SAAT SELEBRITI DATANG KE POS PANTAU COP BORNEO

Bagi kamu yang suka jalan-jalan dan penggemar acara televisi My Trip My Adventure pasti tahu presenter asik yang mengajak kamu bereksplorasi keindahan alam Indonesia. Pria ganteng ini tak lain adalah Hamish Daud.

Kali ini, Hamish Daud dalam rangkaian acara #26authenticplaceinindonesia untuk stasiun televisi MNC TV. Dengan serombongan kru televisi dan peralatan lengkap, acara ini meliput kegiatan pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo di pulau pra-rilis. Suatu pulau yang hanya dihuni orangutan yang akan dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya.

Ngobrol sekilas tentang pusat rehabilitasi pun mengalir sampai saatnya memberi pakan orangutan (feeding time). Perahu-perahu mulai menyusuri sungai, berkeliling pulau dan berhenti di beberapa tempat untuk meletakkan pakan orangutan, tentunya petugas pos pantau COP Borneo yang melakukannya. “Tetap berada di perahu. Jaga jarak dengan bibir pulau!”, begitu aba-aba dari koordinator pos pantau.

Rehabilitasi adalah usaha yang tidak sebentar. Orangutan-orangutan tersebut harus menjalani banyak tahapan, hingga akhirnya bisa sampai di pulau pra-rilis ini. Setiap tahapan juga menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Centre for Orangutan Protection adalah organisasi non profit yang bekerja lebih sepuluh tahun ini. Menyelamatkan orangutan dan hutan yang merupakan habitat orangutan adalah langkah awal COP. Berhadapan langsung dengan permasalahan terbesar bayi-bayi orangutan terus berdatangan ke pusat rehabilitasi adalah hilangnya hutan dan beralih fungsinya hutan menjadi perkebunan kelapa sawit yang memicu konflik satwa dengan manusia. Bagaimana mungkin orangutan hidup tanpa hutan! (WET)

THANK YOU OVAID FOR SUPPORTING COP BORNEO CLINIC

The arrival of Nigel DVM from OVAID surprised COP Borneo Clinic. The clinic became fully loaded with medicine and medical equipment that was brought by Nigel from England. After drh. Rian Winardi listed all of the things that has been brought, Reza Kurniawan then listed what needed to equip the clinic more.Then this three guys went to the city to buy a glass cabinet to keep all the medical equipment.

“Learning is for a lifetime. Medical discussion is a really an interesting topic to talk about.”, Rian said passionately. “To harmonize between the theories and the reality in the field is one hard thing. That is where we have to be creative and innovative.”, said Reza the manager of COP Borneo Rehabilitation center.

The first meeting between drh. Rian and Nigel DVM happened during the COP School batch 3. Nigel was the lecturer for medical lesson, this give a deep impression for Rian. “This is a reunion between a teacher and his student, finally after 4 years.”, Rian said.

Thank you OVAID for supporting the medical needs of COP for the last 3 years. The medical equipments and the medicine has landed safely in COP Borneo, hoping this cooperation is going to continues and lasts. Once again Thank you OVAID.

Kedatangan drh. Nigel dari OVAID (Orangutan Veterinary Aid) membuat kaget klinik COP Borneo. Klinik menjadi penuh dengan peralatan kedokteran dan obat-obatan yang dibawa Nigel dari Inggris. Setelah drh. Rian Winardi mendata, Reza Kurniawan pun mencatat apa saja yang harus dibeli untuk merapikan klinik. Akhirnya, ketiga pria ini pun berangkat ke kota untuk membeli lemari kaca dan kotak penyimpanan untuk merapikan peralatan medis ini.

“Belajar itu sepanjang hidup. Ilmu terus berkembang. Diskusi medis pun menjadi topik yang sangat menarik.”, semangat drh Rian. “Menyelaraskan teori dan kenyataan di lapangan, itulah kesulitannya. Kita harus kreatif dan inovatif.”, kata Reza, manajer pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo.

