KAMIS MANIS APE GUARDIAN COP DI SDN 002 BUSANG

Tidak jarang cuaca cerah di pagi hari ikut menjadi semangat kita memulai hari. Tim APE Guardian yang fokus pada melindungi orangutan setelah dilepasliarkan kembali punya agenda mengunjungi anak-anak yang berada di SDN 002 Busang, Kutai Timur yang sedari kemarin bertanya-tanya tentang kunjungan kali ini. Tim menyadari edukasi adalah pintu masuk memberi pengetahuan untuk anak-anak calon penerus bangsa di desa Long lees, Kecamatan Busang, Kalimantan Timur mengenai pentingnya satwa liar yang hidup di hutan sekitar kita, salah satunya orangutan.

Randy Kurniawan, kapten APE Guardian COP menyampaikan kaliamat pembuka dan disambut semangat gembira anak-anak. Ferryandi Saepurohman, anggota Guardian lulusan Kehutanan UNMUL mengenalkan orangutan mulai dari bentuk, tempat tinggal, makanan, sarang, sampai pemutaran video animasi mengenai larangan memelihara orangutan dan satwa liar dilindungi lainnya.

Tanya dan jawab semakin menunjukkan antusiasnya anak-anak pada kedatangan kami kali ini. Jawaban yang paling realistis dari siswa kelas 1,2, dan 3 adalah ketika kami tanya mereka, ”ada yang pernah lihat orangutan?”. Ada beberapa siswa yang menjawab “pernah, di depan rumah kakak” yang dimaksud ketika ada kegiatan translokasi ataupun pelepasliaran orangutan.

Kami juga berusaha mengasah keberanian para siswa untuk berani tampil dengan memberikan hadiah kecil dan camilan untuk anak-anak tersebut. Foto bersama siswa, guru dan tim APE Guardian adalah kenangan tersendiri yang tak terlupakan. (ENG)

585 HARAPAN AKHIR TAHUN UNTUK ORANGUTAN

Dulunya sih hutan, tak ada orang yang tinggal di sana. Tapi itu dulu. Jumlah penduduk bertambah, kampung semakin besar, pendatang pun semakin banyak seiring berkembangnya kabupaten Berau, dan kabupaten lainnya di Kalimantan Timur. Habitat satwa liar khususnya orangutan semakin terdesak. Kondisi hutan sebagai tempat tinggal dan mencari makannya pun semakin sulit. Kehadiran satwa liar di kehidupan manusia semakin sering terjadi. Pengkayaan tanaman hutan menjadi solusi.

Tim APE Crusader untuk kedua kalinya dalam tahun 2023 melakukan penanaman dan melakukan tambal sulam terhadap tanaman yang tidak berhasil sebelumnya. Kali ini bibit nangka, rambutan, durian dan jambu air degan melibatkan Kelompok Tani Makmur Jaya, Kampung Sidobangen, Kecamatan Kelay melakukan penanaman di batas kampung dan kawasan berhutan. Tentu saja dengan harapan, satwa liar tak perlu masuk lebih jauh ke pemukiman maupun ladang.

“Akhir tahun ini kami menanam 500 bibit dan menanam kembali bibit yang mati sebanyak 85 titik. Ada 4 jalur tanam, di setiap jalur ada 250 tanaman, dengan jarak tanam 5 m. Kurang lebih sepanjang 1,25 km per jalur, semoga musim yang baik untuk menanam ini menambah kemampuan bibit bertahan hidup, tanpa takut kekeringan”, kata APE Crusader COP.

Centre for Orangutan Protection telah melepasliarkan kembali 10 orangutan di Hutan Lindung Sungai Lesan yang berdekatan dengan Kampung Sidobangen ini. Dari data laporan masyarakat dan penilaian singkat tim ke lapangan setiap kali ada konflik, APE Crusader mendapati orangutan yang mencari makan di kebun warga terutama pada masa paceklik buah di hutan. “Untungnya, masyarakat sangat peduli dan sangat menyadari resiko hidup berbatasan dengan satwa liar”.

POPI BIKIN KESAL ANIMAL KEEPER

Lincahnya dia ketika di sekolah hutan adalah perkembangan yang sangat mencolok dari orangutan Popi. Popi yang dulunya sangat manja dan selalu ingin dekat dengan manusia khususnya animal keeper nya sering membuat animal keeper kesal. Bahkan untuk memaksanya naik ke atas pohon, animal keeper yang bertugas menjaganya harus menakutinya dengan duri rotan. Kalau sekarang?

