PRAKTEK LAPANGAN EDUKASI DI SEKOLAH DASAR

Ini adalah hari ketiga COP School Batch 7 berlangsung. Pagi yang cerah sangat mendukung para siswa untuk berkegiatan di luar. “Kebetulan sekali.”, ujar panitia COP School bersemangat. Ya saatnya praktek. Setelah malam harinya seusai long march, para siswa mendapatkan materi edukasi.

Bagaimana caranya mengajar dengan cara yang berbeda? Ya, lewat COP School tahun ini, para siswa akhirnya berkesempatan untuk langsung ke SDN Kepek, Progo, Yogyakarta. Setelah teori di dapat, saatnya praktek. Siswa COP School Batch 7 dibagi enam kelompok. Tiap kelompok akan kebagian satu kelas yang berisi sekitar 33 siswa SD. Baiklah, ini adalah tantangan.

Materi sudah dipersiapkan malam harinya. Pembagian tugas sudah dilakukan. Siapa yang akan memberikan materi, lalu siapa yang mengasih permainan. Seperti apa sih anak SD menanggapi materi yang akan diberikan. Apakah mereka bisa mengerti? Pertanyaan malam itu menghantui tidur dalam lelah.

“Ikuti terus ya, setiap kelompok akan memberikan laporannya sendiri. Untuk kamu yang yang ingin ikut COP School Batch 8 tahun depan, bisa ngebayangikan. COP School adalah tempat kita berekspresi. Tahun depan, kamu harus ikut ya!”. (YUN)

DUA SISWA COP SCHOOL BATCH 7 BERANGKAT DARI BERAU

Mereka berdua adalah anak muda yang tak pernah lelah untuk belajar. Dalam kesehariannya di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, mereka memiliki tanggung jawab pada orangutan dan seluruh tim. Jefri dan Shanti akhirnya berangkat ke COP School Batch 7 dengan dukungan With Compassion and Soul serta teman-teman satu tim lainnya dari Berau ke Yogyakarta. Langkah besar lainnya setelah mereka masuk ke pusat perlindungan orangutan ini setahun lalu.

Ini akan menjadi pengalaman pertama mereka jauh dari kampung halaman. Di COP School Batch 7 nanti, mereka akan bergabung dengan siswa lainnya yang berasal dari Sumatera, Bali, Sulawesi dan Jawa. Jefri dan Santi akan mengenal dunia konservasi yang lebih luas lagi.

Putra-putri daerah yang berhadapan langsung dengan persoalan di lapangan akan berjaringan dengan siswa COP School lainnya. Saling memahami permasalahan di daerah masing-masing dan saling mendukung pekerjaan konservasi adalah inti dari berjaringan. Dunia tanpa batas di dunia maya yang selama ini berlangsung, akan membuat mereka saling terhubung.

Maju dan terus berkaryalah!

ENRICHMENT PAKAN GANTUNG

Hujan deras mengguyur pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Sekolah hutan gagal dilaksanakan lagi. “Padahal tadi pagi cerah.”, ujar Jefri, animal keeper yang hari ini bertugas.

Cuaca cepat sekali berubah, pagi cerah, dua jam kemudian mendadak mendung dan hujan deras. Kilat dan suara petir membuat orangutan yang seharusnya berada di sekolah hutan ketakutan.

Tak habis ide untuk membunuh kejenuhan. Pakan orangutan yang seharusnya diletakkan di atas pohon pada saat sekolah hutan, dimodifikasi oleh Danel, animal keeper yang seharusnya memanjat pohon saat sekolah hutan. “Bayi orangutan ini harus sering-sering memanjat, walaupun di dalam kandang. Mereka tak boleh malas, dan makan begitu saja.”, pikir Danel.

Orangutan adalah satwa aboreal. Hampir sepanjang waktu, orangutan beraktivitas di atas pohon. Mulai dari bermain, istirahat, makan maupun minum tetap di atas pohon. Orangutan akan memanfaatkan semua yang berada di pohon untuk kelangsungan hidupnya.

