PERJUMPAAN DENGAN MARNI DAN SIGIT, ORANGUTAN TRANSLOKASI JUNI 2023

Selalu ada hal tak terduga setiap perjalanan ke hutan pelepasliaran orangutan di kawasan Busang, Kalimantan Timur. Tak terkecuali di hari terakhir kegiatan monitoring pasca translokasi orangutan Bono. Dua minggu ini, tim APE Guardian menyisir titik lokasi pelepasliaran Bono. Usai dibukanya pintu kandang menggunakan katrol, Bono yang sedari di kandang angkut sudah mengeluarkan suara amarahnya dan keinginan keluar kandang langsung memanjat pohon terdekat dan berhenti di percabangan. Kembali mengeluarkan suara mengusir, hingga matahari semakin condong ke barat.

Keesokan harinya, Bono pun sudah menghilang ke Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat lebih kedalam lagi. Tak terbaca lagi keberadaannya. Tim APE Guardian pun melakukan patroli di kawasan yang telah menjadi rumah untuk 14 orangutan rehabilitasi maupun translokasi korban konflik. Tepat di hari keempat belas, sebelum tim kembali ke desa Longless, tim bertemu orangutan Sigit dan Marni yang merupakan anak dan induk orangutan liar yang ditranslokasi di kawasan ini pada 26 Juni 2023 oleh BKSDA SKW II Tenggarong.

“Senang sekali, kedua orangutan ini berhasil bertahan hidup di rumah barunya. Keduanya sedang bersantai di percabangan. Keduanya terlihat sehat dan dapat beraktivitas dengan normal. Tim juga menemukan dua sarang orangutan kelas 3 di sekitarnya. Jaga Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat ya”. (AAN)

ORANGUTAN BONO AKAN MEMULAI PETUALANGANNYA DI HUTAN LINDUNG GUNUNG BATU MESANGAT

Bono, begitu kami menyebutkan orangutan yang akan ditranslokasi hari ini. Orangutan liar ini berasal dari Sangatta Utara, Kalimantan Timur. Beratnya yang 80 kilogram tentu saja lebih berat dibandingkan tubuhku. Posturnya sendiri sudah pasti lebih mengerikan. Tak seorang pun berani mendekatinya. Hanya tim medis saja yang sesekali mengintip untuk mengecek kondisinya. Bono selalu waspada.

Pagi ini, matahari tak malu-malu lagi muncul. “Perjalanan air akan ditempuh kurang lebih tiga jam. Kondisi air agak surut. Perlindungan diri dari sengatan matahari tentu saja jadi hal yang wajib selain pelampung. Tidur, menghemat tenaga untuk mengangkat kandang angkut berisi Bono, itu yang akan dilakukan tim, tentu saja selain pengemudi perahu”, ujar Ferryandi, anggota tim APE Guardian. Ini adalah tim yang bertanggung jawab pada proses pelepasliaran orangutan di Busang. Selain menangani konflik satwa liar yang mungkin muncul pasca pelepasliaran, tim ini juga melebur tinggal di masyarakat.

Kali ini, tim memutuskan untuk menggunakan katrol untuk membuka pintu kandang Bono. Pertimbangan ini berdasarkan pengamatan selama diperjalanan dan latar belakang Bono sendiri yang memang masih liar. Tim pun bersiap melarikan diri jika Bono bereaksi agresif seperti mengejar manusia. Syukurlah, ketika pintu terbuka, Bono secara alamiah memanjat pohon dan berpindah ke pohon yang lebih besar dan rimbun. Berhenti di percabangan dan mengusir tim.

