SAVE ORANGUTAN ISLAND FROM COAL MINING

Temperature at the COP Borneo orangutan monitoring post, Merasa village, Kelay sub-district, East Kalimantan is getting hotter. The trees behind the camp in just a moment have turned to open land. Dazzling! River water looks murky. Dust is everywhere, and wearing masks and glasses help us comfortable. But what about the orangutans on the pre-release island?

Coal mining activities are increasingly approaching the orangutan pre-release island. The wind that blows towards the island cannot be controlled, carrying suffocating dust grains that also hurt our eyes. “How will the orangutan on the pre-release island survive? This condition disturbs the orangutan rehabilitation program! “, Said Reza Kurniawan, COP Borneo manager.

The orangutan pre-release island is an island that is used for orangutans final rehabilitation before being released into their new habitat. This island is a place for orangutans to practice living wild by minimizing human intervention. The island which since December 2015 has successfully released 5 orangutans back to their habitat. “This disturbing coal mining activity will certainly be a bad reputation for the company. Every company is trying to be part of the Orangutan protection effort which is an icon of Indonesia’s protected wildlife. How can KJB ignore this condition? “, Said Reza Kurniawan, worrying about the condition of orangutans on the island.

In your opinion, do orangutans have to succumb to coal mining? Provide support via email info@orangutanprotection.com or https://www.kitabisa.com/orangindo4orangutan

SELAMATKAN PULAU ORANGUTAN DARI TAMBANG BATUBARA

Suhu di pos monitoring orangutan COP Borneo, desa Merasa, kecamatan Kelay, Kalimantan Timur semakin panas. Pepohonan di belakang camp sesaat saja berganti dengan lahan terbuka. Silau! Air sungai terlihat keruh. Dan debu-debu beterbangan, penggunaan masker dan kacamata cukup membuat nyaman, tapi bagaimana dengan orangutan yang berada di pulau pra-rilis?

Aktivitas pertambangan batubara semakin mendekati pulau pra-rilis orangutan. Angin yang bertiup mengarah ke pulau tak mungkin bisa dikendalikan, membawa butiran debu yang menyesakkan dan memerihkan mata. “Bagaimana orangutan di pulau pra-rilis akan bertahan? Kondisi ini menganggu program rehabilitasi orangutan!”, ujar Reza Kurniawan, manajer COP Borneo. 

Pulau pra-rilis orangutan adalah pulau yang digunakan untuk orangutan rehabilitasi tahap akhir sebelum dilepasliarkan ke habitat barunya. Pulau ini akan menjadi tempat berlatih orangutan menjadi liar dengan meminimalisir campur tangan manusia. Pulau yang sejak Desember 2015 telah berhasil meluluskan 5 orangutannya kembali ke habitatnya. “Aktivitas pertambangan batubara yang menganggu ini tentu akan menjadi reputasi buruk bagi perusahaan. Setiap perusahaan sedang berusaha untuk ikut menjadi bagian dari usaha perlindungan Orangutan yang merupakan ikon satwa liar yang dilindungi Indonesia ini. Bagaimana mungkin KJB mengabaikan kondisi ini?”, tegas Reza Kurniawan, mengkawatirkan kondisi orangutan di pulau.

Menurutmu, apakah orangutan harus mengalah pada pertambangan batubara? Berikan dukungan melalui email info@orangutanprotection.com atau https://www.kitabisa.com/orangindo4orangutan

HAPPI IS BUSY WITH HIS CUCUMBER

The four limbs work well. His twenty fingers gripped this new diet. Cucumber is a favorite fruit at the end of May. Happi does not allow one hand or leg to be idle, all must be full of food.

Living in a hostel with the same menu often makes boarders run away for snacks outside. Of course, it must be supported by sufficient finance. The same is true for orangutans in the COP Borneo orangutan rehabilitation center in Berau district, East Kalimantan. When in forest school, it’s time for them to look for their natural food. Then what about when the forest school had to be stopped like now?

