MICHELLE BUTUH KELAS BARU

Memasuki bulan ke-delapan Michelle tidak mengikuti sekolah hutan lagi. Michelle tumbuh menjadi besar dan menunjukkan keliarannya. Icel panggilan akrabnya sulit untuk dikontrol dan cenderung sesukanya. Tidak mudah menyuruhnya untuk berlatih di hutan, malah sebaliknya dia mendekati animal keeper dan menyerang. Icel juga seperti memberi keburukan pada kelas sekolah hutan. Icel sering menyakiti orangutan kecil lainnya. Itulah sebabnya Icel harus menghabiskan hari-harinya di balik jeruji besi.

Namun… animal keeper semakin sering membuatkannya enrichment agar Icel tidak bosan selama di kandang. Bagaimana tidak, makanan harus selalu diberikan dalam bentuk penuh tantangan. Kalau tidak, Icel akan ngambek ketika animal keeper membawakan makanan ke kandang orangutan-orangutan kecil terlebih dahulu. “Kalau sudah begitu, Icel mulai menarik-narik sarung tangan siapa pun yang bisa dijangkaunya.”, ujar Jevri.

“Sangat memprihatinkan melihat orangutan-orangutan yang berada di kelas sekolah hutan tumbuh menjadi besar dan liar. Seperti Icel yang sudah bisa memanjat 35 meter, menyelesaikan panjatan pohon besarnya hingga ujung bahkan Icel lah satu-satunya orangutan di kelas sekolah hutan yang bisa melompat dari satu pohon ke pohon yang lain. Kami tidak bisa lagi mengajaknya ke sekolah hutan karena dia semakin sering kembali ke kandang saat sekolah hutan dan Icel menganggu orangutan-orangutan kecil lainnya. Kami berharap ada pulau lagi yang bisa kami gunakan untuk orangutan betina seperti pulau pra-rilis yang dihuni orangutan jantan.”, kata Reza Kurniawan, manajer pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo penuh harapan.

Mari bantu kami untuk mencari pulau kecil yang bisa menjadi tempat orangutan betina berlatih sebelum dilepasliarkan kembali ke hutan. Sebarkan dan bantu kami lewat https://kitabisa.com/orangindo4orangutan

ARTI LIANA UNTUK ORANGUTAN

Bisakah kamu menemukan bayi orangutan di antara tumbuhan Liana? Inilah sekolah hutan untuk bayi orangutan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. “Kalau sudah bergelantungan di sini, mereka akan lupa waktu dan kami yang menunggu di bawah sini.”, ujar Wety Rupiana.
Liana adalah tumbuhan memanjat yang banyak ditemukan di hutan tropis. Liana adalah tumbuhan yang merambat, memanjat bahkan menggantung. Akar Liana akan tetap berada di tanah. Liana akan bersaing dengan pohon lainnya untuk mendapatkan cahaya matahari. Dan Orangutan akan semakin mudah berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain melalui batang Liana ini. “Popi suka sekali diajak ke sini.”, ujar Wety lagi.
Popi akan masih dalam perawatan COP Borneo untuk beberapa tahun ke depan. Kamu bisa mengadopsi Popi secara virtual lewat tautan http://www.orangutan.id/adopt/#4

RENCANA UNTUK UNTUNG DI TAHUN 2018

Ini dia orangutan tanpa jari yang lengkap. Awal tahun 2010, COP bertemu dengan di Kebun Raya UNMUL Samarinda. Tubuh kecilnya meringkuk di sudut kandang. Setelah diamati penuh, ternyata dia tidak memiliki 2 jari di tangan kirinya. Kami pun memanggilnya dengan Untung. Karena dengan kondisi jari seperti itu, dia masih mampu memanjat dengan baik.

Kini Untung berada di pulau pra-rilis pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo sejak akhir 2015. Untung adalah orangutan yang paling sering berada di atas pohon. Sarang-sarang buatan Untung setinggi 10-15 meter. Sayangnya, Untung tidak takut pada manusia. Bahkan dia sangat tertarik dengan manusia.

