COP BERSAMA OIC UNTUK PRIMATA SUMATERA

Kedua orang pendiri organisasi orangutan di Indonesia ini telah lama bekerja bersama. Dua puluh tahun lebih saling mengenal dan berkarya untuk penyelamatan orangutan Indonesia. Jika Centre for Orangutan Protection lebih dikenal sebagai organisasi kampanye perlindungan orangutan dan habitatnya tak jauh berbeda dengan Orangutan Information Center yang telah menyelamatkan orangutan Sumatera di Sumbagut. Di bulan kemerdekaan Republik Indonesia ini, keduanya menandatangani perjanjian kerjasama Pembangunan dan Pengelolaan Pusat Penyelamatan Orangutan dan Primata Dilindungi Lainnya dalam Upaya Mendukung Rehabilitasi dan Pelepasliaran Primata di Sumatera. Sebuah komitmen besar untuk satwa liar.

“Kami berharap dapat bekerja maksimal untuk satwa liar Sumatera yang unik dan endemik agar kelak tak sekedar dongeng pengantar tidur. Laporan kepemilikan ilegal satwa liar yang dilindungi terutama primata yang selama ini masuk, semoga mendapatkan kesempatan keduanya untuk dapat kembali ke habitatnya. Penyelamatan, Rehabilitasi dan Pelepasliaran bukanlah hal yang mudah, tenaga dan biaya yang terkuras untuk itu sangat besar. Kami berharap kita semua, masyarakat Sumatera dapat menjadi pelindung juga untuk satwa liar tersebut.”, kata Daniek Hendarto, Direktur COP usai menandatangani perjanjian kerjasama di kantor Yayasan Orangutan Sumatera Lestari yang berada di Jl. Bunga Sedap Malam XVIIIc No. 10 Medan.

Sementara Hardi Baktiantoro (pendiri COP) dan Panut Hadisiswoyo (pendiri YOSL) terlihat sama-sama lega setelah melihat regenerasi organisasinya saling membubuhkan tanda tangan untuk Sumatra Rescue Alliance Primate Center. Mohon doa Orangufriends dan para pendukung agar pembangunan sarana dan prasarana dapat berjalan dengan baik dan lancar. 

HOW IS PALM OIL INDUSTRY DURING THE PANDEMIC?

The covid-19 pandemic has disrupted almost all economic activities in business industries. The restriction on human mobility and social contact has affected many production activities, resulting in supply and demand shock. This is a challenge for the industrial sectors, including palm oil plantation. Then, how is the palm oil plantation going during the pandemic?

According to Indonesian Palm Oil Producers Association (GAPKI) data, there has been a decrease in the statistics of the Indonesian Palm Oil Industry 2020 compared to 2019. Accumulatively, total palm oil production in Jan – May 2020 reduced by 2,936 million tons from the previous year. While total exports and totl domestic consumption from Jan – May 2020 fell by 1,587 million tons and 22 thousand tons, respectively. The decline was largely due to social and mobility restrictions to prevent the spread of covid-19 virus, especially the exports to recipient countries such as China, Africa, India, Europe and Pakistan.

However, APE Crusader team found that land clearing for palm oil plantation extention keep happening. In early 2020, the team found two (2) individual orangutans in a forested area near a palm oil plantation in Seruyan, Central Kalimantan and found out that by June 2020 the area had been cleared. In addition, APE Crusader team also discovered a massive forest clearing for palm oil plantation in West Kutai, East Kalimantan from the beginning of 2020 and still going until now.

Although, covid-19 pandemic has affected production and export activities of palm oil, land clearing activities for plantation keep on happening. “Pandemics do affect many aspects of life, but we must not let our guard down. Do not let our forests and orangutans gone as the pandemic gone.” said Sari Fitriani, manager of COP Orangutan Habitat Protection Program. (SAR)

APA KABAR INDUSTRI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI KALA PANDEMI?

Pandemi COVID-19 telah mengakibatkan terganggunya kegiatan ekonomi hampir di semua industri bisnis. Hal ini dikarenakan pembatasan mobilitas manusia mempengaruhi banyak kegiatan produksi, sehingga mengakibatkan penawaran (supply) dan permintaan (demand) mengalami guncangan. Ini menjadi tantangan bagi sektor perindustrian, tidak terkecuali industri perkebunan kelapa sawit. Lalu Bagaimana kabar industri perkebunan kelapa sawit selama pandemi?

