PEMBENTUKAN PATROLI ANAK NAGARI PANTI SELATAN

Hari pertama Pelatihan dan Pembentukan PAGARI (Patroli Anak Nagari) untuk wilayah Nagari Panti Selatan, Kecamatan Panti, Kabupaten Pasaman, Sumatra Barat dimulai dengan pembukaan acara yang dipimpin oleh Kepala BKSDA Resort Pasaman, Bapak Ade Putra yang juga sebagai pembina PAGARI di Sumatra Barat. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa pembentukan PAGARI di Panti Selatan ini merupakan tim PAGARI keenam di Sumatera Barat dan yang kedua di Kabupaten Pasaman.

Kepala Nagari Panti Selatan, Didi Al Amin menceritakan perjumpaan dengan harimau sumatra di ladang dan membuat resah warga di Nagari Panti Selatan bermula akhir tahun 2022 hingga awal tahun 2023. Centre for Orangutan Protection bersama aparatur Nagari Panti Selatan terus bertemu dan berdiskusi hingga ada solusi yang bisa dikerjakan bersama, yaitu pembentukan PAGARI yang memang merupakan program BKSDA Sumbar. Inilah pelatihan yang berlangsung tiga hari kedepan yang akan kita jalani bersama.

Dua hari diawal adalah teori dan sehari terakhir praktek simulasi konflik dirancang bersama-sama antara BKSDA Sumbar, COP, dan Sintas Indonesia. Materi tentang bagaimana perilaku harimau sumatra, sebaran, dan bagaimana mengetahui jejaknya akan disampaikan oleh SINTAS Indonesia. Sedangkan untuk peraturan dan perundang-undangan, birokrasi dan metode patroli disampaikan oleh tim BKSDA Sumatera Barat. (DAN)

PERUT ORANGUTAN SEPTI KEMBUNG (LAGI)

“Dung… dung… dung…”
Tata menepuk perlahan perut Septi yang pagi itu tidak beranjak sedikit pun dari hammock.
“Kembung lagi nih”, jawab Tata ketika kutanya ada apa dengan Septi. Ini baru kali kedua aku bertemu Septi dan di perjumpaan pertama kami, Septi sungguh berbeda. Ia sangat aktif dan bahkan sempat membuatku shock di hari pertamaku menjadi perawat satwa. Pada hari itu, ketika dokter Elis hendak mengeluarkan Mabel, bayi orangutan yang tinggal satu kandang dengan Septi, justru Septi yang bersemangat keluar kandang.

“Nanti dulu Septi! Astaga ini belom waktunya sekolah hutan”, uyar dokter Elis sambal menahan pintu kandang. Ia langsung berguling-guling di tanah, memanjat pohon durian di depan klinik yang belum terlalu besar hingga hampir roboh, dan menggulingkan tiang permainan untuk anak orangutan yang tentu saja tidak bisa menahan berat tubuh Septi yang besar. Bujukan susu, madu, dan buah tidak berhasil. Ia justru mengejar dan menggigit sepatu dokter Elis dan paramedis Tata, mengajak mereka berdua bermain. Saat itu aku hanya berani berdiam di pojokan dan untungnya Septi sepertinya belum merasa kenal denganku dan tidak mengajakku bermain.

Benar-benar berbeda dengan hari ini, ia terlihat malas dan lemas sekali. Buah-buahan kesukaannya justru dikerubungi lebah-lebah yang berisik dan Septi tidak meliriknya sama sekali. Ia malah menutupi wajahnya dengan selimut. Sulit mengajaknya keluar kandang untuk berjemur. Berkali-kali ia kembali menaiki hammock dan menutup kepalanya dengan selimut seperti enggan terkena matahari.
Ternyata, ii bukan kali pertama Septi mengalami perut kembung. Ini sudah seperti penyakit kambuhan bagi Septi selama bertahun-tahun. Ia memang didiagnosa memiliki pencernaan yang sensitif. Septi pernah menjalani pemeriksaan x-ray oleh tim medis BORA. “Banyak kemungkinan faktornya sih, Nad. Bisa karena perubahan suhu dan kelembaban. Kan lagi sering hujan”, jelas dokter Elis. “Bisa juga karena perubahan pakan. Pencernaannya sangat sensitif”, tambah dokter Yudi.