Bersama Unyil, orangutan yang diselamatkan dari toilet yang lembab, Untung sering terlihat merampas makanan orangutan lainnya. Sesekali menganggu Unyil. Untung juga sering terlihat mencari makanan di pulau. Kambium pohon dan buah ara adalah pakan alami yang sering dimakannya.

Pada tahun 2018 ini, COP Borneo berencana melepasliarkan kembali orangutan eks-kebun binatang. Salah satu kandidat utamanya adalah orangutan Untung. Apakah Untung bisa mempertahankan pencapaian penilaiannya selama ini? Kita tunggu kabarnya ya! Kamu bisa bantu pusat rehabilitasi orangutan satu-satunya yang didirikan orang Indonesia lewat https://kitabisa.com/orangindo4orangutan

NIGEL KABUR DARI KANDANG

Saat memberikan makanan di sore hari untuk orangutan yang berada di kandang, tak terkecuali di kandang karantina tempat Nigel berada. Kandang ini cukup jauh dari kandang yang lain, karena ini adalah kandang dimana orangutan menjalani evaluasi medis akhir untuk dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Nigel, orangutan yang paling siap secara perilaku terpaksa menunda kebebasannya karena herpes yang dideritanya kembali terdeteksi.

Nigel tidak ada di kandang! Kandang kosong! Nigel keluar dengan cara membuka baut kandang bagian atas… tidak melewati pintu. Pencarian Nigel pun segera dilakukan. Setiap detik sangat berharga. Beruntung Nigel belum terlalu jauh meninggalkan kandang yang berarti belum terlalu lama kami akhirnya mengetahui dia tidak ada di kandang.

Hari mulai gelap, sekali lagi kami berpacu dengan waktu. Nigel ditembak bius… pingsan dan kembali masuk kandang. Maafkan kami Nigel. “Akhir tahun 2017 yang menegangkan bagi tim APE Defender.”, ujar Reza Kurniawan. (REZ)

HAPPI ADALAH BAYI ORANGUTAN IDOLA KAMI

“Bagus Hippi! Terus Hippi. Lihat… lihat Hippi buat sarang lagi.”, begitulah Jevri menyemangati Happi yang sering dipanggilanya dengan Hippi. Happi adalah bayi orangutan yang masuk ke pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo sekitar 16 bulan yang lalu. Happi memang masih kecil, tapi dia sudah bisa membuat sarang. Memang sarang yang dibuatnya masih sekedar patah-patahan ranting dan tumpukan daun tanpa bentuk.

Setiap hari mengikuti kelas sekolah hutan membuat naluri alami Happi terasah. Dia adalah bayi orangutan yang sangat cuek pada semua animal keeper. Sifatnya yang cuek ini membuat dia tidak peduli seberapa tinggi pohon yang dia panjat. Bahkan berapa lama dia sudah bermain di atas pohon. “Owh… alamat jemput Hippi lagi ini.”, ujar Jevri lagi. Gemesin!

Hingga akhir tahun 2017 ini, Happi masih menjadi idola kami. Bayi orangutan yang mandiri ini. Walau terselip perasaan sedih saat membayangkan Happi bisa sampai di COP Borneo. Bagaimana dia terlepas dari induknya. Tentu saat itu dia sudah mulai belajar dari sang induk untuk membuat sarang, memakan makanan yang tersedia di hutan, menghindarkan diri dari para predator, bahkan mengobati diri sendiri saat sakit. Happi… Happi… kado terbaik apakah yang kamu inginkan Natal ini? Yuk ikutan mengadopsi Happi lewat http://www.orangutan.id/adopt/#2 (WET)

BONTI MEMBUAT SARANG PERTAMANYA

Lama ya ngak ada kabar tentang orangutan Bonti. Si bayi yang selalu mengikuti Owi ini ternyata seorang yang pendiam. Orangutan pun seperti kita? Ada yang sukanya ngomong aja, ini pastinya selalu rame kalau ada acara tapi ada juga yang pendiam, sukanya duduk di pojok ruangan sambil mengamati sekeliling. Terus, kalau bayi Bonti bagaimana?

