Pada 23 September yang lalu, Tim APE Crusader bersama SKW 2 BKSDA Kalimantan Timur serta Orangufriends Samarinda melaksanakan kegiatan School Visit di SMAN 5 Samarinda. Tujuannya adalah untuk mengedukasi para pelajar mengenai pentingnya konservasi orangutan serta mengampanyekan upaya pelestarian satwa yang semakin terancam punah ini. Sebanyak 40 siswa hadir, ada tips untuk generasi muda mengambil peran menjaga kelestarian alam.
Menariknya, Orangufriends Samarinda yang merupakan relawan orangutan mengajak siswa bermain permainan edukatif. Aktivitas ini membuat pembelajaran terasa menyenangkan dan interaktif. Tawa dan semangat siswa memenuhi ruangan, menandakan pesan konservasi tersampaikan dengan cara yang hangat. Yang mengejutkan, beberapa siswa mengungkapkan ketertarikan mereka untuk terjun ke dunia konservasi. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa edukasi sejak dini dapat menumbuhkan kesadaran, rasa memiliki, serta keinginan untuk ikut berperan dalam menjaga lingkungan.
Melalui kegiatan ini, diharapkan kesadaran siswa SMAN 5 Samarinda akan semakin tumbuh bahwa menjaga orangutan berarti menjaga hutan dan kehidupan itu sendiri. Perubahan besar selalu berawal dari langkah kecil, dan hari itu, langkah dimulai bersama APE Crusader. (WIB)
Ketika kita melakukan pencarian di mesin pencari, nama Hutan Lindung (HL) Gunung Batu Mesangat memang masih sangat sedikit yang mendeskripsikannya. Bahkan kalangan akademisi seperti dosen di kampus saya belum begitu mengetahuinya. Jika dibandingkan dengan kawasan konservasi yang populer di Kalimantan Timur seperti Hutan Lindung Sungai Wain, HL Gunung Batu Mesangat masih terdengar asing di telinga banyak orang. Keasingan tersebut memicu rasa ingin tahu saya untuk menelusuri lebih lanjut. Hai, saya Andika Widiyanto Ramadhani, selamat menikmati kisah perjalanan praktik kerja lapangan saya menelusuri surga hayati “asing’ di Kalimantan Timur.
Perjalanan dimulai dari rumah “kedua” saya, apalagi kalau bukan kampus tercinta FMIPA Universitas Mulawarman. Setelah berpamitan dengan dosen serta teman-teman, saya membawa barang bawaan saya yang sudah seperti pindah rumah itu ke mobil travel. Layaknya kegiatan outdoor, mobil yang saya tumpangi melewati beragam halang rintangan terutama kontur jalan. Perjalanan darat Samarinda-Busang melewati jalan perkebunan hingga tambang yang “mood-mood-an” mulai dari berlubang, becek, hingga licin. Beberapa kali terlihat pengendara motor yang terjatuh akibat jalan basah diguyur hujan. Setelah melalui 8 jam rintangan dengan aman dan selamat saya menginjakkan kaki di Desa Long Lees, Kecamatan Busang, Kabupaten Kutai Timur.
Bukan tanpa alasan desa ini dikatakan sebagai jantung dari Kecamatan Busang, karena seluruh pusat pemerintahan memang terletak di Desa Long Lees. Meski didominasi suku lokal seperti Dayak, kehidupan di sini rukun dengan masyarakat pendatang dari beragam suku, ras, dan agama yang menetap hingga pencari rupiah. Setiap pagi, terdengar doa-doa serta renungan pagi dari gereja yang terletak di dekat mess Centre for Orangutan Protection (COP). Belajar secuil bahasa lokal pun tak terhindari, “uman ading”, ya ini adalah yang paling saya ingat yang berarti ‘ayo makan”. Saya pun terkejut dengan perjalanan menyusuri sungai menggunakan perahu ketinting yang menghabiskan waktu lebih dari 2 jam menuju Pos Monitoring APE Guardian, bahkan merasakan cuaca cerah hingga hujan deras menjadi pelengkapnya. Meskipun di tengah rimbanya hutan belantara, pos APE Guardian sudah dilengkapi beragam teknologi pendukung seperti listrik, panel surya, genset, hingga jaringan internet yang akan menyala pada waktu tertentu saja.
