PANGGILAN UNTUK ORANGUFRIENDS, BANTU SATWA ERUPSI MERAPI

Selama dua hari sejak erupsi Merapi tanggal 11 Maret, tim Animal Rescue COP yang hanya beranggotakan empat orang akhirnya bertambah. Kedatangan Disma dan Dippya yang merupakan alumni COP School Batch 12 seperti suntikan energi yang menambah semangat tim. Dippya meluangkan waktunya disela-sela perkuliahan untuk ikut serta membantu hewan peliharaan kesayangan dan ternak yang terdampak erupsi Merapi. 

Setelah menyapa dan berbagi kabar sebentar, mereka langsung berbagi tugas dan berangkat bersama mencari sumber pakan hijauan. Sayangnya, setelah mengunjungi supplier pakan dan beberapa peternak lain di wilayah Yogyakarta dan Klaten, belum ada yang sanggup menyediakan pakan. Tidak patah semangat, mereka menuju Dinas Peternakan dan Perikanan kabupaten Magelang. Setelah berdiskusi, mereka mulai menemukan titik terang. Sumber pakan hijauan di daerah Borobudur yang tersedia. 

Hari beranjak sore, kabar baik ini segera tim sampaikan ke sekretaris desa Krinjing. Teknis penyaluran pakan untuk lebih dari seribu ekor ternak harus bisa berjalan dengan baik. Sapi-sapi yang tidak nafsu makan membutuhkan bantuan pakan segar menjadi prioritas sebelum kelaparan atau jatuh sakit. Pemilik mereka menyampaikan ketidaksanggupannya mencari sendiri pakan di luar daerahnya. Setelah menyepakati teknis penyaluran pakan dengan pihak desa, tim Animal Rescue akhirnya bisa kembali dengan tenang dan beristirahat malam ini. Besok masih butuh energi lebih lagi. (NAD)

ASTO DAN ASIH BERLOMBA MEMBUAT SARANG YANG MENCEKAM

Jikalau kalian membaca judul cerita ini merupakan clickbait? tunggu dulu sampai akhir cerita. Beberapa hari ini, Asto dan Asih sedang banyak beraktifitas membuat sarang di area sekolah hutan. Ya, benar sekali. Asto dan Asih seperti sedang membuat perlombaan untuk membuat sarang terbanyak dan itulah pemenangnya (begitulah pikirku), mengapa? 

Saat Asto sedang sekolah hutan, terdapat enam sarang yang telah ia buat, itu pun terhitung sudah sarang yang telah dihancurkan oleh Asih. Ketika Asto sedang melakukan dan membuat sarang, Asih selalu menganggu dan tidak mau kalah, kalau bukan cuman Asto yang bisa membuat sarang. Yang jadi permasalahan adalah Asih tidak pernah berhasil membuat sarang di atas pohon satu pun, meski sudah belajar memperhatikan Asto bagaimana cara membuat sarang di posisi yang baik. Asih selalu kewalahan untuk membuat sarangnya itu kokoh, tapi bukan Asih kalau langsung menyerah. Akhirnya, Asih membawa dedaunan tersebut turun ke bawah untuk dijadikannya sarang di tanah yang merupakan satu di antara dua sarang yang Asih buat di area sekolah hutan. Memang terdengar lucu dan aneh jika orangutan membuat sarang di tanah, namun dengan begitu, Asih jadi tahu bagaimana sarang yang mungkin suatu hari akan ia gunakan. 