Menurut data yang dihimpun oleh Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), terjadi penurunan terhadap angka statistik industri minyak sawit Indonesia tahun 2020 dibandingkan dengan tahun 2019. Secara akumulatif, total produksi minyak sawit bulan Januari-Mei 2020 mengalami penurunan hinga 2,936 juta ton dari total produksi tahun sebelumnya. Sedangkan total ekspor dan total konsumsi domestik Januari-Mei 2020 berturut-turut hingga 1,587 juta ton dan 22.000 ton dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan tersebut banyak diakibatkan oleh pembatasan sosial dan mobilitas yang diberlakukan untuk mencegah penyebaran virus COVID-19, terutama ekspor ke negara-negara penerima minyak sawit Indonesia seperti Cina, Afrika, India, Eropa dan Pakistan.

Meskipun begitu, tim APE Crusader mendapati bahwa pembukaan lahan untuk ekspansi perkebunan kelapa sawit masih terus terjadi. Di awal tahun 2020, tim APE Crusader menemukan adanya dua individu orangutan di area berhutan dekat perkebunan kelapa sawit di Seruyan, Kalimantan Tengah dan mendapati bahwa pada bulan Juni 2020 area berhutan tersebut sudah habis dibuka. Selain itu, di Kutai Barat, Kalimantan Timur tim APE Crusader juga menemukan adanya pembukaan hutan besar-besaran untuk perkebunan kelapa sawit yang tengah. berlangsung dari awal tahun 2020, hingga saat ini.

Meski pandemi memberikan dampak berkurangnya produksi dan ekspor minyak kelapa sawit, aktivitas pemukaan lahan untuk perluasan perkebunan kelapa sawit masih terus berlangsung. “pandemi memang mempengaruhi banyak aspek kehidupan, namun kita tidak boleh lengah. Jangan sampai sat pandemi COVID-19 hilang, kita juga kehilangan lebih banyak lagi hutan an orangutan.”, tegas Sari Fitriani, manajer Perlindungan Habitat Orangutan COP. (SAR)

HABITAT ORANGUTAN KALIMANTAN TERUS TERANCAM KARHUTLA UNTUK KELAPA SAWIT

Periode 2019 hingga pertengahan tahun 2020, habitat orangutan Kalimantan terus terancam, mulai dari kebakaran hutan hingga pembukaan lahan demi ekspansi perkebunan kelapa sawit. APE Crusader memantau adanya titik api (hotspot) serta pembukaan lahan baru yang diduga untuk ekspansi monokultur ini. Area yang menjadi fokus pemantauan ini secara administratif berada di wilayah kecamatan Hanau, kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah.

Berdasarkan peta distribusi orangutan liar, titik api serta pembukaan lahan yang dilakukan merupakan habitat sub spesies orangutan Kalimantan wurmbii (Pongo Pygmaeus Wurmbii) dan berada di dalam kawasan Hutan Produksi Konversi (HPK). Kanal-kanal primer yang membentang dari timur ke barat menuju sungai Seruyan di sebelah barat, memperlihatkan hutan rawa gambut dan termasuk dalam wilayah pengukuran kinerja REDD.

Hutan rawa gambut merupakan habitat penting bagi orangutan Kalimantan. Ditambah sulitnya memadamkan api di rawa gambut, lebih sering api yang ada di atas padam namun bara di dalamnya terus membakar. “Peran serta semua pihak dalam menjaga habitat orangutan sekaligus menyelamatkan hutan rawa gambut adalah tanggung jawab bersama. Tumpang tindih ekspansi perkebunan kelapa sawit tak seharusnya terus menerus ditolerir. Hentikan atau kutukan dunia untuk kita sebagai eksportir asap.”, tegas Sari Fitriani, manajer Perlindungan Habitat Orangutan. (RIF)

MENENGOK CARA AMAN MEMAKAN BATANG PISANG

Orangutan Aman sangat suka bermain. Tiap kali waktu feeding, ia tiada henti bergerak memainkan daun-daunnya lalu menatanya membuat sarang seadanya. “Agar tidak bosan, kucarikan batang pisang yang tumbuh liar di sekitar camp COP Borneo.”, cerita Amir, perawat satwa di Pusat Rehabilitasi Orangutan satu-satunya yang didirikan putra-putri Indonesia.

