE RANGER

Playground does not only belong to children. These well-built but soft-hearted forest guards also love to play. Every forest guard, that usually called as ranger, must obey the agreed rules that one of which is to not bring any smartphones. The rules made in order to focus their attention only on the forest activities. Smartphone can distract the team attention from surroundings through games or music player. “It’s impossible to connect to social media, even telephone network is not available there. “ said Ipeh, a volunteer of APE Guardian team. Then, what will they do on break time?

Creek is rangers’s favorite place to hang, refill water, lunch, coffee break, or even play. Really? Stones around the river are their entertainment. How come? One of them pick 3 stones up then threw it up and catch it in one after another. They were also stacked stones or rock balancing or also known as gravity glue. When break time is up, they will race to throw stones to the pile of rocks at a certain distance. After that, laughter started their afternoon patrol. it’s simple, isnt it?

The rangers are the forest guards who stand on the front line. Because of them, the forest is secured and maintained. Why the forest have to be protected? Today, it’s not only houses or offices that require security but also forests. Guarding a forest is even more difficult, no fences as a border, no signals to communicate if something happens. Rangers keep all the natural wealth in the forest safe. And rangers also need entertainment, like playing stones. Have you ever played stones? If yes, give your comments! (SAR)

BATU PUN MENJADI HIBURAN BAGI RANGER
Dunia bermain tak hanya milik anak-anak. Tak terkecuali para penjaga hutan berbadan tegap namun berhati lembut ini. Setiap penjaga hutan atau ranger harus mematuhi peraturan yang telah disepakati, salah satunya adalah tidak boleh membawa smartphone. Tujuannya adalah agar kita fokus untuk kegiatan di hutan, sebab jika ada smartphone dapat dipastikan akan ada yang bermain game atau mendengarkan musik sehingga mengabaikan keadaan sekitar. “Kalau untuk ber-media sosial itu sih tidak mungkin, signal telepon saja tidak ada.”, ujar Ipeh, relawan tim APE Guardian. Lalu apa yang dilakukan para penjaga hutan saat istirahat?

Anak sungai adalah tempat favorit para ranger untuk beristirahat, mengisi ulang kebutuhan air, tempat makan atau coffee break bahkan bermain. Serius? Batu-batu yang tersebar di sungai adalah hiburan tersendiri buat para ranger. Bagaimana mungkin? Salah satu ranger memungut 3 batu lalu melemparkannya ke atas lalu akan ditangkap dengan bergantian. Ada pula yang mengambil lalu menyusunnya, bahasa kerennya rock balance ada juga yang menyebutnya garvity glue. Setelah waktu istirahat berakhir… mereka akan berebutan mengenai batu yang telah disusun dengan batu dalam jarak tertentu. Selanjutnya gelak tawa pun mengawali patroli siang mereka. Sederhana ya…!

Para ranger adalah para penjaga hutan yang berada di garis depan. Berkat merekalah keamanan hutan terjaga. Kenapa sih hutan harus dijaga? Zaman sekarang, tak hanya perumahan atau perkantoran saja yang memerlukan penjagaan, tapi hutan pun. Bahkan menjaga hutan jauh lebih sulit, tak ada pagar yang mengelilingi, tak ada jaringan telepon yang bisa menembus komunikasi jika terjadi sesuatu, ya pada para ranger lah, kekayaan hutan bisa terjaga. Dan para ranger juga butuh hiburan, yang dengan bermain batu tadi. Kamu pernah bermain batukah? Kalau ya… berikan komentarmu! (IPEH_Orangufriends)

A HUT FULL OF WASTE WAS FOUND IN THE MIDDLE OF PROTECTED FOREST

This morning, two volunteers in the APE Guardian or the orangutan release monitoring team were preparing to enter the forest again. “This time we go earlier”, said Widi, one of the volunteer. This is the tenth-day orangutan Novi and Leci are released into their habitat. “Actually, if we meet the orangutans, we still haven’t determined how to react, whether we run away or dare to observe them”, added Widi.