Keesokan harinya, penelusuran surga hayati asing pun dimulai, kembali lagi saya menaiki ketinting, mengarungi deras dan dangkalnya sungai di hulu. Namun pesona jernihnya air benar-benar membuat perjalanan terasa menyegarkan. Pemasangan camera trap sebagai mata-mata untuk mengamati penduduk satwa hutan lindung pun menjadi tugas pertama. Selanjutnya, saya mengamati para ranger yang bertugas memberi makanan tambahan untuk orangutan yang berada di dalam pulau Dalwood Wylie dari ketinting. Beruntung sekali bisa melihat langsung orangutan yang merupakan calon penjaga hutan dengan jelas, tidak terlalu jauh dari posisi saya, sebelumnya saya hanya pernah melihatnya di dunia maya.
Merupakan suatu kebagian tersendiri buat saya ketika terlibat dalam pelepasliaran orangutan bernama Popi. Popi yang telah diselamatkan dan menjalani rehabilitasi di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa. Tim Post Release Monitoring (PRM) kocar-kacir mengikuti pergerakannya. Daun demi daun, buah demi buah disantap dengan lahap oleh Popi. Beruntungnya lagi, saya menyaksikan reuni orangutan yang awal tahun lalu dilepasliarkan terlebih dahulu, yaitu Bonti dengan Popi.
Tugas tim APE Guardian COP ternyata tidak hanya itu saja, laporan adanya orangutan memakan hasil kebun milik warga desa Long Lees pun harus segera ditanggapi. Kami pun segera ke kebun Tamen Nisa, melihat kehadiran kami, orangutan tersebut bergegas pergi menjauh. Tim pun melakukan patroli untuk memastikan keberadaannya. Kami pun menemukan sarang yang dibangun orangutan tersebut. Syukurlah, dia semakin masuk ke lebatnya hutan.
Selain patroli, saya pun menikmati beragamnya makhluk indah bersayap melalui kegiatan birdwatching dan pesona hewan amfibi dan melata melalui kegiatan herping. Dari kedua kegiatan tersebut, herping menjadi salah satu kegiatan unik. Di saat yang lain istirahat, pada malam hari kami harus berangkat masuk ke HL Gunung Batu Mesangat. Satu makhluk yang menjadi perhatian saya adalah katak bertanduk. Mata menyalanya yang berwarna merah membuatnya semakin sangar dengan badan yang berukuran sebesar kepalan tangan saya. Semoga ke depannya, surga hayati ini semakin dikenal dengan keindahan dan pesona penduduk di dalamnya. (Andika_volunteer)
Giliran SMP 1 Kongbeng yang menjadi tujuan School Visit Tim APE Guardian COP (Centre for Orangutan Protection). Sebanyak 50 siswa mengikuti sesi interaktif yang mengupas banyak hal, mulai dari jenis-jenis orangutan di Indonesia, fungsi hutan sebagai habitat penting, hingga ajakan mendukung kampanye perlindungan satwa liar.
Materi disampaikan dengan cara sederhana, sehingga mudah dipahami siswa. Antusiasme mereka terlihat dari rasa penasaran yang muncul sepanjang diskusi. Saat penutup, tim mengajak siswa ke lapangan untuk bermain “orangutan, pemburu, dan penebang pohon”, yang membuat suasana semakin meriah.