Khusus hari ini, Asto dan Asih tiba-tiba saja menghentikan aktivitas mereka. Keduanya diam dan memandang ke satu arah. Berulang kali, kami yang bertugas membawa keduanya ke area sekolah hutan pun mencoba mencari tahu apa yang menyebabkan keduanya menghentikan kegiatannya. Asto memastikan  kembali sarangnya cukup kokoh dan Asih menumpang sarang itu saja. Usai sekolah hutan, tim pun mengecek lokasi yang membuat kedua orangutan waspada. Ada jejak satwa. (BIL)

HARI KEDUA ERUPSI MERAPI, SAPI WARGA TIDAK NAFSU MAKAN

Sejak dini hari (12/3), Gunung Merapi tercatat memuntahkan guguran awan panas sebanyak sembilan kali guguran. Guguran lava pijar juga tercatat keluar dari Merapi ke arah Barat Daya. Selain itu, Merapi juga mengalami 15 gempa guguran awan panas dan gempa vulkanik. Orangufriends (relawan COP) kembali bersiap-siap dan bergegas menuju lokasi terdampak pukul 09.00 WIB dari Camp APE Warrior.

Hari ini Daeng dan Zein berkordinasi dengan berbagai pihak, meninjau keadaan satwa ternak sekaligus mendata jumlah, dan memperhitungkan kebutuhan pakan untuk disalurkan. Kepala Desa Krinjung juga menyatakan bahwa warga telah siap bekerja sama apabila terjadi kemungkinan terburuk yang menyebabkan warga terpaksa mengungsi.

Pemandangan perkebunan sayur yang biasanya hijau segar kini terlihat kelabu tertutup abu. Sambil berjalan menuju kandang ternak, tim Animal Rescue COP pun menyapa warga yang masih beraktivitas seperti biasa. Sekelompok ibu-ibu melingkar di teras rumah memilah sayuran buncis dan beberapa pemuda mengangkut rumput pakan dan ranting dengan sepeda motor. Saat sampai di kandang, beberapa ternak sapi terlihat memakan sisa ruput di hadapan mereka dengan malas dan tidak nafsu makan. Saat tim menemui kelompok ternak Ngaglik dan Dadapan, mereka mengeluhkan sapi milik mereka tidak nafsu makan karena pakan yang diberikan kotor dengan abu. Masyarakat pun mengkhawatirkan kondisi kesehatan ternak mereka. Untuk sementara mereka menggunakan damen untuk pakan sapi-sapi mereka. 

Menindaklanjuti kekhawatiran warga yang disampaikan, tim Animal Rescue bergegas melakukan pendataan untuk menghitung kebutuhan pakan untuk disalurkan. Dari kedua kelopok ternak, terdapat 200 ekor sapi milik 83 kepala keluarga. Sementara sebagian warga yang tidak tergabung dalam kedua kelompok ternak di Desa Kerinjing tersebut memelihara rata-rata dua ekor sapi. “Sapi-sapi di situ pada nggak nafsu makan. Sementara ini warga membutuhkan pakan hijauan, damen, dan combor”, ujar Desita, staf COP yang turun bersama Orangufriends. Centre for Orangutan Protection masih menunggu arahan dari Dinas Peternakan dan menghubungi beberapa penyedia pakan hijau untuk kesediaan pakan yang dibutuhkan tersebut. (NAD)

MERAPI ERUPSI LAGI, RELAWAN ORANGUFRIENDS BERGEGAS KE LOKASI

Sabtu (11/03) siang, masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta dikejutkan dengan rangkaian erupsi gunung Merapi yang terjadi. Hingga sore hari, awan panas masih membumbung tinggi dan hujan abu mewarnai langit kelabu hingga mencapai wilayah Boyolali, Magelang, dan sekitarnya. Dikatakan oleh Agus Budi, kepala Balai Penyidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) pada pers daring yang digelar sore harinya, erupsi kali ini tergolong efusif yang ditandai dengan aktivitas berupa pertumbuhan kubah lava, guguran, dan awan panas guguran (CNN Indonesia). Awan panas guguran yang terjadi disebabkan oleh runtuhnya kubah lava di sebelah Barat Daya. Sementara aliran lava meluncur dengan jarak 1.500 meter ke Barat Daya. Ia melanjutkan dengan himbauan agar warga menjauhi daerah bahaya sepanjang 7 km dari puncak Gunung Merapi di alur Kali Bebeng dan Krasak.

