Orangufriends

BATALKAN LOMBA BERBURU SATWA LIAR DI PADANG DAN BANDUNG

Jakarta – Belum lepas dari ingatan kita akan kejahatan terhadap satwa liar menggunakan senapan angin, beberapa kota di Indonesia malah mengadakan lomba berburu satwa liar kembali dengan senapan angin. Kegiatan lomba berburu satwa liar digelar di kota Padang Pariaman, Sumatera Barat dan dusun Cikoranji, Bandung, Jawa Barat. Penggiat olahraga berburu memasang sejumlah publikasi perihal acara ini. Ajakan pendaftaran dan sejumlah hadiah ada dalam acara berburu ini.

“Sangat disayangkan kenapa lomba berburu satwa liar dengan senapan angin kembali digelar dan kali ini akan dilakukan di Padang pariaman, Sumatera Barat dan dusun Cikoranji, Bandung, Jawa Barat. Dimana kejadian demi kejadian penyalahgunaan senapan angin terhadap satwa liar di Indonesia smasih sering terjadi dan ini malah membuat acara berburu dengan sejumlah hadiah dengan dalih mengurangi hama tupai tentunya ini sangat miris sekali.”, Hery Susanto, kordinator Anti Wildlife Crime COP.

Peraturan Kapolri No. 8/2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api untuk Kepentingan Olahraga. Sudah jelas diatur dimana pistol angin (air Pistol) dan senapan angin (air Rifle) digunakan untuk kepentingan olahraga menembak sasaran atau target. Jadi sudah jelas dalam pengaturan ini tentang penggunaan senapan angin dan bukan untuk berburu bebas seperti agenda lomba berburu yang akan dilakukan di kota Padang Pariaman dan Bandung. Selain itu Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengeluarkan surat dengan Nomor S.31/PHLHK/PPH/GKM.2/3/2018 tertanggal 16 Maret 2018 perihal Penggunaan Senapan Angin dalam Tindak Pidana Kehutanan. Jadi sudah jelas, Menembak Satwa dengan senapan angin di luar arena menembak adalah melanggar aturan hukum.

“Para panitia dan peserta berburu satwa ini jelas akan melanggar Peraturan Kapolri No 8/2012 dan kami, Centre for Orangutan Protection (COP) menolak lomba berburu yang dilakukan di kota Padang Pariaman dan Bandung. Kami memohon pihak Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melakukan tindakan tegas untuk menyetop rencana lomba berburu ini.”, Hery Susanto, kordinator Anti Wildlife Crime COP.

Untuk informasi dan wawancara bisa menghubungi:

Hery Susanto
kordinator Anti Wildlife Crime COP
HP: 081284834363
email: info@orangutanprotection.com

STOP TOURISM HUNTING IN PADANG PARIAMAN!

The Center for Orangutan Protection again calls all Orangufriends wherever you are to stop “Tourism Hunting” in Padang Pariaman, West Sumatra.

Again and again! Hunting events with air rifles aimed at squirrels and other pests (excluding protected animals) will be held at SMK 1 Aur Malintang in Padang Pariaman. The event which is organized by Pariaman Sniper Club in Nagari III Koto Aur Malintang Selatan sub-district IV Koto Aur Malintang offers door prizes in the form of LED TVs, Refrigerators, PCP Rifles and other attractive prizes. With only Rp. 20,000.00 registration fee per person, that includes lunch and 1 door prize coupon.
“COP refused and asked the shooting committee, South Malintang Nagari III Koto Aur, to cancel this event!”, Said Hery Susanto, coordinator of COP Anti Wildlife Crime.

Perbakin Pariaman city did not heed the Perbakin letter number 257 / SEKJEN / PB / III / 2018 for all Perbakin administrators that contain not to shoot animals with air rifles.
Pariaman Club Sniper also plans to violate Head of Police Regulation No. 8/2012 concerning Supervision and Control of Firearms for Sport Interest.

