URGENT: COP BORNEO NEED MORE DART SYIRINGES

Could you help us to get them? For those who travel to Indonesia in the near future, please bring us more dart syiringes.

COP BORNEO BUTUH DART
Pusat Rehabilitasi Orangutan COP Borneo sedang melakukan beberapa tahapan proses pelepasliaran orangutan. Beberapa orangutan remaja sudah tidak bisa ditangani secara manual lagi. Proses penanganan orangutan remaja semi liar ini adalah dengan cara bius dengan tulup atau dengan tembak bius.

Seperti proses pemindahan orangutan dari pulau pra-pelepasliaran menuju kandang karantina yang cukup rumit karena persentase orangutan gagal terbius cukup tinggi. Cadangan drat (selongsong peluru bius) yang COP Borneo miliki sudah sangat menipis.

Kami sangat senang jika ada yang berkenan, donasi untuk alat ini. Kamisangat memerlukan dart dalam jumlah cukup untuk saat ini. Email kami di info@orangutanprotection.com

RAMADHAN WITH ORANGUTAN

It has become a yearly agenda in Padang when the month of Ramadhan comes, it is compulsory for all students from 4th grade Elementary School to High School to attend “Pesantren Ramadhan”. A Program from the Education Ministry of Padang that had been legalized under the regulations of the Padang City Government that still in run even though the yearly progress vacation has come. The activities of “Pesantren Ramadhan” for elementary and high school students are handed over to committees formed by mosques scattered in each RT/RW near the area where the students live. Every student who will follow “Pesantren Ramadhan” at the nearest mosque in their living area, must first register for this event. A small difference lies for the high school students as they will be doing the activity in their own schools. “Pesantren Ramadhan” is held for two weeks, starting in the second week of Ramadhan until a week ahead of EID.

The start of the holy month of Ramadhan makes School Visit activities that I do as Orangufriends from Padang so different from the School Visit activites conducted by Orangufriends from other cities. Even so it is not a problem for me to still be able to run fulfill my mission of doing School Visits as Orangufriends. This has challenged me to be able to innovate in preparing a school visit strategy. Having previously conducted a survey first about any material given during the “Pesantren Ramadhan”, I enlisted to be one of the speakers at Baitul Rosyid Mosque, located at Jl. Bronco RT 04 RW 09 Parupuk Tabing Sub-distric of Kecamatan Koto Tengah city of Padang, which is the site of “Pesantren Ramadhan” for more than 50 joint students from several Elementary and High School in Padang. Elementary students enrolled in Ramadhan Islamic Boarding School at Baitul Rosyid Mosque are students form SD Sbbihisma, SD Negeri Percobaan, SD Angkasa, SDN 24 Parupuk Tabing, SDN 6 Ulak Karang and Students from SMPN 13 Tabing, SMPN 25 Belanti, SMPN 29 Dadok, MTSN Model, SMP Angkasa dan SMP Pembangunan.

Not only do i provide materials in the form of knowledge about the introduction of orangutans and their habitat to the santri, but I also gave them some materials about the relationship of religion with the nature surrounding it and it’s current condition. Among them is to review the Surat Ar-Rum verse 41, telling a bit about the story of Prophet Noah’s who made a special deck for the animals in his Ark, and conveyed Thabrani’s HR which reads: “Love the creatures of the earth, then you will be loved by HIM in the sky”. So to lift up the Santri spirits and not to fall asleep in receiving the material, before the activities began I invited them to follow a game of “Gymnastics Numbers” as a warm-up. Also as a bonus to enrich their knowledge, I also played an inspirational movie about animals titled “Piper”, and made a challenge by asking them to be able to tell what lessons learned from the film. For students who is courageous to appear in front of the class to convey their views, they are given stickers as a gift.

For almost 4 hours divided into two sessions (the first 2 hours of the session for the High School and 2 hours of the second session for the elementary students) from 07.30 – 11.30 p.m, I enjoyed the togetherness with the santri as the speakers through the materials which I got from the COP School and also an adaptation of the various sources with an underlying theme of: “Humans, Animals and Their Relation With Natural Balance”. What makes me satisfied is that the whole santri followed the path that I made with passion and the high sense of curiosity about orangutans. The moral
message that I try to give from every review of the presentation material and visualization that I displayed, hopefully is now embedded in them to further expand their views to not undermine nature, no matter how small. Because the ones that will be affected and experience the loss are not actually animals, plants or other inhabitants that live in Nature, but us as Humans.

