KABAR CERIA DARI BABY HOUSE: PETUALANGAN KECIL PARA ORANGUTAN MUDA

Sabtu pagi di Baby House BORA kembali dipenuhi semangat belajar dari para orangutan muda yang sedang menapaki tahap awal kehidupan liar. Di bawah pengawasan penuh kasih dari babysitter Rara dan Fara, mereka menunjukkan perkembangan perilaku yang menjanjikan. Mulai dari eksplorasi, interaksi sosial, hingga kemampuan mencari makan sendiri.

Felix menjadi bintang hari ini. Ia mengikuti sesi sekolah hutan pagi sendirian dan menunjukkan jiwa eksplorasinya yang semakin kuat. Tanpa kehadiran orangutan lain yang lebih dominan ataupun stimulasi intensif dari babysitter, Felix mulai lebih percaya diri menjelajahi area hutan di barat daya karantina. Ia memanjat sendiri di pohon-pohon rendah, mencari makan dari pohon mati, daun, hingga buah kopi mentah. Meski sempat tampak cuek, suara dari animal keeper lain yang sedang memantau sekolah hutan membuatnya tertarik, ia langsung mengamati dan mendekati babysitter.

Sementara itu, di dalam kandang, Arto dan Harapi menunjukkan interaksi sosial yang erat. Mereka saling membersihkan diri dan makan bersama. Arto tampak banyak belajar dari Harapi, dari jenis daun yang bisa dimakan hingga mengamati proses makan daun langsung dari mulut Harapi. Momen ini menjadi cerminan proses belajar sosial yang sangat penting bagi orangutan muda.

Ochre mengisi waktunya dengan bermain ranting dan daun. Ia tertarik pada batang berlumut dan mencoba mengupas kulitnya perlahan, menunjukkan rasa ingin tahu serta perkembangan motorik halus yang baik. Ketiganya juga mendapatkan rasa ingin tahu serta perkembangan motorik halus yang baik. Ketiganya juga mendapatkan enrichment berupa bola berisi potongan sayuran yang mendorong mereka untuk berpikir dan mencari solusi.

Siangnya, giliran Harapi yang mengikuti sesi sekolah hutan sendiri. Ia tampak senang mengunyah kulit kayu dan kambium, baik dari atas pohon maupun yang ia jatuhkan ke lantai hutan. Menariknya, kemampuan berpindah antar pohonya kini semakin baik. Ia bisa membedakan mana batang yang kuat, mana yang rapuh, menunjukkan kemajuan dalam penilaian risiko. Saat turun ke tanah pun, Harapi tak lagi meluncur sembarangan, melainkan memanjat turun dengan aman.

Di area kandang baby house, Arto yang biasanya rewel jika ditinggal Harapi, siang ini tampil lebih tenang. Di area playground baby house, Pansy dan Felix sibuk menjelajah dan mencari makan, sambil sesekali mengamati gerak-gerik babysitter. Pansy pun tampak nyaman dengan lingkungannya, bergerak aktif dan menjelajahi area sekitar dengan percaya diri.

Dari interaksi sosial yang hangat hingga keberanian menjelajah hutan, anak-anak orangutan penghuni baby house terus memperlihatkan kemajuan yang membanggakan. Setiap daun yang dicicipi dan setiap dahan yang dipanjat menjadi bagian dari proses panjang mereka menuju kehidupan liar yang mandiri. (RAF,FAR,RAR)

