APE DEFENDER SAVED ONE BABY ORANGUTAN

Finally, the APE Defender team with the Berau BKSDA succeeded in rescuing a female orangutan in the village of Long Beliu, East Kalimantan. This 1-2 year old baby has been under illegal captive of a resident since November 2018. According to the resident, the small orangutan was found on the roadside of Wahau when crossing the road alone. Feeling sorry, this baby orangutan was brought home and kept in a 1.5 x 1 meter wooden cage.

In April, July and August 2017, APE Defender has carried out translocation of adult male orangutans entering community palm oil plantations and eating palm oil seedlings. Other male orangutans were also found entering residents’ settlements and the last one was the orangutan with a wounded head was found on the roadside of the Muara Wahau, East Kalimantan.

What happened along the Muara Wahau road that forced the orangutans who usually avoid busy road to be there? COP’s fast-moving team to protect habitats as orangutan homes do not just remain silent. “Maybe there is something wrong with the habitat, so the orangutans are pushed into the settlements or plantations. Orangutans are explorers. They will continue to move and make a nest during the day and evening to rest. With instincts they look for food to survive.”

Inform us via email to info@orangutanprotection.com or COP social media (IG:@orangutan_cop), (FB page: @saveordelete), (Twitter: @orangutan_cop). Orangutan protection is our shared responsibility. (EBO)

APE DEFENDER SELAMATKAN SATU BAYI ORANGUTAN
Akhirnya, tim APE Defender bersama BKSDA Berau berhasil menyelamatkan satu anak orangutan betina di kampung Long Beliu, Kalimantan Timur. Bayi berusia 1-2 tahun ini berada dalam pemeliharaan ilegal seorang warga sejak November 2018 yang lalu. Menurutnya, orangutan kecil tersebut ditemukan di pinggir jalan poros Wahau saat menyebrang jalan sendirian. Karena merasa kasihan, orangutan yang masih bayi ini dibawa pulang ke rumah dan dipelihara di kandang kayu berukuran 1,5 x 1 meter.

Pada April, Juli dan Agustus 2017, APE Defender telah melakukan translokasi orangutan jantan dewasa yang memasuki perkebunan kelapa sawit warga dan memakan bibit sawit. Orangutan jantan lainnya juga ditemukan memasuki pemukiman warga dan terakhir orangutan dengan kepala terluka ditemukan di pinggir jalan poros Muara Wahau, Kalimantan Timur.

Apa yang terjadi sepanjang jalan Muara Wahau ini, hingga orangutan berada di jalan yang biasanya mereka hindari karena ramainya kendaraan melintas? Tim gerak cepat COP untuk perlindungan habitat sebagai rumah orangutan tak hanya tinggal diam. “Mungkin ada yang salah dengan habitatnya, sehingga orangutan terdesak masuk ke pemukiman ataupun perkebunan. Orangutan adalah satwa penjelajah. Dia akan terus bergerak dan membuat sarang saat siang maupun sore hari untuk istirahatnya. Dengan nalurinya dia mencari makanan untuk bertahan hidup.”.

Informasikan kami lewat email info@orangutanprotection.com atau media sosial COP (IG: @orangutan_cop), (FB page: @saveordelete), (Twitter: @orangutan_cop). Perlindungan orangutan adalah tanggung jawab kita bersama.

LET’S HELP JOJO NOT TO CRY AGAIN

Here he is, the noisy Jojo. Jojo always cried hysterically when he could not attend the forest school class. Last Saturday morning when the cage door opened, Jojo wanted to get out and go to the forest school. Pity, that day was not Jojo’s turn to join forest school.

Jojo cried hard, rolling in the cage. He was angry because he was not invited to forest school. Because the tears didn’t stop, Wety persuaded Jojo to be quiet. And when the animal keeper reopened the cage, Jojo stopped crying at once. Immediately he came out and grabbed the keeper’s body. Finally we brought Jojo to the forest school.

Arriving at the location of the forest school, Jojo soon climbed through the tree roots. Every now and then he looked at the keeper from above. He looked very happy to be able to play at the forest school area. “Unfortunately, the forest school schedule must still be implemented because of the limited number of animal keepers at Borneo COP,” said Wety Rupiana, coordinator of the only orangutan rehabilitation center established by Indonesian youths.

