ORANGUTAN BANGUN SARANG BERSAMA DI SEKOLAH HUTAN BORA

Pada suatu hari, orangutan berjenis kelamin betina berkesempatan berkegiatan di sekolah hutan. Ada Mary, Popi, Bonti dan Jojo. Kali ini, Jojo terlihat membuat sebuah sarang bersama dengan teman-teman sebayanya itu, tentu saja tanpa Bonti. Jojo terlihat sibuk mematah-matahkan ranting-ranting kecil yang berada di sekitarnya.

Setelah itu, Jojo dan teman-temannya terlihat sangat berusaha keras agar bisa membentuk sebuah sarang yang luas karena jika sarang yang ia buat kecil, maka tidak akan cukup untuk teman-temannya yang lain. Oleh karena itu, Jojo dan teman-temannya akan terus memperbaiki sarangnya dan terus menumpuki ranting-ranting agar sarang yang mereka buat bisa terlihat luas dan bisa ditempati untuk bermain.

Meskipun sarang yang dibuat oleh Jojo dan teman-temannya itu tidak terlalu bagus dan terlihat berantakan namun itu sama sekali tidak membuat Jojo dan teman-temannya patah semangat untuk membentuk sarang agar terlihat lebih bagus dan nyaman lagi. (SIM)

JANGAN KASIH MAKAN ORANGUTAN DI PINGGIR JALAN!

Sebagian besar dari kita pasti percha memberi makan satsa, bark itu hewan peliharaan di rumah ataupun satwa di tempat-tempat hiburan. Menyenangkan bukan? Tidan ada salahnya untuk membagi kasih sayang dengan sesama mahluk hidup dengen çemberi sedikit makanan. Namun, jika objek yang diberikan pakan adalah satwa liar di alam liarnya, kegiatan menyenangkan tersebut bisa menjadi awal mula kejadian yang menyedihkan.

Bukanlah hal yang mustahil untuk mendapati orangutan, owa atau satwa liar lainnya saat melewati daerah berhutan. Sebaliknya, hal ini justru banyak didapati dan dimanfaatkan oleh beberapa orang sebagai daya tarik tersendiri. Di tahun 2017, tim COP mendapati satu individu orangutan jantan dewasa di pinggir jalan poros antar-provinsi. Orangutan tersebut berdiam dengan santainya di pinggir jalan dan meminta makan pada mobil-mobil yang melewatinya. Terlihat bekas-bekas buah dan makanan berceceran di sekitarnya yang diperkirakan diberikan oleh para penumpang mobil-mobil antar provinsi. Hampir setiap hari orangutan tersebut dijumpai di sana, meminta makan dengan jinaknya meskipun terlihat ada luka bacokan di kepala. Tidak peduli berpa banyak debu yang ia hirup dan kekerasan yang ia dapati di pinggir jalan tersebut. Ia tetap kembali ke titik dimana orang-orang memberinya pakan. Di tahun 2021, tim COP kembali menemukan adanya orangutan di pinggir jalan, tim menemukan adanya bekas kulit durian di bawah pohon tempat mereka bermain.

Lalu apa yang dilakukan jika melihat orangutan di pinggir jalan? Yang pertama adalah jangan dikasih makan! Dengan memberi pakan, kamu telah membantu orangutan tersebut untuk menjadi gelandangan. Mereka akan kehilangan insting liarnya karena terbiasa dengan makanan yang diperoleh dengan mudah dan malas mencari pakan alaminya di hutan. Dan yang kedua, sadari bahwa munculnya orangutan di jalan atau pemukiman merupakan salah satu indikator adanya masalah di habitatnya dan awal dari kejahatan atau kekejaman terhadap orangutan itu sendiri. Oleh karena itu, daripada memberi pakan dan melihatnya menjadi pertunjukan, dokumentasikan dan laporkan setiap temuan kepada pihak-pihak yang berwajib seperti BKSDA atau lembaga penyelamatan satwa terdekat. COP siap membantu! (SAR)

LAGI, DUA ORANGUTAN DITEMUKAN DI SEKITAR PT. GPM

Beberapa hari yang lalu, Tim APE Crusader menemukan adanya satu induk orangutan beserta anaknya bermain di pepohonan yang berada di daerah Amporo yang merupakan jalan poros untuk transportasi antar provinsi. Hal ini bukanlah yang pertama kali terjadi, mengingat pada tahun 2017 silam, tim pernah melakukan translokasi satu individu orangutan dewasa yang turun ke jalan untuk meminta makan hingga masuk ke warung di area yang sama.