CHARLOTTE, FROM UNDER THE HOUSE TO THE FOREST CANOPY

The sky was still gray when we left the small dock at Long Lees, a quiet village on the banks of the Atan River in Busang District, East Kutai. The morning dew had not yet completely evaporated, and the remnants of last night’s rain made the air feel fresh and cool. On one of the four boats moving along the river, whose water level was rising and murky, an orange metal cage containing Charlotte, a female orangutan around 10 years old, was securely tied to the center of the boat. She was quiet, simply observing through the bars, as if she knew she was being taken to something better than her past. Along with the East Kalimantan Natural Resources Conservation Agency (BKSDA), the Centre for Orangutan Protection (COP) team headed upstream toward the pre-release island.
Charlotte became a special memory in my career in orangutan conservation. She was the first individual I encountered during my assignment in an orangutan rescue operation, a moment that marked the beginning of my journey with COP. I still clearly remember our long journey in 2021, traversing the vast, endless labyrinth of oil palm plantations, until we finally arrived at a wooden house where Charlotte was tied under the raised house, her neck entangled in a chain with only one meter of movement space. From there, we brought her to the Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA) rehabilitation center in Berau. Now, four years later, I am once again embarking on a long journey with Charlotte, but with a different mission—no longer to rescue her from the chains, but to escort her toward freedom.
The journey to the prerelease island of Dalwood Wylie that morning was not entirely smooth. About 15 minutes after leaving Long Lees, the engine of the boat carrying Charlotte’s cage suddenly stopped. In the middle of the wide and deep Atan River, the boat had to be towed to the riverbank for inspection. Due to the engine issue that couldn’t be resolved, the team decided to replace the engine with one from another boat. Out of the four boats that originally set off, only three continued the journey. One boat remained on the riverbank, with rangers Ulang and Billy staying behind to repair the engine.
About two hours later, we finally arrived at the APE Guardian monitoring post located across from Dalwood Wylie Island. After lunch, we moved the cage containing Charlotte onto the island. After a count of three, Mr. Rudi from the East Kalimantan Natural Resources Conservation Agency opened the cage door. When the door opened, Charlotte did not hesitate. Within seconds, she climbed the first tree she saw, continuing to climb until she reached the canopy. Leaves rustled above our heads as she moved between trees, tasting leaves, fruits, and even bark—a good sign that she was ready to resume her life as a forest dweller. On this island, Charlotte will undergo further observation to test her independence, far from human footprints, toward the final stage of her freedom. (RAF)

CHARLOTTE, DARI KOLONG RUMAH KE KANOPI HUTAN

Langit masih kelabu saat kami meninggalkan dermaga kecil di Long Lees, sebuah kampung tenang di tepi Sungai Atan, Kecamatan Busang, Kutai Timur. Embun pagi belum benar-benar menguap, sisa hujan semalam membuat udara terasa segar dan dingin. Di salah satu dari empat perahu yang bergerak menyusuri sungai yang bergerak menyusuri sungai yang permukaan airnya sedang naik dan keruh itu, sebuah kandang logam berwarna jingga berisi Charlotte, orangutan betina berusia sekitar 10 tahun, terikat rapi di tengah kayu. Ia tidak berisik, hanya diam memperhatikan dari balik jeruji, seolah tahun ia sedang dibawa menuju sesuatu yang lebih baik dari masa lalu. Bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, tim Centre for Orangutan Protection (COP) berangkat ke arah hulu, menuju pulau pra-pelepasliaran.

Charlotte menjadi bagian dari memori yang spesial dalam perjalanan karier saya di dunia konservasi orangutan. Dialah individu pertama yang saya temui saat ditugaskan dalam operasi penyelamatan orangutan, momen yang menjadi awal perjalanan saya bersama COP. Saya masih mengingat jelas perjalanan panjang kami pada 2021, menyusuri luasnya labirin kebun sawit yang tiada habisnya, hingga akhirnya tiba di sebuah rumah kayu tempat Charlotte diikat di kolong rumah panggung, lehernya terjerat rantai dengan ruang gerak hanya 1 meter. Dari sana, kami membawanya menuju pisat rehabilitasi Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA) di Berau. Kini, setelah empat tahun berlalu, saya kembali melakukan perjalanan panjang membawa Charlotte, namun dengan misi berbeda, bukan lagi menyelamatkannya daru kekangan rantai, tetapi mengantarkannya menuju kebebasan.

Perjalanan menuju pulau pra-pelepasliaran Dalwood Wylie pagi itu tidak sepenuhnya mudah. Sekitar 15 menit meninggalkan Long Lees, mesin perahu pengangkut kandang Charlotte mendadak mati. DI tengah sungai Atan yang lebar dan dalam, perahu itu harus digandeng ke tepi sungai untuk diperiksa. Karena kendala mesin yang tak kunjung teratasi, tim memutuskan menukar mesinnya dengan mesin perahu lain. Dari empat perahu yang semula berangkat, hanya tiga yang akhirnya melanjutkan perjalanan. Satu perahu menetap di tepi sungai, ranger Ulang dan Billy tetap tinggal untuk memperbaiki mesin tersebut.