Menindaklanjuti erupsi tersebut, tim Animal Rescue COP yang terdiri dari Orangufriends (relawan COP) bergegas mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan untuk melakukan peninjauan ke daerah Krinjing, salah satu lokasi terdampak erupsi. “Saat ini kita lagi persiapan. Ini ada goggle, masker, helm, handuk, dan senter,” ujar Daeng, relawan Orangufriends yang juga merupakan alumni COP School batch 12. Ia dan Zain, salah seorang Orangufriends lainnya yang turut bersiap di Camp APE Warrior COP telah berpengalaman dalam menghadapi situasi bencana dan beberapa kali melakukan penyelamatan satwa. Tidak lama berselang, mereka bersama dua orang tim COP pun berangkat menuju lokasi. Sesampainya di sana, mereka langsung berkoordinasi dengan berbagai pihak termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Kapolres Magelang untuk sementara mendapatkan informasi bahwa hingga saat ini belum ada instruksi agar warga mengungsi.

Tim Animal Rescue pun melanjutkan peninjauan lokasi. Daeng dan Zain melaporkan bahwa di lokasi tersebut, dampak yang paling dirasakan yaitu sektor pertanian dan peternakan. Mereka berjalan menyusuri lahan pertanian yang tertutup abu, menyaksikan pemandangan sayuran yang hancur dan busuk. Rumput-rumputan yang biasa diambil untuk pakan ternak pun tertutup abu dan rusak. Pak Subur, salah seorang warga yang ditemui tim mengatakan bahwa warga mulai kebingungan mencari rumput pakan ternak untuk keesokan hari. Beberapa warga pemilik ternak terpaksa turun ke daerah lain seperti Talun untuk mencari pakan. “Untuk ternak, mayoritas masyarakat memelihara sapi. Pada dusun Trono yang terdampak terdapat sekitar 150 kepala keluarga. Rata-rata satu keluarga bisa memelihara dua hingga tiga ekor sapi,” Desita, salah seorang staff COP yang turut serta mengikuti relawan tim Animal Rescue melaporkan keadaan lapangan.

Setelah meninjau lokasi dan menghimpun informasi, tim Animal Rescue pun berdiskusi dan menetapkan langkah yang akan dilakukan menindaklanjuti dampak khususnya terhadap satwa ternak di lokasi. Mereka berencana untuk berkoordinasi dengan Dinas Peternakan setempat dan juga kepala dusun untuk menginisiasi bantuan pakan satwa ternak. Dalam beberapa kasus bencana, relawan Orangufriends memang turut aktif berperan membantu penyelamatan satwa oleh tim Animal Rescue COP. Seperti saat erupsi Gunung Semeru pada bulan Desember lalu, atau saat terjadi gempa Cianjur pada bulan November. Tidak hanya menyelamatkan satwa ternak warga dan membantu memberi pakan, dalam kejadian-kejadian bencana mereka juga biasa melakukan feeding pada satwa-satwa liar yang turut terdampak bencana. Tanpa bantuan relawan Orangufriends, tim Animal Rescue tentu akan menghadapi lebih banyak tantangan pada saat bertugas. Terima kasih relawan Orangufriends! (NAD)

SAPAAN PAGI DARI ASTUTI, MABEL, DAN PINGPONG

“Selamat pagi!”

Kalau baru memulai hari di rumah, biasanya kita menyapa orang-orang rumah, memeluk, atau memberikan ciuman pagi. Kalau di pusat karantina BORA, Astuti dan Pingpong biasa menyambut Tata, keeper mereka dengan pelukan kepala dari dalam kandang. Tata membalas sapaan pagi dengan sesekali memanggil-manggil nama mereka ketika dipeluk.

“Hai Tutiiiii.. Tuut..” “Ya, Pong? Pingpooong,” panggilnya. Tata merogoh saku dan memberikan buah untuk cemilan pagi Pingpong dan Astuti.

Beberapa kali Astuti menambah tepukan di rambut Tata ketika memeluk kepalanya.

“Biasa, Astuti emang suka pegang rambut. Gitu cara dia ngenalin orang, ngebauin rambut. Harus siap keramas deh,” ujarnya.

