AMBON THE ORANGUTAN HAS AN EYE INFECTION

A few days ago at BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance), Ambon was frequently seen rubbing his left eye. Eye discharge was visible on the edge of his eyelid, which may have caused him discomfort. Two days later, his eye turned red, and his eyelid became swollen. Based on these symptoms, Ambon was suspected of having conjunctivitis.

The BORA Medical Team tried to treat Ambon, but he avoided the eye ointment tube as soon as he saw it. The team then switched to a syringe to spray the medication into his eye, but this attempt also failed. The moment the syringe came out of the medical staff’s pocket, Ambon immediately stepped back. Trainers were called for assistance, but this, too, did not succeed.

Help was then requested from Lio, an animal keeper whom Ambon likes. Without any bait, Lio managed to get Ambon down from his “hammock and perch”. Although difficult, Lio was able to spray the medication into Ambon’s eye. The treatment is attempted three times a day, though not always successful. “Older individuals are difficult to treat; they don’t trust anything unfamiliar,” Lio remarked. Rightfully so Ambon’s age exceeds that of most of the staff here. Fortunately, Ambon was willing to take oral medication, which has gradually reduced the inflammation. The medical teams, trainers, and keepers are continuing their efforts to treat Ambon. Let’s wish the best for Ambon and the other orangutans at BORA to remain healthy and happy, even if they must spend Christmas 2024 in enclosures. (LIS)

ORANGUTAN AMBON SAKIT MATA

Beberapa hari lalu di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance), Ambon terlihat sering mengucek mata kirinya. Terlihat ada kotoran mata yang menempel di ujung kelopak matanya. Hal ini mungkin membuatnya merasa tidak nyaman. Dua hari berselang, matanya kemerahan dan kelopak matanya bengkak. Dari gejalanya, Ambon diduga mengalami konjunctivititis.

Tim Medis BORA mencoba mengobati Ambon, namun Ambon segera menghindar ketika melihat tube salep mata. Proses pengobatan diganti dengan spuit dimana obatnya dimasukkan lalu akan dicoba spray ke matanya. Namun percobaan ini juga gagal. Baru saja spuit dikeluarkan dari kantong baju medis, Ambon segera mundur. Medis pun meminta bantuan trainer, namun hal ini juga tidak berhasil.

Bantuan pun diminta ke animal keeper Lio, salah satu keeper yang disukai Ambon. Yang tanpa membawa pancingan apapun dapat membuat Ambon turun dari singgasananya “hammock dan tenggeran”. Walaupun sulit, Lio sempat berhasil menyemprotkan obat ke matanya. Dalam sehari diusahakan 3x pengobatan namun tidak selalu berhasil. Kata Lio, “Orangtua memang sulit diobati, tak mudah percaya dengan sesuatu yang asing”. Ya, bagaimana tidak disebut orangtua, umurnya saja melebihi kami staf yang ada di sini.

Untunglah ada obat oral yang mau dimakannya, sehingga walaupun perlahan, radangnya mulai membaik. Hingga saat ini medis dibantu trainer dan keeper masih mengupayakan pengobatan Ambon. Doakan yang terbaik untuk Ambon dan orangutan yang lainnya di BORA, tetap sehat dan bahagia walau di kandang untuk Natal 2024 ini. (LIS)

PERTEMUAN DENGAN SI PEJANTAN KECIL

Berulang kali tim APE Guardian melakukan patroli di sekitaran lokasi translokasi Kola sampai dengan sungai payau dengan harapan dapat menjumpai salah satu orangutan yang telah dilepasliarkan, namun tim belum menemukan tanda jejak orangutan sedikit pun. Akhirnya laporan ranger yang sekelebatan menjumpai orangutan di sekitar muara sungai Wei membuat tim bersemangat lagi. 7 sarang, bekas makan/barking berupa sepahan kulit kayu, dan bekas urinasi menjadi bukti kehadiran orangutan.

Ketujuh sarang yang ditemukan berlokasi saling berdekatan, bahkan dalam satu pohon terdapat dua sarang. Sarang yang ditemukan kebanyakan bertipe 2 namun juga ditemukan sarang tipe 1 yang terlihat masih baru dibuat. Bekar urinasi juga ditemukan masih keadaan basah dan berbau sangat pekat. Tim pun melanjutkan patroli menyusuri sungai, sekitar 800 meter jejak orangutan pun ditemukan di pinggiran sungai. Tak hanya itu, beberapa jejak rusa dan tulang yang belum teridentifikasi pun itu menjadi temuan Sabtu sore itu.