Sekitar dua jam kemudian akhirnya kami tiba di pos monitoring APE Guardian yang berlokasi di seberang pulau Dalwood Wylie. Selepas makan siang, kami memindahkan kandang berisi Charlotte ke dalam pulau. Setelah hitungan ketiga, Pak Rudi dari BKSDA Kalimantan Timur membuka pintu kandang. Ketika pintu kandang dibuka, Charlotte tidak ragu. Dalam hitungan detik, ia memanjat pohon pertama yang ia lihat, terus memanjat hingga ke kanopi. Daun-daun bergoyang di atas kepala kami saat ia berpindah antar pohon, mencicipi daun, buah, dan bahkan kulit kayu, tanda awal yang baik bahwa ia siap kembali menjalani hidup sebagai penghuni hutan. Di pulau ini, Charlotte akan menjalani pengamatan lanjutan untuk menguji kemandiriannya, jauh dari jejak manusia, menuju tahap akhir kebebasannya. (RAF)

BERTEMU TARA SETELAH SATU TAHUN BERLALU

Selalu menyenangkan berjumpa kembali dengan orangutan yang sudah lama tidak teramati di hutan. Hal ini terutama kami rasakan karena kemunculan mereka membuktikan bahwa orangutan yang kami lepas-liarkan di Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat dapat bertahan hidup. Siapakah orangutan yang kali ini kami temui?

Hari yang cerah di pos monitoring Busang, cuaca yang ideal untuk tim APE Guardian memulai kegiatan lebih pagi. Pada jadwal hari ini, waktunya kami berpatroli menyusuri Sungai Menyuq. Saat mentari mulai menampakkan sinarnya, teman-teman ranger sudah sedia dengan mesin perahu. Suara mesin memecah nyanyian alam, perahu melaju perlahan, 5 orang anggota tim APE Guardian pun menengok kanan dan kiri tepi sungai, barangkali terdapat tanda-tanda keberadaan orangutan.

Semakin lama waktu berjalan, kami semakin menjauh dari pos, belum satupun tanda-tanda teramati. Tim memutuskan untuk istirahat sebentar di muara Sungai Payau, memakan bekal yang dibawa sembari bercanda penuh harap perjumpaan dengan siapa pun orangutan yang menghuni ekosistem Busang ini. Tak jauh dari muara, kami menjumpai sarang orangutan kelas 2, artinya sarang tersebut masih belum lama dibuat. Kami menghentikan perahu dan mengamati sekitar, tak jauh dari lokasi sarang, salah satu tim kami melihat ranting-ranting jatuh seperti dilempar. “Kayaknya ada yang gerak-gerak di pohon seberang”, ujar Dedi, ranger tim APE Guardian COP. Kami pun mendekat ke pohon tersebut dan benar saja, terdapat satu orangutan jantan yang sedang makan buah Baran (Dracontomelon dao).

“Khas sekali, kiss squeak pun terdengar, tanda orangutan mengusir. Ditambah suara ranting dipatahkan berlanjut dengan lemparan ranting-ranting tersebut. Perilaku orangutan liar”, gumam tim sembari semakin mengamati orangutan tersebut. Cheekpad yang berlekuk pada sisi kanan wajahnya menjadi ciri khas orangutan jantan Tara, yang diselamatkan tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur bersama APE Crusader COP dari interaksi negatif dengan manusia di Kecamatan Bengalon. Sebelumnya Tara terlihat oleh masyarakat di pemukiman Desa Sepaso. Perangainya yang besar membuat masyarakat takut untuk berkebun. Akhirnya 28 April 2024, orangutan Tara ditranslokasi menuju rumah barunya, dan setelah setahun kami pun berjumpa kembali. Sekilas kondisinya terlihat sehat dan aktif mencari makan. Hari yang sangat beruntung dengan perjumpaan ini, rasa syukur ‘rumah’ ini baik untuk orangutan. (YUS)

MISI PENCARIAN RUMAH BARU UNTUK ORANGUTAN

Di bulan Maret 2025, tim Centre for Orangutan Protection (COP) yang berada di Kalimantan Timur melakukan survei kawasan pelepasliaran orangutan. Selain ketiga tim yaitu APE Crusader, APE Defender, dan APE Guardian, tim BKSDA Kalimantan Timur, Dinas Kehutanan, serta peneliti BRIN juga menjadi bagian dari tim besar pencarian rumah baru untuk orangutan. Sebanyak 27 laki-laki dan 4 perempuan, dan satu anjing setia bergabung dalam ekspedisi menuju pedalaman hutan primer di kecamatan Tabang, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Misi ini bukan sekadar perjalanan biasa, tetapi upaya besar untuk menemukan habitat yang aman dan ideal bagi orangutan yang siap kembali ke alam.

