NANTIKAN… SOUND FOR ORANGUTAN SURABAYA

Keinginan Orangufriends menggalang dana untuk membeli tanah sebagai lahan produksi pakan bagi orangutan yang berada di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Kalimantan Timur menjadi tujuan acara Sound For Orangutan tahun ini. ‘Promised Land’ begitu tema yang diangkat.

COP Borneo adalah pusat rehabilitasi yang diinisiasi oleh para putra-putri Indonesia. Dengan 18 individu orangutan yang menghuni pusat rehabilitasi yang berada di kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Dalam seminggu, tim COP Borneo turun ke kota untuk berbelanja pakan orangutan di pasar pagi Adji Dilayas, Berau. Selain itu, tim juga membeli buah-buahan dari masyarakat desa terdekat, namun tak mencukupi.

“Inilah yang membuat kita terpanggil untuk mengumpulkan dana yang bisa dipergunakan untuk kebutuhan pakan orangutan COP Borneo secara mandiri.”, ujar Tedjo dengan semangat.

Orangufriends adalah kelompok pendukung Centre for Orangutan Protection yang bekerja secara sukarela. Ada berbagai macam latar belakang, usia dan lokasi namun menyatukan para relawan, yaitu untuk orangutan Indonesia. Suatu kekuatan yang membuat COP terus bersemangat.

Rangkaian acara pun telah disusun panitia yang terdiri dari orangufriends Surabaya. Diawali dengan school visit di bulan Agustus nanti dan dilajutkan mini SFO tour 2017 dari satu cafe ke cafe yang lain di bulan berikutnya.

Untuk mendukung kegiatan tersebut, orangufriends telah mulai menjal kaos pre-order pertama dengan tema orangutan. Ayo dukung teman-teman kita agar Sound For Orangutan Surabaya berhasil.

PERAN TIM EDUKASI PADA KONSERVASI

COP Borneo memastikan bahwa setiap ruh dan nadi konservasi selalu berkelanjutan (diteruskan ke generasi berikutnya). Sebagai usaha hal tersebut, kami berusaha menumbuhkan pengetahuan yang tepat tentang usaha melestarikan satwa liar dan habitatnya. Tak terkecuali anak-anak desa Merasa yang tinggal tak jauh dari tempat rehabilitasi orangutan COP Borneo di Berau, Kalimantan Timur.

Minggu, 9 Juli 2017, dengan konsep yang sederhana, kami mengenalkan berbagai macam satwa liar yang hampir punah yang berada di Kalimantan. Seperti Bekantan, Beruang Madu, Pesut Mahakam, burung Rangkong, Orangutan dan lainnya. Lewat media gambar berwarna dan permainan interaktif, kami berusaha memberi warna yang rileks dalam menyampaikan materi. Apalagi dengan sebuah nyanyian dan gerakan yang membuat peserta menjadi lebih tertarik dan mudah memahami. Tidak terlalu lama, hanya 1 jam, anak-anak dengan usia 5-12 tahun pun tak malu-malu lagi untuk berekspresi. Terlalu besar memang pesertanya, sekitar 80 anak. Panasnya siang itu dan derasnya keringat kami tak menyurutkan semangat untuk berbagi.

Pada akhirnya kami percaya, bahwa pendidikan juga berperan penting dalam perjuangan menyelamatkan orangutan dan satwa liar dari kepunahan. Benih kebaikan yang tumbuh dari anak-anak akan berkembang layaknya tumbuhan yang subur. Maka berharap akan buahnya yang juga manis dan sanggup melakukan perubahan bagi lingkungannya pun akan semakin menyala. Namun, merubah pola pikir membutuhkan kesabaran dan usaha yang terus menerus… dimulai dari yang kecil dan sekarang. Salam edukasi! (AlfaGasani_Orangufriends)

WE HAVE RESCUED HIM

A team from COP and Wildlife Authority have rescued and translocate orangutan him to a conservation forest. There are another 3 orangutans in the same location need to be rescued also.
Please don’t forget to donate through http://www.orangutan.id/what-you-can-do/

COP BORNEO VOLUNTEER FROM COP SCHOOL BATCH#7

COP School is your gateway to work in the conservation world. Since June 26th 2017, COP BORNEO Orangutan Rehabilitation Centre in Berau, East Borneo welcomes two volunteer which are student from COP SChOol Batch#7. Want to know what are they doing?