Sebelum hari semakin senja, BKSDA SKW II Tenggarong dan sebagian tim kembali menyusuri sungai Menyuk dan kembali ke sungai Kelinjau untuk bermalam di desa Longless. Sementara tim APE Guardian yang melakukan monitoring pasca translokasi berakhir pada saat Bono beristirahat di atas pohon kayu Ulin dan hari semakin gelap. Keesokan harinya, tim memonitor kembali dan rupanya Bono sudah menjelajah jauh ke dalam hutan. “Semoga hutan ini menjadi rumah barumu ya Bono”. (PEY)

BKSDA KALTIM TRANSLOKASI ORANGUTAN DI HUTAN LINDUNG GUNUNG BATU MESANGAT

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur berhasil melakukan translokasi satu individu orangutan jantan berusia 17-19 tahun di Kawasan Hutan Lindung Gunung Mesangat, Kecamatan Busang, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur pada hari Jumat, 16 Juni 2023. Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) dari BKSDA Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II BKSDA Kaltim menerima laporan dari masyarakat terkait keberadaan orangutan yang sering muncul di wilayah Simpang Perdau, Bengalon, Kutai Timur dan berpotensi akan terjadi interaksi negatif. Untuk itu, BKSDA SKW II BKSDA Kaltim melakukan tindakan penyelamatan dan melanjutkan ke translokasi orangutan tersebut ke hutan yang lebih baik dan aman.

“Tim WRU SKW 2 Tenggarong merupakan tim yang dibentuk BKSDA Kaltim untuk merespon laporan warga untuk melakukan upaya tindakan preventif akan potensi interaksi negatif manusia dan satwa liar. Tim WRU ini berkeliling dengan membawa perlengkapan standar penyelamatan satwa liar dalam menjalankan tugasnya. TIndakan penyelamatan orangutan ini bentuk penilaian tim WRU terkait potensi interaksi negatif sehingga diperlukan upaya translokasi”, M. Ari Wibawanto, S. Hut., M.Sc, Kepala BKSDA Kaltim.

Tim WRU dibantu dengan dokter hewan Centre dor Orangutan Protection (COP) melakukan cek kondisi fisik satwa dan dinyatakan dalam kondisi baik tidak ada luka sehingga diputuskan bisa dilakukan upaya translokasi langsung. Orangutan dibawa menuju ke Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat dengan menempuh perjalanan darat selama 6 jam dan dilanjutkan dengan jalur air selama 3 jam. Lokasi Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat adalah lokasi yang relatif aman karena ada COP yang menjadi salah satu mitra dari BKSDA Kaltim terkait pelepasliaran orangutan dan patroli kawasan hutan ini.

“Berharap di lokasi baru, orangutan jantan yang ditranslokasi ini bisa menemukan pasangannya dan berkembangbiak alami. Di lokasi ini sebelumnya juga dilepasliarkan orangutan betina hasil rehabilitasi COP. Faktor keamanan lokasi juga cukup baik karena ada warga masyarakat yang dilatih menjadi ranger (penjaga) hutan yang akan mendukung pengamanan paska proses translokasi orangutan tersebut. Selain itu menghimbau kepada warga masyarakat jika bertemu dengan orangutan atau satwa liar lainnya tidak perlu melakukan tindakan berlebihan seperti melukai atau memburunya”, M. Ari Wibawanto, S. Hut., M.Sc, Kepala BKSDA Kaltim.

PERTAMA KALI NAIK KETINTING

Kalimantan dikenal dengan sungai yang luas dan perahu sebagai transportasinya. Pernah dengan Sungai Kapuas? Ya… itu sungai paling panjang yang ada di Indonesia yang diketahui panjangnya sampai 1.143 kilometer dan ada di Kalimantan. Karena dimana-mana sungai, maka transportasi yang seringkali digunakan masyarakat adalah perahu yang disebut ‘ketinting’. Ketinting adalah perahu kayu dengan  ukuran kurang lebih panjangnya 11 meter dan lebar 60 sentimeter dengan mesin motor yang dipasang di buntut perahu, juga poros panjang dengan kipas yang bentuk dan fungsinya mirip seperti ekor dan sirip ikan untuk menggerakkan perahu. Ketinting ini dikemudikan seorang motoris yang terlatih untuk mengatur gas dari mesin motor dan menaik-turunkan serta mengarahkan poros panjang dari perahu. Satu perahu bisa dinaiki oleh 5-6 orang bersama dengan motoris dan disesuaikan dengan bawaan yang diangkut di atas perahu. Untuk keamanan, perlu dikira-kira banyaknya barang yang akan dibawa dengan pertimbangan jumlah penumpang.

