TUMBUH KEMBANG BAYI ORANGUTAN COP BORNEO

Siang ini, para animal keeper disibukkan oleh bayi-bayi orangutan di klinik COP Borneo. Posyandu… Posyandu… begitu kalau di desa. Pastikan membawa buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak). Bayi akan diperiksa kesehatannya. Bagaimana tumbuh kembangnya. Berat badannya bertambah atau tidak, tingginya tetap atau tidak. Pola makan anak juga akan dievaluasi. Ya… hari ini adalah jawal pengecekkan tumbuh kembang bayi orangutan penghuni pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Kurang lebih, hampir sama dengan aktivitas di Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) seperti yang kita kenal.

Pendataan fisik terjadwal ini dengan keempat bayi orangutan. Popi, Happi, Owi dan Bonti siap untuk dievaluasi. Pengukuran data fisik orangutan biasanya dilakukan ketika orangutan pertama kali masuk ataupun keluar dari pusat rehabilitasi dan juga saat translokasi ataupun kebutuhan yang lain, demikian penjelasan drh. Ryan Winardi pada animal keeper.

Ini adalah pengalaman pertama Herlina dan juga Steven mengikuti pengukuran data fisik orangutan. Mereka berdua adalah animal keeper yang baru di COP Borneo. “Sangat menyenangkan, tapi… agak takut saat harus membuka mulut orangutan Happi untuk menghitung jumlah giginya.”, ujar Herlina, animal keeper yang baru bergabung sejak Juli 2017 yang lalu.

Gimana ngak takut, giginya lebih besar dari bayi manusia. Apala lagi mereka sering mendengar cerita animal keeper terdahulu yang selalu jadi sasaran gigitan bayi-bayi orangutan. “Gigitan bayi manusia aja sakit… apalagi bayi orangutan!”, ujar drh. Ryan sambil tersenyum.

Tidak seperti biasanya, bayi-bayi orangutan kali ini memberontak dan agak liar. Bahkan Popi yang biasanya diam saat di sekolah hutan, saat pendataan membutuhkan 3 orang perawat untuk menahannya. “Hari ini, kita butuh energi ekstra rupanya.”, ujar drh. Ryan. (WET)

#ORANGUTANDAY DI SMAN 2 MEULABOH ACEH

Sabtu, 19 Agustus 2017 bertepatan dengan hari orangutan sedunia. Orangufriends Aceh bersama mahasiswa yang peduli nasib dan kondisi orangutan saat ini melakukan aksi penyadartahuan kepada siswa tingkat sekolah menengah atas, membagikan stiker gratis yang bertema “Year of Freedom”.

Kegiatan seperti ini biasanya disebut school visit. School visit di SMA Negeri 2 Meulaboh, Aceh Barat bertujuan menginformasikan dan mengajak siswa untuk lebih mengenal kondisi orangutan yang merupakan satwa endemik Indonesia.

“Ini adalah kegiatan yang baru bagi kami. Dan melihat ketiga anak muda yang penuh semangat ini berbagi pengetahuan tentang orangutan, ancaman orangutan dan habitatnya termasuk penyebab kebakaran hutan dan dunia konservasi satwa lainnya, membuat kami sadar tentang pentingnya menyelamatkan orangutan.”, ujar guru geografi itu terharu.

Di akhir kegiatan ada salah satu siswa yang mendekat lalu bertanya, “Kak, bagaimana caranya jika saya ingin menjadi relawan untuk menyelamatkan orangutan di Indonesia khususnya di Sumatera?”.

“Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menyelamatkan orangutan. Hal yang paling mudah adalah menyebarkan informasi seluas-luasnya kepada siapapun tentang pentingnya menjaga dan melestarikan orangutan dan habitatnya.”, jawab Desti Ariani, orangufriends Aceh.

“Kami dari SMA Negeri 2 Meulaboh, peduli akan nasib orangutan. Save orangutan and Happy International Orangutan Day!!!”, seru para siswa dan guru-guru dengan terikan lantang dan penuh semangat. (Desti_COPSchool7).