“Bonti menurut saya pribadi adalah orangutan yang pendiam di sekolah hutan. Bonti memang sangat dekat dengan Owi. Tapi Bonti tidak terlalu nakal seperti Owi. Bonti memang masih follower sejatinya Owi, yang selalu mengikuti Owi kemanapun dia pergi. Tapi… ketika Bonti jauh dari Owi, Bonti akan bermain dengan Happi.”, kata Wety Rupiana, sambil terus mengamati Bonti di sekolah hutan.

Ternyata, Bonti pun bisa belajar dari Happi saat bermain dengannya. Si pendiam ini ternyata belajar diam-diam dari siapa saja. Happi yang pintar membuat sarang dan sukanya menjelajah pohon yang tinggi untuk menemukan makanan telah mengajarkan Bonti untuk membuat sarang. “Beberapa hari yang lalu, Bonti terlihat membuat sarang di atas ketinggian 20 meter! Luar biasa ya.”, cerita Wety senang.

“Ini adalah perkembangan yang sangat bagus Bonti!”. Tahun 2017 ini ditutup Bonti dengan perkembangan yang sangat menggembirakan. Setahap demi setahap, bayi-bayi orangutan di COP Borneo menunjukkan perkembangannya. “Harapan itu akan terus ada. Bantu kami ya!”, ajak Reza Kurniawan, manajer COP Borneo. (WET)

A NEW HAMMOCK FOR MEMO

Tempat tidur gantung (hammock) yang terbuat dari selang pemadam kebakaran ini adalah tempat tidur Memo selama di kandang. Ketiga animal keeper COP Borneo harus lebih sering lagi memperbaiki hammock tersebut bahkan menggantinya dengan yang baru. Hammock buatan kami hanya bertahan hitungan minggu bahkan hari… “Memo dengan kekuatannya dengan mudah menghancurkannya, padahal kami memasangnya sampai berkeringat.”, ujar Anen sambil memasang hammock.

Dua setengah tahun sudah kami mengenal Memo di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Orangutan betina ini terpaksa berada di kandang karantina tanpa ada kemungkinan dilepasliarkan kembali ke hutan. Memo menderita hepatitis B.

“Gulungan bekas selang pemadam kebakaran ini adalah bantuan dari Damkar Berau pertengahan tahun ini. Disulap sebentar ya… untuk tempat tidurnya Memo yang rusak.”, ujar Jevri. Membuatkan hammock, memberikan enrichment, mengajaknya berkomunikasi hanyalah sedikit usaha kami untuk menghiburnya. “Setidaknya, Memo sudah menjalankan diet makanan. Dulu waktu Memo dipelihara orang, Memo makan semua makanan manusia. Kami berharap Memo mendapatkan yang terbaik.”, ujar Reza Kurniawan, manajer COP Borneo.

Kamu bisa bantu Memo dengan menjadi pengadopsinya melalui tautan http://www.orangutan.id/adopt/#3 Jadikan Desember ini lebih berarti dengan mengadopsi Memo. (WET)

SI MUNGIL POPI PANDAI MEMANJAT

Dulu… dia hanya bisa menangis saja saat diajak ke sekolah hutan. Bayi Popi yang masuk ke pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo ini terlihat rapuh dengan gigi yang masih belum tumbuh. Sekarang, dia tumbuh menjadi anak yang percaya diri di sekolah hutan.

Di sekolah hutan, Popi memang masih sesukanya sendiri. Popi bermain-main di tanah, menjatuh-jatuhkan dirinya atau menggigit-gigiti kulit pohon pilihannya. Di sekolah hutan, dia bebas mengekspresikan dirinya. “Kalau sedang asik bermain, Popi tidak akan peduli dengan animal keeper lagi. Bahkan kalau dia diganggu, dia akan langsung menggigit.”, ujar Wety Rupiana, baby sitter yang mengasuh Popi. Popi juga sangat lincah sekali di sekolah hutan, naik turun pohon bukanlah hal yang menakutkan lagi baginya.

