PERJUANGAN MENYELAMATKAN ORANGUTAN SENO

“Ada orangutan besar sedang makan bibit sawit muda.”, begitu laporan yang masuk ke BKSDA SKW 1 Berau. APE Guardian pun bersiap-siap untuk menuju lokasi. Peralatan medis, jaring, tulup, senapan bius, dart, logistik, kandang sudah siap di mobil. Siang itu, tim berangkat.

Empat jam mengendarai akhirnya tim tiba di simpang desa Batu Redi, Kalimantan Timur. Dua jam mengejar, tim pun bertemu dengan orangutan yang dimaksud. “Kami membiusnya dengan tulup. Medan yang tidak rata yang benar-benar menguras tenaga kami. Naik turun bukit harus kami lalui sambil menggendong orangutan seberat 80 kg.”, ujar drh. Ryan Winardi.

Sungguh menyedihkan, orangutan terpaksa memakan bibit sawit. Kehilangan habitat adalah penyebab orangutan terpaksa memakan tanaman yang bukan pakannya. Hutan hilang berganti perkebunan kelapa sawit, sungai pun mengering menyebabkan orangutan terpaksa bertahan hidup.

Kami memanggilnya dengan Seno. Nama yang sama dengan kepala seksi BKSDA SKW 1 Berau, pak Aganto Seno. Teperosok di tanah yang gembur berulang kali, atau tersandung batang pohon menyulitkan tim bergerak. Sementara hari sudah mulai gelap. “Semangat-semangat. Ayo gantian gendong orangutannya. Keburu siuman.”, ucap Aganto Seno, sambil terengah-engah dengan keringat bercucuran.

Besok paginya, 9 April 2017 tim berangkat ke hutan lindung Wehea untuk melepaskan orangutan Seno. Pintu kandang dibuka Aganto Seno. Tak menunggu lama, orangutan Seno pun segera keluar dan meraih pohon terdekat untuk dipanjatnya. Kepala seksi BKSDA SKW 1 Berau ini pun terlihat haru. “Lelahnya menyelamatkan Seno hilang, bersamaan dengan hilangnya Seno dirimbunnya pepohonan.”

DUA TAHUN COP BORNEO

COP Borneo adalah pusat rehabilitasi orangutan yang dikelola oleh Centre for Orangutan Protection. Pusat rehabilitasi ini adalah pusat rehabilitasi orangutan satu-satunya yang diinisiasi dan dikelolah oleh putra-putri Indonesia. Keterlibatan para pendukung orangutan yang tergabung di orangufriends ikut mewarnai proses pembangunannya. Mereka bekerja secara sukarela untuk mewujudkan mimpi mengembalikan orangutan ke habitat aslinya.

Memasuki tahun keduanya secara formal, COP Borneo berharap semakin mendapat dukungan dari Warga Negara Indonesia. “Kita harus bangga dengan capaian ini.”, ujar Reza Dwi Kurniawan, kapten APE Defender COP.

Tujuh orangutan yang berada di pulau orangutan (University Island) sedang menjalani proses pra rilis. Pulau ini membatasi kontak manusia dengan orangutan. Dapat dipastikan, orangutan tidak pernah bersentuhan dengan manusia lagi. Ini adalah proses akhir sebelum orangutan dilepasliarkan ke habitatnya. “Kami berharap tahun ini bisa mengembalikan mereka ke habitatnya.”, tambah Reza, yang bertanggung jawab pada pusat rehabilitasi ini.

Ada empat bayi orangutan yang berusia kurang dari dua tahun masih dalam perawatan intensif. Dua orangutan yang terkena hepatitis yang membutuhkan santuary sebagai tempat dia menjalani sisa hidupnya. Dan tujuh orangutan lagi yang membutuhkan bantuan untuk bisa ke tahap rehabilitasi lebih lanjut. Semua itu membutuhkan dukungan penuh.

Terimakasih telah mempercayakan dukunganmu pada COP Borneo. Semoga tahun ini adalah tahun kebebasan bagi orangutan yang ada di COP Borneo.

 

UNYIL BERTAHAN DI PULAU PRA RILIS

Sudah enam bulan Unyil berada di pulau orangutan COP Borneo. Masih ingat Unyilkan? Unyil adalah orangutan yang diselamatkan APE Defender bersama BKSDA Kaltim dua tahun yang lalu (April 2015). Unyil yang sehari-hari hidup di dalam toilet akhirnya mendapatkan kesempatan keduanya.