HOW IS POPI DOING?

“I will cry if I couldn’t get off from the tree and immediately asleep if I’m tired of playing.”
Who else is it if it’s not Popi, the 11 months old baby orangutan.

Forest school must be the hardest thing for Popi. Because in forest school, Popi is forced to climb the tree. Wety, the baby sitter is going to scare Popi rattan if she isn’t quick enough to reach and climb the branches near her.

In other time Popi could quickly climb and also immediately climb down. The animal keeper have to keep their eyes on her and carry her to climb the tree again. The question is always who is stronger? The animal keeper that wants Popi on the trees or Popi that loves the ground?

The unique thing is that once she is having fun climbing, Popi would not really care about the height of the tree. Soon we would be able to hear her cry because she couldn’t climb down.

“If Popi is already too tired she will come down and join the animal keeper to the hammock and sleep hugging the Animal keeper.”, said Lina the Animal Keeper. Maybe her instinct is told her to sleep under the embrace of her mom, she must love the hug from her mother. Hearing her mother heartbeat and the rhythm of her mother breath makes her comfortable and fell immediately asleep.
“It is sad to think about how Popi belongs with her mom and how she must be missing her mother”, said Lina softly.

“It is not only Popi that frequently fell asleep in the Forest School. When orangutan Happi was 10 months old, she liked to sleep in the Forest School.”, said Danel, the coordinator of Animal Keeper.

Just like human, orangutan like to have an afternoon nap. Especially the babies have longer nap time. Even human babies could fall asleep when they are eating or talking, the same thing goes for Baby Orangutan. When the sleepiness came, wherever and whenever, they would be found sleeping. (Grace_Orangufriends)

APAKABAR POPI?
Akan menangis ketika tidak bisa turun dari pohon. Langsung tertidur ketika sudah lelah bermain. Siapa lagi kalau bukan Popi, si bayi orangutan yang kini berusia 11 bulan.

Sekolah hutan mungkin adalah hal terberat Popi. Karena di sekolah hutan, Popi dipaksa untuk memanjat. Wety, sang baby sister akan menakuti-nakutinya dengan duri rotan jika dia tak segera meraih dahan dan memanjat pohon terdekatnya.

Tak jarang, Popi pun langsung memeluk pohon, memanjatnya dan segera turun ke tanah. Animal keeper akan langsung membawanya naik ke pohon lagi. Siapa yang paling bisa bertahan… animal keeper yang menginginkan Popi di pohon, atau Popi yang lebih nyaman di tanah?

Uniknya, kalau Popi sudah asik memanjat, dia tidak akan peduli berapa tinggi dan berapa lama dia di pohon. Dan… kita akan mendengarkan tangisannya bahwa dia tak bisa turun tapi ingin turun. Hahaha… Popi… Popi.

“Popi kalau sudah capek akan turun dan menyusul animal keeper ke hammock… lalu tidur dalam pelukan.” ujar Lina, animal keper. Mungkin dia secara naluri, selalu tertidur dalam pelukan ibunya. Rasa nyaman berada dalam pelukan ibunya. Mendengarkan detak jantung ibunya. Dan merasakan hebusan nafas ibunya, membuatnya benar-benar nyaman hingga tertidur. “Sedih rasanya membayangkan arti ibu bagi Popi. Seharusnya Popi bersama ibunya.”, ujar Lina lirih.

“Tidak hanya orangutan Popi yang pernah tertidur di sekolah hutan. Dulu, ketika orangutan Happi berumur 10 bulanan, dia juga sering tertidur di tengah sekolah hutan.”, ujar Danel, koordinator animal keeper.