Pertemuan drh Rian dengan drh. Nigel adalah saat COP School Batch 3 berlangsung. Nigel yang saat itu memberi materi medis, begitu memberi kesan mendalam pada Rian. “Ini adalah pertemuan kembali antara guru dan murid setelah 4 tahun yang lalu.”, ujar Rian.

Terimakasih OVAID yang telah mendukung medis Centre for Orangutan Protection selama tiga tahun terakhir ini. Terimakasih para pendukung OVAID… peralatan medis sudah sampai di COP Borneo. Semoga kerjasama ini akan terus berlanjut.

EDUKASI DI SMPN 24 BERAU

Setelah mengajar anak-anak di desa Merasa minggu lalu, kami melanjutkannya ke anak-anak SMP. “Sebenarnya, kami grogi loh. Ngadepin remaja… ini untuk pertama kalinya kami akan ngadepin anak remaja.”, ujar Aga, relawan yang bergabung di COP Borneo setelah mengikuti COP School Batch 7 bulan Mei yang lalu.

Menghadapi remaja tentu saja berbeda dengan anak-anak. Yang pasti kekawatiran kami adalah, saat kami teringat masa peralihan remaja yang sudah kami lalui. Sulit mendengar, dengan emosi yang meluap-luap sampai siapa saja bisa ditantang. Tapi inilah kami, kesulitan yang kami bayangkan tetap harus kami lalui. Saatnya kami berlatih langsung.

Pagi hari, sebelum matahari bersinar di ujung cakrawala, mata kami sudah terlebih dahulu bersinar. Segera kami bangun tidur untuk berangkat ke SMPN 24 yang berada di dekat jembatan sungai Kelay, desa Merasa, Berau. Bapak Junaedi, kepala sekolah menyambut kami dengan senyumannya.

Melalui nyanyian orangutan, permainan tebak gambar dan tebak suara satwa kami memulai school visit ini. Print out foto satwa satu per satu kami tampilkan. “Kami harus menyiasati keterbatasan yang ada. School visit tanpa fasilitas listrik ini harus berjalan. Makanya, kami mencetak slide show dan beberapa foto sebagai gantinya.”, ujar Alfa Gasani.

Di akhir pertemuan, kami merangkum materi dengan sebuah permainan pemburu dan satwa. Siswa membentuk lingkaran besar dengan bergandengan tangan, berperan sebagai pohon. Beberapa siswa, kami minta untuk menjadi satwa liar masuk ke dalam lingkaran. Dan ada siswa yang lain berperan sebagai pemburu, berada di luar lingkaran. Pohon harus berusaha sekuat tenaga melindungi satwa yang berada di dalam lingkaran dari ancaman pemburu. Suasana pun menjadi sangat meriah dan para siswa memerankan perannya dengan baik.

“Kami berharap, para siswa memahami pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, terutama satwa liar agar hutan tetap terjaga. Melindungi satwa liar dan hutan adalah tanggung jawab kita semua. Salam lestari.” (Aga_Orangufriends)

APE CRUSADER EVACUATE SALTWATER CROCODILE

Friday, July 21st 2017, Nature Conservation Agency: Indonesia (BKSDA), Sampit with Ape Crusader from Center for Orangutans Protection (COP) evacuated a Salt water crocodile (Crocodylus porosus) that was found by people of Persil Raya village, Seruyan Hilir, Central Kalimantan.

Since Monday, 17th of July the crocodile is located behind the Heavy Equipment Warehouse of PT. Buih Seruyan. “At that time I was both surprised and frightened to see a big crocodile under my bed. I ran and was chased by it, but the crocodile swam into the ditch behind the warehouse.”, said Mustarhin (40 years old).

“For the past 15 years, this is the first time I saw a crocodile came inside (the warehouse area). Maybe the crocodile is from the Seruyan River and (was) here to search for something to eat.”, he added.

“The handover of Salt water crocodile that is protected by UU No. 5 Th. 1990 about the Nature and Ecosystem Conservation today is the result of people’s awareness to protect the animals from the habitat loss and to prevent the conflict with people”., said Muriansyah the Commander of BKSDA, Sampit.