“It’s good to see orangutan up close. Understanding more what they do in their daily life that is no different from us human. But…. We’re not just sitting around.” Said Aga. Then? Yes, Aga and Hedi in their daily routine there must cleanup orangutan manure at the quarantine and socialization cages. They also to be responsible on orangutan additional diet . Their creativity is also challenged by making orangutan enrichment, to make orangutan a busy. Especially orangutan at the quarantine cage. As for the orangutan at the socialization cage, enrichment are given to them when they are forced to stay in their cage because the downpour.

Already? That is all? Of course is not over yet. They should also assist in the activity at the post-monitor orangutan Pre-release island. Patrol and wash the boat after use. Anything else?

Yes, Aga and Hedi have to go to the village to give education. Wait for their next stories. (Dhea_Orangufriends)

RELAWAN COP BORNEO DARI COP SCHOOL BATCH 7
COP School adalah pintu gerbang kamu untuk berkarya di dunia konservasi. Sejak 26 Juni 2017 yang lalu, pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo yang berada di Berau, Kalimantan Timur kedatangan 2 relawan yang merupakan siswa COP School Batch 7. Mau tau, mereka ngapain aja?

“Enak sih, bisa lihat orangutan dari dekat. Lebih paham keseharian mereka yang tak beda dengan manusia. Tapi… kita bukan duduk-duduk aja loh.”, ujar Aga. Lalu? Ya, Aga dan Hedi dalam kesehariannya harus membersihkan kotoran orangutan yang berada di kandang karantina dan sosialisasi. Mereka juga bertanggung jawab untuk pakan tambahan orangutan. Kreatifitas mereka juga ditantang dengan membuat enrichment orangutan, agar orangutan menjadi sibuk. Terutama orangutan yang berada di kandang karantina. Sementara untuk orangutan yang berada di kandang sosialisasi, enrichment diberikan saat mereka terpaksa berdiam di kandang karena hujan deras.

Sudah? Itu saja? Tentu saja belum berakhir. Mereka juga harus membantu kegiatan di pos pantau pulau pra-rilis orangutan. Ikut patroli dan mencuci perahu usai digunakan. Ada lagikah?

Ya, Aga dan Hedi juga harus ke desa untuk edukasi. Tunggu cerita selanjutnya ya. (WET)

WE SEND A TEAM

Media sosial kembali dihebohkan dengan orangutan yang terlihat berada di pinggir jalan di Kelay, kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

Centre for Orangutan Protection bersama BKSDA Seksi Konservasi Wilayah Berau memutuskan untuk mengecek kebenaran informasi tersebut. Siang, 7 Juli 2017, empat orang COP dengan 2 orang staf BKSDA SKW 1 Berau meluncur ke lokasi.

Semoga kami beruntung!
Bantu kami dengan berdonasi melalui http://www.orangutan.id/what-you-can-do/

ORANGUTAN BEG FOR FOOD

Begging for food by street as forest keep going for oil palm plantation in Borneo.
Menurutmu, pantaskah si raja rimba Kalimantan, ikon konservasi alam Indonesia ini menjadi pengemis di pinggir jalan demi perutnya? Apakah hutan yang tersisa sudah tidak cukup memberikan pakan pengganjal perut?
#conflictpalmoil

FRESH FRUITS FROM THE FIELD FOR ORANGUTAN

More than 60% of orangutan activity is eating. Nearly 90% of orangutan diet consists fruits. To meet the needs of the orangutans at the orangutan rehabilitation center, the COP Borneo team purchased it at ‘Adji Dilayas’ market in Tanjung Redeb, Berau, East Borneo. Meanwhile, the logistics department also toured the village near the rehabilitation center to look for additional fruit variations.