Seperti layaknya manusia, orangutan akan tidur siang. Khusus para bayi, dia membutuhkan waktu tidur lebih panjang lagi. Bahkan bayi manusia bisa tertidur saat dia makan atau saat kita baru saja mendengar celotehannya dan tiba-tiba sunyi senyap karena sang bayi ternyata sudah tertidur. Begitu pula bayi orangutan. Saat kantuk menyerang… dimana saja dan kapan saja… dia akan tertidur. (WET)

MALANG ‘YEAR OF FREEDOM’ COMMUNITY VISIT

In commermorating World Orangutan DAy in 2017, orangufriends Malang held a community visit activity on Monday (21/8). World Orangutan Day or World Orangutan DAy (WOD) is actually celebrated on August 19, but the ceremony was forced to be postponed because it adjusted the agenda of each community visited. These communites are Earth Hour (EH) Malang and the Brawijaya University Student Association of Nature Lovers (IMPALA).

This year the Center for Orangutan Protection (COP) carries the theme “Year of Freedom”, because this year COP will release its first orangutan. Therefore, the community visit theme is taken in addition to discussing the material of orangutan and also disseminating good news from COP Borneo about “Year of Freedom”. “This theme is important for us Malang’s Orangufriends because we believe that everyone involved in COP and Orangufriends has long been working wholeheartedly for this moment, and that day really deserves to be greeted with joy.” said Algriawan Bayu, Orangufriends Malang.

This Community visit is also the beginning of Posuf’s Malang positive relation with local communities. With the relationship built, we are confident that more young people will understand how important is to keep orangutans and their habitats and other wildlife. We also believe that what we have delivered in this activity will continue to spread as a message of kindness. There is one thing that we all agree on from this activity, whoever we are and from whichever asala (community), as long as we have one goal for the environtment, we are brothers. (Dhea_Orangufriends)

Dalam rangka memperingati Hari Orangutan Sedunia tahun 2017, Orangufriends Malang mengadakan kegiatan community visit pada hari Senin (21/8). Hari Orangutan Sedunia atau World Orangutan Day (WOD) sejatinya dirayakan pada tanggal 19 Agustus, namun seremoni ini terpaksa diundur karena menyesuaikan agenda masing-masing komunitas yang dikunjungi. Ada pun komunitas-komunitas tersebut adalah Earth Hour (EH) Malang dan Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam (IMPALA) Universitas Brawijaya.

Pada tahun ini Centre for Orangutan Protection (COP) membawa tema “Year of Freedom”, sebab tahun ini juga COP akan melakukan release orangutan pertamanya. Maka dari itu tema community visit yang diambil pun selain membahas materi orangutan dan juga menyebarluaskan kabar baik dari COP Borneo tentang “Year of Freedom”. “Tema ini menjadi penting bagi kami orangufriends Malang karena kami percaya bahwa semua orang yang terlibat dalam COP maupun Orangufriends sejak lama telah bekerja dengan sepenuh hati untuk datangnya momen ini. Dan hari itu sungguh layak disambut dengan gembira.”, ujar Algriawan Bayu, Orangufriends Malang.

Community visit ini juga menjadi awal dari relasi positif Orangufriends Malang dengan komunitas-komunitas lokal. Dengan adanya relasi yang dibangun, kami yakin akan lebih banyak lagi generasi muda yang mengerti dan memahami betapa pentingnya hal menjaga orangutan dan habitatnya serta satwa liar lainnya. Kami juga yakin bahwa apa yang telah kami sampaikan dalam kegiatan ini akan terus mereka sebarluaskan sebagai sebuah pesan kebaikan. Ada satu hal yang kami semua sepakati dari kegiatan ini, siapapun kita dan dari manapun asala (komunitas) nya, selama kita punya satu tujuan untuk lingkungan, kita saudara. (Bayu_Orangufriends)

ORANGUFRIENDS PALANGKARAYA CELEBRATE #ORANGUTANDAY

Sunday, August 20th 2017 in the big roundabout Palangka Raya a routine activities CFD (Car Free DAy) looks crowded like the previous weeks but there is a different in this week CFD, What is it ?

There is one Orangufriends member who is a supporter of the COP (Center for Orangutan Protection) with friends from Kimpala go down directly on the street carrying posters that read “Year of Freedom” while handiong out free stickers for Palangka Raya city residents.

While getting stickers, residents were wondering about orangutan and COP. Not a few who deliberately approached to ask for a sticker. 