“We appreciate the active role of people to handle the conflict with wild animals.”, said Faruq form Center for Orangutan Protection. “Whatever kind of wild animals is going to approach settlement (villages) is they are losing their habitat and their food source.”, Faruq added. Next, the crocodile is going to be released in safer place. (Petz)

Jumat, 21 Juli 2017, BKSDA Pos Sampit bersama APE Crusader dari Centre for Orangutan Protection mengevakuasi buaya muara (Crocodylus Porosus) yang ditemukan warga desa Persil Raya, Seruyan Hilir, Kalimantan Tengah.

Sejak Senin, 17 Juli buaya itu berada di parit belakang gudang alat berat dan minyak PT. Buih Seruyan. “Waktu itu saya dikagetkan kedatangan buaya yang besar tepat di bawah tempat tidur saya. Saya lari dan sempat dikejar, namun buaya menceburkan diri ke parit yang berada di belakang gudang.”, ujar Mustarhin (40 tahun).

“Selama 15 tahun, baru kali ini buaya masuk ke dalam. Mungkin buaya ini masuk dari sungai Seruyan untuk mencari makan.”, tambahnya.

“Penyerahan buaya muara yang dilindungi UU No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya ini adalah atas kesadaran warga masyarakat untuk melindungi satwa liar ini dari ancaman gangguan habitat dan konflik terhadap masyarakat.”, demikian penjelasan Muriansyah, komandan BKSDA Pos Sampit.

“Kami mengapresiasi peran aktif masyarakat dalam penanganan konflik satwa liar.”, kata Faruq dari Centre for Orangutan Protection. “Satwa liar apapun akan terus terdesak dan semakin mendekat ke manusia jika habitat yang menjadi tempat tinggal dan mencari makannya terganggu.”, tegas Faruq lagi. Selanjutnya, buaya akan dilepasliarkan kembali ke tempat yang lebih aman. (Petz)

COMBATTING WILDLIFE TRAFFICKING

Raku is Crested serpent eagle (Spilornis cheela bido) who was brought malnourished with a big wound on his chest. Raku must have been kept as a pet, looking at the primaries feathers that has been cut. This is the second day Raku here and don’t even ask if he is okay or if he could already fly, he couldn’t even stand or move his own two feet. That is the story from Grace Tania, member of Orangufriends Malang who is now doing an internship in Pusat Konservasi Elang Kamojang (Eagle Conservation Center, Kamojang).

Conservation world is not an easy world. Time, energy and mental are drain when we have to face the animals. The animals condition must not be in their best. So, are you still going to keep wild animals as a pet? Are you going to join the ‘animal lover’ community? Are you going to still buy wild animals?

Disconecting the circle of wildlife trade is not an easy task to do. For the last seven years Center for Orangutan Protection has been marching on many wars in wildlife trading. The movement of the transaction that is growing larger in Social Media is now happening. The seller can always accessing the transaction from anywhere and anytime. The growing of ‘wild animals lover community’ is also supporting the wildlife trade.

“The concerns and supports from orangufriends (COP supporters) are what keeps us going; fighting the wildlife trade. “, said Hery Susanto. “Their spirit is what keeps us going, that it is not just us insanely dreams wild animals are supposed to be in their habitats.”
(Grace_Orangufriends)

Raku adalah elang ular juvenile. Raku dibawa dalam kondisi malnutrisi dan dengan luka besar di bagian dada. Raku dulunya sudah pasti dipelihara orang, terlihat dari bulu primernya yang dipotong. Ini sudah hari kedua semenjak Raku diantarkan, tidak usah bertanya apa dia bisa sehat dan terbang, untuk berdiri saja dia belum bisa. Itulah cerita Grace Tania, anggota Orangufriends Malang yang saat ini sedang di Pusat Konservasi Elang Kamojang, Garut.

