MAKING NEST IN THE CAGE

This is the most ambiguous words for many people. Nest in the cages? Nest supposed to be on the trees, that’s more like it. It was the fact that we found at the Orangutan Rehabilitation Centre.
 
Usually, in the wild, in every day or afternoon, orangutan make nest on top of the tree. Day nest that orangutan makes was used for napping, after their daily routine looking for food. Meanwhile the afternoon nesting was made as night approaches for longer rest. The nest consist of twigs and leaf that been arrange such way strong enough to sustain their weight. But what happen at the orangutan rehabilitation center? It will be a different story.
 
Orangutans separated from infants from the orangutan mother and illegally kept, accustomed to living in situations far from natural words. Starting from the diet, habits and other natural behavior becomes very different. Many orangutans in the rehabilitation center of COP Borneo have not been able to make nests and with their natural instincts, have been dulled by human behavior that humanize orangutans.
 
“The orangutan at the rehabilitation center will undergo a series of basic training when one day it will be released, one of which is making a nest,” said Reza Kurniawan, APE Defender captain.
 
One of the methods undertaken by the animal nurses is to provide various leaves and twigs that can be the practice of making nests. The response of orangutans to learn to make nests is very diverse, there is a strange feeling with the leaves and remove the leaves. There are also those who trample the leaves, even eat the leaves and twigs. This situation is not separated from the pattern of previous care.
 
“Orangutans at the rehabilitation center will try to restore their natural instincts before they are prepared for the wild-release program,” Reza explained. Surely this long process, takes months to years, depending on the orangutan intelligence is concerned.
 
“The block 2 COP Borneo enclosure is for infant and adult orangutans. We trained his natural instinct by putting the leaves into the cage with the goal of getting used to the leaves and making nests in their cages, “said Danel, animal keeper coordinator at COP Borneo. This process is done painstakingly by the animal keeper so that when at the forest school of these orangutans can have better instinct to make a nest and go to pre release island.
 
“This is a long process that is not cheap and not easy, but friends here try their best to get both orangutans’ chance to return home.” Reza Kurniawan hopes to be responsible for COP Borneo orangutan rehabilitation center. (Dhea_Orangufriends)

MEMBUAT SARANG DALAM KANDANG
Ini adalah sebuah tulisan yang sangat ambigu bagi banyak orang. Sarang kok di kandang? Sarang ya di pohon, itu baru benar. Itulah faktanya yang dapat dijumpai di pusat rehabilitasi orangutan.

Biasanya, di alam, pada setiap siang dan sore, orangutan akan membuat sarang di pohon. Sarang siang dibuat orangutan untuk istirahat siang, setelah di pagi hari beraktivitas mencari makan. Sementara sarang sore dibuat ketika malam menjelang untuk istirahat yang lebih lama. Sarang terdiri dari ranting dan daun yang ditata sedemikian rupa yang cukup kuat untuk menopang berat badan orangutan tersebut. Namun apa yang terjadi di pusat rehabilitasi orangutan? Itu akan berbeda cerita.

Orangutan yang terpisah sejak bayi dari induk orangutan dan dipelihara secara ilegal, terbiasa hidup dalam situasi jauh dari kata alami. Mulai dari pakan, kebiasaan dan perilaku alami lainnya menjadi sangat berbeda. Banyak orangutan yang berada di pusat rehabilitasi COP Borneo belum bisa membuat sarang dan dengan insting alaminya, telah tumpul karena perilaku manusia yang memanusiakan orangutan.

“Orangutan di pusat rehabilitasi akan menjalani serangkaian pelatihan dasar ketika kelak akan dilepasliarkan, salah satunya adalah membuat sarang.”, ujar Reza Kurniawan, kapten APE Defender.

Salah satu metode yang dilakukan oleh para perawat satwa adalah dengan memberikan aneka daun dan ranting yang bisa menjadi bahan praktek membuat sarang. Respon orangutan belajar membuat sarang sangat beragam, ada yang merasa aneh dengan daun dan membuang daun tersebut. Ada juga yang menginjak-injak daun, memakan bahkan acuh pada daun dan ranting. Situasi ini tidak lepas dari pola perawatan terdahulu.