Widi is a volunteer who participates in the release of orangutans in Berau, East Kalimantan. Just being physically strong isn’t enough to be a volunteer. They also must have strong mentally, especially in the forest where there is no electricity, telephone signal, and no internet.

After walking for 2 hours going up and down deep into the forest, the team found plastic trash. “One… two… and more and many more! Then we found a hut in a protected forest! This is crazy! Humans left all of their trashes here!” said Widi in anger. Plastics of instant noodles, cigarettes, snacks, flour are scattered everywhere. Even some clothes are left behind. Bottles of herbal drink are also laying in a big amount. (IND)

PONDOK PENUH SAMPAH DI TENGAH HUTAN LINDUNG
Pagi ini seperti pagi kemarin. Kedua relawan tim APE Guardian atau tim monitoring pelepasliaran orangutan sudah bersiap masuk hutan kembali. “Kali ini lebih pagi.”, ujar Widi. Ini adalah hari kesepuluh orangutan Novi dan Leci dilepasliarkan ke habitatnya. Sudah sepuluh hari juga kami belum berjumpa dengan mereka lagi. “Sesungguhnya, kalau berjumpa juga kami masih belum menentukan sikap, apakah berlari menjauh atau memberanikan diri mengamati mereka.”, tambah Widi lagi.

Widi adalah relawan yang mengajukan diri untuk ikut pelepasliaran orangutan di Berau, Kalimantan Timur. Fisik saja tidak cukup katanya untuk menjadi seorang relawan. Apalagi di hutan yang tidak ada signal telepon konon internet. Sudah pasti mental kudu kuat. Tapi itu pula yang membuat hari ini penuh kemarahan, berhari-hari tinggal di hutan harus bertemu jejak manusia yang bernama sampah .

Setelah berjalan selama 2 jam dengan medan yang naik turun, tim menemukan sampah plastik. “Satu… dua… dan semakin banyak! Dan sebuah pondok di hutan lindung! Gila… manusia meninggalkan jejak dengan sampahnya!”, geram Widi. Plastik mi instan, rokok, cemilan, tepung tercecer dimana-mana, bahkan bekas pakaian sengaja dibiarkan tertinggal dengan jumlah yang tidak sedikit. Sisa-sisa botol minuman jamu pun tergeletak begitu saja. (WIDI_Orangufriends)

WHEN ANNIE DISAPPEARED AND KEEPERS WERE BUSY LOOKING FOR HIM

The absence of Annie at the forest school means that Jhonny the animal keeper is off from work. The average students of the forest school class will attend the class for 20 days a month. The other 10 days will be spent in the cage with various enrichment due to heavy rain or when the keeper is on day-offs.

After a day-off from forest school, Annie is usually more enthusiastic about the class. Annie chose his tree and nightmare was inevitable. Annie disappeared from Jhonny’s sight. Jhony then asked for help from other keepers. If the student of forest school disappeared from animal keeper’s sight, usually by calling the orangutan’s name, they will notify their position to the keepers by breaking the twigs or shaking the leaves. But this time was different. Annie was silent, hiding and letting the animal keeper confused looking for him.

Turned out, Annie was climbing the big, tall tree that day. When he was tired of playing on the tree, he went down and sought Happi to get away from the forest school location. Jhonny was almost getting a heart attack, though he had just turned his attention away from Annie for a moment and watched Popi that didn’t want to do anything. “Annie!!! Please if someone calls you, you have to notify ok!”, said Jhonny furiously. (SAR)

SAAT ANNIE MENGHILANG DAN KEEPER SIBUK MENCARI
Tak ada Annie di sekolah hutan, itu berarti, Jhonny si animal keeper pilihannya sedang libur. Rata-rata siswa kelas sekolah hutan akan hadir di kelas untuk 20 hari dalam satu bulan. Sepuluh hari lainnya, mereka habiskan di kandang dengan enrichment yang bervariasi karena hujan deras atau saat keeper sedang libur.

