MENJADI PETUGAS DESINFEKSI DADAKAN

Di Pusat Rehabilitasi COP Borneo saat ini sedang digiatkan penyemprotan disinfektan di area camp. Kegiatan ini sangat jarang dikerjakan sebelumnya. Biasanya kandang-kandang orangutan saja yang didesinfeksi seminggu sekali, setiap hari Jumat. Kini, selama dua kali dalam seminggu kami wajib melakukan desinfeksi area camp. 

Mengapa kami melakukan kegiatan seperti ini? Karena kita sedang dilanda keadaan yang sangat genting. Kita tengah dihadapkan dengan virus corona yang penularannya sangat cepat.

Maka sejak 28 Maret yang lalu, kami berjaga-jaga untuk mencegah penyebaran Covid-19. Semua area camp tak terkecuali parkiran, gudang pakan, dapur dan kamar mandi tidak boleh dilewatkan untuk disemprot. Kami bergantian bertugas menyemprot.

Bahkan kawan kami yang bertugas khusus memasok logistik dan pakan bagi orangutan juga kami semprot ketika baru tiba mengirim logistik. Dialah orang luar satu-satunya yang sering masuk ke area camp. Sehingga harus dipastikan dia juga terbebas dari virus ini. Agar kami yang menjaga orangutan di dalam kandang bisa memastikan keamanan orangutan-orangutannya.

Harapan kami, semoga penyebaran Covid-19 lekas terputus dan berlalu. Sehingga kami bisa melanjutkan pekerjaan kami dengan semangat dan tidak merasa terganggu. kami rindu membawa siswa sekolah hutan ke hutan lagi. Ayo semua patuhi anjuran di rumah aja dari pemerintah. (SIM)

HERCULES MAKIN AGRESIF DI KANDANG KARANTINA

Terhitung dua minggu sudah Nigel dan Hercules menghuni kandang karantina paska dilakukan penarikan mereka dari pulau pra-pelepasliaran. Keberadaan Nigel dan Hercules di kandang karantina selalu kami pantau. 

Sebelum mencuci kandang dan memberi pakan para keeper menyempatkan diri untuk duduk berdiam melakukan pengamatan perilaku Nigel dan Hercules. Hasil pengamatan ini menjadi bahan perbandingan mereka selama berada di COP Borneo.

Hercules sejak dulu terkenal dengan sifatnya yang agresif. Saat berada di kandang karantina, Hercules juga masih sering menunjukkan sikap agresifnya. Beberapa kali ketika keeper menyiram kandang dan air dari selang mendarat di bagian tubuhnya, ia langsung menghentakkan tubuhnya dan mengeluarkan bunyi panggilan panjang atau ‘Long Call’ bak orangutan liar. Ia tidak suka disiram air, rupanya.

Cules, sapaan akrab yang kami sematkan. Dia juga memiliki kebiasaan meludah ketika keeper mendekat memberikan buah. Ini merupakan kebiasaan baru Cules yang kami temukan. Dia selalu melirik dengan tajam bagi siapapun yang berada di dekatnya.

Ia tergolong orangutan yang suka pilih-pilih buah yang lezat untuk dilumat. Keeper seing mendapati banyak sisa pakan yang masih utuh. Tetapi ia selalu merespon pemberian enrichment dengan antusias. (JON)

PEKERJAAN BERAT SEORANG INFLUENCER

Memasuki bulan Mei 2020 dimana semakin banyak orang yang membutuhkan bantuan karena Covid-19 yang menghambat dan memberhentikan perekonomian, justru ada saja orang-orang yang menyalahgunakan situasi ini. Sebut saja seorang youtuber di Bandung yang alih-alih memberi bantuan sembako untuk orang yang membutuhkan justru membohongi mereka dengan memberi paket bantuan berisi sampah dan batu.

Paket bantuan yang diberikan pada para waria dan anak-anak kecil ini ia labeli sebagai sebuah prankatau candaan yang ia uploadsebagai konten youtube yang bisa dilihat oleh banyak orang. Dianggap bercanda tidak pada tempat dan waktunya, maka youtuber ini pun mendapat banyak kecaman dari netizen dan bahkan hingga dilaporkan kasusnya ke polisi.

Beruntung bila para pengikutnya adalah orang-orang dewasa yang sudah bisa membedakan mana hal benar dan salah untuk dilakukan. Namun bagaimana dengan anak-anak kecil yang menontonnya? Bisa saja mereka justru mengikuti hal-hal ini. Belum lagi saat ini semakin banyak orang-orang yang menjadi influencer namun tidak memikirkan benar-benar secara jangka panjang efek atau dampak dari konten yang ia pertontonkan pada orang banyak.