“Hari itu, 12 Maret 2023 saya pertama kali naik perahu ketinting dengan tujuan ke Pos Monitoring Pulau Busang Hagar alias pergi mudik untuk ikut kegiatan pelatihan rescue orangutan sebagai bagian dari tim APE Guardian COP”, cerita Amin Indra Wahyuni, biologist Centre for Orangutan Protection. Mudik memiliki arti pergi ke hulu, sementara ke mudik disebut dengan hilir. Ketinting APE Guardian dengan motoris Tamen Lukas menyusuri Sungai Atan, Sungai Kelinjau, Sungai Penyit dan Sungai Menyuk. “Perjalanan menyusuri keempat sungai ini memakan waktu tiga jam. Sepanjang itu pula, saya disuguhi pemandangan yang baru pertama kali saya lihat. Burung air yang terbang ke sana kemari meminta difoto, mulai dari Kuntul perak. Trinil pantai, dan yang mengejutkan saya juga bertemu Kangkareng dalam perjalan pertama kali naik ketinting!”, tambah Amin penuh semangat. 

Vegetasi yang dilewati juga begitu variatif, kadang masih hutan dengan tumbuhannya dan kadang juga melewati ladang dengan tanamannya dan pondok-pondok milik orang yang berladang di tempat itu. “Orang-orang di sini memang berladang berpindah, saat merasa lahan sudah tidak produktif mereka berpindah tempat untuk membuat ladang baru”, jelas Galih Norma Ramadhan, kapten APE Guardian. Lantas bagaimana dengan ladang yang ditinggal, tanya saya. “Ladang ya ditinggal begitu saja. Nanti akan tumbuh ilalang, tumbuhan liar lain, pohon. Mereka tidak pakai pupuk”. Sangat masuk akal, saya pernah belajar bahwa tanah yang baru dibuka itu memanglah subur, bahkan ada cara alami mengembalikan lapisan atas tanah yang rusak yaitu membiarkan ilalang tumbuh di atasnya.

Air sungai membentuk gelombang setelah dibelah perahu yang kami naiki. Mesin motor memang sebegitu kuatnya melawan arus sungai. Kadang-kadang saya merasa tenang, kadang juga merasa takut karena jujur saja saya tidak bisa berenang, oleh karena itu saya kenakan pelampung untuk keamanan. Sampai setengah perjalanan, kami menabrak sebuah kayu yang tidak tampak wujudnya dari permukaan air. Saya reflek memegang kayu yang ada di lambung perahu sambil menyebut nama Tuhan. Penumpang lain tampak santai saja, terutama motorisnya yang masih necis memakai kacamata hitam dan memandang jauh melihat sungai di depan yang seperti jalan raya tanpa rabu-rabu. Saya saja sepertinya yang merasa jantungan.