Kemunculan orangutan di habitat manusia bukanlah hal yang lazim terjadi. Hal tersebut menjadi lazim saat habitat alaminya terganggu. Dan benar saja, hanya dengan masuk sejauh alaminya terganggu. Dan benar saja, hanya dengan masuk sejauh 500 meter dari tempat ditemukannya dua individu orangutan, area yang awalnya berhutan berganti menjadi bukaan lahan yang luas yang ditanami pohon-pohon sawit kecil berumur kurang lebih satu tahun. Hal ini cukup menjelaskan mengapa banyak laporan terkait orangutan yang muncul di jalan di sekitar Amporo. Perkebunan kelapa sawit milik PT. GPM telah mengubah hutan hujan tropis yang sebelumnya berisi berbagai pohon-pohon untuk pakan dan tempat bersarang menjadi luasan gersang yang berisi barisan tanaman sawit.

Temuan orangutan di da;am dan sekitar konsesi PT. GPM bukan;ah hal yang baru. Sejak PT. GPM memulai aktivitasnya di tahun 2017, tim COP setidaknya telah mendapati satu individu orangutan beserta anaknya di landclearing, translokasi satu individu orangutan dewasa yang mengemis di pinggir jalan raya dalam area konsesi dan menemukan setidaknya dua orangutan betina beserta anaknya berkeliaran di area yang sama. Hingga 2021, laporan serta temuan yang sama masih didapati oleh tim COP. “Temuan demi temuan tiap tahunnya mengidikasikan bahwa areal konsesi PT. GPM memang merupakan areal yang bernilai konservasi tinggi yang penting bagi orangutan. Jika hal ini tidak dianggap serius, keberadaan orangutan dan habitatnya di Kalimantan Timur yang akan menjadi taruhannya,” ujar Sari Fitriani, manajer Perlindungan Habitat COP. (SAR)

BERKENALAN DENGAN AMAN SI PANTANG MENYERAH

Sekolah Hutan menjadi waktu yang paling ditunggu-tunggu oleh semua siswa sekolah hutan di Pusat Rehabilitasi Orangutan BORA yang berada di Berau, Kalimantan Timur. Terlebih sejak dimulai kembali karena adanya pembatasan kontak fisik dengan semua orangutan oleh animal keeper sebagai bentuk pencegahan penularan COVID-19. Ada cerita unik dari orangutan yang bernama Aman.

Aman merupakan individu orangutan jantan berusia 3-4 tahun. Aman bergabung dengan orangutan lainnya di BORA (Borneo Orangutan rescue Alliance) pada Maret 2020 lalu. Sebelumnya dia dipelihara secara ilegal. Aman memiliki jari-jari tangan yang tidak sempurna dan pendek. Namun, kekurangan yang dimilikinya tersebut ternyata tidak mengurangi semangatnya untuk dapat menjelajah selama sekolah hutan berlangsung. Aman telah mengikuti sekolah hutan sebanyak dua kali bersama orangutan-orangutan jantan lainnya, yaitu Berani, Owi, Annie dan Happi.

Pada kesempatan keduanya ke sekolah hutan, Aman sangat antusias dan langsung mencari pohon-pohon kecil terdekat untuk dipanjat. Tentu saja, dia harus menghindari kejaran Annie. Karena Annie yang sejak awal sangat bersemangat mengajak Aman bermain. Namun Aman lebih suka sendirian. Aman sering terlihat menjelajah area pohon berdaun lebat yang sulit untuk dilihat. Aman memegang setiap ranting dan naik secara perlahan-lahan, tidak seperti orangutan lainnya. Aman belum mahir untuk bergelantungan dari pohon ke pohon, namun dia tidak pernah menyerah dengan kembali turun ke tanah.