Contoh yang sering kita temui juga yaitu para influencer sekaligus pecinta dan kolektor satwa liar yang dengan leluasa menyebarkan aktivitas mereka bersama satwa-satwa liar yang menjadi peliharaan mereka. Memang bagi kebanyakan orang akan menganggap hal ini sebagai sebuah hal yang lucu dan menarik untuk dilakukan atau bahkan dianggap keren oleh para pengikutnya. Namun sebenarnya dampak jangka panjang dari konten ini justru dapat menyesatkan. Dimana mereka yang tidak teredukasi secara benar akan berusaha juga memiliki hewan peliharaan yang sama walau entah dari mana asalnya dan entah bagaimana cara mendapatkannya.

Maka bila hal ini terjadi, yang pada akhirnya menjadi korban adalah satwa itu sendiri. Banyak satwa yang diperdagangkan dengan cara diselundupkan yang menderita dan akhirnya mati dalam perjalanan. Terutama bila para penjual dan pembeli tidak memiliki fasilitas dan kemampuan yang memadai untuk melakukan perawatan, satwa tidak akan bertahan lama. Belum lagi satwa yang dipelihara dan terbiasa hidup bersama manusia akan kehilangan sifat aslinya dan semakin sulit untuk dikembalikan lagi ke alam.

Inilah hal-hal yang ditakuti oleh para pemerhati konservasi satwa liar. Bahwa meskipun para influencer ini merasa menyebarkan hal yang baik dan tidak melanggar hukum, konten-konten yang dipublikasikan bisa pada akhirnya memunculkan masalah baru karena kadang terkesan mengiklankan satwa liar untuk dipelihara. Hal ini karena influenceradalah orang yang memiliki kemampuan untuk memengaruhi dan diikuti oleh orang banyak. Itulah mengapa mereka seringkali dipilih untuk mengiklankan produk-produk tertentu, karena nantinya para pengikutnya akan tertarik untuk membeli produk yang mereka iklankan.

Lalu apakah para influencer ini akan membawa pengaruh positif atau negatif itu adalah pilihan bagi mereka. Namun sebagaimana yang kita tahu bahwa seseorang yang berpengaruh seharusnya bisa menjadi teladan yang baik bagi orang lain. Maka sangatlah perlu bagi para influenceruntuk tidak hanya membagikan konten yang bisa menarik perhatian banyak orang, tetapi juga bisa membangun dan mencerdaskan para pengikutnya.

HAPPI KALAH SAAT DI KANDANG

Happi bergabung dengan tiga orangutan jantan lainnya di kandang sosialisasi. Berani, Owi dan Annie, ketiganya dengan tubuh yang lebih besar dari Happi berada satu kandang. Happi cukup pandai dan aktif ketika di sekolah hutan. Ia akan banyak menghabiskan waktunya di atas pohon. Tapi ketika berada di kandang justru tak seaktif ketika sedang bersekolah hutan.

Happi banyak mengalah di kandangnya. Karena ia harus berhadapan dengan ketiganya. Happi lebih banyak menunggu makanan dari perawat satwa. Perawat satwa akan memanggil namanya dan memberikan jatah makanannya. Rebut merebut, pasti kalah. Dia akan dikeroyok oleh ketiganya. Dia memilih di titik aman dengan makan sesuai jatahnya. Tidak ada kata merebut.

Ketika feeding (pemberian makanan) berlangsung, Happi akan turun dari hammock dan langsung duduk untuk menunggu perawat memberinya buah. Jika jatah buahnya sudah dia dapatkan, dia akan langsung bergegas membawa makanannya dan berlindung ke hammock untuk menjauh dari teman-temannya. Dia terlihat sangat takut akan berebutan makanan dengan teman-temannya. Dan teman-temannya itu cukup malas untuk menyusul ke atas hammock. Ketiganya lebih senang makan di depan animal keeper dan merajuk meminta buah lagi… dan lagi. (SIM)

COVID-19 PAKSA TAMBAH FASILITAS KEBERSIHAN COP BORNEO

COVID-19 yang sekarang menjadi masalah kesehatan internasional, juga menjadi perhatian di Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo. Penambahan fasilitas kebersihan menjadi poin penting untuk mencegah penyebaran virus corona di COP Borneo yang terletak di KHDTK Labanan, kecamatan Kelay, Kalimantan Timur.

Terhitung sejak pertengahan Maret 2020, peningkatan standar kebersihan diikuti dengan penambahan lokasi pencucian tangan di area pusat rehabilitasi. Lokasi pencucian tangan di area pusat rehabilitasi ditambah menjadi 7 titik yang sebelumnya hanya 3 titik. Kini di area parkiran juga disediakan fasilitas pencucian tangan, juga di camp, dapur, gudang pakan dan 3 titik di blok kandang.