We request that the Director General of the Ministry of Environment and Forestry who has issued letter S.31 / PHLHK / PPH / GKM.2 / 3/2018 to enforce the rules of the National Police above.
Shooting animals with air rifles outside the shooting arena is against the law. (EBO)

BATALKAN BERBURU WISATA DI PADANG PARIAMAN
Centre for Orangutan Protection kembali memanggil seluruh Orangufriends dimana pun kamu berada untuk membatalkan “Berburu Wisata” di Padang Pariaman, Sumatera Barat.

Lagi dan lagi! Acara berburu dengan senapan angin dengan sasaran tupai dan hama lainnya (tidak termasuk hewan yang dilindungi) akan dilaksanakan di SMKN 1 Aur Malintang Padang Pariaman. Acara yang diselenggarakan Club Sniper Pariaman di Nagari III Koto Aur Malintang Selatan kecamatan IV Koto Aur Malintang ini berhadiah doorprize berupa TV LED, Kulkas, Senapan PCP dan hadiah menarik lainnya. Hanya dengan Rp 20.000,00 per orang, itu juga sudah termasuk makan siang dan 1 kupon doorprize.

“COP menolak dan meminta panitia pelaksana tembak tupai wisata Nagari III Koto Aur Malintang Selatan untuk membatalkan acara ini!”, tegas Hery Susanto, kordinator Anti Wildlife Crime COP.

Perbakin kota Pariaman tidak mengindahkan surat edaran Perbakin nomer 257/SEKJEN/PB/III/2018 untuk seluruh Pengurus Perbakin yang berisi untuk tidak menembak satwa dengan senapan angin.

Club Sniper Pariaman juga berencana melanggar Peraturan Kapolri No 8/2012 tentang Pengawasan dan Pengendalian Senjata Api untuk Kepentingan Olahraga.

Kami memohon Dirjen Gakkum KLHK tidak lupa telah mengeluarkan surat S.31/PHLHK/PPH/GKM.2/3/2018 untuk menegakkan aturan Kapolri di atas.

Menembak satwa dengan senapan angin di luar arena menembak adalah melanggar aturan hukum.

SCHOOL VISIT TO SMAN 1 BANGUNTAPAN

A month has passed since the COP School Batch 9. Campus activities are busy, but it does not mean neglecting assignments, visits to schools. Alfikri, Aulia, Elsa, Wulan and Wildan together with DigiYouth #BhayPlastik and Gajahwong School shared their knowledge to SMAN 1 Banguntapan, Ngentak, Bantul, Yogyakarta. “Oops … back to school? Yes, but not in hisghscool uniform anymore. In the past I was in high school uniform but this time I came to share about orangutans.”, Alfikri said.

There were 53 students who had gathered in the school hall. Ms. Nurul Supriyanti who represented the Head of SMAN 1 Banguntapan appreciated this ‘school visit’ activity because it can enrich students’ knowledge. Wulan (COP School Batch 9) continued the session with information on animal welfare that can be assessed from animal stereotypic behavior. Furthermore, to avoid these behavioral aberrations, animals must be given enrichment.

Students were also invited to play the Kahoot! Game. There were nine questions about the material presented earlier. Who are the orangutans, what are the threats, and the results 68.06% of the questions are answered correctly. “Not bad …a two hour-session mixed with plastic hazard information, the insistent information can be digested by the students of SMAN 1 Banguntapan.”, Said Wulan relieved, after the school visit was over.

For those who want to be visited by the COP, please contact info@orangutanprotection.com or leave a message on COP’s social media directly. (EBO)

SCHOOL VISIT KE SMAN 1 BANGUNTAPAN

Sebulan sudah COP School Batch 9 berlalu. Aktivitas kampus juga padat-padatnya. Tapi tak berarti abai pada tugas, kunjungan ke sekolah-sekolah. Alfikri, Aulia, Elsa, Wulan dan Wildan bersama DigiYouth #BhayPlastik dan Sekolah Gajahwong berbagi pengetahuan ke SMAN 1 Banguntapan, Ngentak, Bantul, Yogyakarta. “Ups… balik lagi ke sekolah? Iya, tapi tidak dengan seragam sekolah lagi. Kalau dulu aku yang berseragam SMA kali ini aku datang untuk berbagi tentang orangutan.”, ujar Alfikri.