Setelah hari libur dari sekolah hutan, biasanya Annie lebih bersemangat untuk kelas ini. Annie memilih pohonnya. Dan mimpi buruk pun tak terhindarkan. Annie hilang dari pantauan Jhonny. Jhonny pun meminta bantuan para animal keeper yang lainnya. Jika para siswa sekolah hutan hilang dari pantauan animal keeper, biasanya dengan memanggil namanya orangutan tersebut, orangutan yang dipanggil akan memberitahukan keberadaannya dengan mematahkan ranting atau menggoyang-goyangkan daun. Namun berbeda dengan Annie. Annie diam, bersembunyi dan membiarkan animal keeper bingung mencarinya.

Ternyata, Annie memanjat pohon yang besar dan tinggi hari itu. Ketika dia sudah bosan bermain di atas pohon, dia akan turun ke tanah lalu mengajak orangutan Happi untuk menjauh dari lokasi sekolah hutan. Hampir saja jantung Jhonny copot, padahal dia baru saja sesaat memalingkan perhatiannya dari Annie karena Popi lagi tidak mau ngapa-ngapain. “Annie!!! Kalau kamu dipanggil kamu harus kasih tahu ya!”, ujar Jhonny gemas.

RANGER NEED TO KNOW GPS TO NOT GET LOST

Here is the loyal friend of the rangers when patrolling. A navigation system device, GPS, is the only tool that can help to find a way back to camp. Being in a forest with an area of 13,565,58 hectares, it is impossible for the forest guards to memmorize the way to go back home. Of course, GPS skill is very important asset. “Tools without ability are the same as suicide.”, said Reza Setiawan, captain of the APE Guardian team of Centre for Orangutan Protection (COP).

Rangers in the APE Guardian team have an additional duty to monitor the orangutans that have just released. Every new location finding of orangutan nest to the discovery of leftover orangutan food have to be marked in GPS. Do not forget to mark the farthest monitoring point every day. “Mark” is a jargon that the ranger always use when marking position. In turn, all the rangers got their chance to operate GPS.

The more exciting thing is when leaving for monitoring at dawn, the rangers remind each other to always start the track on GPS to count the distance accumulation throughout the day. “There’s always funny things that remind them to the marked points they made. I found an exhilarating family in the middle of jungle.:, said Widi, a volunteer who participated in the monitoring team for Novi and Leci who had just been released on Nov 3, 2018. (SAR)

RANGER HARUS BISA MEMBACA GPS AGAR TIDAK TERSESAT
Ini dia teman setia para ranger saat patroli. Perangkat sistem navigasi GPS yang menjadi satu-satunya alat yang dapat menemukan jalan pulang kembali ke camp. Berada di hutan dengan luas 13.565,58 hektar mustahil rasanya bagi para penjaga hutan menghafal jalan pergi dan pulang. Tentu saja keterampilan membaca GPS menjadi aset yang sangat penting. “Alat tanpa kemampuan, itu sama saja bunuh diri.”, ujar Reza Kurniawan, kapten APE Guardian Pusat Perlindungan Orangutan atau COP.

Ranger yang bergabung di tim APE Guardian punya tugas tambahan untuk melakukan monitoring orangutan yang baru saja dilepasliarkan. Setiap temuan lokasi baru, sarang orangutan hingga lokasi penemuan bekas makanan orangutan selalui ditandai dalam GPS. Tak lupa menandai titik monitoring terjauh dalam setiap harinya. “Tandai”, adalah jargon yang selalu dipakai ranger ketika akan menandai lokasi. Secara bergiliran, semua ranger mendapat jatah mengoperasikan GPS.

Hal yang tak kalah serunya adalah saat berangkat monitoring fajar, para ranger saling mengingatkan untuk selalu memulai track di GPS agar nampak akumulasi jarak tempuh setiap harinya ketika monitoring. Dan saat akhir perjalanan monitoring, para ranger berebut melihat perjalanan meraka selama seharian tadi. “Ada saja cerita lucu yang mengingatkan mereka dengan titik-titik yang mereka buat. Saya menemukan keluarga yang seru di tengah hutan.”, ujar Widi, relawan yang ikut tim monitoring orangutan Novi dan Leci yang baru saja dilepasliarkan kembali pada 3 November 2018 yang lalu. (WIDI_Orangufriends)

BACK HOME, LECI AND NOVI HAPPILY HUG EACH OTHER

Finally, after the long road of medical check up and administration process of the release of four orangutans that will be held this year in Lesan River Protected Forest (HLSL), Berau, East Kalimantan, orangutan Leci and Novi were released on Nov 3rd, 2018. The release was the second COP’s ex-rehabilitated orangutan release after the release of orangutan Oki in 2017.