Karena medan yang begitu berat, tim harus melakukan penerjunan dalam dua tahap. Tim advance diberangkatkan lebih dulu untuk membawa logistik dan mendirikan camp di tengah hutan, memastikan bahwa tim utama nantinya dapat bergerak lebih efektif. Saat tim inti berangkat, mereka menggunakan 5 mobil double gardan untuk menghadapi jalur berbatu dan berlumpur selama 14 jam perjalanan. Tak berhenti di situ, tim juga harus menyeberangi sungai dengan 8 perahu ketinting, menerjang arus deras selama 3 jam, sebelum melanjutkan perjalanan kaki sejauh puluhan kilometer menembus hutan belantara.

Setelah dua minggu eksplorasi penuh tantangan, akhirnya tim menemukan kawasan hutan yang masih sangat alami, kaya akan sumber makanan, memiliki kanopi yang kuat, dan jauh dari aktivitas manusia, tempat yang sempurna untuk orangutan yang akan dilepasliarkan. “Semua kerja keras ini terbayar sudah”, ujar Ferryandi Saepurohman yang menjadi koordinator survei kali ini. Keberhasilan ini bukan hanya sebuah pencapaian besar dalam dunia konservasi, tetapi juga bukti bahwa dengan kerja sama, dedikasi, dan semangat, manusia bisa berperan sebagai penjaga alam yang sesungguhnya. Tim pun kembali dengan kebanggaan dan harapan baru akan pelestarian orangutan serta alam dan habitatnya. (DIM)

AWAL TAHUN 2025 PENUH HARAPAN UNTUK ORANGUTAN

Pagi itu, suasana Pusat Rehabilitasi BORA begitu berbeda. Ada semacam kegembiraan bercampur haru karena tiga orangutan yang telah menjalani rehabilitasi sekitar 8 tahunan akan segera lulus dari BORA. Bonti, Mary, dan Jojo, ketiganya siap untuk dilepasliarkan. Para keeper dan biologis yang turut mengamati perkembangan mereka dari kejauhan, juga turut senang dengan perkembangan mereka dalam mengasah hal-hal penting dalam bertahan hidup di alam bebas nantinya. Mulai dari mencari pakan alami, pemilihan cabang pohon untuk menjelajah, kemampuan bertahan hidup dengan minimnya campur tangan manusia di pulau pra-pelepasliaran orangutan hingga pembuatan sarang untuk beristirahat menjadi bukti kesiapan ketiganya untuk dilepasliarkan di Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Busang, Kutai Timur.

Namun ada satu kisah lain yang membuat pelepasliaran kali ini semakin istimewa. Paluy, orangutan jantan yang berhasil diselamatkan di sekitar pertambangan juga ikut dalam perjalanan ini. Paluy ditemukan dalam kondisi yang menyedihkan, tubuhnya kurus dengan salah satu matanya mengalami kebutaan. Tim medis Centre for Orangutan Protection (COP) bekerja keras memulihkan kondisinya, Paluy yang pernah kehilangan harapan akhirnya siap kembali ke rumahnya di alam.

Perjalanan menuju hutan pelepasliaran tidak mudah. Medan yang menantang, jarak yang jauh, serta perhatian penuh untuk memastikan kenyamanan para orangutan menjadi perioritas utama. Hingga tiba di titik pelepasliaran, semua kelelahan ini pun sirna. Jojo dengan perlahan memanjat pohon, Bonti yang sempat marah di dalam kandang dengan memukul-mukul kandangnya pun dengan gesit langsung menuju liana yang diincarnya, sementara Mary berjalan sesaat di tanah untuk menentukan pohon pertama yang akan dipanjatnya tanpa ragu. Ketika pintu kandang angkut Paluy dibuka, dia masih butuh dua menit kemudian untuk menyadari kebebasannya dan memanjat di ketinggian 15 meter untuk mengamati dan terus bergerak menghilang.