Dua tahun yang lalu Unyil terlihat tidak percaya diri. Udara lembab yang di toilet yang menjadi tempat tinggalnya membuat kulitnya terkena penyakit kulit. Rambutnya sendiri waktu itu direbonding sang pemelihara. “Kami yang mengambilnya sempat berpikir, kenapa dengan rambutnya.”, ujar Paulinus mengingat kejadian Unyil saat pertama kali ditemukannya. Sekali pun yang memeliharanya sangat menyayanginya, bahkan sempat merayakan ulang tahun Unyil selayaknya anak sendiri, itu bukanlah hal yang benar. Orangutan adalah satwa liar. Bahkan satwa liar yang dilindungi oleh hukum di Indonesia.

Selama dua tahun di COP Borneo, Unyil dipaksa untuk mengasah kembali sifat liarnya. Memanjat adalah kemampuan yang harus dia tunjukkan, selain membuat sarang dan mencari makanan di sekolah hutan sendiri.

Sekolah hutan pun dia lalui, hingga akhirnya dia dipindahkan ke pulau orangutan COP Borneo. Suatu Pulau yang dihuni tujuh orangutan lainnya. Ketujuh orangutan ini adalah orangutan jantan yang dipersiapkan untuk dilepasliarkan kembali ke habitatnya.

Proses rehabilitasi adalah suatu perjalanan yang panjang dengan biaya yang tidak sedikit. Jika kamu menyukai orangutan dan satwa liar lainnya, biarkan dia hidup di habitatnya. Jika kamu mengetahui orangutan yang dipelihara seseorang segera hubungi info@orangutanprotection.com

LAGI ORANGUTAN DITRANSLOKASI DARI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

Konflik orangutan dengan manusia kembali terjadi di Batu Redi, kecamatan Telen, kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Satu individu orangutan jantan dewasa masuk ke kebun sawit warga. Laporan masuk ke BKSDA SKW I Berau dan ditindaklanjuti secara bersama untuk menghindari hal buruk pada orangutan tersebut.

Tim BKSDA SKW I Berau dibantu Centre for Orangutan Protection (COP) dan Prufauna Indonesia melakukan pemantauan lokasi yang sudah tidak berhutan dengan vegetasi tumbuhan sawit umur tanam sekitar 100 hari pada tanggal 9 April 2017. Dan pada sore hari menemukan orangutan jantan tersebut dengan usia sekitar 20-25 tahun sedang berada di tengah kebun sawit. Tim medis dari COP melakukan pembiusan untuk melakukan pengamanan dan penangkapan orangutan tersebut untuk ditranslokasi ke tempat yang lebih aman.

“Tim mentranslokasi satu orangutan jantan dewasa yang masuk ke kebun warga. Di sekitaran lokasi ditemukan orangutan tersebut adalah kawasan yang sudah terkonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Orangutan makan tanaman sawit dan warga melaporkan hal ini kepada perangkat desa Nehas Slabing. Tim melakukan penanganan dan pengamanan satwa dilindungi tersebut.”, Paulinus Kristanto, Koordinator APE Guardian dari COP.

Orangutan tersebut ditangkap dengan metode pembiusan dan dilakukan pemeriksaan oleh tim medis APE Guardian. Atas arahan dari BKSDA SKW I Berau, orangutan yang masih liar tersebut ditranslokasikan ke lokasi yang dirasa aman di Hutan Lindung Wehea, kecamatan Muara Wahau, kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.

“Kondisi orangutan tersebut baik dan stabil paska dilakukan pembiusan dan dibawa dengan kandang angkut menuju ke Hutan Lindung Wehea guna proses translokasi. Pemindahan ini dilakukan karena orangutan tersebut adalah liar dan secara fisik kondisi baik dan sehat serta layak untuk secara langsung dilepasliarkan kembali.”, drh. Rian Winardi, tim dokter hewan APE Guardian COP.

Konversi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit menghimpit habitat orangutan dan konflik orangutan masuk area perkebunan menjadi hal yang jamak terjadi. Belum lagi ketika melakukan evakuasi bayi orangutan yang induknya sudah mati terbunuh akibat dampak dari konversi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit. Lokasi ditemukan orangutan ini merupakan habitat orangutan dan satwa liar lainnya, dimana pada tahun 2016, Centre for Orangutan Protection mendapatkan perjumpaan orangutan, owa kalimantan dan juga sarang orangutan yang tak jauh dari lokasi ditemukannya orangutan tersebut.