“There will be two possibilities, either they will go straightly into the jungle or turn back and attack the guests. Then, please do not get closer to the cage.”, said Reza Kurniawan, the Captain of APE Guardian team, a moment before release while directing guests to stand behind the COP line which was at a distance of 20 m to the cage. I was worried that Leci and Novi would turn back and attack the guests. But, when the first cage opened by Ir. Saerozi Ahmad, the head of B2P2EHD, with Hardi Baktiantoro, the principal of COP, Leci came out briskly into the jungle, climbed a tree,and hang on the tree. And not long after, the second cage containing Novi was opened by Ir. Sunandar Trigunajasa, the Head of BKSDA of East Kalimantan with Hardi Baktiantoro, Novi came out and walked into the forest.

After a moment, a sound came from above the tree. It was Leci and Novi meeting up! They looked like hugging each other and holding hands as they were hanging on the trees. As if they were delighted to return to their habitat. Welcome back home, Leci and Novi! Hope you both always be healthy and happy! (SAR)

KEMBALI KE RUMAH, LECI DAN NOVI BERPELUKAN BAHAGIA
Akhirnya, setelah perjalanan panjang pemeriksaan medis dan urusan administrasi untuk pelepasliaran 4 individu orangutan yang akan dilepasliarkan tahun ini di Hutan Lindung Sungai Lesan (HLSL), Berau, Kalimantan Timur, orangutan Leci dan Novi dapat dilepasliarkan pada tanggal 3 November 2018 yang lalu. Pelepasliaran ini adalah pelepasliaran kedua dari orangutan eks-rehabilitasi COP setelah pelepasliaran orangutan Oki Tahun 2017 yang lalu.

“Terdapat dua kemungkinan saat orangutan dilepasliarkan, entah dia akan langsung masuk ke dalam hutan atau berbalik menyerang ke arah kita. Jadi mohon jangan mendekat ke arah kandang.”, ujar Reza Kurniawan, kapten tim APE Guardian, sesaat sebelum pelepasliaran sambil mengarahkan para tamu untuk berdiri di belakang garis COP yang berjarak 20 m dari kandang pelepasliaran. Sempat cemas kalau-kalau Leci dan Novi akan berbalik dan menyerang para tamu. Namun saat kandang pertama dibuka oleh Ir. Saerozi Ahmad, kepala B2P2EHD, bersama Hardi Baktiantoro, ketua COP, Leci keluar dengan lincahnya masuk ke dalam hutan dan langsung memanjat dan bergelantungan di atas pohon. Lalu tidak lama setelahnya, kandang kedua yang berisi Novi dibuka oleh Ir. Sunandar Trigunajasa, Kepala Balai KSDA Kaltim bersama Hardi Baktiantoro. Novi pun keluar dan berjalan masuk ke hutan dengan cepat. “Untung saja tim dokumentasi sudah bersiap, kalau tidak, momen itu akan terlewat.”, ujar Sari Fitriani, alumni COP School Batch 8 yang ikut terlibat dalam persiapan pelepasliaran Novi dan Leci.

Lalu tidak lama kemudian, terdengar suara dari atas pohon. Ternyata Leci dan Novi bertemu! Mereka seperti berpelukan dan berpegangan tangan sambil bergelantungan di atas pohon. Seakan-akan sangat senang dapat kembali ke habitat aslinya. Selamat kembali ke rumah Leci dan Novi. Semoga sehat dan selalu! (SAR)

IN 5 HOURS, LECI AND NOVI DISAPPEAR

The first week of November was a week of great relief. The release of Novi and Leci began with a series of ceremonies at the Lesan Dayak village hall. The team was very grateful, the director of Biodiversity Conservation (Konservasi Keanekaragaman Hayati – KKH). drh. Indra Exploitasia, M.Si speed up the ceremony, so that the monitoring team had the opportunity to follow the two orangutans longer. “ Mrs. Indra really understands our condition. Because after the cage opened, wherever orangutan goes, we have to follow them to make sure that they can survive in their new home.”, said Reza Kurniawan, the captain of APE Guardian COP.