Jadilah enrichment pakan gantung. Kuaci yang merupakan salah satu pengalih stres dan juga mengandung antioksidan ini dibungkus daun dan diikat akar gantung. Sedikit madu untuk menguatkan aroma menjadikan pakan kali ini lebih istimewa. Tidak hanya itu, pakan ini digantung di atas kandang. “Ayo Owi, Bonti, Happi… naik!”, teriak Jefri.

MARI MENGENAL DEBBIE

Saat ini, Debbie lebih dikenal dengan si nakal nan licik. Debbie adalah orangutan betina yang berada di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Kalimantan Timur. Pertengahan April 2015, Debbie dipindahkan dari Kebun Raya Unmul Samarinda (KRUS). Saat di KRUS, Debbie ditempatkan satu kandang dengan orangutan jantan dewasa lainnya yang bernama Ambon. Dalam kesehariannya, Debbie terlihat tertekan dengan kehadiran Ambon. Luka gigitan dan memar terlihat di tubuh Debbie. Sejak pindah ke COP Borneo, Debbie sudah berbeda kandang dengan Ambon.

Akhir-akhir ini sifat agresif Debbie muncul. Kandang karantina mungkin menjadi penghalang untuknya berekspresi. Saat animal keeper memberi makanan atau membersihkan kandang, mereka harus ekstra hati-hati. “Menjaga jarak aman itu harus, kalau tidak, Debbie akan menarik bagian tubuh atau pakaian kita.” kata Ubang. “Selang air entah sudah berapa kali diambil Debbie. Tenaganya kuat dan selalu memenangkan perebutan tarik menarik selang. Jangan biarkan apapun dalam jangkauan tangannya.”, tambah Ubang.

Debbie mungkin harus menghabiskan sisa hidupnya di kandang. Untuk itulah kami membuthkan bantuan anda semua untuk membantu kami merawatnya. Kirimkan bantuanmu ke email info@orangutanprotection.com Kami mengharapkan Debbie pun memiliki kesempatan keduanya untuk hidup lebih baik lagi.

KEJAHATAN YANG BRUTAL

We took these pictures 3 days ago, somewhere in Borneo after I got report about orangutan killing in this area. And yes, the workers confirm that they killed an orangutan already. Stay tune to get updates from us. Let see who will end up in the jail.

For those who still believe that palm oil plantation have nothing to do with deforestation and massive killing of orangutans, think again.

Kami memotretnya 3 hari yang lalu, di suatu tempat di Kalimantan, setelah mendapatkan laporan tentang pembunuhan orangutan di kawasan ini. Dan ya, para pekerja mengaku bahwa mereka telah membunuh satu. Tetap pantau terus, kita lihat siapa yang akan berakhir di penjara.

Bagi yang masih percaya bahwa perkebunan kelapa sawit tidak berkaitan dengan pembabatan hutan dan pembunuhan orangutan, pikirkan lagi.

DOWN SYNDROM PADA ORANGUTAN

BKSDA Kalimantan Timur bersama BOS Foundation menyelamatkan orangutan albino pada awal bulan Mei 2017 ini. Berita ini menjadi viral, dimana kondisi orangutan yang terlihat tanpa pigmen yang memberi warna pada kulit, rambut dan mata seperti pada manusia yang terkena penyakit albinisme.

Lima tahun yang lalu, tepatnya 19 September 2011 dari tiga orangutan yang diselamatkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) bersama Centre for orangutan Protection (COP) terdapat satu orangutan yang terlihat berbeda. Evakuasi dari daerah Muara Wahau, Kalimantan Timur ini diduga menderita Down Syndrome. Demikian kesimpulan sementara setelah foto orangutan tersebut ditunjukkan kepada ahli primata dari Perth Zoo.

Down Syndrome adalah kondisi keterbelakangan perkembangan fisik dan mental anak yang diakibatkan adanya abnormalitas perkembangan kromosom. Anak orangutan yang berusia kira-kira 3 tahun tersebut memiliki penampilan fisik yang mirip dengan penderita Down Syndrom, yakni bentuk kepala yang relatif kecil dari normal (microchephaly) dengan bagian anteroposterior kepala mendatar. Pada bagian wajah tampak sela hidung yang datar, mulut yang mengecil dan lidah yang menonjol keluar (macroglossia). Matanya sipit dengan sudut bagian tengah membentuk lipatan (epicanthal folds).

