SEMANGAT BAGUS!

Orangutan Bagus memang sangat senang sekali bisa ikut kegiatan sekolah hutan bersama teman-teman yang lainnya. Orangutan Bagus sangat berani mengambil tindakan memanjat pohon. Yang paling tinggi sekitar 25 meter dan berjalan sangat jauh. Saya sebagai animal keeper sangat senang melihat orangutan Bagus bisa memanjat pohon yang tinggi dan menjelajahi dari satu pohon ke pohon-pohon yang lain.

Walaupun akhirnya orangutan bagus tak berani turun ke bawah dan hanya bisa menangis di pertengahan pohon. Namun orangutan Bagus ini tidak menyerah dan dia berusaha mencari akar disekitar pohon untuk bisa turun. Pada akhirnya dia menemukan pohon di sebelahnya yang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu besar, orangutan Bagus terus menjelajahi dari pohon lalu ke ranting dan ke ranting yang lainnya. Bagus terus mencoba untuk turun ke bawah pada akhirnya Bagus bisa sampai di bawah.

Bagus adalah orangutan yang masuk Pusat Rehabilitasi Orangutan yang dikelolah Centre for Orangutan Protection pada bulan September 2020 yang lalu. Rasa sayang pemelihara ilegalnya terdahulu menyebabkan dia tertunda untuk masuk BORA. “Sayang tidak mesti memiliki. Syukurlah, akhirnya mereka menyadari dan menyerahkan Bagus untuk direhabilitasi di BORA. Peran aktif BKSDA SKW 1 Berau sangat besar dalam menyakinkan pemelihara. Rehabilitasi memang cukup terganggu dengan adanya wabah COVID-19. Seharusnya Bagus sejak November sudah bisa menjalani kelas sekolah hutan setiap hari. Namun sekarang harus cukup puas dengan seminggu sekali.”, ujar Amir, perawat satwa. (MIR)

GELANDANGAN ORANGUTAN DI JALAN POROS WAHAU

Masih di waktu yang sama dengan temuan orangutan yang kemarin, di pinggir jalan kami menemukan ada 1 individu orangutan yang sedang bergelantungan di cabang pohon. Orangutan tersebut berukuran lebih kecil, mungkin masih remaja. Tidak lama, orangutan tersebut langsung masuk ke dalam dan menghilang ke balik dedaunan. Kami langsung bergegas naik ke bukit untuk memantau pergerakan orangutan. Ternyata terlihat ada dua pergerakan di dua tempat yang berbeda dan pergerakan tersebut menuju satu pohon dimana ada sarang besar yang masih baru. Ada dua orangutan terlihat naik ke pohon tersebut namun tidak terlalu jelas tertutup daun-daun yang cukup rimbun. Setelah itu, satu orangutan terlihat di dalam sarang, seperti menambah patahan kayu dan daun di dalamnya. Namun tidak lama, orangutan tersebut turun dari pohon, kemungkinan terganggu dengan suara drone.

Lokasi masih berada di poros Bengalon ke arah Wahau. Dari seberang jalan tempat kami berhenti, terdapat jejak orangutan berupa patahan batang kayu serta kulit kayu yang terkelupas. Sedangkan di sekitar titik temuan orangutan yang sedang bergantung, terdapat tumpukan sampah seperti botol-botol, sisa sayuran, plastik dan sebagainya. Di belakang tumpukan sampah terdapat bukit dimana dari bukit tersebut terlihat jelas ada 2 sarang lama dan 1 sarang baru tempat orangutan tersebut bersarang. Dan di belakangnya terlihat jelas aktivitas pertambangan batu bara yang mungkin hanya berjarak sekitar 50-100 m dari sarang.