Dunia konservasi adalah dunia yang tidak mudah. Waktu, tenaga dan mental terkuras saat berhadapan langsung dengan satwa. Kondisi satwa yang dihadapi sudah pasti tidak dalam kondisi terbaiknya. Lalu… kamu masih memelihara satwa liar? Lalu kamu tetap bergabung dengan komunitas-komunitas ‘pecinta’ satwa? Kamu masih membeli satwa liar?

Memutus rantai perdagangan satwa liar bukanlah hal yang mudah.
Tujuh tahun terakhir ini, Centre for Orangutan Protection berusaha memerangi perdagangan satwa liar ini. Pergeseran transaksi pedagang mulai dari pasar burung ke dunia media sosial pun terjadi. Perdagangan pun semakin marak dengan semakin mudahnya akses internet di seluruh penjuru bumi. Kemunculan komunitas-komunitas ‘pecinta’ satwa semakin mendukung perdagangan via online ini.

“Kepedulian orangufriends (kelompok pendukung orangutan) memberi semangat baru kepada kami, untuk terus memerangi kejahatan terhadap satwa liar.”, ujar Hery Susanto. “Semangat mereka menjadi semangat kami, bahwa tak hanya kami, yang gila, bermimpi, satwa liar tempatnya di alam.”. (Grace_Orangufriends)

5 JAVAN HAWK-EAGLE RESCUED FROM TRADERS

Joint raid operation between Gakkum KLHK Jabalnusa, Malang Police, and Animals Indonesia on July 14th 2017 in PakisJajar, East Java, successfully rescued 15 wild animal individuals. Once the rescued animals arrived at Pusat Konservasi Elang Kamojang in Garut, the number was corrected – there were 5 Javan Hawk-Eagle instead of 3 as initially reported. This was quite shocking, since Javan Hawk-Eagle, the symbol of Indonesia (or better known as ‘Garuda’), is extremely hard to find. On 1992, Javan Hawk-Eagle or Nisaetus bartelsi was named as the symbol as endangered wild animal in Indonesia. Even IUCN (world conservation organization) enlisted Javan Hawk-Eagle as Endangered.

“Javan Hawk-Eagle is endemic in Java Island, it is extremely rare and endangered. Hunting and trafficking are the most serious threat, after losing their habitat. Last July’s operation was the biggest catch in hawk trafficking.” stated Daniek Hendarto, action manager of COP. The rescued animals were consist of 5 Javan Hawk-Eagle, 3 Black Hawk, 4 Changeable Hawk-Eagle, 1 Black-winged kite Hawk, and 2 baby hawks that too young to identify. “This is a serious crime. Justice will come for the endangered wildlife traders.” stated Daniek.

All of the individuals arrived in Kamojang, Garut after having a 24 hour-long road trip. Based on the suspect’s information, these birds were captured in West Java. After thorough medical examination, all birds are in good condition and ready to be released.

“Do not buy wild animals! Do not sell wild animals! Or you will be dealing with APE Warrior!”. (Zahra_Orangufriends)

5 ELANG JAWA DISELAMATKAN DARI PEDAGANG
Operasi penggerebekkan bersama Gakkum KLHK Jabalnusa, Polres Malang dan Animals Indonesia pada Jumat, 14 Juli 2017 di desa Pakisjajar, kecamatan Pakis, kabupaten Malang, Jawa Timur berhasil menyelamatkan 17 individu satwa liar. Dari ketujuh belas satwa tersebut, setelah tiba di Pusat Konservasi Elang Kamojang di Garut, Jawa Barat mengalami koreksi. 15 individu elang yang dimaksud adalah 5 individu elang jawa bukan 3 seperti yang diberitakan sebelumnya. Ini cukup mengejutkan, elang jawa yang merupakan lambang negara Republik Indonesia ini atau yang sering disebut garuda ini adalah elang yang paling sulit ditemukan. Pada tahun 1992, elang jawa atau Nisaetus bartelsi ditetapkan sebagai maskot satwa langka Indonesia. Bahkan organisasi koservasi dunia IUCN memasukkan elang jawa ke dalam status EN (Endangered, terancam punah).