Substitution of feed variations in COP Borneo that usually happens every 3 months is awaited time. Menu changes are set to get the right calorie and nutritional composition but still in accordance with the set budget. White pumpkins are reported to be left over when given. This report was immediately responded to with a change of white pumpkin with cucumber. And the result …

Happi is one of the orangutans who really enjoys this menu change. His bright face shown with his hands and feet full of cucumbers. (EBO)

 

HAPPI SIBUK DENGAN TIMUNNYA

Keempat anggota tubuhnya bekerja dengan baik. Kedua puluh jarinya mencengkeram menu baru ini. Buah ketimun menjadi buah favorit di akhir bulan Mei. Happi tak membiarkan satu tangan atau kaki pun menganggur, semuanya harus penuh dengan makanan. 

Tinggal di sebuah asrama dengan menu makanan yang sama sering membuat penghuni asrama melarikan diri untuk jajan di luar. Tentu saja, harus didukung dengan keuangan yang cukup. Sama halnya orangutan yang berada di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo yang berada di kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Saat berada di sekolah hutan, adalah saatnya mereka mencari pakan alaminya. Lalu bagaimana saat sekolah hutan terpaksa dihentikan seperti saat ini?

Pergantian variasi pakan di COP Borneo yang biasanya setiap 3 bulan sekali pun menjadi waktu yang dinantikan. Perubahan menu diatur untuk mendapatkan komposisi kalori dan nutrisi yang pas namun tetap sesuai dengan anggaran yang ditetapkan. Buah labu putih dilaporkan banyak bersisa saat diberikan. Laporan ini langsung ditanggapi dengan pergantian labu putih dengan ketimun atau buah timun. Hasilnya…

Happi adalah salah satu orangutan yang sangat menikmati pergantian menu ini. Wajah cerianya terpancar dengan tangan dan kaki yang penuh menggenggam timun. (SAD)

 

A NEW BASKET FOR MORE HYGIENE

Feed holds the most important role in orangutan growth and development in a rehabilitation center. but on the other hand it is also the main media for disease to spread. Herbicides, pesticides, germs, pollutants when carried on the road and contact with other animals when in fed sheds are nightmare because these fruits might spread disease.

So, is there a solution for everything? Of course there are, every fruit is washed and rinsed. Is thus all feed safe from harmful contaminants? Not yet, there is still one more critical point, which is when bringing food to orangutans.

Usually the transport media is supported by using a sack then collected in a lajung (a kind of basket made of woven rattan) per each cage. Now woven baskets that are easier to clean are the choice of the medical team. “Yes, usually the remnants of feed are still stucked in sacks and between lajung. With hand-held baskets that are in more suitable size, it is expected to be easier to clean so that the hygiene can be maintained.

The Borneo COP Orangutan Rehabilitation Center always strives to improve the quality of caring for its orangutans. What do you think? (EBO)

KERANJANG BARU AGAR PAKAN LEBIH HIGENIS

Pakan memegang peranan terpenting dalam tumbuh kembang orangutan. namun di sisi lain juga sebgai media utama penyebaran penyakit. Herbisida, pestisida, kuman, polutan saat dibawa di jalan serta kontak dengan hewan lain ketika di gudang pakan menjadi momok penyebaran penyakit dari buah-buah tersebut.

Lantas, adakah solusi untuk semuanya? Tentu ada, setiap buah dicuci dan dibilas. Apakah dengan begitu seluruh pakan aman dari kontaminan berbahaya? Belum, masih ada satu cara lagi critical point yaitu saat membawa pakan ke orangutan.

Selama ini, media angkut disokong dengan menggunakan karung kemudian dikumpulkan dalam lajung (semacam keranjang gendong dari anyaman rotan) per tiap kandang. Kini keranjang tenteng dari anyaman yang lebih mudah dibersihkan menjadi pilihan tim medis. “Iya, biasanya sisa-sisa pakan masih saja menyangkut di karung maupun sela-sela lajung. Dengan keranjang tenteng yang ukurannya lebih pas diharapkan lebih mudah dibersihkan sehingga higenisnya dapat tetap terjaga. 

Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo selalu berusaha dalam peningkatan kualitas perawatan orangutannya. Bagaimana menurutmu? (SAT)

WHEN BABY BITES LANDED SMOOTHLY (2)

An orangutan baby named Alouise was only 1 year old, but his fearful attitude was shown by biting all the humans who tried to approach him, including the medical team. At the beginning of his arrival he looked very scared. Even his body trembles. Although he has been adapted at the arrival quarantine enclosure and is getting used to the presence of orangutan nurses. But still when invited out to the playground area, he was still very scared and biting.

The bite is also different from the other eight baby orangutans. The bite is very strong and long, different from Popi and Mary who bite only to threaten. Alouise’s baby bite is enough to make the skin peel and turn blue for more than 3 days.

Because of Alouise’s nature, who is still afraid of the orangutan nurse, the medical team is looking for orangutan companion for him. A companion who can be a foster parent so that Alouise becomes comfortable. The choice fell on Septi. In the past, Septi had been a foster parent for Popi. Now, Septi is back as a foster parent for Alouise.

Hopefully baby Alouise’s can reduce the trauma huh … (EBO)

SAAT GIGITAN BAYI MENDARAT DENGAN MULUS (2)

Bayi orangutan bernama Alouise baru berumur 1 tahun, namun sikap takutnya ditunjukkan dengan menggigit semua manusia yang berusaha mendekatinya, tak terkecuali tim medis. Awal kedatangan memang dia terlihat sangat takut. Bahkan badannya bergetar. Meskipun telah diadaptasikan di kandang karantina kedatangan dan mulai terbiasa dengan kehadiran perawat orangutan. Namun tetap saja saat diajak keluar ke area playground, dia masih sangat takut dan menggigit.

Gigitannya juga berbeda dengan kedelapan bayi orangutan lainnya. Gigitannya sangat kuat dan lama, beda dengan Popi dan Mary yang menggigit hanya untuk mengancam. Gigitan bayi Alouise cukup untuk membuat kulit terkelupas dan membiru selama lebih dari 3 hari.

Karena sifat bayi Alouise yang masih takut dengan perawat orangutan, tim medis mencarikan pendamping orangutan untuknya. Pendamping yang bisa menjadi induk asuh agar Alouise menjadi nyaman. Pilihan jatuh pada orangutan Septi. Dulu, Septi pernah menjadi induk asuh untuk orangutan Popi. Kini, Septi kembali menjadi induk asuh untuk Alouise. 

Semoga bayi Alouise bisa mengurangi traumanya ya… (FLO)

AN ISLAND FOR MICHELLE

After a year of waiting in the quarantine cage, finally Michelle, a female orangutan from the Mulawarman University Botanical Garden in Samarinda (KRUS) will begin her independent life for the first time on the COP Borneo orangutan island. This island is the final stage of orangutan rehabilitation to stimulate the wild nature of orangutans.

Getting to know Icel (Michelle’s nickname) the spoiled one who has never been released from human care is a big concern. Can Icel survive a day … two days … or a week on the island? Plans A to C are always carefully monitored by the APE Defender team (the team responsible for orangutans when rehabilitated).

Until the day awaited, the day Michelle is transferred to the island arrived. “Transfer of Icel goes smoothly, thank God we don’t need to anesthetize her. Enough with fruit and milk. “Icel … this is your most important day, show that you can survive without humans! The forest is really waiting for you, “said vet Flora full of hope.

On the first day on the island, Icel seemed to dwell on the tower. Seems to occasionally hold a rope that connects one tower to a tree. But she chose to stay in the tower while eating fruits that were deliberately placed there. “Maybe our anxiety is similar to Icel’s fear to start the exploration. From across the island the team continued to take turns ensuring Icel is fine. ” (REZ)

PULAU ORANGUTAN UNTUK MICHELLE

Setelah setahun menunggu di kandang karantina, akhirnya Michelle, orangutan betina dari Kebun Raya Universitas Mulawarman Samarinda (KRUS) akan memulai kehidupan mandirinya untuk pertama kali di pulau orangutan COP Borneo. Pulau ini adalah tahapan akhir dari orangutan rehabilitasi untuk merangsang sifat liar dari orangutan. 