Uniknya, tidak lama setelah mereka menjelajahi rumah barunya, Jojo dan Mary ternyata saling menemukan jalan untuk bertemu satu sama lain. “Mary, kamu lihat itu? Kita sudah bebas menjelajah pepohonan luas ini”, bisik Jojo sambil bergelantungan di cabang pohon. Mary menoleh dan tersenyum penuh percaya diri,”Tentu saja, Jojo! Aku bahkan sudah mencoba memanjat pohon-pohon besar di sana”, jawab Mary dengan mata berbinar. Tim APE Guardian yang melakukan Post Release Monitoring (PRM) tersenyum melihat interaksi keduanya. Jojo dengan rambut indah berponi tampak menyembunyikan wajahnya di balik tubuh Mary. Mary, sang pemberani berdiri tegak dengan tatapan mata penuh percaya diri. Sementara itu, Bonti yang selalu penasaran mencoba meraih sesuatu di dekatnya dengan gerakan cepat, seperti anak kecil yang tak sabar bermain. Hari itu, keempatnya membawa harapan baru bagi kelestarian alam. (DIM)

TIGA ORANGUTAN LIAR PINDAH RUMAH YANG LEBIH AMAN

Rico, orangutan jantan dewasa dengan cheekpad yang tegas bersama induk dan anak orangutan bernama Siti dan Fajri sedang dalam perjalanan Bengalon ke Busang, Kalimantan Timur. Ketiganya akan ditranslokasi ke Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat. Tim APE Guardian langsung mempersiapkan kebutuhan pelepasliaran ketiganya. Perahu, logistik, dan koordinasi pun segera dilakukan, beruntung sekali komunikasi dengan camp yang ada di hulu menjadi lancar sejak adanya layanan internet satelit.

Wibawa Rico sebagai jantan dewasa terpancar dari cheekpad lebar dan tubuh kokoh berotot yang langsung terasa ketika tim mengangkat kandangnya. Kandang angkut menjadi lebih berat dari biasanya, usaha ekstra untuk membawanya ke titik pelepasliaran menjadi tantangan tersendiri untuk tim. Prihatin luar biasa dengan kondisi nya yang harus tergusur dari rumahnya. Di didi lain, orangutan Siti menunjukkan sisi keibuannya yang penuh perlindungan. Sejak awal pemindahan, ia tampak gelisah, mengawasi setiap gerakan manusia di sekitarnya dengan penuh kewaspadaan. Begitu terasa terancam, Siti mulai menggoyang-goyangkan kandang dengan keras, berusaha mengusir siapa pun yang mendekat. Lebih khawatir saat berada di perahu. Pemindahan ini memang penuh risiko, dan tim melakukan nya dengan sangat hati-hati.

Setelah tiga jam menyusuri sungai, tim tiba di titik pelepasliaran. Hutan lebat dengan pepohonan menjulang diharapkan cukup nyaman untuk ketiganya tinggal. Rico tidak membuang waktu lagi ketika kandangnya terbuka, dia dengan gesit, melesat keluar dan langsung memanjat pohon tertinggi, memamerkan ketangkasan dan kekuatannya. Dari atas dia mengamati sekeliling, memastikan bahwa tempat ini aman sebelum benar-benar beradaptasi.

Sementara Siti lebih berhati-hati. Ia terlebih dahulu mengendus udara, memastikan tidak ada ancaman, sebelum akhirnya membawa Fajri naik ke pohon besar di dekatnya. Dengan gerakan sigap, ia memilih cabang yang kuat untuk beristirahat, seakan memberi pesan bahwa di sinilah ia akan membesarkan anaknya dengan aman. Dalam hitungan menit ketiganya sudah menghilang di balik rimbanya dedaunan, kembali menjadi bagian dari alam. Hari itu, ketiganya mendapatkan kembali kebebasannya, membawa harapan baru bagi kelangsungan hidup orangutan liar di masa depan. (DIM)

TREES DAN DAUN, PINDAH HUTAN UNTUK LANJUTKAN HIDUP

Hanya sehari setelah pelepasliaran Juliana, Tim COP (Centre for Orangutan Protection) menerima kabar, ada dua orangutan liar, satu jantan dan satu betina yang akan ditranslokasi ke kawasan rilis orangutan Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat. Habitat mereka yang sebelumnya telah terkikis akibat aktivitas manusia sudah tidak layak untuk dihuni. Setelah proses evakuasi yang penuh kehati-hatian, kedua orangutan ini diserahkan kepada tim APE Guardian yang bertugas di kawasan pelepasliaran.