Jadi dalam 4 bulan terakhir, tim APE Crusader menjumpai adanya 5 individu orangutan dari pinggir jalan poros Wahau-Bengalon, di kawasan pertambangan batu bara KPC. Sejak Agustus 2020, setidaknya ada 5 laporan warga terkait orangutan yang ditemukan di pinggir jalan di area pertambangan yang sama dan 3 diantaranya viral di media sosial. (SAR)

TOLONG, ADA ORANGUTAN DI PINGGIR JALAN

Hari ini, 30 Januari 2021 pada pukul 17.30 WITA, tim APE Crusader dari Centre for Orangutan Protection kembali menemukan adanya orangutan di pinggir jalan saat melintasi jalan poros Bengalon di area pertambangan KPC. Saat itu terlihat orangutan di atas pohon yang berada tepat di pinggir jalan, mengupas kulit kayu untuk dimakan kambiumnya. Orangutan tersebut merupakan orangutan jantan dewasa yang ditandai dengan adanya cheekpad dan bertubuh besar.

Saat didekati untuk mengambil gambar, orangutan tersebut terlihat panik dan terburu-buru untuk turun dan pergi menjauh masuk ke arah dalam. Lokasi temuan kurang lebih hanya berjarak 1 km dari temuan orangutan sebelumnya di bulan September 2020 (orangutan tidur).

Kondisi tutupan lahan merupakan semak belukar dan kurang lebih 500 m ke dalam berhutan masih cukup luas. Namun sekitar 1 km arah barat laut sudah merupakan area bukaan untuk tambang KPC. Secara keseluruhan, sarang-sarang yang ditemukan dari pinggir jalan poros Bengalon hingga Sangatta tidak sebanyak pada survei bulan September lalu. Bahkan hanya ditemukan kurang dari 10 sarang dan semuanya sarang lama.

“Tolong, segera laporkan jika ada yang melihat keberadaan orangutan tersebut. Jangan disakiti. Cukup laporkan. Besok tim APE Crusader akan mencari orangutan tersebut. Keselamatan orangutan tersebut mungkin saja terancam. Begitu pula para pengguna jalan poros Kalimantan Timur ini,” ujar Sari Fitriani, kapten APE Crusader. (SAR)

ORANGUTAN BANGUN SARANG BERSAMA DI SEKOLAH HUTAN BORA

Pada suatu hari, orangutan berjenis kelamin betina berkesempatan berkegiatan di sekolah hutan. Ada Mary, Popi, Bonti dan Jojo. Kali ini, Jojo terlihat membuat sebuah sarang bersama dengan teman-teman sebayanya itu, tentu saja tanpa Bonti. Jojo terlihat sibuk mematah-matahkan ranting-ranting kecil yang berada di sekitarnya.

Setelah itu, Jojo dan teman-temannya terlihat sangat berusaha keras agar bisa membentuk sebuah sarang yang luas karena jika sarang yang ia buat kecil, maka tidak akan cukup untuk teman-temannya yang lain. Oleh karena itu, Jojo dan teman-temannya akan terus memperbaiki sarangnya dan terus menumpuki ranting-ranting agar sarang yang mereka buat bisa terlihat luas dan bisa ditempati untuk bermain.

Meskipun sarang yang dibuat oleh Jojo dan teman-temannya itu tidak terlalu bagus dan terlihat berantakan namun itu sama sekali tidak membuat Jojo dan teman-temannya patah semangat untuk membentuk sarang agar terlihat lebih bagus dan nyaman lagi. (SIM)

JANGAN KASIH MAKAN ORANGUTAN DI PINGGIR JALAN!

Sebagian besar dari kita pasti percha memberi makan satsa, bark itu hewan peliharaan di rumah ataupun satwa di tempat-tempat hiburan. Menyenangkan bukan? Tidan ada salahnya untuk membagi kasih sayang dengan sesama mahluk hidup dengen çemberi sedikit makanan. Namun, jika objek yang diberikan pakan adalah satwa liar di alam liarnya, kegiatan menyenangkan tersebut bisa menjadi awal mula kejadian yang menyedihkan.