Thus, though little and small I have at least started. Hopefully this small step I have pioneered will be one day become a real big step to be able to do and directly involved in the forms of orangutan and other wildlife rescue efforts. (Dhea_Orangufriends)

PESANTREN RAMADHAN BERSAMA ORANGUTAN

Sudah menjadi agenda tahunan di kota Padang saat bulan Ramadhan tiba, seluruh siswa SD kelas 4 hingga SMU wajib mengikuti Pesantren Ramadhan. Program tetap Dinas Pendidikan kota Padang yang disahkan dalam Perda PEMKOT Padang tetap dijalankan walaupun waktu libur kenaikan kelas telah tiba. Penyelenggaraan kegiatan Pesantren Ramadhan untuk siswa tingkat SD dan SMP di serahkan kepada panitia yang dibentuk oleh mesjid-mesjid yang tersebar di masing-masing RT/RW tempat domisili siswa. Prosedurnya, setiap siswa yang akan mengikuti Pesantren Ramadhan di Mesjid terdekat tempat tinggal mereka, sebelumnya harus melakukan pendaftaran terlebih dahulu. Sementara untuk tingkat SMU dilaksanakan di sekolah masing-masing. Pesantren Ramadhan ini dilaksanakan selama dua minggu, dimulai pada minggu ke dua Ramadhan hingga seminggu jelang Idul Fitri.

Masuknya bulan suci Ramadhan membuat kegiatan School Visit yang saya lakukan sebagai orangufriends Padang jadi berbeda dengan kegiatan School Visit yang dilakukan teman-teman orangufriends kota lainnya. Meski begitu tak menjadi masalah bagi saya untuk tetap bisa menjalankan salah satu misi sebagi orangufriends yaitu melakukan School Visit. Justru hal ini menjadi tantangan tersendiri untuk bisa berinovasi dalam mempersiapkan strategi school visit. Setelah sebelumnya melakukan survei terlebih dahulu tentang materi apa saja yang diberikan selama kegiatan Pesantren Ramadhan, maka saya pun mendaftarkan diri menjadi salah satu pemateri di Mesjid Baitul Rosyid, Jl. Bronco RT 04 RW 09 Kelurahan Parupuk Tabing Kec. Koto Tangah kota Padang, yang menjadi tempat pelaksanaan Pesantren Ramadhan bagi lebih dari 50 siswa gabungan dari beberapa SD dan SMP yang ada kota Padang. Siswa SD yang mendaftar menjadi santri Pesantren Ramadhan di Mesjid Baitul Rosyid ini diantaranya adalah siswa dari SD Sabbihisma, SD Negeri Percobaan, SD Angkasa, SDN 24 Parupuk Tabing, SDN 6 Ulak Karang dan SDN 26 Air Tawar. Sementara siswa SMP yang mendaftar diantaranya adalah siswa dari SMPN 13 Tabing, SMPN 25 Belanti, SMPN 29 Dadok, MTSN Model, SMP Angkasa dan SMP Pembangunan.

Tak sekedar memberikan materi berupa pengetahuan pengenalan tentang orangutan dan habitatnya kepada para santri, tapi saya juga memberikan beberapa materi tentang kaitan agama dengan alam sekitar dan kondisinya saat ini. Diantaranya adalah mengulas Surat Ar-Rum ayat 41, bercerita sedikit tentang kisah nabi Nuh yang membuat Dek khusus untuk satwa di perahunya, dan menyampaikan HR Thabrani yang berbunyi : “Kasihilah makhluk di bumi, nanti engkau akan dikasihi Yang di langit.” Supaya para santri semangat dan tidak mengantuk dalam menerima materi, sebelum kegiatan dimulai santri – santri tersebut saya ajak dulu untuk mengikuti sebuah permainan “Senam Angka” sebagai pemanasan. Dan sebagai selingan untuk memperkaya pengetahuan mereka, saya juga memutarkan sebuah film inspiratif tentang satwa berjudul “PIPER”, dan membuat gimmick dengan meminta santri untuk dapat menceritakan pembelajaran apa yang bisa dipetik dari film tersebut. Bagi siswa yang berani tampil untuk menyampaikan pandangannya, diberi hadiah berupa stiker.

