GOGON DAN DEDEK… KAMI DARI APE WARRIOR COP

Ini adalah kunjungan kami yang kedua paska rencana untuk membantu ketujuh orangutan yang ada di Wildlife Rescue Center (WRC) Jogja. Rabu, 29 April 2020, tim APE Warrior mengumpulkan informasi terkait teknis perawatan orangutan di sana. 

Setiap pagi, kandang-kandang dibersihkan dilanjutkan ‘feeding’ atau pemberian pakan orangutan yang dilakukan dua kali dalam sehari, pukul 10.00 dan 14.00 WIB. “Syukurlah tak ada orangutan yang alergi pada pakan selama ini. Itu sangat memudahkan tim APE Warrior kedepannya.”, ujar Liany D. Suwito dari tim APE Warrior yang selalu siap sedia saat bencana alam yang datang sewaktu-waktu, tak terkecuali pandemi COVID-19 yang memaksa WRC Jogja angkat tangan dalam menjalankan taman satwa ini. 

Tim APE Warrior dengan dukungan para relawannya yang tergabung dalam orangufriends, membeli pakan tambahan untuk orangutan berupa nenas dan semangka yang kebetulan dekat dengan camp APE Warrior di Jalan Gito-Gati, Gondanglegi, Sleman, Yogyakarta. Nanas sebanyak 26 buah, semangka seberat 13 kg dan pisang 10 sisir akhirnya mengisi rak gudang pakan WRC. “Nenasnya menggoda iman… hahahaha.”.

Feeding sore, kami berkesempatan mengamati kandang Gogon dan Dedek. Mereka berdua berada dalam satu kandang. “Waduh, dua jantan dewasa berada dalam satu kandang? Dedek walaupun berusia lebih muda dibandingkan Gogon yang berusia 19 tahun memiliki tubuh lebih besar dan terlihat lebih dominan. Perlu lebih waspada nih.”, ujar Lia lagi. 

Panggilan untuk Orangufriends, silahkan donasi lewat kitabisa.com atau kirim pakan orangutan ke camp APE Warrior ya. Bersama… kita bisa! 

SATWA KEBUN BINATANG TERDAMPAK COVID-19

Saat ini beredar berita tentang beberapa kebun binatang yang hampir bangkrut dan tidak bisa memberi pakan satwa koleksinya karena mereka menutup kegiatan operasional mereka dari pengunjung selama pandemi virus corona ini. Yang artinya tidak ada pemasukan untuk kebun binatang tersebut dari pengunjung. Sementara biaya operasional dan pakan satwa mereka harus tetap jalan setiap hari. Satwa-satwa yang berada di kandang maupun enclosure di kebun binatang sangat bergantung kepada petugas perawat satwa yang setiap hari memberi mereka makan karena mereka tidak bisa mencari makan sendiri.

Kebun binatang memang bisnis sarat modal besar dan berat. Namun ini adalah konsekuensi bagi para pengelola kebun binatang untuk tetap memberi makan dan merawat satwa tersebut, karena selama ini juga satwa-satwa tersebutlah yang membuat pengunjung datang dan memberikan pemasukan untuk pengelola kebun binatang. Satwa-satwa di kebun binatang tidak mengenal pandemi COVID-19, yang penting bagi mereka adalah bertahan hidup di dalam kandang-kandang tersebut. Hidup di dalam kebun binatang bukan kemauan dari satwa tersebut, karena sejatinya ‘rumah’ mereka adalah di hutan. Dan mereka terpaksa tinggal di kebun binatang karena beberapa dari mereka adalah korban dari kejahatan manusia.

Centre for Orangutan Protection mengingatkan para pengelola kebun binatang untuk tetap memperhatikan kesejahteraan satwa dengan mengedepankan 5 kebebasan satwa. COP mengundang Orangufriends untuk diskusi dan aksi untuk satwa kebun binatang yang terdampak COVID-19. Hubungi kami di info@orangutanprotection.com (HER)

VONIS JUAL/BELI BINTURONG 4 JUTA HANYA 4 BULAN PENJARA

Kamis, 23 April 2020, Pengadilan Negeri Tulungagung menjatuhkan putusan pidana penjara selama empat bulan dan pidana denda sejumlah Rp 1.000.000,00 pada Feri Subagi. Terdakwa terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana dengan sengaja menyimpan, memiliki dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup.