Tekad dan kemampuannya untuk tetap berada di atas pohon tidak dapat diremehkan. Menjadi orangutan disabilitas, Aman tercatat dapat berpindah-pindah pada lima pohon yang berbeda tanpa terjatuh sedikit pun. Dia pun enggan untuk kembali pulang saat sekolah hutan berakhir. Aman mungkin bukan yang terkuat dan terlincah, namun Aman tidak akan membutuhkan waktu lama untuk bisa dilepasliarkan jika dia terus konsisten dan tidak menyerah. (GAR)

ORANGUTAN MENGHARAPKAN HAMMOCK BARU

Bayi-bayi orangutan di Bornean Orangutan Rescue Alliance (BORA) terkena dampak Pandemik Covid-19. Mereka terpaksa menjalani hari-harinya hanya dengan berada di dalam kandang. Penerapan protokol kesehatan masih terus dilaksanakan untuk mencegah virus sampai ke orangutan yang berada di pusat rehabilitasi orangutan.

Sekolah hutan diagendakan satu kali dalam seminggu setelah melalui evaluasi panjang. Keputusan ini berlaku mulai pertengahan bulan November 2020. Ini menjadi jalan tengah, pembatasan para perawat satwa untuk tidak terlalu dekat dengan dan berinteraksi dengan orangutan namun juga memberi kesempatan orangutan untuk tidak melupakan aktivitas sekolah hutan dan merasa nyaman di kandang saja. “Kami sangat hati-hati sekali dalam bertindak. Kita berbagi DNA yang nyaris 100% sama dengan orangutan. Bisa saling menularkan dan berakibat vatal.”, ujar Widi Nursanti, manajer BORA yang berada di Berau, Kalimantan Timur.

Orangutan yang merasa bosan di dalam kandang biasanya menjadikan hammock (tempat tidur gantung) sasaran dijadikan mainan atau tempat gelantungan. Walaupun sering diberi berbagai macam varian enrichment oleh perawat satwa, tetap saja masih tidak sebebas di sekolah hutan. “Hammock sesaat saja rusak saat mereka menjadikannya mainan dan tempat bergelantung. Kami sudah kehabisan bahan baku yang biasanya kami dapat dari dinas pemadam kebakaran. Jadinya tambal sulam nih.”, ujar Linau, kordinator perawat satwa BORA.

Saat ini, surat permohonan selang bekas pemadam kebakaran belum ada jawaban. Kami berharap bisa membeli selang pemadam kebakaran. Kami menerima donasi baik berbentuk selang pemadam kebakaran atau bisa melalui kitabisa.com Semoga pandemi cepat berlalu dan sekolah hutan dapat kembali normal. (NAU)

PENTINGNYA VITAMIN C BAGI ORANGUTAN

Siapa sih yang tidak butuh vitamin C? Orangutan juga loh, walaupun hampir 90% makanannya adalah buah-buahan. Namun jumlah vitamin C yang dikonsumsi sangat bervariasi tergantung dari jenis dan jumlah yang dimakannya karena itu untuk memenuhi nutrisi orangutan akan vitamin C, tim medis Bornean Orangutan Rescue Alliance (BORA) memberikan tambahan vitamin C seminggu sekali.

Manfaat vitamin C yaitu untuk meningkatkan daya tahan tubuh sehingga dapat membantu proses pemulihan saat sakit. Vitamin C juga berperan dalam produksi kolagen, antioksidan dan meningkatkan penyerapan zat besi. Vitamin C juga membantu sistem pernafasan, membakar lemak serta berfungsi dalam aktivasi enzim.