“We usually pick right from the tree in the village. After harvesting, we weigh, make notes and pay according to the existing price.” Said Ibnu Ashari or often called Inoy, who is responsible for the logistics needs of COP Borneo.

Fruit storage is adjusted with the fruit ripeness. Giving fruits to orangutans is regulated from the ripeness level. The rhythm is must be managed. “Ensuring good food, fresh and sage is a priority in meeting the needs of orangutans diet with attention to medical direction of course,” explained Inoy.

The fruits prices direct from farmers in the fields is usually cheaper than in the market. The freshness, too. COP Borneo is lucky, being near a village that has a fertile soil with a farming community, especially fruits bearing trees. “This is very helpful, to meet the need of orangutan diets. We are also happy to be able to help the community by buying their farm produce,” Inoy said. (WET)

BUAH SEGAR DARI LADANG UNTUK ORANGUTAN
Lebih dari 60% aktivitas orangutan adalah makan. Hampir 90% pakan orangutan terdiri dari buah-buahan. Untuk mencukupi kebutuhan buah orangutan yang berada di pusat rehabilitasi orangutan, tim COP Borneo membelinya di pasar subuh Adji Dilayas kota Tanjung Redeb, Berau, Kalimantan Timur. Sementara itu, bagian logistik juga berkeliling desa di dekat pusat rehabilitasi untuk mencari variasi tambahan buah.

“Kita biasanya memetik langsung dari pohon di desa. Setelah memanen, kita timbang, membuat catatan dan membayar sesuai dengan harga yang ada.”, ujar Ibnu Ashari atau sering dipanggil Inoy yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan logistik COP Borneo.

Penyimpanan buah disesuaikan dengan kematangan buah. Pemberian buah pada orangutan diatur dari tingkat kematangan buah. Ritme inilah yang harus kita atur. “Memastikan pakan yang baik, segar dan aman adalah prioritas dalam pemenuhan kebutuhan pakan orangutan dengan memperhatikan arahan medis tentunya.”, jelas Inoy.

Harga buah dari petani langsung di ladangnya biasanya lebih murah dari pada di pasar. Kesegarannya juga. COP Borneo beruntung, berada di dekat desa yang memiliki tanah yang subur dengan masyarakat yang berladang terutama tanaman buah. “Ini sangat membantu sekali, untuk pemenuhan kebutuhan pakan orangutan. Kami juga senang bisa membantu masyarakat dengan membeli hasil ladang mereka.”, ujar Inoy. (WET)

ACKNOWLEDGED ORANGUFRIENDS FOR ‘YEAR OF FREEDOM’ T-SHIRT

The Center for Orangutan Protection proclaims 2017 as years of freedom. COP will relingquish the orangutans in the COP Borneo orangutan rehabilitation center in East Borneo.

Something different with COP release. As a roots organization entering its tenth year, COP invites the whole community to care about orangutans to participate in this activity. Through Orangufriends, an orangutan support groups raise funds from public participation through the sale of years of freedom series shirts. A T-shirt with a support theme for orangutan release in 2017.

“We are very happy to see the response. Seeing the support of Orangufriends is like encouraging us when we’re tired. Very proud, many people are concerned with this activity. We are confident that in the future, more people will participate in buying merchandise for orangutan release,” said Reza Kurniawan, COP APE Defender captain.

The sale of 107 ‘Year of Freedom’ merchandise in a very short time helped us to finance the operation of orangutans feeding on the pre-releae island. “Thanks to you who have donated through the purchase of ‘Year of Freedom’ T-shirts’”, said Weti Nurpiana with emotion. (Dhea_Orangufriends)

TERIMAKASIH ORANGUFRIENDS UNTUK KAOS ‘YEAR OF FREEDOM’
Centre for Orangutan Protection mencanangkan tahun 2017 sebagai years of freedom atau tahun kebebasan bagi orangutan. COP akan melepasliarkan kembali orangutan yang berada di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo di Kalimantan Timur.