Di akhir kegiatan, seorang siswi bernama Aida menyampaikan kesannya, “Dengan adanya kegiatan semacam ini, kami jadi tahu jenis-jenis orangutan di Indonesia dan bahwa mereka dilindungi oleh Undang-Undang. Ke depannya saya berharap orangutan tetap lestari dan dapat dilindungi dengan baik di alam.”. Ucapan Aida menjadi pengingat bahwa semangat menjaga alam bisa lahir dari suara sederhana seorang pelajar. (YUS)
Beberapa waktu terakhir, tim APE Guardian semakin sering menjumpai kembali orangutan yang telah dilepasliarkan. Munchan, orangutan janta translokasi, serta Mary dan Bonti, orangutan reintroduksi mulai aktif menampakkan diri di sekitar pos monitoring Busang. Dari perjumpaan yang terjadi, sebagian besar orangutan teramati sedang memakan buah dari salah satu jenis pohon yang umum dijumpai di Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat. Buah Baran, begitu sebutan masyarakat lokal Busang bagi tumbuhan dengan nama latin Dracontomelon Dao.
Menurut literatur, daerah penyebaran ini meliputi India Timur, Kepulauan Andaman, China Selatan, Myanmar, Indo Cina, Thailand, Semenanjung Malaya, New Guinea, kepulauan Solomon, dan Indonesia. Di Indonesia ditemukan di beberapa tempat yaitu Sumatra, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua. Pada beberapa daerah, Dacontomelon dao dimanfaatkan sebagai obat-obatan tradisional. Pemanfaatan lokal di Papua Nugini, daun dan bunga dimasak kemudian dimakan sebagai sayur. Sedangkan di Maluku dipergunakan sebagai penyedap makanan. Kulit batang dapat digunakan sebagai obat tradisional untuk menyembuhkan disentri.
Baran merupakan pohon dengan kanopi besar yang selalu hijau, tinggi pohon dapat mencapai 36-55 m. Batangnya lurus dan silindris, tidak bercabang hingga ketinggian 15 m, dengan penampang akar di dasarnya. Kulit batang luar berwarna coklat keabu-abuan, kulit batang bagian dalam berwarna merah muda. Kulit kayu yang terluka memancarkan resin tidak berwarna yang sedikit lengket yang berubah menjadi emas pucat saat terkena udara. Memiliki daun majemuk yang menyirip, tersusun spiral disekitar cabang. Selebaran berurat menonjol, berselang-seling dan anak daun berjumlah 4-9 pasang. Pohon ini memiliki bunga majemuk malai berwarna putih kekuningan atau merah muda, kecil berukuran sekitar 9 mm, 5 lobus, harum, diproduksi dalam malai besar yang berjumbai hingga panjang 0,6 m. Buah tumbuhan Dracontomelon dao memiliki ciri-ciri morfologi berupa buah sejati tunggal, tipe buah batu, kulit buah berwarna hijau ketika masih muda dan kuning ketika sudah matang.
Orangutan biasa memakan bagian buah yang sudah matang dari Dracontomelon dao. Buahnya memiliki rasa sedikit manis ketika sudah matang. Selain untuk sumber pakan, pohon baran juga sering teramati dijadikan tempat membuat sarang bagi orangutan. Pohonnya yang tinggi serta batangnya yang besar memungkinkan untuk orangutan merasa nyaman dan aman berada di pohon tersebut. Status konservasi Dracontomelon dao dalam IUCN Red list termasuk dalam kategori Least Concern (LC). Namun populasinya sedang menurun akibat deforestrasi dan degradasi habitat. Upaya konservasi yang berkelanjutan sangat penting untuk melindungi habitat yang tersesi dan mencegah penurunan populasi. Menjaga pohon baran atau yang di daerah lain juga dikenal dengan nama sengkuang, sama dengan menjaga keberlangsungan hidup orangutan di habitat alaminya. (YUS)
Kabut tipis masih menggantung di atas Sungai Atan, Kampung Long Lees, Busang, Kutai Timur, ketika deru mesin perahu mulai memecah keheningan pagi itu. Di atas perahu, sebuah kandang angkut berwarna jingga terikat rapi. Di dalamnya duduk orangutan betina berusia sembilan tahun bernama Popi. Hari itu, 10 Agustus 2025 bertepatan dengan Hari Konservasi Alam Nasional akan menjadi hari yang mengubah hidupnya selamanya. Dari kampung Long Lees, Popi berangkat menuju Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, sebuah rumah baru yang telah lama menunggunya.