Siapa sangka dengan jumlah jarinya yang tidak lengkap ia bisa sangat cepat membuka batang pisang untuk dicari umbutnya, bagian tengah batang pisang. Ia cukup lihai mengandalkan mulut dan gigi-giginya. Hanya dengan sedikit bantuan saja, ia akhirnya bisa menemukan umbut di tengah batang piang. “Bagus Aman.”, pujiku.

Dalam benakku, terlindat perasaan iba dengan Aman. Ia juga sering kali terlihat sulit mengambil potongan buah karena jarinya yang tidak bisa mencengkeram makanan. Sehingga sering buah yang diberikan orangutan Aman terjatuh. “Semangat Aman!”, sambil menatapnya lekat-lekat penuh harapan. (AMIR)

MENGENDUS PERBURUAN DAN PENYELUDUPAN SATWA LIAR DI INDONESIA

Kamis, 30 Juli 2020, Mongabay mengadakan Workshop Daring dengan tema “Mengendus Perburuan Satwa Liar di Lampung”. Mongabay Indonesia bersama dengan journalist Learning Forum yang dipandu Dwi Nugroho Adhiasto yang merupakan seorang Regional Wildlife Trade Specialist, Wildlife Crime Unit ini menjelaskan berbagai hal terkait perburuan dan perdagangan ilegal satwa liar di Indonesia. Mulai dari pelaku kejahatan, modus operandi dan apa yang bisa dan dapat kita lakukan.

Dwi memaparkan bahwa masyarakat dan aparat penegak hukum dapat melakukan usaha preventif dan represif. Mulai dari memperkuat pengamanan di habitat satwa seperti melakukan patroli sampai intimidasi menggunakan teknologi seperti CCTV hingga penanda-penanda pengamanan. Kemudian juga memperketat kontrol dan pemeriksaan di jalur atau pintu keluar masuk peredaran satwa dengan mencatat identitas masyarakat yang melewati jalur tersebut.

Selain itu, Dwi menekankan bahwa penegakan hukum tidak boleh tebang pilih dan kapasitas penyidik untuk kejahatan online harus ditingkatkan. Penggunaan multi regulasi atau UU dapat diberlakukan untuk menindak pelaku kejahatan seperti menggunakan UU Kanrantina, UU Bea Cukai, UU Kementrian Kelautan dan Perikanan, UU Tindak Pidana Pencucian Uang dan lain-lain untuk memberikan hukuman berlapis bagi pelaku kejahatan.

Upaya preemtif seperti sosialisasi maupun penyadartahuan untuk masyarakat yang terlibat dalam perburuan ataupun perdagangan juga diperlukan. Masyarakat lokal sering tidak memahami apa saja kegiatan yang termasuk melanggar hukum. Semoga kejahatan terhadap satwa liar, terutama yang dilindungi di Indonesia dapat berkurang dan diberantas.

“Ayo Orangufriends… kamu ambil peran yang mana? Email kami info@orangutanprotection.com Bersama kita bisa!”, ajak Liany Suwito, juru kampanye non Habitat Centre for Orangutan Protection.

(LIA)

KOLA SUKA PILIH-PILIH MAKANAN

Sejak awal kedatangannya di Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo hingga sekarang, Kola masih beradaptasi soal makanan. Yang perawat ketahui, selama ini ia paling suka pisang dan baru pepaya. Belakangan ini juga mulai menyukai nanas. Oh… ada lagi, buah naga juga mulai disukainya.

Mulanya tiap pagi nafsu makannya kurang baik, selalu menyisakan makanan. Tapi ada kalanya ia terlihat makan dengan lahapnya di pagi hari meskipun tetap menyisakan buah yang tidak digemarinya.