Selama hampir 4 jam di bagi menjadi dua sesi (2 jam pertama sesi untuk siswa SMP dan 2 jam kedua sesi untuk siswa SD) dari jam 07.30 – 11.30 WIB, saya nikmati kebersamaan bersama para santri sebagai pemateri melalui materi – materi yang saya peroleh dari COP School dan juga merupakan saduran dari berbagai sumber yang saya beri tema : “Manusia, Satwa dan Hubungannya Dengan Keseimbangan Alam”. Yang membuat saya puas adalah, seluruh santri mengikuti alur yang saya buat dengan penuh semangat dan rasa keingin tahuan yang tinggi mengenai orangutan. Pesan moral yang coba saya selipkan dari setiap ulasan atas paparan materi dan tampilan visualisasi yang saya tampilkan adalah, semoga sedari sekarang tertanam dalam diri mereka untuk tidak akan melakukan pengrusakan terhadap alam, sekecil apapun. Karena yang akan terkena imbas dan mengalami kerugian itu sebenarnya bukanlah satwa, tumbuhan atau habitat lainnya yang hidup di alam, melainkan adalah kita sebagai manusia.

Demikianlah, meski sedikit dan kecil setidaknya saya sudah memulai. Semoga langkah kecil yang sudah saya rintis ini kelak akan menjadi langkah-langkah besar yang nyata untuk bisa berbuat dan terlibat langsung dalam bentuk-bentuk upaya penyelamatan orangutan dan satwa liar lainnya. (Nova_COPSchool7)

DEBBIE’S CAGE FLOOR FIXED

Debbie is a smart adult female orangutan. Her fad was using branches to ruin the cage floor on Block 1 in orangutan rehabilitation center at COP Borneo. Initially there was a rift on the floor because it’s had been aged for more than two years and the condition of the soil was eroded by water. This makes cleaning effort not at the maximal.

In the meantime, fixing the floor not an easy task, as Debbie became more nosy as we worked on it. Our equipment is taken by her, how to quickly fix finishing the cage floor ? Not only that, Debbie also pelted us with the remaining small branches she made for the nest. Until finally, one of us invited her to play and communicate to distract her.

Nothing new about Debbie’s mischief. How many time have the hose to clean the cage become her victim. Pulling the animal keeper who was on duty was often done by her. Every animal keeper always keep their distance, because Debbie’s power is very strong. Even the keeper had to take off his shirt when he was pulled by Debbie.

Yes, Debbie, we know, you want to get out of the quarantine cage. Free to move wherever you like. Maybe your support can help Debbie. Contact us at info@orangutanprotection.com for your help to get to Debbie. (Dhea_Orangufriends)

LANTAI KANDANG DEBBIE DIPERBAIKI

Debbie adalah orangutan betina dewasa yang pintar. Keisengannya menggunakan rating kayu hingga merusak lantai kandang blok 1 pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo. Awalnya memang terjadi keretakan pada lantai karena usia yang sudah lebih dari dua tahun dan kondisi tanah yang tergerus air. Ini membuat pembersihan kandang menjadi tidak maksimal.

Sementara itu, untuk memperbaiki lantai bukanlah hal yang mudah, karena Debbie menjadi lebih usil saat kami bekerja memperbaiki lantai. Peralatan kami direbut, bagaimana bisa menyelesaikan perbaikan lantai kandang dengan cepat? Tak hanya itu, Debbie juga melempari kami dengan ranting-ranting kecil sisa dia membuat sarang. Sampai akhirnya, salah satu dari kami mengajaknya bermain dan berkomunikasi untuk mengalihkan perhatiannya.

Bukan hal baru lagi tentang kejahilan Debbie. Selang untuk membersihkan kandang, entah sudah berapa kali menjadi korban. Menarik animal keeper yang sedang bertugas pun sering dilakukannya. Setiap animal keeper selalu menjaga jarak padanya, karena tenaga Debbie yang sangat kuat sekali. Bahkan animal keeper sampai harus melepaskan bajunya saat ditarik Debbie.

Ya Debbie, kami tahu, kamu pasti ingin lepas dari kandang karantina. Bebas bergerak kemana pun kamu suka. Mungkin dukunganmu bisa membantu Debbie. Hubungi info@orangutanprotection.com agar bantuanmu sampai pada Debbie.