Ada yang berbeda dengan pelepasliaran yang dilakukan COP. Sebagai organisasi akar rumput yang memasuki tahun kesepuluhnya, COP mengajak seluruh masyarakat peduli orangutan untuk ikut serta dalam kegiatan ini. Melalui orangufriends, kelompok pendukung orangutan menggalang dana dari partisipasi masyarakat lewat penjualan kaos years of freedom series. Sebuah kaos dengan tema dukungan untuk pelepasliaran orangutan di tahun 2017.

“Kami bahagia sekali melihat respon yang muncul. Melihat dukungan orangufriends seperti memberi semangat saat kami lelah. Bangga sekali, ternyata banyak yang peduli dengan kegiatan ini. Kami yakin, untuk kegiatan ke depannya, akan lebih banyak lagi yang ikut serta membeli merchandise untuk pelepasliaran orangutan.”, ujar Reza Kurniawan, kapten APE Defender COP.

Terjualnya 107 merchandise ‘Year of Freedom’ dalam waktu singkat sangat membantu kami untuk membiayai operasional pemberian pakan orangutan di pulau pra pelepasliaran orangutan. “Terimakasih untuk kamu yang telah berdonasi lewat pembelian kaos ‘Year of Freedom’.”, ujar Weti Nurpiana dengan haru. (WET)

VET MEDICAL VISIT TO MERASA VILLAGE

The closest village to COP Borneo orangutan rehabilitation center, East Borneo is the village of Merasa. A beautiful and friendly village that is an attractive nature tourism gateway. Once a week, the medical teams from COP Borneo visit the Merasa Village for the animal health program. But also not possible, the medical team called for an urgent event.
 
The selected day is Saturday. As on June 10th, 2017. The medical team followed up on a sick dog case report. “There are two patient types of dogs that we care for today. Skin diseases and itch in dogs were overcome by giving injections and ointments.”, Explain Vet Rian.
 
Animal data collection located in the village of Merasa is also equipped with check cards for health control the week after. “Wow, if more cases come, I was overwhelmed. But not every time. Very exciting and happy to help wildlife and pets. A little dream for me… to be able to help other living creatures,” said Rian Winardi again.
 
Keep the spirit Vet Rian… (Dhea_Orangufriends)

KUNJUNGAN MEDIS SATWA KE DESA MERASA
Desa terdekat dengan Pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Kalimantan Timur adalah desa Merasa. Sebuah desa yang asri dan ramah yang merupakan pintu gerbang wisata alam yang menarik. Setiap seminggu sekali, tim medis dari COP Borneo berkunjung dalam program kesehatan hewan di desa Merasa. Tapi juga tidak menutup kemungkinan, tim medis dipanggil pada kejadian yang mendesak.

Hari yang dipilih adalah hari Sabtu. Seperti di tanggal 10 Juni 2017. Tim medis menindaklanjuti laporan kasus anjing yang sakit. “Ada 2 pasien jenis anjing yang kami rawat saat ini. Penyakit kulit dan gatal pada anjing pun diatasi dengan pemberian injeksi dan salep.”, demikian penjelasan drh. Rian.

Pendataan hewan yang berada di desa Merasa ini pun dilengkapi dengan kartu periksa untuk kontrol kesehatan minggu berikutnya. “Waduh kalau lagi banyak kasus, saya sempat kewalahan. Tapi ngak setiap saat. Bener-bener seru dan senang bisa membantu satwa liar maupun hewan peliharaan. Suatu mimpi kecil saya… untuk bisa membantu mahkluk hidup lainnya.”, ujar Rian Winardi lagi.