Let’s help Borneo COP to add to the animal keeper, by donating through https://www.kitabisa.com/orangindo4orangutan (EBO)

YUK, BANTU JOJO TIDAK MENANGIS LAGI
Ini dia, si berisik Jojo. Jojo selalu menangis histeris ketika tidak bisa ikut kelas sekolah hutan. Sabtu pagi kemarin ketika pintu kandang terbuka, Jojo ingin langsung keluar dan berangkat ke sekolah hutan. Kasian, hari itu bukan giliran Jojo masuk sekolah hutan.

Jojo menangis sejadi-jadinya, guling-guling di kandang. Dia marah karena tidak diajak ke sekolah hutan. Karena tangisnya tidak berhenti, Wety mengajak Jojo untuk diam. Dan ketika animal keeper membuka kembali kandang, Jojo langsung menghentikan tangisannya. Segera dia keluar dan meraih badan keeper. Akhirnya Jojo pun kami bawa ke sekolah hutan.

Sesampai di lokasi sekolah hutan, Jojo langsung naik melalui akar pohon. Sesekali melihat keeper dari atas. Dia terlihat sangat bahagia bisa bermain di lokasi sekolah hutan. “Sayang, jadwal sekolah hutan tetap harus diberlakukan karena terbatasan jumlah animal keeper di COP Borneo.”, ujar Wety Rupiana, kordinator satu-satunya pusat rehabilitasi orangutan yang didirikan putra-putri Indonesia.

Yuk bantu COP Borneo untuk menambah animal keepernya, dengan donasi melalui https://www.kitabisa.com/orangindo4orangutan

POPI TAKES A NAP

Are you missing Popi? Popi is an orangutan who joined the COP Borneo orangutan rehabilitation center since she was born. Can you imagine how small and weak she was at that time? And thanks to your support, COP Borneo employs a special baby sitter to take care of her. Thankfully, Popi was able to go through her days well. Even her weight is now 8 kg.

Little Popi is increasingly active in the forest school class. Popi is often seen playing alone at the root of trees. However, when Bonti and Happi were busy making a nest, Popi slowly approached them. When Popi was stunned to pay attention to Bonti and Happi who were busy making nests, then Wety was busy recording what Popi was doing. Wety, the baby sitter who is now the coordinator of the COP Borneo rehabilitation center just like a mother to Popi. A mother who is still worried when her foster children are out of reach, in the trees. What are you afraid of? “Fear of Popi might fall if she chose wrong root or branch to move,” said Wety Rupiana.

Well, after Bonti and Happi’s nest were done, Popi approached them closer. Popi takes a break in their nest. “Take a nap.” (EBO)

POPI NUMPANG TIDUR SIANG
Rindu dengan Popi? Popi adalah orangutan yang masuk pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo saat tali pusarnya baru saja lepas. Bisa kamu bayangkan, betapa kecil dan lemahnya dia saat itu? Dan berkat dukungan kamu, COP Borneo mempekerjakan satu orang baby sitter khusus untuk merawatnya. Syukurlah, Popi bisa melalui hari-harinya dengan baik, bahkan berat badannya sekarang 8 kg.

Si kecil Popi semakin aktif di kelas sekolah hutan. Popi terlihat sering bermain sendiri di akar pohon. Tapi saat Bonti dan Happi sibuk membuat sarang, Popi pun perlahan mendekati mereka. Jika Popi terpaku memperhatikan Bonti dan Happi yang sibuk membuat sarang, maka Wety pun sibuk mencatat apa yang dilakukan Popi. Wety, baby sitter yang kini menjadi kordinator pusat rehabilitasi COP Borneo seperti ibu Popi yang masih kawatir saat anak asuhnya di luar jangkauan, di atas pohon. Takut apa ya? “Takut Popi jatuh karena salah memilih akar ataupun dahan untuk berpindah.”, ujar Wety Rupiana.

Nah, usai sarang yang dibuat Bonti dan Happi jadi. Popi pun semakin mendekati mereka. Popi ikut istirahat di sarang buatan mereka. “Numpang tidur siang.” (WET)

AMBON ENJOYED YOUR GIFT

The durian season has arrived. Durian fruit is one of the trees that grows in the Kalimantan rainforest. Donation from https://kitabisa.com/orangindo4orangutan to buy durian which apparently is the fruit that orangutans are waiting for at the COP Borneo orangutan rehabilitation centre. This time, the team managed to document Ambon eating durian.

With his teeth, Ambon bit the durian fruit, opened its outside part then immediately devoured the durian meat hidden inside. This time, there are three durian meat in one chamber, slowly he suck them until completely clean. “Ambon really enjoys eating durian,” said Wety Rupiana, COP Borneo coordinator.