At 11.00 WITA, via river and land, the release team came to release point. In less than 5 secs, Leci already on the tree and started to drive the team away. Not long after that, Novi’s cage was opened. In about 5 hours, the team recorded Novi and Leci’s activities. They were seen together and sounded like they wanted to be left alone.

At 16.00 WITA o’clock, the monitoring team lost track of Novi and Leci. “Both of these orangutans are like wild orangutans. It’s very difficult to follow them. Their fast move make it difficult for the team to catch up.”, said Bit, a local ranger who had known the forest for a long time.

After the release, the monitoring team continued to patrol every morning and evening with different routes, hoping to meet one of the two released orangutan. For almost two weeks, the team still haven’t had meet them. (SAR)

DALAM WAKTU 5 JAM, LECI DAN NOVI PUN HILANG
Minggu pertama November adalah minggu yang sangat melegakan. Pelepasliaran orangutan Novi dan Leci diawali serangkaian seremoni di Balai Kampung Lesan Dayak. Tim bersyukur sekali, direktur KKH (Konservasi Keanekaragaman Hayati) drh. Indra Exploitasia, M.Si mempercepat upacara ini, sehingga tim monitoring berkesempatan untuk mengikuti kedua orangutan lebih lama lagi. “Ibu Indra benar-benar memahami kondisi kami. Karena setelah pintu kandang dibuka, kemana pun orangutan pergi, kami harus mengikutinya untuk memastikan, orangutan mampu bertahan di rumah barunya.”, ujar Reza Kurniawan, kapten APE Guardian COP.

Pukul 11.00 WITA, melalui jalur sungai dan darat, tim pelepasliaran tiba di titik pelepasliaran. Tidak sampai 5 detik, Leci sudah berada di atas pohon dan mulai mengusir tim. Tak lama kemudian pintu kandang Novi pun dibuka. Selama kurang lebih lima jam, tim masih mencatat aktivitas Novi maupun Leci. Mereka terlihat berdua dan mengeluarkan suara mengusir.

Tepat pukul 16.00 WITA, tim monitoring kehilangan jejak Novi dan Leci. “Kedua orangutan ini sudah seperti orangutan liar. Sulit sekali mengikuti mereka. Gerakan yang cepat membuat tim kesulitan mengejar.”, ujar Bit, ranger lokal yang sudah mengenal hutan ini sejak lama.

Paska pelepasliaran, tim monitoring masih terus patroli setiap pagi dan sore hari dengan jalur yang berbeda, tentu saja berharap bertemu dengan salah satu dari kedua orangutan yang dilepasliarkan. Hampir dua minggu, tim masih tak berjumpa juga. (NIK)

A PROCESS JUST LIKE SCHOOL

We simplified the rehabilitation of orangutans just like school process. Because orangutan rehabilitation centre is not an animal breed. Most of orangutans who entered the rehabilitation centre are the victims of conflicts such as illegally kept as pet and have medical issues (got trapped, etc)

Orangutans that have been long in captivity are not good at climbing. They do not know how to find food, make a nest, even they do not know who their natural enemies are. They’re no longer orangutans, but have became a citizen.

During their time in rehabilitation centre, orangutans will go to school forest i.e. their cage will be open every morning and animal keepers will take them to “school” in the jungle. Animal keepers are not their teachers who teach, but other orangutans in the same class will become their stimulant or examples for others to follow and imitate. In the evening, they return to their cage.

We analogize entering elementary school as learning how to climb, moving from one tree to another, until well practiced. Then, they’ll enter senior high school to learn how to find and recognize their natural food and learn to make nests. We consider they’ve entered the senior high school when they start skipping a lot, which they tend to disappear in the school forest, not willing to go back when it’s late, because they’re already comfortable in their nests. That’s the sign that they’re becoming wild.