Mengenal Icel (panggilan Michelle) si manja yang tak pernah lepas dari perawatan manusia ada kekawatiran besar, mampukah Icel bertahan sehari… dua hari… atau seminggu di pulau tersebut. Rencana A hingga C tak lepas dari pantauan tim APE Defender (tim yang bertanggung jawab pada orangutan saat direhabilitasi). 

Hingga hari yang ditunggu, hari pemindahan Michelle ke pulau pun tiba. “Pemindahan Icel berjalan dengan lancar, syukurlah kita tidak perlu membiusnya. Cukup dengan buah dan susu. Icel… ini adalah hari terpentingmu, tunjukkan kalau kamu bisa bertahan hidup tanpa manusia! Hutan sesungguhnya menantimu.”, ujar drh. Flora penuh harapan.

Hari pertama di pulau, Icel terlihat banyak berdiam di atas menara. Tampak sesekali memegang tali yang menghubungkan satu menara dengan pohon. Tapi icel memilih berdiam di menara sambil makan buah-buahan yang sengaja ditaruh di situ. “Mungkin rasa was-was kami sama dengan rasa takut Icel untuk memulai penjelajahannya. Dari seberang pulau tim terus bergantian memastikan Icel baik-baik saja.”. (REZ)

 

A CLOSE ENCOUNTER

Unyil has disappeared again. Let alone Untung, whose existence is still unknown since the second day of monitoring. The team has searched the location but has not found him. To help finding them the team agreed to install trap cameras around the location where both of them disappeared.

The debate began, because not all rangers were good at climbing trees to install cameras. 

Fortunately, the ranger who is usually called Marison managed to set the camera trap at an altitude of more than 20 meters. The way he climbed was just like a wild  orangutan that made him got praises.

Every day the monitoring team evaluates daily results to plan monitoring the following day. This time, the team searched at the river. Two hours walking, the team also rested on the river bank while enjoying a cup of coffee prepared by the logistics team.

Suddenly, one of the rangers shouted, “Woy … Untung !!!” Spontaneous all turned back and Untung was already 1 meter behind. Some ran to the right, some to the left, and even towards the river. The team were shocked. Slowly Untung began to climb trees and glared. The team packed up and immediately followed Untung from behind. Sure this time will not lose Untung, but then he just disappeared.

After disappearing for 14 days, Untung began to show the development of good adaptation. He no longer pursues humans. (EBO)

KEMUNCULAN UNTUNG MENGANGETKAN RANGER

Unyil kembali menghilang, apalagi Untung yang sejak hari kedua monitoring belum diketahui keberadaannya. Penyisiran lokasi secara berpencar sudah, namun tim belum menemukan keberadaan keduanya. Sebagai alat bantu sembali melakukan penyisiran lokasi, tim sepakat untuk memasang kamrea jebak di sekitar lokasi keduanya menghilang.

Perdebatan pun di mulai, karena tidak semua ranger lihai memanjat pohon untuk memasang kamera. Untunglah, ranger yang biasa dipanggil Marison berhasil memansang kamera jebak di ketinggian lebih dari 20 meter. Gerakannya memanjat seperti orangutan liar membuatnya banjir pujian.

Setiap hari tim monitoring mengevaluasi hasil harian untuk merencakan pemantauan hari berikutnya. Kali ini, tim menyisir aliran sungai. Dua jam berjalan, tim pun beristirahat di pinggir sungai sambil menikmati secangkir kopi yang telah dipersiapkan tim logistik. 