“Elang Jawa adalah satwa endemik pulau Jawa yang sangat langka dan terancam. Perburuan dan perdagangan menjadi ancaman serius selain kehilangan habitat. Operasi pertengahan Juli kemaren merupakan tangkapan terbesar untuk perdagangan elang.”, ujar Daniek Hendarto, manajer aksi Centre for Orangutan Protection. Ada 5 elang jawa, 3 elang hitam, 4 elang brontok, 1 elang alap tikus dan 2 individu elang yang unidentified karena masih terlalu bayi (kurang dari 2 minggu). “Ini adalah kejahatan serius. Putusan hukum akan menanti dari dua pedagang yang lakukan jual beli satwa dilindungi ini.”, tegas Daniek.

Kelimabelas elang tiba di Kamojang, Garut setelah melalui perjalan darat selama 24 jam. Dari tersangka di dapat infoemasi, tersangka memperoleh elang dari daerah Jawa Barat. Setelah dilakukan pemeriksaan medis secara umum, semua elang dalam keadaan baik dan berpotensi untuk dilepasliarkan, dalam artian tidak cacat.

“Jangan beli satwa liar! Jangan jual satwa liar! Atau kamu berhadapan dengan APE Warrior!”.

SHANTI, THE QUEEN OF COP BORNEO’S KITCHEN

Shanti, the tiny-figured and pretty lady, is the one that ensures the staffs of COP Borneo have got enough ‘ammo’. The ammo was not for guns, but breakfast, lunch and dinner for the staffs. Shanti cooks the meals until it is ready to prepared. “I wake up the earliest, and start cooking before the staffs’s activity begin. They have to have breakfast first before starting their day.” stated Shanti, COP household staff.

Shanti is still young, she was born on 1996 in Bulungan, North Kalimantan. Both of her parents are Dayak people. Since June 2016, Shanti joined COP Borneo. Ensuring all the gears are clean, making shopping list, taking care of the meals and when to shop are her responsibility. The distance between COP to nearest market is 1.5 hours away, so Shanti has to be careful on making the shopping list.

When she was asked what is the staff’s favorite meal, she said while chuckling, “Mendoan. The guys love Mendoan. Mendoan is fried tempe with some flour and seasoning, but it’s not deep fried.”

And what are the pros and cons of working for COP? “The pros are having a lot of friends that’s like family, and working here is such a distinguished experience to me. The cons.. When the rain falls and we run out of stocks.”. But don’t worry.. “I will get some vegetables from my parent’s field when we are out of stocks and it’s not time to go to the market yet.” said Shanti with a smile. (Zahra_Orangufriends)

SHANTI, PENGUASA DAPUR COP BORNEO
Shanti dengan badannya yang kecil, cantik dan cekatan memastikan “amunisi” untuk para staf COP Borneo. Amunisi yang dimaksud, bukanlah untuk senapan, namun merupakan makanan pagi, siang dan malam yang akan dikonsumsi para staf. Shanti meracik bumbu, memasak hingga menjadi hidangan. “Saya bangun paling awal dan memulai memasak ketika aktivitas teman-teman belum di mulai. Teman-teman harus sarapan dulu sebelum beraktivitas.”, ujar Shanti bagian rumah tangga COP Borneo.

Usia Shanti tergolong muda, dia kelahiran 1996 di Bulungan, Kalimantan Utara. Kedua orangtuanya berasal dari suku dayak. Sejak Juni 2016, Shanti bergabung di COP Borneo. Memastikan perlengkapan COP Borneo bersih, menyusun daftar belanjaan, mengatur menu makanan dan kapan harus belanja bahan kebutuhan pokok harus dijalaninya. Jarak pasar dengan COP Borneo sekitar 1,5 jam sekali tempuh, maka Shanti harus teliti dalam perhitungan dan penentuan daftar belanja.