Popi akan menjelajah sekolah hutan. Dia sudah hafal daerah mana yang penuh makanan. Dia akan terus berada di atas pohon hingga makanan yang dia temukan habis. Berpindah untuk menikmati makanan yang lain. Sesekali berhenti makan dan mengamati orangutan yang lain, mungkin saja orangutan lain menemukan makanan lain. Apa saja makanan yang ditemukannya?

“Popi biasanya di atas pohon yang tinggi itu untuk menikmati bunga dan buah yang ada di situ. Kalau di atas itu, bisa seharian”, jelas Freniyus, animal keeper yang bertanggung jawab menjaga Popi. Fren sangat menyukai Popi, Popi yang manja tapi juga sangat aktif kalau di sekolah hutan. “Manja-nya itu ketika kita membawa Popi keluar dari kandang, Popi pasti memelukku dengan erat. Mana dia sudah besar, dan cengkramannya itu kuat dan badannya juga sudah berat tidak kayak dulu”, tambahnya.

Popi juga terlihat memakan kulit kayu, kulit akar gantung, dan daun muda yang ada di sekolah hutan. “Hingga saat ini kami masih mencoba mengidentifikasi pakan alami tersebut”, jelas Raffi Akbar, biologist COP. Popi juga cukup membuat kesal Fren dan animal keeper lainnya. Tingkahnya lucu seperti ketika Popi dipanggil untuk kembali ke kandang sebagai penanda waktu sekolah hutan sudah berakhir, Popi mengulurkan tangannya seolah-olah minta digandeng bahkan minta digendong, tapi setelah kita akan memegang tangannya, dia pun mengangkat tangannya ke atas dan menjauh dari kita. Selanjutnya dia menganggu orangutan lainnya dan mengajak orangutan lain menjauh dari kami”, cerita Fren lagi.

Popi akan terus tumbuh dan berkembang. Popi memasuki tahun ketujuhnya di BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance), si manja yang akan meraih kesempatannya untuk kembali ke habitatnya. Ya, waktu itu akan terus semakin dekat. (YAU)

BONTI KEMBALI HADIR DI SEKOLAH HUTAN

Ada tiga orangutan betina yang terkenal sebagai orangutan yang jahil di Bornean Orangutan Rescue Alliance (BORA). Ketiganya berada dalam satu kandang. Mereka adalah Jojo, Mary, dan Bonti. Sebuah cerita yang berbeda dari orangutan yang bernama Bonti. Waktu itu, ketika Bonti tidak lagi menjadi siswa sekolah hutan karena sering membuat para keeper menginap akibat Bonti keasyikan bermain di hutan.

Perubahan sikap dari orangutan Bonti yang awalnya takut untuk bermain bersama, hanya mau mendekat saat dikasih makanan, berubah menjadi manja. Bonti menunjukkan perilaku ingin dipeluk sambil menyuarakan suara manja. Tapi perilaku Bonti yang ingin dipeluk, ternyata hanya sebagai alasan untuk Bonti mendapatkan buah yang mungkin dibawa keeper di kantong wearpack. Dan jika diperiksa ternyata tidak ada buah, Bonti tetap ingin dipeluk sambil bersuara merengek minta diberikan buah. Sejak saat itu, setiap harinya, sebelum dan sesudah feeding menjadi terbiasa minta dipeluk.

Kini, Bonti kembali menjadi siswa sekolah hutan. Bonti menjadi orangutan yang liar ketika berada di sekolah hutan. Bonti asyik bermain di pohon tinggi dan berpindah-pindah dengan cepat dan semakin jauh dari titik awal sekolah hutan. Dipanggil pun tak lagi dihiraukannya. “Syukurlah… lama di kandang tak mengurung keliarannya. Ini adalah hal baik untuk perkembangan perilaku Bonti. Semoga Bonti dapat belajar banyak hal di sekolah hutan dan dapat segera menjadi kandidat pelepasliaran orangutan”, ujar Jevri, animal keeper terlama di BORA penuh harap. Menjadi animal keeper Bonti memang sangat menantang dan harus siap jika dia ingin bermalam di hutan. (JEV)

ORANGUTAN BUKAN HEWAN PELIHARAAN

BKSDA SKW I Berau kembali menerima penyerahan 1 individu bayi orangutan dari kampung Merapun, kecamatan Kelay, Kalimantan Timur. Tim APE Defender mendampingi proses serah terima ini dan segera melakukan pemeriksaan kesehatan fisik pada bayi tersebut. “Perkiraan usia, sekitar 9 bulan dengan perut yang besar. Biasanya pemelihara memberikan susu dan sempat berganti merek susu karena diare. Menurut mereka, orangutan tersebut ditemukan di sekitar 400 meter dari rumah mereka, katanya lagi orangutan kecil ini ditinggal induknya karena induknya dikejar anjing”, catat drh. Elise Margaret Ballo.

