BANYAK KORBAN GIGITAN OWI

Owi, orangutan bayi jantan yang mukanya cukup imut. Tapi apakah iya kalian masih menyebutnya lucu… imut… setelah merasakan gigitannya yang sungguh menyakitkan?

Ia cukup populer di kalangan perawat satwa dan relawan karena jejak rekam memakan korban gigitan maut di betis. Ia juga memiliki riwayat sebagai orangutan yang enggan digendong oleh siapa pun. Owi berangkat ke sekolah hutan dengan berjalan sendiri, tanpa digendong.

Semua sudah hapal, jika ia sudah bosan berayun di tali maka akan sepanjang hari selama di sekolah hutan, ia akan mulai menjaili siapapun, termasuk perawat satwa. Ia paling senang menganggu perawat satwa atau relawan perempuan. Ia akan memasang wajah imutnya dan jika kita lengah maka betis kita akan jadi sasaran empuk Owi mendaratkan gigi-giginya. O iya… Owi itu orangutan jantan, masih anak-anak dan nakal-nakalnya.

“Ku bilang apa, Owi ini ,memang suka pura-pura. Tiba-tiba menggigit.”, seru Linau, perawat satwa yang cukup ditakuti orangutan tapi juga pernah merasakan gigitan Owi. Gigitannya sangat kuat, jika tergigit oleh Owi bisa terluka lalu membiru. Kalau sudah keterlaluan begini, Linau cukup mengeluarkan suaranya. “Untungnya Owi takut dengan ku, cukup suara lantang dan menunjukkan tubuhku yang dominan lebih besar dibanding perawat satwa lainnya, maka ia akan segera berbalik arah dan pura-pura naik ke atas pohon.”, tambah Linau. (NAU)

EVAKUASI TERBESAR APE DEFENDER: 35 BUAYA

Sejak tahun 1998 buaya-buaya yang dipelihara M. Irsani berada di belakang rumahnya yang beralamatkan gang Buaya Badas, desa Sambaliung, kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Tak hanya buaya dengan panjang 2 meter saja yang berhasil dipindahkan ke kandang angkut oleh tim APE Defender COP, tetapi buaya dengan panjang 2,5 meter hingga 3,5 meter.

Tiga hari berturut-turut, akhirnya tim yang terdiri dari APE Defender Centre for Orangutan Protection, BKSDA SKW-1 Berau, Kalimantan Timur dan Komunitas Reptil Berau berhasil memindahkan ketigapuluhlima buaya tersebut. Salah seorang anggota tim Pusat Perlindungan Orangutan, terpaksa beristirahat di hari keduanya karena sobek, tergigit.

Di tengah guyuran hujan deras, tim pun terpaksa menghentikan evakuasi terbesar ini. Tenaga pun sudah banyak terkuras. “Iya, kita akhirnya berhasil berhasil memasukkan 35 buaya ke kandang angkut. Selanjutnya BKSDA SKW-1 Kaltim akan membawa buaya-buaya tersebut ke Penangkaran Buaya Teritip Balikpapan dengan menggunakan truk.”, ujar drh. Flora Felisitas, tim medis COP.

KOLA DISAMBUT BAIK DI BERAU

Puluhan anak-anak dan beberapa komunitas mahasiswa pecinta alam di Berau dengan membawa tulisan “Welcom Home Cola” menyambut kedatangan pesawat Sriwijaya pada Sabtu sore, 21 Desember 2019 di bandara Kalimarau, Berau, Kalimantan Timur. Kedatangan pesawat tersebut membawa satu individu orangutan bernama Kola yang merupakan repatriasi dari Kerajaan Thailand kepada Pemerintah Indonesia.

Pemulangan Kola dilakukan oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yaitu BKSDA Kalimantan Timur, bapak Sunandar Trigunajasa bersama kepala BKSDA SKW I, bapak Dheny Mardiono. Penyambutan kedatangan Kola dihadiri bupati kabupaten Berau, bapak Muharram dan wakilnya Agus Tamtomo serta jajaran pemerintahan kabupaten Berau.

“Kabupaten Berau mendapatkan kepercayaan yang luar biasa dengan pengembalian orangutan Kola dan inisiasi dari teman-teman BKSDA Kalimantan Timur.”, ujar Agus Tamtomo ketika setelah melepaskan tim yang membawa orangutan Kola ke pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo.

Pengembalian orangutan Kola dari Thailand oleh KLHK merupakan salah satu langkah yang terus dilakukan selama beberapa tahun terakhir ini untuk satwa langka yang masih berada di luar Indonesia. BKSDA Kalimantan Timur sangat mendukung pusat rehabilitasi yang dikelola oleh Centre for Orangutan Protection di KHDTK Labanan, terutama untuk proses rehabilitasi orangutan. (DAN)