Pandemi COVID-19 merubah aktivitas di BORA, orangutan yang biasanya ke sekolah hutan hampir setiap hari kini menghabiskan waktunya di kandang. Agar gerak orangutan kecil tetap terjaga, dengan protokol kesehatan yang ketat, tim membawa orangutan ke playground. “Namun itu juga tidak cukup, itu sebabnya tim medis memperhatikan betul kebutuhan orangutan di BORA. Salah satunya pemberian tambahan vitamin C ini.”. Kita juga jangan lupa konsumsi vitamin C ya, agar tubuh tetap sehat. (WIL)

HERCULES TERBAIK DI SOUR CANDY ENRICHMENT

Orangutan yang terpaksa hidup bersama manusia tentu saja berbeda dengan orangutan di alam liar. Ada ruang yang selalu membatasi gerakannya yaitu kandang. Sebesar apa pun kandang tetap tidak menggantikan kehidupan liarnya. Itu sebabnya Bornean Orangutan Rescue Alliance, sebuah pusat rehabilitasi orangutan di Berau, Kalimantan Timur berusaha untuk menyediakan enrichment. Tujuan utama pemberian enrichment adalah untuk mengurangi aktivitas pasif, perilaku abnormal serta meningkatkan munculnya keberagaman perilaku alami orangutan seperti di alam liar.

Lalu, apakah itu enrichment? Enrichment adalah berbagai bentuk pemberian stimulus secara alami dan buatan pada satwa-satwa di tempat rehabilitasi untuk meningkatkan perawatan satwa secara mental dan fisik menyerupai habitat aslinya. Seperti “Sour Candy Enrichment” yang diberikan ke orangutan Hercules di cuaca yang cerah di siang hari akan sangat mendukung aktivitas lokomosinya.

Enrichment yang berbahan tunas buah nanas atau bonggol daun nanas yang diisi biji bunga matahari di setiap sela-sela daunnya kemudian dililit erat dengan akar pohon yang hasil akhirnya sangat ramah lingkungan. BORA berkomitmen untuk menggunakan jenis-jenis enrichment alami agar semua orangutan dapat familiat dengan benda-benda yang digunakan untuk enrichment ketika mereka menjumpai kembali bahan tersebut di alam liar setelah dilepas-liarkan.

Saat enrichment diberikan kepada semua orangutan, respon dan lamanya orangutan mendapat hadiah biji bunga matahari tersebut bervariasi. Rata-rata, mereka akan langsung mengikuti insting untuk menggigit akarnya menggunakan gigi mereka. Alhasih, waktu yang dibutuhkan untuk membuka lilitan akan semakin lama karena akar yang digunakan tebal dan sangat kuat dililitkan. Namun, ada beberapa individu orangutan yang paham akan pola dan akar masalah untuk membuka enrichment tersebut. Hercules adalah orangutan jantan dewasa yang siap untuk dilepasliarkan. Hercules lah yang berhasil membuka lilitan dengan mencari simpul awal akar. Sebagai hadiah yang dia dapatkan, bonggol daun nanas tidak rusak dan biji bunga matahari tidak ada yang jatuh terbuang. Great job, Hercules! (GAR)

PENGAMBILAN SAMPEL DAHAK ORANGUTAN KANDIDAT RILIS

Kicau burung di pagi hari mengawali pagi ini dengan ceria. Tim medis hanya beristirahat lima jam saja. Persiapan untuk pengambilan dahak tiga orangutan tidak semudah yang terlihat. Pakaian hazmat, masker, sarung tangan medis, sepatu sudah dipersiapkan. Giliran peralatan untuk mengambil dahak orangutan, sudah disuci-hamakan. Peralatan pemeriksaan kesehatan seperti stetoskop, termometer, alat pendeteksi detak jantung, tabung sampel darah, kotak pendingin hingga timbangan sudah dalam daftar barang yang siap angkut ke lokasi pengambilan sampel.

“Jika semua peralatan dan perlengkapan sudah siap di tempat. Kecepatan mengerjakan pengambilan sampel harus dilakukan seefisien mungkin. Kita terbatas oleh waktu, tiga sampel dari tiga orangutan yang berbeda. Tim pengemasan sampel juga tidak boleh melakukan kesalahan, atau sampel akan rusak sebelum sampai tujuan. Surat jalan sampel juga harus sudah siap.”, begitu drh. Rian Winardi memeriksa ulang persiapan. Wajah seriusnya membuat tim lebih hati-hati lagi.