Orangutan Jimmy namanya, dengan ditemani handuk yang membalut tubuhnya. Menurut drh. Gunawan, “Jimmy menderita moon face, yaitu cacat mental yang mempengaruhi perkembangannya. Badannya seperti orangutan berusia 5 tahun, padahal umurnya diperkirakan 17-20 tahun. Usia dapat dilihat dari jumlah giginya yang 32 buah dan taringnya yang sudah panjang.”

Ternyata bukan hanya manusia, orangutan juga bisa menderita down syndrom. Wajar saja, kita memang memiliki DNA yang sama, sebanyak 97,3%.

MEMO NEEDS YOUR HELP

Memo was found on January 5, 2011 in a wooden cage. Memo also befriends with a long-tailed monkey. Every afternoon, the resident who illegally kept her took Memo to ride a motorcycle. Finally, in March 2011, Memo was rescued and taken to the Mulawarman University Botanical Garden Samarinda, East Kalimantan to be treated with assistance from Center for Orangutan Protection.

Like other orangutans entering the KRUS, COP conducted a health check. At that time, the results of laboratory tests stated that Memo had hepatitis B. We made an enclosure, a cage without a barrier. The hard work of orangufriends (orangutan support groups) and funding from Orangutan Appeal finally succeeded to give Memo freedom although in an enclosure version.

Until finally the COP had to move to Berau, to the north of East Kalimantan. Memo was forced to enter the quarantine cage. Because until now, COP Borneo has not yet built an enclosure for orangutans that are not likely to be released back into the forest. COP Borneo is running with funding support from With Compassion and Soul. You can also help Memo. Contact our email, info@orangutanprotection.com for more information.

MEMO BUTUH BANTUANMU
Memo adalah orangutan yang sangat aktif. Ada kebiasaannya yang cukup unik, yaitu menepuk tangan. Memo adalah orangutan betina berusia 18 tahun. Masuk Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo yang berada di Labanan pada 11 April 2015. Di COP Borneo, Memo hampir tidak pernah berjumpa dengan manusia, selain animal keeper yang bertugas membersihkan kandang dan memberikan makanannya. Sangat disayangkan… Memo adalah orangutan yang akan menghabiskan hidupnya dalam kandang karantina.

Bertemu Memo pada 5 Januari 2011 dalam kandang kayu. Memo juga berteman dengan seekor monyet ekor panjang. Setiap sore, pemeliharanya mengajaknya naik sepeda motor. Akhirnya, Maret 2011, Memo diselamatkan dan dibawa ke Kebun Raya Universitas Mulawarman Samarinda, Kalimantan Timur untuk dirawat dengan bantuan dari Centre for Orangutan Protection.

Seperti orangutan lainnya yang masuk ke KRUS, COP melakukan pemeriksaan kesehatan. Pada saat itu, hasil pemeriksaan laboratorium menyatakan, Memo menderita hepatitis B. Kami pun membuatkannya enclosure, sebuah kandang tanpa penghalang. Kerja keras para orangufriends (kelompok pendukung orangutan) dan bantuan dana dari Orangutan Appeal akhirnya Memo berhasil merasakan kebebasan versi enclosure.

Sampai akhirnya COP harus pindah ke Berau, ke utaranya Kalimantan Timur. Memo pun terpaksa masuk kandang karantina. Karena hingga saat ini, COP Borneo belum membangun enclosure untuk orangutan-orangutan yang tidak mungkin dilepasliarkan kembali ke hutan. COP Borneo berjalan dengan dukungan pendanaan dari With Compassion and Soul. Kamu pun bisa membantu Memo. Hubungi email kami, info@orangutanprotection.com untuk informasi lebih lanjut.

SCHOOL VISIT DI SMPN 4 KUALA PEMBUANG

Ada 30 siswa yang berkumpul di kelas hari ini. Dengan dukungan ibu Ratna Burdah S.Pd yang merupakan kepala sekolah SMP Negeri 4 Kuala Pembuang, APE Crusader berbagi pengalaman di kelas VIII. Habitat alami satwa liar terancam hilang seiring punahnya satwa endemik Indonesia adalah materi yang dipersiapkan.