Tiba-tiba, salah seorang ranger berteriak, “Woy.. Untung!!!”. Spontan semuanya menoleh ke belakang dan Untung sudah berada tepat 1 meter di belakang. Ada yang berlari ke kanan, kekiri bahkan ke arah sungai. Kaget bukan main rasanya. Perlahan Untung mulai memanjat pohon dan melotot. Tim pun berkemas dan segera membututi Untung dari belakang. Yakin kali ini tidak akan kehilangan Untung, namun jejaknya kali ini, hilang begitu saja.

Setelah menghilang selama 14 hari, Untung mulai menunjukkan perkembangan adaptasi yang baik. Ia tak lagi mengejar manusia. 

 

LEMANG JELLY FOR ORANGUTAN

Have you ever eaten lemang? Glutinous rice which is put into bamboo and cooked by burning the bamboo? In Berau, East Kalimantan we call it lemang, while in Toraja, South Sulawesi it’s called Piong Bo’bo. What is it called in other regions?

Well, specifically at the COP Borneo orangutan rehabilitation center in Berau, East Kalimantan, there is a food called ‘Lemang Jelly’. Actually it depends on the contents. This time the lemongrass is filled with jelly mixed with several pieces of fruit, eggs and banana stems. According to nutritionists, banana tree trunks contain various nutrients such as tannin, sugar, vitamins A, B, C, starch saponins, potassium, serotine, hydrocytitamine and norepinephrine. The benefits of banana stems which are rich in fiber are certainly good for orangutan intestinal health.

How does it taste? To be sure, orangutans really enjoy this jelly lemang … until the last jelly slice. Especially when they find an egg in it. Sure … they won’t want to let go of this special lemang. (EBO)

LEMANG JELLY UNTUK ORANGUTAN

Sudah pernah makan lemang? Beras ketan yang dimasukkan ke dalam bambu kemudian dimasak dengan cara dibakar? Lemang namanya kalau di Berau, Kalimantan Timur, sementara kalau di tanah Toraja, Sulawesi Selatan disebut pa Piong Bo’bo. Kalau di daerah lain disebut apa ya?

Nah, khusus di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo yang terletak di Berau, Kalimantan Timur ada makanan yang namanya ‘Lemang Jelly’. Sebenarnya tergantung isinya. Kali ini lemangnya diisi dengan jelly yang dicampur dengan beberapa potongan buah, telur dan juga batang pisang. Menurut ahli gizi, batang pohon pisang mengandung berbagai nutrisi seperti tanin, gula, vitamin A, B, C, saponin zat tepung, kalium, serotin, hidrokitiptamin dan neropinefrin. Manfaat dari batang pisang yang kaya akan serat ini tentunya baik untuk kesehatan usus orangutan. 

Rasanya bagaimana ya? Yang pasti, orangutan terlihat sangat menikmati lemang jelly ini… hingga potongan jelly paling akhir. Apalagi saat mereka menemukan sebutir telur di dalamnya. Yakin… mereka tidak akan mau melepaskan lemang istimewa ini. (FLO)

THE COLLAPSING OF 40 YEARS OLD TREES IN LABANAN FOREST

The sound of a chainsaw blaring around the Borneo COP camp. Followed by the sound of a tree falling on the ground. One … two … and countless. Suddenly the forest school class became so bright, the big trees have collapsed.

The Borneo COP orangutan rehabilitation center located in Labanan Research Forest is the best rainforest owned by Indonesia. Being in this forest, like being in a very different place. Humidity is high enough to attract us to continue to be in it, while outside the temperature of Borneo is so stinging. “Not surprisingly, orangutans are very fond of being in a forest school class. Passing a day with them feels so quick. “, Said Johni, coordinator of animal care.

Unfortunately the threat of encroachment on Labanan Research Forest never stopped. Entering the fifth year of the Center for Orangutan Protection here, the conflict continues. “See! we have to lose trees aged 40-45 this year, we do not know who cut them, “said Daniek Hendarto, COP action manager. Three days later, when the team returned to this location, the logs were gone, the trees had disappeared. (EBO)

ROBOHNYA POHON BERUSIA 40 TAHUN DI HUTAN LABANAN

Suara gergaji mesin membahana di sekitaran camp COP Borneo. Disusul suara jatuhnya pohon mengenai tanah. Satu… dua… dan tak terhitung lagi. Tiba-tiba saja kelas sekolah hutan menjadi begitu terang, pohon-pohon besar itu roboh.

Pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo yang berlokasi di Hutan Penelitian Labanan adalah hutan hujan terbaik yang dimiliki Indonesia. Berada di hutan ini, seperti berada di tempat yang sangat berbeda. Kelembaban yang cukup tinggi menarik kita untuk terus berada di dalamnya, sementara di luar suhu Kalimantan begitu menyengat. “Tak heran, orangutan sangat menyukai berada di kelas sekolah hutan. Seharian bersama mereka tidak akan pernah terasa.”, ujar Johni, kordinator perawat satwa.

Sayang ancaman perambahan Hutan Penelitian Labanan tak pernah berhenti. Memasuki tahun kelima Centre for Orangutan Protection di sini, konflik terus berlanjut. “Lihat! kita harus kehilangan pohon berusia 40-45 tahun ini, entah siapa yang memotongnya.”, ujar Daniek Hendarto, manajer aksi COP. Tiga hari kemudian, saat tim kembali ke lokasi ini, pohon sudah tidak ada, tebangan-tebangan pohon sudah menghilang. 

THE APE GUARDIAN SPOTTED UNYIL IN THE RIVER

Losing orangutan tracks during post-release monitoring is normal. The next agenda will definitely start from the last point we lost it. A day, two days has passed until a week later the team finally saw Unyil the orangutan. Unyil was seen relaxing in a creek. 

The distance between the team and the orangutan tells whether the orangutan is aware of the existence of the team, or the team managed to record all orangutan activities completely. For this encounter, it turned out that the team was still too close, Unyil was aware of APE Guardian’s existence, the team that is responsible for the release of orangutans. Unyil, who has the ability to walk on the ground quickly, looked angry and chased the team. The team was made helpless. “Confronting Unyil is really exhausting. It’s better to run than to be hit or even bitten by Unyil. That will be a nightmare.”, said Bit, one of the rangers who participated.

After running far enough, the team began to turn around, observe and look for Unyil again. Again, the team lost track of Unyil. “It looks like Unyil is watching us.” Unyil is an orangutan who was illegally cared for by someone in Muara Wahau, East Kalimantan. He was treated like a human in terms of diet, even fed like a human child. However, Unyil was still kept in a 50 cm wooden box. And the cage was put in the bathroom.

The caregiver’s love for Unyil is wrong. Orangutan is a wildlife that protected by law. Its role is far more important in nature, than living in a citizen’s bathroom. We thanked the caregiver’s understanding to hand over Unyil to be rehabilitated. Help COP to save other Unyils. For more information, contact email info@orangutanprotection.com  (EBO)

APE GUARDIAN BERTEMU UNYIL DI SUNGAI

Kehilangan jejak orangutan saat monitoring paska pelepasliaran menjadi sesuatu yang lumrah. Agenda selanjutnya pasti dimulai dari titik kehilangan tersebut. Satu, dua bahkan seminggu kemudian tim akhirnya bertemu orangutan Unyil. Unyil terlihat sedang bersantai di anak sungai.

Jarak tim dengan orangutan menjadi penentu, apakah orangutan menyadari keberadaan tim atau tim berhasil mencatat semua aktivitas orangutan dengan lengkap. Untuk perjumpaan kali ini, ternyata tim masih terlalu dekat, Unyil menyadari keberadaan APE Guardian, tim yang bertanggung jawab pada orangutan pelepasliaran. Khusus untuk Unyil yang memiliki kemampuan berjalan di tanah dengan cepat, tim harus berlari menghindar dari kejaran Unyil yang terlihat marah. Tim dibuat loyo. “Menghadapi Unyil benar-benar menguras tenaga. Lebih baik lari daripada terpukul orangutan bahkan tergigit Unyil. Itu akan jadi mimpi buruk.”, ujar Bit, salah satu ranger yang ikut.