Masih ingatkah penangkapan terdakwa empat bulan yang lalu? Saat itu 1 (satu) ekor Binturong (Arctictis Binturong), 1 (satu) ekor Rangkong Badak (Buceros rhinoceros) ditemukan dalam keadaan hidup di rumah Feri di dusun Sumurwarak, desa Purworejo, kabupaten Tulungagung. Sementara 1 (satu) ekor Julang emas (Rhyticeros undulates) mati. Tim Subdit IV Tipidter Ditreskrimsus Polda Jatim menelusuri bagaimana satwa yang dilindungi Undang-Undang RI Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya tersebut bisa berada di rumahnya.

Feri membeli Binturong melalui facebook di akhir Desember 2018 yang lalu, saat itu harganya Rp 4.000.000,00. Sementara Rangkong menurut pengakuannya dibeli dengan harga Rp 750.000,00 dan Julang emas seharga Rp 350.000,00. Selanjutnya Feri memperjualbelikan satwa tersebut melalui posting di akun media sosialnya yaitu facebook dan dilanjutkan di whatsapp.

“Putusan PN Tulungagung masih jauh dari harapan kami. Centre for Orangutan Protection berharap vonis seharusnya bisa membuat efek jera bagi pelaku dan bagi para pedagang satwa dilindungi yang sedang beroperasi dapat segera menghentikan kegiatannya. Ini tidak sebanding dengan dampak ekologis. Kepunahan suatu jenis satwa yang menyebabkan terganggunya rantai ekosistem dan akan berdampak negatif bagi kehidupan manusia.”, ujar Daniek Hendarto, direktur operasional Centre for Orangutan Protection dengan kecewa.

HENTIKAN COVID-19 MULAI DARI PASAR SATWA

COVID-19 sampai saat ini masih dipercaya berasal dari sebuah pasar basah yang menjual beragam jenis satwa liar dan domestik untuk dikonsumsi di Huanan, Wuhan, Cina. Serupa dengan pasar-pasar di Indonesia seperti pasar Tomohon di Sulawesi Utara yang sering terdengar sebagai salah satu pasar yang sejak lama menjual beragam jenis satwa yang sudah mati ataupun hidup untuk dikonsumsi. Contohnya seperti kelelawar, burung, tikus, kucing, anjing, ular, babi hutan bahkan monyet.

Tidak hanya pasar basah seperti ini, di Indonesia masih banyak pasar-pasar satwa yang beroperasi meski diketahui banyak potensi penularan penyakit yang dapat terjadi akibat berinteraksi atau mengkonsumsi daging satwa. Taylor, dkk (2001) dalam penelitiannya menemukan bahwa mayoritas spesies patogen yang menyebabkan penyakit pada manusia adalah zoonosis yaitu sebesar 61% dari jumlah penyakit yang ada. Zoonosis sendiri adalah penyakit atau infeksi baik berupa virus, bakteri, parasit atau jamur yang dapat ditularkan secara alamiah dari hewan ke manuais atau sebaliknya.

Beberapa contohnya penyakit zoonosis yang mematikan yaitu ebola yang sempat merebak di Afrika dan menewaskan lebih dari 13.500 orang, juga dipercaya berasal dari kelelawar. Kemudian juga ada MERS, SARS, Flu burung dan saat ini COVID-19. Zoonosis yang dimungkinkan Karena adanya interaksi dengan satwa liar ini biasanya banyak terjadi di pasar-pasar.

Ketika satwa diperjualbelikan di pasar, baik penjual atau pun pembeli akan melakukan kontak langsung dengan satwa yang ada. Karena adanya kontak ini maka baik virus, bakteri dan jamur sangat mudah untuk berpindah ke manusia. Selain itu, virus-virus seperti flu dan corona ini memiliki kemampuan mutasi dan dapat menjadi virus-virus baru yang lebih mematikan. Hal ini bahkan sudah diprediksi oleb Webster (2004) dalam penelitiannya mengenai pasar satwa sebagai sumber penyakit pernafasan dan flu dengan rekomendasi untuk menutup pasar-pasar basah atau satwa ini karena kemampuan mutasi virus-virus yang ada dapat membuatnya merebak kembali.