“Lalu jika penyakit Septi ini sudah bertahun-tahun dan masih sering kambuh, bagaimana ya kalau dia dilepasliarkan di hutan?’, aku bertanya lagi.
“Aku yakin Septi masih bisa rilis sih. Tapi dia harus belajar cari cara supaya tubuhnya tetap hangat di cuaca dingin. Misal dengan membuat sarang yang lebih tebal. Pasti bisa deh”, dok Yudi menjelaskan dengan optimis.

Untuk sementara waktu, Septi diberikan terapi berupa jus buah-buahan yang dimasukkan dalam botol, dibaluri minyak penghangat, dan diajak keluar kandang ketika cuaca cerah. Sayangnya, beberapa hari terakhir ini cuaca di BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance) hujan sepanjang hari. Untuk menyiasati hal itu, Septi diberikan sinar infra merah yang dapat menghangatkan tubuhnya. Ini jadi pekerjaan yang cukup berat untuk para keeper karena Septi enggan bergerak dan harus dipaksa.
Doakan Septi agar cepat sembuh dan aktif kembali ya! (NAD)

BERUK, SI PENGUASA KAMERA JEBAK

Ketika kamera jebak terpasang di dalam hutan, hewan apakah yang akan selalu terdokumentasi? Beruk! Tak terkecuali, kamera jebak yang dipasang di KHDTK (Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus) Labanan, Berau, Kalimantan Timur. “Primata jenis ini memang luar biasa sekali, tak jarang foto yang dihasilkan sangat bagus. Padahal kita mengharapkan satwa liar lainnya yang dapat didokumentasikan dengan baik. Seperti kelasi, kucing hutan, atau jenis burung-burung yang langka endemik Kalimantan. Apa boleh buat”, ujar Raffi Akbar saat memindahkan data dari kamera jebak ke laptopnya.

Pemasangan kamera jebak yang diletakkan di lokasi Sekolah Hutan 3 BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance) menghasilkan foto yang tidak disangka-sangka. Begitulah sensasi dari kamera jebak. Pemasang harus sabar melihat hasilnya dengan waktu tertentu, seminggu bahkan bisa berbulan-bulan. Kali ini tim APE Defender memasangnya selama 1 minggu.

Burung sempidan-biru kalimantan (Lophura ignita), si unggas dengan jambulnya yang khas ini memiliki status Rentan oleh IUCN. Populasinya mengalami penurunan drastis karena kehilangan habitat fragmentasi akibat kebakaran dan penebangan hutan komersial. Selain dia, tim juga berhasil mengidentifikasi kancil (Tragulus kanchil) dan kucing hutan (Prionailurus bengalensis). “Kalau dipasang lebih lama apakah akan lebih banyak yang terdokumentasikan?”. (RAF)

SEGERA PULIH ORANGUTAN TAPANULI, KEMBALILAH SECEPATNYA

Satu orangutan dari Tapanuli Selatan masuk ke Sumatran Rescue Alliance (SRA). Orangutan berjenis kelamin betina ini memasuki usia dewasa namun sayang memiliki tubuh yang kurus. Kondisi malnutrisinya teramati menjadi penyebab tidak aktifnya dia selama diperjalanan bahkan di awal kehadirannya di SRA. Ini diperparah dengan diare yang dideritanya.

Orangutan Tapanuli adalah spesies orangutan baru, yang secara resmi dipublikasikan pada November 2017. Bahkan tim di SRA tak seorang pun pernah melihatnya secara langsung. “Sesungguhnya kami tidak pernah berharap ada orangutan tapanuli masuk pusat rehabilitasi kami. Ini membuat kami prihatin, apalagi melihat kondisinya yang malnutrisi serta stres”, ujar Ahmad Nabil, biologist SRA dengan sedih.