Beberapa kali sudah diberikan varian makanan seperti jagung, singkong, terong, tomat, jeruk tapi ketika ditunjukkan isi kerangjang buah… pasti ia akan langsung mengambil pisang. Maka tak heran banyak tupai yang suka mendatangi kandang Kola karena banyak buah yang disisakan olehnya. “Kola… Kola… kamu koq pilih-pilih sih. Kita kan bingung!”. (WID)

INGIN LARI DARI RAPID TEST

Perawat satwa kembali panas dingin. Mau melarikan diri… tapi tak bisa. Kali ini bukan pemeriksaan berkala rutin yang biasanya mereka lakukan untuk pemeriksaan kesehatan. “Kalau itu sudah biasa. Kita tinggal duduk dan diambil darah. Tarik nafas, hembuskan perlahan, tekan dengan kapas bagian yang telah selesai… dan pulang.”, ujar Linau, perawat satwa di Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo. Hasilnya, gak perlu kawatir, herpes, hepatitis, HIV AIDS maupun TBC biasanya negatif karena kami mengetahui bagaimana harus menjaga diri dari penyakit menular tersebut. Apa bedanya pemeriksaan sekarang?

“Kami hanya bisa berdiam di rumah atau tetap di camp COP Borneo. Bahkan di awal pandemi, COP Borneo lockdown. Tak seorang pun bisa masuk dan tak seorang pun bisa keluar dari camp. Pemeriksaan kali ini untuk mengetahui apakah kami reaktif atau tidak pada antibodi anti SARS-CoV-2. Rapid test lah.”, kata Simson. “Kalau reaktif, berarti kami langsung diisolasi… mengerikan!”. Jev pun mengambil urutan paling akhir untuk diperiksa. Tapi ternyata hanya membuatnya semakin grogi. “Pasrah sajalah.”, katanya. 

“Syukurlah kami semua di Pusat Rehabilitasi Orangutan non reaktif, termasuk Inoy yang berada di Berau dengan tugas logistik mulai dari kebutuhan pakan orangutan hingga pribadi.”, kata Widi Nursanti, manajer COP Borneo. Tim APE Warrior yang berada di Yogyakarta dan tim APE Crusader yang berada di Kalimantan maupun Jakarta juga menunjukkan hasil non reaktif. “Gunakan masker, rajin cuci tangan dan jaga jarak. Semoga pandemi cepat berlalu.”. 

OWI MAKAN BUAH HUTAN DAN MABUK

Hari ini cuaca terik. Semua perawat satwa berpencar di hutan untuk mencari ranting dan daun muda untuk diberikan ke orangutan sebagai enrichment. Enrichment daun itu tergolong enrichment yang sering diberikan ke orangutan. Pertama, mudah dicari dan mampu membuat orangutan sibuk di kandang dan bisa mendorong kemampuan membuat sarang. Enrichment sendiri memiliki pengertian memperkaya, ya memperkaya aktivitas orangutan di dalam kandang.

Ada yang spontan membuat sarang, ada juga yang hanya dimain-mainkan daunnya. Namun di kandang Owi dkk, Owi malah terlihat seperti makan sesuatu. Dari ekspresinya mengunyah, sepertinya ia memakan sesuatu yang enak.

Setelah diamati lebih dekat, ternyata Owi sedang memakan buah hutan. Ia mendapatkannya dari ranting pohon yang di dekat kandangnya. “Bagus Owi… kamu bisa melirik adanya buah hutan walau di dalam kandang.”, gumam Steven, perawat satwa yang bertugas di kandang orangutan jantan. Buahnya mirip dengan kopi, pun dalamnya, mirip.

Nampaknya setelah Owi mengunyah buah hutan itu, geliatnya menjadi aneh. Raut mukanya seperti mengantuk berat, matanya sayu, badannya oleng bak geliat orang mabuk dan dari bibirnya mengeluarkan air liur terus menerus. Sampai Owi tidak bisa menutup mulutnya.

Lalu kami menyadari, apa karena Owi makan buah hutan tadi ya? Ketika diperiksa kembali waktu feeding (pemberian makan) sore, dia sudah pulih. (STV)

RENCANA FOOD ESTATE DAN ANCAMAN TERHADAP ORANGUTAN DI KALIMANTAN TENGAH

Organisasi Pangan Dunia (Food and Agriculture Organization/FAO) telah mengeluarkan peringatan soal krisis pangan akan melanda dunia karena pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Pemerintah Indonesia tengah mempersiapkan berbagai upaya untuk menghadapi peringatan krisis pangan dengan upaya mencetak sawah baru di Kalimantan Tengah.