Perjalanan berlanjut. Saya melihat pemandangan baru. Jika diperhatikan, pinggiran sungai yang bertabrakan dengan dinding tebing membentuk sebuah pola bergaris-garis, seperti seakan-akan sungai ini dibangun dengan semen. Batuannya terbentuk berpola mungkin karena arus sungai setiap hari dan saya terkagum memikirkan berapa lama pola itu bisa muncul di atas batu yang dilawan air. Ketika perjalanan hampir selesai, sekitar 15-20 menit lagi, perahu kami menyenggol kayu betulan yang terlihat di atas permukaan air. Motoris sudah mengambil arah dari kanan dan agak ke pinggir untuk menghindari kayu itu tapi sayangnya tetap tertabrak. Perahu terguncang, berbelok ke kiri hampir memutar, motoris kami sudah tidak lagi di perahu, saya tiak sempat lihat apakah terpelanting atau terlompat menghindari poros panjang. Tau-tau sudah di air dan kacamata hitam kerennya sudah terlepas. Kami yang di atas perahu cukup panik, apalagi saya. Galih reflek bangun dan mencoba memegangi poros, mematikan gas. Randy berusaha memegangi kayu yang ada di depan mata supaya perahu bertahan dan tidak ikut bergerak bersama arus sungai. Saya ber-dzikir sambil ikut mencari kayu yang bisa digapai juga. Ulang Njau setelah sadar keadaan perahu, lari ke belakang untuk mengambil alih kemudi. Perahu kembali digerakkan ke pinggir dan kami selamat. Setelah perahu dapat dikendalikan, semua menghela napas, juga tertawa tipis-tipis, kecuali saya. Saya masih gemetaran dengan kejadian pertama kali naik ketinting ini. Perjalanan kami berlanjut sampai ke hulu, bertemu tim APE Guardian yang lain dengan jamuan olahan ikan segar. (MIN)

SCHOOL VISIT BATTLE: INTERNATIONAL PRE SCHOOL AND SDN 006 BUSANG

Tim APE Guardian berencana untuk kunjungan ke SDN 006 Busang di desa paling hulu, Desa Mekarbaru sekaligus menyampaikan kegiatan pelepasliaran orangutan ke kantor desa tersebut. Perjalanan panjang melewati perkebunan sawit, hutan tanaman industri, hingga melewati perkebunan kelapa sawit kurang lebih 90 menit pun dilalui. Tentu saja jalan yang dilalui tak selalu rata, kadang bergelombang, berkerikil, berdebu, dan yang paling melelahkan adalah yang becek dengan tanah liat yang lengket hingga saya sebagai penumpang kendaraan roda dua harus turun dan berjalan kaki.

Bertemu Pak Yusman, wali kelas 4, satu-satunya guru yang belum pulang dan bersedia diskusi mengenai tujuan APE Guardian COP melaksanakan sosialisasi tentang orangutan dan habitatnya sebagai bagian dari kegiatan belajar. Dari sini, tim melanjutkan diskusi di rumah Pak Idin, salah satu wali kelas yang dituakan di sekolah itu. Dan berakhir di desa Long Nyelong dimana Kepala Sekolah SDN 006 Busang tinggal untuk mendapatkan izin.

Tibalah hari “Mengenal Satwa Liar Dilindungi di Indonesia khususnya Orangutan” bersama tim APE Guardian. Anak-anak tampak malu namun bersemangat. Ada siswa yang berani menjawab pertanyaan, berani maju untuk menunjukkan di mana sarang orangutan, juga semangat saat menjawab yel-yel ‘Semangat pagi, Orangutan!’.

“Antusiasme siswa-siswi SDN 006 Busang, Kaltim tidak kalah ramainya dengan respon murid-murid di International School Sophos Indonesia yang berada di Bintaro, Tanggerang Selatan tahun 2022, school visit yang dilakukan Orangufriends Jakarta. Perbedaan menonjol terlihat dari ketersediaan fasilitas jalan menuju ke sekolahan, listrik, pengetahuan yang mudah diakses melalui internet, sikap malu-malu siswa dan juga keterbatasan tenaga pengajar”, cerita Amin Wahyuni yang juga mengikuti kedua lokasi school visit Centre for Orangutan Protection (COP). Kondisi ini menjadi motivasi tersendiri bagi tim, untuk mendukung kegiatan Merdeka Belajar yang cukup kompleks dimana tak hanya menuntut penguasaan materi namun penyampaian yang meliputi komunikasi, sikap, percaya diri, dan pengalaman baru. “Segala usaha konservasi satwa liar dan usaha mencerdaskan anak bangsa untuk masa depan yang lebih, memang tidak selalu mudah. Tapi itu bisa dilakukan”, tambahnya lagi. (MIN)