Pengamatan prilaku di awal kedatangan, orangutan terlihat berkeliling kandang dan berputar-putar cukup banyak. Sembari menggelantung, dia melakukan kiss squek cukup sering karena banyaknya orang yang memperhatikannya, hal ini membuat tim medis di SRA kesulitan saat melakukan treatment. Untungnya, orangutan tersebut memiliki nafsu makan yang mulai membaik. Tapi tidak dengan dedaunan dan jenis sayur yang tim berikan, dia bahkan tidak menyentuhnya. Buah-buahan saja yang dihabiskannya.

Penanganan konflik satwa liar memang menjadi perhatian utama tim APE Sentinal di Sumatra. “Dalam satu bulan ini saja, tim mendapatkan dua laporan konflik orangutan dan sempat menjadi viral di media sosial. Belum lagi laporan konflik dengan jenis satwa liar lainnya”, jelas Netu Damayanti dari tim APE Sentinel COP. Memasuki tahun ketiganya Centre for Orangutan Protection di Medan secara khusus, tim berharap kasus konflik satwa dan manusia tidak sampai berakibat fatal yang berujung pada kematian. (BIL)

ASTO DAN ASIH MENYADARI ANCAMAN

Kedua orangutan ini nyaris tak terpisahkan. Asto dan Asih, kedua orangutan anakan betina ini adalah orangutan yang diselamatkan tim APE Warrior dari kepemilikan ilegal di Jawa Tengah. Dua tahun menghuni pusat rehabilitasi orangutan SRA yang berada di Besitang, Sumatra Utara. Perjalanan keduanya penuh drama dan melelahkan. Kini keduanya memperoleh kesempatan mengasah kemampuannya untuk kembali ke alam. Apa saja kemampuan alami yang baru mereka kembangkan?

Di sela-sela mereka membuat sarang, sesekali Asto dan Asih bermain di pinggir area sekolah hutan yang berbatasan dengan area pulau orangutan. Entah mengepakkan air seperti sedang mengaduk hingga air tersebut keruh, meminumnya langsung, mencuci tangan, atau bermain-main dengan ikan yang berada di air tersebut. Asto dan Asih dengan suka ria bermain air sambil melepaskan dahaga mereka. 

Namun sesekali mereka terdiam seakan melihat sesuatu ke arah pulau orangutan. Keduanya terlihat waspada akan kedatangan sesorang atau waspada akan bahaya. Kejadian ini sering sekali. Karena penasaran, kami pun mengecek pulau orangutan dan menemukan jejak baru. “Bagus Asto dan Asih, kalian mengasah kewaspadaan pada predator tingkat tinggi di hutan Sumatra. Tapi ini membuat kami bergidik. Ternyata kami, Ryan sebagai perawat satwa, Nissa paramedis dan aku (biologist) tengah diintai si ‘nenek’. Seram!”. (BIL)

SIAPAKAH AKU?

Halo semuanya! Masih ingat aku? Mungkin agak sulit buat ingat aku ini siapa, karena sekarang aku sudah berbeda dengan beberapa bulan lalu ketika pertama kali dibawa ke sini. Waktu itu tubuhku masih kurus, kecil, dan perutku buncit seperti buah semangka. Aku lemah sekali, bahkan untuk mengangkat kepala saja sungguh lemas. Rasanya ingin tiduuuurr saja sepanjang hari.

Kalau kamu bertanya-tanya asalku darimana, aku tidak begitu ingat masa-masa sebelum tinggal di sini. Aku hanya ingat kalau aku tinggal bersama makhluk-makhluk yang mirip dengan ku. Hanya saja, rambut mereka tidak panjang dan menutupi badan sepertiku. Mungkin mereka tidak suka rambut-rambut di tubuhku juga karena mereka mencukurnya hingga habis. Aku tidak terlalu ingat tentang mereka dan apa yang mereka lakukan terhadapku. Tapi yang kuingat dengan jelas, saat itu aku rasanya sangat takut dan ingin menangis terus setiap saat.