Selain itu, manusia yang memiliki sistem imun berbeda dan lebih rentan daripada satwa liar yang biasa hidup di alam. Sehingga sangat mudah untuk menjadi sakit dan sayangnya penyakit inipun sangat mudah untuk ditularkan pada manusia lainnya. Hingga akhirnya berpotensi menjadi sebuah pandemi global. Tak hanya satwa liar, satwa domestik seperti anjing pun memiliki potensi menyebarkan rabies yang dapat mematikan juga bagi manusia.

Maka konsumsi-konsumsi daging terutama satwa liar dan satwa domistik ada baiknya diminimalisir untuk menghindari resiko-resiko yang tidak diinginkan. Selain membahayakan diri, juga dapat membahayakan masyarakat dan lingkungan sekitar atau sedang membawa penyakit karena seringkali dijual dalam keadaan mati. Selain itu, prosesnya sendiri pun terkadang tidak manusiawi dan menyebabkan penderitaan bagi satwa.

Maka perlu adanya perubahan dan kesadaran dari masyarakat baik para penjual atau pun pembeli bahwa ada hal yang lebih penting dari keinginan dan tradisi untuk mengkonsumsi satwa yaitu kesehatan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Karena saat ini mengalami sendiri bahwa pandemi global COVID-19 ini tidak hanya mematikan banyak orang dari segi kesehatan, namun juga dari segi keuangan atau ekonomi. Jadi, marilah hal ini kita jadikan sebagai pembelajaran dan agar tidak adanya virus-virus yang bermunculan lagi di masa depan.

Sumber:

https://www.nationalgeographic.com/animals/2020/04/coronavirus-linked-to-chinese-wet-markets/

Taylor, L. H., Latham, S. M., Woolhouse, M. E., (2001). Risk factors for human disease 

emergence. The Royal Society, doi 10.1098/rstb.2001.0888.  

Webster, R. (2004). Wet markets-a continuing source of ssevere acute respiratory syndrome 

and influenza?. The Lancet : vol 363. 

PIDANA PENJARA 4 BULAN UNTUK PEDAGANG 4 KUKANG

Empat Kukang (Nycticebus spp) dan satu Alap-Alap Sapi (Falco moluccensis) akhirnya diselamatkan dari perdagangan online dari rumah terdakwa Uki atau M. Sahalal Marzuki di kabupaten Tulungagung pada tanggal 8 Januari 2020. Di tahun 2019 Uki juga pernah melakukan jual-beli dua ekor Alap Alap Tikus sebesar Rp 200.000,00 hingga Rp 350.000,00 sementara satu Alap Alap Sapi seharga Rp 200.000,00 juga. 

Uki mengunggah foto dan video satwa yang akan dijualnya ke grup whatsapp seperti Group Hewan Apendiks, Seller Apendiks Punya Birahi, Rumah Adopsi Hewan, Jual Beli Hewan T. Agung. Blitar dan Animal Fun Kediri (AFK). 

Pengadilan Negeri Tulungagung menjatuhkan pidana kepada Terdakwa dengan pidana penjara selama empat bulan dan denda sejumlah Rp 1.000.000,00 dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama satu bulan.

“Syukurlah keempat kukang dan satu alap-alap bisa diselamatkan. Sayang satu kangkareng perut putih tidak dapat diselamatkan. Semoga satwa liar yang berhasil selamat dapat kembali ke habitatnya. Vonis masih jauh dari hukuman maksimal, sementara kerugian ekologis akan terus terakumulasi. Terimakasih tim Polda Jatim atas kerja kerasnya.”, ujar Daniek Hendarto, direktur operasional COP.

DUA LUTUNG JAWA MATI DALAM PERDAGANGAN SATWA, TERDAKWA DINOVIS 4 BULAN

Harga satu ekor Elang Brontok Rp 1.500.000,00. Belum lagi harga satu Julang Emas beserta anakannya dan dua Lutung Jawa. Lalu satu ekor Trenggiling yang dihargai Rp 600.000,00. Akhirnya Ahmad Saifudin harus menjadi terdakwa dan terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “dengan sengaja menyimpan, memiliki dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup.”. Pengadilan Negeri Tulungagung menjatuhkan pidana kepada terdakwa dengan pidana penjara selama empat bulan dan denda sejumlah Rp 1.000.000,00. “Kecewa sekali dengan putusan ini. Elang merupakan top predator dalam rantai makanan, memiliki peran yang sangat besar dalam ekosistem. Vonis yang diberikan juga tidak sebanding dengan kematian kedua lutung jawa akibat perdagangan online melalui facebook ini. Centre for Orangutan Protection berharap, hukum dapat ditegakkan agar tidak ada lagi Ahmad Saifudin lainnya.” ungkap Daniek Hendarto, direktur operasional COP dengan prihatin. “Lagi-lagi facebook menjadi media kejahatan satwa. Lagi-lagi whatsapp menjadi sarana komunikasi sebuah kejahatan. Perkembangan dunia komunikasi modern kembali disalahgunakan. Dunia kejahatan satwa liar seperti menemukan kenyamanan. Kami memanggil seluruh orangufriends untuk terus menerus menjadi mata, telinga, mulut bahkan kulit untuk satwa liar.”.