Ambon is an adult orangutan who spends his life behind bars. Being born and raised at the zoo makes him difficult to live independently in the forest. Last year, Ambon was released on the orangutan island. In less than a day, Ambon could climb his first tree. “This had made the team happy, and dreamed that Ambon would be released back into its habitat. But a month after that, Ambon looked depressed. Finally Ambon returned to the quarantine cage”, explained Reza Kurniawan, COP APE Guardian coordinator.

This year, COP Borneo is planning to release Ambon on the orangutan island again. The team will re-evaluate the results. Hopefully this time Ambon will be better and enjoy life more on the island of orangutans. (EBO)

AMBON MENIKMATI DURIAN PEMBERIANMU
Musim durian sudah tiba. Buah durian adalah salah satu pohon yang tumbuh di hutan hujan Kalimantan. Donasi dari https://kitabisa.com/orangindo4orangutan untuk membeli durian yang ternyata buah yang di tunggu-tunggu orangutan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Kali ini, tim berhasil mendokumentasikan Ambon makan durian.

Dengan giginya, Ambon menggigit buah durian, lalu membuka ruang durian dan langsung melahap durian yang tersembunyi di dalamnya. Kali ini, satu ruang ada tiga butir, perlahan dia mengulumnya hingga benar-benar bersih. “Ambon benar-benar menikmati makan durian.”, ujar Wety Rupiana, kordinator COP Borneo.

Ambon adalah orangutan dewasa yang menghabiskan hidupnya di balik jeruji besi. Lahir dan besar di kebun binatang membuatnya kesulitan untuk hidup secara mandiri di hutan. Tahun lalu, Ambon sempat dilepaskan di pulau orangutan. Tak sampai menunggu hitungan hari, Ambon bisa memanjat pohon pertamanya. “Ini sempat membuat tim bahagia, dan bermimpi, Ambon akan dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Namun sebulan setelah itu, Ambon terlihat depresi. Akhirnya Ambon kembali lagi ke kandang karantina.”, jelas Reza Kurniawan, kordinator APE Guardian COP.

Tahun ini, COP Borneo berencana melepaskan Ambon di pulau orangutan lagi. Tim akan kembali mengevaluasi hasilnya. Semoga Ambon tahun ini lebih baik lagi dan lebih menikmati hidupnya di pulau orangutan.

WHEN UNTUNG HIDING IN THE MIDDLE OF ORANGUTAN ISLAND

“Once again, Untung managed to make us upset!”, shouted Daniel, who was in charge of overseeing the orangutan’s pre-release island in East Kalimantan. After four days of not showing up at the feeding station, Untung acted up again. From morning until noon, Untung was nowhere to be seen by the monitoring team. The team even patrolled and circled the island repeatedly to find him.

Before being sent to the COP Borneo orangutan rehabilitation center, Untung was kept at the Mulawarman University Botanical Garden, Samarinda. A small and empty cage like a bird cage was where he used to live. At that time Little Untung always hugged himself to keep warm. He always hid her imperfect finger. “2011 was the first time we introduced Untung to climb a tree. Now, Untung looks forward to returning to his real home.”, said Daniek Hendarto, action manager of Center for Orangutan Protection.

It was already 16.30 and we had not found him, even though it was time for dinner. Feeling upset and anxious, the team finally decided to enter the island in search of Untung. Apparently, Untung was found enjoying his time playing alone on the island. All our fear losing immediately disappeared and turned into an instant resentment seeing Untung with mud all over his face and body. It appears that when he went missing Untung played on the muddy land inside the island and he looked very happy to be able to roll his body on the muddy ground.

Untung… you always do things that make us afraid of losing you! Let’s make dreams come true for another Untungs to live outside their cages through https://kitabisa.com/orangindo4orangutan. (EBO)

UNTUNG MENGHILANG DI DALAM PULAU PRA RILIS ORANGUTAN
“Sekali lagi, Untung berhasil membuat kami kesal!”, teriak Daniel yang bertugas mengawasi pulau pra rilis orangutan di Kalimantan Timur ini. Setelah empat hari tidak muncul di tempat pemberian makan, Untung membuat ulah lagi. Dari pagi hingga siang hari, Untung tak terlihat sama sekali dari pantauan tim pos monitoring pulau. Bahkan tim patroli mengelilingi pulau berulang kali, untuk mencari keberadaan Untung.