“Orangutan di pusat rehabilitasi, akan dicoba untuk mengembalikan naluri alaminya sebelum dipersiapkan ke program lepas liar.”, jelas Reza. Tentunya ini proses panjang, memakan waktu bulan hingga tahun, tergantung kecerdasan orangutan yang bersangkutan.

“Kandang blok 2 COP Borneo adalah untuk orangutan yang berusia masih bayi dan remaja. Kami melatih naluri alaminya dengan memasukkan daun ke dalam kandang dengan tujuan mereka terbiasa dengan daun dan membuat sarang di kandangnya.”, ujar Danel, koordinator animal keeper di COP Borneo. Proses ini dilakukan dengan telaten oleh animal keeper agar kelak ketika sekolah hutan para orangutan ini lebih bisa mengasai naluri membuat sarang dan lanjut menuju pulau pra pelepasliaran.

“Ini adalah proses panjang yang tidak murah dan tidak mudah, tapi teman-teman di sini mencoba yang terbaik agar kesempatan kedua orangutan untuk kembali ke rumahnya dapat terwujud.”, harapan Reza Kurniawan sebagai penanggung jawab pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. (WET)

PRE-ORDER TAHAP 1 MERCHANDISE SOUND FOR ORANGUTAN

Sound For Orangutan? Ini adalah acara musik amal yang digagas orangufriends (kelompok pendukung Centre for Orangutan Protection). Perlu dana awal pastinya untuk memulai sebuah acara yang cukup besar. Salah satu cara untuk mengumpulkan dana awal, ya dengan menjual merchandise acara tersebut.

Yuk pre-order merchandise Sound For Orangutan. Tahun ini, rencananya akan dilaksanakan di kota pahlawan, Surabaya. Setelah tahun 2012 dan 2013 dilaksanakan di Jakarta, lalu di tahun 2015 di Yogyakarta. Saatnya arek Suroboyo peduli…!

“Ada 3 desain kaos yang kita luncurkan. Bisa beli kaosnya aja seharga Rp 120.000,00. Bisa juga totebag nya saja dengan harga Rp 50.000,00. Atau kalau Kaos dan totebag sekaligus hanya Rp 150.000,00. Kalau mau lengan panjang tinggal tambah Rp 10.000,00. Bahannya cotton combed 30s, jadi nyaman dipakai.”, jelas Tedjo, ketua panitia Sound For Orangutan 2017.

Pre-Order akan berlangsung selama delapan hari saja. Dari tanggal 12 hingga 20 Juli 2017. Tunjukkan kepedulian kamu pada orangutan dengan cara miliki merchandise SFO 2017.
Save the Orangutan from delete!

NANTIKAN… SOUND FOR ORANGUTAN SURABAYA

Keinginan Orangufriends menggalang dana untuk membeli tanah sebagai lahan produksi pakan bagi orangutan yang berada di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Kalimantan Timur menjadi tujuan acara Sound For Orangutan tahun ini. ‘Promised Land’ begitu tema yang diangkat.

COP Borneo adalah pusat rehabilitasi yang diinisiasi oleh para putra-putri Indonesia. Dengan 18 individu orangutan yang menghuni pusat rehabilitasi yang berada di kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Dalam seminggu, tim COP Borneo turun ke kota untuk berbelanja pakan orangutan di pasar pagi Adji Dilayas, Berau. Selain itu, tim juga membeli buah-buahan dari masyarakat desa terdekat, namun tak mencukupi.

“Inilah yang membuat kita terpanggil untuk mengumpulkan dana yang bisa dipergunakan untuk kebutuhan pakan orangutan COP Borneo secara mandiri.”, ujar Tedjo dengan semangat.

Orangufriends adalah kelompok pendukung Centre for Orangutan Protection yang bekerja secara sukarela. Ada berbagai macam latar belakang, usia dan lokasi namun menyatukan para relawan, yaitu untuk orangutan Indonesia. Suatu kekuatan yang membuat COP terus bersemangat.