Tetap semangat drh. Rian… (NIK)

LEECHES AND MUD

What is the condition of the field at COP Borneo orangutan rehabilitation center?

The Orangutan Rehabilitation Center is located in East Borneo is in a tropical rain forest with a very tight and thick trees canopy. Even the sun is very difficult to penetrate the forest floor. This location makes the plants always wet and moist. This condition will get worse when the rain comes. Red soil conditions will be more slippery when it rains.

When the forest school program, the journey to the location will become it’s own art. “The challenge of carrying orangutan became bigger because the roads are slippery and at some point, our feet will be in a puddle of mud that makes our way even harder,”said Wety, the orangutan baby sitter.

When we are busy balancing our footsteps in the middle of slippery mud, we also have to deal with leeches, the blood sucker. “If you come here, must get acquaintance with leeches and mud. They are like a family members which you don’t have choices to be familiar with.”, said Amir the animal keeper with a big smile.

Yes, that afternoon, Amir got a leech bite at his feet while carrying Owi, Bonti and Happy to the forest school. The leech that initially as big as a toothpick turn into as fat as an adult’s thumbs, “If we satiate our blood, this leech may be drowsy,” said Amir.

However, the leeches were never killed, otherwise it set to be released. “These leeches is the landlord, We come and borrow it for the jungle school. Naturally they such the blood that is their food.”, thought Amir.

Legs with protector and high shoes will not escape from the leeches. But do not be afraid of leeches and mud in here, ok, because this rehabilitation center is a miniature tropical rain forest of Borneo that is still very natural. This is where the long rehabilitation process begins. (Dhea_Orangufriends)

LINTAH DAN LUMPUR
Bagaimanakah kondisi lapangan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo? Pusat rehabilitasi orangutan yang berada di Kalimantan Timur ini berada di hutan hujan tropis dengan kanopi pohon yang sangat rapat. Bahkan matahari sangat sulit menembus lantai hutan karena terhalang kanopi yang luar biasa tebalnya. Lokasi ini membuat tanang selalu basah dan lembab. Kondisi ini akan semakin parah manakala hujan datang. Kondisi tanah merah akan semakin licin saat hujan turun.

Saat program sekolah hutan, perjalanan menuju lokasi akan menjadi seni tersendiri. “Tantangan mengendong orangutan menjadi lebih besar karena jalanan menjadi licin dan di beberapa titik, kaki kita akan terjeblos genangan lumpur yang membuat jalan kita semakin berat.”, ujar Wety, si baby sitter orangutan.

Dimana kita sibuk menyeimbangkan langkah kaki di tengah lumpur yang licin, kita pun harus berhadapan dengan si lintah, penyedot darah. “Kalau ke sini, kudu kenalan sama yang namanya lintah dan lumpur. Mereka itu seperti anggota keluarga yang mau ngak mau, harus akrab dengan kita.”, ungkap Amir, animal keeper dengan senyum lebar.

Ya, siang itu, Amir kena satu gigitan lintah di kakinya saat membawa orangutan Owi, Bonti dan Happi menuju sekolah hutan. Lintah yang awalnya sebatang liding akan berubah menjadi gendut seperti jempol, jari orang dewasa. “Kalau kenyang menghisap darah kita, lintah ini mungkin akan mengantuk kekenyangan ya.”, kata Amir.

Namun, lintah-lintah itu tidak pernah dibunuh, sebaliknya dilepas. “Lintah-lintah ini yang punya tanah. Kita yang datang dan pinjam untuk sekolah hutan. Wajarlah kalau mereka menghisap darah yang merupakan makanan mereka.”, pikir Amir lagi.

Kaki dengan pelindung kaki dan sepatu tinggi tak kan luput dari hisapan lintah. Tapi jangan takut dengan lintah dan lumpur di sini ya, karena pusat rehabilitasi ini adalah miniatur hutan hujan tropis Kalimantan yang masih sangat alami. Di sinilah proses panjang rehabilitasi orangutan dimulai. (NIK)