Bayi orangutan mendapatkan perhatian yang baik dari pemelihara sekeluarga. Tempat tidur bayi, pakaian, popok, hingga pemberian perhiasan gelang yang melingkar di pergelangannya. Orangutan juga dimandikan 3 kali seminggu. Bayi orangutan juga cukup percaya dengan keluarga yang memeliharanya. “Namun, orangutan bukanlah hewan peliharaan. Kehidupan bayi orangutan sangat bergantung dengan induknya. Anak orangutan akan bersama induknya hingga usia 5 tahun. Orangutan adalah satwa liar dilindungi. Kepemilikan dan pemeliharaan ilegal adalah perbuatan melanggar hukum”, ujar Raffi Akbar, asisten manajer BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance).

Tim pun kembali ke BORA, perjalanan 4 jam menyimpan sunyi. Bayi orangutan terlelap di pangkuan drh. Elis. Kami diam dalam pikiran yang tak kunjung selesai. Baru saja memastikan dua orangutan jantan kandidat pelepasliaran baik-baik saja di pulau pra-rilis orangutan, ternyata ada masuk lagi satu bayi orangutan yang masih membutuhkan proses hingga rilis sekitar 6-8 tahun lagi. Orangutan ini pun terbangun dari tidurnya, menjelajah isi mobil, menatap keluar jendela, hujan di luar. (LIS)

INDUK ORANGUTAN YANG BARU MASUK BORA, KRITIS! (2)

Seperti kebanyakan orangutan liar yang masuk ke pusat rehabilitasi, Mauliyan masih dengan sifat agresif segera mengusir jika ada yang mendekati area kandang. Sebagai induk orangutan, dia terlihat sangat melindungi anaknya. Setiap ada yang mendekat, anaknya langsung bersembunyi dalam pelukannya bahkan ditarik paksa olehnya. Mauliyan juga masih dalam masa adaptasi dengan pakan yang diberikan, beberapa jenis pakan masih belum mau dimakannya.

Mauliyan dan anaknya adalah orangutan yang diselamatkan dari kawasan pertambangan di Kalimantan Timur. Viralnya ibu dan anak orangutan menyeberangi jalanan mengantarkan tim menyelamatkan keduanya. Sayang, hanya induknya yang bisa diselamatkan, sementara anaknya yang sudah cukup besar tidak berhasil ditemukan. Tim melakukan penyisiran dan menemukan Mauliyan beserta anaknya, Ariandi.

Kini, Mauliyan sedang kritis. Tim medis berusaha semaksimal mungkin menyelamatkan induk orangutan ini. Setelah 6 jam menjalani perawatan intensif, suhu tubuhnya naik perlahan dan kembali normal. Beberapa kali menunjukkan respon tubuh mencoba membalik badan namun Mauliyan belum sadar.

“Menunggu, berdoa, dan terus melakukan pengecekan hanya itu yang bisa dilakukan. Berharap Mauliyan pun berusaha untuk bertahan dengan kondisinya. Ariandi terlihat tak lepas memeluknya. Suatu kondisi yang sangat menyedihkan. Seorang anak yang masih membutuhkan ibunya yang tak berdaya”, ujar drh. Ellise Balo.

Pada 17.32 WITA terjadi hal baik. Mauliyan perlahan mulai sadar dan diputuskan untuk melepas infusnya. Dengan cepat, dibantu animal keeper untuk menahan tangannya yang kekuatannya mulai pulih. Infusnya berhasil dilepas. Perlahan-lahan, Mauliyan mencoba untuk duduk. Pemberian air gula sedikit demi sedikit berhasil masuk. Dua puluh menit kemudian, seperti tidak terjadi apa-apa, Mauliyan duduk dan memakan habis pakan sisa Ariandi yang ada di sekitar kandang. Tim pun segera memberikan pakan tambahan dan kemudian habis dimakannya. Sejak saat itu, Mauliyan tidak lagi pemilih makanan. Pakan yang dikasih, habis dimakannya sampai saat ini. (LIS)

INDUK ORANGUTAN YANG BARU MASUK BORA, KRITIS! (1)

Mauliyan! Itu nama salah satu individu orangutan yang berada di BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance). Orangutan betina dewasa yang juga seorang ibu dari orangutan Ariandi. Keduanya dievakuasi oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Seksi Konservasi Wilayah II (BKSDA SKW II Tenggarong) bersama Centre for Orangutan Protection (COP) pada 27 September 2023.