Ada hal yang memaksa para siswa serius. “Memang kepala sekolah nya pintar. Para siswa dihimbau untuk membuat makalah dari materi yang disampaikan APE Crusader, tim terdepannya Centre for Orangutan Protection ini.”, ujar Faruq Zafran, kapten APE Crusader.

Rangkuman materi akan menjadi bahan diskusi kedepannya. “Jadi siswa tidak hanya mengetahui dan memahami materi konservasi satwa liar saja, tetapi diharapkan bisa ikut terjun langsung dalam melestarikan dan menjaga hutan Kalimantan beserta isinya.”, dengan semangat ibu Ratna Burdah membuka school visit kali ini.

Diskusi menjadi semakin menarik saat habitat satwa liar tergusur. Menurut salah satu siswa, pengetahuan seperti ini jarang diketahui. Beruntung tim APE Crusader mau berbagi pengalaman ini.

“Pemahaman usia dini tentang penyadartahuan memang sangat penting untuk lebih memahami satwa-satwa yang dilindungi oleh negera beserta habitatnya. Jangan sampai generasi kedepannya tidak tau dan hanya mendapat cerita saja, padahal mereka hidup berdampingan langsung dengan hutan dan satwa liar yang dimaksud.”, ujar kepala sekolah SMPN 4 Kuala Pembuang, Kalimantan Tengah, sesaat setelah selesai school visit. (PETz)

TERBANG BEBAS SI JULANG DAN RANGKONG

Pertengahan bulan April 2017, APE Guardian bersama BKSDA SKW I Berau mengevakuasi beberapa satwa dari Golden Zoo Samarinda. Kebun Binatang ini terpaksa ditutup karena berada di jalur jalan tol Balikpapan – Samarinda yang dalam tahap pembangunan. Satwa-satwa yang dilindungi ini dievakuasi ke pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo, Labanan, Kalimantan Timur.

Selama dalam perawatan dan pemberian pakan, tim medis bersama pengamat perilaku alami satwa liar memberi penilaian untuk satwa-satwa tersebut. Panilaian ini akan menjadi acuan untuk satwa dilepasliarkan kembali ke alam.

Pada 27 April 2017, BKSDA SKW I Berau bersama B2P2EHD serta COP Borneo melepasliarkan dua burung yang dilindungi yang menjadi icon Kalimantan juga. Burung Rangkong Badak (Buceros Rhinoceros) dan burung Julang Emas (Rhyticeros Undulatus) adalah kedua burung yang beruntung itu. Ini akan memperkaya kawasan KHDTK Labanan yang masih cukup alami.

Kondisi burung yang terlalu lama dalam pemeliharaan, membuat kedua burung butuh waktu untuk akhirnya menyadari kebebasanya. Kedua burung terlihat menjauh dan berpindah-pindah ranting kemudian terbang. “Sifat liar satwa akan dengan sendirinya muncul saat mereka kembali ke alamnya.”, ujar Reza Dwi Kurniawan, manajer COP Borneo.

POLRES LAHAT DIBANTU COP DAN ANIMALS INDONESIA MENGGAGALKAN PERDAGANGAN OPSETAN SATWA DILINDUNGI DI SUMATERA SELATAN

Palembang – Kembali lagi kejahatan satwa liar digagalkan oleh Polres Lahat dibantu Animals Indonesia dan Centre for Orangutan Protection (COP) di Lahat, Sumatera Selatan. Operasi yang dilakukan tanggal 27 Mei 2017 mengamankan barang bukti berupa 7 kepala Kambing Hutan (Capricornis sumatraensis sumatraensis), 1 opsetan Kucing Hutan Sumatera (Felis bengalensis), 1 kepala burung Rangkong Papan (Buceros bicornis), 1 kulit Kucing Emas (Profelis aurata), 3 lembar kulit Kijang (Muntiacus muntjak), 8 bagian tulang Harimau Sumatera dan 1 taring Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae). Penangkapan dilakukan di kelurahan Kota Baru, Kecamatan Lahat, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan. Tim juga mengamankan 1 orang pedagang berinisial AP dan 1 orang saksi pemilik rumah yang akan digunakan sebagai transaksi satwa dilindungi ini.