Nigel, Hercules, Antak! Selesai sudah diambil sampel dahak dan darahnya. Matahari sudah condong ke barat, hari yang luar biasa. Tim pengambil sampel sudah selesai menyelesaikan tugasnya. Kini berpacu dengan waktu menuju kota untuk melanjutkan perjalanan ke bandara Kalimarau. Sampel harus tiba di laboratorium sebelum 24 jam. Semoga penerbangan ke Jakarta tidak ada tertunda. Doakan kami!

KESEMPATAN KEDUA UNTUK ORANGUTAN MERABU

Penyelamatan orangutan kali ini cukup sulit. Tujuh bulan mengamati, mengikuti dan kehilangan keberadaan orangutan kecil ini. Berbagai cara pun tak luput dilakukan, mulai dari persuasif hingga ke arah jalur hukum. Sekali lagi, orangutan bukanlah satwa peliharaan, memilikinya berarti melanggar hukum. Lalu apakah kemudian pemelihara ilegal orangutan tersebut bisa serta merta menyerahkan orangutannya?

Pukul 07.00 WITA, tim APE Defender sudah melaju ke Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo yang berada di KHDTK Labanan, Berau, Kalimantan Timur. Kandang angkut sudah siap angkat ke mobil. BKSDA SKW I Berau dan Polres Berau sudah siap berangkat. Tepat pukul 08.30 tim gabungan ini pun bergerak. Tengah hari tim tiba di lokasi.

Kurang lebih dua jam, drh. Gilang Maulana menjelaskan zoonosis. Sekali lagi, edukasi menunjukkan hasil. “Tiga jam perjalanan dari pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo ke orangutan ini menjadi tidak sia-sia. Tidak seperti Maret 2020 yang lalu. Tim terpaksa gigit jari.”, ujar Ibnu Ashari lega.

Orangutan yang berasal dari Merabu, Kalimantan Timur ini berjenis kelamin jantan. “Tim medis COP Borneo akan mengamati tingkah laku dan pola hidup orangutan ini selama seminggu ke depan. Selanjutnya tim akan memeriksa kesehatannya secara menyeluruh, termasuk pemeriksaan darah apakah mengidap penyakit menular atau tidak.”, jelas drh. Gilang.

Kita tunggu kabar selanjutnya ya.

AMAN KEMBALI KE PLAYGROUND COP BORNEO

Hari ini, cuaca sedang bersahabat. Saatnya untuk membawa Aman ke playground. Seperti biasanya, Aman susah diajak bekerja sama. Ketika kandangnya dibuka, Aman selalu menghindar dan tak mau mendekat karena mungkin dia berpikir, kalau dia akan diberi obat lagi. Wajar saja karena dia benar-benar tidak menyukai obat.

Sesampai di taman bermain, kami membiarkannya bermain sembari mengawasinya. Ternyata Aman sangat bersemangat karena akhirnya sangat bersemangat. Lebih bersemangat dibandingkan saat pertama kali bermain di playground. “Ini adalah kesempatannya lagi bermain di playground.”, ujar drh. Ray, dokter hewan COP Borneo yang baru.

Aman adalah bayi orangutan yang pandai. Meskipun dengan ujung jari yang tidak sempurna, dia tetap mencoba menggapai tali-tali yang ada di playground dan dengan usaha yang lebih tentunya. Sesekali genggamannya lepas tapi dia selalu punya cara untuk tetap bisa bergelantungan. Baiknya lagi, Aman tidak suka bermain di tanah. Beberapa kali terlihat dia beristirahat di ban yang ada di tengah playground karena butuh tenaga ekstra untuk menggapai tali-tali yang sebenarnya bisa dia gapai dengan ujung jarinya. Tapi ruas jari itu tak ada lagi.

Jika pandemi COVID-19 ini berakhir dan Aman berkesempatan untuk bergabung di sekolah hutan bersama orangutan lainnya, bukan tidak mungkin Aman akan menjadi salah satu siswa yang pandai. Harapan itu akan ada, jika kita berani bermimpi. (RAY)