Kamis, 9 Juli 2020 yang lalu. Presiden Jokowi melakukan kunjungan kerja ke lokasi pengembangan Food Estate tersebut, tepatnya di desa Bentuk Jaya, kecamatan Dadahup, kabupaten Kapuas serta di desa Belanti Siam, kecamatan Pandih Batu, kabupaten Pulang Pisau. Presiden Jokowi juga menunjuk Prabowo Subianto selaku Menteri Pertahanan sebagai penanggung jawab program Food Estate.

Rencana pengembangan Food Estate ini berada di kawasan Eks-Pengembangan Lahan Gambut (PLG) yang juga merupakan program lumbung pangan di era Presiden Soeharto. Tahap awal tahun 2020 ini, rencana pengembangan akan dilakukan di dua belas kecamatan yang tersebar di kabupaten Kapuas serta kabupaten Pulang Pisau dengan total lahan seluas 20.000 hektar. Berdasarkan peta kawasan Eks-PLG lokasi pengembangan ini masuk dalam blok A, blok B dan blok D.

Sebagian wilayah blok A dan blok B berdasarkan peta distribusi orangutan liar merupakan habitat sub spesies orangutan Kalimantan. Kedua blok tersebut berbatasan langsung dengan blok E yang merupakan wilayah konservasi orangutan BOS Mawas. “Centre for Orangutan Protection berharap rencana pengembangan Food Estate memaksimalkan lahan yang telah ada/ eksis persawahan tanpa membuka lahan baru yang dapat mengancam hilangnya habitat orangutan Kalimantan.”, kata Sari Fitriani, manajer non habitat COP.

“Tentu saja pengawasan dari semua pihak terkait keberlanjutan program Food Estate ini sangat diperlukan mengingat program lumbung pagan sebelumnya gagal. Pertimbangan dampak sosial dan ekologinya jangan sampai menjadi korban nilai ekonomis yang ternyata tidak berkelanjutan.”. Sari pun mengingatkan, “Kebakaran hutan yang terjadi di Kalimantan Tengah telah menjadi langganan yang tidak bisa ditolerir lagi. Ekspansi prekebunan kelapa sawit yang menjadi dalang tersembunyi sudah sewajarnya berani bertanggung jawab.”. (RIF)

COP BORNEO DI KHDTK LABANAN UNTUK LIMA TAHUN KEDEPAN

Centre for Orangutan Protection (COP) pada hari ini, bertempat di Kantor Sekretariat Badan Litbang dan Inovasi di Bogor melakukan tanda tangan untuk Perjanjian Kerjasama dengan Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Inovasi KLHK tentang penyediaan areal KHDTK Labanan di Berau untuk lokasi Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan. Perjanjian kedua belah pihak ini dihadiri dan ditandatangani oleh DR. Ir. Sylvana Ratina, M.Si selaku Sekretaris Badan Penelitian Pengembangan dan Inovasi sekaligus pelaksana tugas Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa.

Dalam kesempatannya ibu Sylvana mengharapkan kerjasama ini dilaksanakan dengan baik dan sesuai dengan isi kerjasama. “Ini adalah wujud nyata dari Badan Litbang dan Inovasi mendukung upaya konservasi orangutan dan kerjasama ini merupakan lanjutan dari perjanjian kerjasama lima tahun sebelumnya, semoga lima tahun kedepannya upaya rehabilitasi yang dilakukan oleh mitra kami COP bisa lebih baik lagi.”.

Ketua COP, Daniek Hendarto sangat senang dengan ditandatangani kerjasama lanjutan lima tahun kedepan (2020-2025) setelah kerjasama lima tahun sebelumnya telah terlaksana dan berjalan.

Tanda tangan Perjanjian Kerjasama ini juga disaksikan oleh Kepala Bagian Program dan Kerjasama DR. Kristianto, Kasubag Kerjasama Yudi Fatwa Hudaya dan perwakilan B2P2EHD bapak Eded Suryadi. (DAN)