ORANGUTAN DI SD NEGERI 1 PETIR

School Visit kali ini di SD Negeri 1 Petir, Jl. Kalianja No. 1 desa Petir, Kalibagor, Banyumas. Berkolaborasi dengan Agung dan beberapa anggota Himpunan Mahasiswa Bio-Explorer Fakultas Biologi UNSOED yaitu Ganjar, Irda dan Iim, orangufriends Vanny berbagi pengetahuan orangutan di kelas IV dan kelas II SD.

Keriuhan tak bisa dielakkan lagi, saat kostum orangutan memasuki ruangan. Semakin sulit dikendalikan saat Vanny mulai memberi pertanyaan dan reward stiker. Berbeda sekali dengan kunjungan mereka ke TK Pertiwi di kota yang sama dan hari yang sama, 12 Juni 2017 yang lalu. “School Visit selanjutnya dengan murid kelas II dan IV berarti kita harus punya taktik tertentu nih.”, ujar Vanny geleng-geleng kewalahan menghadapi murid-murid yang begitu antusias.

Tak heran, Agung yang mengenakan kostum orangutan sangat senang sekali. Dia menjadi pusat perhatian. “Senang… senang sekali. Aku mau ikutan lagi kalau orangufriends Banyumas bikin kegiatan lagi.”, ujar Agung dengan baju basah karena keringat.

“Bagaimana kalau dilanjutkan dengan school visit ke sekolah lain dan kelas yang lain juga?”, saran kepala sekolah SD Negeri 1 Petir, ibu Purwanti saat school visit berakhir. “Lewat school visit, murid-murid jadi lebih tahu tentang hewan yang dilindungi, kenapa dan bagaimana perlindungan satwa tersebut, terutama orangutan yang ternyata satwa endemik Indonesia.”, lanjut ibu Purwanti.

Ini dia kegiatan orangufriends Banyumas. Walau sedikit dan bekerja sama dengan teman-teman yang lain, ini adalah usaha kami untuk konservasi Indonesia. Kalau kamu? (Vanny_Orangufriends)

YOUR SECOND CHANCE, OWA ERIK

This male owa had been a pet for 10 years. He is called Erik. When he was younger, he was kept inside the house. As time goes by, Erik grew bigger and show his true nature. Erik was chained on his waist, in a yard of Mentaya Baru villager, Ketapang, East Kotawaringin, Central Kalimantan. These past 3 years, they made a cage for Erik. A wooden cage, 2x 1.5 m in the backyard of Pak Djianto. They feed Erik with fruits like banana, jambu, and other seasonal fruits. As stated by Pak Djianto, he got Erik from illegal trade when Erik was baby. It was not easy to evacuat Erik. Pak Djianto loved him so much. Through persuasive approach, Pak Muriansya (commander of BKSDA Sampit) finally able to convinced Pak Dijanto. Erik’s story is very common on wildlife trade. When they were little, they were cute. However, when they grew bigger, people got rid of them because of their neture. “To end the illegal trade, do not buy and keep wild animals as pet” stated Faruq Zafran, APE Crusader Captain. Erik was handed to BKSDA SKW II Pangkalan Bun. After completing medical examnation by OF-UK, Eric was delivered to Camp JL in SM Lamandau. (Zahra_Orangufriends)

KESEMPATAN KEDUA MU, OWA ERIK
Owa berjenis kelamin jantan ini sudah dipelihara selama 10 tahun. Dia diberi nama Erik. Saat Erik ini masih kecil, dia dipelihara di dalam rumah. Seiring waktu, Erik tumbuh menjadi besar dan menunjukkan sifat liarnya. Erik pun dirantai pada bagian pinggangnya di halaman rumah warga Mentaya baru Ketapang, Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.

Tiga tahun terakhir ini, Erik dibuatkan kandang kayu berukuran 2 x 1,5m di halaman belakang rumah pak Djianto. Setiap harinya, Erik diberi buah-buahan seperti pisang moli, jambu air dan jenis buah-buahan lainnya sesuai musimnya. Menurut pak Djianto, Erik didapatnya dari perdagangan ilegal pada saat kecil.

Tak mudah mengevakuasi Erik. Pak Djianto begitu menyayanginya. Dengan pendekatan persuasif, Pak Muriansyah (komandan pos BKSDA Sampit) akhirnya berhasil menyakinkan pas Djianto.

Kisah Erik, seperti satwa liar lainnya. Saat kecil adalah bayi mungil yang lucu. Saat memasuki remaja dan dewasa, dia disingkirkan karena keliarannya. “Jangan beli dan pelihara satwa liar untuk memutus mata rantai perdagangan.”, tegas Faruq Zafran, kapten APE Crusader COP.