Popi adalah salah individu yang paling populer di pusat rehabilitasi BORA. Ia diselamatkan ketika usianya belum genap satu bulan, saat giginya pun belum ada yang tumbuh. Pada September 2016, Popi dibawa ke BORA untuk memulai perjalanan panjang rehabilitasinya setelah sempat dipelihara warga dalam waktu yang singkat. Mungkin ia tidak memiliki sedikitpun memori tentang induknya, karena ia telah kehilangan induknya pada usia yang terlalu muda. Kehidupan tanpa induknya sejak sangat kecil membuatnya terkenal manja pada para animal keeper dan staf BORA. Ia sering mencari kenyamanan dari manusia, dan sempat ada keraguan apakah Popi benar-benar bisa mandiri di alam liar suatu hari nanti.
Tetapi tahun-tahun panjang rehabilitasi dari sekolah hutan hingga pra-rilis di pulau, mengubah segalanya. Perlahan, insting liarnya tumbuh kembali. Data sekolah hutan menunjukkan bahwa Popi sering mengonsumsi variasi pakan alami lebih beragam dibandingkan orangutan lain. Di pulau pra-pelepasliaran, ia terbukti mampu bertahan hidup 24/7 selama beberapa bulan, beradaptasi dengan habitat liar tanpa lagi bisa berlindung di bawah naungan atap kandang.
Perjalanan menuju lokasi pelepasliaran ini bukan sekadar memindahkan Popi, ini adalah langkah mengembalikannya pada rumah sejatinya, habitat hutan yang masih terjaga, yang mampu menopang keberlangsungan hidupnya dengan baik. Bersama tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Kelinjau, COP (Centre for Orangutan Protection), dan TOP (the Orangutan Project), Popi menempuh sekitar 10 jam perjalanan darat dari Berau dan 3 jam perjalanan sungai dari Long Lees untuk menuju Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, salah satu benteng terakhir keanekaragaman hayati di Kalimantan Timur.
Saat pintu kandang akhirnya dibuka, Popi bergegas keluar tanpa ragu, Ia melangkah keluar dengan penuh semangat, lalu memanjat pohon pertama yang dilihatnya. Gerakannya seakan menuliskan episode baru dalam cerita panjang perjalanan hidupnya, orangutan tanpa induk yang akhirnya pulang. Di pohon itu, Popi langsung menemukan buah balangkasua atau disebut juga ginalun (Lepisanthes alata), kumpulan buah berwarna merah keunguan mirip seperti anggur, ia kemudian menyantapnya dengan lahap.
Tim post-release monitoring (PRM) dari APE Guardian COP mengamati perilaku Popi dari kejauhan. Semua keraguan lama kini terbantahkan. Popi bergerak aktif, mencari buah-buahan hutan, mengunyah kulit liana, memakan daun muda, minum air sungai, hingga “pesta panen” di pohon sengkuang/dahu (Dracontomelon dao) yang sedang berbuah lebat. Popi bukan lagi anak manja yang selalu mencari perhatian manusia. Ia kini orangutan muda dengan naluri liar yang sudah terbentuk kembali.
Hari kedua monitoring membawa kejutan. Dari atas kepala kami, sekitar sepuluh meter dari permuakaan tanah, muncul suara pergerakan kanopi pohon, tampak pula siluet orangutan.
“Itu Popi bukan?”, tanya Yusuf, asisten lapangan APE Guardian.
Kami ragu, karena Popi sebelumnya sudah menyeberang sungai melalui liana yang melintang dari pohon ke pohon melintasi sungai. Tidak lama kemudian wajahnya yang terasa familiar terlihat jelas, memori segera menyeruak, itu adalah Bonti.
Bonti adalah teman sekandang Popi saat di BORA, yang lebih dahulu dilepasliarkan pada Januari 2025. Dari kanopi pohon, ia tampak memperhatikan Popi yang berada di atas pohon seberang sungai selebar kurang lebih 6 meter. Beberapa menit setelah memperhatikan dari seberang, Bonti memberanikan diri menyeberang sungai melalui liana, mendekati Popi yang sedang mencari makan.