“Kondisi induk sangat memprihatinkan, BCS (Body Condition Score) nya 1 dari 5, perkiraan berat badannya sekitar 19 kg, jauh dari angka ideal apalagi untuk individu indukan yang masih harus menyusui anaknya”, papar drh. Ellise Balo

Tiga hari setelah tiba di BORA, Mauliyan ditemukan hanya berbaring, tidak berpindah bahkan setelah didekati perawat satwa. Tim medis berusaha membalikkan tubuh Mauliyan dan mendapati induk orangutan ini sedang menggigil dan mencoba menggigit dirinya sendiri. Setelah itu kepalanya mengarah ke bawah bahkan mulutnya berada di antara jeruji kandang. Kali ini Mauliyan terlihat menggigit besi kandang.

“Panik, tentu saja! Ada perasaan khawatir sembari berpikir apa yang menyebabkan Mauliyan menjadi seperti ini. Karena di hari kemarin, dia masih tampak aktif, sibuk mencoba berbagai pakan yang diberikan, bahkan terlihat mengajari anaknya untuk lepas dari gendongan. Ariandi diajarkan bergelantung pada kandang, memanjat bahkan diajarkan untuk berjalan dan duduk”, jelas drh Ellis.

Tim medis pun segera mengecek suhu tubuh, namun terbaca Lo (suhu di bawah 32° C), walaupun lemas, kondisi Mauliyan masih sadar. Hal pertama yang dilakukan adalah mencoba mengembalikan suhu tubuhnya. Sejam kemudian Mauliyan kehilangan kesadarannya. Mauliyan pun dipindahkan dari kandang karantina ke kandang perawatan yang ada di samping klinik BORA. Meskipun dalam keadaan tidak sadar, masih ada refleks tubuhnya. Beberapa kali tangannya ditarik, sehingga selang infus terlepas dan harus dipasang kembali. Dan berulang kali juga tim medis kesulitan memasangnya karena pembuluh darahnya bengkak. Tim mencari tahu kondisi glukosa Mauliyan dan mendapati jumlahnya yang di bawah dari normal. Mauliyan hipoglikemi. (LIS)

INDUK ORANGUTAN VIRAL DI MEDSOS, MASUK BORA

Orangutan masih menjadi satwa yang sangat menarik perhatian publik. Viral sebuah video induk orangutan bersama anaknya menyeberang jalan dalam kondisi yang sangat kurus. Centre for Orangutan Protection membantu tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Seksi Konservasi Wilayah II Tenggarong mengevakuasi orangutan tersebut.

Senin, 23 September, dari pemeriksaan Body Condition Score (BCS) induk orangutan memiliki nilai 2 yang berarti kurus. Tulang rusuk, tulang belakang, dan tulang panggul yang menonjol. Semua terlihat seperti tulang berbalut kulit. Perut orangutan betina tersebut besar namun saat dilakukan palpasi atau perabaan tidak ditemukan adanya benjolan maupun fetus atau calon bayi di dalamnya, hal ini bisa menjadi salah satu indikasi bahwa orangutan mengalami malnutrisi. Orangutan juga mengalami dehidrasi, turgor atau tingkat elestisitas kulitnya tergolong tidak baik karena saat diperiksa dengan cara dicubit, kulit tidak langsung kembali seperti semula dan waktu kembalinya kulit seperti semula lebih dari dua detik. Kulit orangutan tersebut sangat kering hingga kulitnya terkelupas.