Erik diserahkan ke BKSDA SKW II Pangkalan Bun. Setelah pengecekkan kesehatan oleh OF-UK, Erik pun diantar ke Camp JL yang berada di SM Lamandau. (PETz)

OKI PINDAH KE KANDANG KARANTINA

COP Borneo bersiap untuk melepasliarkan kembali orangutannya. Tahap demi tahap dilalui dengan kerja keras seluruh tim COP Borneo. Juni 2017, satu orangutan dipindahkan dari pulau pra-pelepasliaran ke kandang karantina. Pemindahan ini bertujuan untuk mengevaluasi kembali kesehatan orangutan secara menyeluruh sebelum dirilis.

Rencana hari ini, ada dua orangutan yang akan dipindahkan. Kedua kandidat orangutan yang akan dilepasliarkan tahun ini adalah Nigel dan Oki. Tapi kondisi air sungai yang naik, ditambah orangutan Hercules yang saat itu sangat mengganggu tim, akhirnya tim medis memutuskan hanya satu individu orangutan yang ditarik terlebih dahulu dari pulau, yaitu Oki. Jadwal untuk memindahkan Nigel akan diatur kembali.

Bantu kami menyelesaikan proses rehabilitasi orangutan di COP Borneo dengan memberikan bantuan lewat http://www.orangutan.id/what-you-can-do/
Bersama… kita pasti bisa! (WET)

APE DEFENDER MASUK DESA

“Ada dua pasien dilaporkan sakit. Kasus penyakitnya gatal sepertinya penyakit kulit.”, begitu laporan sampai ke pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo yang bersebelahan dengan desa Merasa, Kalimantan Timur. Kebetulan sekali, dokter hewan di COP Borneo punya program sosial untuk hewan peliharaan dan ternak secara berkala untuk desa terdekat. Pertengahan Juni 2017, sesuai jadwal kosong, drh. Rian Winardi lengkap dengan peralatan dan obat-obatan mendatangi desa yang berjarak 15 km dari pusat rehabilitasi tersebut. 

Usai pemeriksaan, Rian melanjutkannya dengan tindakan injeksi dan pemberian salep. Ternyata kunjungan ke desa ini tak hanya karena ada laporan hewan yang sakit, tetapi merupakan kegiatan terjadwal tim medis satu kali dalam seminggu pada setiap hari Sabtu. Setiap pasien juga memiliki kartu periksa untuk kontrol kesehatan minggu berikutnya. 

“Pantas saja anjing-anjing langsung berkumpul saat drh. Rian menghampiri mereka. Ternyata pemberian makanan tambahan dan vitamin juga membuat merek bertambah nyaman.”, ujar Daniek Hendarto. (NIK)

KANDANG KARANTINA SIAP DIGUNAKAN

Akhirnya kandang karantina untuk kedua orangutan yang akan dilepasliarkan kembali selesai dibangun. Penambahan instalasi air untuk membersihkan kandang karantina dan kebutuhan air untuk orangutan juga sudah selesai dikerjakan.

Kondisi curah hujan yang cukup tinggi akhir-akhir ini membuat kondisi depan kandang karantina menjadi licin dan terjal. Tim memasang titian sederhana dan tangga dari kayu-kayu yang ada agar bisa digunakan untuk berpijak saat animal keeper membersihkan kandang ataupun saat dokter hewan mengontrol kondisi orangutan.

Sekat pembatas juga dicek kembali. Karena orangutan Nigel adalah orangutan jantan alpha yang sewaktu-waktu bisa menarik orangutan Oki. Untuk menghindari kecelakaan seperti itu, tim memastikan kondisi kandang.

Setelah cek, ricek dan triple cek. Kandang karantina siap menerima kedua orangutan kandidat “Year for Freedom”. Ikuti terus perjalanan rilis orangutan Nigel dan Oki. Berikan dukunganmu melalui http://www.orangutan.id/what-you-can-do/

MIMPI ANAK PUNK UNTUK ORANGUTAN

Dia adalah Inoy, staf COP Borneo. Inoy bukanlah orang baru di COP karena sejak 2010, dia adalah salah satu relawan awal yang ikut membesarkan APE Warrior di Yogyakarta. Edukasi, penanganan bencana, kampanye hingga penyelamatan orangutan yang dipelihara secara ilegal pernah dikerjakannya secara sukarela di APE Warrior. Inoy juga seorang musisi beraliran punk yang tergabung di band Miskin Porno. Komunitas punk telah membesarkan seorang Inoy dan mengenalkannya pada dunia perlindungan satwa liar.