Bukanlah hal yang mustahil untuk mendapati orangutan, owa atau satwa liar lainnya saat melewati daerah berhutan. Sebaliknya, hal ini justru banyak didapati dan dimanfaatkan oleh beberapa orang sebagai daya tarik tersendiri. Di tahun 2017, tim COP mendapati satu individu orangutan jantan dewasa di pinggir jalan poros antar-provinsi. Orangutan tersebut berdiam dengan santainya di pinggir jalan dan meminta makan pada mobil-mobil yang melewatinya. Terlihat bekas-bekas buah dan makanan berceceran di sekitarnya yang diperkirakan diberikan oleh para penumpang mobil-mobil antar provinsi. Hampir setiap hari orangutan tersebut dijumpai di sana, meminta makan dengan jinaknya meskipun terlihat ada luka bacokan di kepala. Tidak peduli berpa banyak debu yang ia hirup dan kekerasan yang ia dapati di pinggir jalan tersebut. Ia tetap kembali ke titik dimana orang-orang memberinya pakan. Di tahun 2021, tim COP kembali menemukan adanya orangutan di pinggir jalan, tim menemukan adanya bekas kulit durian di bawah pohon tempat mereka bermain.

Lalu apa yang dilakukan jika melihat orangutan di pinggir jalan? Yang pertama adalah jangan dikasih makan! Dengan memberi pakan, kamu telah membantu orangutan tersebut untuk menjadi gelandangan. Mereka akan kehilangan insting liarnya karena terbiasa dengan makanan yang diperoleh dengan mudah dan malas mencari pakan alaminya di hutan. Dan yang kedua, sadari bahwa munculnya orangutan di jalan atau pemukiman merupakan salah satu indikator adanya masalah di habitatnya dan awal dari kejahatan atau kekejaman terhadap orangutan itu sendiri. Oleh karena itu, daripada memberi pakan dan melihatnya menjadi pertunjukan, dokumentasikan dan laporkan setiap temuan kepada pihak-pihak yang berwajib seperti BKSDA atau lembaga penyelamatan satwa terdekat. COP siap membantu! (SAR)

LAGI, DUA ORANGUTAN DITEMUKAN DI SEKITAR PT. GPM

Beberapa hari yang lalu, Tim APE Crusader menemukan adanya satu induk orangutan beserta anaknya bermain di pepohonan yang berada di daerah Amporo yang merupakan jalan poros untuk transportasi antar provinsi. Hal ini bukanlah yang pertama kali terjadi, mengingat pada tahun 2017 silam, tim pernah melakukan translokasi satu individu orangutan dewasa yang turun ke jalan untuk meminta makan hingga masuk ke warung di area yang sama.

Kemunculan orangutan di habitat manusia bukanlah hal yang lazim terjadi. Hal tersebut menjadi lazim saat habitat alaminya terganggu. Dan benar saja, hanya dengan masuk sejauh alaminya terganggu. Dan benar saja, hanya dengan masuk sejauh 500 meter dari tempat ditemukannya dua individu orangutan, area yang awalnya berhutan berganti menjadi bukaan lahan yang luas yang ditanami pohon-pohon sawit kecil berumur kurang lebih satu tahun. Hal ini cukup menjelaskan mengapa banyak laporan terkait orangutan yang muncul di jalan di sekitar Amporo. Perkebunan kelapa sawit milik PT. GPM telah mengubah hutan hujan tropis yang sebelumnya berisi berbagai pohon-pohon untuk pakan dan tempat bersarang menjadi luasan gersang yang berisi barisan tanaman sawit.

Temuan orangutan di da;am dan sekitar konsesi PT. GPM bukan;ah hal yang baru. Sejak PT. GPM memulai aktivitasnya di tahun 2017, tim COP setidaknya telah mendapati satu individu orangutan beserta anaknya di landclearing, translokasi satu individu orangutan dewasa yang mengemis di pinggir jalan raya dalam area konsesi dan menemukan setidaknya dua orangutan betina beserta anaknya berkeliaran di area yang sama. Hingga 2021, laporan serta temuan yang sama masih didapati oleh tim COP. “Temuan demi temuan tiap tahunnya mengidikasikan bahwa areal konsesi PT. GPM memang merupakan areal yang bernilai konservasi tinggi yang penting bagi orangutan. Jika hal ini tidak dianggap serius, keberadaan orangutan dan habitatnya di Kalimantan Timur yang akan menjadi taruhannya,” ujar Sari Fitriani, manajer Perlindungan Habitat COP. (SAR)

BERKENALAN DENGAN AMAN SI PANTANG MENYERAH

Sekolah Hutan menjadi waktu yang paling ditunggu-tunggu oleh semua siswa sekolah hutan di Pusat Rehabilitasi Orangutan BORA yang berada di Berau, Kalimantan Timur. Terlebih sejak dimulai kembali karena adanya pembatasan kontak fisik dengan semua orangutan oleh animal keeper sebagai bentuk pencegahan penularan COVID-19. Ada cerita unik dari orangutan yang bernama Aman.