Keesokan sorenya, si pejantan muda menunjukkan dirinya di pohon Baran yang terletak di seberang pos monitoring. Orangutan tersebut memiliki perawakan yang kecil, seperti baru disapih dari induknya. Tim menduga orangutan tersebut adalah Sigit, anak dari Marni, orangutan yang ditranslokasi pada tahun 2022. Pejantan kecil ini juga berkali-kali melakukan vokalisasi yang ditujukan untuk mengusir tim yang mengamati dari bawah sambil mengayun-ayunkan ranting. Matahari semakin jatuh di ufuk barat, orangutan muda ini pun membuat sarang dan tertidur. (ARA)

ORANGUTAN PALUY MENUJU BODY GOALS

Sedih, saat pertama kali melihat kondisi Orangutan Paluy yang baru tiba ditempatkan di kandang karantina BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance). Paluy, orangutan yang diselamatkan di daerah Kaubun pada 22 Juli 2024 yang lalu. Orangutan jantan yang tampak gagah itu mengalami malnutrisi dan kebutaan pada salah satu matanya. Yang terlintas di dalam pikiran ketika itu, tidak terbayang betapa besarnya ia nanti jika badannya kembali “berisi”. Untuk orangutan jantan dewasa, berat badan Paluy hanya di angka 45 kg. Selain tubuhnya yang kurus dan tipis rambutnya, Paluy juga sering terlihat memegang kepalanya yang dapat menandakan kesakitan yang dirasakannya. Apakah dari matanya? Karena dari hasil pemeriksaan diduga matanya mengalami phthisis bulbi. Yaitu kondisi dimana bola mata mengecil, tidak bisa melihat dan bola mata tidak berfungsi lagi.

Empat bulan sudah Paluy berada di Klinik dan Karantina BORA. Masa karantinanya telah usai, hasil medical check up nya baik, tidak menunjukkan adanya infeksi apapun. Perilakunya masih sangat waspada pada manusia, hanya pada animal keeper tertentu saja dia tidak agresif. Kebiasanya yang selalu berada di atas kandang, juga menjadi catatan penting tim BORA.

Kini Paluy semakin membaik. Gerakan tubuhnya menjadi makin lincah. Tak ada pakan yang tak dimakannya, semua dilahap habis. Badannya sudah tampak “berisi”. BCS (Body Condition Score) perlahan sudah masuk kategori ideal. Rambutnya yang dulu habis, kini mulai tumbuh kembali. Doakan Palut agar cepat pulih. Harapannya, semoga Paluy dan orangutan lainnya yang sedang menjalani perawatan bisa segera kembali ke rumah mereka. (LIS)

APE CRUSADER SCHOOL VISIT DI SDN 09 MUARA WAHAU

“Kalau berjumpa dengan orangutan, adik-adik harus bagaimana?”, begitu drh. Theresia Tineti menanyakan kembali apa yang harus dilakukan saat anak-anak sekolah atau pun mengetahui keberadaan orangutan di sekitar mereka. “Lapor Bu dokter, ada orangutan besar di bla-bla-bla”.

Masih ingat orangutan Vivy yang diselamatkan di sekitar pemukiman dan ladang dimana lokasi tersebut di kelilingi perkebunan kelapa sawit. Saat itu tim menemukan beberapa sarang yang dibuatnya, dan ketika tim APE Crusader menaikkan drone di lokasi tersebut, kemungkinan orangutan ini berasal dari jembatan 1 Wahau yang mana masih dijumpai sedikit hutan sekunder dan kebun buah warga. Informasi dari warga juga, orangutan tersebut sempat ditembak dengan senapan angin karena merusak tanaman warga.

“Jangan disakiti ya…”, peringatan dari dokter hewan Tere lagi. “Yuk yang sayang orangutan jadi Dokter Hewan atau bisa jadi Biologist, jadi Forester, Animal Keeper atau Ranger”, ajak Tere lagi sambil memperkenalkan profesi yang relevan dengan kegiatan konservasi. 52 siswa SDN 09 Muara Wahau pun mengikuti kegiatan School Visit dari Centre for Orangutan Protection dengan antusias, kondusif, dan interaktif. Kelak, anak-anak inilah yang akan melanjutkan kerja konservasi hari ini. (YUS)

TRANSLOKASI ORANGUTAN URAI DENGAN BEKAS LUKA DI BIBIR

Laporan orangutan menganggu perkebunan kelapa sawit di daerah Wehea masuk, sembari tim menghela nafas prihatin. “Orangutan hanya mencari makan di rumahnya. Ya, rumahnya yang tanpa batas. Dia tak mengerti batas, yang ada dia mengikuti insting alamiah nya mencari makan”. Tak hanya satu, tim APE Crusader COP pun menerima 3 laporan lainnya di kawasan tersebut.