Rangkaian acara pun telah disusun panitia yang terdiri dari orangufriends Surabaya. Diawali dengan school visit di bulan Agustus nanti dan dilajutkan mini SFO tour 2017 dari satu cafe ke cafe yang lain di bulan berikutnya.

Untuk mendukung kegiatan tersebut, orangufriends telah mulai menjal kaos pre-order pertama dengan tema orangutan. Ayo dukung teman-teman kita agar Sound For Orangutan Surabaya berhasil.

PERAN TIM EDUKASI PADA KONSERVASI

COP Borneo memastikan bahwa setiap ruh dan nadi konservasi selalu berkelanjutan (diteruskan ke generasi berikutnya). Sebagai usaha hal tersebut, kami berusaha menumbuhkan pengetahuan yang tepat tentang usaha melestarikan satwa liar dan habitatnya. Tak terkecuali anak-anak desa Merasa yang tinggal tak jauh dari tempat rehabilitasi orangutan COP Borneo di Berau, Kalimantan Timur.

Minggu, 9 Juli 2017, dengan konsep yang sederhana, kami mengenalkan berbagai macam satwa liar yang hampir punah yang berada di Kalimantan. Seperti Bekantan, Beruang Madu, Pesut Mahakam, burung Rangkong, Orangutan dan lainnya. Lewat media gambar berwarna dan permainan interaktif, kami berusaha memberi warna yang rileks dalam menyampaikan materi. Apalagi dengan sebuah nyanyian dan gerakan yang membuat peserta menjadi lebih tertarik dan mudah memahami. Tidak terlalu lama, hanya 1 jam, anak-anak dengan usia 5-12 tahun pun tak malu-malu lagi untuk berekspresi. Terlalu besar memang pesertanya, sekitar 80 anak. Panasnya siang itu dan derasnya keringat kami tak menyurutkan semangat untuk berbagi.

Pada akhirnya kami percaya, bahwa pendidikan juga berperan penting dalam perjuangan menyelamatkan orangutan dan satwa liar dari kepunahan. Benih kebaikan yang tumbuh dari anak-anak akan berkembang layaknya tumbuhan yang subur. Maka berharap akan buahnya yang juga manis dan sanggup melakukan perubahan bagi lingkungannya pun akan semakin menyala. Namun, merubah pola pikir membutuhkan kesabaran dan usaha yang terus menerus… dimulai dari yang kecil dan sekarang. Salam edukasi! (AlfaGasani_Orangufriends)

WE HAVE RESCUED HIM

A team from COP and Wildlife Authority have rescued and translocate orangutan him to a conservation forest. There are another 3 orangutans in the same location need to be rescued also.
Please don’t forget to donate through http://www.orangutan.id/what-you-can-do/

COP BORNEO VOLUNTEER FROM COP SCHOOL BATCH#7

COP School is your gateway to work in the conservation world. Since June 26th 2017, COP BORNEO Orangutan Rehabilitation Centre in Berau, East Borneo welcomes two volunteer which are student from COP SChOol Batch#7. Want to know what are they doing?

“It’s good to see orangutan up close. Understanding more what they do in their daily life that is no different from us human. But…. We’re not just sitting around.” Said Aga. Then? Yes, Aga and Hedi in their daily routine there must cleanup orangutan manure at the quarantine and socialization cages. They also to be responsible on orangutan additional diet . Their creativity is also challenged by making orangutan enrichment, to make orangutan a busy. Especially orangutan at the quarantine cage. As for the orangutan at the socialization cage, enrichment are given to them when they are forced to stay in their cage because the downpour.

Already? That is all? Of course is not over yet. They should also assist in the activity at the post-monitor orangutan Pre-release island. Patrol and wash the boat after use. Anything else?