Sebelum berada di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Untung adalah orangutan yang berada di Kebun Raya Universitas Mulawarman, Samarinda. Kandang kecil kosong seperti kandang burung menjadi tempat tinggalnya. Saat itu Untung kecil selalu memeluk dirinya sendiri. Jari tak sempurnanya selalu disembunyikannya. “Tahun 2011 adalah tahun pertama kali kami memperkenalkan Untung untuk memanjat sebuah pohon. Kini, Untung menantikan hari kembalinya ke rumah sesungguhnya.”, ujar Daniek Hendarto, manajer Aksi Centre for Orangutan Protection.

Waktu sudah menunjukkan pukul 16.30 WITA dan kami belum menemukan Untung, padahal sudah waktunya untuk makan sore. Rasa kesal dan takut bercampur. Akhirnya tim memutuskan masuk ke dalam pulau untuk mencari Untung. Ternyata, ketika kami melakukan pencarian, Untung terlihat sedang asik bermain sendiri di dalam pulau. Ketakutan kami langsung hilang berubah menjadi kekesalan seketika saat melihat wajah dan badan Untung yang sangat kotor. Rupanya, Untung bermain tanah yang berlumpur di dalam pulau dan dia terlihat sangat senang sekali bisa mengguling-gulingkan badannya di tanah berlumpur tersebut.

Untung… ada-ada saja ulahmu yang membuat kami takut kehilanganmu! Mari wujudkan mimpi Untung-untung yang lain untuk hidup di luar kandang melalui https://kitabisa.com/orangindo4orangutan. (Anen)

WRONG IN CALCULATING, BERANI FELL

What do we do in orangutans rehabilitation center? Is it true that orangutans will get their second chance here? How to actualize it? COP Borneo is the only orangutan rehab center established by Indonesian people. We welcome Indonesian youth and volunteers to join us, to make orangutan become a national pride.

The growth of orangutan, which for four years lived in wooden boxes in East Kutai, East Kalimantan, showed progress. We named him Berani. He just joined our the forest school in the Kalimantan rainforest for a month. For the first time, Berani was only sat down near from the keeper’s hammock, but now he began to climb trees as a place to play.

Currently, Berani dares to try to move from one tree to another through the root rope. Before moving, Berani usually observes and tries the root rope first. But this time, he miscalculated. The chosen rope is too small so it breaks when he is moving. Berani fell from 5 meters height. He remained silent and stay in the ground. He didn’t dare to brachiate through rope again until the forest school on that day ended. He made his left temple swollen. (IND)

SALAH PERHITUNGAN, BERANI PUN TERJATUH
Apa yang dilakukan pusat rehabilitasi orangutan? Benarkah, orangutan akan mendapatkan kesempatan keduanya di sini? Bagaimana caranya? COP Borneo adalah pusat rehabilitasi orangutan yang didirikan oleh putra-putri Indonesia. Membuka kesempatan yang luas untuk anak muda setempat dan para relawan dalam negeri agar orangutan menjadi kebanggaan bersama, Indonesia.

Perkembangan orangutan yang selama empat tahun hidup di dalam kotak kayu di Kutai Timur, Kalimantan Timur menunjukkan kemajuan. Berani namanya, sebulan hadir di kelas sekolah hutan, kelas yang berada di hutan hujan Kalimantan. Berani yang semula hanya duduk di bawah tak jauh dari hammock animal keeper, mulai menyukai pohon sebagai tempatnya bermain.

Berani mulai berani mencoba berpindah dari satu pohon ke pohon yang lain melalui tali akar. Sebelum berpindah, biasanya Berani memperhatikan dan mencoba-coba tali akar yang akan digunakannya. Namun kali ini, dia salah perhitungan. Tali akar pilihannya terlalu kecil sehingga putus saat dia bergelantungan. Berani pun terjatuh dari ketinggian 5 meter. Berani terdiam… diam hingga sekolah hutan hari itu berakhir. Berani tak mencoba tali akar lagi. Terlihat pelipis kirinya bengkak… (Lina_CB)

ACARA ORANGUFRIENDS BANDUNG, KEREN!!!

Tahun 2019 adalah tahunnya Orangufriends Bandung berkolaborasi dengan organisasi lain yang sepemahaman. Tergabung dalam Riung Raung dengan tema “The eARTh Conservation” dengan acara diskusi dan screening yang diisi oleh Made Wedana, Pepep DW, Dadang Sudardja serta Nandya Andriani, sementara acara seni dan pameran diisi Selepas Hujan, Dede Pras, Rendy Jean Satria, Rizal, R. Lutfi Wiguna, Galih Mahara, Saut Prayuda, Arnis Muhammad, Fyan Fendi, Sworks (collaboration with) Sr Iboe Inggit Garnasih. 