“Hutan di Kalimantan Timur banyak terkonversi menjadi area perkebunan kelapa sawit dan ini berdampak langsung terhadap orangutan dan satwa liar lainnya. Hutan yang menjadi habitat tergusur dan beralih fungsimenjadi area perkebunan. Hal ini tidak hanya akan membuat meningginya tingkat konflik manusia dan satwa liar, namun juga upaya rehabilitasi yang membutuhkan area pelepasliaran juga semakin terhimpit. Jika ini terus berjalan tentunya upaya perlindungan orangutan dan habitatnya juga semakin berat karena konversi hutan yang terus menerus terjadi.”, Paulinus Kristianto, koordinator COP Kalimantan Timur.

Untuk informasi dan wawancara:

Paulinus Kristanto, Koordinator COP Kalimantan Timur

P: 082152828404

E: linus@orangutan.id

Ramadhani, Manager Komunikasi COP

P: 081349271904

E: dhani@orangutan.id

WORKSHOP DOKUMENTASI FOTO DAN VIDEO DI B2P2EHD

“Ternyata para peneliti sulit untuk berbohong.”, demikianlah kesimpulan dari ice breaking “3 Fakta, 1 Bohong” dalam Workshop pembuatan film dokumenter hasil Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa (B2P2EHD), Seksi KHDTK, Kerjasama dan Pengembangan (KKP) B2P2EHD di Samarinda, Kalimantan Timur pada 4-5 April 2017. Suasana pun menjadi lebih rileks, mengawali hari untuk memulai pelatihan yang berbeda sekali dengan bidang studi para peneliti.

Dari kelas pembuatan film, para peneliti diajak untuk memikirkan sarana apa yang ingin digunakan untuk mempublikasikan hasil penelitian. Sarana yang dipilih, tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan. Pemilihan sarana berkaitan erat dengan durasi film yang akan dibuat. Bagaimana membuat hasil penelitian ini menjadi populer di kalangan awam, agar hasil penelitian dapat dimanfaatkan khalayak luas adalah proses akhir yang ingin dicapai pelatihan ini.

Dokumentasi berupa foto dan video adalah karya seni yang melalui proses. Pada pelatihan ini, memaksimalkan kemampuan handphone untuk melakukan scan pada obyek seperti daun menjadi sebuah perpustakaan digital diharapkan bisa mempermudah pekerjaan para peneliti kedepannya.

“Semoga transfer ilmu dari hasil kerjasama antara B2P2EHD dan COP ini memberikan peningkatan kemampuan para peneliti dan teknisi B2P2EHD, sehingga hasil litbang serta kegiatan kantor terdokumentasi dengan baik dalam bentuk foto maupun film.”, ujar Khuswantoro mewakili Kepala B2P2EHD menutup workshop fotografi dan film lingkup B2P2EHD. (YUN)

OKI WITH HIS STYLE

In the very first glance, we could easily identify him. Yes, he is Oki. The orangutan male that keep growing bigger and stronger each day, he is very recognizable. “We prefer to go away when he gets closer, he’s quite scary,” said the animal keeper that delivered the food in orangutan island COP Borneo.
That’s why people love baby orangutans and would love to keep them as pet illegally, but when they grow up, their body grow bigger and the wild nature start to show. The owner that once think they are cute start to call around to give up their pet. Whatever the reason, do not ever keep wild animals as pet!
Should you have any information of endangered wild animals being kept as pet, please contact us!
info@orangutanprotecion.com
Help us sending wild animals back to their home http://www.orangutan.id/what-you-can-do/
Sekilas saja, kita akan langsung mengenalinya. Ya, dia adalah Oki. Si Jantan yang semakin besar dan kuat ini memiliki ciri khas sendiri. “Kami mendingan menjauh jika dia mulai mendekat, seram pastinya.”, ujar animal keeper yang mengantar pakan orangutan untuk pulau orangutan di COP Borneo.
Itu sebabnya, ketika orangutan masih dalam kondisi bayi, masih banyak orang yang memelihara secara ilegal. Namun seiring waktu, tubuhnya akan semakin besar dan sifat liarnya muncul, pemelihara yang dulunya menganggap orangutan lucu mulai menghubungi untuk menyerahkan orangutan yang dipeliharanya. Apapun alasannya saat kecil memelihara satwa liar, jangan pernah pelihara satwa liar!
Hubungi kami jika mengetahui keberadaan satwa liar yang dilindungi dipelihara!
info@orangutanprotection.com
Bantu kami untuk mengembalikan satwa liar ke habitatnya http://www.orangutan.id/what-you-can-do/

MENYELAMATKAN ORANGUTAN ITU PILIHAN

Aganto Seno pun akhirnya bercerita tentang menyelamatkan orangutan yang terjebak di derasnya air terjun Gorilla, Kalimantan Timur. Sepanjang dia bertugas di Kalimantan Timur sebagai koordinator BKSDA SKW I Berau, mungkin ini adalah moment yang tak akan pernah dia lupakan.