Before they are released, orangutans need to enter a higher degree of school, that is an “university” in the form of island. COP Borneo, which located in Berau, East Kalimantan, has that “university” or pre-release island. An island with fig trees, which is orangutan’s favourite, is the training place for orangutans who have passed ‘high school’. They are left outside in the sun or rain, no more cages, only food will be given in the morning and evening. On average, they train independently for 1-2 years. Once their behaviour considerably good, then they will undergo a final defense session that is final medical examination. if they pass, the orangutans will be graduated by releasing them back to their natural habitat.

Novi’s story, as a male orangutan who were forced to separate with his mother, taken care illegally by locals with chain on his neck (because it’s cheaper and easier to maintain than an iron cage), confiscated, rehabilitated, and finally released in early November 2018.

Novi is known as a smart orangutan and high adaptability, when his friends were still in ‘elementary school’, he was already in ’senior high school’. That’s how we simplify a rehabilitation process. The process takes a long time and costs a lot, so please do not buy and pet wild animals! (SAR)

PROSES SEPERTI KITA SEKOLAH
Kami menyederhanakan orangutan yang masuk rehabilitasi seperti proses sekolah. Karena pusat rehabilitasi orangutan bukanlah penangkaran. Mayoritas orangutan yang masuk rehabilitasi adalah dari konflik seperti pemeliharaan ilegal dan ada faktor medis (seperti terjerat, dll).

Orangutan yang lama dipelihara tidak pandai memanjat, tidak mengerti mencari makan, tidak tau membuat sarang dan tidak tahu musuh alaminya. Bukan lagi orangutan tetapi menjadi orang kota.

Selama di pusat rehabilitasi, orangutan akan sekolah hutan yatu setiap pagi kandan dibuka dan diajak ‘sekolah’ di hutan. Animal keeper bukanlah guru yang mengajar tapi orangutan lain yang satu kelas dengannya yang akan menjadi perangsang atau contoh agar yang lain mengikuti dan mencontoh. Ketika sudah sore, orangutan kembali lagi ke kandang.

Kami mengibaratkan masuk SD yaitu belajar memanjat, berpindah dari pohon ke pohon hingga mahir. Kemudian akan masuk SMP untuk belajar mencari dan mengenali pakan alaminya dan belajar membuat sarang. Kami menganggap masuk SMA ketika mulai banyak bolosnya, yaitu sering menghilang ketika sekolah hutan, tidak mau pulang ketika sore karena sudah nyaman di sarangnya dan itu tandanya dia meliar.

Sebelum dilepasliarkan, orangutan perlu dikuliahkan, berupa masuk ‘universitas’ berbentuk pulau. COP Borneo yang berada di Berau, Kalimantan Timur memiliki ‘universitas’ atau pulau pra-rilis. Pulau alami dengan pepohonan ara yang disukai orangutan inilah para orangutan yang suka membolos itu berlatih. Mereka dibiarkan kena panas, hujan, tak ada lagi kandang hanay dukungan pakan di pagi dan sore hari saja yang masih diberikan. Rata-rata mereka berlatih secara mandiri sekitar 1-2 tahun. Ketika perilaku mereka sudah dianggap layak, maka mereka akan ‘sidang skripsi’ berupa pemeriksaan medis akhir. Jika lulus, maka orangutan diwisuda dengan dilepasliarkan kembali ke habitatnya.

Kisah Novi, orangutan jantan yang dipaksa berpisah dari induknya, dipelihara secara ilegal dengan rantai di lehernya (karena murah dan aman, kalau bikin kandang besi mahal), disita, direhabilitasi dan akhirnya dilepasliarkan pada awal November 2018 lalu.

Mengenal Novi sebagai orangutan cerdas dengan adaptasi yang tinggi, ketika teman-temannya masih di kelas SD, dia sudah di tingkatan SMA. Begitulah kami menyederhanakan sebuah proses rehabilitasi. Proses ini memakan waktu lama dan biaya tinggi, jadi mohon jangan membeli dan memelihara satwa liar! (DAN)