DENDA 1 JUTA UNTUK TERDAKWA 2 KANGKARENG PUTIH

Setelah melalui enam persidangan, terdakwa 2 (dua) Kangkareng Perut Putih (Anthracoceros Albirostris) yaitu Dadang Andri Krisbyantoro alias Satrio akhirnya terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “dengan sengaja menyimpan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup”, oleh PN Tulungangung. 

Kedua Kangkareng tersebut adalah satwa dagangan online. Ini adalah pengembangan kasus yang dikerjakan anggota Unit III Subdit IV Tipider Ditreskrimsus Polda Jatim. 8 Januari 2020 adalah hari yang luar biasa, empat pedagang satwa liar tertangkap tangan memperjualbelikan satwa liar dilindungi. “Kerja keras dan teliti dari Polda Jatim, patut diancungi jempol!”, ujar Daniek Hendarto, direktur operasional COP. 

Pengadilan Negeri Tulungagung pada 23 April 2020 menjatuhkan pidana penjara selama 4 (empat) bulan dan denda sejumlah Rp 1.000.000,00 dengan ketentuan apabila denda tersebut tidak dibayar, diganti dengan pidana kurungan selama 1 (satu) bulan. “Ini adalah kemenangan kita semua, tim Polda Jatim yang cepat tanggap, semoga tidak ada lagi burung Kangkareng Perut Putih yang berakhir di pedagang bahkan rumah penduduk.”, kata Daniek lagi.

PASAR HEWAN, COVID-19 DAN KESEHATAN MENTAL

Dampak pasar hewan yang kembali normal

Belum genap seminggu sejak diangkatnya kebijakan lockdown di Tiongkok, namun pasar-pasar basah yang menjual berbagai jenis daging dan hewan hidup termasuk satwa liar sudah kembali berjalan normal. Meski diyakini bahwa virus corona yang kini makin menyebar ke berbagai penjuru dunia berasal dari pasar hewan di Wuhan, hal ini tidak menyurutkan niatan para penjual untuk tetap memperjualbelikan satwa-satwa liar. Berbagai media pun melaporkan bahwa mereka masih melihat adanya kelelawar-kelelawar yang diperjualbelikan di pasar dan toko obat-obatan.

Tak hanya kelelawar, berbagai satwa domestik seperti anjing dan kucing yang sudah dilarang untuk perdagangkan dagingnya di berbagai negara dan daerah pun masih terlihat di pasar-pasar ini. Dan hal ini tidak hanya menyebabkan perdebatan sengit mengenai kesehatan manusia terkait dengan penyebaran virus tetapi juga kesejahteraan dari satwa-satwa itu sendiri.

Ekonomi memang adalah salah satu faktor yang menjadi penentu, terutama setelah diterapkan peraturan lockdown yang praktis menghentikan perputaran ekonomi di masyarakat. Tentunya ini menjadi pekerjaan rumah bersama baik bagi pemerintah dan masyarakat dari berbagai kalangan untuk menemukan jalan keluar yang menguntungkan satu sama lain. Entah apakah dengan kembali menyadarkan masyarakat untuk menghentikan dan mengubah budaya atau tradisi yang merugikan atau dengan membuat peraturan-peraturan yang lebih ketat. Karena tentunya bila hal ini terus berlanjut maka bukan tidak mungkin pandemik global seperti kasus Covid-19 ini dapat kembali merebak dan merugikan banyak orang tidak hanya secara fisik tetapi juga secara mental.