Ini adalah hari ke-5 saya berada di lapangan dengan Centre for Orangutan Protection. Sebuah organisasi yang berisi anak-anak muda yang gila kerja dan tak kenal takut. Rencananya, kami akan survei sarang orangutan yang ada di jalur camp Lejak ke air terjun Gorilla yang berada di Hutan Lindung Sungai Lesan.”, cerita Aganto.

Suara air terjun semakin terdengar. Sudah mau sampai sepertinya. Melihat dari atas aliran sungai sembari mengambil nafas dan istirahat. Batu yang di tengah sungai menjadi tempat yang enak sambil berendam sepertinya. Sambil tertegun, menajamkan penglihatan, memperhatikan batu di tengah sungai, sepertinya ada orangutan di batu itu. Sedang berendam? Pasti segar… di tengah hari yang panas ini. Orangutan tak berenang. Lalu???

Segera tersadar, orangutan ini membutuhkan bantuan. Dia terlihat semakin lemah. Mengangkat tangannya, berusaha melalui arus yang deras namun kembali lagi berpegangan pada batu, karena terhanyut. Segera mereka mendekati bibir sungai… bagaimana cara menolong orangutan ini?

Terselip rasa takut, orangutan ini cukup besar. Tapi sepertinya sudah kelelahan, bertahan diderasnya air terjun gorilla. “Ranting-ranting… biar dia bisa berpegangan menyeberang… kita tahan dari ujung ke ujung.”, ujar Sam. “Tak cukup kuat, perlu batang pohon yang lebih besar.”, ujarku. Sam pun mengambil batang pohon yang agar besar dan membawanya ke tengah sungai. Tapi apa daya, tiba-tiba Sam hilang ditelan sungai… hanyut dan segera berbalik arah. “Sam… kamu baik-baik saja?”, tanyaku lagi. Menyelamatkan orangutan ini adalah pilihan. Harus dengan strategi.

Setelah beberapa kali percobaan, sampai-sampai, orangutan pun menolak dengan ranting kecil karena memang tak cukup kuat untuk dia menyeberang. Akhirnya, orangutan ini pun menyeberang sungai dengan batang pohon yang kami pegangin dari ujung ke ujung. Orangutan pun meraih pohon terdekat di pinggir sungai, memanjatnya dengan perlahan karena tenaganya yang terkuras. Berhenti sejenak… memandang kami… dan lanjut memanjat lagi.

Masih tertegun dengan apa yang baru saja terjadi. Bahagia bisa menyelamatkannya. Hari ini, tidak akan pernah terlupakan.

COP AND MINISTRY OF FORESTRY ASSESS SAMARINDA ZOO

This zoo have be to closed down soon due to mismanagement. Ironically, many others being proposed and waiting for approval from Ministry of Forestry. COP with the support from With Compassion and Soul is the only group In Indonesia who work directly to assist ex site conservation institutions to improve the welfare of the animals as well as campaigning to close down them that technically could not be improved. At least 12 zoos have been assisted and 4 zoos have been closed down. 

Most zoos in Indonesia are wrongly managed in every level and facing serious problem with the animal welfare issues. Lacking technical capacity and corruption are among the key problems. The zoo investors, mostly local governments believe that zoo is good investment. In fact, it is a heavily cost industry. Several zoos are involved in illegal wildlife trade.

Kebun binatang Samarinda yang berada di jalur tol yang menghubungkan kota Balikpapan dengan Samarinda dibongkar paksa oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur pada 28 Maret 2017 yang lalu.

Ini berdampak pada satwa yang menghuni kebun binatang yang dikelola oleh PT Samarinda Golden Prima ini. Terdapat 7 Merak Hijau, 1 Jalak Bali, 3 Rangkong Putih, 8 Kakak Tua, 3 ekor Kangkareng, 8 Elang, 5 Burung Hantu, 3 Ayam Hutan, 3 Musang pandan, 2 Kijang, 2 Kucing Hutan, 1 Tarsius, 1 Macan Dahan, 3 Beruang Madu, 3 Orangutan, 8 Owa-owa, 1 Bulus dan 32 Buaya Muara.