Pertemuan itu seperti reuni teman lama. Bonti mengejar Popi layaknya saat mereka masih bersama di sekolah hutan. Beberapa lama setelah momen itu, Popi menjelajah lebih jauh ke dalam hutan. Gerakannya cepat, daya jelajahnya tak terkejar oleh tim PRM, hingga akhirnya ia menghilang dari pantauan tim PRM yang kewalahan menembus rapatnya vegetasi.
Kini Popi benar-benar bebas. Ia hidup di ekosistem Busang yang kaya akan sumber pakan, jauh dari ancaman aktivitas manusia. Pada Hari Konservasi Alam Nasional, kebebasan Popi menjadi lebih dari sekadar kisah individu. Ia adalah simbol dengan cerita uniknya, yang suatu hari nanti akan mendapat kesempatan yang sama, kembali ke rumah sejati mereka, hutan Kalimantan. (RAF)
Sabtu, 26 Juli 2025 sebuah video buram nyebar cepat di media sosial. Gambarannya menunjukkan satu individual beruang madu tergeletak tak bergerak di tepi Jalan Poros Wahau, Kalimantan Timur. Tubuhnya tampak lemah, di kelilingi semak liar, seolah menyimpan rahasia kelam. Postingan itu seketika membangkitkan gelombang keprihatinan. BKSDA Kaltim segera bertindak menghubungi tim APE Crusader COP untuk menyelami kejadian tersebut. Tanpa menunggu lama, tim meluncur.
Saat senja merona di langit Kalimantan dengan udara yang masih hangat, bau menyengat tiba-tiba mengusik perjalanan menuju Simpang Perdau. Aroma tajam ini membawa firasat buruk yang tak bisa diabaikan. Dengan langkah hati-hati, laju kendaraan pun melambat. Di balik rerimbunan semak, pemandangan mengerikan terhampar. Jasad beruang madu dengan tubuh membengkak, dikerubungi lalat dan belatung yang bergerak lincah di atas luka-luka menganga.
Cahaya senja yang temaram menerangi tubuh beruang itu, memperlihatkan detil mengerikan. Cakar-cakarnya hilang seolah dicabut paksa. Alat kelaminya pun tak lagi utuh, meninggalkan bekas potongan kasar yang tak wajar. Keadaan itu membawa hawa ngeri sekaligus amarah bagi tim. Jelas bahwa ini bukan kematian biasa. Ada tangan manusia yang tega mencincang tubuh itu, mungkin demi keuntungan gelap, tanpa menghiraukan nyawa yang telah padam. Luka besar di dada beruang tampak seperti akibat benturan keras, kemungkinan tertabrak kendaraan, namun mutilasi yang mengikutinya menyingkap kekejaman yang lebih dalam.
Tim segera menyebar, menyisir area di sekitar jasad. Mata mereka tajam mencari petunjuk, jejak kaki, bekas ban, atau apapun yang bisa menyingkap pelaku. Namun hujan yang turun beberapa hari sebelumnya telah menghapus banyak tanda. Alam seolah turut menyembunyikan kebenaran, meninggalkan misteri yang semakin pekat. Dari tingkat pembusukan jasad, tim memperkirakan beruang telah mati sejak hari Jumat. Kejadian ini bukan sekedar kematian seekor hewan, tetapi pengingat pahit akan ancaman terhadap satwa liar. Setiap makhluk berhak hidup dan tugas melindunginya tak perah ringan. (AGU)
BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) di bulan Juli 2025 penuh dengan cerita-cerita kecil yang hangat dari dua orangutan mudanya, Arto dan Harapi. Keduanya menjalani hari-hari sibuk dengan penuh warna, baik saat berada di dalam kandang maupun ketika menjelajah alam di sekolah hutan. Arto seperti biasanya, tampil percaya diri, naik ke akar gantung, bergelantungan di pohon dan sesekali mengintip ke arah baby sitter seolah ingin memastikan ia masih jadi pusat perhatian. Di sisi lain, Harapi terlihat makin berani. Meski masih sering menoleh ke arah babysitter untuk mencari rasa aman. Harapi kini sudah mulai aktif bermain dengan teman-temannya dan bahkan memanjat hingga enam meter ke atas, sesuatu yang dulu ia lakukan dengan ragu-ragu.
