ANTAK SENANG BERAYUN-AYUN

Orangutan berusia 16 tahun bernama Antak sangat senang berayun-ayun. Ia merupakan orangutan jantan yang sedang menempati kandang karantina di pusat rehabilitasi orangutan Bornean Orangutan Rescue Alliance (BORA), Berau, Kalimantan Timur. Orangutan dengan berat badan kurang lebih 36 kg ini sering terlihat pendiam dan duduk tenang di bawah menunggu pakan saat jadwal pemberian pakan oleh perawat satwa. Namun saat perawat satwa telah meninggalkan area kandang karantina, Antak terlihat lebih aktif bermain sendiri dengan berayun-ayun pada jeruji bagian atas kandangnya.

Antak dapat mengayun-ayunkan dirinya dengan 1 lengan secara bergantian kiri dan kanan ataupun dengan dua lengan sekaligus. Ia dapat berayun-ayun selama lebih dari 5 menit secara terus-menerus sebelum akhirnya istirahat sejenak dan kembali berayun-ayun setelahnya. Ia terlihat lebih sering berayun-ayun dibandingkan dengan 3 individu orangutan penghuni kandang karantina lainnya. Mungkin berayun-ayun adalah hobi Antak.

Saat ini ia merupakan salah satu kandidat calon penghuni pulau pra pelepasliaran yaitu satu tahap terakhir sebelum pelepasliaran orangutan setelah menjalani rehabilitasi. Semoga proses rehabilitasi Antak berjalan dengan lancar, sehingga ia dapat segera berayun-ayun dalam lebatnya kanopi hutan Kalimantan. (RAF)

PELEPASLIARAN ORANGUTAN DI HUTAN LINDUNG SUNGAI LESAN

Berau, Minggu (20 Juni 2021) – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bersama Centre for Orangutan Protection-Bornean Orangutan Rescue Alliance (COP-BORA) dan Kesatuan Pemangkuan Hutan Produksi (KPHP) Berau Barat, Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Timur pada hari Sabtu, 19 Juni 2021, melakukan pelepasliaran 1 (satu) individu orangutan yang telah menjalani rehabilitasi di Pusat Rehabilitasi BORA Labanan yang dikelola oleh BKSDA Kaltim dengan COP. Orangutan tersebut dilepasliarkan di Hutan Lindung Sungai Lesan (HLSL) yang memiliki luasan 11.238 hektar. Kawasan ini telah menjadi pilihan sebagai lokasi pelepasliaran orangutan sejak 2017. Hingga saat ini telah terdapat 7 (tujuh) individu orangutan yang dilepasliarkan di HLSL dan masih terus dilakukan monitoring dan evaluasi terhadap populasi orangutan yang berada di kawasan tersebut. Kegiatan pelepasliaran orangutan ini merupakan upaya untuk memberikan kesempatan kedua setelah rehabilitasi agar orangutan tersebut dapat hidup secara bebas di habitat alaminya.

Sebelumnya, orangutan betina yang diberi nama Gisel (diperkirakan berumur kurang lebih 4-5 tahun), dilaporkan berkeliaran di wilayah pemukiman warga di daerah Sangatta Selatan, Kutai Timur. Awalnya, orangutan Gisel diselamatkan dan ditranslokasi ke kawasan Taman Nasional Kutai (TNK) Resort Sangkima sekitar bulan Januari 2021. Akan tetapi, tidak berselang lama, orangutan tersebut dilaporkan kembali mendatangi petugas TNK di Resort Sangkima. Tim WRU BKSDA Kalimantan Timur bnersama Balai TNK kembali melakukan upaya penyelamatan pada bulan Februari 2021 dan kemudian mengirimkannya untuk menjalani rehabilitasi ke BORA. Tahapan rehabilitasi tersebut dilakukan dengan harapan bahwa orangutan Gisel dapat kembali menjadi liar dan hidup bebas tanpa tergantung pada manusia.

Setelah dilakukan pengamatan intensif oleh tim perawat dan medis satwa, orangutan Gisel masih memiliki kepekaan sebagai satwa liar yang ditunjukkan dengan perilaku dan kemampuannya untuk membuat sarang dengan baik. Kemampuan dasar membuat sarang ini merupakan salah satu indikator yang harus dimiliki oleh orangutan rehabilitasi sebelum menjalani proses pelepasliaran. Dari hasil pengamatan perilaku tersebut dan pemeriksaan kesehatan secara lengkap, orangutan Gisel dinyatakan memenuhi standar untuk dilepasliarkan.