Ada 53 murid yang sudah berkumpul di aula sekolah. Ibu Nurul Supriyanti yang mewakili Kepala SMAN 1 Banguntapan mengapresiasi kegiatan ’school visit’ ini karena dapat menambah pengetahuan. Wulan (COP School Batch 9) melanjutkan informasi tentang kesejahteraan satwa yang bisa dinilai dari stereotypic behavior satwa. Selanjutnya untuk menghindari penyimpangan prilaku tersebut, satwa harus diberi ‘enrichment’.

Tak lupa, murid-murid diajak bermain game Kahoot!. Ada sembilan pertanyaan tentang materi yang disampaikan tadi. Siapakah orangutan, apa saja ancamannya dan hasilnya 68,06% pertanyaan dijawab dengan benar. “Not bad lah… dua jam penuh bercampur dengan informasi bahaya plastik, informasi yang bertubi-tubi tersebut bisa dicerna adik-adik SMAN 1 Banguntapan.”, kata Wulan lega, setelah school visit usai.

Untuk yang sekolahnya mau dikunjungi COP langsung hubungi info@orangutanprotection.com atau bisa langsung tinggalkan pesan di media sosial COP.

OPENING OF THE 3rd ART FOR ORANGUTAN

Finally, the artists talk about orangutans through their work. For the next four days, the 3rd Art For Orangutan will be held at the Jogja National Museum. There are 205 artists involved from all over the world. “I was surprised when I was called by the customs, related to the work of a French artist. But after the artist sent fees that we have to redeem, we could take the work to show it off.”, said Ramadhani from the Centre for Orangutan Protection.

The opening was enlivened by bands that were willing to perform at no cost. “It’s a charity event, we are happy to be able to take part. This is how we speak. #SawitBrengsek”.”, said Daniek Hendarto who is a vocalist for a punk band Miskin Porno. Besides Miskin Porno, the opening of Art For Orangutans also included Dirty Glass, Not A Woy, Tiger Paw, Since K.O., Martyl and Umar Haen.
“Those are the musicians who have repeatedly performed in the charity event held by Orangufriends. Orangufriends itself is an orangutan support group. They are volunteers who come from Jakarta, Surabaya, Bandung and Yogyakarta.”, added Ramadhani.

Not only that, Ridki R Sigit from Mongabay Indonesia and the Huhum Hambilly participated in the discussion on the first day. Announcement of Short Story Writing Contest with the theme “A Good Life for Orangutan” was also an awaited event. Dwi Asih Rahmawati won the first place with the title of “Opera Cinta Minah”, Fahmi Nurul Fikri won the second place with the title “Hoo the King” and “The Beauty of the Future” by Rania Thahirah won 3rd place.

Art For Orangutan, an exhibition across ages, genders, backgrounds, cultures and generations to promote love of orangutans as Indonesia’s proud animal.(EBO)

PEMBUKAAN ART FOR ORANGUTAN KE-3
Akhirnya, para seniman bersuara tentang orangutan lewat karyanya. Selama empat hari kedepan, Art For Orangutan ke-3 akan digelar di Jogja Nasional Museum. Ada 205 seniman yang terlibat dari seluruh dunia. “Sempat kaget saat dipanggil bea cukai, terkait karya dari seniman Perancis. Tapi setelah seniman mengirim biaya yang harus kami tebus, karya bisa kami ambil untuk dipajang.”, ujar Ramadhani dari Centre for Orangutan Protection.

Hari pertama pembukaan dimeriahkan band yang bersedia tampil tanpa biaya. “Namanya juga acara amal, kami senang bisa mengisi acara. Ini cara kami bersuara. #SawitBrengsek”, ujar Daniek Hendarto yang merupakan vokalis band punk Miskin Porno. Selain Miskin Porno, pembukaan Art For Orangutan juga diisi Dirty Glass, Not A Woy, Tiger Paw, Since K.O., Martyl dan Umar Haen.
“Mereka musisi yang sudah berulang kali mengisi acara amal yang diselenggarakan Orangufriends. Orangufriends sendiri merupakan kelompok pendukung orangutan. Mereka relawan yang datang dari Jakarta, Surabaya, Bandung dan Yogyakarta sendiri.”, tambah Ramadhani.