Covid-19 dan kesehatan mental

Sayangnya pandemik global akibat Covid-19 ini diketahui tidak hanya merengut nyawa orang-orang yang terjangkit, tetapi juga dapat menyebabkan orang-orang yang sebenarnya sehat secara fisik menjadi sakit secara mental.  Besarnya ketakutan dan kecemasan yang tersebar akibat adanya virus ini membuat banyak orang terpengaruh. Terutama dengan adanya kebijakan-kebijakan isolasi dan karantina yang mengharuskan orang-orang memutuskan koneksi dengan dunia luar dan harus menghadapi virus ini sendirian.

Beruntung bagi orang-orang yang memiliki keluarga di rumah sehingga masih dapat melakukan sosialisasi secara minimum. Namun bagi orang-orang yang tinggal sendiri ataupun terpisah dari keluarga dan orang terdekat tentunya hal ini menjadi tantangan tersendiri. Hal ini terbukti dari studi-studi sebelumnya terkait epidemik seperti saat SARS, MERS, Influenza, dan Ebola beberapa tahun lalu. 

Dari beberapa studi, dijabarkan beberapa gangguan yang dialami oleh orang-orang saat sebuah epidemik dan pandemik terjadi. PTSD atau post traumatic stress syndrome, gangguan pola tidur, gangguan pola makan, dan kecemasan serta ketakutan berlebih. Hal ini tidak hanya dialami oleh orang-orang yang terjangkit virus, tetapi juga orang-orang atau masyarakat secara umum. Namun kecemasan dan pengaruh berbeda dapat dialami oleh para petugas-petugas medis dan kesehatan.

Pandemik seperti ini yang menyebar dengan cepat dan menjangkiti ratusan orang dalam sehari dapat membuat para petugas medis kewalahan. Terlebih bila mereka berada dalam kondisi-kondisi yang kurang menguntungkan seperti kurangnya fasilitas dan banyaknya jumlah pasien yang harus mereka tangani. Para petugas medis dalam kondisi ini akan sangat rentan mengalami stress dan depresi. Termasuk dengan adanya kecemasan akan adanya resiko mereka dan keluarga mereka juga dapat terjangkit virus dari pasien-pasien yang mereka tangani. 

Oleh karena itu kita harusnya bisa memahami bagaimana pergumulan para petugas medis yang berperang di garis terdepan. Mereka harus memberanikan diri mengambil resiko begitu besar untuk merawat orang-orang yang sakit. Maka satu hal yang bisa kita lakukan sebagai masyarakat biasa adalah dengan terus memberikan dukungan baik secara materi untuk memperbaiki fasilitas yang ada ataupun secara mental. Secara mental berarti kita bisa terus memberikan dukungan berupa semangat dan keterbukaan untuk menerima keluhan-keluhan mereka. 

Menjaga kesehatan mental di tengah isolasi

WHO mempublikasikan beberapa himbauan untuk masyarakat untuk menjaga mental mereka tetap sehat selama isolasi. Beberapa diantaranya yaitu dengan tetap menjaga hubungan dengan lingkungan atau orang lain dengan memanfaatkan teknologi. Kemudian melakukan aktivitas-aktivitas yang menyehatkan di rumah seperti berolahraga atau aktivitas yang kita sukai dan dapat menenangkan pikiran. Selain itu dengan mengurangi paparan terhadap bacaan atau tontonan berita yang dapat membuat pikiran menjadi cemas dan stress.

Berada dalam isolasi juga sebenarnya memberikan kita kesempatan untuk memperbaiki gaya hidup dan mencoba mempelajari hal-hal baru seperti memasak, berolahraga, mempelajari bahasa lain, menambah wawasan dengan membaca buku atau pengetahuan lainnya dan menyibukkan diri dengan mengadopsi hewan-hewan yang terlantar. Hal ini dapat menyibukkan pikiran kita agar tidak terlalu cemas dan tetap bisa terasah serta membantu lingkungan sekitar kita.

Begitu juga dengan para petugas medis, mereka harus lebih memperhatikan kesehatan diri dengan tetap menjaga kebersihan dan tidak melewatkan waktu tidur serta makan mereka. Karena pola tidur dan makan yang terganggu dapat menurunkan imunitas tubuh dan daya tahan terhadap stress serta kontrol terhadap emosi. Selain itu juga tidak memaksakan diri dan tetap berusaha untuk membagikan perasaannya dengan orang lain atau tidak memendam stress yang dirasakan.