Sejak Januari 2017, Inoy memulai karirnya menjadi animal keeper di pusat rehabilitasi orangutan yang dikelola Centre for Orangutan Protection di Kalimantan Timur. Enam bulan ini, membersihkan kandang, memberi makan dan sekolah hutan menjadi awal masa belajar bekerja di COP Borneo.

“Awal kecintaan saya untuk orangutan adalah ketika menjadi relawan COP. Saya bertemu teman-teman yang punya dedikasi tinggi untuk satwa liar.”, ujar Inoy. Kecintaan dia terhadap dunia perlindungan satwa merambah ke dunia musik yang dia cintai. Membuat lagu tentang lingkungan dan satwa liar serta kampanye perlindungan satwa liar, dia lakukan bersama bandnya saat tampil di panggung. Saat ini, dia meninggalkan segala kesenangannya, menuju hal yang lebih membahagiakan dirinya, terjun langsung menyelamatkan satwa liar.

Pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo berada jauh dari keramaian. Sinyal telekomunikasi di dapat setelah bergeser sekitar 5 km. Update status di facebook dan media sosial lainnya sangat sulit. “Saya menikmati proses ini untuk belajar dan berguru termasuk dari masyarakat lokal di sekitar pusat rehabilitasi COP Borneo. Saya punya mimpi sederhana untuk membantu orangutan-orangutan di sini. Kelak, orangutan-orangutan di sini bisa pulang kembali ke hutan dengan kemampuan saya yang terbatas ini. Tapi saya optimis mimpi ini akan berjalan jika ada kerja keras dari saya dan tim di sini tentunya.”, semangat Inoy.

Kalau kamu? (NIK)

THE GREEDY BONTI

There is one baby orangutan at the COP Borneo orangutan rehabilitation center who eats the most and likes to take other orangutan food. He is Bonti. This information is not only according to orangutan nurses but also from veterinarians and COP Borneo manager who study orangutan behavior at the COP Borneo.

All fruits prepared by the animal keeper are always eaten until finished by Bonti. Additional food was soon consumed by him. “Bonti will soon finish the milk and … rob the rest of the milk belonging to the others”, said drh. Rian Winardi. “Even Pingpong, who is older than Bonti, also had to give up his milk to the greedy Bonti” added Rian.

Could it be that Bonti became the dominant orangutan later? “It’s too early to conclude that,” said Reza. “This is still an orangutan baby delinquency stage. Physical and behavioral development will continue to be monitored. This will be a note to move to a higher level.”

COP Borneo is an orangutan rehabilitation center established and run by the best Indonesian. Give your best support for the orangutan conservation and their habitat through Center for Orangutan Protection. (IND)

BONTI SI RAKUS
Ada satu bayi orangutan di pusat rehabilitasi orangutan COP Borneo yang paling banyak makan dan suka merebut makanan orangutan lainnya. Dia adalah Bonti. Informasi ini tak hanya menurut para perawat orangutan, tapi dari dokter hewan dan manajer COP Borneo yang mempelajari tingkah laku orangutan di COP Borneo.

Semua buah yang dipersiapkan animal keeper selalu dimakan sampai habis oleh Bonti. Makanan tambahan pun segera habis olehnya. “Bonti akan segera menghabiskan susunya dan… merampok jatah susu milik yang lainnya.”, ujar drh. Rian Winardi. “Bahkan Pingpong yang berumur lebih tua darinya, juga dirampas susu jatahnya.”, tambah Rian.

Mungkinkah Bonti menjadi orangutan dominan nantinya? “Masih terlalu dini menyimpulkan itu.”, ujar Reza. Ini masih tahap kenakalan bayi orangutan. Perkembangan fisik dan tingkah laku akan terus dipantau. Ini akan menjadi catatan untuk pindah ketingkat yang lebih tinggi lagi.

COP Borneo adalah pusat rehabilitasi orangutan yang didirikan dan dijalankan oleh putra putri terbaik Indonesia. Berikan dukungan terbaikmu untuk kelestarian orangutan dan habitatnya lewat Centre for Orangutan Protection.