Tak hanya itu, Ridki R Sigit dari Mongabay Indonesia dan Huhum Hambilly ikut mengisi diskusi hari pertama. Pengumuman Lomba Penulisan Cerita Pendek dengan tema “A Good Life for Orangutan” pun menjadi acara yang ditunggu-tunggu. Dwi Asih Rahmawati dengan judul Cerpen “Opera Cinta Minah” menjadi juara 1. “Hoo si Raja” yang merupakan karya Fahmi Nurul Fikri menempati juara kedua. “Indahnya Bumi Masa Depan” karya Rania Thahirah menyabet juara 3.

Menariknya lagi, di hari pertama ini, ada Live Screen Print dari Survive Garage dengan desain dari Anti Tank dan Sebtian. “Cukup dengan membawa satu kaos polos dan sablon di tempat. Cukup donasi Rp 20.000,00 saja.”. Art For Orangutan, sebuah pameran lintas usia, gender, latar belakang, budaya dan generasi agar semakin luas dan semakin mencintai orangutan sebagai satwa kebanggaan Indonesia. Untuk kamu yang ingin ikut menyumbang orangutan lewat acara AFO bisa melalui https://www.kitabisa.com/bantuafo

BANANA, NOT BULLET ON VALENTINE’S DAY

Banana Not Bullet. Yes … just bananas … don’t give bullets.

Again, Orangufriends Bali didn’t want to just doing nothing on this Valentine’s Day. COP volunteers, Orangufriends, joined in the banana sharing activity. What is it? why sharing bananas instead of flowers? Because then I can give the flowers to you, hahahaha.

A case of an orangutan that died with 130 air rifle bullets reminded us. That small bullet can kill. Not only the orangutan who died in the Kutai National Park area, but alos the orangutan who died headless in the Kalahien river, Central Kalimantan, found with air rifle bullets on his body. Then an orangutan who died in the PT WSSL area, Sampit also found with rifle bullets. Only that? There are still many more cases where orangutans died with air rifle bullets found in their bodies. Not only orangutans, other wildlife too.

Banana Not Bullet. This is a sweet campaign against the Air Rifle Terror. Actually there are rules for using air rifles. Kapolri Regulation No. 8 of 2012 concerning the supervision and control of firearms for sporting purposes, that air rifles should only be used for sports activities on target and at designated locations.

“If you care about this campaign, it’s really easy. We only spread around the Udayana University, Denpasar. It does not take long time, when bananas are all shared then we are done. Come on, invite friends and relatives to know more about the terror of air rifles especially for wildlife. If not us, then who else? “, Said Zahra, an employee of a multinational company who just had her gallstones operated but took the time to get involved. COP #proudoforangufriends (EBO)

BANANA NOT BULLET DI HARI KASIH SAYANG
Banana Not Bullet. Ya… pisang aja deh… jangan dikasih peluru.
Lagi-lagi Orangufriends Bali tak mau tinggal diam. Di hari kasih sayang alias Valentine Day ini, relawan COP yang tergabung dalam Orangufriends bagi-bagi pisang. Apa sih, koq bagi-bagi pisang? Koq bukan bagi bunga gitu, biar bunganya bisa saya kasih ke yayang… hahahaha.

Kasus kematian orangutan dengan 130 peluru senapan angin mengingatkan kita. Bahwa peluru kecil bisa membunuh. Tak hanya orangutan yang mati di kawasan Taman Nasional Kutai itu saja, orangutan yang mati tanpa kepala di sungai Kalahien, Kalimantan Tengah juga terdapat peluru senapan angin di tubuhnya. Lalu kasus kematian orangutan yang mati di kawasan PT WSSL, Sampit juga ditemukan peluru senapan angin. Hanya itu? Dan masih banyak lagi kasus orangutan yang mati dengan tubuh bersarang peluru senapan angin. Tidak hanya orangutan, satwa liar lainnya pun juga.

Banana Not Bullet. Ini adalah kampanye manis dari Teror Senapan Angin. Aturan penggunaan senapan angin ada aturannya loh. Peraturan Kapolri No 8 Tahun 2012 tentang pengawasan dan pengendalian senjata api untuk kepentingan olahraga, bahwa senapan angin hanya boleh digunakan untuk kegiatan olahraga tepat sasaran dan di tempat yang sudah ditentukan.