TIGA ORANGUTAN KEMBALI KE RUMAH BARUNYA DI BUSANG

Rabu, 24 Mei 2023 menjadi hari kembalinya orangutan Jasmine, Syair, dan orangutan eks-rehabilitasi Memo ke Hutan Lindung Batu Mesangat kecamatan Busang, Kalimantan Timur. Orangutan tiba di Desa Longlees pada petang hari, Selasa (23/5) bersama tim APE Crusader, APE Defender, KPH Kelinjau, dan BKSDA Kaltim. Kondisi orangutan dan tim sehat wal’afiat setelah menempuh perjalanan panjang selama sepuluh jam dari klinik dan karantina BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance). Besok pagi tim akan melanjutkan jalur air, malam ini waktunya tidur.

“Tiga jam perjalanan naik ketinting ke Pos Pantau Busang Hagar terasa mengharukan bagi saya pribadi. Ini adalah kali pertama saya terlibat dalam proses pelepasliaran orangutan, ada rasa bangga, lelah, dan khawatir dengan orangutan yang akan dilepaskan”, cerita Amin Indra Wahyuni, anggota tim APE Guardian COP. Jalur darat selanjutnya menuju titik pelepasliaran cukup licin dan berlumpur karena hujan, tim pemikul kandang berulang kali berganti posisi dan personil. Tanpa membawa beban saja jalan terseok-seok apalagi membawa kandang berisi orangutan.

Satu jam lebih perjalanan penuh keringat hingga sampai Hutan Lindung. Tepat di depan akar liana, posisi pintu kandang diletakkan untuk mempermudah orangutan langsung memanjat saat pintu kandang angkut dibuka. Benar saja, orangutan Jasmin dan Syair pun langsung memegang liana dan memakan buah-buahan yang sengaja diletakkan di situ. Sementara orangutan bernama Memo yang dilepaskan tak jauh dari  induk dan anak tersebut, tanpa ba-bi-bu langsung naik ke atas pohon. Rilis selesai, selanjutnya tim APE Guardian melanjutkan Post Release Monitoring (PRM) orangutan.

PRM dilakukan selama tiga bulan ke depan dan akan dipantau terus kondisi orangutan yang meliputi kesehatan, kemampuan mencari makan, dan lokasi pergerakannya. Orangutan Jasmine dan Syair terlihat lebih dahulu dapat beradaptasi dibandingkan Memo, karena Jasmine dan Syair memang orangutan liar yang dipindahkan (tanslokasi). Perlu waktu yang tidak singkat untuk dapat mengantarkan orangutan kembali ke hutan. Usaha luar biasa dilakukan dan banyak pengorbanan mulai dari tenaga, biaya, waktu dan lain-lain. Semoga Jamine, Syair, dan Memo utamanya dapat lekas beradaptasi, tumbuh, dan berkembang di rumah yang seharusnya. (MIN)

PERJUMPAAN TAK TERENCANA DENGAN ORANGUTAN NIGEL

Memasuki waktu 3 jam perjalanan air menuju kawasan pelepasliaran orangutan di Busang, Kalimantan Timur, Tim Centre for Orangutan (COP) dikejutkan gerakan besar di atas pohon yang menjorok ke sungai. Tak lama kemudian terlihat orangutan jantan dengen wajah yang sangat mudah dikenali. Dia adalah Nigel.

Tim APE Guardian COP mengenalinya dengan keberadaannya yang sudah seminggu ini di daerah tersebut. “Perjumpaan ini adalah pengulangan di bulan Maret 2023 yang lalu. Nigel terlihat sedang makan buah ficus spp. Tubuhnya terlihat lebih proporsional. Laporan konflik dengan manusia pun tidak sesering ketika dia baru saja dilepasliarkan pada bulan Juni 2022 yang lalu”, jelas Galih Norma Ramadhan, kapten APE Guardian COP yang bertanggung jawab penuh pada konflik orangutan eks-rehabilitasi COP yang telah hadir dan membaur di Long less selama dua tahun terakhir ini.