Sementara Astuti dan Pingpong sudah bangun dan mulai aktif memanjat-manjat, di dalam klinik masih terdengar dengkuran. Mabel yang sedang pilek dan dirawat dalam klinik masih tertidur pulas dalam kandang. Mabel adalah orangutan terkecil di lokasi karantina BORA dan biasanya bangun paling siang. Hari itu ia bangun beberapa menit setelah kami beraktifitas bolak-balik dalam klinik. Ia langsung bangkit memegang pintu kandang dan merengek minta perhatian. Begitu cara si mungil Mabel menyapa tim yang bertugas di pagi hari, dengan rengekan caper. Ketika Tata membuka kandang Mabel, langsung saja ia memanjat tubuh Tata dan memposisikan diri di punggung Tata. Kalau sudah begini, dia susah lepas. Mabel tetap nangkring di pundak Tata ke mana pun Tata pergi dan apa pun yang Tata lakukan. Hanya sesekali dia turun dan bermain-main sendiri sambil diawasi Tata. Jika Mabel mulai lebih nyaman dengan posisi tertentu, Tata menaruhnya di pohon. Mabel pun memanjat dengan cepat sampai puncak pohon. 

“Ya gini aku tiap pagi udah kaya Ibu rumah tangga yang ngasuh bayi kak. Udah kaya Jennifer Bachdim lah ngurus anak sendiri,” ujar Tata.

Aku tertawa sambil mengawasi Mabel yang olahraga pagi memanjat pohon dan berayun-ayun. (NAD)

BANJIR TAWA, HARU DAN CERITA MENGINSPIRASI DI JAMBORE ORANGUFRIENDS 2023

Tanggal 4 dan 5 Maret yang lalu, Omah’e Simbhok di Petingsari, Yogyakarta berada di kaki Gunung Merapi yang dingin justru terasa hangat. Ada 60 orang berkumpul terdiri dari staf COP dan relawan orangutan yang tergabung di Orangufriends untuk menghadiri Jambore Orangufriends 2023. Perayaan ulang tahun COP yang ke-16 dan kilas balik perjalanan Centre for Orangutan Protection dilanjutkan penganugerahan penghargaan untuk tokoh inspiratif di dunia konservasi sekaligus sebagai prosesi wisuda COP School angkatan 11 dan 12.

Seperti reuni keluarga besar, gelak tawa dan candaan menghidupkan suasana selama acara. “Sangat hangat. Kita saling mengenal, jadi berteman dan saling silang ya. Silang pikiran, gagasan juga memperluas pertemanan,”ujar Wanggihoed, Orangufriends Bandung yang aktif berpartisipasi di kegiatan-kegiatan COP.

Jambore yang seyogyanya dilaksanakan setiap tahun terpaksa ditiadakan karena pandemi COVID-19. Bahkan COP School Batch 11 terpaksa menjalani karantina di tengah-tengah kegiatan karena ada yang positif COVID-19 waktu itu. Daniek Hendarto, direktur COP menyampaikan kegiatan COP semasa pandemi itu, sewaktu yang mewajibkan kita melaksanakan protokol dan pembiasaan baru. Perjalanan COP dari 2007 diceritakan kembali oleh Hardi Baktiantoro, pendiri COP. Semangat para alumni COP School menyampaikan pengalaman mereka berkegiatan dibagikan Zain nabil dan Daeng Hudayya.

Jambore Orangufriends juga mengundang CEO BOS Foundation, Jamartin Sihite dan CEO OIC, Panut Hadisiswoyo untuk hadir dan ikut berbagi cerita sepak terjang mereka di dunia konservasi orangutan. Keduanya menekankan bahwa membentuk generasi muda yang peduli pada lingkungan adalah kunci penting dalam dunia konservasi. Mereka mengapresiasi kegiatan-kegiatan COP yang mendukung terbentuknya generasi muda yang aktif. “Tanpa generasi muda, gak ada masa depan orangutan,”, ucap Jamartin.