Setelah berlari cukup jauh, tim mulai berbalik arah, mengamati dan mencari Unyil lagi. Lagi-lagi, tim kehilangan jejak Unyil. “Sepertinya Unyil mengamati kami.”. Unyil adalah orangutan yang dipelihara seseorang secara ilegal di Muara Wahau, Kalimantan Timur. Dia diperlakukan seperti manusia dalam artian makan makanan manusia, bahkan disuapi seperti anak manusia.  Namun, Unyil tetap dimasukkan dalam kotak kayu berukuran 50 cm. Dan kandang tersebut dimasukkan ke dalam kamar mandi. 

Kecintaan pemelihara pada Unyil menjadi keliru. Unyil adalah orangutan yang merupakan satwa liar yang dilindungi. Perannya jauh lebih penting di alam, dibandingkan hidup di kamar mandi warga. Terimakasih atas pengertian pemelihara Unyil untuk menyerahkan Unyil direhabilitasi. Bantu COP untuk menyelamatkan Unyil-Unyil yang lain. Untuk informasi lebih lanjut hubungi email info@orangutanprotection.com (WID)

HERCULES TRICK, THE BUILDER

How is Hercules? Hercules which was once the largest, dashing and authoritative in the Unmul Samarinda Botanical Garden (KRUS)? Unfortunately, his development is surpassed by orangutans of the same age like Oki and Untung, who have now been released back into their habitat. Then how is he after being withdrawn from the pre-release island of COP Borneo?

Hercules who lost the competition, had to spend his days in the quarantine cage of the COP Borneo orangutan rehabilitation center, Berau, East Kalimantan. The medical team tried hard to improve his health which had fallen sharply. But the development of his behavior has not changed much.

Hercules in a cage is not much different from Hercules on the island. Every morning and evening when an animal nurse comes to his cage to feed him, he will try to make a nest from the remains of corn husk in her hammock. Just like on the island when he is about to be fed, Hercules looks busy making nests from the grass around the orangutan feedlot.

“Les … come down Les. cage washing is done. Now it’s time to eat. No need to pretend to build a nest again. “, Said Steven, the animal keeper. Then in a few moment later Hercules came down from his hammock to eat.

Is ‘making a nest’ just a trick from Hercules to get fed? Hmmm … we’ll see. (EBO)

TRIK HERCULES, SI PEMBUAT SARANG

Apakabarnya Hercules? Hercules yang dulunya paling besar, gagah dan berwibawa di Kebun Raya Unmul Samarinda (KRUS)? Sayang, perkembangannya didahului orangutan seumurannya seperti Oki bahkan Untung yang kini sudah dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Lalu apakabarnya Hercules setelah penarikannya dari pulau pra-pelepasliaran COP Borneo?

Hercules yang kalah bersaing, harus menghabiskan hari-harinya di kandang karantina pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Berau, Kalimantan Timur. Tim medis berusaha keras memperbaiki kesehatannya yang sempat merosot tajam. Namun perkembangan tingkah lakunya tak banyak berubah.

Hercules di kandang tidak jauh berbeda dengan Hercules di pulau. Setiap pagi dan sore saat perawat satwa mendatangi kandangnya untuk memberi makan, dia akan berusaha membuat sarang dari sisa-sisa kulit jagung di hammocknya. Sama seperti di pulau saat dia akan diberi makan, Hercules terlihat sibuk membuat sarang dari rumput-rumput yang ada di sekitaran tempat pemberian pakan orangutan.

“Les… turun Les. Cuci kandang sudah selesai. Sekarang waktunya makan. Tidak perlu pura-pura buat sarang lagi.”, sahut Steven, animal keeper yang bertugas. Tak menunggu lama, Hercules pun turun dari hammock untuk makan. 

Apakah ‘membuat sarang’ itu hanya trik Hercules agar diberi makan? Hmmm… kita lihat saja nanti. (FLO)