Seperti yang diceritakan sebelumnya, orangutan Nigel sempat memporak-porandakan pondok orang yang mencari emas. “Untungnya tidak ada korban. Lama tak pernah bertemu langsung dengan Nigel baru kali ini berkesempatan berjumpa. Senang sekali dan takjub”, ujar Daniek Hendarto, direktur Centre for Orangutan Protection dalam perjalanannya melepasliarkan orangutan ke-8 dalam kurun waktu dua tahun ini di Hutan Lindung Batu Mesangat, Kaltim. “Terimakasih Nigel, kamu baik-baik saja”, gumamnya lagi.

APE GUARDIAN MEMPERSIAPKAN KEDATANGAN 3 ORANGUTAN YANG AKAN DILEPASLIARKAN

Pelepasliaran orangutan kembali ke habitatnya merupakan tujuan akhir dari program rehabilitasi. Dalam kegiatan pelepasliaran perlu dilakukan persiapan yang baik, salah satunya adalah penentuan titik lokasi pelepasliaran. Kawasan Hutan Lindung Batu Mesangat telah menjadi lokasi pelepasliaran orangutan oleh Centre for Orangutan Protection sejak tahun 2022. Ada lima individu orangutan yang telah dilepasliarkan. Tiga orangutan jantan dewasa dan dua individu betina. 

Pertengahan tahun 2023 ini, BKSDA Kaltim bersama COP akan kembali pelepasliaran dan translokasi orangutan. Tim APE Guardian COP pun mulai mempersiapkan jalur yang akan dilalui. Survei jalur menuju lokasi pelepasliaran menghasilkan skenario-skenario berikut resiko terburuk yang mungkin terjadi. Pencarian titik ini mempertimbangkan keamanan lokasi dari aktivitas manusia di sekitar kawasan, evaluasi dari kegiatan pelepasliaran sebelumnya dan mitigasi konflik. Akses pada pelaksanaan kegiatan rilis nantinya juga tak kalah bobot dari penentuan titik. 

Sayangnya, survei harus mengalah pada kondisi cuaca yang kurang bagus. Hampir setiap malam hujan, pagi hari mendung serta gerimis. Matahari baru muncul sekitar pukul 10.00 atau 11.00 WITA. Hal ini membuat pekerjaan membuat jalur rilis tertunda dan sulit. Tapi tidak cukup menyurutkan semangat tim yang terbakar untuk menyambut kedatangan tiga orangutan yang akan dilepasliarkan. 

Terima kasih atas dukungan yang diberikan pada COP. Semangat di dunia maya pun mampu menguatkan tim yang berada di pedalaman Kalimantan dan tanpa sinyal telepon apalagi internet. Semoga semesta mendukung niat baik ini hingga waktu pelepasliaran tiba. (MIN)

ARSITEK ALAM YANG HEBAT, ORANGUTAN

Hewan yang membuat sarang di pohon itu tidak hanya burung. Orangutan juga membuat sarang di atas pohon dan mereka adalah arsitek alam yang hebat. Mereka tidak sembarang menumpuk daun dan ranting untuk membangun tempat tidur yang nyaman. Pertama-tama, mereka akan mencari batang pohon yang cukup kooh sebagai lokasi membuat sarang. Kemudian mereka akan menekuk dan menganyam ranting-ranting yang kuat untuk bagian dasar sarang mereka. Lalu mereka akan membuat lapisan kedua sebagai alas tidur yang lebih empuk. Lapisan tersebut terbuat dari tumpukan daun dan ranting-ranting yang lebih kecil. Hebat ya? Eits, tidak hanya sampai di situ. Mereka bisa lebih kreatif lagi dalam membangun sarang. Terkadang mereka membuat selimut dan bantal dari daun agar tidur lebih nyaman. Ada juga orangutan yang melengkapi sarangnya dengan atap dari daun untuk menghalau hujan atau sinar matahari.