Saat ini orangutan berada di Bornean Orangutan Rescue Alliance (BORA) tepatnya di Klinik dan Karantina Orangutan yang dikelola Centre for Orangutan Protection di bawah otoritas Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan dukungan penuh The Orangutan Project. Orangutan akan menjalani perawatan intensif hingga kondisi kesehatannya membaik. Perilaku orangutan masih cukup agresif dan sering mengusir dengan cara melakukan kiss squeaks. Nafsu makan orangutan baik dan masih dalam proses adaptasi dengan lingkungan baru. Apabila kondisi kesehatannya sudah baik, orangutan tersebut akan dipindahkan ke kawasan hutan dengan ketersediaan pakan yang cukup bagi kehidupan orangutan tersebut sehingga diharapkan orangutan dapat bertahan hidup di rumah barunya kelak. (TAT)

SEMUA ADA WAKTUNYA, POPI BERKEMBANG DENGAN BAIK

Orangutan yang bernama Popi di Bornean Orangutan Rescue Alliance (BORA) adalah orangutan termuda usianya saat dia masuk pusat rehabilitasi ini. Kondisi pusarnya yang baru saja lepas (pupak) membuatnya sangat tergantung dengan kehadiran manusia terutama baby sitter nya. Mungkin Popi juga tidak memiliki ingatan pada induknya dan tidak tahu bagaimana harus bertahan hidup sebagai orangutan.

Tujuh tahun sudah Popi di BORA. Popi tumbuh dan berkembang bersama orangutan malang namun beruntung lainnya. Rasa ingin tahu alaminya terus tumbuh dan ia mulai banyak mengeksplorasi lingkungan sekitarnya dengan keberanian yang mengangumkan. Tidak lagi bergantung pada manusia, walau sesekali masih mengamati animal keeper yang bertugas mengawasinya, hanya sekedar memastikan dia baik-baik saja.

Popi, si orangutan yang tak pernah dibayangkan akan mencapai kondisi seperti saat ini. Beberapa bulan yang lalu masih membuat semua orang khawatir, mungkinkah ia dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Ahli biologi COP mencoba mengevaluasi perkembangannya yang masih terlihat sangat manja dan seolah-olah tak bisa lepas dari manusia. “Tapi tepat di tujuh tahun kedatangannya di BORA membuat kami optimis, masih ada waktu dan masih ada kesempatan itu”, ujar Raffi Akbar, asisten manajer pusat rehabilitasi BORA.

Terima kasih atas dukungannya pada BORA, terima kasih para orang tua asuh Popi. (RAF)

PENGABDIAN DOKTER HEWAN COP DI KAMPUNG MERASA

Dokter hewan Centre for Orangutan Protection masuk kampung? Pastinya bukan sekali atau dua kali ini. Sejak delapan tahun yang lalu, dokter hewan COP telah mengabdi pada satwa peliharaan dan kesayangan masyarakat sekitar pusat rehabilitasi orangutan yang dikelolahnya. Edukasi dan penyadartahuan tentang kondisi hewan hingga langsung melakukan pengobatan pada anjing, kucing hingga ternak juga mengharapkan kesehatan masyarakat di kampung terdekat dengan Bornean Orangutan Rescue Alliance (BORA). Zoonosis tak bosan-bosannya dokter hewan dan paramedis ini sampaikan, demi kesehatan yang terasa sangat mahal ketika pandemi COVID menghampiri kita.

Dokter hewan COP tak ragu mengetuk pintu rumah yang satu dengan pintu rumah yang lain, sesuai data sebelumnya dimana hewan peliharaan terdata. Syukurnya, warga Kampung Merasak sangat terbuka dengan kehadiran tim APE Defender ini. Kunjungan kali ini, ada 7 hewan yang mengalami scabiosis, 2 terinfeksi ektoparasit pinjal. Pemeriksaan 1 babi yang sedang hamil pun tak luput dari pemeriksaan kali ini. “Mendengarkan detak janin babi membuat kebahagian tersendiri”, ujar drh. Elise Ballo sambil tersenyum.

Selain itu tim juga memberi 2 vitamin pada hewan kesayangan dan pemberian obat cacing pada 4 anjing lainnya. Tim menyadari betul, cacing pada hewan peliharaan yang bisa dijumpai dimana saja dapat menjadi awal manusia menderita penyakit cacing. Salah satu anggota tim di desa tempat pelepasliaran orangutan pernah mengalami infeksi cacing yang merayap di bawah kulit. Munculnya tonjolan kemerahan di kulit kakinya yang tampak berliku-liku seperti ular dan disertai rasa gatal yang sangat sempat hanya dianggap varises. Setelah diteliti lebih lanjut, cutaeus larva mingrain terjadi ketika staf tersebut bermain sepak bola dengan anak-anak di kampung longless tanpa alas kaki. Ternyata lapangan bola telah terkontaminasi larva cacing tambang dari kotoran hewan seperti anjing dan kucing. Setelah menjalani terapi, akhirnya staf tersebut sembuh.

“Mari jaga kesehatan hewan peliharaan dan jaga kebersihan”, ajak drh Elise lagi.