This action is done as a celebration of World Orangutan Day or World Day of Orangutan which is commemorated on August 19 every year. It is expected that with this activity, it can raise awareness of Palangka Raya city residents in maintaining the survival of orangutans and their habitat. 

“Thank God, this action is welcomed by the citizens and young people her,” said Diska Anshari, a student of COP School Batch 7. This activity is also a marker that orangufriends still exist in Palangkaraya and hopefully in the future can open the eyes of young people of Central Kalimantan to participate directly in the preservation of orangutan life in Indonesia (Dhea_Orangufriends)

ORANGUFRIENDS PALANGKA RAYA MEMPERINGATI #ORANGUTANDAY
Minggu, 20 Agustus 2017 kegiatan rutin CFD (Car Free Day) di bundaran besar Palangka Raya terlihat ramai seperti pekan-pekan sebelumnya namun ada yang berbeda di pekan ini, apa itu?

Ada satu anggota orangufriends yang merupakan pendukung COP (Centre for Orangutan Protection) bersama teman-teman dari Kimpala turun langsung ke jalan membawa poster yang bertuliskan “Year Of Freedom” sambil membagikan stiker gratis untuk warga kota Palangka Raya.

Sambil mendapatkan stiker, warga pun bertanya-tanya tentang orangutan dan COP. Tak sedikit yang sengaja menghampiri untuk meminta stiker secara langsung.

Aksi ini dilakukan sebagai perayaan World Orangutan Day atau Hari Orangutan Sedunia yang diperingati pada 19 Agustus setiap tahunnya. Diharapkan dengan adanya kegiatan ini, bisa membangkitkan kesadaran warga kota Palangka Raya dalam menjaga kelangsungan hidup orangutan beserta habitatnya.

“Syukurlah aksi ini disambut baik oleh warga dan anak muda di sini.”, ucap Diska Anshari, siswa COP School Batch 7. Kegiatan ini juga sebagai penanda bahwa orangufriends masih tetap eksis di Palangka Raya dan semoga kedepannya bisa turut membuka mata anak muda Kalimantan Tengah agar ikut terjun secara langsung dalam menjaga kelestarian hidup orangutan di Indonesia (Diska_Orangufriends)

72 PENYU SISIK DILEPASLIARKAN DI PANTAI SENDURIAN

Banyak cara merayakan hari kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tak terlepas tim APE Crusader yang biasanya menyelamatkan orangutan dan berada di garis depan saat mempertahankan hutan yang beralih fungsi menjadi perkebunan. APE Crusader turut melepaskan anak penyu sisik yang dilakukan sepanjang kawasan pantai Sendurian, desa Sungai Perlu dan di kawasan pantai wilayah kelola Taman Nasional Tanjung Puting wilayah II resort Sungai Perlu.

“Saling mendukung upaya konservasi itu mengembalikan semangat kami.”, ujar Faruq Zafran, kapten APE Crusader. “Tantangan di dunia konservasi sangat bervariasi. Inilah yang membuat kami tertarik untuk mempelajari cara mengatasinya. Belajar darimana saja dan kapan saja dapat mengembalikan semangat kami mengatasi persoalan. Bahwa kami tidak sendiri.”.

Sabtu, 19 Agustus 2017 ada 72 anakan penyu sisik yang dilepasliarkan kembali. Penyu-penyu ini masih harus berjuang untuk sampai ke lautan. Mereka juga harus menghadapi predator yang datang seaktu-waktu. “Penyu yang kecil saja siap mengarungi lautan nan luas. APE Crusader siap meyelamatkan orangutan Kalimantan.”. (Petz)

ORANGUFRIENDS CELEBRATE HAPPY ORANGUTAN INTERNATIONAL DAY

Distance is not an obstacle for Orangufriends. Orangufriends are volunteers that support the protection of orangutans and their habitat in Centre for Orangutan Protection. Different background and age is not a barrier for them. Through World Orangutan Day Event, they work closely with each other to celebrate the World Orangutan day, August 19th 2017.