Untuk memudahkan penyebutan orangutan yang dimaksud, orangutan yang berjenis kelamin jantan diberi nama Daun karena terlihat lebih tenang namun tetap penuh kewaspadaan. “Kenapa kita beri nama Daun?”, tanya salah satu anggota APE Guardian sambil memperhatikan orangutan jantan tersebut. “Karena dia terlihat setenang daun yang melayang di udara, meskipun dia pasti menyimpan kekuatan besar di dalam dirinya”, jawab drh. Tetri degans senyum kecil. “Lalu bagaimana dengan Trees?”, tanya yang lain lagi. “Dia tampak seperti pohon yang kokoh dan melindungi”, sahut yang lain sambil menunjuk orangutan betina yang berada di dalam kandang yang ribut, sibuk mengusir orang-orang di dekatnya. “Semoga nama-nama ini membawa keberuntungan untuk mereka”, kata drh. Tetri yang bertugas mengawasi kondisi medis orangutan, mengakhiri diskusi dengan nada penuh harapan. Nama mereka terinspirasi dari pepohonan yang menjulang tinggi di kawasan pelepasliaran, simbol kehidupan baru yang menanti mereka.

Setelah 24 jam lebih berada di kandang selama dalam perjalanan, keduanya akhirnya kembali bebas pada tanggal 12 Januari 2025 kemarin. Di dampingi BKSDA Kalimantan Timur, proses translokasi berjalan dengan baik dan lancar walau dengan tim yang sangat minimalis. Pemindahan kandang angkut dari mobil ke dermaga dan perahu dilakukan tim kecil ini. Begitu pula saat pemindahan dari perahu ke titik rilis yang benar-benar menguras tenaga. Daun maupun Trees dengan lincah bergegas memanjat pohon setelah pintu kandang angkut dibuka. Minggu sore, dua jiwa yang sempat terancam nyawanya kini kembali ke rumah baru, hutan yang bebas dari gangguan manusia. (DIM)

ORANGUTAN JULIANA, TRANSLOKASI PERTAMA DI TAHUN 2025

Siang itu, sedapatnya sinyal, tim pelepasliaran orangutan Centre for Orangutan Protection yang sedang dalam perjalanan menuju kawasan rilis mendapat informasi ada satu orangutan liar yang akan ikut dilepasliarkan di Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat. Orangutan betina yang berhasil diselamatkan dari kerusakan dan hilangnya habitatnya ini bernama Juliana.

Berbeda dengan orangutan rehabilitasi, Juliana memiliki sifat liar orangutan sesungguhnya. Setiap kali ada orang yang mendekati kandangnya, Juliana akan menunjukkan sikap defensif, memperlihatkan gigi taringnya dan mengeluarkan suara peringatan. Juliana juga terlihat berusaha menggigiti jeruji besi kandang, hingga melukai gusi-gusinya. Kondisi yang sangat memprihatinkan dari orangutan liar yang kehilangan rumahnya.

Setelah mobil berhasil menyeberangi sungai dan melalui perkebunan kelapa sawit akhirnya tiba di desa Long Less, Busang, Kalimantan Timur. Hari sudah gelap, Tim beristirahat di camp APE Guardian COP. Keesokan harinya akan dilanjut 3 jam mengarungi sungai hingga tiba di titik pelepasliaran yang ditentukan.

Juliana menjadi orangutan translokasi pertama di tahun 2025. Tanpa menunggu, sesaat saja pintu kandang angkut diangkat, Juliana pun melesat ke pohon dengan kecepatan yang luar biasa. “Luar biasa, lihat betapa cepatnya dia memanjat!”, seru Dedi, ranger yang bertugas memonitoring orangutan dengan nada kagum. Dalam sekejam, Juliana telah mencapai pucuk pohon, seolah ingin menyapa langit biru dan merasakan angin sejuk. Bebas dari ancaman tambang dan polusi. Orangutan ini pun mengamati kegiatan kami dari atas, melakukan orientasi hingga akhirnya memutuskan arah yang diambilnya. Juliana pun menghilang di kanopi hutan yang lebat, tak ada pergerakan maupun suara darinya lagi. (DIM)