Satu orangutan terlihat di hutan samping kebun. Tim APE Crusader bersama BKSDA SKW II Kaltim kemudian memantau dan mencoba memotong jalur orangutan tersebut. Pepohonan yang tersisa tidak akan cukup menjadi rumah untuk orangutan betina beranjak dewasa ini. “Terpaksa translokasi”.

Beruntung sekali kondisinya tidak buruk dengan nilai BCS (Body Scoring Condition) 5/10 normal, semua pengukuran tubuh (napas, jantung) normal, organ dalam normal, dan selama proses akan dibius pergerakannya aktif. Tim pun menamainya Urai, orangutan betina dengan berat badan 40 kg ini pun ditraslokasi ke hutan yang lebih luas.

Ada yang mengusik pikiran saat melihat wajah orangutan Urai. Bekas luka di bibirnya tertutup sempurna secara alami. Luka yang menyiratkan betapa sulitnya hidup di alam. Mungkin saja karena perkelahian antar orangutan, perebutan makanan misalnya, atau mungkin juga karena kecerobohannya sendiri. “Haruskah kita tambah kesulitannya dengan menghabisi hutan sebagai rumahnya?”. (AGU)

ORANGUTAN MERIAHKAN HARI KONSERVASI ALAM NASIONAL 2024 DI BOYOLALI

“Jangan lupa 10 menit lagi kita ramaikan booth ‘A’ karena ada kuis!”…
“Booth kami tutup dulu sementara karena ikut lomba di booth ‘B’ yaa teman-teman!”…
“Eh booth COP ada photo booth tuh, yuk kita foto bersama!”…
Suasana di acara Hari Konservasi Alam Nasional 2024 memang meriah dengan seruan-seruan semangat seperti ini. Setiap booth berlomba-lomba menjadi yang paling menarik, menampilkan program-program unik mereka. Namun, dibalik persaingan itu, semangat gotong-royong dan kerja sama tetap kental terasa di antara para penggiat konservasi. Tidak jarang, kami bertukar atribut dengan booth lain untuk saling mendukung dan meramaikan suasana. Bahkan, boneka orangutan milik COP tak henti-hentinya berkeliling alun-alun, mampir ke berbagai booth tetangga. Bantuan dari teman-teman booth lain dalam mempromosikan booth COP dan BKSDA Kalimantan Timur menjadi kenangan manis yang bikin rindu!

Acara pameran konservasi yang berlangsung dari tanggal 27-29 Agustus 2024 menjadi ajang luar biasa bagi COP untuk berkumpul dengan berbagai instansi dan lembaga konservasi dari Sabang hingga Merauke. Sebagai mitra dari BKSDA Kalimantan Timur, COP memanfaatkan momen ini untuk memperkenalkan program rehabilitasi orangutan Kalimantan yang berfokus pada penyelamatan, rehabilitasi, dan pelepasliaran orangutan ke habitat aslinya. Selama tiga hari pameran, COP bersama teman-teman Orangufriends berbagi informasi dan pengalaman tentang upaya konservasi yang dilakukan. Tidak hanya diskusi, kami juga mengadakan kuis seputar orangutan dan satwa liar, yang tentu saja memancing antusiasme pengunjung dengan hadiah-hadiah seru yang sudah disiapkan!

HKAN 2024 juga menawarkan berbagai kegiatan menarik seperti pameran konservasi alam, talkshow bioprospeksi, bedah buku, hingga jambore konservasi alam. Acara ini dibuka oleh Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko, S.Hut, M.Agr.Sc., selaku Dirjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, dan ditutup dengan meriah oleh Dr. Ir. Siti Nurbaya Bakar, M.Sc., Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Suasana acara sangat dinamis, dipenuhi energi positif dan semangat konservasi dari para peserta. Selain menjadi ajang reuni bagi para penggiat konservasi, acara ini juga menjadi sumber pengetahuan baru dan inspirasi untuk berbagai aksi pelestarian alam di seluruh Indonesia. Dengan semangat persahabatan, para peserta bertukar cerita, ide, dan inspirasi, menjadikan HKAN 2024 sebagai momentum penting untuk merayakan kecintaan kita terhadap alam Indonesia yang luar biasa! (DIM)