Ketika ditanya masakan apa yang menjadi favorit teman-teman COP Borneo, Shanti menjawab sambil tertawa, “Mendoan. Teman-teman sangat suka mendoan. Mendoan adalah tempe yang digoreng dengan larutan tepung bumbu dan digoreng tidak kering.”.

Mau tahu suka duka bekerja di COP Borneo versi Shanti? “Sukanya kerja di sini, saya punya banyak saudara dan pengalaman yang sangat berbeda. Dukanya… jika hujan dan bahan makanan habis.”. Tapi jangan kawatir, “Shanti akan mengambilkan sayuran dari ladang ibu dan bapaknya ketika bahan habis dan belum waktunya turun ke kota untuk belanja.”, ujar Shanti dengan senyum lepas. (WET)

THREE GARUDA RESCUED FROM TRADER

Garuda which is the symbol of the Republic of Indonesia is observed more closely resemble the Java Eagle (Javanese Hawk-Eagle).This eagle had a characteristic appearance of black crest towering up that emerge when it reach the age of mature adult. Javanese Hawk-Eagles include in to the Government Regulation No.7 of 1999 for Protected Animals. Any action of capturing, hunting, sale and purchase, and ownership of any reason (such as falconry, Javanese Hawk-Eagle) can be sentenced to a maximum imprisonment of 5 years. This punishment is still relatively mild.

The Javanese Hawk-Eagle is a monogamous animal, i.e; during it’s life, it has only one partner. Threats that usually arise are, eagle eggs are preyed by other animals or deliberately taken by humans. When it grows, eagles are a high-level predators, and are the top consumer in animal kingdom. The difficulty in reproducing and the important role of the eagle makes trafficker punishment and eagle ownership too light.

Friday, July 14th, 2017 Gakkum KLHK together with Polres Malang. Animals Indonesia and COP managed to rescue 3 Javanese juvenile eagles from two suspects of wildlife traders. The two suspects in this one residence area, know each other.

“Concerned and angry . How they (the suspects) do not care about the existence of Javanese eagles in nature. These traders have been operating long enough and we have observed them. This is the first time with a considerable evidence. Even the biggest we’ve ever dealt with.”, said Hery Susanto, coordinator of Anti Wildlife Crime from the Center for Orangutan Protection. (Dhea_Orangufriends)

TIGA BURUNG GARUDA DISELAMATKAN DARI PEDAGANG
Burung Garuda yang merupakan lambang negara Republik Indonesia jika diamati lebih teliti lagi akan menyerupai Elang Jawa (Javan Hawk-Eagle). Ciri khas yang muncul saat mulai dewasa dari burung elang ini adalah munculnya jambul menjulang ke atas berwarna hitam. Elang Jawa termasuk satwa yang dilindungi PP No 7 tahun 1999. Setiap tindakan penangkapan, perburuan, jual beli dan kepemilikan atas alasan apapun (seperti falconry, elang jawa) dapat dijatuhi hukuman penjara maksimal 5 tahun. Hukuman ini pun masih tergolong ringan.

Elang Jawa termasuk hewan monogami, yakni selama hidupnya, dia hanya memiliki satu pasangan. Ancaman yang biasanya muncul adalah, telur-telur elang tersebut dimangsa oleh hewan lain atau sengaja diambil manusia. Saat tumbuh besar, elang merupakan predator tingkat tinggi, dan merupakan hewan konsumen puncak. Sulitnya bereproduksi dan peran elang yang penting membuat hukuman pedagang maupun kepemilikan elang terlalu ringan.

Jumat, 14 Juli 2017 Gakkum KLHK bersama Polres Malang, Animals Indonesia dan COP berhasil menyelamatkan 3 elang jawa remaja dari 2 orang tersangka, pedagang satwa liar. Kedua tersangka yang berada pada satu perumahan ini, saling mengenal.