Stickers designed by Diska Anshari from Palangka Raya, located in Kalimantan Island, was distributed to students in Aceh, located in Sumatera Island. On Car free day in Palangkaraya, the citizens were enthusiastic about the stickers too. Not only in Sumatera and Kalimantan, Orangufriends in Java also created their own way to celebrate the Wolrd Orangutan Day. Orangufriends Bandung and Purwokerto also held a socialisation session in Car Free Day event in their own town, ready to educate the citizen about the endangered orangutans.

Orangufriends Padang even held a school visit. They prepared a road show to celebrate Wolrd Orangutan Day: from talkshow in Classy FM, school visit, campus visit, to musical dialog. This musical dialog were attended by COP founder, Zal Puteh (humanist, artist, and environmental activist), and collaboration with various organisation and communities. “Conservation is collaboration,” stated Hery Susanto, one of COP founder.

In August 21st, Orangufriends Malang was scheduled to hold a road show to communities to share the spirit of conservation for orangutan and their habitat. “COP rarely creates ceremonial event. For this year’s World Orangutan Day, we informed Orangufriends about it. Orangufriends responded with various activities. They coordinated, planned, and executed their own event with their own creativity. We are so proud of the events created by Orangufriends Aceh, Padang, Purwokerto, Bandung, Malang and Palangka Raya,” stated Ramadhani, COP’s communication manager.

In another occasion, Hardi Baktiantoro stated, “Orangufriends, you are so awesome! Many organisations envied us. The spirit of Orangufriends is the spirit of COP. COP is big because of Orangufriends.” (Zahra_Orangufriends)

Lokasi yang memisahkan mereka tak jadi halangan. Itulah Orangufriends. Orangufriends adalah relawan yang mendukung perlindungan orangutan dan habitatnya di Centre for Orangutan Protection. Latar belakang maupun usia tak menjadikan mereka berbeda. Lewat World Orangutan Day Event, mereka bahu membahu memperingati Hari Orangutan Sedunia yang jatuh pada tanggal 19 Agustus 2017.

Desain stiker dari Diska Anshari yang berada di Palangka Raya sampai ke tangan para siswi di ujung utara pulau sumatera, yaitu Aceh. Stiker itu pula yang menjadi rebutan warga yang hadir di acara Car Free Day Palangka Raya di hari berikutnya. Tak hanya di pulau Sumatera maupun Kalimantan. Orangufriends yang berada di pulau Jawa pun tak mau ketinggalan. Orangufriends Bandung dan Purwokerto pun turun di acara Car Free Day sambil membawa poster dan siap memberi informasi tentang orangutan dan habitatnya yang semakin terancam.

Kunjungan ke sekolah atau yang sering disebut school visit juga hadir di Padang. Orangufriends Padang bahkan mempersiapkan rangkaian acara untuk memperingati Hari Orangutan Sedunia 2017 ini. Mulai dari talk show di radio Classy FM, school visit, campus visit sampai Dialog Musikal di cafe dengan menghadirkan pendiri COP, Zal Puteh yang merupakan budayawan, seniman dan aktivis lingkungan asal Aceh serta kolaborasi oraganisasi dan kelompok lainnya. “Ya kerja konservasi adalah kerja bersama.”, ujar Hery Susanto, salah satu pendiri COP menegaskan.

Bahkan di tanggal 21 Agustus nya, Orangufriends Malang berencana masuk dari satu komunitas ke komunitas lainnya untuk menularkan semangat perlindungan orangutan dan habitatnya yang merupakan asal muasal COP berdiri.

“COP jarang sekali membuat acara ceremonial. Sementara untuk memperingati Hari Orangutan Sedunia ini, kami memberitahu para orangufriends. Orangufriends yang merupakan para pendukung COP ini, merespon dengan berbagai kegiatan. Mereka mengkoordinir, merencanakan dan mengemas acara dengan kreatifitas masing-masing kota. Jadilah perayaan yang membanggakan dari Aceh, Padang, Purwokerto, Bandung, Malang dan Palangka Raya.”, ujar Ramadhani, manajer komunikasi COP.