Aman merupakan individu orangutan jantan berusia 3-4 tahun. Aman bergabung dengan orangutan lainnya di BORA (Borneo Orangutan rescue Alliance) pada Maret 2020 lalu. Sebelumnya dia dipelihara secara ilegal. Aman memiliki jari-jari tangan yang tidak sempurna dan pendek. Namun, kekurangan yang dimilikinya tersebut ternyata tidak mengurangi semangatnya untuk dapat menjelajah selama sekolah hutan berlangsung. Aman telah mengikuti sekolah hutan sebanyak dua kali bersama orangutan-orangutan jantan lainnya, yaitu Berani, Owi, Annie dan Happi.

Pada kesempatan keduanya ke sekolah hutan, Aman sangat antusias dan langsung mencari pohon-pohon kecil terdekat untuk dipanjat. Tentu saja, dia harus menghindari kejaran Annie. Karena Annie yang sejak awal sangat bersemangat mengajak Aman bermain. Namun Aman lebih suka sendirian. Aman sering terlihat menjelajah area pohon berdaun lebat yang sulit untuk dilihat. Aman memegang setiap ranting dan naik secara perlahan-lahan, tidak seperti orangutan lainnya. Aman belum mahir untuk bergelantungan dari pohon ke pohon, namun dia tidak pernah menyerah dengan kembali turun ke tanah.

Tekad dan kemampuannya untuk tetap berada di atas pohon tidak dapat diremehkan. Menjadi orangutan disabilitas, Aman tercatat dapat berpindah-pindah pada lima pohon yang berbeda tanpa terjatuh sedikit pun. Dia pun enggan untuk kembali pulang saat sekolah hutan berakhir. Aman mungkin bukan yang terkuat dan terlincah, namun Aman tidak akan membutuhkan waktu lama untuk bisa dilepasliarkan jika dia terus konsisten dan tidak menyerah. (GAR)

ORANGUTAN MENGHARAPKAN HAMMOCK BARU

Bayi-bayi orangutan di Bornean Orangutan Rescue Alliance (BORA) terkena dampak Pandemik Covid-19. Mereka terpaksa menjalani hari-harinya hanya dengan berada di dalam kandang. Penerapan protokol kesehatan masih terus dilaksanakan untuk mencegah virus sampai ke orangutan yang berada di pusat rehabilitasi orangutan.

Sekolah hutan diagendakan satu kali dalam seminggu setelah melalui evaluasi panjang. Keputusan ini berlaku mulai pertengahan bulan November 2020. Ini menjadi jalan tengah, pembatasan para perawat satwa untuk tidak terlalu dekat dengan dan berinteraksi dengan orangutan namun juga memberi kesempatan orangutan untuk tidak melupakan aktivitas sekolah hutan dan merasa nyaman di kandang saja. “Kami sangat hati-hati sekali dalam bertindak. Kita berbagi DNA yang nyaris 100% sama dengan orangutan. Bisa saling menularkan dan berakibat vatal.”, ujar Widi Nursanti, manajer BORA yang berada di Berau, Kalimantan Timur.

Orangutan yang merasa bosan di dalam kandang biasanya menjadikan hammock (tempat tidur gantung) sasaran dijadikan mainan atau tempat gelantungan. Walaupun sering diberi berbagai macam varian enrichment oleh perawat satwa, tetap saja masih tidak sebebas di sekolah hutan. “Hammock sesaat saja rusak saat mereka menjadikannya mainan dan tempat bergelantung. Kami sudah kehabisan bahan baku yang biasanya kami dapat dari dinas pemadam kebakaran. Jadinya tambal sulam nih.”, ujar Linau, kordinator perawat satwa BORA.