Keduanya mememiliki kepribadian yang sangat berbeda. Arto ekspresif, terkadang sedikit usil, dan penuh rasa ingin tahu. Harapi lebih pendiam tapi punya keteguhan tersendiri. Saat Arto mencoba mengambil makanan enrichment milik Harapi, Harapi tidak tinggal diam. Ia mempertahankannya, menghabiskannya dengan tenang, sebuah tanda kecil tapi penting bahwa ia semakin percaya diri. Ada juga momen menyentuh saat mereka bermain bersama di dinding kandang dan bergelantungan, lalu tiba-tiba saling berpelukan ketika kaget melihat tim medis membawa boneka-boneka. Reaksi spontan itu menunjukkan betapa kuatnya ikatan emosional di antara mereka, serta bagaimana mereka saling memberi rasa aman saat menghadapi hal baru.
Di sekolah hutan, Arto dan Harapi sama-sama belajar banyak hal, mengenali makanan alami, berlatih memanjat, serta memahami dinamika sosial antar siswa sekolah hutan. Mereka mulai membentuk relasi dengan orangutan lain seperti Jainul, Ochre, dan Cinta. Tak jarang mereka terlihat duduk berdekatan di atas pohon, menikmati buah san (Dracontomelon dao) sambil mengamati lingkungan di sekitar. Meskipun ada hari-hari ketika mereka lebih mendekati babysitter dibanding memanjat tinggi, waktu demi waktu keberanian itu terus tumbuh. Bahkan, pernah suatu pagi keduanya sempat memanjat sampai ke ketinggian 15 meter untuk mencari makan bersama, sebuah pencapaian yang membuat tim babysitter tersenyum puas.
Enrchment masih menjadi salah satu bagian favorit mereka dalam keseharian. Baik itu selang isi sayuran, pipa berisi buah, atau umbut rotan segar, semuanya disambut dengan antusias. Aktivitas-aktivitas ini tidak hanya menyenangkan tapi juga penting untuk mengasah kemampuan alami mereka, menggigit, mengupas, membongkar, dan mencari solusi. Arto cenderung menyelesaikannya dengan cepat, sementara Harapi lebih pelan, menikmati setiap prosesnya.
Ada hari-hari ketika mereka lebih memilik untuk berisitrahat dan itu tak apa. Sama seperti anak-anak pada umumnya, energi dan suasana hati bisa berubah-ubah. Tim babysitter BORA akan selalu memberi ruang bagi mereka untuk pulih, berkembang, dan merasa nyaman. Yang terpenting, setiap langkah kecil mereka, setiap lompatan, setiap makanan yang berhasil dikupas sendiri, setiap pertemanan yang terbentuk, adalah bagian dari proses yang berarti. Kami percaya, dengan cinta dan kesabaran, suatu hari nanti mereka akan benar-benar siap kembali ke rumah mereka yang sesungguhnya, hutan Kalimantan yang liar. (RAF)
Pada 24 Juli 2025, Gedung Teater FMIPA Universitas Mulawarman dipenuhi semangat muda saat Ceremony Penerimaan Beasiswa EBOCS 2025 digelar. Acara ini dihadiri oleh perwakilan COP, Orang Utan Republik Foundation (OURF), pimpinan UNMUL, para dosen, mahasiswa, hingga orang tua penerima beasiswa. Tahun ini, enam mahasiswa resmi terpilih, dua dari Fakultas Kehutanan dan empat dari FMIPA. Agenda berlanjut keesokan harinya dengan penandatanganan MoA antara COP dan FMIPA serta sesi berbagi inspiratif. Gary Shapiro dari OURF membawakan materi tentang konservasi orangutan, tim COP memaparkan program di Kalimantan Timur, sementara alumni EBOCS berbagi kisah mereka, mulai dari kampanye, edukasi ke sekolah, sampai pengalaman riset di lapangan.