Plt. Kepala BKSDA Kalimantan Timur, Nur Patria Kurniawan, sesaat setelah melepasliarkan orangutan Gisel menyampaikan pernyataan bahwa kegiatan pelepasliaran merupakan tahapan penting dari kegiatan penyelamatan populasi Orangutan Kalimantan sekaligus sebagai indikator utama keberhasilan rehabilitasi orangutan. Hal penting berikutnya setelah orangutan dilepasliarkan adalah monitoring dan evaluasi secara berkala terhadap kemampuan kawasan tersebut untuk menampung orangutan maupun perkembangan populasinya dalam jangka panjang. BKSDA Kalimantan Timur bersama COP terus melakukan monitoring rutin terhadap populasi orangutan di kawasan tersebut dengan harapan bahwa kehidupan orangutan dikawasan ini dapat hidup bebas alami sesuai dengan daya dukung dan daya tampung kawasan,

Manajer Pusat Rehabilitasi BORA, Widi Nursanti mengatakan bahwa BORA terwujud atas kemitraan multipihak BKSDA Kalimantan Timur dengan Centre for Orangutan Protection (COP) dan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa (B2P2EHD). Di BORA saat ini merehabilitasi 24 (dua puluh empat) individu orangutan dengan latar belakang berbeda-beda antara lain orangutan korban perdagangan satwa ilegal hingga kepemilikan ilegal. “Rehabilitasi orangutan sampai pada tahap pelepasliaran merupakan kerjasama kolektif yang panjang serta melalui proses yang kompleks. Namun upaya yang panjang ini tetap harus dilakukan untuk memberikan kesempatan kedua yang lebih baik bagi orangutan”, tambah Widi Nursanti.

Untuk wawancara dan informasi bisa menghubungi:

Dheny Mardiono,
Kepala Seksi Konservasi Wilawah 1 BKSDA Kalimantan Timur
HP: +62 812 3487 467

Widi Nursanti,
Manajer Bornean Orangutan Rescue Alliance (BORA)
HP: +62 813 3501 3032
Email: info@orangutanprotection.com

MELIHAT ORANGUTAN DI HUTAN

Hari itu menjadi hari pertama saya mengikuti program sekolah hutan. Sekolah hutan merupakan program untuk orangutan-orangutan yang berada di pusat rehabilitasi orangutan BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance) untuk melatih orangutan mengeksplorasi dan beradaptasi di hutan. Banyaknya kasus kejahatan terhadap orangutan yang umumnya orangutan berakhir dalam kurungan sebagai peliharaan membuat banyak orangutan kehilangan insting dan perilaku alaminya, sehingga adanya sekolah hutan penting bagi kemampuan bertahan hidup orangutan rehabilitasi ketika dilepasliarkan nanti.

Pada pagi itu, saya bersama Amir dan Linau membawa tiga individu orangutan untuk menjalani sekolah hutan. Ketiga orangutan tersebut yaitu Popi, Jojo dan Mary. Setelah mengeluarkan mereka bertiga dari kandang, kami membawa mereka masuk hutan lebih dalam, ke tempat biasanya sekolah hutan dilaksanakan. Selama lebih dari dua jam, ketiga orangutan tersebut dibiarkan untuk mengeksplorasi dan beradaptasi dengan kondisi alam liar. Di sana mereka berlatih dan bermain, memanjat pohon hingga mencari pakan-pakan alami yang tersedia di hutan.

Kepuasan batin yang mendalam saya rasakan ketika pertama kali melihat orangutan di habitatnya secara langsung dalam kemegahan hutan Kalimantan. Bukan dalam kurungan kandang kebun binatang ataupun eksploitasi satwa berkedok edukasi dan hiburan. Karena orangutan seharusnya hidup bebas di hutan. (RAF)

AKHIRNYA KOLA BISA TURUN SENDIRI

Kola, orangutan berusia 11 tahun akhirnya bisa menuruni pohon dengan kemampuannya sendiri pada kegiatan sekolah hutan, Jumat, 14 Mei 2021 di BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance). Pada sekolah hutan sebelumnya, Kola tidak mampu turun sendiri dari ketinggian pohon yang ia panjat. Sehingga dengan terpaksa harus ditembak bius oleh perawat satwa dan dokter hewan BORA untuk bisa menurunkannya.

Pada hari itu (14/5), Kola mengikuti program sekolah hutan bersama dengan tiga orangutan lainnya, Aman, Bagus dan Septi. Sejak awal tiba di lokasi sekolah hutan, Kola langsung menaikipohon hingga ketinggian 25 meter dan tidak berpindah posisi hingga tiba waktu sekolah hutan usai. Berbeda dengan tiga orangutan lainnya yang aktif berpindah-pindah posisi dan mudah ketika diajak turun dari pohon.