Dalam kesempatan terpisah, Hardi Baktiantoro yang merupakan pendiri COP menyampaikan, ”Kalian hebat, Orangufriends! Kalian bikin iri banyak organisasi orangutan lainnya. Semangat orangufriends adalah semangat COP. COP besar karena orangufriends.”. (YUN)

PERAHU WAY BACK HOME II, SIAP PAKAI

Perahu Way Back Home Pertama terlihat terlalu capek bekerja sendirian. Dalam satu hari saja, perahu yang didanai dari keuntungan acara musik amal Sound For Orangutan yang digagas oleh orangufriends (kelompok pendukung COP) bisa berputar 4 sampai 5 kali pulau pra rilis orangutan COP Borneo. Itu di luar kejadian luar biasa yang mengharuskan pulau turun ke sungai kembali.

Satu perahu untuk rilis orangutan yang akan dilakukan bulan depan juga tidak cukup. Itu sebabnya, kami membuat perahu lagi dan kami beri nama Way Back Home Kedua. Perahu ini akan membawa orangutan menuju rumahnya. Perahu ini juga yang akan mewujudkan mimpi untuk kembali pulang. Perahu ini juga bukti kepedulian banyak orang pada orangutan.

Saat ini, perahu berada di dermaga, siap untuk mengantarkan orangutan-orangutan pulang ke rumahnya. Dengan daya tampung perahu sebanyak 7 orang termasuk motoris (orang yang mengendalikan perahu) atau juga sebanding dengan 3 kandang angkut orangutan. Perahu ini memang lebih besar dari perahu terdahulu. Perahu ini dengan impian yang lebih besar.

Terimakasih The Orangutan Project yang telah membantu mewujudkan impian para orangutan. Para orangufriends yang tersebar di penjuru dunia, kalian adalah malaikat orangutan di COP Borneo. (WET)

PATROLI TERPADU KARHUTLABUN

Musim kemarau sudah semakin dekat. Musim yang berpotensi memperburuk kebakaran hutan, lahan dan kebun (karhutlabun). Patroli terpadu pun melibatkan Manggala Agni regu 3/4 – Daops III Pangkalan Bun, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) Kotawaringin Timur, TNI, Polri dan Centre for Orangutan Protection termasuk juga masyarakat sekitar.

Pembentukan pos-pos jaga di beberapa desa yang dianggap rawan karhutlabun, salah satunya di Jln. H.M Arsyad Km 7 Gg. Mawar Barat, Desa Eka Baharui, Kecamatan Mentaya Baru, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.

Pencatatan data kondisi cuaca seperti suhu, kelembaban, kecepatan angin dan curah hujan menjadi bagian dasar dalam patroli terpadu ini. Daerah lahan gambut dengan vegetasi semak belukar mendapat perhatian lebih dalam setiap patroli. Sumber air terdekat dengan daerah titik rawan langsung ditandai untuk mempermudah proses pemadaman jika muncul hotspot. Pengukuran kedalaman gambut dan uji remas daun serasah juga dilakukan untuk mengetahui tingkat kebasahan lahan.

Sosialisasi dalam bentuk penyuluhan juga menjadi bagian dari patroli. Himbauan untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar berulang kali disampaikan untuk mencegah kebakaran hutan.

Kerugian material yang sangat besar jika terjadi karhutlabun diharapkan bisa semakin berkurang. Dampak yang langsung terasa bagi masyarakat sekitar saat terjadi karhutlabun adalah sesak napas akibat kabut asap bahkan mata perih. Selain berdampak pada kesehatan, kegiatan ekonomi pun sangat terganggu. Penerbangan dari dan ke provinsi maupun lintas daerah menjadi terhalang. Tidak hanya secara lokal maupun nasional, namun juga mengganggu negara tetangga.

Keseriusan pemerintah menangani karhutlabun tertuang pada Instruksi Presiden RI Nomor 11 tahun 2015 tentang Peningkatan Pengendalian Karhutlabun. “Optimalisasi pencegahan Karhutlabun adalah jalan terbaik daripada kita sibuk memerangi api.”, ujar Faruq Zafran, kapten APE Crusader, koordinator tim COP untuk perlindungan satwa dan habitatnya. (Petz)

PLAYING WITH LEAVES

Continue the story of Making Nest in the Cage. Not all orangutans in the COP Borneo orangutan rehabilitation center understand hoe to make nest. For example, orangutan baby in cages or socialization cage. From all baby orangutan, only Happi could make nest.
 