“Kalau kamu peduli dengan kampanye ini, mudah banget loh. Kami hanya menyebar di sekitaran Universitas Udayana, Denpasar. Tak perlu berlama-lama, pisang yang dibagi habis, kami pun bubar. Yuk ajak, teman dan saudara untuk lebih tahu tentang teror senapan angin khususnya bagi satwa liar. Kalau bukan kita, siapa lagi?”, ujar Zahra, karyawati perusahaan multinasional yang baru saja operasi batu empedu namun menyempatkan diri untuk ikut terlibat. COP #proudoforangufriends

ACARA ORANGUFRIENDS BANDUNG, KEREN!!!

Tahun 2019 adalah tahunnya Orangufriends Bandung berkolaborasi dengan organisasi lain yang sepemahaman. Tergabung dalam Riung Raung dengan tema “The eARTh Conservation” dengan acara diskusi dan screening yang diisi oleh Made Wedana, Pepep DW, Dadang Sudardja serta Nandya Andriani, sementara acara seni dan pameran diisi Selepas Hujan, Dede Pras, Rendy Jean Satria, Rizal, R. Lutfi Wiguna, Galih Mahara, Saut Prayuda, Arnis Muhammad, Fyan Fendi, Sworks (collaboration with) Sr Iboe Inggit Garnasih. 

Awal bulan tepatnya 2 Februari, bertempat di Mr. Guan Coffee & Books di Jl. Tampomas No. 22, Malabar, Lengkong, kota Bandung. Malam Minggu ngak perlu bingung mau kemana, acara gratis dari pukul 15.00-22.00 WIB ini mengajak kamu membawa botol minum mu sendiri untuk mengurangi plastik yang sudah menjadi masalah besar kita. O iya… ada para alumninya COP School loh… para agen perubahan dunia konservasi.

SANG-SANG FOR INDONESIA WILD ANIMALS

Working in the world of conservation in Indonesia is working in a small world. In fact, Indonesia’s conservation is very broad. However, those who really dive in it can be counted. The world of conservation is a world that requires physical and mental endurance.

His name is Pak Sang-sang. He is the most senior animal keeper at the Yogyakarta Wildlife Rescue Center (WRC). He worked since 2003 at this animal rescue center. Today I had a chance to meet and take a picture with him during the release of the crescent serpent-eagle and the crested goshawk in the WRC area. His eyes glistened as the rope of the habituation cage opened and the eagle flew free. Maybe he is not famous and does not have a big name, but I am the one who is most certain of his great dedication in the efforts to conserve wildlife. Far from the frenzy, he remains humble and remains on track to help animals. Stay healthy and strong Sir in taking care of your other “children”.

Come on, young Indonesians, be like Pak Sang-Sang. Let’s start from being Orangufriends, an orangutan support group. (NIK)

SANG-SANG UNTUK SATWA LIAR INDONESIA
Bekerja di dunia konservasi Indonesia adalah bekerja di dunia yang sempit. Padahal, konservasi Indonesia itu sangat luas. Namun, mereka yang benar-benar terjun di dalamnya bisa dihitung dengan jari. Dunia konservasi adalah dunia yang membutuhkan ketahanan fisik maupun mental.

Namanya pak Sang-sang, dia merupakan animal keeper yang paling senior di Wildlife Rescue Center (WRC) Yogyakarta. Beliau bekerja sejak tahun 2003 di pusat penyelamatan satwa ini. Hari ini saya sempat ketemu dan foto dengan beliau saat pelepasan satwa elang ular bido dan alap-alap jambul di area WRC. Matanya berkaca-kaca saat tali pintu kandang habituasi dibuka dan elang terbang lepas bebas. Mungkin dia tidak tenar dan tidak punya nama besar, tapi saya orang yang paling yakin dedikasi dia sangat besar dalam upaya konservesi satwa liar. Jauh dari hingar-bingar, dia tetap rendah hati dan tetap masih di jalur pilihannya membantu satwa. Sehat selalu pak, tetap gagah bertugas merawat ‘anak-anakmu’ yang lainnya.