Beberapa jam berlalu, Kola masih saja betah berdiam di posisi ketinggian yang sama sejak pagi hari. “Kola, turun Kola”, ujar para perawat satwa BORA memanggil Kola untuk turun karena waktu sekolah hutan telah selesai. Namun Kola tetap bertahan di posisinya. Aman, Bagus dan Septi pulang terlebih dahulu ke kandangnya. Satu jam berlalu semenjak ketiga orangutan lainnya telah pulang ke kandang terlebih dahulu. Saat keadaan sudah sepi, barulah kola bisa turun sendiri dari pohon tanpa perlu ditembak bius lagi. (RAF

KOLA KE SEKOLAH HUTAN LAGI!

Apakah kamu mengenalinya? Dia adalah Kola, orangutan repatriasi Thailand pada akhir tahun 2019 yang lalu. BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance) adalah tempat rehabilitasi orangutan yang berada di Berau, Kalimantan Timur memiliki kurikulum sekolah hutan terunik yang ada. Setiap orangutan dipantau perkembangannya dan diberi tantangan lebih lagi jika berhasil melaluinya. Jika gagal, orangutan akan tetap diberi kesempatan untuk mencoba lagi.

Seperti Kola, yang awal tahun 2021 yang lalu sempat membuat para perawat satwa menginap di hutan karena dia tak kunjung turun dari pohon yang dipanjatnya. Kola terpaksa dibius keesokan harinya untuk bisa membawanya turun dari pohon. Saat itu, Kola tidak berani turun bahkan untuk mengambil makanannya.

Kola mendapatkan kembali kesempatannya berkembang, kali ini para perawat satwa dengan perseiapan terburuk harus menginap lagi di hutan dan bersiap memanjat pohon untuk menjemputnya. Persiapan dan skenario matang akhirnya hanya sekedar rencana. Saatnya kembali ke kandang usai waktu sekolah hutan, Kola pun turun.

“Lega!!! Walau tak semudah itu”, ujar Linau, kordinator perawat satwa di BORA.

MISI PERTAMA DOKTER HEWAN YUDI DI KALTIM

Malam, 24 April saat sedang mempersiapkan nutrisi tambahan untuk orangutan-orangutan di pusat rehabilitasi BORA, telepon camp berbunyi. Daniek Hendarto, direktur Centre for Orangutan Protection menanyakan kesiapan tim APE Defender untuk memindahkan orangutan dari Samarinda ke BORA yang berada di Berau, utaranya Kalimantan Timur. Setelah berdiskusi drh. Ray akhirnya menyuruh drh. Yudi untuk menjalankan tugas ini.

“Rasanya gak karuan, takut, cemas dan bersemangat, campur aduk. Ini adalah perjalanan pertama saya menyelamatkan orangutan”, gumam Yudi Ardianto, dokter hewan lulusan Universitas Brawijaya ini sembari mengecek kembali microchip, alkohol, meteran, obat bius dan peralatan medis lainnya. Tepat pukul 00.30 WITA tim APE Defender berangkat. Sekilas terlihat senyum drh. Ray melihat kepanikan drh. Yudi yang baru bergabung di COP pada akhir bulan Maret yang lalu. Jalan darat ini pun dimulai, mulai jalan aspal mulus seperti kemeja yang baru disetrika hingga jalan berlubang yang sering membuat kami melompat dan terbentur atap mobil.

Menjelang siang, drh. Yudi telah siap untuk memeriksa kesehatan orangutan malang ini. “Orangutan ini sangat agresif, untuk ukuran orangutan kecil, tenaganya lumayan kuat. Pemeriksaan gigi untuk mengetahui perkiraan usia orangutan, dilanjut pemeriksaan apakah ada luka atau tidak dan tiba-tiba saja jari saya sudah berada disela-sela giginya. Ahrgg… rasanya lumayan!”, cerita Yudi lagi.

Tepat pukul 07.00 WITA keesokan harinya, tim APE Defender telah tiba di BORA. “Orangutan betina berusia 1-3 tahun ini akan menjalani masa karantina terlebih dahulu. Saya sendiri masih harus menjalani tes COVID-19 usai perjalanan jauh dan isolasi mandiri”, ujar Yudi. BORA menerapkan prosedur kesehatan yang cukup ketat untuk mencegah penyebaran virus Corona. Mencegah lebih baik daripada Mengobati. (YUD)

NASIB ORANGUTAN DI BENGALON (2)

Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) merupakan primata terbesar di Indonesia yang hidup di hutan Kalimantan. Menurut IUCN Red-list 2016, primata ini masuk ke dalam kategori Critically Endangered (CR) atau kritis. Penemuan orangutan yang masih tertidur lelap di sekitar pertambangan pada pagi hari merupakan penyimpangan prilaku alami orangutan. Orangutan liar pada umumnya akan beraktivitas seiring dengan terbitnya matahari. Perpindahan harian dapat dilihat dari sarang yang dibuatnya pada siang dan sore hari. Penggunaan sarang yang sama, jarang terjadi.