EBOCS (East Borneo Orangutan Caring Scholarship) sendiri adalah bagian dari program beasiswa internasional Orangutan Caring Scholarship (OCS) yang dikhususkan untuk mahasiswa Kalimantan Timur. Didukung OURF dan dikelola COP sejak 2021, program ini awalnya hanya memberi kesempatan kepada dua mahasiswa. Namun berkat keberhasilan dan konsistensi, kuotanya terus bertambah dari tahun ke tahun. Hingga 2025, EBOCS telah mengantarkan 24 mahasiswa untuk tidak hanya menyelesaikan pendidikan, tapi juga ikut berperan dalam konservasi orangutan.
Salah satunya adalah Andika, mahasiswa Biologi semester 6 FMIPA UNMUL. Saat ini ia sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan selama 40 hari di site pelepasliaran orangutan COP, Busang. Andika juga tengah menyiapkan penelitiannya, yaitu mengenai rayap sebagai salah satu pakan alami orangutan. Di lapangan, Andika juga terjun langsung dalam berbagai aktivitas, mulai dari pelepasliaran dan monitoring orangutan, patroli kawasan, mitigasi konflik, hingga survey keanekaragaman satwa. Harapannya, penelitian ini tak hanya memperkaya data COP, tapi juga menjadi sumbangsih nyata bagi upaya menjaga orangutan tetap lestari di hutan Kalimantan. (DIM)
Pertengahan tahun 2025 menjadi bulan-bulan yang cukup mencekam di Busang. Bagaimana tidak, setiap hari hujan mengguyur dengan deras, air sungai naik dan angin kencang menyertai hari-hari tim APE Guardian di Pos Monitoring Orangutan. Pada tanggal 27 Juni yang bertepatan dengan hari Jumat, akhirnya matahari menampakkan sinarnya, setelah seminggu penuh langit diselimuti awan hitam. Tim APE Guardian akhirnya bisa sedikit leluasa untuk melakukan patroli rutin di kawasan Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat. Paagi hari ditemani cuaca yang cerah, ranger bersiap dengan peralatannya, siap tempur untuk patroli.
Sebelum semakin panas, kami berangkat menyusuri Sungai Menyuq menggunakan perahu, kami pun bergerak sambil menoleh ke kanan dan ke kiri mengecek kembali temuan-temuan sarang lama yang pernah kami jumpai. Setelah kurang lebih 30 menit , tim menjumpai sebuah sarang kelas 2, terlihat dari bagian daunnya yang masih hijau. Tim berhenti sebentar dan mendekat ke pohon dimana terdapat sarang. “Wah ada orangutan bang di atas”, ucap Nigo, salah satu ranger APE Guardian. Tak disangka, dari balik dedaunan yang rimbun tersebut kami menjumpai individu orangutan liar induk dan anak yang sedang memakan buah Dracontomelon dao atau orang lokal menyebutnya buah baran.
Selayaknya seorang ibu, induk orangutan sangat sensitif apabila ada gangguan yang dirasa bisa mengancam anaknya. Ketika kami mencoba semakin mendekat ke arah pohon yang mereka tempati, sang induk mengeluarkan kiss-squeak dan mematahkan ranting-ranting pohon. “Awas Igo!”, teriak Yusuf anggota tim APE Guardian yang lain, karena orangutan tersebut melemparkan ranting pohon yang cukup besar dan hampir mengenai badan. Supaya kondisi orangutan tidak terganggu, tim perlahan melangkah mundur ke perahu dan mengamati dari kejauhan.