Yes, Aga and Hedi have to go to the village to give education. Wait for their next stories. (Dhea_Orangufriends)

RELAWAN COP BORNEO DARI COP SCHOOL BATCH 7
COP School adalah pintu gerbang kamu untuk berkarya di dunia konservasi. Sejak 26 Juni 2017 yang lalu, pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo yang berada di Berau, Kalimantan Timur kedatangan 2 relawan yang merupakan siswa COP School Batch 7. Mau tau, mereka ngapain aja?

“Enak sih, bisa lihat orangutan dari dekat. Lebih paham keseharian mereka yang tak beda dengan manusia. Tapi… kita bukan duduk-duduk aja loh.”, ujar Aga. Lalu? Ya, Aga dan Hedi dalam kesehariannya harus membersihkan kotoran orangutan yang berada di kandang karantina dan sosialisasi. Mereka juga bertanggung jawab untuk pakan tambahan orangutan. Kreatifitas mereka juga ditantang dengan membuat enrichment orangutan, agar orangutan menjadi sibuk. Terutama orangutan yang berada di kandang karantina. Sementara untuk orangutan yang berada di kandang sosialisasi, enrichment diberikan saat mereka terpaksa berdiam di kandang karena hujan deras.

Sudah? Itu saja? Tentu saja belum berakhir. Mereka juga harus membantu kegiatan di pos pantau pulau pra-rilis orangutan. Ikut patroli dan mencuci perahu usai digunakan. Ada lagikah?

Ya, Aga dan Hedi juga harus ke desa untuk edukasi. Tunggu cerita selanjutnya ya. (WET)

WE SEND A TEAM

Media sosial kembali dihebohkan dengan orangutan yang terlihat berada di pinggir jalan di Kelay, kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

Centre for Orangutan Protection bersama BKSDA Seksi Konservasi Wilayah Berau memutuskan untuk mengecek kebenaran informasi tersebut. Siang, 7 Juli 2017, empat orang COP dengan 2 orang staf BKSDA SKW 1 Berau meluncur ke lokasi.

Semoga kami beruntung!
Bantu kami dengan berdonasi melalui http://www.orangutan.id/what-you-can-do/

ORANGUTAN BEG FOR FOOD

Begging for food by street as forest keep going for oil palm plantation in Borneo.
Menurutmu, pantaskah si raja rimba Kalimantan, ikon konservasi alam Indonesia ini menjadi pengemis di pinggir jalan demi perutnya? Apakah hutan yang tersisa sudah tidak cukup memberikan pakan pengganjal perut?
#conflictpalmoil

FRESH FRUITS FROM THE FIELD FOR ORANGUTAN

More than 60% of orangutan activity is eating. Nearly 90% of orangutan diet consists fruits. To meet the needs of the orangutans at the orangutan rehabilitation center, the COP Borneo team purchased it at ‘Adji Dilayas’ market in Tanjung Redeb, Berau, East Borneo. Meanwhile, the logistics department also toured the village near the rehabilitation center to look for additional fruit variations.

“We usually pick right from the tree in the village. After harvesting, we weigh, make notes and pay according to the existing price.” Said Ibnu Ashari or often called Inoy, who is responsible for the logistics needs of COP Borneo.

Fruit storage is adjusted with the fruit ripeness. Giving fruits to orangutans is regulated from the ripeness level. The rhythm is must be managed. “Ensuring good food, fresh and sage is a priority in meeting the needs of orangutans diet with attention to medical direction of course,” explained Inoy.

The fruits prices direct from farmers in the fields is usually cheaper than in the market. The freshness, too. COP Borneo is lucky, being near a village that has a fertile soil with a farming community, especially fruits bearing trees. “This is very helpful, to meet the need of orangutan diets. We are also happy to be able to help the community by buying their farm produce,” Inoy said. (WET)

BUAH SEGAR DARI LADANG UNTUK ORANGUTAN
Lebih dari 60% aktivitas orangutan adalah makan. Hampir 90% pakan orangutan terdiri dari buah-buahan. Untuk mencukupi kebutuhan buah orangutan yang berada di pusat rehabilitasi orangutan, tim COP Borneo membelinya di pasar subuh Adji Dilayas kota Tanjung Redeb, Berau, Kalimantan Timur. Sementara itu, bagian logistik juga berkeliling desa di dekat pusat rehabilitasi untuk mencari variasi tambahan buah.