Tak jauh dari jembatan hauling milik pertambangan batubara terbesar di Kalimantan Timur, satu individu Beruang Madu (Helarctos malayanus) dewasa melintas di depan mobil, menyeberangi jalan. Pergerakan beruang tersebut sangat gesit dan terlihat masih sangat liar. Hal ini mengindikasikan bahwa Beruang Madu di kawasan Bengalon masih belum terhabituasi.

Tim APE Crusader kembali menemukan satu individu orangutan dewasa betina yang sedang mencari makan di tengah hamparan semak belukar sambil menggendong anaknya yang masih bayi. Orangutan tersebut terlihat sedang memakan tumbuhan liana berjenis Capologonium mucunoides. Selain memakan liana, ditemukan juga bekas makanan orangutan berupa kulit kayu di sepanjang jalan Poros Bengalon yang masuk kategori famili fabaceae.

Orangutan merupakan satwa frungivora yaitu pemakan buah, namun jika ketersediaan buah menurun atau tidak sedang musim buah, orangutan dapat memakan daun, kulit batang, liana, bunga dan serangga. Menurut penelitian referensi pakan orangutan yang disukai adalah buah dan daun. Berdasarkan temuan orangutan memakan liana dan kulit batang diperkirakan karena ketersediaan pohon pakan bagi orangutan sudah menurun karena pembukaan lahan dan konversi lahan. (FEB)

NASIB ORANGUTAN DI BENGALON (1)

Perburuan liar dan perambahan hutan merupakan salah satu alasan penyebab menurunnya populasi orangutan secara drastis. Ditambah lagi konversi lahan hutan menjadi lahan perkebunan, pertambangan dan industri lain sangat berpengaruh bagi kelangsungan hidup dan populasi orangutan. Pembukaan lahan hutan secara ilegal dan dengan cara semena-mena sudah pasti mempengaruhi kelestarian populasi orangutan dan habitatnya. Pembukaan lahan tersebut juga menyebabkan fragmentasi habitat dan menyebabkan terpecahnya kelompok orangutan.

Akhir minggu pertama April 2021, tim APE Crusader dari Centre for Orangutan Protection melakukan survei keberadaan orangutan di kecamatan Bengalon, kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Penelusuran di sepanjang jalan Poros Bengalon merupakan respon COP mengenai informasi yang beredar di media sosial dan laporan dari masyarakat yang melihat keberadaan orangutan di Bengalon serta menindaklanjuti survei sebelumnya.

Pada hari pertama, tim menemukan satu individu orangutan jantan dewasa yang tertidur pulas di sarangnya. Orangutan tersebut membangun sarang di atas pohon Puspa (Schima wallichii) setinggi kurang lebih 7 meter dari tanah. Sarang tersebut masuk kategori tipe kelas A dengan ciri semua daun masih muda dan segar, serta terlihat baru. Posisi sarang termasuk posisi 1, yaitu sarang berada di pangkal percabangan pohon utama dan menempel pada batang pohon utama.

Orangutan tersebut membangun sarang tidak jauh dari ruas jalan, sekitar 30 meter saja. Hal ini dikarenakan luasan hutan yang merupakan habitatnya sudah berkurang drastis dan beralih fungsi menjadi kawasan pertambangan batubara. Orangutan tersebut tertidur begitu lelap hingga tidak peduli dengan keberadaan drone yang sedang mendokumentasikannya dan baru bangun pukul 07.23 WITA.

“Perubahan prilaku alami orangutan liar sangat mengkawatirkan. Aktivitas pertambangan yang hampir 24 jam disinyalir merusak jam biologis orangutan tersebut. Tidak ada pilihan lain untuk orangutan jantan tersebut, beradaptasi dalam kebingungan”, ujar Sari Fitriani, manajer perlindungan habitat COP. (FEB)

ORANGUTAN DIHIMPIT PERTAMBANGAN TERBESAR DI KALTIM

Besok kita harus sudah di lokasi sebelum matahari terbit, begitulah malam ini di akhiri. Satwa liar adalah makhluk hidup yang memiliki kebiasaan. Orangutan liar memiliki kebiasaan bangun pagi, makan dan bergerak hingga menjelang siang. Selanjutnya… biasanya dia akan membangun sarang untuk beristirahat bahkan tidur siang. Saat matahari sudah tidak begitu terik, dia biasanya mulai menjelajah lagi sambil makan dan dapat diperkirakan menjelang sore dia akan mencari tempat untuk membangun sarang yang lebih kokoh untuk tidur malamnya.