Selain tinggal dengan makhluk-makhluk itu, ada yang lain yang kuingat. Tapi yang ini lebih jelas lagi ingatannya. Aku dipeluk oleh makhluk berambut yang sama persis sepertiku! Tapi badannya lebih besar dan tangannya sangat kuat! Ia membawaku berayun dari satu pohon ke pohon lain dengan sangat cepat. Aku sukaaaa sekali dengan ingatanku yang ini. Rasanya ingin kembali merakan wajahku diterpa angin, terhalang daun-daun rimbun, atau tersirami cahaya matahari. Rasanya hangat dan menyenangkan.
Sejak tinggal di sini, aku bertemu lagi makhluk-makhluk yang mirip denganku. Tai mereka tidak mencukur rambutku. Sepertinya mereka suka rambutku yang sudah tumbuh sedikit-sedikit. Lalu mereka juga suka memberiku buah-buhan yang belum pernah kucoba sebelumnya. AKu sangat suka sekali buah bundar merah berambut. Manis! Karena makan banyak, sepertinya tubuhku sudah lebih kuat. Aku suka sekali memanjat-manjat di dalam kotak besi tempatku tidur. Perutku juga sudah tidak seperti semangka loh.

Ya walaupun kadang aku masih menangis karena kesal kalau mereka tidak memberikau buah yang kumau atau meninggalkanku sendirian, di sini aku lebih senang! Aku paling menunggu waktu mereka menggendongku dan meletakkanku di pohon-pohon. AKu jadi ingat kembali rasa hangat dan menyenangkannya ketika wajahku diterpa angin, terhalang daun-daun rimbun, atau tersirami cahaya matahari. Bahagianya bisa berayun-ayun!

Kanan… kiri… kanan… hap! Sampai di pohon dengan buah-buah bundar kecil, aku akan langsung memakannya tanpa ragu. Enak sekali! Waaahh rasanya aku ingin berada di atas pohon ini terus! Tapi sayangnya, kadang aku lelah. Jadi aku turun ketika makhluk-makhluk yang mirip denganku itu melambaikan buah sambil memanggilku “Mabel! Mabel!”. Lalu mereka akan menggendongku kembali ke tempat tidurku sambil sesekali masih menyebut-nyebut namaku. Iya, namaku adalah Mabel. Sudah ingatkan? (NAD)

WIDYA, PEGAWAI DINAS PETERNAKAN SLEMAN YANG MENDAPATKAN ORANGUFRIENDS AWARD 2023

Banyak yang bisa kita kagumi dań pelajari dari sosok Widya Nuswantoro atau yang akrab disapa Pak Widya, seorang pegawai negeri dari Dinas Peternakan Sleman, Yogyakarta. Ketulusan dan kesiapsiagaannya untuk menyelamatkan dan melindungi satwa membuat COP yakin bahwa Pak Widya pantas dianugerahi Orangufriends Award dalam acara temu relawan tahunan atau Jambore Orangufriends yang digelar di Yogyakarta pada 4-5 Maret 2023.

Sejak erupsi gunung Merapi 2016 hingga 2021, tim Animal Rescue COP selalu melihat Pak Widya sibuk menangani ternak warga yang terkena dampak bencana. “Pak Widya selalu datang awal, tapi pulangnya belakangan. Di hari yang tidak dijadwalkan pun Pak Widya datang dan ikut membantu”, ujar salah seorang anggota Animal Rescue ketika menceritakan keterlibatan pak Widya. Tim Animal Rescue COP sendiri menangani evakuasi, penanganan medis, penyediaan kebutuhan pakan ternak, hingga penyadartahuan ke masyarakat untuk meminimalisir korban maupun kerugian ekonomi.