“Prihatin dan marah. Betapa mereka (tersangka) tidak peduli keberadaan elang jawa di alam. Para pedagang ini sudah cukup lama beroperasi dan kami amati. Baru kali ini berkesempatan dengan barang bukti yang cukup besar. Bahkan yang paling besar yang pernah kami tangani.”, tegas Hery Susanto, koordinator Anti Wildlife Crime dari Centre for Orangutan Protection. (YUN)

UPDATE: AMBON TODAY

Ambon adalah orangutan tertua di COP Borneo. Usianya berkisar 25-27 tahun. Ambon berada di COP Borneo sejak 11 April 2015. Jantan dewasa ini adalah pribadi yang baik dan tenang dengan siapa pun.”Ambon tidak agresif dan menyerang manakala ada aktivitas animal keeper di area kandangnya.”, ujar Danel, koordinator Animal Keeper.

Berbeda dengan orangutan dewasa lainnya yang berada dalam satu blok yaitu Debbie dan Memo. Ambon yang dikenal animal keeper memang berbeda. Tenang, kalem dan bukan tipikal perusak yang jahil.

Pola makannya juga sangat santai dan tidak tergesa-gesa seperti Memo maupun Debbie. “Ambon sangat suka makan kelapa da buah nangka.”, tambah Reza Kurniawan, manajer COP Borneo.

Peluang Ambon untuk dikembalikan ke habitatnya cukup berat. “Namun, semoga harapan kedua dengan cara membuat enclosure untuk masa tuanya dapat terwujud.”, harapan Reza Kurniawan.

Umur yang tua dan tingkat keliaran yang kurang memadai membuat Ambon harus tinggal di COP Borneo. Danel dan animal keeper yang lain berusaha membuat enrichment yang bisa menarik dan menghabiskan waktu cukup lama, agar Ambon asik dengan enrichment tersebut. Enrichment ataupun pengayaan sangat diperlukan. Apakah kamu punya ide untuk membuat enrihment untuk Ambon?

Bantu kami dengan membeli COP_merchandise di instagramnya COP. Atau kamu bisa langsung berdonasi lewat http://www.orangutan.id/what-you-can-do/
Terimakasih.

DUA PEDAGANG SATWA LIAR DITANGKAP DI MALANG

Tengah malam ini, akan menentukan hasil besok. APE Warrior masih koordinasi dengan Gakkum KLHK untuk operasi penggerebekkan pedagang satwa liar. Peninjauan ke lokasi pun tak luput dari persiapan. “Pagi tadi, elang yang ditawarkan masih lengkap. Elang jawa masih dijemur.”, begitu kata Suwarno dari Animals Indonesia.

Pagi, 14 Juli 2017, Gakkum KLHK yang dipimpin pak Gunawan meluncur bersama Polres Malang ke rumah tersangka. Tim dibagi dua, penggrebekkan dilakukan bersamaan. Jarak rumah tersangka A dan D hanya terpaut 200 meter. “Kita akan membagi tim menjadi dua. Kita lakukan bersamaan, sepertinya tersangka saling mengenal karena mereka bertetanggaan. Tersangka juga sangat profesional, mereka tidak pernah mau bertatap muka langsung. Media sosial dan kemudahan bertransaksi saat ini sangat memudahkan langkah tersangka.”, ujar pak Gunawan.

Sesampai di lokasi, pedagang tertangkap tangan bersama satwa dagangannya. Dari rumah tersangka A diperoleh 10 satwa liar, sementara dari rumah tersangka D diperoleh 7 satwa liar. Dari total keseluruhan, ada 3 elang jawa (Nisaetus bartelsi), 8 elang brontok (Spizaetus cirrhatus), 3 elang hitam (Icticaetus malayensis dan 1 elang alap tikus (Elanus caeruleus). Selain elang, turut diamankan 1 ekor ular sanca kembang (Phyton reticulates) dan 1 burung hantu.

Dari pengakuan tersangka, harga jual elang secara online sekitar satu hingga lima juta rupiah. Kelima belas elang ini adalah bukti, tingginya permintaan elang di pasar perdagangan satwa liar. Tingginya permintaan ini didukung oleh ‘pecinta’ atau kolektor. Menjamurnya komunitas pecinta raptor lebih memperburuk keberadaan elang di alam.