“Ini merupakan operasi penangkapan pedagang satwa dengan barang bukti yang cukup besar di Sumatera Selatan. Dimana tim mengamankan barang bukti berupa 7 Kepala Kambing Hutan yang merupakan penangkapan pertama dan terbesar untuk kasus perdagangan Kambing Hutan di Indonesia, 1 opsetan kucing hutan, 1 kepala rangkong, 1 kulit kucing mas, 2 kulit kijang, 8 bagian tulang harimau dan 1 taring harimau yang hendak diperjualbelikan.”, Hery Susanto, Kapten APE Warrior Centre for Orangutan Protection (COP).

Pedagang ini menjual satwa secara online maupun secara langsung dan terpantau melakukan jual beli satwa secara online di facebook. Satwa yang dijual dalam kondisi mati (opsetan) maupun bagian-bagiannya yang juga satwa dengan kategori dilindungi. Bagian satwa ini dijual secara terpisah dengan harga yang bervariasi antara Rp 750.000,00 hingga Rp 1.500.000,00 perbagian satwa diindungi.

Selama ini, AP mendapatkan bagian tubuh satwa dilindungi dari pemburu di dusun tempat dia tinggal yang berdekatan dengan kawasan konservasi, serta dari pemburu satwa di perkebunan masyarakat sekitar Sumatera Selatan. Bahkan AP dapat mendatangkan kepala burung rangkok dari kawasan Bangka.

Dari hasil pendalaman selama dua bulan terakhir, AP telah menjual kulit dan tulang serta taring Harimau Sumatera secara terpisah ke pembeli di Lampung. Menurut pengakuan AP selama menjalankan bisnis ilegal ini, dia menggunakan jasa travel dan pengiriman barang serta jasa angkutan bus antar provinsi. Selama ini AP merasa aman menjalankan bisnis gelap yang telah digelutinya selama dua tahun terakhir karena merasa aman dengan sistem jual beli secara terputus.

“Pedagang ini terpantau di jual beli online facebook dan setelah dipantau dan ditelusur ternyata dia pemain besar untuk jual beli satwa opsetan yang masuk kategori dilindungi di wilayah Sumatera Selatan. Pedagang menjual satwa opsetan, kulit maupun bagian satwa dilindungi dengan kisaran Rp 750.000,00 – Rp 1.500.000,00 dan dia termasuk pemain pertama dari kelas pengepul yang mendapatkan barang secara langsung. Dan kita masih menunggu proses pengembangan lebih lanjut untuk kasus ini oleh pihak Polres Lahat.”, Suwarno, Ketua Animals Indonesia. “Kambing Hutan Sumatera dan Kucing Emas adalah satwa yang sangat langka dan sulit dijumpai di habitat alaminya. Hal ini disebabkan kedua spesies tersebut hidup pada habitat khusus yakni di pegunungan terjal bebatuan dengan jumlah pakan yang cukup.”

Memperjualbelikan satwa dilindungi maupun bagian-bagiannya merupakan tindakan melawan hukum. Tersangka dapat dijerat dengan UU No. 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak 100 juta rupiah.Dan upaya penegakan hukum akan kita tunggu dalam proses ini. Apresiasi kita sampaikan kepada Polres Lahat yang dengan cepat merespon tindak kejahatan ini dan kita akan mengawal kasus ini hingga putusan pengadilan. Satwa yang diperjualbelikan merupakan satwa endemik Sumatera yang sangat langka dan dengan penegakkan hukum yang tegas dan berani akan membendung kejahatan ini terus berlangsung.

Untuk informasi dan wawancara silahkan menghubungi

Hery Susanto, Kapten APE Warrior Centre for Orangutan Protection (COP).

Mobile Phone: 081284834363

Suwarno, Ketua Animals Indonesia

Mobile Phone: 082233951221