Kurang lebih 20 menit telah berlalu, induk orangutan dan anak teramati masuk kembali ke dalam Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat. Sangat senang rasanya berjumpa dengan orangutan di kawasan pelepasliaran ini dengan kondisi yang baik. Tim APE Guardian bertekad untuk menjaga salah satu rumah yang tersisa bagi orangutan untuk tetap hidup dan lestari. (YUS)
5 Februari 2025, sebuah video pendek menyebar seperti api di media sosial. Gambar buram orangutan besar yang berjalan di tengah kawasan tambang membuat banyak orang tersentak. Di tengah landskap tambang yang gersang, kehadiran makhluk berambut itu terasa seperti seruan permintaan tolong dari alam. Orangutan, spesies yang terancam punah dan dilindungi, tak seharusnya berada di sana. Hutan yang dulu menjadi rumahnya kini berbatasan dengan perkebunan sawit dan kawasan tambang, sebuah dunia yang asing dan penuh bahaya baginya.
Melihat video tersebut, BKSDA Kaltim tak membuang waktu. Dengan sigap, tim WRU SKW II Tenggarong berangkat menyelamatkan makhluk luar biasa ini dari nasib tak pasti. Tim bertemu dengan warga setempat yang pertama kali merekam video viral itu. “Dia muncul di pagi hari, biasanya sendirian”, ujar salah seorang warga dengan mata penuh kekhawatiran. Dari cerita mereka, tim tahu bahwa orangutan ini bukan tamu biasa. Ia adalah individual jantan besar, mungkin tersesat atau terdesak dari habitat aslinya oleh perluasan tambang dan kebun sawit. Ditambah lagi informasi penampakan orangutan tersebut sedang memakan umbut sawit di dekat hutan karet, sebuah tanda bahwa ia berjuang mencari makanan di lingkungan yang tak ramah.
Hutan karet yang lebat dengan tanah basah menyambut mereka, namun tak menghentikan kesigapan tim untuk menyelamatkan orangutan tersebut. Di antara pepohonan, orangutan jantan perkasa dengan bobot lebih dari 70 kg membuat tim terkagum-kagum, tapi bukan saatnya. Orangutan adalah satwa cerdas dan kuat, menyelamatkannya bukanlah tugas yang mudah. Diperlukan koordinasi yang matang untuk memblokir pergerakan orangutan. Senjata bius disiapkan, jaring diatur, dan setiap anggota tim penyelamatan mengambil posisi. Jantung mereka berdegup kencang saat menunggu momen yang tepat. “Sekarang!”, seru salah seorang anggota tim dan sebuah peluru bius melesat mengenai sasaran dengan presisi. Ketegangan belum usai, Orangutan itu memanjat pohon dengan gerakan pelan lalu dengan keadaan tidak sadarkan diri terjatuh pada jaring yang sudah ditarik tegang anggota tim. Usianya sekitar 17 tahun, masih muda, tanpa luka namun cukup besar untuk menjadi simbol kekuatan alam yang rapuh di tangan manusia. Evakuasi selesai, tetapi misi belum berakhir. Anshar begitu namanya, akhirnya dibawa menuju Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, sebuah kawasan yang masih hijau dan liar, tempat ia kembali menjadi bagian dari alam.
Rabu, 12 Februari pukul 13.00 WITA, di tengah lebatnya hutan, kandang angkut Anshar dibuka. Matahari siang menyelinap melalui kanopi hutan, menerangi rambutnya yang bercahaya. Dengan langkah ragu namun penuh makna, Anshar melangkah keluar. Udara segar hutan memenuhi paru-parunya dan suara burung serta gemerisik daun seolah menyanyikan lagu penyambutan. Ia menoleh sekilas ke arah tim yang telah menyelamatkannya, lalu menghilang ke dalam lebatnya hutan, kembali ke tempat ia seharunya berada. Translokasi Anshar bukan sekedar akhir dari sebuah operasi penyelamatan, di bawah naungan pohon-pohon tinggi, Anshar melangkah menuju kehidupan barunya. Mungkin suatu hari, anak-anaknya akan mengisi hutan dengan kehidupan. Dan mungkin, cerita ini akan terus menginspirasi kita untuk tidak menyerah pada pelestarian alam, satu orangutan pada satu waktu.
Betul, tulisan ini akhirnya dibuat setelah video orangutan berada di areal tambang bulan Februari kembali ramai lagi di awal bulan Juni 2025 ini. Terima kasih atas kepedulian warga net, kini Anshar sudah aman. (AGU)