Di luar sesi terjadwal, semua yang hadir jugu turut berbagi cerita pengalaman lucu, mengharukan dan bahkan menegangkan di dunia konservasi. Permainan ice breaking serta melukis bersama di sela kegiatan membanjiri Omah’e Simbhok dengan tawa dan keceriaan. Ingin merasakan juga suasana menyenangkannya? Kami tunggu di Jambore Orangufriends tahun depan ya! Sampai Jumpa… (NAD)

THE WORK OF INSPIRING WOMEN ENRICHING THE WORLD OF CONSERVATION

Annually on 8th March, the world celebrates the International Women Day since 1910. This celebration is meant to raise awareness on inequity and inequality that women experience around the world. More than a century has passed yet we’re still celebrating it today. This could only mean that we’re still far from creating an equal and fair world for women and we should continue the struggle.

In the world of conservation, women face different kinds of inequity and inequality in different countries. In Indonesia, we might often hear a bias assumption that the world of conservation is a men world. It’s believed as a masculine field because it requires physical strength, courage, and intelligence, qualities often attributed to men. Women’s contribution and role are often overlooked and degraded. Say the least, women pay great contribution to work of conservation to this day. Let’s have a talk with mbak Yuyun, a mother and one of tough women who co-founded COP and still work in COP as a communication manager today.

How’s your journey with COP from day 1?

Truly it was chaotic. My children were so young I had to leave them with my parents. When I found the work pace and pattern suitable for me, I took care of my children while working for COP. Luckily, the world of media started to shift from printed and conventional to digital at that time.

What are the challenges you face as a women workin in conservation?

For me, it’s time management. It’s indeed impossible to manage time. I have to be physically and mentally tough because I have the role of being a mom and I have to do my best in the role. Meanwhile as a woman worker in conservation, especially Orangutan conservation, I have to perform well in the role and be responsible for every work assigned to me. I have to give lots of support to my fellow in the field so our hard-work doesn’t just end in the field, we have to tell the stories to people.

What do you think about the statement that the world of conservation is for men?

Well, it’s true that out work here requires great physical strength. But don’t get it wrong! Women can be tough if they exercise well. We also have to learn fieldwork management well so our physical limitation don’t trouble us. If this world of conservation was only rum by men, surely it will miss lots of details and various interesting point of view. Women and men have their own weaknesses and strength, but it’s fulfilling each other.  So take your role!

How’s the gender equity in COP?

To be honest, I never think whether I walk or work with a men or women. I value their competence regardless the gender. I see everyone as a unique individual, not degrading them by sex. Men and women both have their own roles.

What do you like to say to your fellow women worker in conservation?

Don’t let your self down whenever people look down on you as a woman, just show them what you can do. When they told you that women are weak, overly sensitive, and don’t belong in field work, just twist and use that judgement as a weapon and be resilient. Hold on and do your best. Time will show the truth.

Mbak Yuyun is one among other tough and inspiring women worker in the world of conservation. There are a lot of extraordinary women in our COP family with outstanding contribution and dedication in protecting Orangutan and beyond. Let’s meet them sometime! Support women and #EmbraceEquity in the world of conservation! (NAD)

 

SALING MENGISI DI DUNIA KONSERVASI, PEREMPUAN JUGA TURUT MENGINSPIRASI

Hari Perempuan Internasional setiap 8 Maret sejak tahun 1910 diperingati untuk meningkatkan kesadaran akan ketidaksetaraan dan ketidakadilan yang diterima oleh kelompok perempuan di seluruh dunia. Satu abad lebih telah berlalu, sayangnya kita masih memperingatinya. Hal ini menunjukkan kalau perjalanan kita dalam menciptakan lingkungan yang setara bagi perempuan dan laki-laki masih panjang dan belum berakhir.

