BONTI DAN TEMAN SEKANDANGNYA BOROS HAMMOCK

Kalau ditanya kandang siapa yang paling sering hammocknya rusak, pasti kandang orangutan Bonti dan kawan-kawannya. Hampir setiap bulan perawat satwa memperbaiki hammock mereka. Bagaimana tidak, hammock yang kebanyakan digunakan orangutan sebagai tempat beristirahat dan bersantai, justru dipakai Jojo, Popi, Mary terlebih Bonti untuk bergelantungwan bersama. “Beban hammock yang seharusnya untuk 1-2 orangutan kecil, digunakan beramai-ramai. Duh kelakuan bocah-bocah.”, gumam Widi Nursanti, manager Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo.

Tolong… tak ada lagi bahan untuk buat hammock. “Biasanya kami mendapatkan selang bekas dari Dinas Pemadam Kebakaran Berau. BNPB juga bantu orangutan loh. Jadi selang-selang yang sudah tidak bisa dipakai Damkar Berau, kami gunakan untuk membuat hammock.”, jelas Widi.

Kenapa harus ada hammock? Orangutan liar biasanya menghabiskan aktivitasnya di atas pohon. Dua kali dalam sehari akan membuat sarang untuk beristirahat. Kami di pusat rehabilitasi juga berusaha untuk menyediakan hammock atau tempat tidur gantung yang bisa digunakan orangutan untuk membiasakan diri berada di atas. Bekas selang pemadam kebakaran yang masih cukup kuat namun sudah tidak bisa digunakan Damkar, kami buat menjadi hammock. Yuk, siapa nih yang mau bantu orangutan lagi? Saat ini kami membutuhkan bahan untuk membuat hammock.(WID)

MUSIM BAKAR LAHAN DI LABANAN TIBA

Siaga! Musim akan segera berganti. Dari tahun ke tahun, pusat rehabilitasi orangutan yang berada di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Labanan, Kalimantan Timur akan menghadapi musim ini. Tak ada asap kalau tak ada api. Ditambah dengan musim kemarau membuat lahan dan hutan semakin mudah terbakar, saatnya mengisi tandon-tandon air dan mengecek titik-titik keran air. Tak lupa selang-selang yang ada juga diperiksa.

Untuk meminimalisir merambatnya api ke pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, para perawat satwa usai membersihkan kandang dan memberi makan orangutan langsung bergotong-royong membuat sekat bakar sekitar 1 meter. Kami sangat kesulitan membuat sekat bakar ini karena banyak sekali akar di ujung pohon yang tidak dapat dijangkau dengan parang ataupun gergaji mesin. Yang bisa kami lakukan hanyalah membersihkan di bagian tanah dan memotong-motong pohon-pohon jatuh yang melintang agar nantinya api tidak merambat mendekat ke camp.

Saat kecil menjadi kawan dan ketika besar menjadi lawan. Mencegah adalah jalan terbaik. Doakan kami agar kebakaran hutan dan lahan tak seperti tahun lalu. Dimana kandang-kandang angkut sampai berada pada posisi siap angkut. Dimana orangutan-orangutan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo siap dipindahkan ke tempat yang lebih aman. Bau asap tahun lalu masih belum juga hilang dari ingatan kami dan bantuan dari Orangufriends berupa tandon air, selang maupun mesin air masih dalam kondisi terawat dan siap pakai. Semoga alam bermurah hati pada kami.

MENENGOK CARA AMAN MEMAKAN BATANG PISANG

Orangutan Aman sangat suka bermain. Tiap kali waktu feeding, ia tiada henti bergerak memainkan daun-daunnya lalu menatanya membuat sarang seadanya. “Agar tidak bosan, kucarikan batang pisang yang tumbuh liar di sekitar camp COP Borneo.”, cerita Amir, perawat satwa di Pusat Rehabilitasi Orangutan satu-satunya yang didirikan putra-putri Indonesia.