Yuk anak muda Indonesia, jangan mau kalah dengan pak Sang-sang. Mari memulainya dari menjadi Orangufriends, kelompok pendukung orangutan. (NIK)

EARLY YEAR SCHOOL VISIT AT CIKAL AMRI SETU SCHOOL

An invitation to request a speaker for the Environment and Development class at Cikal school – AMRI Setu, East Jakarta started COP’s school visit in 2019. Tuesday, January 8, 2019, Amadhea W. Kaslan along with one of Orangufriend Jakarta members who is also an alumni of COP Batch 8, Zara Zein, began sharing how to protect orangutans by the Center for Orangutan Protection, the only orangutan organization established by Indonesian youths.

Twelve students from grades 6,7,8 and 9 took part in the program with the topic of Wildlife and Its Contribution to Sustainable Environment. The school visit this time became very much alive because the student were active. Quizzes about orangutans and other wildlife also colored the class for almost two hours.

COP, with the assistance of Orangufriends (an orangutan support group), sees education as having an important role in the protection of orangutans. “Later, those students will replace us, continue to protect orangutans,” Amadhea said excitedly. For those who want their school to be visited by COP and want to know more about orangutans, contact email info@orangutanprotection.com (EBO)

SCHOOL VISIT AWAL TAHUN DI SEKOLAH CIKAL-AMRI SETU
Undangan permohonan menjadi pembicara untuk kelas Environment and Development di sekolah Cikal – AMRI Setu, Jakarta Timur mengawali kunjungan ke sekolah COP tahun 2019. Selasa, 8 Januari 2019, Amadhea W. Kaslan bersama satu orangufriends Jakarta yang juga merupakan alumni COP School Batch 8 yaitu Zara Zein mulai berbagi bagaimana perlindungan orangutan yang dilakukan Centre for Orangutan Protection, satu-satunya organisasi orangutan yang didirikan oleh putra-putri Indonesia.

Dua belas siswa dari kelas 6,7,8 dan 9 yang mengikuti program mendapatkan topik Wildlife and Its Contribution to Sustainable Environment. Kunjungan ke sekolah kali ini menjadi berbeda dengan begitu aktifnya para siswa. Kuis-kuis tentang orangutan dan satwa liar lainnya mewarnai kelas selama hampir dua jam.

COP dengan bantuan Orangufriends (kelompok pendukung orangutan) memandang edukasi memiliki peran penting dalam perlindungan orangutan. “Kelak, mereka yang akan menggantikan kita, melanjutkan perlindungan orangutan.”, ujar Amadhea dengan bersemangat. Untuk kamu yang ingin sekolahnya dikunjungi COP dan ingin lebih tahu tentang orangutan, hubungi email info@orangutanprotection.com Yuk jadikan Orangutan kebanggaan Indonesia.

WELCOME TO COP SCHOOL BATCH 9

Since Tuesday afternoon, one by one the Batch 9 COP School participants arrived. New faces, looked hesitant at first, reached out to get acquainted. They are agents of change for the next conservation world.

Of course their presence in the APE Warrior camp went through some struggle. They ventured to register, reached into their pockets to pay the registration fee, took the time to work on assignments at the selection stage and the costs to arrive in Yogyakarta was not small . Of the nearly 170 who were interested, it shrank to 49 people and ended up with 29 people who had the opportunity to take part in the COP School on 9-14 January 2019. “Actually there were 31 who passed the selection stage, but three of them had to resign due to urgent needs. If you want to join next year, you have to register and went through the selection process again”, Said Ramadhani, head of the COP School.

“This is not over, if you have participated in the Batch 9 COP School then what next? Please apply what you have learned in the next five days. At the end of 2019, at the Jambore Orangufriends, it’s graduation time with what you have applied after finishing Yogya sessions,” added Ramadhani again. Then … let’s be companions for the Batch 10 COP School participants. This is what we call the regeneration of Indonesia’s change agents. #IndonesiaBisa (EBO)

SELAMAT DATANG DI COP SCHOOL BATCH 9
Sejak Selasa sore, satu persatu peserta COP School Batch 9 berdatangan. Wajah-wajah baru dengan tingkah yang ragu-ragu mengulurkan tangan untuk berkenalan. Mereka adalah agen perubahan untuk dunia konservasi selanjutnya.