Perempuan menghadapi tantangan kesetaraan yang berbeda-beda di seluruh dunia. Mungkin kita masih sering mendengar anggapan bias bahwa kerja konservasi adalah dunia laki-laki di Indonesia. Dunia konservasi dilihat sebagai dunia kerja maskulin yang membutuhkan keberanian, kecerdasan dan kekuatan fisik yang besar, hal-hal yang sering diatributkan pada laki-laki. Peran perempuan masih sering dikecilkan dan dipandang rendah kontribusinya. Padahal, kerja-kerja konservasi hingga hari ini tidak terlepas dari peran perempuan loh. Mari kita berbincang dengan mabak Yuyun, seorang ibu dan salah satu perempuan tangguh yang turut mendirikan COP dan masih berperan hingga saat ini.

Bagaimana perjalanan mbak Yuyun bersama COP sejak awal berdiri?Jungkir balik pastinya. Apalgi saat itu anak-anak masih kecil sekali. Sempat saya titipkan kepada orang tua saya. Ketika pola bekerja sudah ketemu, saya mengasuh anak-anak sembari mengerjakan pekerjaan di COP. Beruntung sekali saat itu peralihan dunia serba cetak ke dunia online.

Apa tantangan yang dihadapi sebagai seorang perempuan pekerja konservasi? Menurut saya, membagi waktu menjadi tantangan dan memang hampir mustahil membaginya. Yang pasti kondisi kesehatan fisik maupun mental harus kuat karena sebagai ibu, saya harus menjalankan peran itu dengan semaksimal mungkin. Lalu sebagai orang yang engabdi di dunia konservasi khususnya orangutan, saya juga harus menjalankan peran dan tanggung jawab yang sudah diberikan. Teman-teman di lapangan harus mendapat dukungan penuh agar kerja keras yang di lapangan tidak hanya sampai di situ saja, tapi terkomunikasikan (ke dunia luar).

Bagaimana tanggapan terhadap anggapan bahwa dunia konservasi adalah dunia laki-laki? Betul, di sini dibutuhkan kekuatan fisik. Tapi jangan salah, perempuan sebenarnya adalah sosok yang lebih tangguh jika dia melatih kemampuannya dengan baik.Manajemen perjalanan di lapangan harus dipelajari juga agar kekurangan fisik perempuan tidak menjadi halangan. Jika dunia konservasi berisikan laki-laki saja, tentunya hal kecil dan detil akan banyak terlewati. Laki-laki dan perempuan tentunya punya kekurangan dan kelebihan, ini akan mengisi dunia konservasi. Ambil peranmu!

Bagaimana mbak Yuyun memandang kesetaraan gender dalam kerja di COP? Sejujurnya, saya tidak pernah melihat sedang jalan atau bekerja dengan berjenis kelamin apa. Tapi lebih ke kemampuan orang tersebut. Saya melihat seseorang sebagai pribadi yang unik bukan sekedar jenis kelaminnya. Perempuan maupun laki-laki punya peran masing-masing.

Apa pesan yang ingin disampaikan terhadap sesama perempuan pekerja konservasi? Jangan kecil hati ketika kamu dilihat sebagai perempuan, tunjukkan saja kemampuanmu. Manfaatkan pandangan miring yang menyertai perempuan pekerja konservasi seperti lemah, tidak siap ke lapangan atau sensitif. Bertahanlah dan lakukan yang terbaik. Waktu akan membuktikan.

Mbak Yuyun hanyalah seorang di antara perempuan yang tangguh dan menginspirasi di dunia konservasi. Masih banyak anggota keluarga Centre for Orangutan Protection (COP) yang luar biasa peran dan dedikasinya untuk melindungi orangutan dan satwa lainnya. Kapan-kapan kita berkenalan dan berbincang dengan mereka ya! Ayo bersama-sama kita #RangkulKesetaraan di dunia konservasi! (NAD)

AMAN PASTI BISA

Aman, orangutan remaja jantan yang ada di pusat rehabilitasi BORA dengan kondisi fisik yang sangat menyedihkan. Dia memiliki kondisi cacat pada jari-jari di kedua tangannya yang diduga akibat ulah kejam manusia dan kondisi ini sangat mempengaruhi keseharian Aman sebagai oragutan yang sedang tumbuh dan berkembang. Akibat dari kecacatan yang dialaminya, Aman terlihat memiliki pergerakan yang jauh lebih lamban dibandingkan dengan orangutan remaja lainnya. Aman cukup kesulitan untuk berpindah saat diatas pohon. Meski demikian, Aman tetap tumbuh sebagai orangutan jantan yang tangguh dan cukup menggemaskan.