Itulah beberapa pelajaran sederhana yang dapat kita ambil dari kejadian atau pandemik global saat ini. Hal ini membuat kita belajar bahwa manusia sebenarnya adalah makhluk yang begitu rentan baik secara fisik dan mental. Namun di sisi lain bila kita ingin melewati ini semua, kita harus belajar dari kesalahan-kesalahan dan menjadikan ini sebagai titik balik. Titik balik untuk berubah menjadi manusia yang lebih baik dan bijak untuk membawa kebaikan bagi sesama dan lingkungan sekitarnya. (LIA)

MENUNGGU KABAR BAIK BAGI BERUANG

Pada awal April 2020 lalu, sebuah berita menggembirakan muncul di tengah-tengah duka Covid-19. Shenzen menjadi kota pertama di Cina yang melarang konsumsi daging anjing dan kucing. Memang sejak dahulu Cina cukup terkenal dengan kebiasaan mengkonsumsi daging anjing dan kucing yang juga telah dilarang di beberapa negara lain. Bahkan Cina memiliki sebuah kegiatan tahunan yaitu Festival Yulin yang biasanya dirayakan dengan memakan daging anjing pada bulan Juni. 

Meski belum ada kabar pelarangan perayaan Festival Yulin secara umum di Cina, Shenzen setidaknya sudah mengambil langkah pertama untuk mengurangi konsumsi daging anjing dan kucing yang pada dasarnya bukanlah hewan ternak ini. Langkah ini juga merupakan awal perbaikan kebiasaan-kebiasaan memakan daging satwa liar yang dapat menyebabkan penyebaran Covid-19 di Shenzen.

Selain konsumsi daging anjing, kucing, dan satwa-satwa liar lain, Cina dan beberapa negara di Asia lain pun pernah atau masih melakukan praktek yang sangat mengkhawatirkan yaitu seperti menjual dan mengekstrak cairan empedu dari beruang untuk digunakan sebagai obat. Hampir sama dengan satwa-satwa liar lain yang diperjualbelikan di Cina sebagai obat, bedanya hanyalah bahwa cairan empedu diekstrak dari beruang-beruang yang masih hidup dan dilakukan dengan cara-cara yang bisa dikatakan sangat mengganggu dan tidak manusiawi.

Banyak kemudian muncul peternakan beruang demi membuat ekstrak empedu yang memang terkenal khasiatnya dan dicari banyak orang. Khasiatnya dipercaya mampu menyembuhkan demam, sebagai detoks, anti peradangan, pembengkakan dan mengurangi rasa sakit. Berbagai spesies beruang digunakan, seperti beruang coklat dari Tibet, beruang hitam Asia, beruang madu, dan beruang cokelat Himalaya. Beruang-beruang yang jumlahnya di alam saat ini terus menurun.

Meski dulu cairan ini diambil dengan cara memburu beruang dan diambil dari beruang yang sudah mati, saat ini cairan didapatkan dari beruang-beruang yang hidup di kandang-kandang besi kecil yang bahkan bisa lebih kecil dari tubuh mereka. Cairan diekstrak dari perut beruang hidup dengan cara yang menyakitkan dan akibatnya banyak beruang yang akhirnya mati karena sakit dan infeksi serta terkena kanker hati. Dan tak terhitung berapa banyak yang mengalami trauma dan stress akibat bertahun-tahun tinggal di kandang kecil seperti itu hanya untuk diambil cairan empedunya.

Praktik ini sudah dilarang di beberapa negara, namun sayangnya masih belum dilarang di Cina. Bahkan sempat muncul promosi penggunaannya sebagai obat untuk melawan Covid-19. Hal ini tentunya sangat disayangkan karena praktiknya yang sangat tidak manusiawi dan hanya membuat beruang-beruang ini sebagai obyek penghasil obat. Ditambah lagi biasanya beruang-beruang dari peternakan ini akan sulit untuk dilepasliarkan karena kemampuan mereka untuk bertahan hidup di alam sudah sangat berkurang dan mengalami banyak sakit penyakit. 

Beberapa lembaga konservasi yang bergerak dalam penyelamatan beruang pun berusaha melakukan langkah-langkah untuk menutup peternakan beruang ini. Berbagai cara seperti kampanye dengan menawarkan pengobatan dengan cara herbal dilakukan. Sayangnya tidak mudah memang  untuk mengubah tradisi, kebiasaan, dan keyakinan yang sudah menahun. Namun adanya berita pelarangan konsumsi daging anjing dan kucing di Shenzen membawa sedikit harapan bagi para beruang untuk menyudahi penderitaan mereka. Semoga segera kita bisa mendengar kabar baik bagi para beruang. (LIA)

Sumber :

https://www.freedomofresearch.org/bear-bile-bad-for-bears-bad-for-humans-by-angela-leary/

Feng, Y., Tong, Y., Wang, N. (2009). Bear bile: dilemma of traditional medicinal use and

animal protection. Journal of Ethnobiology and Ethnomedicine 2009, 5:2: Biomed Central.