Pada awal bulan April lalu, COP Borneo mengundang FORINA (Forum Orangutan Indonesia) untuk menghitung populasi orangutan melalui sarang. Seluruh Biologist COP termasuk Foresternya mempraktekkan metode tersebut di kawasan Hutan Lindung Sungai Lesan (HLSL) yang menjadi habitat orangutan sekaligus menjadi kawasan rilis beberapa orangutan rehabilitasi BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance). Jarak dan koordinat pendataan ditentukan melalui perhitungan dan aplikasi agar survei lebih efektif dan hasilnya lebih akurat. Selain belajar melakukan pendataan sarang dengan metode yang disebut line transect, tim juga belajar mendata pohon pakan di sekitar sarang yang ditemui. Kemampuan untuk mendata sarang dan buah pakan ini dibutuhkan untuk memperkirakan kepadatan populasi orangutan di suatu kawasan dan mengukur apakah kawasan tersebut dapat dijadikan lokasi pelepasliaran orangutan dari pusat rehabilitasi BORA.

Di sekolah hutan BORA, saat orangutan membuat sarang menjadi salah satu aktivitas yang harus dicatat. Kemampuan membuat sarang sangat diperlukan untuk orangutan bertahan hidup di hutan sehingga menjadi salah satu indikator penentu apakah orangutan sudah siap dilepasliarkan. Ada beberapa murid sekolah hutan yang telah membuat sarang seperti Devi, Bagus, Happi, Bonti bahkan Septi. Walaupun ada yang membuat sarang di tanah bukan di atas pohon sebagaimana mestinya. Perkembangan ini sangatlah baik dan menggembirakan. Sama seperti keberhasilan anak manusia melangkah untuk pertama kalinya saat belajar jalan. Seiring waktu dan semakin sering berlatih, orangutan akan semakin pintar. Semoga kemampuat siswa sekolah hutan BORA terus berkembang! (NAD)

HERCULES MEMANGGIL TIM APE DEFENDER

Berlalu sudah tiga hari setelah mendapatkan laporan orangutan Hercules berkunjung ke pondok salah seorang warga pada tanggal 30 Januari 2023 berlokasi di muara Sungai Menyuk. Kunjungan Hercules ke pondok warga diketahui setelah warga itu membuka pintu pondoknya pada pukul 13.30 WITA. Warga tersebut pun langsung melapor ke Pos Monitoring Busang Hagar. Tim monitoring langsung mengecek dan melaporkan lagi ke tim yang berada di kampung. Setelah mendapat kabar ini, tim langsung berangkat pada sore harinya. 

Pada tanggal 31 Januari, tim berencana melakukan penyelamatan orangutan Hercules tanpa bius namun setelah dicek di lokasi, Hercules tidak ditemukan lagi. Setelah beberapa saat, Hercules datang lagi. Tim APE Guardian akhirnya meminta bantuan tim APE Defender untuk menangani Hercules. 

1 Februari sekitar pukul 08.37 WITA, tim APE Defender yang terdiri satu dokter hewan dan satu perawat satwa bersama tim APE Guardian menuju lokasi konflik. Setelah melakukan pembiusan ke-2 akhirnya Hercules dapat diamankan dan dimasukkan ke kandang angkut pada pukul 13.00 WITA. Hercules pun diamankan di Pos Monitoring karena berdasarkan keterangan tim medis selain takut kelelahan juga waktu dan cuaca tidak memungkinkan untuk dilepasliarkan kembali. Akhirnya tim sepakat untuk melepasliarkan Hercules kembali pada esok harinya.

Hari ke-2 Februari sekitar pukul 10.00 WITA setelah briefing singkat untuk pelepasliaran kembali orangutan Hercules. Pelepasliaran ini berlokasi di sisi kanan arah Sungai Pura atau lebih tepatnya berseberangan dengan anak Sungai Buloq. Pelepasliaran ini akhirnya selesai dilakukan dengan kondisi Hercules tanpa perlawanan saat pintu kandang angkut dibuka dari jarak jauh. Hercules justru memilih pergi masuk ke arah dalam hutan. TIm pun segera mengambil kandang angkut dan balik ke pos dengan selamat. (RAN)