Pertumbuhan orangutan Aman terbilang baik selama berada di pusat rehabilitasi BORA, kekurangan yang Aman miliki tidak menghentikan kehidupan alam liarnya. Aman terhitung sebagai orangutan yang cukup aktif saat sekolah hutan, meski seringkali mengalami kesulitan ia tetap mampu memanjat pohon yang cukup tinggi dengan baik. Begitupun dengan sosialnya, Aman masih cukup aktif bersosialisasi dengan orangutan lain saat sekolah hutan, meski terkadang ia seringkali tertinggal oleh orangutan lain karena pergerakannya yang cukup lamban.

Aman seringkali bertingkah manja saat di dalam kandang, tetapi menjadi cukup agresif saat sedang sekolah hutan, terkadang Aman akan mengejar para perawat satwa dan mencoba untuk menggigit kaki para perawat satwa. Meski demikian, hal tersebut bukan menjadi menakutkan namun justru membuat Aman semakin menggemaskan.

Sampai saat ini, kami masih harus terus mengusahakan agar orangutan Aman dapat tumbuh besar dengan baik selama di pusat rehabilitasi BORA, hal ini terus kami lakukan untuk mencegah kepunahan satwa asli Indonesia yang saat ini sudah cukup langka ditemukan di habitat aslinya. Kami juga mengharapkan agar Aman dapat dilepasliarkan suatu saat nanti agar ia dapat melanjutkan rantai populasi untuk spesiesnya.

HAPPY WORLD WILDLIFE DAY, AYO LINDUNGI SATWA LIAR

Tahukah kamu? World Wildlife Day atau Hari Satwa Liar Sedunia yang diperingati setiap tanggal 3 Maret adalah pengingat bagi kita agar terus memaknai pentingnya menjaga kehidupan alam liar, terutama satwa dan flora yang dilindungi seperti orangutan. Tahun ini #WildlifeDay menekankan pentingnya kerjasama dan kolaborasi di dunia perlindungan alam liar, hal yang sudah menjadi nilai yang dimaknai COP (Centre for Orangutan Protection) dalam menjalankan misi untuk melindungi orangutan dan yang lainnya. COP telah bekerja bersama dengan berbagai organisasi, pemerintah dan perorangan untuk bersama-sama menyelamatkan satwa liar.

Masih ingat orangutan Astuti yang menjadi korban perdagangan satwa liar antar negara? Upaya penyelamatan dan peminahan Astuti dari Menado, Sulawesi Utara hingga tiba di pusat rehabilitasi BORA (Bornean Orangutan Rescue Alliance) di Berau, Kalimantan Timur merupakan kerja bersama lintas instansi pemerintah, swasta dan COP.Tanpa kerjasama ini, Astuti mungkin saja tidak punya kesempatan untuk dilepasliarkan kembali ke habitatnya, hutan Kalimantan.

Sementara itu, tim patroli COP yang berada di Sumatra Barat melibatkan warga Nagari Sontang-Cubadak untuk membentuk tim PAGARI (Patroli Nagari) sebagai usaha mitigasi konflik harimau dan manusia di Sumatra Barat. Keterlibatan masyarakat lokal yang berbatasan langsung dengan hutan lindung Sontang-Cubadak ini menjadi model untuk pembentukan tim PAGARI di nagari yang lain.