TRANSLOKASI TARA, SI ORANGUTAN LIAR

Tara sudah siap melihat peluang itu. Ketika suara senyap dan suara gesekan pintu yang menghalanginya bergerak, tanpa pikir panjang dia pun melangkah keluar dan menuju pohon apapun itu yang dapat diraihnya, memanjat dan memanjat terus, menjauh dari orang-orang. Tara, orangutan yang baru saja diselamatkan tim APE Crusader bersama BKSDA SKW II Kaltim akhirnya menemukan kebebasannya kembali.

Centre for Orangutan Protection (COP) memiliki beberapa tim di lapangan, seperti APE Crusader yang dengan sigap menuju lokasi orangutan yang memiliki interaksi negatif dengan masyarakat. Bahkan untuk menyelamatkan orangutan dengan cepat, dokter hewan tim APE Defender sengaja ditempelkan tim ini agar penanganan langsung pada orangutan dapat segera dilakukan. Selanjutnya tim lain yang bernama APE Guardian segera menyediakan kawasan pelepasliarannya agar orangutan yang tidak memiliki kasus kesehatan dapat segera kembali ke habitatnya. Tim ini juga yang akan memonitor orangutan tersebut dan meminimalisir munculnya konflik dengan manusia.

Ada ciri khusus saat orangutan liar kembali dilepasliarkan tak lama dari penangkapannya. Kandang angkut yang sempit sering kali membuatnya tidak nyaman, berulang kali mengeluarkan suara mengusir, bahkan menyerang saat tim medis mendekati untuk memberi minum maupun makanan dan memperhatikan kondisi kesehatannya. Dan perilaku khas saat pintu kandang angkut dibuka adalah, tanpa mengulur waktu, orangutan akan segera memanjat dan berpindah dari pohon yang satu ke pohon yang lain. Sering kali, tim APE Guardian yang bertugas mengikuti orangutan translokasi kehilangan kesempatan mengikutinya. Orangutan seperti ini akan terus menghindari dan menjaga jarak dengan manusia. (RAN)

KAMIS MANIS APE GUARDIAN COP DI SDN 002 BUSANG

Tidak jarang cuaca cerah di pagi hari ikut menjadi semangat kita memulai hari. Tim APE Guardian yang fokus pada melindungi orangutan setelah dilepasliarkan kembali punya agenda mengunjungi anak-anak yang berada di SDN 002 Busang, Kutai Timur yang sedari kemarin bertanya-tanya tentang kunjungan kali ini. Tim menyadari edukasi adalah pintu masuk memberi pengetahuan untuk anak-anak calon penerus bangsa di desa Long lees, Kecamatan Busang, Kalimantan Timur mengenai pentingnya satwa liar yang hidup di hutan sekitar kita, salah satunya orangutan.

Randy Kurniawan, kapten APE Guardian COP menyampaikan kaliamat pembuka dan disambut semangat gembira anak-anak. Ferryandi Saepurohman, anggota Guardian lulusan Kehutanan UNMUL mengenalkan orangutan mulai dari bentuk, tempat tinggal, makanan, sarang, sampai pemutaran video animasi mengenai larangan memelihara orangutan dan satwa liar dilindungi lainnya.

Tanya dan jawab semakin menunjukkan antusiasnya anak-anak pada kedatangan kami kali ini. Jawaban yang paling realistis dari siswa kelas 1,2, dan 3 adalah ketika kami tanya mereka, ”ada yang pernah lihat orangutan?”. Ada beberapa siswa yang menjawab “pernah, di depan rumah kakak” yang dimaksud ketika ada kegiatan translokasi ataupun pelepasliaran orangutan.

Kami juga berusaha mengasah keberanian para siswa untuk berani tampil dengan memberikan hadiah kecil dan camilan untuk anak-anak tersebut. Foto bersama siswa, guru dan tim APE Guardian adalah kenangan tersendiri yang tak terlupakan. (ENG)

585 HARAPAN AKHIR TAHUN UNTUK ORANGUTAN

Dulunya sih hutan, tak ada orang yang tinggal di sana. Tapi itu dulu. Jumlah penduduk bertambah, kampung semakin besar, pendatang pun semakin banyak seiring berkembangnya kabupaten Berau, dan kabupaten lainnya di Kalimantan Timur. Habitat satwa liar khususnya orangutan semakin terdesak. Kondisi hutan sebagai tempat tinggal dan mencari makannya pun semakin sulit. Kehadiran satwa liar di kehidupan manusia semakin sering terjadi. Pengkayaan tanaman hutan menjadi solusi.