Awal bulan tepatnya 2 Februari, bertempat di Mr. Guan Coffee & Books di Jl. Tampomas No. 22, Malabar, Lengkong, kota Bandung. Malam Minggu ngak perlu bingung mau kemana, acara gratis dari pukul 15.00-22.00 WIB ini mengajak kamu membawa botol minum mu sendiri untuk mengurangi plastik yang sudah menjadi masalah besar kita. O iya… ada para alumninya COP School loh… para agen perubahan dunia konservasi.

SANG-SANG FOR INDONESIA WILD ANIMALS

Working in the world of conservation in Indonesia is working in a small world. In fact, Indonesia’s conservation is very broad. However, those who really dive in it can be counted. The world of conservation is a world that requires physical and mental endurance.

His name is Pak Sang-sang. He is the most senior animal keeper at the Yogyakarta Wildlife Rescue Center (WRC). He worked since 2003 at this animal rescue center. Today I had a chance to meet and take a picture with him during the release of the crescent serpent-eagle and the crested goshawk in the WRC area. His eyes glistened as the rope of the habituation cage opened and the eagle flew free. Maybe he is not famous and does not have a big name, but I am the one who is most certain of his great dedication in the efforts to conserve wildlife. Far from the frenzy, he remains humble and remains on track to help animals. Stay healthy and strong Sir in taking care of your other “children”.

Come on, young Indonesians, be like Pak Sang-Sang. Let’s start from being Orangufriends, an orangutan support group. (NIK)

SANG-SANG UNTUK SATWA LIAR INDONESIA
Bekerja di dunia konservasi Indonesia adalah bekerja di dunia yang sempit. Padahal, konservasi Indonesia itu sangat luas. Namun, mereka yang benar-benar terjun di dalamnya bisa dihitung dengan jari. Dunia konservasi adalah dunia yang membutuhkan ketahanan fisik maupun mental.

Namanya pak Sang-sang, dia merupakan animal keeper yang paling senior di Wildlife Rescue Center (WRC) Yogyakarta. Beliau bekerja sejak tahun 2003 di pusat penyelamatan satwa ini. Hari ini saya sempat ketemu dan foto dengan beliau saat pelepasan satwa elang ular bido dan alap-alap jambul di area WRC. Matanya berkaca-kaca saat tali pintu kandang habituasi dibuka dan elang terbang lepas bebas. Mungkin dia tidak tenar dan tidak punya nama besar, tapi saya orang yang paling yakin dedikasi dia sangat besar dalam upaya konservesi satwa liar. Jauh dari hingar-bingar, dia tetap rendah hati dan tetap masih di jalur pilihannya membantu satwa. Sehat selalu pak, tetap gagah bertugas merawat ‘anak-anakmu’ yang lainnya.

Yuk anak muda Indonesia, jangan mau kalah dengan pak Sang-sang. Mari memulainya dari menjadi Orangufriends, kelompok pendukung orangutan. (NIK)

ORANGUTAN SANCTUARY FULL OF DURIAN TREES

Dalwood Wylie Orangutan Sanctuary is a place for resting orangutans that cannot be released back into their habitat. Orangutans who have been in contact with humans for too long and lose their ability as wild orangutans also deserve a good life, live without bars. These orangutans can also try to live like wild orangutans but with limited roaming area.

Before these orangutans got the chance, the APE Guardian team explored and get data about the island. “The first time I set foot I found a red durian fell on the ground. It turned out that not only one, but there were eight pieces scattered on the ground and the team became busy opening the red durian, “said Widhi, COP volunteers who participated. This has made the survey process for fruit tree species on the island then slowed down.

The availability of fruit feed for orangutans on this island is quite abundant. Besides red durian, commonly called laung by local residents, we can find green prickly durians too. The team also found krutungan, a small green-skinned durian with the size of only two human fists.