Saat ini, surat permohonan selang bekas pemadam kebakaran belum ada jawaban. Kami berharap bisa membeli selang pemadam kebakaran. Kami menerima donasi baik berbentuk selang pemadam kebakaran atau bisa melalui kitabisa.com Semoga pandemi cepat berlalu dan sekolah hutan dapat kembali normal. (NAU)

PENTINGNYA VITAMIN C BAGI ORANGUTAN

Siapa sih yang tidak butuh vitamin C? Orangutan juga loh, walaupun hampir 90% makanannya adalah buah-buahan. Namun jumlah vitamin C yang dikonsumsi sangat bervariasi tergantung dari jenis dan jumlah yang dimakannya karena itu untuk memenuhi nutrisi orangutan akan vitamin C, tim medis Bornean Orangutan Rescue Alliance (BORA) memberikan tambahan vitamin C seminggu sekali.

Manfaat vitamin C yaitu untuk meningkatkan daya tahan tubuh sehingga dapat membantu proses pemulihan saat sakit. Vitamin C juga berperan dalam produksi kolagen, antioksidan dan meningkatkan penyerapan zat besi. Vitamin C juga membantu sistem pernafasan, membakar lemak serta berfungsi dalam aktivasi enzim.

Pandemi COVID-19 merubah aktivitas di BORA, orangutan yang biasanya ke sekolah hutan hampir setiap hari kini menghabiskan waktunya di kandang. Agar gerak orangutan kecil tetap terjaga, dengan protokol kesehatan yang ketat, tim membawa orangutan ke playground. “Namun itu juga tidak cukup, itu sebabnya tim medis memperhatikan betul kebutuhan orangutan di BORA. Salah satunya pemberian tambahan vitamin C ini.”. Kita juga jangan lupa konsumsi vitamin C ya, agar tubuh tetap sehat. (WIL)

HERCULES TERBAIK DI SOUR CANDY ENRICHMENT

Orangutan yang terpaksa hidup bersama manusia tentu saja berbeda dengan orangutan di alam liar. Ada ruang yang selalu membatasi gerakannya yaitu kandang. Sebesar apa pun kandang tetap tidak menggantikan kehidupan liarnya. Itu sebabnya Bornean Orangutan Rescue Alliance, sebuah pusat rehabilitasi orangutan di Berau, Kalimantan Timur berusaha untuk menyediakan enrichment. Tujuan utama pemberian enrichment adalah untuk mengurangi aktivitas pasif, perilaku abnormal serta meningkatkan munculnya keberagaman perilaku alami orangutan seperti di alam liar.

Lalu, apakah itu enrichment? Enrichment adalah berbagai bentuk pemberian stimulus secara alami dan buatan pada satwa-satwa di tempat rehabilitasi untuk meningkatkan perawatan satwa secara mental dan fisik menyerupai habitat aslinya. Seperti “Sour Candy Enrichment” yang diberikan ke orangutan Hercules di cuaca yang cerah di siang hari akan sangat mendukung aktivitas lokomosinya.

Enrichment yang berbahan tunas buah nanas atau bonggol daun nanas yang diisi biji bunga matahari di setiap sela-sela daunnya kemudian dililit erat dengan akar pohon yang hasil akhirnya sangat ramah lingkungan. BORA berkomitmen untuk menggunakan jenis-jenis enrichment alami agar semua orangutan dapat familiat dengan benda-benda yang digunakan untuk enrichment ketika mereka menjumpai kembali bahan tersebut di alam liar setelah dilepas-liarkan.

Saat enrichment diberikan kepada semua orangutan, respon dan lamanya orangutan mendapat hadiah biji bunga matahari tersebut bervariasi. Rata-rata, mereka akan langsung mengikuti insting untuk menggigit akarnya menggunakan gigi mereka. Alhasih, waktu yang dibutuhkan untuk membuka lilitan akan semakin lama karena akar yang digunakan tebal dan sangat kuat dililitkan. Namun, ada beberapa individu orangutan yang paham akan pola dan akar masalah untuk membuka enrichment tersebut. Hercules adalah orangutan jantan dewasa yang siap untuk dilepasliarkan. Hercules lah yang berhasil membuka lilitan dengan mencari simpul awal akar. Sebagai hadiah yang dia dapatkan, bonggol daun nanas tidak rusak dan biji bunga matahari tidak ada yang jatuh terbuang. Great job, Hercules! (GAR)