Bayi orangutan akan berkembang dengan sangat cepat. Lalu apa pendapat baby sitter Popi? “Bagi saya, Popi sudah tidak menggemaskan lagi. Wajah layunya sangat menipu.” jawab Wety. Okay, jangan menilai orangutan dari wajah dan tubuhnya yang kecil ya. Lalu? “Popi sudah berani menghadapi Owi. Iya Owi, bayi orangutan yang paling besar di kelas sekolah hutan.”, jelas Wety lagi.

Terimakasih yang telah mengadopsi Popi dimana pun kamu berada. 15 bulan sudah usia Popi. Popi akan pindah ke kandang sosialisasi. Jangan lupa beri hadiah Natal dan Tahun Baru untuk nya ya lewat tautan http://www.orangutan.id/adopt/#4 (WET).

OWI DAN GIGITANNYA

Ini dia orangutan paling besar di sekolah hutan, Owi. Selain paling besar umur dan badannya, orangutan Owi juga orangutan yang paling nakal di sekolah hutan. Kenakalan yang paling sering dibuatnya adalah menggigit para animal keeper. Selain itu, Owi adalah orangutan yang paling usil di sekolah hutan, ketika Owi melihat ada hammock yang kosong ditinggalkan animal keeper sebentar saja… dengan segera Owi turun menuju hammock lalu bermain di hammock. Kalau Owi diusir untuk pergi, dia marah dan menggigit. “Andalannya kalau marah ya itu… menggigit. Pernah loh hammock sampai robek dan tidak bisa dipakai lagi karena digigit Owi.”, ujar Wety Rupiana, baby sitter pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo.

Walaupun Owi adalah orangutan yang paling jagoan di sekolah hutan, jika hari mulai sore dan waktunya pulang, Owi akan berubah menjadi anak yang sangat manis. Dia akan diam di dalam gendongan animal keeper.

Saat kelas sekolah hutan, Owi sangat takut dengan animal keeper Joni dan Jevri. Tapi dia akan manis sekali pada Danel. “Duh… nakalnya Owi! Jangan ganggu Popi terus!”, teriak Joni. Akhir-akhir ini, Owi memang sering menganggu Popi yang asik memanjat. Owi memang paling suka menganggu bayi orangutan yang lain. Kenakalannya itu sampai membuatnya lupa untuk belajar membuat sarang. (WET).

TUHAN MASIH SAYANG KAMI

Selasa malam, hujan deras bercampur angin mengguyur camp COP Borneo. Beberapa minggu terakhir ini, cuaca di Labanan memang tidak menentu. Pagi hari cerah tapi tiba-tiba pukul 10.00 WITA hujan deras sekali hingga malamnya.

Hujan 28 November 2017 jam 22.10 WITA ini berbeda dari biasanya. Hujan benar-benar deras bercampur angin. Hanya kami berempat di camp, sementara yang lainnya sedang ke kota untuk keesokan harinya belanja logistik. Kami tertidur di tengah derak pepohonan sambil berdoa tidak tertimpa pohon tumbang.

Pagi hari… cuaca menjadi begitu tenang. Sekitar 10 meter dari camp ada pohon tumbang tepat di titian dan menutup jalan. “Syukurlah, Tuhan masih sayang dengan kami.”, ujar Herlina.Ternyata kami tertidur sangat lelap. Kami berempat tidak ada yang sadar kalau ada pohon yang tumbang. “Mendengar saja tidak. Untung pohon tidak jatuh ke arah camp, tetapi jatuh ke arah titian.”, tambah Herlina lagi.

Selesai memberi makan pagi orangutan-orangutan, kami bergotong-royong membersihkan jalan. Mesin gergaji yang kami miliki kurang besar untuk memotong pohon yang jatuh. Akhirnya kami memutuskan menunggu mobil dari kota untuk ke desa Merasa meminjam gergaji mesin yang lebih besar. Titian sedikit rusak, tapi kami semua selamat. (WET)