Selain bencana erupsi G. Merapi, Pak Widya juga selalu ada untuk ternak ketika terjadi pandemi COVID-19 yang menyebabkan satu desa diisolaso (lockdown) pada tahun 2021. Kepiawaiannya dalam berkoordinasi dan bekerja sama dengan pihak lain sangat melancarkan jalannya kegiatan di lapangan. Dari cara Pak Widya bekerja dalam tim, kita dapat memetik pellajaran bahwa saling menghargai dan berbagi peran dalam kerja tim tetaplah krusial dan harus menjadi perhatian dalam keadaan darurat sekali pun. Tidak diragukan lagi, ketulusan dan kegigihan Pak Widya selama bertahun-tahun inilah yang membuat COP yakin untuk memberikan Orangufriends Award 2023 pada beliau. (NAD)

TUBERCULOSIS (TB) IS DEADLY FOR ORANGUTANS

Hello! Today is World Tuberculosis (TB) Day. The World Tuberculosis Day is held annually on March 24 to raise awareness on the effect of the infectious disease TB on humans around the world. In 2016, TB was the second leading cause of death in Indonesia. But did you know that TB isn’t only deadly to humans, but also to primates, including Orangutans?
Tuberculosis disease is caused by the bacteria called Mycobacterium tuberculosis which is an airborne bacteria that spreads through air. Orangutans can be infected by the bacteria if they are around humans infected with TB. The situation can occur when there’s a conflict between humans and orangutans. It can also occur when an orangutan is held illegally in captivity and kept as a pet that’s frequently in touch with humans. To diagnose whether an Orangutan is infected with TB, the vet in BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance) will conduct a series of medical check ups to each Orangutan under rehabilitation. Then what happens if an Orangutan is diagnosed with TB?
Humans and Orangutans share approximately 97% of their DNA. Therefore dr. Elis, the vet in BORA explained that when an orangutan is infected with TB, it will experience similar symptoms as humans such as chronic cough (sometimes with blood), shortness of breath, fever, fatigue, and loss of weight. Infected Orangutans should be strictly quarantined and given medication for 6 months as well as vitamins. The animal keeper who takes care of the infected orangutan should wear medical protective equipment such as a medical mask and hazmat suit. They won’t be allowed to take care of other orangutans and should limit human interaction. If we’re not careful in handling the situation, Orangutans could either die or spread the disease back to humans.
Fortunately, since we run the BORA rehabilitation center, we found no infected Orangutan with TB. To prevent the case of TB in Orangutan, the medical team, animal keeper, and everyone that should interact with orangutan are obliged to take a series of medical check ups. They are also obliged to use medical protection equipment when they take care of Orangutans daily. They use protective suits, masks, and gloves. They should take a bath before and after they take care of Orangutans. The strict procedure was created not only to protect the orangutan from TB and other infection from humans, but also the other way around; to prevent the case of animal to human disease transmission such as the COVID-19.
At last, to prevent humans and animals from infecting each other with diseases like TB, we should reduce the interaction between the two. Orangutans should live freely in their habitat without human interventions. Therefore, don’t keep Orangutans at home as pets, hunt them in the forest, or send them somewhere far away from their habitat! Let’s protect them (and ourselves) from deadly diseases!