“Itu, ada sarang orangutan. Daun-daunnya bahkan belum mengering. Dan ada orangutan yang masih tidur!”, bisik Sari Fitriani, manajer perlindungan habitat COP. Matahari sudah muncul dari tadi namun orangutan dewasa itu masih saja tertidur. Benar, dia masih tidur, bukan sekedar berhenti karena sudah selesai makan pagi.

Pohon dimana sarang orangutan adalah pohon tertinggi yang ada di hutan tersebut. Tentu saja, orangutan bisa mengamati hamparan lahan terbuka yang dulunya hutan, tempat tinggal dan tempatnya mencari makan. Hamparan itu terlihat terang benderang walaupun matahari telah berganti bulan. Sesekali terdengar keributan kendaraan alat berat saat angin mengarah ke sarangnya. Sementara di sisi lainnya, suara kendaraan lalu lalang dari jalan provinsi.

Di sekitar pohon yang menjadi sarangnya, hanya ada merkubung, mahang, puspa dan sejenis tanaman polong-polongan di antara semak belukar. Beberapa batang pohon terlihat dengan kulit yang mengelupas, orangutan berusaha memakan kambiumnya. Ini adalah habitatnya untuk bertahan hidup. “Orangutan survival. Mereka terpaksa memakan apa yang ada untuk bertahan hidup. Gila!”, begitulah Sari Fitriani, manajer perlindungan habitat orangutan menyimpulkan.

Di kawasan ini, ada sekitar 8 (delapan) orangutan yang bertahan hidup. Orangutan terpaksa berdamai. Inikah yang dimaksud para peneliti, orangutan bisa hidup di multi lansekap? Layakkah orangutan, si reboisasi terbaik diperlakukan seperti gelandangan? Pertambangan menghancurkan rumah orangutan.

KEDUA ORANGUTAN DARI WRC JOGJA TELAH TIBA DI BORA

Begitu banyak orang yang menunggu berita ini. Kapan Ucokwati dan Mungil mendapatkan kesempatan keduanya kembali ke habitatnya. Induk dan anak yang telah bertahan hidup di seberang pulau yaitu pulau Jawa, sebuah pulau dengan kepadatan penduduk yang cukup tinggi. Tentu saja itu akan menjadi hari yang mengharukan. Ternyata tidak semudah itu, keduanya tetap harus menjalani proses panjang yang mendebarkan.

Januari 2021, pemeriksaan medis di tengah pandemi COVID-19 menguras energi tersendiri. Tim medis dan lainnya harus mematuhi protokol kesehatan yang ketat. Pemakaian baju hazmat menjadi tantangan tertentu, tetap harus lincah dan berpikir cepat. Pengiriman sampel juga tidak semudah sebelumnya, sampel harus aman. Syukurlah hasil medis yang tidak sekaligus keluar itu membawa kabar gembira. Pemindahan Ucokwati dan Mungil tinggal menunggu waktu.

8 April 2021, kedua orangutan dalam pengaruh bius dimasukkan ke kandang angkut. Sifat agresif keduanya sempat membuat ciut tim. Tengah hari tim melaju kendaraan ke kargo Garuda Indonesia di bandara Yogyakarta Internasional Airport. Perencanaan dua minggu sebelumnya benar-benar diuji. BKSDA Yogyakarta tak putus-putus berkordinasi dengan BKSDA Kaltim. COP sendiri sangat terbantu dengan Garuda Indonesia dan kargo Garuda Indonesia. “Sayang penerbangan ke Balikpapan-Berau tak bisa dilalui jalur udara karena ukuran kandang tak bisa masuk kargo. Tim menempuh jalur darat yang menguras tenaga”, ujar Ramadhani, kordinator pemindahan orangutan dari Yogya ke Berau.

10 April, setelah melalui transit di Jakarta selama delapan jam dan melalui perjalanan darat 24 jam, Ucokwati dan Mungil tiba di Bornean Orangutan Rescue Alliance, Berau-Kalimantan Timur. Keduanya tampak tenang. “Ucokwati dan Mungil kini berada di kandang karantina, kami berharap dalam dua minggu ini dapat mengumpulkan data prilakunya selama di kandang karantina. Semoga keduanya dapat melalui masa karantina dengan baik”, jelas Widi Nursanti, manajer BORA.