Seperti diketahui bahwa pencegahan terbaik untuk Covid-19 adalah dengan meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat. Di mulai dengan mencuci tangan secara rutin. Hal ini akan terus digalakkan di COP Borneo agar para penjaga satwa dan orangutan terhindar dari penularan virus corona. (FLO)

SI LIAR BONTI

Setiap orangutan memiliki kepribadian yang unik. Kali ini, Steven akan bercerita tentang sosok orangutan bernama Bonti saat berada di sekolah hutan. Bonti di usianya yang 5 tahun terlihat lebih dewasa dibandingkan kawan-kawan betina sekandangnya.

Bonti adalah murid sekolah hutan yang terbilang paling liar. Selalu aktif menjelajah di sekolah hutan dan tercatat sering membuat satang dibanding murid lainnya. Tidak membutuhkan waktu lama untuknya untuk memanjat. Begitu setibanya di lokasi sekolah hutan, dia langsung meraih pohon dan lekas memanjat. Para perawat satwa kewalahan dengan gerak lincahnya. Ia selalu menghindari kami, para perawat satwa yang memanggilnya untuk kembali ke kandang.

Selain itu, Bonti pandai mencari makan sendiri di hutan. Buah-buahan di pohon selalu dia dapatkan. Orangutan Bonti ini sangat bagus perkembangannya du sekolah hutan, ia cukup liar dan juga pandai membuat sarang dan sifat almiahnya sudah lumayan terlihat.

Bonti juga kerap menginap di lokasi sekolah hutan. Dipanggil pulang ke kandang kadang tak dihiraukannya lagi. Dan kembali memunculkan batang hidungnya ketika waktu makan di pagi hari. Aduh Bonti! (STV)

TUTUP PASAR BURUNG! BEBASKAN SATWA LIAR DARI PERBURUAN

Hampir seluruh sektor terkena imbas pandemi Covid-19, tak terkecuali pasar-pasar burung tradisional di beberapa kota di Jawa. Pasar Burung Muntilan contohnya, pasar burung yang terletak di jalan Magelang-Yogyakarta Jawa Tengah ini yang biasanya ramai oleh pedagang dan pembeli satwa saat ini sepi. Dari kurang lebih 50 kios, hanya sekitar 9 kios yang buka di dalam area pasar. Dimana 4 diantaranya menjual pakan dan perlengkapan burung dan 5 kios lainnya menjual aneka burung dan unggas.

Dalam situasi normal biasanya pasar burung ini ramai menjual berbagai jenis satwa seperti burung-burung kicau sampai musang bahkan sampai satwa dilindungi seperti jenis trenggiling pun pernah ditemukan dijual di pasar ini. Salah satu pedagang di pasar ini contohnya dalam satu kali perputaran transaksi, jumlah burung yang bisa dijual kurang lebih 300 ekor, jumlah tersebut merupakan akumulasi dari beberapa jenis burung. Yang paling banyak di setiap pengiriman adalah burung prenjak gunung (Prinia Suoerciliaris). Dalam seminggu pedagang ini bisa melakukan dua kali transaksi berarti dalam sebulan kurang lebih 2400 ekor burung yang dia jual yang mana semua satwa itu diburu dari alam. Itu baru dari satu pedagang.

Adanya himbauan pemerintah untuk social distancing dan beredarnya info kalau virus Covid-19 ini berasal dari satwa membuat orang-orang enggan datang ke pasar burung sehingga banyak pedagang yang tidak membuka tokonya. “Hal ini baik untuk satwa di alam. Suasana sepi permintaan akan satwa di pasar burung. Semoga, penangkapan atau perburuan di alam juga berkurang sehingga keseimbangan alam tetap terjaga”, ungkap Daniek Hendarto, direktur Centre for Orangutan Protection.

“Semoga masyarakat semakin sadar bahwa memelihara satwa liar itu tidak benar karena dapat menganggu keseimbangan alam dan juga dapat saling menularkan menganggu keseimbangan alam dan juga dapat saling menularkan penyakit dari satwa ke manusia, juga sebaliknya dari manusia ke satwa.”, tambah Daniek. (HER)

 

GOGON DAN DEDEK… KAMI DARI APE WARRIOR COP

Ini adalah kunjungan kami yang kedua paska rencana untuk membantu ketujuh orangutan yang ada di Wildlife Rescue Center (WRC) Jogja. Rabu, 29 April 2020, tim APE Warrior mengumpulkan informasi terkait teknis perawatan orangutan di sana. 

Setiap pagi, kandang-kandang dibersihkan dilanjutkan ‘feeding’ atau pemberian pakan orangutan yang dilakukan dua kali dalam sehari, pukul 10.00 dan 14.00 WIB. “Syukurlah tak ada orangutan yang alergi pada pakan selama ini. Itu sangat memudahkan tim APE Warrior kedepannya.”, ujar Liany D. Suwito dari tim APE Warrior yang selalu siap sedia saat bencana alam yang datang sewaktu-waktu, tak terkecuali pandemi COVID-19 yang memaksa WRC Jogja angkat tangan dalam menjalankan taman satwa ini. 