TUBERCULOSIS (TBC) MEMATIKAN BAGI ORANGUTAN
Halo! Tahukah kamu, hari ini, tanggal 24 Maret adalah hari Tuberculosis (TBC) sedunia lho! Hari TBC sedunia adalah momen yang dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran akan dampak dari penyakit menular TBC pada manusia di seluruh dunia. Pada tahun 2016, TBC menjadi penyakit yang menyebabkan kematian terbesar kedua di Indonesia. Sebenarnya, TBC tidak hanya mematikan bagi manusia. Tapi juga bagi primata, termasuk Orangutan. Kok bisa ya?
Penyakit TBC disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang dapat menyebar melalui udara. Orangutan bisa terjangkit TBC apabila mereka berada di sekitar manusia yang terdiagnosa TBC, misalnya ketika terjadi konflik atau ketika mereka dijadikan hewan peliharaan yang berinteraksi terus menerus dengan manusia. Untuk mengetahui apakah Orangutan terkena TBC, dokter hewan di Pusat Rehabilitasi Orangutan BORA akan melakukan rangkaian tes kesehatan pada setiap Orangutan yang akan direhabilitasi. Lalu apa yang terjadi jika Orangutan positif terinfeksi TBC?
97% DNA manusia mirip dengan orangutan. Sehingga beberapa gejala dan efek yang dirasakan pada tubuh Orangutan apabila terinfeksi TBC mirip dengan yang dialami manusia. Menurut dokter Elis, salah satu dokter hewan di Pusat Rehabilitasi BORA, orangutan mengalami gejala terbatuk-batuk berkepanjangan hingga berdarah, sesak napas, demam, lemas, dan turun berat badan. Mereka yang terjangkit harus dikarantina secara ketat dengan kandang yang jauh dari kandang orangutan lain, lalu diobati dengan terapi obat selama kurang lebih 6 bulan disertai pemberian vitamin. Perawat satwa yang mengurusi orangutan terinfeksi harus mengenakan alat perlindungan diri lengkap seperti hazmat dan masker. Mereka juga tidak diperkenankan untuk mengurusi orangutan lainnya serta harus mengurangi interaksi dengan manusia. Apabila tidak hati-hati dalam penanganannya, Orangutan bisa mati atau menyebarkan kembali penyakit TBC ke manusia.
Syukurlah, selama pusat rehabilitasi BORA dijalankan, belum pernah ada kasus orangutan yang terjangkit TBC. Untuk mencegah penularan penyakit seperti TBC pada orangutan, semua tim medis, perawat satwa, dan siapa pun yang berkepentingan untuk interaksi dengan orangutan wajib melakukan serangkaian medical check up. Selain itu, perawat satwa dan tim medis yang harus berinteraksi dengan orangutan sehari-hari, secara ketat menggunakan alat-alat perlindungan diri.
Mereka mengenakan pakaian khusus, memakai masker dan sarung tangan medis. Lalu mereka diharuskan mandi dan berganti pakaian sebelum dan setelah berinteraksi dengan orangutan. Tidak hanya untuk melindungi orangutan dari penyakit manusia seperti TBC, langkah-langkah tersebut juga dilakukan untuk menghindari penyebaran penyakit dari hewan ke manusia (zoonosis) seperti pandemi global COVID-19.
Agar manusia dan satwa (termasuk Orangutan) tidak saling menularkan penyakit mematikan seperti TBC, tentu diperlukan upaya-upaya untuk mengurangi potensi interaksi antara keduanya. Orangutan harus dibiarkan liar dan bebas di habitatnya tanpa gangguan dari manusia. Jadi, kamu jangan memelihara Orangutan di rumah, memburunya di hutan, apalagi mengirimkannya ke tempat yang jauh dari asalnya ya! Yuk lindungi diri dan Orangutan dari penyakit mematikan!(NAD)

PERJALANAN UNTUK SATWA ERUPSI MERAPI

Jumat, 17 Maret 2023, di bawah teriknya matahari Jogja, Tim Animal Rescue COP yang beranggotakan 6 orang (Daeng, Jogi, David, Zain, Dippy dan Disma) berangkat dari camp APE Warrior menuju daerah Pakem untuk mengangkut rumput kolonjono. Kami bahu-membahu menyusun rumput ke atas mobil pick up untuk dibagikan ke warga Dusun Tempel di Kecamatan Dukun, Jogjakarta. Tiga hari sebelumnya, tim Animal Rescue COP juga telah membagikan pakan hijauan untuk warga desa Krinjing secara bergantín. Setelah pakan tursusun rapi di mobil dengan tubuh yang basah oleh keringat, kami bergegas berangkat.