“We hope that this orangutan island can be a home for those who cannot return to their habitat.”, said Reza Kurniawan, APE Guardian COP coordinator. “Hopefully this dream can be realized. We ask for help from all parties, orangutans are the pride of Indonesia.”. (EBO)

SANCTUARY ORANGUTAN PENUH POHON DURIAN
Dalwood Wylie Orangutan Sanctuary adalah sebuah tempat peristirahatan orangutan yang tak bisa dilepasliarkan kembali ke habitatnya. Yaitu orangutan yang sudah terlalu lama bersentuhan dengan manusia dan kehilangan kemampuannya sebagai orangutan liar yang juga berhak untuk mendapatkan kehidupan yang baik, hidup tanpa jeruji besi. Orangutan-orangutan ini juga bisa mencoba hidup seperti orangutan liar dengan daya jelajah terbatas.

Sebelum orangutan-orangutan ini mendapatkan kesempatan itu, tim APE Guardian menjajaki dan mendata pulau ini. “Pertama kali menapakkan kaki saja sudah menemukan buah durian merah yang terjatuh. Ternyata tak hanya satu, tapi ada delapan buah berserakan di tanah dan tim pun menjadi sibuk membuka durian merah tersebut.”, ujar Widhi, relawan COP yang ikut. Rencana survei spesies pohon buah di pulau pun tersendat.

Ketersediaan pakan buah bagi orangutan di pulau ini bisa dibilang cukup berlimpah. Selain durian merah atau biasa disebut warga setempat dengan laung, kita bisa menjumpai durian berduri hijau juga. Tim juga menemukan durian mungil berkulit dan berduri hijau yang besarnya hanya sebesar dua kepalan telapak tangan manusia dengan nama lokalnya krutungan.

“Kami berharap, pulau orangutan ini bisa menjadi rumah untuk mereka yang tak bisa kembali ke habitatnya.”, harap Reza Kurniawan, kordinator APE Guardian COP. “Semoga mimpi ini bisa terwujud. Mohon bantuan semua pihak, orangutan adalah kebanggaan Indonesia.”. (Widhi_COPSchool8)

TWO CONFISCATED HAWKS BACK TO NATURE

One female crescent serpent-eagle (accipiter trivirgatus) which was confiscated by the East Java POLDA, assisted by the Center for Orangutan Protection and Animals Indonesia in July 2015, in Surabaya finally returned to nature. The perpetrator was sentenced to 7 months in prison and fined Rp 2,500,000.00 on October 21, 2015. Since 2017, the crescent serpent-eagle was rehabilitated by the Yogyakarta Nature Conservation Foundation (YKAY).

Based on the observations of the daily behavior and physical health conditions by animal keepers and veterinarians the crescent-serpent eagle with a male goshawk (spilornis cheela), a confiscated hawk by Kalibarang police that has been rehabilitated since 2011 are considered ready for release. Both of them underwent habituation for approximately 15 days and were installed rings and wing markers to facilitate the post-release monitoring process.

Both crescent-serpent eagle and goshawk are species protected by Law No. 5 of 1990 concerning Conservation of Biological Resources and Ecosystems. “Both are high-level predators that maintain ecosystem balance. Don’t keep eagles for personal pleasure. It violates the law and destroys nature! “Said Daniek Hendarto, COP’s action manager. (EBO)

DUA ELANG SITAAN NEGARA KEMBALI KE ALAM
Satu Elang Alap Jambul (Accipiter trivirgatus) betina yang merupakaan sitaan POLDA Jawa Timur dibantu Centre for Orangutan Protection dan Animals Indonesia di bulan Juli 2015 kota Surabaya akhirnya kembali ke alam. Pelaku dijatuhi vonis 7 bulan penjara dan denda Rp 2.500.000,00 pada 21 Oktober 2015. Sejak tahun 2017, Elang Alap Jambul ini direhabilitasi Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta (YKAY).

Berdasarkan hasil pengamatan prilaku harian animal keeper dan dokter hewan disertai kondisi kesehatan fisik, Elang Alap Jambul bersama Elang Ular Bido (Spilornis cheela) jantan sitaan Polsek Kalibarang yang direhabilitasi sejak tahun 2011 dianggap siap untuk dilepasliarkan. Keduanya pun menjalani habituasi selama kurang lebih 15 hari dan pemasangan cincin serta wing marker untuk mempermudah proses monitoring paska pelepasliaran.

Elang Ular Bido dan Alap-alap Jambul merupakan spesies dilindungi oleh Undang-Undang No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. “Keduanya merupakan predator tingkat tinggi yang menjaga keseimbangan ekosistem. Jangan pelihara Elang untuk gagah-gagahan, atau sekedar kesenangan pribadi. Itu melanggar hukum dan merusak alam!”, tegas Daniek Hendarto, manajer aksi COP. (PETz)