Centre for Orangutan Protection bersama BKSDA SKW 1 Berau akan mengevakuasi sebagian satwa yang ada untuk direhabilitasi dan dilepasliarkan kembali ke habitatnya.

PENANAMAN POHON BERSAMA DI LESAN DAYAK

Ini adalah penanaman bersama COP, KPHP Berau Barat, Dinas Pariwisata pada 1 April 2017 yang lalu. Berbagai jenis pohon buah-buahan dan tanaman hutan di lahan yang terbuka dengan bantuan anak SMA didikan Yayasan Komunitas Belajar Indonesia (YAKOBI) yang kebetulan sedang mengadakan perkemahan.
“Semakin banyak yang terlibat penanaman pohon, maka akan semakin banyak pula harapan baru yang akan tumbuh.”, demikian kata Paulinus sambil menanam pohon rambutan.

Penduduk asli pulau Kalimantan adalah suku Dayak. Dayak berarti orang pedalaman. Umumnya masyarakat dayak adalah peladang berpindah padi huma yang menghuni tepi sungai di Kalimantan. Budaya menanam pohon diperkenalkan sebagai usaha untuk memperbaiki kondisi alam yang terbuka.

CATATAN SELEKSI COP SCHOOL BATCH 7

Tidak banyak sekolah atau pelatihan yang dirancang untuk mencetak aktivis satwa liar yang mempunyai pemahaman dasar konservasi dengan etika dan moral terutama di satwa liar orangutan. Kalaupun ada tidaklah bertahan lebih dari 3 kali pelatihan. Mundur perlahan kemudian hilang. Apa yang membuat COP School bisa bertahan hingga tahun ke-6 dan sekarang siap menyambut Batch 7 dengan kekuatan, antusiasme dan semangat juang orang-orang dibalik layarnya.

Kami percaya, “apa yang dikerjakan karena perut akan kembali ke toilet, apa yang dikerjakan dengan hati akan kembali kehati.”. COP School bisa dikatakan sebuah “sekolah” yang setiap tahunnya berganti kurikulum karena mengikuti perkembangan dunia konservasi dengan pertimbangan, evaluasi dan masukan dari siswa, alumni, pemateri dan staff COP. Karena tidak ada sekolah sejenis yang bisa kami jadikan rujukan sebagai influens. Semua diawali meraba-raba hingga bertemu, bergerak dan berjuang bersama-sama siswa.

Hingga saat ini COP School bisa berjalan karena dikerjakan secara kolektif. Persis seperti budaya kita, Gotong Royong. Mungkin teman-teman bertanya kenapa ada kalimat “membayar sebagian Rp. 500.000,00“ diposter COP School. Yups, memang karena sebagian lainya “dibayar” oleh pemateri dan alumni COP School sebelumnya. Teman-teman alumni yang masih mempunyai waktu luang mencurahkan waktunya untuk membantu berjalannya COP School. Yang tidak ada waktu dan sudah mapan menyumbangkan dananya. Para pemateri datang dari kota lain ke Yogyakarta dengan biaya sendiri. Kolektif ini berjalan karena kami percaya selama masih ada anak-anak muda Indonesia yang mau peduli terhadap satwa liar maka dunia konservasi satwa liar masih mempunyai peluang untuk bertahan. Itulah yang kami sebut “MENOLAK PUNAH”.

Teman-teman calon siswa yang telah masuk disini tentu telah mengalami perjalanan, “ngapain loe ikut-ikutan acara nyelamatin monyet ato kera segala, serius loe??”. Berupaya empati untuk satwa di Negara kita memang sesuatu yang bisa dikatakan bukan hal normal. Tapi jika tidak ada orang gila maka tidak ada kelompok orang normal. Kami ingin membuat barisan menolak punah yang benar-benar “gila”. Dari tiga tugas yang dilemparkan kami bisa menilai semangat teman-teman dan juga terpaksa mengeluarkan empat calon siswa dari grup ini karena sama sekali tidak menjalankan tugasnya. Hingga akhirnya nanti tanggal 29 April 2017 benar-benar tersaring siswa Batch 7.

COP School tidak ada kuota kursi yang harus dipenuhi. COP School pernah hanya 18 orang siswa dan pernah juga sampai 40 lebih siswa. Tetap akan berjalan dan mempunyai ceritanya sendiri. Teruslah bertahan menjadi “gila” hingga nanti bertemu bulan depan di Yogyakarta. (DAN)