Di dalam COP sendiri, semangat kerjasama juga menjadi nilai penting. BORA  tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan tim APE Crusader yang menyelamatkan habitat orangutan dan menyelamatkan orangutan konflik. Pusat rehab akan penuh jika tim APE Guardian tidak mengusahakan kawasan pelepasliaran yang layak untuk orangutan. Sementara tanpa dukungan APE Warrior, akan sulit sekali mencari dukungan publik untuk mempercepat proses perlindungan satwa liar. Mari bersama melindungi satwa liar. (NAD)

BRINGING HOME JOY FROM TK ANNISA BERAU, EAST BORNEO

A teacher from TK Annisa Berau visited us in the COP Borneo office in Tasuk village, just a few miles away from the kindergarten. She came to the office hoping that her children could see Orangutans. However, the Orangutans in the BORA rehabilitation center are under medical evaluation therefore human visit is very restricted. So, in return, on February 26 we visited the school with a giant stuffed Orangutan called Morio.

“Knock knock… An Orangutan is here!” 

The students were overjoyed to welcome Morio! They were so thrilled as they listened to the stories about wildlife Morio told. They answered every question about wildlife with huge enthusiasm. We were so overwhelmed by their energy in the class and we couldn’t stop laughing at their innocence! The joy and the fun energy was contagious and we brought it home. On our way back from the school visit, we greeted everyone we met on the way.

“School visits, teaching students, I am not new to the thing. But to face these younger students, we need a lot more energy!” Mia, a volunteer and an alumni of COP School batch 12 shared her experience. 

As she and the team evaluated the school visit, they learned that even though the children are able to distinguish domestic animals, many of them couldn’t mention the wildlife of East Kalimantan. This has become a concern. Now, after the school visit, the children know that ducks can provide many benefits if taken care of well, and Rangkong should stay in the forest and be the “forest farmers”.

“I wish that we can always keep the joyful energy the children gave us and the children can always keep the awareness of wildlife protection that we gave them in return. Long live good deeds!” Mia said passionately. (MIA_COPSchool)

TERTULAR KECERIAAN SAAT SCHOOL VISIT DI TK ANNISA BERAU

Jumat lalu, ada orangutan mendatangi TK Annisa Berau. Ini adalah kunjungan balasan dari seorang guru TK Annisa di kantor COP Borneo yang berada di kampung Tasuk tak jauh dari tempatnya bekerja. Awalnya, si Ibu Guru berharap anak-anak muridnya bisa melihat orangutan secara langsung, namun keinginan tersebut belum bisa terwujud karena pusat rehabilitasi BORA sangat membatasi interaksi manusia dan orangutan sebab kondisi orangutan yang dalam evaluasi medis. 

Bersama Morio kami pun berbagi cerita pada anak-anak TK. “Sebenarnya ini bukanlah hal yang baru untukku mengajar anak-anak, namun untuk kelompok usia yang lebih kecil ini ternyata kita harus punya enegi yang jauh lebih besar”, ujar Mia, relawan COP yang merupakan alumni COP School Batch 12. Anak-anak antusias mendengar dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai satwa liar. Saking antusiasnya, energi kelas menjadi begitu tinggi dan membuat kami sedikit kewalahan. Kami pun hanyut tertawa melihat tingkah lugu mereka. Energi kecerian anak-anak ini menular ke kami yang datang. Sepulangnya kami dari school visit, kami dengan riang menyapa orang-orang yang berpapasan dengan kami.

Evaluasi kunjungan ke sekolah pun memberikan catatan tersendiri. Anak-anak mengetahui semua hewan domestik namun tidak tahu sata liar yang khas dari Kalimantan Timur. Hal ini menjadi perhatian karena pengetahuan adalah kekuatan. Kini anak-anak TK Annisa tahu bahwa bebek memiliki banyak manfaat jika dipelihara dengan baik dan Rangkong harus tetap tinggal di hutan sebagai petani hutan. “Aku berharap, energi keriangan anak-anak terus menular ke kami dan energi kesadaran pentingnya menjaga satwa liar di alam bisa menular juga ke anak-anak. Panjang umur upaya-upaya baik!”, tambah Mia penuh semangat. (MIA_COPSchool)