Saat sampai di daerah Muntilan hujan tiba-tiba turun dan puji syukur ternyata hujan turun hingga Desa Krinjing. Hujan yang turun cukup deras dan lama, hingga bisa membersihkan sisa abu dari erupsi Merapi beberapa hari lalu. Tumbuhan dan atap rumah yang sebelumnya berwarna abu-abu kini mulai terlihat hijau kembali.

Sesampainya di Dusun Tempel kami langsung menuju rumah bapak Kadus. Sambil menunggu hujan agak reda kami berkordinasi tentang teknis pembagian rumput. Rumput akan dibagikan untuk warga RT 3 yang berjumlah 35 KK. Rencananya rumput akan kami berikan secara bergiliran untuk RT lainnya di hari berikutnya. Hujan yang sempat reda dan kembali deras lagi memaksa kami berteduh di salah satu rumah warga, kami disambut segerombolan ibu-ibu yang sudah menanti kedatangan kami. Obrolan ringan dan candaan menemani kami menunggu hujan reda, rupanya Daeng menjadi idola ibu-ibu di sana karena kegemaran bercanda.

Gerimis tipis masih turun, karena sudah mulai sore tim Animal Rescue COP memutuskan untuk memulai pembagian pakan hijauan. Berkat bantuan warga pembagian rumput berjalan dengan tertib dan lancar. Selesai membersihkan mobil dari sisa pakan, kami diajak beristirahat di pos kamling dan ternyata sudah disajikan teh hangat dan camilan oleh salah satu warga. Pas sekali menghangatkan badan kami yang kedinginan terguyur hujan. Tidak lama kemudian kami disuguhi nasi beserta lauk pauknya. Rejeki anak sholeh dapat hidangan yang mengenyangkan. Sambil mengobrol ngalor-ngidul kami makan dengan lahap. Salah satu warga mewakili warga lainnya menyampaikan ucapan terimakasih kepada kami untuk menyalurkan bantuan pakan hijauan dan kami pamit pulang.

Berkat hujan di hari ini, rumput mulai bersih, tapi sayangnya rumput itu belum layak untuk diberikan pada ternak karena masih ada yang menempel di sela-sela dalam. Harapannya rumput segera bersih dan bisa diarit untuk pakan tak lama lagi. Setelah seharian kami bergelut dengan hujan dan tubuh yang menggigil kedinginan, malam ini kami layak untuk tidur dengan nyenyak dan penuh kehangatan. Karena esok kami harus melanjutkan misi kami. (Disma_COPSchool12)