Foley, K. E., Stengel, C. J., Shepherd, C. R., 2011. Pills, Powders, Vials and Flakes: The Bear 

Bile Trade in Asia, A Traffic Southeast Asia Report. Traffic Southeast Asia: Malaysia.

DEPRESI PADA SATWA LIAR YANG TERKEKANG (3)

Sebelumnya kita mengetahui bahwa sama seperti manusia, satwa atau binatang pun sangat memungkinkan untuk bisa merasa stres dan depresi. Hal ini tidak hanya dirasakan oleh satwa domestik, tetapi juga satwa liar yang tidak berada di habitat aslinya. Contohnya yaitu satwa-satwa liar yang ditangkap untuk diperjual-belikan ataupun satwa liar yang ada di kebun binatang, sirkus atau pertunjukkan satwa lainnya.

Di habitat aslinya, satwa-satwa liar menghabiskan waktunya sehari-hari untuk mencari makan, membuat sarang, bersosialisasi dengan satwa lainnya, menghindari predator dan mempertahankan wilayah. Namun alam situasi lain, baik di kebun binatang ataupun kadang dalam proses perdagangan satwa, satwa-satwa ini menjadi jauh lebih pasif. Makanan dan minuman diberikan oleh manusia, begitu juga area gerak dan lingkungan sangat dibatasi. Kemudian juga terlalu sedikit atau terlalu banyak individu di satu tempat atau kandang yang sama dapat mempengaruhi tingkat stres satwa.

Memang saat ini masih belum banyak peneliti yang mempelajari mengenai stres dan depresi pada hewan secara mendalam. Namun sudah ada penelitian-penelitian yang menggunakan primata sebagai subjeknya. Selain karena memiliki kekerabatan erat dengan manusia, primata juga memiliki ekspresi dan mimik wajah yang lebih mudah dikenali dibandingkan mamalia lainnya.

Sebuah penelitian di sebuah kebun binatang di Malaysia menemukan bahwa beberapa satwa mengalami ciri atau gejala stres dan depresi. Kera menunjukkan depresi dengan duduk di sudut kandang atau tidur dalam waktu yang lama. Kemudian orangutan, simpanse dan unta menunjukkan sensitivitas pada hujan dengan menjadi pasif atau terganggu dan mudah sakit saat terkena hujan. Harimau dan singa menunjukkan sikap gelisah dengan berjalan mondar-mandir di kandang dan menggeram. Orangutan yang stres mengalami kesulitan dalam merawat anak yang dilahirkannya sehingga beberapa kali kelahiran, anaknya selalu mati.

Hal ini biasanya disebabkan oleh banyak hal, seperti yang disebutkan di paragraf sebelumnya. Dan memang sulit untuk memenuhi kebutuhan satwa yang seharusnya tinggal bebas di alam. Terutama bila satwa-satwa liar ini dimiliki oleh individu-individu dan dipelihara begitu saja di rumah mereka. Tentu kondisi dan tingkat stres bisa menjadi lebih tinggi karena kurangnya fasilitas-fasilitas yang memadai.

Oleh karena itu, butuh kesadaran dari masyarakat untuk berhenti memelihara dan memperjualbelikan satwa liar. Apalagi dengan menjadikan satwa liar sebagai konsumsi, karena kita tahu selalu ada kemungkinan penyebaran penyakit baik dari satwa ke manusia ataupun sebaliknya. Selain itu juga setiap satwa masing-masing memiliki tugas dan peranan untuk menjaga keseimbangan di alam. Maka bila kita benar-benar pada satwa dan manusia, seharusnya kita berusaha untuk mempertahankan dan memperbaiki habitat mereka di alam. Karena sama seperti halnya manusia, hewan pun memiliki batasan baik secara fisik atau mental untuk hidup dalam kekangan. (LIA)

Sumber:

Haque, A. Depression in Caged Animals: A Study at the National Zoo, Kuala Lumpur, Malaysia. Department of Psychology: UAE University.