In average baby orangutan are separated from the mother when not even 10 month old. Surely, it is a very young age. In Age where, baby orangutans are very dependent with their mother. Even almost all of their time is spent in the parent embrace.
 
So what do these babies do when given leaves? “They just make the leaves as toys, nibble it or scattered them. Moreover Owi, although he is the biggest among Bonti and Happi, is the only one who has never made a nest,” said Danel, coordinator of animal keeper COP Borneo.
 
However, leaves enrichment is still the best enrichment for orangutans in COP Borneo enclosure 2. In the wild, the leaves are a companion for orangutans, the leaves are their primary requirement. And the leaves are not something that is hard to find in COP Borneo. “We just choose and arrange which tree leaves to be taken today,” explained Danel again.
 
Everyday, while being away from the forest school, leaves enrichment is a must-have for enclosure 2. “Initially, this might be a futile job. Put the leaves in the cage and then just scattered them,” said Danel. Whereas taking leaves and bringing it to the enclosure needs a struggle of its own. Not to mention the piling litter and cleaning the cage gets harder . “But we believe, with the passage of time, their instincts on the leaves will appear. Baby orangutans will learn from each other. Like Bonti who started imitate and learn from Happi how to make nest. “Danel become more excited, that nothing was in vain, no matter what effort he did. (Dhea_Orangufriends)

BERMAIN DAUN
Melanjutkan cerita sarang di dalam kandang. Tidak semua orangutan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo mengerti cara membuat sarang. Contohnya saja, bayi orangutan yang berada di kandang 2 atau kandang sosialisasi. Dari semua bayi orangutan, hanya Happi yang bisa membuat sarang.

Rata-rata bayi-bayi orangutan ini terpisah dari induknya saat belum genap berusia 10 bulan. Pastinya, itu adalah usia yang sangat muda. Usia dimana, bayi orangutan sangat tergantung sekali dengan induknya. bahkan hampir seluruh waktunya dihabiskan dalam gendongan induknya.

Lalu apa yang dilakukan bayi-bayi ini saat diberikan daun? “Mereka hanya menjadikan daun-daun itu sebagai mainan, sekedar digigit-gigit atau dihambur-hamburkan. Apalagi Owi, walaupun dia paling besar di antara Bonti dan Happi, Owi adalah satu-atunya orangutan yang belum pernah membuat sarang.”, ujar Danel, koordinator animal keeper COP Borneo.

Tetapi, tetap saja enrichment daun adalah pengayaan terbaik untuk orangutan di kandang 2 COP Borneo. Di alam liar, daun adalah sahabat bagi orangutan, daun adalah kebutuhan utama mereka. Dan daun bukanlah sesuatu yang sulit ditemukan di COP Borneo. “Kami tinggal memilih dan mengatur pengambilan pohon mana yang akan diambil daunnya hari ini.”, jelas Danel lagi.

Setiap hari, ketika sedang tidak sekolah hutan, enrichment daun adalah hal yang wajib diberikan untuk kandang 2 terutama. “Awalnya, mungkin ini seperti pekerjaan yang sia-sia. Menaruh daun di kandang lalu hanya dihamburkan begitu saja.”, kata Danel. Padahal mengambil daun dan membawanya ke kandang butuh perjuangan tersendiri. Belum lagi sampah menjadi lebih banyak dan membersihkan kandang jadi bertambah berat. “Tapi kami yakin, dengan berjalannya waktu, insting mereka pada daun akan muncul. Bayi orangutan satu dengan yang lainnya akan saling belajar. Seperti Bonti yang mulai belajar pada Happi cara membuat sarang.”, Danel pun menjadi lebih bersemangat, bahwa tak ada yang sia-sia, apapun usaha yang dilakukannya. (WET)