TAK KUAT KASIH PAKAN, WARGA SERAHKAN BAYI ORANGUTAN

Kamis pagi, seorang warga desa Long Lees menghampiri saya di jalan. Pak Kun dengan ekspresi ragu bercampur takut memberitahu saya bahwa dirinya sedang memelihara bayi orangutan jantan. Pak Kun mengatakan bayi orangutan ini ditemukan oleh anjing milik warga tanpa ibunya di tengah kebun sawit milik warga. Warga mendengar, menghampiri, dan menemukan bayi tersebut. Pak Kun yang waktu itu juga berada di sana diminta warga untuk memeliharanya. Alasan Pak Kun dan keluarga menyerahkan karena biaya pakan yang dikeluarkan begitu besar setiap bulannya. Selama 6 bulan memelihara, Pak Kun sudah mengeluarkan banyak uang untuk membeli susu dan buah-buahan. Hal ini membuat Pak Kun berencana memberikan orangutan tersebut kepada keluarganya di Samarinda, namun anak perempuannya yang kebetulan sering melakukan kegiatan natal bersama saya ini menyarankan orangutan diserahkan kepada COP saja.

Sesampai di rumahnya, saya menyaksikan bayi orangutan di dalam kandang kecil yang terlihat murung dengan mata sayunya. Tidak seperti orangutan lain yang seharusnya aktif di pagi hari. Melihat kondisi ini, saya menggendong bayi dan mengecek kondisinya. Tubuh kecilnya dipenuhi luka-luka akibat tantrum dalam kandang tanpa pernah diobati selama pemeliharaan ilegal itu. Genggamannya yang lemah dan tidak kuat menyakinkan saya bahwa bayi orangutan ini lagi sedang sakit. Keluarga Pak Kun dan warga malah menganggap bayi orangutan tersebut lagi mengantuk karena kenyang setelah meminum susu kaleng dan susu krimer yang diberikan.

Dari evaluasi keseluruhan kondisi orangutan kecil ini menderita diare karena pakan yang tidak sesuai membuat bayi orangutan tersebut sakit hingga harus diberikan susu yang sesuai ditambah cairan oralit agar tidak dehidrasi. Pemberian daun sebagai alas tidur dan selimut sebagai penghangat yang bisa membuatnya nyaman. Pintarnya lagi, ketika selimut diberikan, orangutan ini langsung menyelimuti seluruh tubuhnya. Selanjutnya ketika sore hari, dedaunan yang diberikan langsung ditumpuk menyerupai sarang di dalam kandang.

Keesokan paginya, BKSDA Kaltim SKW 1 bersama tim APE Crusader COP memproses penyerahan satwa liar dilindungi ini. Penyerahan berjalan dengan baik tanpa ada gangguan. Bayi orangutan telah tertangani dokter hewan dan dibawa ke pusat rehabilitasi BORA di Berau yang berjarak 10 jam mengemudi. “Dia akan menjalani perawatan dan pemeriksaan intensif. Masa karantina akan memakan waktu 3 bulan. Doakan semoga bayi orangutan ini bertahan dan mendapatkan kesempatan keduanya untuk hidup lebih baik lagi”, ujar Fhajrul Karim, tim APE Guardian. (JUN)

CATATAN AKHIR TAHUN 2024 COP

Di penghujung tahun ini, Daniek Hendarto, direktur Centre for Orangutan Protection merefleksikan setahun berjalan dengan segala tantangannya dalam mendukung dan melakukan program konservasi alam di Indonesia. Bekerja sama dengan multi pihak menjadikan COP melebarkan sayap bekerja di pulau Kalimantan, Sumatra, dan Jawa. Tentunya luasan lokasi merupakan bentuk sumbangsih yang bisa dilakukan COP bersama pemerintah dan stakeholder lainnya untuk mendukung program konservasi alam di Indonesia.