Tentu saja kehadiran mereka di camp APE Warrior penuh perjuangan. Mereka memberanikan diri mendaftar, merogoh kantungnya untuk membayar biaya pendaftaran, meluangkan waktu mengerjakan tugas di tahap seleksi dan biaya yang tidak sedikit untuk sampai di Yogyakarta. Dari hampir 170 yang tertarik, menyusut menjadi 49 orang dan berakhir dengan 29 orang yang berkesempatan mengikuti COP School pada 9-14 Januari 2019. “Sebenernya ada 31 yang lulus seleksi, namun terpaksa mengundurkan diri karena ada keperluan mendesak. Jika mau ikut tahun depan, ya harus daftar dan seleksi lagi.”, ujar Ramadhani, kepala sekolah COP School tiga tahun terakhir ini.

“Ini belum berakhir, jika kamu sudah ikut COP School Batch 9 lalu bagaimana? Silahkan terapkan apa yang kamu peroleh selama lima hari kedepan. Akhir tahun 2019, di Jambore Orangufriends saatnya wisuda dengan apa yang telah kamu lakukan usai dari Yogya.”, tambah Ramadhani lagi. Kemudian… yuk jadi pendamping untuk peserta COP School Batch 10. Ini yang kami sebut regenerasi agen perubahan Indonesia. #IndonesiaBisa

WRITING COMPETITION ON ORANGUTAN HAS BEEN CLOSED

Two days before the closing of the Orangutan Short Story Writing Competition, Center for Orangutan Protection’s BNI account 1377888997 was flooded with donations of Rp. 25,003.00 as proof of participation in the competition. Ten best works are planned to be printed into books. This competition was an Indie Book Corner collaboration with the Center for Orangutan Protection.

Finally on the due date, Sunday, January 6, 2019 at 23:00 WIB the committee received 128 short stories. The committee were amazed by the ideas and storyline of each incoming short story with the theme of A Good Life for Orangutans. Starting from stories about orangutans who lost their habitat to orangutan stories in the decades ahead.

For one month, the committee will select the short stories. The initial stage 50 works are selected, then ten best works are determined. Of the ten works, three winners were chosen. “Thank you for participating. There are many ways to take part in protecting orangutans. This donation is for orangutans.”, Septian said. The winner’s announcement will be published at the opening of The 3rd Art For Orangutan on Thursday, February 14, 2019 at the Jogja National Museum, Yogyakarta. (EBO)

LOMBA MENULIS CERPEN ORANGUTAN DITUTUP
Dua hari menjelang penutupan Lomba Menulis Cerpen Orangutan, rekening BNI 1377888997 atas nama Centre for Orangutan Protection dibanjirin donasi Rp 25.003,00 sebagai bukti keikutsertaan peserta dalam lomba. Sepuluh karya terbaik rencananya akan dibukukan. Lomba ini merupakan kolaborasi Indie Book Corner dengan Centre for Orangutan Protection.

Hingga akhirnya pada hari Minggu, 6 Januari 2019 pukul 23.00 WIB panitia menerima 128 cerpen. Cerpen-cerpen yang masuk dengan tema A Good Life for Orangutan membuat panitia kagum dengan ide dan jalan cerita setiap cerpen. Mulai dari cerita mengenai orangutan yang kehilangan habitatnya sampai cerita orangutan di puluhan tahun ke depan.

Selama satu bulan, panitia akan menyeleksi cerpen-cerpen tersebut. Tahap awal ada 50 karya yang masuk yang selanjutnya akan ditentukan sepuluh karya terbaik. Dari sepuluh karya tersebut lah penentuan tiga pemenang. “Terimakasih atas keikutsertaannya. Banyak cara untuk ambil bagian dalam perlindungan orangutan. Donasi ini untuk orangutan.”, ujar Septian. Pengumuman pemenang akan dipublikasikan pada pembukaan Art For Orangutan 3 pada Kamis, 14 Pebruari 2019 di Jogja National Museum, Yogyakarta.