“Kita biasanya memetik langsung dari pohon di desa. Setelah memanen, kita timbang, membuat catatan dan membayar sesuai dengan harga yang ada.”, ujar Ibnu Ashari atau sering dipanggil Inoy yang bertanggung jawab memenuhi kebutuhan logistik COP Borneo.

Penyimpanan buah disesuaikan dengan kematangan buah. Pemberian buah pada orangutan diatur dari tingkat kematangan buah. Ritme inilah yang harus kita atur. “Memastikan pakan yang baik, segar dan aman adalah prioritas dalam pemenuhan kebutuhan pakan orangutan dengan memperhatikan arahan medis tentunya.”, jelas Inoy.

Harga buah dari petani langsung di ladangnya biasanya lebih murah dari pada di pasar. Kesegarannya juga. COP Borneo beruntung, berada di dekat desa yang memiliki tanah yang subur dengan masyarakat yang berladang terutama tanaman buah. “Ini sangat membantu sekali, untuk pemenuhan kebutuhan pakan orangutan. Kami juga senang bisa membantu masyarakat dengan membeli hasil ladang mereka.”, ujar Inoy. (WET)

ACKNOWLEDGED ORANGUFRIENDS FOR ‘YEAR OF FREEDOM’ T-SHIRT

The Center for Orangutan Protection proclaims 2017 as years of freedom. COP will relingquish the orangutans in the COP Borneo orangutan rehabilitation center in East Borneo.

Something different with COP release. As a roots organization entering its tenth year, COP invites the whole community to care about orangutans to participate in this activity. Through Orangufriends, an orangutan support groups raise funds from public participation through the sale of years of freedom series shirts. A T-shirt with a support theme for orangutan release in 2017.

“We are very happy to see the response. Seeing the support of Orangufriends is like encouraging us when we’re tired. Very proud, many people are concerned with this activity. We are confident that in the future, more people will participate in buying merchandise for orangutan release,” said Reza Kurniawan, COP APE Defender captain.

The sale of 107 ‘Year of Freedom’ merchandise in a very short time helped us to finance the operation of orangutans feeding on the pre-releae island. “Thanks to you who have donated through the purchase of ‘Year of Freedom’ T-shirts’”, said Weti Nurpiana with emotion. (Dhea_Orangufriends)

TERIMAKASIH ORANGUFRIENDS UNTUK KAOS ‘YEAR OF FREEDOM’
Centre for Orangutan Protection mencanangkan tahun 2017 sebagai years of freedom atau tahun kebebasan bagi orangutan. COP akan melepasliarkan kembali orangutan yang berada di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo di Kalimantan Timur.

Ada yang berbeda dengan pelepasliaran yang dilakukan COP. Sebagai organisasi akar rumput yang memasuki tahun kesepuluhnya, COP mengajak seluruh masyarakat peduli orangutan untuk ikut serta dalam kegiatan ini. Melalui orangufriends, kelompok pendukung orangutan menggalang dana dari partisipasi masyarakat lewat penjualan kaos years of freedom series. Sebuah kaos dengan tema dukungan untuk pelepasliaran orangutan di tahun 2017.

“Kami bahagia sekali melihat respon yang muncul. Melihat dukungan orangufriends seperti memberi semangat saat kami lelah. Bangga sekali, ternyata banyak yang peduli dengan kegiatan ini. Kami yakin, untuk kegiatan ke depannya, akan lebih banyak lagi yang ikut serta membeli merchandise untuk pelepasliaran orangutan.”, ujar Reza Kurniawan, kapten APE Defender COP.

Terjualnya 107 merchandise ‘Year of Freedom’ dalam waktu singkat sangat membantu kami untuk membiayai operasional pemberian pakan orangutan di pulau pra pelepasliaran orangutan. “Terimakasih untuk kamu yang telah berdonasi lewat pembelian kaos ‘Year of Freedom’.”, ujar Weti Nurpiana dengan haru. (WET)