Ada 3 tim di Sumatra dengan 1 pusat rehabilitasi, 3 tim di Kalimantan dengan 1 pusat rehabilitasi, 3 pulau pra pelepasliaran dan 1 kawasan rilis orangutannya, serta 1 tim di Jawa menjadikan COP sebagai organisasi lokal asli Indonesia yang bekerja untuk 3 spesies orangutan yang ada di dunia, yaitu Orangutan Kalimantan, Orangutan Sumatra, dan Orangutan Tapanuli. COP pun menyadari tongkat estafet konservasi tak hanya ada di tangan yang sedang bekerja saat ini, tetapi generasi penerus alpha, betha bahkan gamma dan seterusnya nanti. Edukasi dari satu sekolah ke sekolah lain, dari satu komunitas ke komunitas lainnya mulai dari penyelamatan satwa, penegakkan hukum hingga dunia maya (cyber space) pun tak luput dari kinerja COP hingga 2024 berakhir. Menghidupkan kembali event Sound For Orangutan yaitu konser musik tahunan yang sempat terhenti karena pandemi COVID 19 juga berhasil menyalakan semangat relawan orangutan yang disebut Orangufriends. Dalam tahun ini mereka juga berhasil menjalankan pameran foto di kota Samarinda, Kalimantan Timur dan kota Medan, Sumatra Utara. Sebuah usaha meluaskan jangkauan pemahaman kerja konservasi orangutan yang dilakukan COP.

Bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur dan Balai Besar Penelitian Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa (B2P2EHD) menjalankan pusat rehabilitasi orangutan di KHDTK (Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus) Labanan di Berau, Kaltim. Sepanjang tahun 2024, ada 21 individu orangutan yang merupakan korban interaksi negatif dan serahan masyarakat. Orangutan yang diselamatkan ini mendapatkan perawatan sebelum dilepasliarkan kembali di alam dengan melalui pemeriksaan kesehatan yang ketat dari tim medis di BORA (Borneo Orangutan Rescue Alliance) di kampung Tasuk dan pengamatan perilaku oleh biologist dan antropologist COP. Ada 10 indivdu orangutan dilepasliarkan pasca rehabilitasi maupun orangutan yang mendapatkan perawatan dengan kasus tertentu seperti luka dan malnutrisi. Pelepasliaran ini telah melalui serangkaian prosedur yang telah ditetapkan oleh pemerintah dan lokasi pelepasliaran yang telah mendapat persetujuan Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup dengan telah dilakukan serangkaian survey lapangan dan kajian ilmiah.

Bersama Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara mengelola pusat rehabilitasi orangutan di Sumatra Utara. Ada 5 individu orangutan dengan latar belakang penyelamatan dari perdagngan satwa liar ataupun serahan masyarakat yang sedang menjalani rehabilitasi di Sumatran Rescue Alliance yang dijalankan bersama Orangutan Information Center (OIC). Orangutan-orangutan menjalani karantina dan sekolah hutan sembari menunggu program lanjutan sekolah hutan di kawasan soft rilis orangutan yang sedang dibangun di Suaka Margasatwa Siranggas yang berada di Pakpak Bharat. Kandang orangutan telah berdiri dan awal tahun 2025 pembangunan fasilitas pendukungnya dalam pembangunan.

Penegakan hukum kejahatan satwa liar berhasil menyelesaikan 10 kasus di pulau Sumatra dengan 100% masuk ranah pengadilan. 17 orang terdakwa dengan barang bukti didominasi bagian-bagian satwa liar dilindungi yang sudah mati. Sayang putusan tertinggi masih di 1 tahun 6 bulan penjara.

Tahun 2024 adalah tahun ketiga Centre for Orangutan Protection bekerja untuk konservasi Harimau Sumatera. Penguatan masyarakat lokal menjadi tim mitigasi konflik harimau yang dibentuk bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar dengan nama PAGARI atau Patroli Anak Nagari kini berjumlah 3. Ada 25 orang yang secara berkala melakukan patroli, mitigasi konflik satwa hingga edukasi warga di sekitar habitat. Tak sebatas itu, COP juga berperan aktif dalam pelepasliaran kembali 1 individu Harimau Sumatra berjenis kelamin betina bernama Puti Malabin yang merupakan korban interaksi negatif yang berhasil diselamatkan. Kerja bersama dengan berbagai pihak menjadi seni di dunia konservasi.

“COP menutup tahun 2024 dengan membuka lembaran baru tahun 2025, semoga satwa liar mendapatkan kesempatan keduanya untuk hidup nyaman di rumah sesungguhnya”. (NIK)