KUKU IBU JARI KAKI ASTUTI NGGAK ADA

“Nad, kita adain Posyandu yuk”.
Aku terheran saat Tata berujar padaku seusai sesi feeding sore. Hari itu, hanya giliranku dan Tata, paramedis COP yang berjaga siang di klinik BORA. Jevri, penjaga satwa yang biasa menemani kami sedang bertugas ke lokasi lain.
Hah? Memangnya klinik di BORA bisa juga untuk manusia? Itu kan klinik Orangutan?
Dalam hati aku bertanya-tanya. Maklum saja, hari itu adalah hari ketigaku di klinik BORA dan ikut merawat orangutan. Seperti membaca raut bingungku, Tata menambahkan, “Haha, maksudnya Posyandu si Mabel sama Astuti, Nad”.
Aku mengangguk-ngangguk mengerti. Kemudian Tata menjelaskan padaku bahwa bayi-bayi orangutan yang ada di pusat rehabilitasi BORA secara berkala dilihat dan dicatat perkembangan serta pertumbuhannya. Persis seperti bayi-bayi manusia di Posyandu.
“Berarti nanti kita gantian? Aku ikut megang juga ya? Tata mengangguk.
Aku deg-degan membayangkan harus memeluk atau menggenggam Astuti dan Mabel. Pada hari itu, aku masih canggung saat harus bersentuhan dengan orangutan. Bukan karena takut digigit atau disakiti, tapi aku melihat perilaku bayi orangutan sangat mirip seperti bayi manusia. Selama ini aku merasa canggung saat berhadapan dengan anak-anak dan tidak terlalu pandai apalagi sabar saat harus mengasuh mereka. Meski takut, aku juga merasa tertantang. Mungkin ini adalah kesempatanku untuk menghadapi kecanggunganku itu.
Setelah Tata mempersiapkan berkas pencatatan, alat timbang dan meteran, ia menjelaskan padaku apa saja yang akan kita lihat dan ukur dari Astuti dan Mabel.
“Kita timbang di sini. Terus ukur-ukur badan, tangan, kepala, kaki… Umm, semuanya deh sesuai daftar ini. Nanti kita lihat juga giginya dan kita cap jari-jarinya”, ujar Tata sambil membolak-balikkan kertas pencatatan. Kemudian kami bergegas ke kandang Astuti dan membawanya ke klinik. Benar saja, perilaku Astuti terlihat seperti bayi manusia bagiku. Ia naik ke tubuhku minta digendong dan harus dibujuk dengan madu agar mau naik ke timbangan. Aku berusaha tetap tenang. Akhirnya ia mau diam di atas timbangan. Beratnya menunjukkan 7,7 kg. Pantas saja lumayan berat. Kemudian kita mengukur lingkar kepala, panjang tubuh, jarak antar mata, panjang dan lebar tiap ruas tangan dan kaki, hingga ukuran telapak kaki. Sesekali Astuti tidak mau diam dan kami harus memegang tubuhnya dan dengan sabar menunggunya tenang. Saat hendak memeriksa giginya, Astuti sempat mengamuk dan tidak mau menunjukkan giginya. Tata dengan lembut membujuk Astuti hingga akhirnya kami sampai di rangkaian pencatatan terakhir, memeriksa jari-jari dan membubuhkan cap tiap jari Astuti di atas kertas. Wah, sabar banget si Tata, pikirku. Aku jadi kagum dengan Tata dan membayangkan tim medis lainnya yang juga harus sabar dalam bekerja.
“Catat di bagian keterangan Nad. Ini kuku ibu jari Astuti nggak ada. Kanan dan kiri”, ujar Tata sambil menahan tubuh Astuti yang mulai kabur ke sana ke mari. Aku terkejut mendengarnya, “Hah?! Koq bisa? Dilepasin sama pedagangnya dulu?”. Astuti adalah orangutan yang diselamatkan di Gorontalo saat hendak diseludupkan ke luar negeri oleh pedagang. Jadi kupikir kukunya sengaja dilepaskan dengan kejam.
“Bukan Nad. Emang ada orangutan yang lahir dengan kuku ibu jari kaki, tapi ada juga yang nggak. Normal koq. Bukan kelainan ini tuh”, jelasnya. Aku lega mendengar penjelasannya. Dari semua yang kami catat, Astuti tergolong baik pertumbuhan dan perkembangannya, Sykurulah. Akhirnya rangkaian ‘posyandu’ hampir selesai. Banyak hal baru tentang anatomi orangutan yang kupelajari saat itu. Selain variasi pada kuku ibu jari kaki, aku juga baru mengetahui bahwa orangutan memiliki sidik jari yang unik seperti manusia. Ternyata, mengidentifikasi orangutan bia juga dilakukan melalui sidik jari. Saat kami membubuhkan cap tiap jari tangan dan kaki Astuti di satu kolom dalam kertas pencatatan, aku nyeletuk, “Terus ini kita catat juga buat apa Ta? Buat dia bikin KTP ya?”, Tata tertawa. “Bukan Nad. Buat bikin surat permohonan utang”, balasnya. Kami berdua tertawa sementara Astuti masih sibuk berusaha merebut madu yang Tata sembunyikan di kantong bajunya. (NAD)