Tim APE Warrior dengan dukungan para relawannya yang tergabung dalam orangufriends, membeli pakan tambahan untuk orangutan berupa nenas dan semangka yang kebetulan dekat dengan camp APE Warrior di Jalan Gito-Gati, Gondanglegi, Sleman, Yogyakarta. Nanas sebanyak 26 buah, semangka seberat 13 kg dan pisang 10 sisir akhirnya mengisi rak gudang pakan WRC. “Nenasnya menggoda iman… hahahaha.”.

Feeding sore, kami berkesempatan mengamati kandang Gogon dan Dedek. Mereka berdua berada dalam satu kandang. “Waduh, dua jantan dewasa berada dalam satu kandang? Dedek walaupun berusia lebih muda dibandingkan Gogon yang berusia 19 tahun memiliki tubuh lebih besar dan terlihat lebih dominan. Perlu lebih waspada nih.”, ujar Lia lagi. 

Panggilan untuk Orangufriends, silahkan donasi lewat kitabisa.com atau kirim pakan orangutan ke camp APE Warrior ya. Bersama… kita bisa! 

Si NAKAL MICHELLE

Ini adalah cerita dari Jack, perawat satwa di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Jack jarang sekali bercerita tentang orangutan. Ceritanya kali ini adalah trik rebut-rebutan dengan Icel alias Michelle.

Ketika feeding pagi, Jack membersihkan blok kandang dewasa. Di sana ada Michelle. Si orangutan betina beranjak dewasa yang cantik dan nakal. Bagaimana tidak, dengan usilnya Michelle menarik glove (sarung tangan medis) dan gelang yang Jack kenakan ketika menyodorkan buah.

“Tak kusangka Michelle mengusiliku. Dengan agresif, dia mengulurkan tangannya keluar seakan-akan mengambil buah, nyatanya ia malah merebut glove dan gelangku. Ku coba tarik kembali tanganku, tapi Michelle kini sudah kuat.”.

Michelle berhasil membawa kabur glove dan dimainkannya di atas hammocknya. Jack mencoba memancingnya untuk turun dari hammock dengan iming-iming buah. Michelle mau turun, masih dengan glove ditangannya. Perlahan Jack mencoba mencekatinya, namun tatapannya agresif, bulunya berdiri nampaknya ia merencanakan sesuatu. Jack pun mengurungkan niatnya untuk mendekati Michelle.

Jack membiarkan Michelle memakan buah sambil memegang glove. “Nampaknya dia mulai asik menikmati buah. Saatnya merebut glove ku kembali. Cepat-cepat kumasukkan tanganku ke dalam kandang Michelle. Yes! Lalu kulemparkan glove yang sudah robek ke dalam tempat sampah.”. (JACK)

SATWA KEBUN BINATANG TERDAMPAK COVID-19

Saat ini beredar berita tentang beberapa kebun binatang yang hampir bangkrut dan tidak bisa memberi pakan satwa koleksinya karena mereka menutup kegiatan operasional mereka dari pengunjung selama pandemi virus corona ini. Yang artinya tidak ada pemasukan untuk kebun binatang tersebut dari pengunjung. Sementara biaya operasional dan pakan satwa mereka harus tetap jalan setiap hari. Satwa-satwa yang berada di kandang maupun enclosure di kebun binatang sangat bergantung kepada petugas perawat satwa yang setiap hari memberi mereka makan karena mereka tidak bisa mencari makan sendiri.

Kebun binatang memang bisnis sarat modal besar dan berat. Namun ini adalah konsekuensi bagi para pengelola kebun binatang untuk tetap memberi makan dan merawat satwa tersebut, karena selama ini juga satwa-satwa tersebutlah yang membuat pengunjung datang dan memberikan pemasukan untuk pengelola kebun binatang. Satwa-satwa di kebun binatang tidak mengenal pandemi COVID-19, yang penting bagi mereka adalah bertahan hidup di dalam kandang-kandang tersebut. Hidup di dalam kebun binatang bukan kemauan dari satwa tersebut, karena sejatinya ‘rumah’ mereka adalah di hutan. Dan mereka terpaksa tinggal di kebun binatang karena beberapa dari mereka adalah korban dari kejahatan manusia.

Centre for Orangutan Protection mengingatkan para pengelola kebun binatang untuk tetap memperhatikan kesejahteraan satwa dengan mengedepankan 5 kebebasan satwa. COP mengundang Orangufriends untuk diskusi dan aksi untuk satwa kebun binatang yang terdampak COVID-19. Hubungi kami di info@orangutanprotection.com (HER)