Tim APE Crusader untuk kedua kalinya dalam tahun 2023 melakukan penanaman dan melakukan tambal sulam terhadap tanaman yang tidak berhasil sebelumnya. Kali ini bibit nangka, rambutan, durian dan jambu air degan melibatkan Kelompok Tani Makmur Jaya, Kampung Sidobangen, Kecamatan Kelay melakukan penanaman di batas kampung dan kawasan berhutan. Tentu saja dengan harapan, satwa liar tak perlu masuk lebih jauh ke pemukiman maupun ladang.

“Akhir tahun ini kami menanam 500 bibit dan menanam kembali bibit yang mati sebanyak 85 titik. Ada 4 jalur tanam, di setiap jalur ada 250 tanaman, dengan jarak tanam 5 m. Kurang lebih sepanjang 1,25 km per jalur, semoga musim yang baik untuk menanam ini menambah kemampuan bibit bertahan hidup, tanpa takut kekeringan”, kata APE Crusader COP.

Centre for Orangutan Protection telah melepasliarkan kembali 10 orangutan di Hutan Lindung Sungai Lesan yang berdekatan dengan Kampung Sidobangen ini. Dari data laporan masyarakat dan penilaian singkat tim ke lapangan setiap kali ada konflik, APE Crusader mendapati orangutan yang mencari makan di kebun warga terutama pada masa paceklik buah di hutan. “Untungnya, masyarakat sangat peduli dan sangat menyadari resiko hidup berbatasan dengan satwa liar”.

POPI BIKIN KESAL ANIMAL KEEPER

Lincahnya dia ketika di sekolah hutan adalah perkembangan yang sangat mencolok dari orangutan Popi. Popi yang dulunya sangat manja dan selalu ingin dekat dengan manusia khususnya animal keeper nya sering membuat animal keeper kesal. Bahkan untuk memaksanya naik ke atas pohon, animal keeper yang bertugas menjaganya harus menakutinya dengan duri rotan. Kalau sekarang?

Popi akan menjelajah sekolah hutan. Dia sudah hafal daerah mana yang penuh makanan. Dia akan terus berada di atas pohon hingga makanan yang dia temukan habis. Berpindah untuk menikmati makanan yang lain. Sesekali berhenti makan dan mengamati orangutan yang lain, mungkin saja orangutan lain menemukan makanan lain. Apa saja makanan yang ditemukannya?

“Popi biasanya di atas pohon yang tinggi itu untuk menikmati bunga dan buah yang ada di situ. Kalau di atas itu, bisa seharian”, jelas Freniyus, animal keeper yang bertanggung jawab menjaga Popi. Fren sangat menyukai Popi, Popi yang manja tapi juga sangat aktif kalau di sekolah hutan. “Manja-nya itu ketika kita membawa Popi keluar dari kandang, Popi pasti memelukku dengan erat. Mana dia sudah besar, dan cengkramannya itu kuat dan badannya juga sudah berat tidak kayak dulu”, tambahnya.

Popi juga terlihat memakan kulit kayu, kulit akar gantung, dan daun muda yang ada di sekolah hutan. “Hingga saat ini kami masih mencoba mengidentifikasi pakan alami tersebut”, jelas Raffi Akbar, biologist COP. Popi juga cukup membuat kesal Fren dan animal keeper lainnya. Tingkahnya lucu seperti ketika Popi dipanggil untuk kembali ke kandang sebagai penanda waktu sekolah hutan sudah berakhir, Popi mengulurkan tangannya seolah-olah minta digandeng bahkan minta digendong, tapi setelah kita akan memegang tangannya, dia pun mengangkat tangannya ke atas dan menjauh dari kita. Selanjutnya dia menganggu orangutan lainnya dan mengajak orangutan lain menjauh dari kami”, cerita Fren lagi.

Popi akan terus tumbuh dan berkembang. Popi memasuki tahun ketujuhnya di BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance), si manja yang akan meraih kesempatannya untuk kembali ke habitatnya. Ya, waktu itu akan terus semakin dekat. (YAU)