Siapa sangka dengan jumlah jarinya yang tidak lengkap ia bisa sangat cepat membuka batang pisang untuk dicari umbutnya, bagian tengah batang pisang. Ia cukup lihai mengandalkan mulut dan gigi-giginya. Hanya dengan sedikit bantuan saja, ia akhirnya bisa menemukan umbut di tengah batang piang. “Bagus Aman.”, pujiku.

Dalam benakku, terlindat perasaan iba dengan Aman. Ia juga sering kali terlihat sulit mengambil potongan buah karena jarinya yang tidak bisa mencengkeram makanan. Sehingga sering buah yang diberikan orangutan Aman terjatuh. “Semangat Aman!”, sambil menatapnya lekat-lekat penuh harapan. (AMIR)

SEPTI MASIH SERING KEMBUNG

“Septi… Ti… Sep… Septi…”, dipanggil tidak merespon, diberi buah tidak dimakan begitulah Septi jika perutnya sedang kembung. Dirayu untuk turun dari hammock dengan segelas susu hangat, tetap saja abai. 

Biasanya kalau sudah begini, seharian ia akan berdiam diri di dalam hammocknya. drh. Flora akan langsung memeriksanya dan memberinya obat. Beruntungnya, Septi mau menelan obat.

Sedari dulu, setelah mengetahui Septi sering mengalami gangguan pencernaan seperti sering kembung, para perawat satwa tentu akan memberinya buah-buahan tertentu mulai dari rimbang atau cepokak bahkan menghindari buah-buahan yang bisa membuatnya kembung. Namun, tetap saja kembungnya berulang lagi dan lagi.

Tiap perut Septi kembung, semua perawat satwa bersahutan, Septi kemarin terakhir makan apa ya?”. Mereka merasa tidak memberinya pakan seperti pisang, jagung dan singkong yang bisa memicu perut kembung. Tapi Septi… kebung lagi. Dugaan mereka, Septi mencuri buah dari kandang sebelahnya. Maklum tangan Septi cukup panjang. (WID)

APE DEFENDER BERSIAP SELAMATKAN BAYI ORANGUTAN

Senja ini tim APE Defender mendapat telepon, “Ada orangutan kecil yang dipelihara warga dan kita harus menyelamatkannya.”, ujar kepala BKSDA  SKW I Berau, Kalimantan Timur. Tentu saja tidak mudah menyelamatkan orangutan di tengah pandemi COVID-19 ini. Banyak protokol kesehatan yang harus diperhatikan mulai dari kesehatan pribadi, tim dan orangutan.

Malam ini juga kordinasi berjalan cukup lancar, “Untung saja internet di camp COP Borneo sudah menyala dan berfungsi. Terimakasih The Orangutan Project, tanpa koneksi internet, mungkin informasi baru akan sampai keesokan harinya.”, ujar Widi, manajer Pusat Rehabilitasi COP Borneo.

Malam hari setelah mempersiapkan kandang di klinik berikut hammock untuk orangutan yang akan diselamatkan, dokter hewan Flora mengecek kembali tas rescue orangutan untuk memastikan tidak ada alat medis maupun obat-obatan yang tertinggal. Para perawat satwa pun mengangkat kandang angkut ke mobil APE Defender agar besok pagi bisa langsung berangkat. “Selamat malam… doa kan kami baik-baik saja dan semua berjalan dengan lancar besok.”, ujar drh. Flora Felisitas yang sudah tiga bulan ini berada di camp aja sebagai upaya mencegah penyebaran virus Corona. 

 

BANYAK KORBAN GIGITAN OWI

Owi, orangutan bayi jantan yang mukanya cukup imut. Tapi apakah iya kalian masih menyebutnya lucu… imut… setelah merasakan gigitannya yang sungguh menyakitkan?

Ia cukup populer di kalangan perawat satwa dan relawan karena jejak rekam memakan korban gigitan maut di betis. Ia juga memiliki riwayat sebagai orangutan yang enggan digendong oleh siapa pun. Owi berangkat ke sekolah hutan dengan berjalan sendiri, tanpa digendong.

Semua sudah hapal, jika ia sudah bosan berayun di tali maka akan sepanjang hari selama di sekolah hutan, ia akan mulai menjaili siapapun, termasuk perawat satwa. Ia paling senang menganggu perawat satwa atau relawan perempuan. Ia akan memasang wajah imutnya dan jika kita lengah maka betis kita akan jadi sasaran empuk Owi mendaratkan gigi-giginya. O iya… Owi itu orangutan jantan, masih anak-anak dan nakal-nakalnya.

“Ku bilang apa, Owi ini ,memang suka pura-pura. Tiba-tiba menggigit.”, seru Linau, perawat satwa yang cukup ditakuti orangutan tapi juga pernah merasakan gigitan Owi. Gigitannya sangat kuat, jika tergigit oleh Owi bisa terluka lalu membiru. Kalau sudah keterlaluan begini, Linau cukup mengeluarkan suaranya. “Untungnya Owi takut dengan ku, cukup suara lantang dan menunjukkan tubuhku yang dominan lebih besar dibanding perawat satwa lainnya, maka ia akan segera berbalik arah dan pura-pura naik ke atas pohon.”, tambah Linau. (NAU)

EVAKUASI TERBESAR APE DEFENDER: 35 BUAYA

Sejak tahun 1998 buaya-buaya yang dipelihara M. Irsani berada di belakang rumahnya yang beralamatkan gang Buaya Badas, desa Sambaliung, kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Tak hanya buaya dengan panjang 2 meter saja yang berhasil dipindahkan ke kandang angkut oleh tim APE Defender COP, tetapi buaya dengan panjang 2,5 meter hingga 3,5 meter.

Tiga hari berturut-turut, akhirnya tim yang terdiri dari APE Defender Centre for Orangutan Protection, BKSDA SKW-1 Berau, Kalimantan Timur dan Komunitas Reptil Berau berhasil memindahkan ketigapuluhlima buaya tersebut. Salah seorang anggota tim Pusat Perlindungan Orangutan, terpaksa beristirahat di hari keduanya karena sobek, tergigit.

Di tengah guyuran hujan deras, tim pun terpaksa menghentikan evakuasi terbesar ini. Tenaga pun sudah banyak terkuras. “Iya, kita akhirnya berhasil berhasil memasukkan 35 buaya ke kandang angkut. Selanjutnya BKSDA SKW-1 Kaltim akan membawa buaya-buaya tersebut ke Penangkaran Buaya Teritip Balikpapan dengan menggunakan truk.”, ujar drh. Flora Felisitas, tim medis COP.

KOLA DISAMBUT BAIK DI BERAU

Puluhan anak-anak dan beberapa komunitas mahasiswa pecinta alam di Berau dengan membawa tulisan “Welcom Home Cola” menyambut kedatangan pesawat Sriwijaya pada Sabtu sore, 21 Desember 2019 di bandara Kalimarau, Berau, Kalimantan Timur. Kedatangan pesawat tersebut membawa satu individu orangutan bernama Kola yang merupakan repatriasi dari Kerajaan Thailand kepada Pemerintah Indonesia.

Pemulangan Kola dilakukan oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yaitu BKSDA Kalimantan Timur, bapak Sunandar Trigunajasa bersama kepala BKSDA SKW I, bapak Dheny Mardiono. Penyambutan kedatangan Kola dihadiri bupati kabupaten Berau, bapak Muharram dan wakilnya Agus Tamtomo serta jajaran pemerintahan kabupaten Berau.

“Kabupaten Berau mendapatkan kepercayaan yang luar biasa dengan pengembalian orangutan Kola dan inisiasi dari teman-teman BKSDA Kalimantan Timur.”, ujar Agus Tamtomo ketika setelah melepaskan tim yang membawa orangutan Kola ke pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo.

Pengembalian orangutan Kola dari Thailand oleh KLHK merupakan salah satu langkah yang terus dilakukan selama beberapa tahun terakhir ini untuk satwa langka yang masih berada di luar Indonesia. BKSDA Kalimantan Timur sangat mendukung pusat rehabilitasi yang dikelola oleh Centre for Orangutan Protection di KHDTK Labanan, terutama untuk proses rehabilitasi orangutan. (DAN)